• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN

SAMPAH

A Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu memahami dan menjelaskan mengenai kebijakan dan strategi dalam pengelolaan sampah sampah dengan konsep WtE.

B Tujuan

Setelah mengikuti pelatihan mata pelatihan ini peserta pelatihan diharapkan mampu memahami peranan WtE dalam pencapaian target dalam kebijakan dan strategi nasional (Jakstranas) pengelolaan sampah dan peranannya dalam mitigasi perubahan iklim.

C Kebijakan Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia harus dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan dan keindahan. Sampah apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai permasalahan, diantaranya estetika, kesehatan dan potensi bencana lingkungan. Tujuan pengelolaan sampah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya, antara lain melalui aplikasi teknologi Waste to Energy (WtE).

Konsep pengembangan sistem pengelolaan persampahan dapat dibagi dalam beberapa tahap yaitu (1) tahap pemilahan dan pewadahan sampah, (2) tahap pengumpulan dan pengangkutan sampah, dan (3) tahap pemrosesan akhir sampah.

Tahap pemilahan dan pewadahan sampah dari sumber sampah merupakan kewajiban setiap penghasil sampah. Penghasil sampah melalukan pemilahan

dan fungsi dalam pengelolaan sampah. Fasilitas WtE dapat dikelompokkan sebagai salah satu bentuk fasilitas pengolahan sampah. Fasilitas WtE dapat pula diaplikasikan di lokasi TPA.

Gambar 8. Konsep Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah

Kebijakan pembangunan jangka menengah terkait dengan pengelolaan sampah sebenarnya telah tercantum dalam Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019. Dalam PerPres tersebut telah mengamanatkan pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi (termasuk didalamnya pengelolaan sampah) diarahkan untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, dengan target tercapainya 100 persen pelayanan sanitasi pada tingkat kebutuhan dasar pada tahun 2019. Untuk mencapai akses sanitasi 100% tersebut, Pemerintah melalui Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggunakan 3 (tiga) pendekatan pembangunan sanitasi, yaitu melalui pembangunan dan pengembangan sistem pengelolaan sanitasi (meliputi air

limbah domestik dan persampahan), fasilitasi pemerintah daerah dan pembangunan berbasis masyarakat.

Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tersebut juga menjabarkan sasaran pembangunan kawasan permukiman yang menjadi prioritas, khususnya untuk sarana prasarana pengelolaan persampahan dengan :

 pembangunan TPA sanitary landfill di 341 kota/ kabupaten  penyediaan fasilitas 3R komunal di 334 kota/ kabupaten  fasilitas 3R terpusat di 112 kota/kabupaten

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01 Tahun 2014 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum menetapkan beberapa target pelayanan minimal sektor persampahan yang harus dicapai pada tahun 2019, yaitu:

- Presentase Pengurangan Sampah di Perkotaan: 20% - Presentase Pengangkutan Sampah Perkotaan: 70%

- Presentase Pengoperasian Tempat Pemrosesan Akhir Sampah: 70%

Berbagai isu strategis dan permasalahan dalam pengelolaan sampah mencakup beberapa aspek yaitu:

aspek teknis

pengelolaan, aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek peraturan dan aspek peran serta masyarakat. Atas dasar aspek tersebut, dapat ditarik poin penting bahwa syarat untuk berkelanjutannya pengelolaan infrastruktur sanitasi (termasuk persampahan), yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Syarat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Aspek dan lingkupnya Syarat yang harus dipenuhi

tingkat pemerintah • Kelembagaan di

tingkat masyarakat

tingkat pengguna/penerima manfaat.

• Terdapat dukungan SDM yang berkompetensi sesuai dengan sarana yang dikelola.

• Dilengkapi sistem manajemen pengelolaan yang efektif untuk pelayanan kepada masyarakat. Pembiayaan

• Biaya operasi dan pemeliharaan sarana

• Biaya operasional lembaga pengelola

• Biaya untuk operasi dan pemeliharaan memadai. • Adanya kepastian alokasi anggaran untuk

operasional lembaga pengelola

Peraturan

• Peraturan dari pemerintah, • Peraturan di

tingkat masyarakat

• Terdapat peraturan yang mengikat bagi

penerima manfaat untuk memenuhi ketentuan dan penggunaan/pemanfaatan sarana.

