Kementerian Kesehatan RI
RENCANA AKSI NASIONAL
PENGENDALIAN HEPATITIS
2020-2024
Indr
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 616.362 3
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal r Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Rencana aksi nasional pengendalian hepatitis
tahun 2020-2024.—
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
2020
ISBN 978-623-301-112-9
1. Judul I. HEPATITIS
II. PREVENTIVE MEDICINE III. GOVERNMENT PROGRAMS
Kementerian Kesehatan RI
RENCANA AKSI NASIONAL
PENGENDALIAN HEPATITIS
2020-2024
Indr
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan telah diterbitkannnya Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Tahun 2020-2024. Proses penyusunan RAN Hepatitis ini melibatkan para ahli hepatitis, akademisi, lintas program, dan lintas sektor. RAN Hepatitis ini berfokus pada eliminasi Hepatitis B dan Hepatitis C, menuju eliminasi penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada tahun 2022, eliminasi Hepatitis B pada tahun 2030, dan Hepatitis C pada tahun 2040.
RAN Hepatitis ini merupakan acuan dalam menyusun kegiatan dan menghitung kebutuhan anggaran program agar seluruh kegiatan terarah dalam mencapai tujuan program pencegahan dan pengendalian (P2) Hepatitis yang tercantum baik dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024 dan RPJMN 2020-2024. Selain itu, pencapaian nasional target program P2 Hepatitis juga akan menyumbang pada pencapaian target global pembangunan sektor kesehatan (SDGs 3.3), “akhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit-penyakit tropis yang terabaikan, serta perangi hepatitis, penyakit bersumber air tercemar dan penyakit menular lainnya.”
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak terlibat yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran dalam menyusun RAN Hepatitis Tahun 2020-2024 ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi semua usaha kita dalam pengendalian hepatitis dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jakarta, 28 Desember 2020 Plt. Direktur Jendral P2P,
dr. H. Muhammad Budi Hidayat, M.Kes.
NIP 19711003200501100
Tim Penyusun
Pelindung : dr. H. Muhammad Budi Hidayat, M. Kes
Pengarah : dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid (Direktur P2PML, Ditjen P2P) Penanggung Jawab : dr. Regina Tiolina Sidjabat, M.Epid (Kasubdit Hepatitis dan PISP) Kontributor :
1. Prof. dr. David Handojo Muljono, Ph.D, Sp.PD, FINASIM, FAASLD (Ketua Komli Hepatitis dan PISP/Lembaga Biomolekular Eijkman)
2. Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD, KGEH, FINASIM (Ketua Divisi Hepatobilier RSCM- FK UI)
3. Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD, KGEH, FINASIM (Ketua PB PPHI/RSCM-FK UI) 4. Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD-KGEH, FINASIM (Sekjen PB PPHI/RSCM-FK UI) 5. Prof. Dr. dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K) (PDAI/RSCM-FK UI)
6. dr. Lianda Siregar, Sp. PD-KGEH (PPHI)
7. Dr. dr. Maisuri Tadjuddin Chalid, Sp.OG (K) (POGI) 8. Dr. dr. M. Alamsyah Aziz, Sp.OG(K), KIC, M.Kes (POGI) 9. Dr. drg. Mardiati Nadjib, MS (FKM UI)
10. drg. Antony Azarsyah, MKM (Kepala Seksi PISP)
11. Ananta Rahayu, SKM, MKM (Subdit Hepatitis dan PISP) 12. Kristina Sitorus, SKM, MKM (Subdit Hepatitis dan PISP) 13. Yusmariami, SKM (Subdit Hepatitis dan PISP)
14. Victoria Indrawati, SKM, MSc (Subdit Hepatitis dan PISP) 15. Devi Suhailin, SKM, M.Epid (Subdit Hepatitis dan PISP) 16. dr. Ira, M.Epid (Subdit Hepatitis dan PISP)
17. Titik Suwarti, SKM (Subdit Hepatitis dan PISP) 18. dr. Nur Indah Sri Lestari (Subdit Hepatitis dan PISP) 19. Yulistin Ismayati, SKM, M.Kes (Subdit Hepatitis dan PISP) 20. Shinta Devita Astiti, SKM, M.Epid (Subdit Hepatitis dan PISP) 21. Priscillia Anastasia, MS (WHO Indonesia/konsultan)
22. Resita Dyah Purnama Suci, SKM (WHO Indonesia/konsultan) Editor :
1. dr. Indri Oktaria Sukmaputri, MPH (Kepala Seksi Hepatitis) 2. Lasmaria Marpaung, SKM, M.Kes (Subdit Hepatitis dan PISP)
Sekretariat :
Kata Pengantar ...i
Tim Penyusun ...ii
Daftar Isi ...iii
Daftar Singkatan ...v
BAB I. PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang ...1
B. Beban Hepatitis Virus di Dunia dan Indonesia ...1
C. Situasi Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Virus di Indonesia ...5
D. Isu Strategis ...8
E. Dasar Hukum ...8
