• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Akuntansi PT TG dan Entitas Anak

4. PEMBAHASAN DAN ANALISIS

4.2 Kebijakan Akuntansi PT TG dan Entitas Anak

Seiring berkembangnya era telekomunikasi di Indonesia, makin banyak juga bermunculan perusahaan yang bergerak pada industri penyewaan menara telekomunikasi. Awalnya menara telekomunikasi dimiliki oleh operator telekomunikasi, namun pengelolaan dan perizinan menara telekomunikasi dianggap sulit dan membebani operator telekomunikasi. Oleh karena itu mulai

bermunculan perusahaan yang mengkhususkan bisnisnya pada penyewaan menara telekomunikasi. Sampai dengan bulan Mei 2012 terdapat tiga perusahaan penyewaan menara telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI menggolongkan perusahaan dengan jenis usaha ini ke dalam golongan industri Konstruksi Non-Bangunan.

Dilihat dari aspek akuntansi, aset menara menimbulkan perbedaan pendapat dari pihak manajemen dalam hal pengakuan, penyajian, dan pengungkapannya. Ada sebagian yang berpendapat bahwa menara harus dikategorikan sebagai aset tetap, namun ada juga yang berpendapat bahwa menara merupakan properti investasi. Tabel 4.2 menjelaskan perbedaan penggunaan standar akuntansi pada menara telekomunikasi. Perbedaan ini berdampak pada penyajian menara telekomunikasi di laporan posisi keuangan seperti yang dijelaskan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.2 Perbedaan Klasifikasi Menara Telekomunikasi pada PT TG dan Kompetitor

No. Nama

Entitas Auditor

Klasifikasi

Pencatatan PSAK yang Digunakan

Pengukuran setelah Pengakuan Awal 1 PT TG KAP A Properti investasi PSAK No. 13 (Revisi 2007) Model nilai wajar 2 PT SMN KAP E Aset tetap PSAK No. 16 (Revisi 2007) Model revaluasi 3 PT STP KAP AJ Properti investasi PSAK No. 13 (Revisi 2007) Model nilai wajar

Tabel 4.3 Perbandingan Model Nilai Wajar dengan Model Revaluasi

Model nilai wajar PSAK No. 13 (Revisi 2007)

Model revaluasi PSAK No. 16 (Revisi 2007)  Mengacu pada nilai wajar (paragraf 36)  Mengacu pada nilai wajar (paragraf 31)  Perubahan nilai wajar diakui di laba rugi

pada tahun terjadinya (paragraf 38)

 Jika jumlah tercatat aset meningkat, kenaikan tersebut dikredit ke ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya (paragraf 39)  Bila nilai wajar lebih kecil daripada nilai buku

saat itu, maka kekurangannya diakui di laba rugi (paragraf 40)

 Jika entitas telah mengukur dengan nilai wajar, maka harus melanjutkan pengukuran tersebut hingga pelepasan (paragraf 58)

 Menggunakan depresiasi atau amortisasi (paragraf 51, dan 53)

 Mencerminkan kondisi pasar tanggal neraca (paragraf 41)

Pada dasarnya penggunaan PSAK No. 13 (Revisi 2007) menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan penggunaan PSAK No. 16 (Revisi 2007). Dalam PSAK No. 13 (Revisi 2007) kenaikan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi pada tahun terjadinya. Sedangkan dalam PSAK No. 16 (Revisi 2007) kenaikan nilai revaluasi diakui sebagai other comprehensive income pada bagian ekuitas di dalam laporan posisi keuangan. Perbedaan pengakuan kenaikan nilai tersebut dapat mengakibatkan laba tahun berjalan lebih besar saat perusahaan menggunakan PSAK No. 13 (Revisi 2007). Sehingga ada kecenderungan jika perusahaan ingin menaikkan labanya maka perusahaan menggunakan PSAK No. 13 (Revisi 2007) untuk penilaian aset properti investasinya.

Selain membuat perusahaan tidak dibandingkan secara wajar, dualisme pada akhirnya menyebabkan calon investor bingung dalam pengambilan keputusannya. Tabel 4.4 menunjukkan perbedaan pencatatan PT TG dan entitas anak untuk aset menara telekomunikasi saat menggunakan PSAK No. 13 (Revisi 2007) dan PSAK No. 16 (Revisi 2007).

