• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Kajian Pustaka

6 Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang untuk

Pengembangan Pariwisata

Sjarifuddin Akil (2010:7) kebijakan dan strategi penataan ruang dapat dilakukan dengan meliputi hal-hal sebagai berikut :

1) Pengembangan wilayah dengan pendekatan pengembangan ekosistem, yaitu penatan ruang dilakukan dengan pendekatan secara terpadu dan terkoordinasi, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

51

2) Peningkatan keterkaitan fungsi pengembangan kegiatan pariwisata yang baik dengan sektor lainnya untuk memberikan nilai efisiensi yang tinggi dan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah.

3) Pengembangan pariwisata harus dikaitkan dengan pengembangan

ekonomi nasional, wilayah dan lokal. Pada tingkat nasional sektor pariwisata harus berperan sebagai prime mover dan secara interaktif terkait dengan pengembangan sektor-sektor lainnya.

4) Pengembangan pariwisata harus diupayakan dapat melibatkan seluruh stakeholder. Dalam konteks ini peran masyarakat terlibat dimulai sektor hulu (memberikan kegiatan produksi yang ekstraktif) sampai dengan kegiatan hilir (kegiatan produksi jasa).

5) Pemanfaatan rencana pengembangan wilayah secara nasional yang dalam hal ini harus terkait dengan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Di dalam RTRWN ini diberikan arahan-arahan fungsi lindung dan budidaya. Kawasan lindung dapat dioptimalkan juga

sebagai kawasan yang memberikan dukungan bagi kegiatan

pengembangan pariwisata (forets tourism) dan kawasan budi daya memberikan alokasi-alokasi ruang untuk pngembangan pariwisata, tertutama dengan kawasan-kawasan andalan dengan sektor unggulannya adalah pariwisata.

6) Pengembangan dukungan sarana-prasarana transportasi secara terpadu intermoda dan terkait dengan struktur pengembangan wilayah.

Sedangkan strategi penataan ruang dalam pengembangan kegiatan pariwisata mencakup hal-hal sebagai berikut :

52

a. Pemanfaatan RTRWN, RTRW Provinsi/Kab/Kota untuk mendukung

pengembangan pariwisata terutama dalam penyesuaian dengan arahan alokasi pemanfaatan ruang.

b. Peningkatan koordinasi lintas sektoral dalam pengembangan pariwisata untuk mewujudkan keserasian dan keterpaduan program sektor yang dapat meminimalkan konflik antar sektor yang terjadi.

c. Pengembangan jaringan transportasi nasional, wilayah, dan lokal untuk mendukung pengembangan pariwisata terutama terkait dengan arahan pengembangan jaringan transportasi darat, laut, dan udara, termasuk juga arahan pengembangan alokasi bandara dan pelabuhan.

d. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata dari proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

e. Peningkatan keterpaduan program dengan keterlibatan berbagai sektor dalam pengembangan pariwisata.

f. Penyusunan rencana tata ruang yang lebih detail untuk pengembangan pariwisata dengan mengacu kepada arahan RTRWN dan RTRW Provinsi untuk tingkat yang lebih makro, dan mengacu kepada arahan RTRW dan RDTR Kawasan di Kabupaten/Kota untuk tingkat yang lebih detail. g. Pemanfaatan standar teknis sektoral dalam menyusun rencana detail/rinci

pengembangan kawasan pariwisata.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dari perspektif penataan ruang adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan kegiatan pariwisata harus memperhatikan arahan dalam rencana tata ruang

53

b. Pengembangan kegiatan pariwisata harus memperhatikan daya dukung lingkungan

c. Dalam menyelenggarakan kegiatan pariwisata harus melibatkan

masyarakat setempat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat

d. Untuk mencapai keberhasilan pengembangan kegiatan pariwisata, harus dilakukan secara koordinatif dan terpadu antar semua pihak yang terkait sehingga terwujud keterpaduan linatas sektoral dan menghindari terjadinya konflik antar sektor.

e. Mengingat sektor pariwisata merupakan sektor tersier dimana preferensi wisatawan sangat ditentukan oleh tingkat kenyamanan, maka dukungan saran dan prasarana untuk meningkatkan aksesibilitas ke lokasi obyek wisata mutlak dibutuhkan.