F. Ruang Lingkup ...10
BAB II. KEBIJAKAN DAN STRATEGI ...11
A. Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Virus ...11
B. Tujuan ...11
C. Sasaran ...11
D. Strategi ...12
BAB III. UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HEPATITIS TAHUN 2020-2024 ....17
A. Advokasi, Sosialisasi, Promosi Kesehatan, dan Pemberdayaan Masyarakat...19
B. Perlindungan Khusus ...21
C. Deteksi Dini Hepatitis B dan Hepatitis C ...24
D. Pengobatan Kasus ...25
E. Tata Kelola Logistik Program ...26
F. Bimbingan Teknis ...27
G. Perencanaan dan Penganggaran ...27
Daftar Isi
BAB IV. INDIKATOR, TARGET, DAN PEMBIAYAAN PROGRAM ...31
A. Indikator dan Target Program P2 Hepatitis B ...31
B. Indikator dan Target Program P2 Hepatitis C ...34
C. Pembiayaan Program P2 Hepatitis ...37
BAB V. SISTEM INFORMASI ...39
BAB VI. PENUTUP ...42
Daftar Pustaka ...43
Lampiran 1. Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.03/III/9204/2020 tentang Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis B dan Hepatitis C Dalam Era New Normal ...46
Lampiran 2. Indikator, Target, dan Definisi Operasional Indikator ...50
Lampiran 3. Pembiayaan ...66
Daftar Singkatan
AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome anti-HBs : antibodi terhadap Hepatitis B Surface antigen anti-HCV : antibodi terhadap Hepatitis C Virus
anti-HDV : antibodi terhadap Hepatitis D Virus APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APD : Alat Pelindung Diri
BOK : Bantuan Operasional Kesehatan BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial DAA : Direct Acting Antiviral
DAK : Dana Alokasi Khusus DDHB : Deteksi Dini Hepatitis B DDHC : Deteksi Dini Hepatitis C
FKRTL : Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut FKTP : Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Harm Reduction : Pengurangan Dampak Buruk
HB0 : Vaksinasi Hepatitis B Hari Ke-0 (<24 Jam Setelah Kelahiran) HBIg : Hepatitis B Immunoglobulin
HBsAg : Hepatitis B Surface Antigen
HBV DNA : Hepatitis B Virus Deoxyribo Nucleic Acid HCV RNA : Hepatitis C Virus Ribo Nucleic Acid HDV RNA : Hepatitis D Virus Ribo Nucleic Acid HIV : Human Immunodeficiency Virus HLY : Healthy-Life Years
IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia IgG : Immunoglobulin Gamma
IMLTD : Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah IMS : Infeksi Menular Seksual
INA-CBGs : Indonesia Case Base Groups JKN : Jaminan Kesehatan Nasional Kemenkes : Kementerian Kesehatan KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KIE : Komunikasi, Informasi dan Edukasi LASS : Layanan Alat Suntik Steril
LSL : Laki-laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
Nakes : Tenaga Kesehatan
NSPK : Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria ODHA : Orang dengan HIV-AIDS
P2 Hepatitis : Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis
P2PML : Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung PAPDI : Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia PBM : Praktek Bidan Mandiri
Penasun : Pengguna Napza Suntik
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat PIMS : Penyakit Infeksi Menular Seksual PISP : Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan PKPR : Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja PMI : Palang Merah Indonesia
PNPK : Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran PPHI : Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia PPIA : Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak PPM : Public-Private Mix
PTRM : Program Terapi Rumatan Metadon Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RAB : Rencana Anggaran Biaya RAD : Rencana Aksi Daerah RAN : Rencana Aksi Nasional Renstra : Rencana Strategis
RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RS : Rumah Sakit
SDGs : Sustainable Development Goals SDM : Sumber Daya Manusia
SIHEPI : Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan SIMAK-BMN : Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara SIRS : Sistem Informasi Rumah Sakit
SKK : Surveilas dan Karantina Kesehatan STP : Surveilans Terpadu Penyakit
Subdit HPISP : Sub Direktorat Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan SVR12 : Sustained Virologic Response 12 minggu setelah terapi selesai TCM : Tes Cepat Molekuler
TDF : Tenofovir Disoproxil Fumarate UTD : Unit Transfusi Darah