Tabel 4.4 Perbedaan Pencatatan Menara Telekomunikasi PT TG Menurut PSAK No. 13 (Revisi 2007) dan PSAK No. 16 (Revisi 2007)

Kondisi Aktual PSAK No. 13 (Revisi 2007)

Kondisi Jika Dicatat Menurut PSAK No. 16 (Revisi 2007)  PT TG dan entitas anak menggunakan

metode nilai wajar dari pengakuan awal hingga pelepasan untuk perhitungan properti investasi.

 Nilai wajar yang disajikan dalam laporan posisi keuangan murni merupakan perhitungan penilai independen.

 Nilai wajar properti investasi mencerminkan kondisi pasar pada saat tanggal laporan posisi keuangan.

 Dengan lebih tingginya nilai aset, berpengaruh pada mudahnya PT TG dan entitas anak dalam memperoleh pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan operasionalnya.

 PT TG dan entitas anak menggunakan metode revaluasi untuk menghitung aset tetapnya.

 Nilai revaluasi yang disajikan dalam laporan keuangan merupakan hasil perhitungan penilaian independen.

 Nilai revaluasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi.

 Karena perbedaan metode tersebut, bisa saja nilai aset saat menggunakan PSAK No. 16 (Revisi 2007) lebih kecil dibandingkan aset saat menggunakan PSAK No. 13 (Revisi 2007).

Tabel 4.4 Perbedaan Pencatatan Menara Telekomunikasi PT TG Menurut PSAK No. 13 (Revisi 2007) dan PSAK No. 16 (Revisi 2007)

(sambungan)

Kondisi Aktual PSAK No. 13 (Revisi 2007)

Kondisi Jika Dicatat Menurut PSAK No. 16 (Revisi 2007)  Dengan digunakannya metode nilai wajar,

maka tidak ada beban depresiasi yang diakui pada laporan laba rugi tahun berjalan.  Kenaikan nilai wajar properti investasi

diakui dalam laporan laba rugi. Sehingga meninbulkan kecenderungan bahwa perusahaan lebih menguntungkan dalam pengadopsian PSAK No. 13 (Revisi 2007)  Karena tidak adanya beban depresiasi dan

diakuinya kenaikan nilai wajar dalam pendapatan lain-lain, maka laba perusahaan lebih besar dibandingkan saat perusahaan menggunakan metode revaluasi.

 Investor bisa saja mengasumsikan bahwa PT TG lebih menguntungkan untuk dimiliki sahamnya

 Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laporan laba rugi.

 Kenaikan selisih revaluasi properti invetasi dilaporkan dalam laporan posisi keuangan bagian perubahan ekuitas anak

 Dengan diakuinya beban depresiasi, dan tidak adanya pengakuan kenaikan nilai revaluasi, maka laba perusahaan bisa saja lebih kecil dibandingkan saat perusahaan menggunakan metode nilai wajar.  Investor bisa saja kurang tertarik untuk

membeli sahamnya karena kurangnya laba perusahaan.

Sebagai perusahaan induk, PT TG mempunyai ketergantungan terhadap kegiatan usaha dari entitas anak. Tidak terdapat jaminan bahwa entitas anak milik PT TG akan selalu memberi kontribusi laba secara berkesinambungan. Apabila kegiatan usaha entitas anak mengalami penurunan, maka akan berpengaruh pula pada kinerja dan prospek PT TG. Terkait properti investasi, PT TG beserta entitas anak mengadopsi PSAK No. 13 (Revisi 2007) untuk perlakuan akuntansi akun properti investasi. Sebelum tahun 2007 perseroan mengklasifikasikan sites telekomunikasi sebagai aset tetap dan mendepresiasikan aset tetap tersebut sepanjang estimasi masa manfaatnya.

Namun dengan implementasi standar akuntansi baru di tahun 2007, yang berupa PSAK No. 13 (Revisi) 2007 tentang properti investasi, entitas mereklasifikasikan sites telekomunikasi sebagai properti investasi dan tidak lagi mendepresiasikan aset tersebut. Sebaliknya, atas properti investasi tersebut secara periodik dilakukan perhitungan menggunakan metode nilai wajar dan mencatat kenaikan nilai wajar untuk periode akuntansi berjalan di dalam akun “kenaikan nilai wajar atas properti investasi”.