7. Industri Pariwisata

Bila orang mendengar kata industri, gambaran dari kebanyakan orang tentang suatu industri adalah suatu bangunan pabrik yang mempunyai cerobong asap dengan menggunakan mesin-mesin dalam proses produksinya. Ini adalah gambaran industri pada umumnya, tetapi industri pariwisata jauh berbeda dengan itu.

G.A. Schmoll dalam Yoeti (1996:1) ”Tourism is a highly decentralized

industry consisting of enterprises different in size, location, function, type organization, range of service provided and method used to marketand sell them”.Industri pariwisata bukanlah industri yang berdiri sendiri, tetapi

54

menghasilkan jasa atau produk yang berbeda dengan lainnya. Perbedaan itu tidak hanya dalam jasa yang dihasilkan, tetapi juga dalam besarnya perusahaan, lokasi tempat kedudukan, letak geografis, fungsi bentuk organisasi yang mengelola dan metode atau cara pemasarannya.

Dalam Yoeti (1996:6) bila kita tinjau dari segi ekonomi mikro, maka yang dimaksudkan dengan industri pariwisata adalah setiap unit produksi yang dapat menghasilkan produk atau jasa tertentu. Atas dasar pengertian ini maka hotel atau transport secara sendiri-sendiri dapat disebut sebagai industri pariwisata (dalam pengertian sempit). Sedangkan dalam pengertian ekonomi makro, yang dimaksudkan dengan industri pariwisata adalah keseluruhan unit-unit produksi (travel agent, tourist transportation, hotel, catering trade, tour operator, tourist objects, tourist attraction dan souvenir shops) baik yang tempat kedudukannya di daerah, dalam negeri atau di luar negeri yang ada kaitannya dengan perjalanan wisatawan yang bersangkutan. a. Sar ana dan pr asarana Kepariwisataan

Menurut Yoeti (1996:8) yang dimaksudkan dengan prasarana (infrastrukture) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian dapat berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi fungsinya adalah melengkapi sarana kepariwisataan sehingga dapat memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Dalam pengertian ini yang termasuk dalam prasarana adalah:

55

Yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan umum bagi kelancaran perekonomian. Adapun yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya ialah: system penyediaan air bersih, pembangkit tenaga listrik, jaringan jalan raya dan jembatan, airport, pelabuhan laut, terminal, stasiun, kapal tambang (Ferry), kereta api dan telekomunikasi

2) Kebutuhan masyarakat banyak (basic needs of civilized life)

Kebutuhan masyarakat banyak yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak dan termasuk dalam kelompok ini ialah: rumah sakit, apotek, bank, kantor pos, pompa bensin,

administration offices (pemerintahan umum, polisi, pengadilan,

badan-badan legislative dan sebagainya)

Menurut Yoeti (1996:9) ada tiga macam sarana kepariwisataan, dimana satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Dalam hubungan usaha setiap Negara untuk membuat wisatawan lebih banyak datang, lebih lama tinggal, lebih banyak mengeluarkan uangnya di tempat yang dikunjunginya, maka ketiga sarana ini sangat memegang peranan penting. Adapun Ketiga sarana yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

1) Sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstruture)

Yang dimaksudkan dengan sarana pokok kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat tergantung pada lalu lintang wisatawan dan traveler lainnya. Fungsinya ialah menyediakan fasilitas pokok yang dapat memberikan

56

pelayanan bagi kedatangan wisatawan sarana semacam ini harus diadakan, pembangunannya harus diarahkan, apalagi dalam rangka hendak menarik lebih banyak wisatawan. Contohnya seperti Receptive

tourist plant yaitu perusahaan yang mempersiapkan perjalanan dan

penyelenggaraan tour bagi wisatawan seperti: travel agent, tour

operator, dan tour transportation.dan Residential tourist plant ialah

perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan untuk menginap, menyediakan makanan dan minuman di daerah tujuan misalnya: hotel,

motel, youth hostel, cottages, camping areas, caravanning taverns,

dan sebagainya.