• Penegakan hukum diterapkan

• Adanya kepastian hukum terhadap lembaga pengelola dalam menjalankan kewajiban dan kewenangannya. Peran Serta Masyarakat • Kepedulian masyarakat • Tanggung jawab • Kontribusi

• Adanya peranserta dan tanggungjawab masyarakat terhadap keberlanjutan dan penggunaan sarana.

• Kontribusi masyarakat melalui retribusi untuk pembiayaan operasi dan pemeliharaan sarana prasarana.

Sumber: Direktorat PLP, 2017

D Pengurangan dan Penanganan Sampah

Untuk mengakomodir perubahan paradigma dari pendekatan End of Pipe menuju ke konsep 3R di Indonesia maka membutuhkan beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

- Transformasi kebijakan dan strategi - Penguatan 3R (Reduce Reuse Recycle) - Peningkatan waste to value

Sesuai dengan hirarki dalam pengelolaan limbah, yang juga berlaku untuk pengelolaan sampah, maka terdapat tahapan penanganan sampah yang harus lebih diprioritaskan dibandingkan dengan tahapan lainnya. Terlihat pada Gambar diatas bahwa energy recovery yang merupakan istilah lain dari Waste to Energy merupakan penanganan yang dilakukan setelah berbagai macam pengurangan dan pemanfaatan sampah. Dari Gambar diatas terlihat juga bahwa Waste to Energy lebih diprioritaskan sebelum penimbunan di TPA. Dengan mengadopsi hirarki tersebut maka perlu dikembangkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah yang mengikuti filosofi berikut.

Gambar 9. Filosofi Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah

Kementerian PUPR melalui Direktorat Pengembangan PLP telah memberikan arahan strategi pengelolaan sampah dengan menempatkan konsep 3R dan Energy recovery sebagai prioritas sebelum penimbunan/pemrosesan akhir. Tahapan energy recovery merupakan prinsip dari suatu fasilitas Waste to Energy (WtE).

Gambar 10. Strategi Pengembangan Pengelolaan Persampahan

Sumber: Direktorat Pengembangan PLP, 2017

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, dicantumkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas:

- PILIHAN ENERGI ALTERNATIF

- MENGURANGI SAMPAH YANG DITIMBUN DI TPA

- RESPON TERHADAP MAKIN LANGKANYA LAHAN

UNTUK TPA

1. Pengurangan sampah, yang meliputi kegiatan: a. pembatasan timbulan sampah;

b. pendauran ulang sampah; dan/atau c. pemanfaatan kembali sampah.

Pengurangan sampah dilakukan dengan cara:

- menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, bahan yang dapat didaur ulang, dan/atau bahan yang mudah diurai oleh proses alam; dan/atau - mengumpulkan dan menyerahkan kembali sampah dari produk dan/atau

kemasan yang sudah digunakan.

2. Penanganan sampah, yang meliputi kegiatan:

a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;

b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;

c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir; d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah

sampah; dan/atau

e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Gambar 11. Diagram Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sampah

Sebagai turunan dari PP No. 81 tahun 2012 diatas, telah disahkan Peraturan Presiden No. 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dalam PerPres tersebut diamanatkan adanya target pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga hingga tahun 2025, yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Target Pengurangan dan Penanganan Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Tahun 2017-2025

Indikator Tahun 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 Proyeksi timbulan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga (juta ton)

Indikator Tahun 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 Target pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga (juta ton)

9,89 (15%) 12 (18%) 13,4 (20%) 14 (22%) 16,4 (24%) 17,99 (26%) 18,9 (27%) 19,7 (28%) 20,9 (30%) Target penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga (juta ton)

47,3 (72%) 48,5 (73%) 53,7 (80%) 50,8 (75%) 50,7 (74%) 50,52 (73%) 50,3 (72%) 50,1 (71%) 49,9 (70%)