Untuk akuisisi menara dari entitas lain, entitas mengalokasikan harga pembelian ke properti investasi setelah mengurangkan bagian yang dialokasikan ke pembayaran sewa lahan dimuka, bilamana memungkinkan. Berdasarkan catatan atas laporan keuangan PT TG, entitas telah memilih model nilai wajar untuk pengukuran setelah pengakuan awal. Nilai wajar properti investasi saat 31 Desember 2011 ditentukan berdasarkan laporan penilai independen. Seluruh properti investasi yang dimiliki oleh PT TG dan entitas anak adalah tanah, bangunan menara, dan repeater. Ketiga aset tersebut dimiliki secara langsung oleh PT TG. Ilustrasi nilai properti investasi yang dimiliki oleh PT TG dan entitas anak dijelaskan dalam Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Ilustrasi Nilai Properti Investasi PT TG dan Entitas Anak

Tanah Rp27.355.791.166

Menara 3.680.440.809.973

Repeater 139.855.084.916

Akumulasi kenaikan nilai wajar

(Akumulasi depresiasi – Mark to mark adjustment) 435.348.313.945 Jumlah properti investasi Rp4.283.000.000.000 Sumber: Laporan Keuangan PT TG dan entitas anak tahun 2011 (telah diolah kembali)

Ketiga aset tersebut merupakan properti investasi yang dimiliki oleh PT TG. Sebagai catatan bahwa nilai properti investasi PT TG mengalami kenaikan sebesar 51,6% dari Rp2.824,6 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp4.283 miliar di tahun 2011. Kenaikan ini disebabkan karena akuisisi dan penambahan tanah serta bangunan menara. Properti investasi yang dimiliki oleh PT TG dan entitas anak tersebar di seluruh daerah di Indonesia, dari Jawa hingga Kalimantan. Tiap properti investasi yang dimiliki berbeda fungsi dalam penggunaannya. Berikut penjelasan properti investasi PT TG dan entitas anak:

4.2.1 Tanah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), tanah dapat diartikan sebagai: a. Permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali;

b. Keadaan bumi di suatu tempat; c. Permukaan bumi yang diberi batas;

Schroeder (1975) mendefinisikan tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman.

Tanah yang dimiliki oleh PT TG dan entitas anak sebagian besar karena pemindahan hak milik perorangan ataupun mengakuisisi milik perusahaan lain. Untuk mempermudah proses perizinan, adakalanya PT TG dan entitas anak bekerja sama dengan pihak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk memenuhi persyaratan peraturan nasional dan daerah. Tanah yang dimiliki PT TG dan entitas anak berupa tanah kosong (ground based) yang nantinya akan didirikan menara (sites). Selain itu ada juga ruang di atap sebuah bangunan yang pada umumnya dimiliki atau disewa oleh PT TG dan entitas anak. Lokasi penentuan tanah yang akan didirikan menara (sites) tidak boleh sembarangan. Misalkan tidak boleh ada bangunan atau pohon di sekitar yang berpotensi mengganggu koneksi.

Dengan diakuinya menara sebagai properti investasi, maka tanah pun secara tersirat harus diakui sebagai properti investasi. Selain memang PT TG dan entitas anak mengharapkan kenaikan nilai di masa depan, tanah juga melekat dengan menara untuk fungsi dan penggunaannya dalam kegiatan sewa menara.

4.2.2 Menara (Tower)

Menara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) berarti bangunan yang tinggi (seperti di mesjid dan gereja), bagian bangunan yang dibuat jauh lebih tinggi dari induknya. Menurut manajemen PT TG dan entitas anak, menara telekomunikasi disetarakan dengan bangunan. Manajemen mendefinisikan menara telekomunikasi sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Komunikasi dan Informatika, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal tahun 2009. Dalam peraturan tersebut menara telekomunikasi adalah bangunan untuk kepentingan umum yang didirikan di atas tanah, atau bangunan yang merupakan satu Kesatuan konstruksi dengan bangunan

gedung yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang struktur fisiknya dapat berupa rangka baja yang diikat oleh berbagai simpul atau berupa bentuk tunggal tanpa simpul, di mana fungsi, desain dan konstruksinya disesuaikan sebagai sarana penunjang untuk menempatkan perangkat telekomunikasi.