VHB : Virus Hepatitis B VHC : Virus Hepatitis C
WBP : Warga Binaan Pemasyarakatan WHA : World Health Assembly
WHO : World Health Organization
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hepatitis virus merupakan tantangan kesehatan masyarakat global, sebanding dengan penyakit menular penting lainnya, antara lain HIV, tuberkulosis, dan malaria. Hepatitis virus memberikan beban signifikan pada seluruh masyarakat di seluruh dunia, namun hepatitis sering diabaikan sebagai prioritas kesehatan dan pembangunan hingga lahir Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals -- SDGs) yang harus dicapai oleh setiap di negara pada tahun 2030. Secara spesifik, SDGs Target 3.3. menyebutkan: “Pada 2030, akhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit-penyakit tropis yang terabaikan, serta perangi hepatitis, penyakit bersumber air tercemar (water-borne) dan penyakit menular lainnya.”1
Indonesia berkomitmen kuat untuk melaksanakan SDGs karenanya tujuan pembangunan global dan tujuan pembangunan nasional saling menguatkan. Dalam Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, Presiden menetapkan 5 (lima) arahan utama sebagai strategi dalam pelaksanaan misi Nawacita dan pencapaian sasaran Visi Indonesia 2045 “Indonesia Maju”. SDGs Target 3.3. tercermin dalam arahan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing.2
Penjabaran pembangunan SDM dari aspek kesehatan tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2020- 2024. Renstra Kemenkes 2020-2024 menetapkan, antara lain, sasaran kegiatan beserta indikator pencapaian sasaran yang pada akhirnya berkontribusi pada misi peningkatan SDM Indonesia yang berkualitas.3 Pencapaian sasaran program pencegahan dan pengendalian hepatitis yang disasar dalam Renstra Kemenkes 2020-2024 membutuhkan sebuah Rencana Aksi Nasional (RAN) sebagai acuan arah kegiatan dan penganggaran program sepanjang kurun waktu 2020-2024.
B. Beban Hepatitis Virus di Dunia dan Indonesia
Hepatitis virus diperkirakan menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun di dunia akibat infeksi akut dan kanker hati terkait hepatitis dan sirosis. Jumlah ini sebanding dengan kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis dan lebih tinggi daripada yang disebabkan oleh HIV. Namun, jumlah kematian akibat hepatitis virus terus meningkat, sedangkan kematian akibat tuberkulosis dan HIV terus menurun (Gambar 1). Dari kematian tersebut, sekitar 47% disebabkan virus hepatitis B, 48% virus hepatitis C dan sisanya virus hepatitis A dan virus hepatitis E. Hepatitis virus juga merupakan penyebab kematian yang terus meningkat di antara orang yang hidup dengan HIV. Sekitar 2,9 juta orang yang hidup
dengan HIV memiliki koinfeksi dengan virus hepatitis C dan 2,6 juta dengan virus hepatitis B.1 Secara global, pada tahun 2015 diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi virus hepatitis B (VHB) kronis, dan 71 juta orang dengan infeksi virus hepatitis C (VHC) kronis.4
Di Asia Tenggara, WHO memperkirakan ada sekitar 39,4 juta (28,8 –76,5 juta) orang yang hidup dengan hepatitis B kronis dan 10,3 juta (8,0–17,8 juta) orang yang hidup dengan hepatitis C kronis.
Setiap tahunnya, di Asia Tenggara, hepatitis virus menyumbang sekitar 410.000 kematian dengan 78% dari total kematian berkaitan dengan kanker hati dan sirosis karena hepatitis B dan C.5 Secara khusus untuk Hepatitis B, Indonesia merupakan salah satu negara di wilayah Asia Tenggara dengan angka prevalensi tertinggi sehingga dibutuhkan perhatian dan komitmen seluruh penentu kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah untuk program P2 Hepatitis.komitmen seluruh penentu kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah untuk program P2 5
Hepatitis.5
Gambar 1. Estimasi Global Jumlah Kematian Akibat Hepatitis Virus, HIV, Malaria, dan Tuberkulosis, 2000-20151
Di Indonesia sendiri, Hepatitis virus B dan Hepatitis virus C merupakan penyebab sebagian besar penyakit hepatitis, sirosis, dan kematian terkait penyakit hati. Pada Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis (P2 Hepatitis), besaran masalah Hepatitis virus B diukur dengan pemeriksaan antigen permukaan virus Hepatitis B atau "Hepatitis B surface Antigen" (HBsAg).
Untuk besaran masalah Hepatitis virus C, diukur dengan pemeriksaan antibodi terhadap virus Hepatitis C atau "anti-HCV".
Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi Hepatitis B (HBsAg) secara umum sebesar 7,1%
pada penduduk Indonesia (Gambar 2).6 Angka prevalensi meningkat pada kelompok usia di atas 5 tahun, karena adanya transmisi horizontal melalui kontak darah dan/atau hubungan seksual berisiko. Selain itu, prevalensi HBsAg pada ibu hamil juga masih cukup tinggi yang berkisar antara 1,82% sampai 2,46% (Gambar 3).6,7
Gambar 1. Estimasi Global Jumlah Kematian Akibat Hepatitis Virus, HIV, Malaria, dan Tuberkulosis, 2000-20151
Di Indonesia sendiri, Hepatitis virus B dan Hepatitis virus C merupakan penyebab sebagian besar penyakit hepatitis, sirosis, dan kematian terkait penyakit hati. Pada Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis (P2 Hepatitis), besaran masalah Hepatitis virus B diukur dengan pemeriksaan antigen permukaan virus Hepatitis B atau “Hepatitis B surface Antigen” (HBsAg). Untuk besaran masalah Hepatitis virus C, diukur dengan pemeriksaan antibodi terhadap virus Hepatitis C atau “anti- HCV”.
Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi Hepatitis B (HBsAg) secara umum sebesar 7,1% pada penduduk Indonesia (Gambar 2).6 Angka prevalensi meningkat pada kelompok usia di atas 5 tahun, karena adanya transmisi horizontal melalui kontak darah dan/atau hubungan seksual berisiko. Selain itu, prevalensi HBsAg pada ibu hamil juga masih cukup tinggi yang berkisar antara 1,82% sampai 2,46% (Gambar 3).6,7
10
Gambar 2. Sebaran Prevalensi HBsAg Menurut Kelompok Umur di Indonesia, 20136
Gambar 3. Jumlah Ibu Hamil Tes DDHB dan Reaktif HBsAg, 20197
Untuk Hepatitis C, prevalensi umum anti-HCV sebesar 1% (Gambar 4). Berdasarkan data pengobatan yang tersedia, sebaran Hepatitis C terkonsentrasi pada beberapa kelompok populasi, antara lain (1) pengguna napza suntik 13,8%-31,1%; (2) pasien hemodialisis 3,7%- 18,6%; dan (3) penerima transfusi darah 4,5-11%.6,8
4,2%
7,1% 6,8%
4,2%
5,7%
6,7% 6,8% 6,9%
8,3%
7,6%
8,1%
7,2% 7,1%
0%
2%
4%
6%
8%
10%
1-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-59 ≥60 Indonesia
Prevalensi HBsAg
32.974 184.000
585.430
1.643.204
2.576.980
725 4.526 12.946 30.965 46.944
- 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000
2015 2016 2017 2018 2019
Jumlah Ibu Hamil
Ibu Hamil Tes DDHB Ibu Hamil Reaktif HBsAg
Gambar 2. Sebaran Prevalensi HBsAg Menurut Kelompok Umur di Indonesia, 20136
Gambar 2. Sebaran Prevalensi HBsAg Menurut Kelompok Umur di Indonesia, 20136
Gambar 3. Jumlah Ibu Hamil Tes DDHB dan Reaktif HBsAg, 20197
Untuk Hepatitis C, prevalensi umum anti-HCV sebesar 1% (Gambar 4). Berdasarkan data pengobatan yang tersedia, sebaran Hepatitis C terkonsentrasi pada beberapa kelompok populasi, antara lain (1) pengguna napza suntik 13,8%-31,1%; (2) pasien hemodialisis 3,7%- 18,6%; dan (3) penerima transfusi darah 4,5-11%.6,8
4,2%
7,1% 6,8%
4,2%
5,7%
6,7% 6,8% 6,9%
8,3%
7,6%
8,1%
7,2% 7,1%
0%
2%
4%
6%
8%
10%
1-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-59 ≥60 Indonesia
Prevalensi HBsAg
32.974 184.000
585.430
1.643.204
2.576.980
725 4.526 12.946 30.965 46.944
- 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000
2015 2016 2017 2018 2019
Jumlah Ibu Hamil
Ibu Hamil Tes DDHB Ibu Hamil Reaktif HBsAg
Gambar 3. Jumlah Ibu Hamil Tes DDHB dan Reaktif HBsAg, 20197
Untuk Hepatitis C, prevalensi umum anti-HCV sebesar 1% (Gambar 4). Berdasarkan data pengobatan yang tersedia, sebaran Hepatitis C terkonsentrasi pada beberapa kelompok populasi, antara lain (1) pengguna napza suntik 13,8%-31,1%; (2) pasien hemodialisis 3,7%-18,6%; dan (3) penerima transfusi darah 4,5-11%.6,8
Gambar 4. Sebaran Prevalensi Anti-HCV Menurut Kelompok Umur di Indonesia, 20136