2) Sarana pelengkap kepariwisataan (supplementing tourism

superstructure)

Yang dimaksudkan dengan sarana pelengkap kepariwisataan ialah fasilitas-fasilitas yang dapat melengkapi sarana pokok sedemikian rupa, sehingga fungsinya dapat membuat wisatawan lebih lama tinggal di tempat atau di daerah yang dikunjunginya. Dalam literature kepariwisataan dikenal dengan istilah “recreative and sportive plant” dan yang termasuk ke dalam kelompok ini ialah: fasilitas untuk berolahraga, baik dimusim dingin atau musim panas, seperti: ski, golf

course, tennis court, swimming pool, boating facilities, hunting safari

dan segala perlengkapannya. Jadi harus ada sesuatu yang dapat dilakukan (something to do) di tempat yang dikunjungi, sehingga ada perintang yang tidak membuat wisatawan cepat bosan di tempat tersebut.

57

3) Sarana penunjang kepariwisataan (supporting tourism superstructure) Yang dimaksud dengan sarana penunjang kepariwisataan ialah fasilitas yang diperlukan wisatawan (khususnya business tourist), yang berfungsi tidak hanya melengkapi sarana pokok dan sarana pelengkap, tetapi fungsinya yang lebih penting adalah agar wisatawan lebih banyak membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjunginya tersebut. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah night club, steambath, casino, souvenir shop, bioskop dan opera. Sarana semacam ini perlu diadakan untuk wisatawan tetapi tidaklah begitu mutlak pengadaannya, karena tidak semua wisatawan senang dengan kegiatan tersebut.

b. Hasil (product) Industri Pariwisata

Dalam Yoeti (1996:12) pariwisata sebagai suatu industri menghasilkan jasa-jasa (services) sebagai product yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan travelers pada umumnya.

Medlik dan Middleton dalam Yoeti (1996:13) yang dimaksudkan dengan product dalam industri pariwisata ialah “… the product covers

the complete experience from the time he leave home to the time he returns to it”. Jadi yang dapat dikatakan, yang dimaksudkan dengan hasil

(product) industri pariwisata ialah: semua jasa-jasa (services) yang dibutuhkan wisatawan semenjak ia berangkat meninggalkan tempat kediamannya, sampai ia kembali ke rumah dimana ia tinggal.

Pada dasarnya ada tiga golongan pokok produk industri pariwisata tersebut yaitu:

58

1) Objek wisata yang ada di daerah-daerah tujuan wisata, yang menjadi daya tarik orang-orang untuk datang berkunjung ke daerah tersebut; 2) Fasilitas yang diperlukan di tempat tujuan tersebut, seperti akomodasi

perhotelan (accomodation), bar dan restoran (catering), entertainment dan rekreasi;

3) Transportasi yang menghubungkan Negara asal wisatawan (tourist

generating coutries) dengan daerah tujuan wisatawan (toursm destination area) serta transportasi di tempat tujuan (local transportation) ke objek-objek pariwisata.

c. Ciri-ciri Pr oduk Industri Pariwisata

Menurut Yoeti (1996:18) ciri-ciri produk pariwisata yang terpenting, diantaranya ialah:

1) Hasil atau produk industri pariwisata itu tidak dapat dipindahkan. Karena itu dalam penjualannya tidak mungkin pelayanan itu sendiri dibawa kepada konsumen, sebaliknya konsumen (dalam hal ini wisatawan) yang harus datang ke tempat produk tersebut dihasilkan. Dalam industri barang biasa hasil atau produknya dapat dipindahkan kemana barang itu dibutuhkan atau diinginkan oleh konsumen.