PT TG dan entitas anak juga dalam menyetarakan menara telekomunikasi sebagai bangunan dengan dasar SE-17/PJ.6/2003 tanggal 23 Mei 2003 mengenai Petunjuk Teknis Penilaian Bangunan Khusus, terkait perlunya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dalam pembuatan menara telekomunikasi dan terkait perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menara telekomunikasi.

Terdapat tiga metode yang digunakan oleh PT TG dan entitas anak untuk mengakumulasi portofolio menara mereka1, yaitu:

a. Built to suit

PT TG dan entitas anak membangun menara baru sesuai dengan permintaan dan spesifikasi dari operator telekomunikasi. Bagi operator yang memesan sites build to suit disebut sebagai anchor tenant penyewa utama), sedangkan bagi operator lain yang menyewa di sites build to suit milik anchor tenant disebut kolokasi (co-location).

b. Penjualan dan sewa kembali (sale-and-lease back)

PT TG dan entitas anak membeli menara dari operator telekomunikasi dengan kemudian menyewakan kembali melalui perjanjian sewa.

c. Merger and acquisition

PT TG dan entitas anak meningkatkan cakupannya melalui pengabungan usaha dan akuisisi perusahaan penyewa menara independen.

Diperlukan kalkulasi yang tepat dalam pembangunan sites agar proses telekomunikasi tidak terganggu. Sites yang akan dibangun juga tidak boleh berada di lokasi dengan populasi penggunaan ponsel yang rendah dan jangan sampai mengganggu kegiatan masyarakat di sekitarnya. Menara umumnya setinggi 40 hingga 60 meter. Berjarak minimal 20 hingga 30 meter dari daerah perumahan, 10 meter dari tempat komersial, dan 5 meter dari lokasi industri.

1

PT TG dan entitas anak menyewakan satu unit menara untuk dipakai oleh maksimal tiga operator telekomunikasi. Pelanggan yang menyewa menara milik PT TG antara lain operator telekomunikasi pemerintah maupun swasta. Di lokasi menara (sites) juga terdapat bangunan (shelter) ukuran 3 x 3 meter yang dibuat untuk menyimpan perangkat yang akan menghubungkan antara menara dan pusat perangkat (central). PT TG dalam melakukan kegiatan konstruksi site mencakup design, pembuatan pondasi, pendirian dan instalasi menara, pembangunan pagar dan halaman, instalasi shelter, dan peralatan pendukung lain sesuai permintaan operator telekomunikasi.

4.2.3 Penguat Sinyal (Repeater)

Gangguan sinyal telepon selular sering terjadi karena beberapa faktor, antara lain struktur suatu bangunan, material bangunan, dan juga jarak yang jauh antara telepon seluler dengan antena pemancar sinyal. Faktor tersebut menyebabkan komunikasi menjadi terganggu, suara putus-putus, hingga dropcall. Untuk mengatasinya diperlukan sebuah alat berupa penguat sinyal.. Dalam industri komunikasi nirkabel, repeater digunakan sebagai alat penguat sinyal agar meningkatkan daya tangkap sinyal telepon selular dalam suatu wilayah. Repeater pada umumnya terdiri dari antena penerima, penguat sinyal dan antena pengirim sinyal. Repeater dapat dipasang pada langit-langit bangunan ataupun perkantoran.

Repeater diklasifikasikan sebagai properti investasi oleh PT TG dan entitas anak karena alat tersebut disewakan kepada pihak ketiga. Namun menurut penulis, walaupun repeater disewakan kepada pihak ketiga, tetap saja repeater bukan sebuah tanah atau bangunan sesuai dengan defnisi dari properti investasi menurut PSAK No. 13 (Revisi 2007) paragraf 5, melainkan repeater adalah alat elektronik. Dengan kata lain, penulis berpendapat bahwa repeater tidak diklasifikasikan sebagai properti investasi, tetapi aset tetap. Atas dasar itulah, penulis menarik kesimpulan seharusnya repeater disajikan dengan mengadopsi PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang aset tetap.

4.3 Kesesuaian Pencatatan Menara Telekomunikasi sebagai Properti

Dokumen terkait