• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.4 Kebiasaan Membaca Kitab Suci dalam Keluarga Katolik

Keluarga diajak untuk menjadi keluarga Katolik yang penuh suka cita.

Bahkan ketika sedang menghadapi penderitaan, tetaplah tersenyum karena melalui dengan senyuman dapat membawa kekuatan bagi orang lain sekitar.

Keluarga akan selalu mendapatkan kedamaian karena kita tahu bahwa Tuhan sangat mencintai kita tanpa batas.

yang paling penting kalau kita membaca Kitab Suci adalah menemukan Allah yang seperti apakah yang menyatakan diri dalam Sabda yang sedang kita baca (Suharyo, 1991:34).

2.4.2 Tujuan kebiasaan membaca Kitab Suci

Membaca Kitab Suci menjadikan diri kita dapat mengetahui pentingnya Kitab Suci dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan membaca Kitab Suci banyak kita temukan tujuan penting untuk diri kita yaitu Kitab Suci sebagai sumber iman Katolik, Kitab Suci membantu kita untuk mengenal gambaran Allah, Kitab Suci membantu kita untuk mengenal tokoh dalam Kitab Suci, Kitab Suci membantu kita untuk mengenal sesama terhadap orang beriman, dan Kitab Suci dapat menunjukkan nilai penting dalam hidup terhadap kerajaan Allah.

“Adapun demikian besarlah daya dan kekuatan sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta kekuatan, dan bagi putera-puteri Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani ” (DV 21).

Memahami Kitab Suci akan menolong kita untuk melihat apa yang ada dibalik “umpan” yang menarik dari ”mata kail” pencobaan yang menghasilkan dosa sehingga kita dapat belajar dari kesalahan orang lain dan bukannya melakukan kesalahan itu sendiri. Pengalaman itu guru yang agung, namun ketika tiba pada tema belajar dari dosa, pengalaman itu guru yang sangat keras. Jauh lebih baik belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain. Sebab, begitu banyak tokoh-tokoh Kitab Suci yang darinya kita dapat belajar, baik sebagai contoh

yang positif maupun negatif, kedua-duanya sering didapatkan pada orang yang sama pada saat-saat yang berbeda.

Contohnya Daud pada saat ia mengalahkan Goliat, si raksasa, mengajarkan kita bahwa Allah lebih besar dari apapun yang Dia mau kita hadapi (1 Samuel 17). Saat dia menyerah kepada pencobaan untuk berzinah dengan Betsyeba, memperlihatkan bagaimana panjang dan mengerikannya akibat dari

”kesenangan yang sebentar saja” (2 Samuel 11). Pengenalan akan Kitab Suci memberi kita harapan dan damai yang sebenarnya ketika segala sesuatu di sekeliling kita hancur berantakan. Kitab Suci adalah kitab yang bukan hanya perlu sekedar dibaca. Kitab Suci adalah kitab untuk dipelajari supaya dapat diterapkan. Jika tidak, itu akan seperti menelan makanan tanpa mengunyah dan kemudian memuntahkannya kembali tidak ada gizi yang diperoleh. Kitab Suci adalah Firman Tuhan, karena itu sifatnya mengikat, sebagaimana hukum alam.

Bagaimana pentingnya Kitab Suci dalam hidup kita tidak akan pernah dapat dijelaskan secara memadai. Mempelajari Kitab Suci dapat diilustrasikan dengan menambang emas. Jika kita tidak bekerja keras dan hanya “mengayak kerikil di aliran sungai,” kita hanya akan mendapat sedikit debu emas. Tetapi, jika kita berusaha ”menggali,” kita akan mendapatkan upah yang lebih besar untuk usaha kita.