2) Pada umumnya peranan perantara tidak diperlukan, karena proses produksi terjadi pada saat yang bersamaan dengan konsumsi. Satu- satunya perantara yang merupakan saluran dalam penjualan jasa-jasa industri pariwisata hanyalah travel agent atau tour operaror saja. 3) Hasil atau produk pariwisata tidak dapat ditimbun seperti halnya

59

merupakan kebiasaan untuk meningkatkan permintaan. Hari raya galungan di Bali yang terjadi pada tanggal 15 juli (misalnya) tidak dapat disaksikan seminggu kemudian. Begitu pula halnya dengan pemandangan yang bagus pada cuaca yang baik tidak dapat disajikan pada waktu cuaca jelek atau dalam keadaan hujan.

4) Hasil atau produk industri pariwisata itu tidak mempunyai standart atau ukuran yang objektif, seperti halnya industri barang lainnya yang mempunyai ukuran panjang, lebar, isi, dan lain-lain. di sini hanya menggunakan patokan bagus, jelek atau puas atau tidaknya orang yang diberi pelayanan.

5) Permintaan terhadap hasil atau produk industri pariwisata tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomis. Terjadinya bencana alam, akan mengakibatkan permintaan akan berkurang. Sebaliknya bilamana musim berlibur dengan kondisi normal permintaan meningkat, sehingga terjadi kekurangan dalam supply. 6) Calon konsumen tidak dapat mencoba atau mencicipi produk yang

dibelinya. Dia hanya dapat melihat dari brochures (leaflet, booklet,

poster) melalui slide, tv atau film yang khusus dibuat untuk itu.

7) Hasil atau produk industri pariwisata itu banyak tergantung dari tenaga manusia dan sedikit yang dapat digantikan dengan mesin. 8) Dari segi pemilikan usaha, penyediaan produk industry pariwisata

dengan membangun sarana-sarana kepariwisataan yang besar, sedangkan perubahan elastisitas permintaan (demand) sangat kuat.

60

Menurut Ismayanti dalam buku pengantar pariwisata (2010:15-17) Pariwisata merupakan gabungan dari produk barang dan produk jasa. Keduanya penting, dibutuhkan dan dihasilkan oleh industri pariwisata. Pada dasarnya wisata memiliki sifat dari pariwisata sebagai sebuah kegiatan yang unik:

a. Perpaduan sifat fana (intangiable) dengan sifat berwujud (tangiable) Pada intinya apa yang ditawarkan di industry pariwisata adalah sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak dapat dibawa untuk ditunjukkan kepada orang lain. namun sarana dan prasarana yang digunakan untuk memberikan kenyamanan yang ditawarkan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang berwujud. Kombinasi keduanya menjadi unik dan menjadi tidak mudah di ukur meskipun standarisasi pelayanan telah ditetapkan. Namun konsumen yang hendak membeli akan perlu bantuan pihak ketiga. Alternative lain adalah dengan bergantung pada pengalaman orang lain dan reputasi atau citra dari penyedia jasa.

b. Sifat tak terpisahkan (inseparable)

Kegiatan wisata membutuhkan interaksi antara wisatawan sebagai pengguna jasa dan tuan rumah sebagai penyedia jasa, bahkan partisipasi konsumen dalam setiap produk yang ditawarkan menjadi hal yang sangat penting. Antara wisatawan dan tuan rumah, antara tamu dan pelayanan, antara pengunjung dan pemandu wisata, keduanya tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan wisata. Keduanya harus bertemu dan melakukan kontak social. Wisatawan harus secara

61

aktif memberikan kontribusi kepada penyedia jasa agar apa yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan. Sifat yang tidak dapat dipisahkan juga bermakna bahwa setiap transaksi antara penyedia jasa seperti hotel dengan konsumen yakni tamu harus dilakukan pada saat yang sama atau consume-in situ. Segala yang ditawarkan di industry pariwisata harus dikonsumsi dilokasi ketika produk diproduksi dan dihasilkan. Sebagai contoh, wisatawan akan bisa menikmati kehangatan matahari, kalau ia datang ke pantai yang ia minati.

