• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Daerah dan Kelembagaan

Gambar 2.13 Peta Prioritas Air Bersih Kabupaten Purworejo

ISU STRATEGIS DAN TANTANGAN LAYANAN SANITASI KABUPATEN PURWOREJO

3.1. ASPEK NON TEKNIS

3.1.1 Kebijakan Daerah dan Kelembagaan

Berdasarkan hasil analisis SWOT ditemukan isu strategis pembangunan sanitasi untuk aspek kebijakan daerah dan kelembagaan, yaitu: • Kebijakan pusat tentang struktur organisasi daerah

• Tersedianya SDM yang berkualitas

• Keterlibatan SKPD dalam kegiatan sanitasi yakni dengan adanya koordinasi antar dan inern SKPD dalam pertemuan rutin.

Pertemuan perdana Pokja Sanitasi telah menyepakati bahwa SKPD beserta anggota pokja lainnya mengadakan pertemuan dua minggu sekali. SKPD juga melakukan koordinasi antar dan intern dinas. Pokja mengadakan pertemuan rutin dan koordinasi untuk mengolah data guna menyusun dokumen sanitasi seperti Buku Putih Sanitasi dan SSK.

• Adanya SK Bupati tentang Pokja Sanitasi

Pemerintah Kabupaten Purworejo telah membentuk Kelompok Kerja Sanitasi sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Nomor 188.4/179/2010 tanggal 22 Maret 2010 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Sanitasi

Kabupaten Purworejo, bertindak selaku Ketua Kelompok Kerja Sanitasi adalah Kepala Bappeda Kabupaten Purworejo. SKPD yang termasuk dalam anggota Pokja Sanitasi adalah Bappeda, DPU, DKK, KLH, KPPT, Disperindagkop, PDAM, Dinas P dan K, DP2KAD, Bagian Prasfis dan Adbang Setda. Anggota Pokja juga meliputi LSM, PKK, Akademisi serta media.

• Rendahnya kemampuan lobi dan advokasi serta rendahnya pemahaman sanitasi secara legislatif.

Rendahnya kemampuan lobi dan advokasi salah satunya dikarenakan terbatasnya pengetahuan dalam hal pengelolaan sanitasi. Upaya lobi dan advokasi ini diperlukan untuk melakukan sosialisasi program dan kegiatan sanitasi. Meskipun pokja sudah terlibat dalam perencanaan, program dan kegiatan sanitasi tetapi masih terdapat anggota pokja yang pengetahuan sanitasinya masih terbatas.

• Koordinasi antara Tim Pelaksana dan Tim Pengarah serta kurang fokusnya Pokja dalam kegiatan sanitasi

Kesibukan masing-masing anggota Pokja yang cukup tinggi karena target kerja yang harus dipenuhi serta terbatasnya sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing dinas terkait sering menjadi penghambat dalam koordinasi antara Tim Pelaksana dan Tim Pengarah Pokja Sanitasi. Hal ini mengakibatkan terhambatnya implementasi program dan kegian serta monitoring dan evaluasi bidang sanitasi. Terbatasnya waktu Pokja untuk kegiatan sanitasi juga mengakibatkan kinerjanya dalam program dan kegiatan sanitasi menjadi kurang maksimal.

• Adanya RPIJM • Adanya RPJMD

Perencanaan program-program pembangunan sanitasi untuk 5 (lima) tahun kedepan telah tersusun dalam RPJMD Kabupaten Purworejo. Hal ini mempermudah penyusunan program-program dan kegiatan sanitasi untuk setiap tahunnya.

• Struktur Pokja Sanitasi dari tingkat pusat sampai kabupaten

Implementasi program dan kegiatan sanitasi terkadang menghadapi kendala baik yang berasal dari wilayah Kabupaten Purworejo sendiri yang berupa keterbatasan sumber daya yang dimiliki maupun kurang sinkronnya kebijakan dari tingkat Pusat ataupun Propinsi. Kendala tersebut dapat teratasi dengan adanya Pokja yang terstruktur dari tingkat Pusat sampai ke tingkat Kabupaten yang berfungsi sebagai mediator dan atau fasilitator bagi Kabupaten Purworejo.

