• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Dalam dokumen PENGENDALIAN HEPATITIS (Halaman 21-25)

A. Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Virus

Pencegahan dan pengendalian hepatitis dilaksanakan secara terintegrasi dan sinergis dengan kebijakan Kementerian Kesehatan RI, meliputi: 1) upaya promotif dan preventif tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif; 2) partisipasi dan pemberdayaan masyarakat; 3) kemitraan dan jejaring kerja;

4) penguatan peran pemerintah daerah; 5) pendekatan berjenjang; dan 6) dukungan ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai dengan kendali mutu.

B. Tujuan

Tujuan Umum:

1. Mengeliminasi Hepatitis B dan Hepatitis C hingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada akhir tahun 2030 untuk Hepatitis B dan akhir tahun 2040 untuk Hepatitis C.

2. Menurunkan kejadian infeksi Hepatitis B dari ibu ke anak mulai tahun 2022.

Tujuan Khusus

1. Menurunkan prevalensi Hepatitis B dan Hepatitis C.

2. Menurunkan insiden Hepatitis B terutama pada anak berusia 1-4 tahun.

3. Menurunkan kematian akibat Hepatitis C.

4. Meningkatkan kualitas hidup penderita Hepatitis B dan Hepatitis C.

C. Sasaran

Sasaran Umum:

1. Melakukan advokasi, sosialisasi, dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan hepatitis virus, menghindari perilaku berisiko, dan meningkatkan perilaku pencarian pengobatan yang cepat dan tepat, termasuk bagi orang yang terinfeksi Hepatitis B dan atau Hepatitis C yang belum masuk indikasi pengobatan untuk melakukan

pemeriksaan laboratorium berkala.

2. Meningkatkan kapasitas petugas mengenai program P2 Hepatitis meliputi kegiatan manajemen program dan penatalaksanaan kasus, mulai dari penegakan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, sampai pengobatan.

3. Membangun sistem surveilans Hepatitis, yang terdiri dari surveilans pasif dengan data rutin, dan surveilans aktif melalui surveilans sentinel dan surveilans khusus.

4. Kerjasama lintas program dan lintas sektor.

5. Memastikan ketersediaan obat, vaksin, dan alat diagnostik yang bermutu dan terjangkau untuk Hepatitis B dan Hepatitis C.

6. Menurunkan insiden Hepatitis B penduduk dari 1,98% per 100.000 pada tahun 2018 menjadi 1,09% per 100.000 penduduk pada tahun 2024 (penurunan sebesar 54,9%).

Sasaran Khusus:

Untuk Hepatitis B:

1. Meningkatkan jumlah layanan deteksi dini hepatitis B di FKTP

2. Melaksanakan deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil di 100% kabupaten/kota 3. Melaksanakan deteksi dini hepatitis B pada minimal 95% ibu hamil

4. Pemberian HB0 dan HBIg dalam waktu 24 jam pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif 5. Pemeriksaan HBsAg pada bayi usia 9-12 bulan dari ibu Hepatitis B sebesar 100%

Untuk Hepatitis C:

1. Meningkatkan deteksi dini Hepatitis C pada populasi berisiko

2. Meningkatkan jumlah layanan yang mampu melaksanakan pemeriksaan laboratorium Hepatitis C sampai HCV RNA.

3. Meningkatkan akses layanan pengobatan Hepatitis C dengan obat Direct Acting Antivirals (DAAs) di 34 provinsi

4. Meningkatkan angka kesembuhan Hepatitis C > 95% melalui peningkatan:

a. Jumlah yang diterapi Hepatitis C dengan DAAs b. Jumlah yang selesai pengobatan Hepatitis C

c. Jumlah yang dites HCV RNA Sustained Virologic Response 12 minggu setelah terapi DAAs selesai (SVR12)

d. Jumlah yang dites HCV RNA tidak terdeteksi

D. Strategi

Strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan di atas mengacu pada arahan strategis global

• Perencanaan program berdasarkan informasi (data)

Program perlu direncanakan berdasarkan data yang diperoleh melalui sistem informasi strategis yang terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu surveilans dan monitoring dan evaluasi.

Data yang diperoleh melalui dua kegiatan ini ditelaah dalam perencanaan program, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota, untuk mengidentifikasi kebutuhan, merancang respons berdampak tinggi, mengalokasikan sumber daya secara efektif, memandu pelaksanaan, dan memperkuat akuntabilitas.

