KEBIJAKAN AKUNTANSI
4.4. Kebijakan Akuntansi
Penyusunan dan penyajian LKPD Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Anggaran 2020 mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, dan Peraturan Bupati Serdang Bedagai Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai sebagaimana telah diubah dengan
38 Peraturan Bupati Serdang Bedagai Nomor 37 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Serdang Bedagai Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. Dengan demikian dalam penyusunan LKPD Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Anggaran 2019 telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Uraian penerapan kebijakan akuntansi dalam penyusunan LKPD Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Anggaran 2020 adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan
Pendapatan-LRA adalah penerimaan oleh BUD dan/atau bendahara entitas akuntansi yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam satu periode tahun anggaran berkenaan yang menjadi hak dan tidak perlu dibayarkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai.
Pendapatan diakui pada saat diterima dalam RKUD atas seluruh transaksi BUD dan pada saat diterima oleh Bendahara Penerimaan SKPD atas seluruh transaksi SKPD.
Akuntansi Pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). Setiap jenis dan nilai pendapatan dicatat sampai dengan rincian obyek.
Pendapatan-LRA diukur dengan menggunakan nilai nominal kas yang masuk ke kas daerah dari sumber pendapatan dengan menggunakan asas bruto, yaitu pendapatan dicatat tanpa dikurangkan/dikompensasikan dengan belanja yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Koreksi atau pengembalian yang sifatnya sistemik (normal) dan berulang (recurring) atas penerimaan Pendapatan-LRA pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang Pendapatan-LRA. Koreksi atau pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan Pendapatan-LRA yang terjadi pada periode penerimaan Pendapatan-LRA dibukukan sebagai pengurang Pendapatan-LRA pada periode yang sama. Koreksi atau pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan Pendapatan-LRA yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang SAL pada periode ditemukannya koreksi atau pengembalian tersebut.
Pendapatan-LO adalah hak Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali. LO melaporkan pendapatan yang menjadi tanggung jawab dan wewenang entitas pelaporan dan entitas akuntansi, baik yang dihasilkan oleh transaksi operasional, non-operasional dan pos luar biasa yang meningkatkan ekuitas entitas pelaporan dan entitas akuntansi. Pendapatan operasional dikelompokkan dari dua sumber, yaitu transaksi pertukaran (exchange transactions) dan transaksi non-pertukaran (non-exchange transactions).
Pendapatan operasional dikategorikan sebagai transaksi pertukaran adalah ketika Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai menyediakan barang dan jasa ke masyarakat atau
39 entitas pemerintah lainnya dengan harga tertentu, misalnya menyediakan layanan kesehatan dengan imbalan sebagai pendapatan. Selanjutnya pendapatan operasional yang dikategorikan sebagai transaksi non pertukaran identik dengan tidak terjadinya penerimaan manfaat secara langsung kepada masyarakat, yaitu:
a. Pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah untuk memaksakan pembayaran oleh publik (seperti pajak daerah, denda, dan sanksi);
b. Perimbangan keuangan, berbentuk kas atau non kas, dari entitas pelaporan yang lebih tinggi, yaitu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi untuk pemerintah daerah;
c. Hibah yang diterima dari pemerintah asing, dan atau lembaga internasional;
d. Penghapusan utang;
e. Sumbangan dari masyarakat dan/atau lembaga masyarakat;
f. Dana limpahan yang ditetapkan dalam anggaran untuk entitas akuntansi.
Pendapatan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dapat dikelola oleh berbagai entitas pengelola seperti unit pengelola pajak dan unit pengumpul pendapatan lainnya, namun secara akuntansi pendapatan tersebut adalah pendapatan pada BUD, kecuali pendapatan yang ditetapkan lain. Umumnya pendapatan operasional dikelola oleh BUD selaku pengelola pendapatan secara terpusat. Pendapatan yang dikelola oleh entitas akuntansi SKPD adalah berupa pendapatan yang berasal dari dana limpahan yang ditetapkan dalam anggaran.