c. Keatsirian (volatility)

Pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa dipengaruhi oleh banyak factor seperti pribadi, sosio-budaya, pengetahuan dan pengalaman. Ada faktor yang secara eksternal mempengaruhi dan ada faktor yang secara internal mempengaruhi. Akibat dari banyaknya hal yang dipengaruhi, pelayanan terhadap wisatawan mudah menguap atau berubah sehingga penyedia jasa harus secara rutin dan aktif berinovasi memperbaharui tawaran jasa wisata kepada wisatawan.

d. Keragaman

Bentuk pelayanan di industri pariwisata cukup sulit untuk distandarisasikan. Setiap wisatawan ingin selalu dipenuhi dengan kebutuhannya digeneralisasikan atau disamarkan dengan kebutuhan orang lain. setiap wisatawan ingin diperlakukan sebagai pribadi- pribadi yang beragam.

Setiap wisatawan memiliki preferensi terhadap apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Ia memiliki pengharapan yang beragam sehingga

62

penyedia jasa perlu memahami kebutuhan dan keinginan setiap wisatawan yang bersumber dari pengalaman masa lampau, pendapat orang lain, lingkungan, standard an nilai serta faktor lain.

e. Sifat rapuh (perishable)

Jasa adalah sesuatu yang fana, tetapi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan perasaan puas. Pelayanan hari esok tentunya berbeda dan akan lebih baik dari hari kemarin sehingga harus diproduksi dan dikonsumsi secara simultan. Sifat rapuh merujuk pada jasa yang ditawarkan dalam pariwisata yang tidak dapat disimpan untuk dikonsumsi dikemudian hari.

f. Musiman (seasonality)

Musiman merupakan sifat yang paling unik dari kegiatan manusia yang dinamis. Adakalanya pariwisata mengalami musim ramai ketika jumlah orang yang melakukan perjalanan mencapai titik puncak, adakalanya pula tidak seorangpun melakukan perjalanan wisata. Kondisi ini menyebabkan pengusaha pariwisata harus terus-menerus melakukan inovasi dan memunculkan ide kreatif agar pendapatan usaha tetap meningkat.

g. Tak bertuan (no ownership)

Wisatawan adalah pembeli. Namun uniknya ia tidak dapat memiliki apa yang telah ia beli dan bayarkan. Seorang wisatawan yang membeli tiket pesawat berhak menduduki kursi pesawat agar sampai ke daerah

63

tujuan yang diinginkan, tetapi ia tidak berhak untuk memiliki kursi tersebut sebagai bukti transaksi pembelian.

Ciri dari pariwisata diantaranya sebagai berikut: a) Sarat dimensi manusia

Manusia sebagai pelaku utama dalam pariwisata. Ia bisa berperan dalam banyak hal. Ada wisatawan yang secara individu bertindak sebagai inisiator atau pencetus ide perjalanan, ada yang berperan sebagai pembeli, sebagai pengguna, sebagai pembuat keputusan, dan sebagai provokator dalam arti positif. Namun adakalanya wisatawan dalam kelompok bertindak sebagai penilai dan mengesahkan. Inilah yang menjadikan keunikan wisata.

b) Perbedaan antara konsumen dan pelanggan dalam pelayanan

Dalam pariwisata, dilakukan diskriminasi antara konsumen dan pelanggan karena hal ini berdampak pada proses pelayanan yang diberikan. Tentu setiap penyedia jasa cenderung mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya karena loyalitas yang tidak perlu diragukan.

Kebutuhan loyalitas untuk menjaga konsumen agar tetap

menggunakan jasa yang ditawarkan, sekaligus menjadi keunggulan dalam persaingan. Hampir setiap bisnis wisata mengupayakan beraneka ragam program agar tamu yang mendatang menjadi tamu setia.

64

Keberadaan konsumen adalah penting karena tingginya interaksi antara pengguna jasa, antara hotel dengan tamu, antara turis dengan pemandu wisata, antara wisatawan dan pramugari dan yang lain.

Dokumen terkait