Selain infeksi tunggal (monoinfeksi), baik Hepatitis B maupun Hepatitis C juga dapat berupa ko-infeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sepanjang tahun 2017-2019, ko- infeksi Hepatitis C dan HIV 16,4%-33,6%.8 Angka ko-infeksi Hepatitis B dan HIV di Indonesia belum dimiliki, namun menurut beberapa studi yang mempelajari ko-infeksi Hepatitis B dan HIV di negara-negara Asia (termasuk Indonesia), ko-infeksi Hepatitis B dan HIV sekitar 10%.9,10,11,12
Sirosis hati akibat hepatitis merupakan salah satu dari 8 penyakit berbiaya tinggi dan memiliki komplikasi yang mengancam nyawa (penyakit katatrofik) yang menjadi fokus penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).13 Secara keseluruhan, biaya pertanggungan BPJS Kesehatan selama 2014-2016 untuk infeksi Hepatitis B berjumlah 151 milyar rupiah, dan 43 milyar rupiah untuk infeksi Hepatitis C. Angka ini mencakup biaya perawatan sekitar 141.440 kasus Hepatitis B kronis dan 29.279 kasus Hepatitis C kronis, termasuk obat antihepatitis yang ditanggung BPJS.14 Dengan demikian, peningkatan upaya promotif dan preventif dalam Program P2 Hepatitis dapat berkontribusi signifikan pada efisiensi sumber daya finansial.
Dampak COVID-19 pada Program P2 Hepatitis
Pandemi COVID-19 yang merebak di kuartal pertama tahun 2020 memberikan dampak signifikan pada orang yang hidup dengan hepatitis. Beberapa studi mengesankan bahwa, selain hari rawat inap yang lebih lama, risiko mortalitas akibat COVID-19 lebih tinggi pada pasien dengan riwayat penyakit hati kronik, khususnya yang sudah memasuki tahap sirosis.15,16,17,18,19 Di Indonesia, cakupan deteksi dini Hepatitis B maupun Hepatitis C pada bulan Januari-April 2020 secara umum hanya separuh dari cakupan pada periode yang sama di tahun 2019 sebagai berikut:20,21
1. Baik jumlah kabupaten/kota maupun jumlah ibu hamil yang menjalani Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) mengalami penurunan masing-masing sebesar 43% dan 47%
(Gambar 5).
2. Baik jumlah fasyankes yang melaporkan Deteksi Dini Hepatitis C (DDHC) maupun jumlah tes anti-HCV mengalami penurunan masing-masing sebesar 61% dan 51%
(Gambar 6).
0,5% 0,4%
0,7%
0,5% 0,6% 0,6% 0,6%
0,9% 1,0%
0,9%
1,5%
2,0%
1,0%
0,0%
0,5%
1,0%
1,5%
2,0%
2,5%
1-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-59 ≥60 Indonesia
Prevalensi Anti-HCV
Gambar 4. Sebaran Prevalensi Anti-HCV Menurut Kelompok Umur di Indonesia, 20136
Selain infeksi tunggal (monoinfeksi), baik Hepatitis B maupun Hepatitis C juga dapat berupa ko-infeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sepanjang tahun 2017-2019, ko-infeksi Hepatitis C dan HIV 16,4%-33,6%.8 Angka ko-infeksi Hepatitis B dan HIV di Indonesia belum dimiliki, namun menurut beberapa studi yang mempelajari ko-infeksi Hepatitis B dan HIV di negara-negara Asia (termasuk Indonesia), ko-infeksi Hepatitis B dan HIV sekitar 10%.9,10,11,12
Sirosis hati akibat hepatitis merupakan salah satu dari 8 penyakit berbiaya tinggi dan memiliki komplikasi yang mengancam nyawa (penyakit katatrofik) yang menjadi fokus penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).13 Secara keseluruhan, biaya pertanggungan BPJS Kesehatan selama 2014-2016 untuk infeksi Hepatitis B berjumlah 151 milyar rupiah, dan 43 milyar rupiah untuk infeksi Hepatitis C. Angka ini mencakup biaya perawatan sekitar 141.440 kasus Hepatitis B kronis dan 29.279 kasus Hepatitis C kronis, termasuk obat antihepatitis yang ditanggung BPJS.14 Dengan demikian, peningkatan upaya promotif dan preventif dalam Program P2 Hepatitis dapat berkontribusi signifikan pada efisiensi sumber daya finansial.