Sumber: Peraturan Presiden No. 97 tahun 2017

Dalam mencapai target pengurangan dan penanganan sampah, diperlukan indikator pencapaian yang harus dipenuhi. Hubungan antar indikator dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Indikator Pencapaian Jaktranas

Gambar 13. Hubungan antara Jakstranas dan Jakstrada

Gambar Integrasi Horizontal dalam Pelaksanaan Jakstranas Jakstranas Jakstrada Provinsi Jakstrada Kota / Kabupaten Menteri LHK dan Menteri PUPR Gubernur Bupati / Walikota pendampingan berkoordinasi menyusun

Gambar 14. Integrasi Vertikal dalam Pelaksanaan Jakstranas

Sebagai suatu kebijakan maka Jakstranas dapat dilihat dari berbagai macam perspektif, antara lain: lingkungan, keuangan, proses bisnis (operasional), dan pembelajaran, yang masing-masing perspektif dapat dijelaskan melalui beberapa Gambar 15.

E Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca

Secara global, sektor pembangkitan energi masih menjadi sumber emisi GRK yang dominan dibandingkan sektor-sektor lainnya. Sedangkan untuk skala Indonesia, alih fungsi lahan menjadi kegiatan kontributor utama (sebesar 48%) dalam mengemisikan GRK. Walaupun tidak terlalu besar (hanya sekitar 11%), sektor sampah/limbah berpotensi mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah populasi penduduk Indonesia setiap tahunnya.

Gambar 16. Proporsi Kontribusi Kegiatan dalam Mengemisikan GRK Skala

Indonesia (Sumber: Dewan Nasional Perubahan Iklim, DNPI)

Sektor limbah/sampah menjadi salah satu penghasil gas rumah kaca. Di Indonesia, sampah belum tertangani secara optimal. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih ada yang menggunakan sistem pembuangan terbuka (open dumping) atau sekedar menimbun sampah di daerah terbuka tanpa proses apapun. Sampah tersebut kemudian mengalami degradasi dan menghasilkan beberapa gas yang dapat menyebabkan perubahan iklim.

Selain itu dari proses penimbunan/pemrosesan akhir, berbagai macam tahapan dalam penanganan sampah juga berpotensi mengemisikan GRK. Pengumpulan sampah yang dilakukan dengan berbasis motor akan mengemisikan GRK akibat pembakaran bahan bakar motor tersebut. Penanganan sampah di tempat

Gambar 17. Sumber Emisi Gas Rumah Kaca di Sektor Sampah

Dari Gambar diatas terlihat bahwa dengan target pengurangan sampah yang sampai dengan 30% hingga tahun 2025 tentusaja akan mengurangi emisi GRK. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Kementerian LHK, bila target pengurangan timbulan sampah pada tahun 2019 yang sebesar 20% dapat tercapai maka hal itu dapat mereduksi emisi GRK 3,82 juta ton CO2 ekuivalen. Sedangkan bila target penanganan tahun 2019 dapat tercapai sebesar 80% maka dapat mereduksi emisi GRK sebesar 14,34 juta ton CO2 ekuivalen. Tentusaja dengan penerapan pengolahan sampah dengan konsep WtE akan lebih mereduksi emisi GRK dari sektor persampahan.

F Latihan

1. Sebutkan Peraturan Presiden yang menentukan Target pengurangan dan penanganan sampah sebagai bagian dari kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah.

2. Sebutkan komponen pengurangan dan penanganan sampah yang dapat dilakukan untuk pencapaian target dalam Jakstranas tersebut.

3. Jelaskan peranan pencapaian target dalam Jakstranas tersebut dikaitkan dengan penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor pengelolaan sampah.

G Rangkuman

Untuk lebih mendorong peningkatan kinerja pengelolaan sampah, Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 97 tahun 2017 telah menetapkan target pengurangan dan penanganan sampah sebagai bagian dari Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah. Selain untuk mengurangi potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, pencapaian target dalam Jakstranas tersebut akan berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor pengelolaan sampah.