• Perubahan formasi birokrasi

Salah satu kendala internal Pokja dalam menjalankan tugasnya dalam bidang sanitasi adalah perubahan formasi birokrasi. Perubahan formasi birokrasi terjadi adanya praktik promosi dan rotasi jabatan yang berjalan di lingkungan Pemerintah Kabupaten.

3.1.2 Keuangan

Beberapa isu strategis yang diambil dari hasil analisis SWOT Aspek Keuangan adalah sebagai berikut :

• Retribusi layanan sanitasi (persampahan dan air limbah) bertambah

• Perencanaan penganggaran dan penyerapan anggaran sanitasi sesuai dengan penjadwalan di APBD

Perencanaan program dan kegiatan sanitasi masing-masing SKPD sudah terstruktur dengan jelas. Dengan demikian penyerapan dana untuk anggaran sanitasi sesuai dengan penjadwalan APBD dapat terealisasi dengan mudah dan tepat waktu.

• Belum ada standarisasi harga bahan bangunan yang sesuai dengan kualitas teknis bangunan

Perencanaan anggaran program kegiatan sanitasi khususnya yang bersifat fisik sering mengalami kendala karena belum adanya standar harga bahan bangunan negara. Terdapat beberapa kegiatan yang volumenya sama namun mempunyai nilai yang berbeda. Kondisi seperti ini menjadi berpengaruh terhadap kualitas bangunan secara teknis.

• Realisasi anggaran tidak sesuai dengan pengajuan rencana anggaran sanitasi

• Rendahnya anggaran sektor sanitasi akibat rendahnya APBD • Hibah Luar Negeri/donor

• DAK sanitasi

Dialokasikannya dana DAK untuk program dan kegiatan sanitasi mempermudah pencapaian target pembangunan bidang sanitasi di Kabupaten Purworejo.

• RPIJM (penyerapan dana APBN dan APBD)

Penyerapan dana APBN dan APBD untuk program dan kegiatan sanitasi dimasukkan dalam susunan RPIJM. Hal ini akan mempermudah pencapaian target program dan kegiatan sanitasi sehingga program dan kegiatan pada periode berikutnya dapat direncanakan dan dianggarkan dengan lebih baik.

• Dana bagi hasil cukai dan sosialisasi dana cukai belum intensif

Penerimaan dana bagi hasil cukai sangat diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo sebagai sumber pendapatan. Agar dana bagi hasil cukai tersebut dapat dipergunakan secara optimal, diperlukan sosialisasi tenteng penerimaan dana bahi hasil cukai terhadap seluruh masyarakat Kabupaten Purworejo. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mengetahui penggunaan dana bagi hagi hasil cukai. Dengan demikian diharapkan penyusunan program dan kegiatan sanitasi juga dapat memamfaatkan dana bagi hasil cukai sehingga pencapaian pembangunan sanitasi bisa lebih maksimal.

• Kepadatan pemukiman meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk

Peningkatan laju pertumbuhan penduduk mengakibatkan semakin luasnya kawasan pemukiman padat penduduk. Kondisi ini berdampak terhadap kondisi lingkungan kawasan tersebut yang menjadi semakin kumuh yang menimbulkan berbagai permasalahan sanitasi. Kawasan ini memerlukan perhatian yang lebih dari Pemerintah Kabupaten khususnya dalam hal

pelayanan sanitasi. Peningkatan pelayanan sanitasi di lingkungan kawasan permukiman padat memerlukan anggran yang lebih besar.

• Lahan untuk instalasi sanitasi belum tersedia 3.1.3 Komunikasi

Aspek komunikasi dalam pembangunan sangat penting seiring dengan permasalahan sanitasi yang semakin komplek. Berdasarkan analisa SWOT terdapat beberapa isu strategis dalam aspek komunikasi. Isu strategis ini dapat mendorong percepatan penyebarluasan informasi pembangunan sanitasi. Isu-isu strategis tersebut diantaranya adalah :

• Dukungan pemerintah kabupaten dalam program pembangunan sanitasi Pemerintah kabupaten selaku pemegang kebijakan di daerah merupakan kekuatan yang sangat penting dalam pembangunan sanitasi. Kewenangan yang dimiliki dalam menjalankan pembangunan dapat mendorong satker terkait, masyarakat, dan pihak swasta untuk bersama-sama berperan serta aktif dalam percepatan pembangunan sanitasi di kabupaten Purworejo. • Dukungan dana dari pemerintah kabupaten

Dukungan dana ini berupa penganggaran khusus untuk komunikasi/ promosi informasi layanan masyarakat tentang program pemerintah yang diambilkan dari APBD. Dukungan ini sangat penting untuk penyebarluasan informasi/sosialisasi khususnya tentang sanitasi ke berbagai pihak. Peningkatan anggaran untuk komunikasi sanitasi menunjukkan komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah.