Dikecualikan dari ketentuan umum sentralisasi pendapatan ini adalah pendapatan dari dana yang disisihkan untuk dikelola oleh entitas akuntansi secara mandiri, seperti misalnya BLUD.
Pengakuan atas Pendapatan-LO dari jenis transaksi pertukaran tertentu harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Bila barang atau jasa tertentu yang dibuat atau dihasilkan untuk memenuhi kontrak (jangka pendek ataupun jangka panjang), pendapatan harus diakui secara proporsional dengan total biaya yang diperkirakan dapat menghasilkan atau menyelesaikan barang atau jasa tersebut guna memenuhi kontrak yang ada. Jika diperkirakan adanya kerugian, pendapatan harus tetap diakui mengikuti proporsi dengan perkiraan total biaya dan biaya harus tetap diakui sampai dengan barang ataupun jasa tersebut dapat memenuhi kontrak yang ada.
b. Bila uang muka diterima, seperti pada kegiatan yang berskala besar dan berjangka panjang, pendapatan tidak boleh diakui sampai biaya-biaya yang berhubungan dengan pendapatan tersebut telah terjadi tanpa memperhatikan apakah uang muka tersebut dapat dikembalikan (refundable). Kenaikan kas dan kenaikan kewajiban, seperti Pendapatan Diterima di Muka dicatat pada saat kas diterima.
2. Beban
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. Beban dikelompokkan berdasarkan klasifikasi ekonomi yang pada prinsipnya
40 berdasarkan jenis dalam melaksanakan aktivitas. Klasifikasi dimaksud terdiri dari beban pegawai, beban barang dan jasa, beban bunga, beban subsidi, beban hibah, beban bantuan sosial, beban bantuan keuangan, beban penyusutan aset/amortisasi, beban transfer, dan beban tak terduga.
Pengakuan beban dilakukan pada saat memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Kewajiban timbul pada saat terjadinya peralihan hak dari pihak lain ke pemerintah daerah tanpa diikuti keluarnya kas dari RKUD;
b. Konsumsi aset adalah pada saat pengeluaran kas kepada pihak lain yang tidak didahului timbulnya kewajiban dan/atau konsumsi aset non-kas dalam kegiatan operasional pemerintah daerah;
c. Terjadi penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa pada saat penurunan nilai aset sehubungan dengan penggunaan aset bersangkutan/berlalunya waktu.
3. Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran oleh BUD yang mengurangi SAL dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
Belanja daerah merupakan kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran berkenaan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja daerah terdiri atas:
a. Belanja Operasi
Belanja Operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, dan belanja bantuan sosial. Belanja Barang dan Jasa adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. Belanja Hibah adalah pengeluaran Pemerintah Daerah dalam bentuk uang/barang atau jasa kepada Pemerintah Pusat atau pemerintah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus. Bantuan Sosial adalah pengeluaran Pemerintah Daerah dalam bentuk transfer uang atau barang/jasa yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan.
b. Belanja Modal
Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain
41 belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset tak berwujud.
Suatu pengeluaran belanja pemeliharaan akan diperlakukan sebagai belanja modal atau dikapitalisasi menjadi aset tetap jika dapat menambah manfaat ekonomis atas aset tetap yang dipelihara, dan nominal rupiah belanja pemeliharaan atas aset tetap bernilai material atau melebih batas minimal kapitalisasi aset tetap yang telah ditetapkan.
c. Belanja Tak Terduga
Belanja Tak Terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah daerah.
4. Transfer
Transfer adalah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk Dana Perimbangan dan DBH.
5. Pembiayaan
Pembiayaan adalah seluruh penerimaan/pengeluaran yang tidak berpengaruh pada kekayaan bersih entitas yang perlu dibayar dan/atau diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.
Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil investasi.
Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.
6. Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Aset diklasifikasikan atas Aset Lancar dan Aset Non Lancar.
a. Aset Lancar
Aset Lancar adalah aset yang diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimiliki dalam waktu dua belas bulan. Aset Lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan.
1) Investasi Jangka Pendek
Investasi Jangka Pendek merupakan investasi yang dapat segera diperjualbelikan yang ditujukan dalam rangka manajemen kas, dan beresiko rendah. Jenis investasi yang
42 tergolong Investasi Jangka Pendek misalnya deposito berjangka waktu tiga sampai dua belasbulan dan/atau dapat diperpanjang secara otomatis, pembelian Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
2) Piutang
Piutang merupakan hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan satuan uang sebagai akibat perjanjian atau lainnya yang sah dan wajib dibayar kepada pemerintah daerah, seperti Piutang Pajak, Piutang Retribusi, Denda, Penjualan Angsuran, dan Piutang Lainnya. Penyajian nilai piutang dalam Neraca sebesar net realizable value atau sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan melalui metode penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan piutang tak tertagih dibagi atas empat kriteria, yaitu lancar, kurang lancar, diragukan, dan macet.
a) Piutang Pajak
Lancar apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 0,5%;
Kurang Lancar apabila belum dilakukan pelunasan satu sampai dengan dua tahun setelah tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 10%;
Diragukan apabila belum dilakukan pelunasan di atas dua tahun sampai dengan lima tahun sejak tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 50%;
Macet apabila belum dilakukan pelunasan lebih dari lima tahun setelah tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 100%.
b) Piutang Retribusi
Lancar apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan enam bulan.
Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 0,5‰;
Kurang Lancar apabila belum dilakukan pelunasan di atas enam bulan sampai dengan dua belas bulan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 10%;
Diragukan apabila belum dilakukan pelunasan di atas satu tahun sampai dengan dua tahun. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 50%;
Macet apabila belum dilakukan pelunasan lebih dari dua tahun. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 100%.
c) Piutang Bukan Pajak Bukan Retribusi
Lancar apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan tanggal jatuh tempo yang ditetapkan. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 5‰;
Kurang Lancar apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan enam bulan sejak tanggal Surat Tagihan Pertama. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 10%;
43
Diragukan apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan satu tahun sejak tanggal Surat Tagihan Pertama. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 50%;
Macet apabila belum dilakukan pelunasan sampai dengan dua tahun sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga. Penyisihan piutang tak tertagih sebesar 100%.
d) Piutang Dana Bagi Hasil
Penyajian Piutang Dana Bagi Hasil tidak dilakukan penyisihan karena nilai penyajian didasarkan pada nilai yang tercantum dalam Surat Keputusan Gubernur dan piutang tersebut pasti diterima realisasinya pada tahun berikutnya sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur yang diterbitkan.
3) Persediaan
Persediaan merupakan aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintahan, dan/atau barang yang dimaksudkan untuk diserahkan dan/atau dijual dalam rangka pelayanan kepada masyarakat, seperti alat tulis kantor, alat listrik, alat kebersihan, alat kesehatan, obat-obatan, bahan kimia, bahan pokok makanan, bahan cetakan, bahan bangunan, bahan bakar/gas dan pelumas, bahan produk, dan bahan material.
b. Aset Non Lancar
Aset Non Lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang dan aset tak berwujud, yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai atau digunakan masyarakat umum. Aset Non Lancar terdiri atas dua klasifikasi, yaitu:
1) Investasi Jangka Panjang
Penyajian investasi di dalam LKPD Kabupaten Serdang Bedagai terbatas pada Investasi Jangka Panjang. Investasi Jangka Panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari dua belas bulan. Berdasarkan sifat penanaman investasi, Investasi Jangka Panjang diklasifikasikan atas Investasi Permanen dan Investasi Non Permanen. Investasi Permanen adalah Investasi Jangka Panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, berupa penyertaan modal daerah pada perusahaan negara/daerah, badan internasional, dan badan usaha lainnya yang bukan milik negara.