H Daftar Pustaka

Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

Peraturan Presiden no 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

BAB 4

KEBIJAKAN PENGOLAHAN SAMPAH

MENJADI ENERGI SEBAGAI BAGIAN

PENGEMBANGAN ENERGI BARU

TERBARUKAN

KEBIJAKAN PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI

ENERGI SEBAGAI BAGIAN PENGEMBANGAN

ENERGI BARU TERBARUKAN

A Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu memahami dan menjelaskan mengenai kebijakan pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian pengembangan energi baru terbarukan.

B Tujuan

Setelah mengikuti pelatihan mata pelatihan ini peserta pelatihan diharapkan mampu memahami kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan sampah sebagai salahsatu sumber energi terbarukan yang potensial untuk dikembangkan.

C Kebijakan Pengembangan Energi Baru Terbarukan

Berdasarkan Undang-undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi, beberapa poin bisa dihubungkan dengan pengembangan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

 Kebijakan energi nasional adalah kebijakan pengelolaan energi yang berdasarkan prinsip berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan

lingkungan guna terciptanya kemandirian dan ketahanan energi nasional

 Sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut

Sesuai dengan poin-poin diatas dapat disimpulkan bahwa sampah sebagai salahsatu bentuk bioenergi dapat dikategorikan sebagai sumber energi terbarukan yang pengembangannya harus memperhatikan aspek konservasi terhadap lingkungan.

• Prioritas pengembangan energi;

• Pemanfaatan sumber daya energi nasional; • Cadangan energi nasional.

2. Kebijakan pendukung meliputi:

• Konservasi dan diversifikasi energi; • Lingkungan dan keselamatan; • Harga, subsidi dan insentif energi;

• Infrastruktur, akses masyarakat dan industri energi; • Penelitian dan pengembangan energi; dan

• Kelembagaan dan pendanaan.

Walaupun tidak dipungkiri bahwa Indonesia masih bertumpu pada fossil fuel, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai macam kebijakan dan target dalam memperbesar kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi, diantaranya melalui disahkannya Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Target kebutuhan dan bauran ketersediaan energi di Indonesia diilustrasikan di dalam Gambar 18.

Penyediaan energi dari sumber energi baru dan sumber energi

terbarukan yang dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap,

dan perseorangan dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif

dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan

kewenangannya untuk jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai

Gambar 18. Bauran Energi Indonesia: Realisasi & Rencana Jangka Panjang

Sumber: Indonesia Energy Outlook 2014; RPJMN 2015 ‐ 2019; PP No. 79 Tahun 2014

Pada Gambar tersebut menunjukkan bahwa energi terbarukan dan gas alam diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk masing-masing sebesar 23% dan 22% dari pasokan energi pada tahun 2025 atau hampir setengah dari total kebutuhan energi Indonesia.

Indonesia juga berpeluang untuk menggali dan menggunakan berbagai potensi energi yang lebih ramah lingkungan dan energi baru terbarukan yang belum banyak dimanfaatkan, diantaranya dari sampah. Pembangkitan energi yang berasal dari sampah (biomassa) dikategorikan sebagai energi terbarukan. Dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya, biomassa memiliki potensi yang sangat besar tetapi belum termanfaatkan secara optimal.

Tabel 3. Potensi dan Kapasitas Terpasang Sumber Energi di Indonesia

Sumber: LCS dan PKPPIM (2014b) diadopsi dari ESDM (2013) presentasi di paviliun

Indonesia di COP 19 di Warsaw. Catatan: * kapasitas terpasang Mei 2015; ** kapasitas terpasang tahun 2012 saja menurut RUPTL 2015--‐2024 (PLN, 2015);

memandang sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan dengan teknologi pengolahan sampah (Waste to Energy). Hal tersebut didukung oleh amanat Undang-Undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi dimana disebutkan bahwa Pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Energi terbarukan dalam hal ini salah satunya merupakan bioenergi yang dihasilkan dari sampah.