Dampak COVID-19 pada Program P2 Hepatitis
Pandemi COVID-19 yang merebak di kuartal pertama tahun 2020 memberikan dampak signifikan pada orang yang hidup dengan hepatitis. Beberapa studi mengesankan bahwa, selain hari rawat inap yang lebih lama, risiko mortalitas akibat COVID-19 lebih tinggi pada pasien dengan riwayat penyakit hati kronik, khususnya yang sudah memasuki tahap sirosis.15,16,17,18,19
Di Indonesia, cakupan deteksi dini Hepatitis B maupun Hepatitis C pada bulan Januari-April 2020 secara umum hanya separuh dari cakupan pada periode yang sama di tahun 2019 sebagai berikut:20,21
1. Baik jumlah kabupaten/kota maupun jumlah ibu hamil yang menjalani Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) mengalami penurunan masing-masing sebesar 43% dan 47% (Gambar 5).
Gambar 5. Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Ibu Hamil Diagnosis Dini Hepatitis B (DDHB), Januari-April 2019 vs. Januari-April 202020
Gambar 6. Jumlah Fasyankes dan Jumlah Tes Diagnosis Dini Hepatitis C (DDHC), Januari-April 2019 vs. Januari- April 202021
CC.. SSiittuuaassii PPeenncceeggaahhaann ddaann PPeennggeennddaalliiaann HHeeppaattiittiiss VViirruuss ddii IInnddoonneessiiaa
Dengan diketahuinya besaran masalah hepatitis secara global, regional, dan nasional, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, maka pada tanggal 20 Mei 2010, World Health Assembly (WHA) dalam sidangnya yang ke-63 di Jenewa telah menyetujui mengadopsi resolusi WHA No. 63.18 tentang Penanggulangan Hepatitis, yang menyerukan kepada semua negara di dunia untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hepatitis. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization -- WHO) akan menyediakan bantuan bagi negara berkembang dalam pengembangan strategi nasional, informasi strategis, vaksin, dan pengobatan yang efektif. Resolusi WHA ini kemudian diperkuat lagi dengan resolusi WHA nomor 67.6 tanggal 23 Mei 2014 tentang perlunya "aksi konkret" dalam pengendalian hepatitis.
Dasar hukum Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis (P2 Hepatitis) di Indonesia adalah: 1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus; dan 2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak yang bertujuan mengeliminasi penularan Hepatitis B dari ibu ke bayi pada tahun 2022, serta terwujudnya generasi bebas Hepatitis B pada tahun 2030.
Berdasarkan analisis beban penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C, dan kedua dasar hukum tersebut, pencegahan dan pengendalian hepatitis virus di Indonesia dilakukan melalui beberapa upaya di bawah ini:
363 364 368 368
276 263
214
85
0 100 200 300 400
Jan Feb Mar Apr
Jumlah kabupaten/kota DDHB
2019 2020
207.668 207.035 223.664
205.334 158.733
147.672
106.140
34.100
0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000
Jan Feb Mar Apr
Jumlah ibu hamil DDHB
2019 2020
15.990 15.165 15.954
14.530
10.803 10.105
7.651
1.515
0 5.000 10.000 15.000 20.000
Jan Feb Mar Apr
Jumlah tes anti-HCV
2019 2020
239
145 142 157
91 71 61
41
0 100 200 300
Jan Feb Mar Apr
Jumlah fasyankes DDHC
2019 2020
Gambar 5. Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Ibu Hamil Diagnosis Dini Hepatitis B (DDHB), Januari-April 2019 vs. Januari-April 202020
Gambar 5. Jumlah Kabupaten/Kota dan Jumlah Ibu Hamil Diagnosis Dini Hepatitis B (DDHB), Januari-April 2019 vs. Januari-April 202020
Gambar 6. Jumlah Fasyankes dan Jumlah Tes Diagnosis Dini Hepatitis C (DDHC), Januari-April 2019 vs. Januari- April 202021
CC.. SSiittuuaassii PPeenncceeggaahhaann ddaann PPeennggeennddaalliiaann HHeeppaattiittiiss VViirruuss ddii IInnddoonneessiiaa
Dengan diketahuinya besaran masalah hepatitis secara global, regional, dan nasional, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, maka pada tanggal 20 Mei 2010, World Health Assembly (WHA) dalam sidangnya yang ke-63 di Jenewa telah menyetujui mengadopsi resolusi WHA No. 63.18 tentang Penanggulangan Hepatitis, yang menyerukan kepada semua negara di dunia untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hepatitis. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization -- WHO) akan menyediakan bantuan bagi negara berkembang dalam pengembangan strategi nasional, informasi strategis, vaksin, dan pengobatan yang efektif. Resolusi WHA ini kemudian diperkuat lagi dengan resolusi WHA nomor 67.6 tanggal 23 Mei 2014 tentang perlunya "aksi konkret" dalam pengendalian hepatitis.