2.4.3 Bentuk-bentuk Pelaksanaan

2.4.3.1 Membaca Kitab Suci secara pribadi setiap hari

Dalam Kitab Yosua disampaikan ajakan untuk membaca Kitab Suci secara pribadi. “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Tuhan mengingatkan Yosua, dan juga kita semua, untuk terus membaca Kitab Suci siang dan malam. Setiap hari kita perlu membaca ayat-ayat Kitab Suci. Memiliki, perencanaan pembacaan Kitab Suci, misalnya satu ayat per hari secara berurut. Tidak perlu terburu-buru, milikilah perencanaan sesuai dengan kapasitas kita. Perencanaan membantu kita untuk menyempatkan diri membaca Kitab Suci, bukannya membaca Kitab Suci ketika sempat. Dengan ini, kita akan lebih memiliki motivasi yang benar dalam melakukan cara membaca ayat Kitab Suci (Yosua 1:8).

Membiasakan diri membaca Kitab Suci setiap hari dapat membantu mengatasi segala pergumulan yang sedang kita alami. Melatih diri dengan tekun dan pasti bahwa membaca Kitab Suci tentu ada hal baik untuk diri kita, seperti pengetahuan akan Firman Tuhan, kehidupan yang tenang dan terarah, sebagai pedang Roh yang dapat membantu kita untuk menyerang kuasa-kuasa kegelapan seperti pikiran kotor, sebagai penolong disaat yang dibutuhkan, adanya sukacita, dan pengembangan diri. Membaca Kitab Suci setiap hari akan mengajak kita untuk semakin belajar dengan Tuhan dan semakin dekat dengan Tuhan.

Dalam keluarga kita semakin diingatkan untuk selalu membiasakan diri untuk membaca kitab suci secara bersama. Membaca Kitab Suci dalam

keluarga tentu mendapatkan suasana yang baik karena dapat mendengarkan serta memahami ayat-ayat penting dari Kitab Suci dalam keluarga. Anak-anak dalam keluarga dengan mudah dapat mengetahui akan pentingnya Firman Tuhan yang disampaikan melalui Kitab Suci. Melalui Kitab Suci pribadi kita semakin dekat dengan Tuhan.

2.4.3.2 Membaca Kitab Suci bersama dalam keluarga

Tokoh utama Kitab Suci ialah Allah yang menyapa insan. Mulai membaca Kitab Suci berarti dengan memulai semacam petualangan iman.

Sebabnya, Bila manusia membiarkan diri disapa Allah serta berani menanggapi sapaan-Nya, ia sempurna harus berubah, adalah wajib mulai hidup menurut pola baru dalam banyak hal sangat tidak selaras dengan pola yang dianut rakyat pada umumnya (Leks, 1997: 10).

Pembacaan Kitab Suci dijadikan sebagai perjumpaan dengan satu-satunya teman yang dapat diandalkan insan. Orang mendaraskan ajaran Tuhan bukan karena beliau wajib berbuat demikian, bukan pula sebab dia mau sebagai pandai dalam soal-soal kepercayaan, melainkan sebab beliau jatuh cinta padanya sebagai akibatnya menikmatinya. Akan tetapi, cinta sejati bukan suatu luapan perasaan yang terjadi datang secara tiba-tiba, melainkan suatu proses bergerak maju sedikit demi sedikit sampai pada tahap. Jika seorang mulai membaca Kitab Suci menggunakan niat buat belajar mengasihi Allah yg bersabda, maka motivasinya sempurna (Leks, 1997: 11).

Keluarga, seperti Gereja, wajib menjadi tempat mewartakan Injil. Pada keluarga yg menyadari tugas perutusan itu, semua anggota mewartakan Injil dan diinjili. Orangtua tidak hanya menyampaikan Injil kepada anak-anak mereka, tetapi asal anak-anak mereka sendiri bisa menerima Injil yang sama seperti yang mereka hayati secara mendalam. dan keluarga seperti itu menjadi penginjil bagi keluarga lainnya, serta penginjil rukun tetangga, yg meliputi keluarga tersebut menjadi galat satu bagiannya (FC 52).

2.5 Peranan Kebiasaan Membaca Kitab Suci Dalam Keluarga Katolik

Dokumen terkait