• Intervensi yang berdampak

Intervensi untuk hepatitis virus merupakan bagian dari paket intervensi esensial yang berdampak tinggi, selain intervensi pada HIV dan IMS. Pembiayaan program eliminasi hepatitis diperkirakan akan menambah sekitar 1,5% dari total paket cakupan kesehatan universal. Namun, penambahan investasi ini berpotensi menurunkan mortalitas sebesar 5%

dan menghasilkan penambahan healthy-life years (HLY)1† sebesar 9,6%.27,28

Intervensi yang berdampak untuk hepatitis virus mencakup layanan apa yang dibutuhkan sepanjang upaya pencegahan, diagnosis, serta pengobatan, perawatan, dan dukungan yang berkesinambungan. Secara konkret, intervensi yang akan dilakukan pada tahun 2020-2024 bersama lintas sektor adalah sebagai berikut:

a. Pencegahan:

1) Peningkatan pengetahuan melalui sosialisasi hepatitis virus untuk mencegah penularan, meningkatkan perilaku pencarian pengobatan yang cepat dan tepat, serta mengurangi stigma dan diskriminasi bagi kelompok berisiko tinggi maupun orang yang hidup dengan hepatitis.

2) Intervensi perubahan perilaku bagi kelompok berisiko tinggi

3) Keamanan darah donor dari penyakit yang menular melalui darah, termasuk Hepatitis B dan Hepatitis C

4) Akses paket layanan komprehensif harm reduction bagi pengguna napza suntik

1 Healthy-life years (HLY) merupakan indikator yang didefinisikan sebagai jumlah tahun seseorang diharapkan tetap hidup dalam kondisi sehat. Indikator ini diukur secara terpisah untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan prevalensi spesifik usia (proporsi) dari populasi dalam kondisi sehat dan tidak sehat, dan informasi mortalitas spesifik usia. Batasan kondisi sehat adalah tidak adanya keterbatasan dalam berfungsi/cacat. HLY juga disebut disability-free life expectancy (DFLE).

sektor untuk Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) dan Deteksi Dini Hepatitis C (DDHC)

3) Manajemen laboratorium untuk penapisan dan rujukan diagnosis Hepatitis B dan Hepatitis C

c. Pengobatan, perawatan, dan dukungan:

1) Pembangunan jejaring rujukan antara layanan tes di FKTP dan layanan pengobatan di FKRTL serta layanan-layanan pendukung lainnya

2) Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di rumah sakit, khususnya Dokter Spesialis Penyakit Dalam agar mampu memberikan tatalaksana Hepatitis B dan Hepatitis C.

• Penyediaan layanan yang adil

Adil (equity) adalah prinsip inti dari cakupan kesehatan universal yang berarti bahwa setiap orang mendapatkan layanan yang mereka butuhkan. Batasan penyediaan layanan yang adil adalah paket layanan esensial harus tersedia bagi semua orang, terlepas dari keadaan sosioekonomi dan posisi geografis mereka, dengan kualitas yang memadai. Secara konkret, arahan strategis ini akan diwujudkan pada tahun 2020-2024 sebagai berikut:

a. Layanan pengobatan yang berkualitas dan tanpa stigma dan diskriminasi b. Perluasan akses layanan, jejaring rujukan layanan

c. Penjaminan ketersediaan komoditas vaksin, HBIg, reagen, bahan habis pakai, dan obat

d. Perluasan layanan DDHB dan layanan Hepatitis C dengan direct-acting antiviral (DAA) e. Peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan sesuai Pedoman Nasional Praktik

Kedokteran (PNPK) dan Panduan Manajemen Program

f. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk penyediaan layanan berkualitas tanpa stigma dan diskriminasi

• Pembiayaan program yang berkelanjutan

Secara global, pembiayaan program P2 Hepatitis kurang mendapat anggaran yang cukup untuk mencapai target program. Laporan Kemajuan Global di Sektor Kesehatan WHO tahun 2019 memperkirakan dibutuhkan penambahan 6 milyar USD setiap tahunnya untuk mencapai target SDGs 3.3.4 pada tahun 2030, apabila hanya tersedia dana sebesar 0,5 milyar USD di tahun 2016.26 Untuk mengatasi tantangan pembiayaan yang terbatas dibutuhkan kerjasama lintas sektor untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menerima layanan yang dibutuhkan tanpa menimbulkan kesulitan keuangan. Secara konkret, upaya advokasi dan kemitraan perlu terus dilakukan untuk pembiayaan program hepatitis, selain juga efisiensi pengeluaran melalui kolaborasi dengan program kesehatan lainnya dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, misalnya, dengan mengoptimalkan Anggaran Dana Desa untuk kegiatan-kegiatan pencegahan dan dukungan tes serta pengobatan berbasis masyarakat, dan memasukkan obat Direct Acting Antiviral (DAA) untuk hepatitis C ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional.

• Inovasi untuk percepatan pencapaian target.

Beberapa kegiatan inovatif yang akan dilakukan dalam periode 2020-2024 adalah sebagai berikut:

a. Studi operasional, antara lain mengenai kemampulaksanaan intervensi profilaksis antivirus untuk penguatan pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak selain

implementasi Kepemimpinan, kemitraan, akuntabilitas, monitoring

dan evaluasi

-Strategi Global Sektor Kesehatan 2016-2021:

kerangka kerja bersama untuk P2 HIV, hepatitis virus, dan IMS

Dalam dokumen PENGENDALIAN HEPATITIS (Halaman 21-25)

Dokumen terkait