Investasi Non Permanen adalah Investasi Jangka Panjang yang tidak termasuk dalam Investasi Permanen, dan dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan, berupa pembelian obligasi atau surat utang jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan tanggal jatuh tempo, penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada pihak ketiga, bantuan modal kerja secara bergulir kepada kelompok, dan penyertaan modal yang dimaksudkan untuk penyehatan/penyelamatan perekonomian.
44 2) Aset Tetap
Aset Tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas bulan untuk digunakan dalam kegiatan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai atau yang dimanfaatkan masyarakat umum. Aset Tetap terdiri dari Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan, Irigasi, dan Jaringan, Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi Dalam Pengerjaan. Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Serdang Bedagai Nomor 37 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Serdang Bedagai Nomor 11 Tahun 2014 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, Aset Tetap diakui pada saat masa manfaat ekonomi pada masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan handal, serta disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan.
Apabila terjadi kondisi yang memungkinkan penilaian kembali, maka aset tetap akan disajikan dengan penyesuaian pada masing-masing akun aset tetap dan akun ekuitas.
Pelaksanaan penyusutan dilakukan bersamaan dengan penerapan basis akrual terhitung sejak tahun perolehannya.
7. Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi PemerintahKabupaten Serdang Bedagai.
Kewajiban dimaksud muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintahan lain, atau lembaga internasional.
Kewajiban pemerintah daerah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah, kewajiban kepada masyarakat luas yaitu kewajiban tunjangan, kompensasi, ganti rugi, kelebihan setoran pajak dari wajib pajak, alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lainnya. Kewajiban diklasifikasikan atas Kewajiban Jangka Pendek dan Kewajiban Jangka Panjang.
a. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai Kewajiban Jangka Pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban Jangka Pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Utang Bunga, Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, dan Pendapatan Diterima di Muka, Utang Belanja, dan Utang Jangka Pendek Lainnya. Utang bunga atas utang Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dicatat sebesar biaya bunga yang telah terjadi dan belum dibayar. Bunga dimaksud berasal dari utang Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dari dalam maupun luar negeri. Utang bunga atas utang pemerintah yang belum dibayar diakui pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban yang berkaitan. Selanjutnya nilai yang dicantumkan dalam neraca untuk Bagian Lancar
45 Utang Jangka Panjang adalah jumlah yang jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan, dan Utang PFK dicatat sebesar saldo pungutan/potongan berupa PFK yang belum disetorkan kepada pihak lain sampai akhir periode pelaporan.
b. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban diklasifikasikan sebagai Kewajiban Jangka Panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.
Saat ini Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai tidak memiliki Kewajiban Jangka Panjang. Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai pada saat pertama kali transaksi berlangsung. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut. Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca. Nilai nominal atas kewajiban mencerminkan nilai kewajiban Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai pada saat pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada lembar surat utang pemerintah. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.
8. Ekuitas
Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan. Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo akhir ekuitas pada LPE.
9. Selisih Kurs
Selisih kurs adalah selisih yang timbul karena penjabaran mata uang asing ke rupiah pada kurs yang berbeda. Utang dalam mata uang asing dicatat dengan menggunakan kurs tengah bank sentral saat terjadinya transaksi. Apabila suatu transaksi dalam mata uang asing timbul dan diselesaikan dalam periode yang sama, maka seluruh selisih kurs tersebut diakui pada periode tersebut. Namun jika timbul dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi yang berbeda, maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode.
LKPD Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun Anggaran 2020 ini tidak menyajikan selisih kurs atau aset atau kewajiban dalam mata uang asing sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas periode berjalan dalam neraca karena seluruh transaksi keuangan sampai dengan tanggal 31 Desember 2020 dilakukan dalam mata uang rupiah.
46 BAB V