• Kerja sama dengan pihak swasta/luar dan media massa dalam penyebar luasan informasi sanitasi

Masalah lingkungan hidup sekarang telah menjadi perhatian pihak-pihak swasta, banyak perusahaan (BUMD, swasta) yang memiliki anggaran khusus untuk kegiatan social dan kemasyarakatan. Kerja sama yang harmonis antara pemerintah kabupaten dengan pihak swasta dan media massa dapat memperingan beban pemerintah dalam pemasaran program-program sanitasi ke masyarakat. Kerja sama ini juga dapat mendorong

kesadaran dan partisipasi masyarakat bahwa sanitasi merupakan urusan kita bersama.

• Pemanfaatan PKK dan peningkatan peran serta perempuan dalam komunikasi sanitasi.

Keberadaan PKK sebagai organisasi masyarakat yang ada hampir di setiap desa di kabupaten Purworejo merupakan nilai lebih dalam sosialisasi sanitasi. Disamping itu peningkatan peran perempuan dan pengarusutamaan jender akan terwakili dengan adanya PKK sebagai media komunikasi sanitasi. Kerjasama yang terjalin akan mempermudah dan mempercepat penyebarluasan informasi sanitasi mengingat keberadaan ibu-ibu yang hampir setiap hari berurusan dengan sanitasi dan air bersih. • Kurangnya pemanfaatan media yang ada sebagai sarana komunikasi

Pemanfaatan media-media yang ada selama ini sebagai sarana komunikasi sanitasi masih sangat jarang. Keberadaan kolom khusus sanitasi di media pemerintah ataupun swasta masih sedikit malah mungkin belum ada. Disini peran aktif dan kreatifitas pemangku kepentingan diperlukan untuk membuat dan melakukan sosialisasi tentang sanitasi melalui media-media komunikasi tersebut.

• Publikasi ILM dan pembuatan materi sosialisasi sanitasi perlu dana tidak sedikit

Biaya pembuatan/pencetakan ILM dan materi sosialisasi sanitasi (poster, alat peraga, pamflet dll) sering menjadi masalah dalam penyebarluasan informasi sanitasi. Oleh karena itu pemangku kepentingan dalam hal ini pokja sanitasi harus memilih media apa yang akan dipakai sehingga dengan dana yang ada dapat efektif dan efisien. Dalam hal ini bisa juga dengan menjalin kerja sama dengan pihak swasta/media yang saling menguntungkan.

• Memanfaatkan dan meningkatkan peran tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam penyampaian pentingnya sanitasi.

Kepercayaan dan kepatuhan warga terhadap ketokohan seseorang seperti ketua RT, Ketua RW, pemuka agama dalam masyarakat Purworejo cukup

tinggi. Pemanfaatan tokoh masyarakat ini dapat efektif menunjang penyampaian pesan sanitasi dan mempercepat pembangunan sanitasi di daerah.

• Optimalisasi pertemuan dan penyuluhan sanitasi

Salah satu kunci perubahan perilaku masyarakat adalah adanya peningkatan pengetahuan ,pemahaman dan keterampilan masyarakat. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman ini dapat diperoleh dari informasi yang jelas terpercaya dan dilakukan secara kontinyu. Oleh karena itu pertemuan dan penyuluhan sanitasi secara rutin harus dilaksanakan dan direncanakan dengan baik.

• Cakupan wilayah Purworejo yang luas dan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah

Luasnya cakupan wilayah kabupaten Purworejo dan tingkat pendidikan masyarakat yang rendah terutama di pedesaan menjadi tantangan tersendiri bagi pemangku kepentingan dalam komunikasi sanitasi. Faktor perbedaan latar belakang dan wilayah menjadi faktor penting dalam pemilihan media yang digunakan sehingga pesan sanitasi yang disampaikan mudah dipahami dan menjangkau seluruh wilayah.

Dokumen terkait