Secara eksplisit, Kebijakan pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian pengembangan energi baru terbarukan tertuang dalam Peraturan Presiden No. 35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Pada PerPres ini pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan, dan untuk mengurangi volume sampah secara signifikan demi kebersihan dan keindahan kota serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Selain itu pengelolaan sampah menjadi sumber daya dilaksanakan untuk mendapatkan nilai tambah sampah menjadi energi listrik.

Dalam PerPres tersebut dijelaskan bahwa dalam rangka percepatan pembangunan PLTSa, pemerintah daerah dalam hal ini gubernur atau walikota dapat menugaskan Badan Usaha Milik Daerah atau kompetisi badan usaha. Teknis mengenai kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) dijelaskan lebih terperinci pada modul 13 tentang Penyelenggaraan KPBU Waste to Energy.

Percepatan pembangunan pengelolaan instalasi sampah (PLTsa)

melalui pengelolaan sampah menjadi urusan 12 (dua belas) pemerintah

daerah, yaitu: Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Tangerang

Selatan, Kota Bekasi, Kota bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta,

Kota Surabaya, Kota Makassar, Kota Denpasar, Kota Palembang, dan

Penyelenggaraan percepatan pembangunan instalasi pengolahan sampah tersebut terkait dengan Peraturan Presiden No. 4 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Ketenagalistrikan. Pada PerPres tersebut dijelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dilakukan dengan mengutamakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan sehingga para pemangku kepentingan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat memberikan dukungan perizinan dan non perizinan serta penyerderhanaannya. Sebagai salah satu sumber energi terbarukan, potensi pembangkitan listrik dari sampah untuk beberapa Propinsi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 19. Secara umum, potensi pembangkitan listrik akan proporsional terhadap timbulan sampah yang dihasilkan dari suatu daerah.

Gambar 19. Potensi Sampah Kota sebagai Sumber Pembangkitan Listrik

(Sumber: Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, 2014)

E Kebijakan Pembelian Listrik dan Pembiayaan dari Waste to Energy

Kebijakan pembelian listrik dari PLTSa dilakukan oleh Menteri ESDM dengan menugaskan PT PLN untuk melakukan pembelian tenaga listrik. Harga pembelian listrik diatur pada Peraturan Presiden No. 35 tahun 2018 untuk besaran kapasitas sampai dengan 20 MW (dua puluh megawatt) adalah sebesar USD 13,35 cent/kWh sedangkan untuk besaran kapasitas lebih dari 20 MW Harga pembelian dihitung dengan:

Kebijakan pembiayaan dari Waste to Energy juga diatur dalam PerPres tersebut dimana dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta dapat didukung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau sumber lain yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pendanaan yang bersumber dari APBN dapat digunakan untuk bantuan biaya layanan paling tinggi sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) per ton sampah. Mekanisme bantuan biaya layanan tersebut diusulkan oleh Menteri Lingkungan Hidup kepada Menteri Keuangan.

F Latihan

1. Sebutkan beberapa Peraturan Perundangan yang terkait dengan kebijakan energi nasional secara umum maupun yang terkait dengan Waste to Energy

2. Sebutkan sumber pembiayaan untuk penyediaan fasilita WtE yang telah tercantumkan dalam PerPres No. 35 tahun 2018.

3. Di beberapa kasus, pembangkitan listrik dari fasilitas di Indonesia saat ini masih relatif kecil, yaitu masih dibawah 20 MW. Berapakah harga jual listrik ke PLN (cent USD/kwh) untuk kapasitas dibawah 20 MW tersebut.

G Rangkuman

Untuk mengurangi ketergantungan pada fossil fuel, Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber energi terbarukan yang jumlahnya sangat berlimpah, diantaranya dari sampah. Berbagai macam kebijakan baik terkait dengan energi secara umum maupun yang spesifik untuk energi yang berasal dari sampah telah dibuat oleh pemerintah dengan harapan semakin banyak fasilitas WtE yang akan terbangun di masa mendatang.

H Daftar Pustaka

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional Undang-Undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi

Peraturan Presiden No. 35 tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan

BAB 5 KEBIJAKAN PENGENDALIAN

Dokumen terkait