Dasar hukum Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis (P2 Hepatitis) di Indonesia adalah: 1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus; dan 2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak yang bertujuan mengeliminasi penularan Hepatitis B dari ibu ke bayi pada tahun 2022, serta terwujudnya generasi bebas Hepatitis B pada tahun 2030.
Berdasarkan analisis beban penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C, dan kedua dasar hukum tersebut, pencegahan dan pengendalian hepatitis virus di Indonesia dilakukan melalui beberapa
363 364 368 368
276 263
214
85
0 100 200 300 400
Jan Feb Mar Apr
Jumlah kabupaten/kota DDHB
2019 2020
207.668 207.035 223.664
205.334 158.733
147.672
106.140
34.100
0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000
Jan Feb Mar Apr
Jumlah ibu hamil DDHB
2019 2020
15.990 15.165 15.954
14.530
10.803 10.105
7.651
1.515
0 5.000 10.000 15.000 20.000
Jan Feb Mar Apr
Jumlah tes anti-HCV
2019 2020
239
145 142 157
91 71 61
41
0 100 200 300
Jan Feb Mar Apr
Jumlah fasyankes DDHC
2019 2020
Gambar 6. Jumlah Fasyankes dan Jumlah Tes Diagnosis Dini Hepatitis C (DDHC), Januari-April 2019 vs.
Januari-April 202021
C. Situasi Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Virus di Indonesia
Dengan diketahuinya besaran masalah hepatitis secara global, regional, dan nasional, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, maka pada tanggal 20 Mei 2010, World Health Assembly (WHA) dalam sidangnya yang ke-63 di Jenewa telah menyetujui mengadopsi resolusi WHA No. 63.18 tentang Penanggulangan Hepatitis, yang menyerukan kepada semua negara di dunia untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hepatitis. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization -- WHO) akan menyediakan bantuan bagi negara berkembang dalam pengembangan strategi nasional, informasi strategis, vaksin, dan pengobatan yang efektif. Resolusi WHA ini kemudian diperkuat lagi dengan resolusi WHA nomor 67.6 tanggal 23 Mei 2014 tentang perlunya “aksi konkret” dalam pengendalian hepatitis.
Dasar hukum Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis (P2 Hepatitis) di Indonesia adalah: 1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus; dan
2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak yang bertujuan mengeliminasi penularan Hepatitis B dari ibu ke bayi pada tahun 2022, serta terwujudnya generasi bebas Hepatitis B pada tahun 2030.
Berdasarkan analisis beban penyakit Hepatitis B dan Hepatitis C, dan kedua dasar hukum tersebut, pencegahan dan pengendalian hepatitis virus di Indonesia dilakukan melalui beberapa upaya di bawah ini:
1. Deteksi dini Hepatitis B dan Hepatitis C pada populasi berisiko. Persentase capaian jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko tahun 2016-2019 menunjukkan peningkatan dari 6% di tahun 2015 ke 89% di tahun 2019 (Gambar 7). Untuk kelompok ibu hamil, terjadi juga peningkatan jumlah ibu hamil yang menjalani DDHB dari 32.974 orang di tahun 2015 ke 2.576.980 orang di tahun 2019 (Gambar 3).
1. Deteksi dini Hepatitis B dan Hepatitis C pada populasi berisiko. Persentase capaian jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko tahun 2016-2019 menunjukkan peningkatan dari 6% di tahun 2015 ke 89% di tahun 2019 (Gambar 7). Untuk kelompok ibu hamil, terjadi juga peningkatan jumlah ibu hamil yang menjalani DDHB dari 32.974 orang di tahun 2015 ke 2.576.980 orang di tahun 2019 (Gambar 3).
Gambar 7. Capaian jumlah (%) kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko, 2016-20198
2. Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis virus C dan pengobatan sampai sembuh (Gambar 8).
Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis C dilakukan dengan pemeriksaan HCV RNA dilanjutkan dengan evaluasi pra-terapi antivirus pada infeksi Hepatitis kronis. Bagi pasien yang memenuhi syarat pengobatan (eligible), maka terapi antivirus dimulai sampai sembuh yang ditandai dengan tidak terdeteksinya RNA virus Hepatitis C selama 12 minggu pasca terapi (SVR12).22
393.472
17.454 12.889 6.745 5.331 2.798 1.763 1.683
- 100.000 200.000 300.000 400.000
Test Anti HCV Anti HCV
Positif Test HCV RNA HCV RNA Terdeteksi Mulai
Pengobatan Pengobatan
Lengkap Test SVR12 SVR12 (Sembuh)
Jumlah populasi berisiko
5% 10%
30%
60%
80%
6%
17%
34%
70%
89%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2015 2016 2017 2018 2019
Kabupaten/kota DDHB dan atau DDHC
Target Capaian
Gambar 7. Capaian jumlah (%) kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko, 2016-20198
2. Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis virus C dan pengobatan sampai sembuh (Gambar 8).
Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis C dilakukan dengan pemeriksaan HCV RNA dilanjutkan dengan evaluasi pra-terapi antivirus pada infeksi Hepatitis kronis. Bagi pasien yang memenuhi syarat pengobatan (eligible), maka terapi antivirus dimulai sampai sembuh yang ditandai dengan tidak terdeteksinya RNA virus Hepatitis C selama 12 minggu pasca terapi (SVR12).22
Rencana Aksi Nasional
Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis 2020-2024 Kementerian Kesehatan RI
7
13 jumlah ibu hamil yang menjalani DDHB dari 32.974 orang di tahun 2015 ke 2.576.980 orang di tahun 2019 (Gambar 3).
Gambar 7. Capaian jumlah (%) kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko, 2016-20198
2. Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis virus C dan pengobatan sampai sembuh (Gambar 8).
Pemeriksaan konfirmasi Hepatitis C dilakukan dengan pemeriksaan HCV RNA dilanjutkan dengan evaluasi pra-terapi antivirus pada infeksi Hepatitis kronis. Bagi pasien yang memenuhi syarat pengobatan (eligible), maka terapi antivirus dimulai sampai sembuh yang ditandai dengan tidak terdeteksinya RNA virus Hepatitis C selama 12 minggu pasca terapi (SVR12).22
Gambar 8. Kaskade Diagnosis dan Tatalaksana Hepatitis C pada Populasi Berisiko, 2017-20198
393.472
17.454 12.889 6.745 5.331 2.798 1.763 1.683
- 100.000 200.000 300.000 400.000
Test Anti HCV Anti HCV
Positif Test HCV RNA HCV RNA Terdeteksi Mulai
Pengobatan Pengobatan
Lengkap Test SVR12 SVR12 (Sembuh)
Jumlah populasi berisiko
5% 10%
30%
60%
80%
6%
17%
34%
70%
89%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2015 2016 2017 2018 2019
Kabupaten/kota DDHB dan atau DDHC
Target Capaian
Gambar 8. Kaskade Diagnosis dan Tatalaksana Hepatitis C pada Populasi Berisiko, 2017-20198 3. Pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak dengan pemberian HBIG dan vaksin HB0
pada bayi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis B dalam 24 jam pertama (Gambar 9 dan Gambar 10).
3. Pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak dengan pemberian HBIG dan vaksin HB0 pada bayi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis B dalam 24 jam pertama (Gambar 9 dan Gambar 10).
Gambar 9. Kaskade Diagnosis dan Rujukan Tatalaksana Hepatitis B pada Ibu Hamil, 20198
Gambar 10. Kaskade Tatalaksana Bayi yang Lahir dari Ibu dengan Hepatitis B, 20198
4. Pencegahan penularan melalui darah (transmisi horisontal). Subdit HPISP telah memulai kerjasama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Pusat dengan, antara lain, berkolaborasi dalam penyusunan Pedoman Tatalaksana Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) untuk penapisan Hepatitis B dan Hepatitis C pada darah donor dan tindak lanjut rujukan bagi hasil penapisan yang reaktif.23 Hal ini merupakan langkah yang lebih jauh diambil untuk tidak hanya pencegahan infeksi hepatitis pada penerima darah donor dengan menjaga keamanan darah melalui uji saring, namun juga untuk mengobati pedonor yang reaktif.24 Pencegahan penularan pada dan dari kelompok pengguna napza suntik (Penasun) dilakukan melalui program pengurangan dampak buruk pada Penasun (harm reduction), yang salah tujuannya adalah untuk menghentikan beredarnya jarum suntik bekas pakai yang berpotensi menularkan HIV, Hepatitis B dan Hepatitis C.25
5.264.725
2.576.980
46.944 16.271
- 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000
Estimasi Ibu Hamil Ibu Hamil Tes DDHB Ibu Hamil Reaktif HBsAg Ibu Hamil Dirujuk untuk Tatalaksana
Jumlah ibu hamil
28.115
26.241 26.712
3.958 3.920
- 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000
Bayi Lahir dari Ibu
Reaktif HBsAg Bayi Lahir dari Ibu Reaktif HBsAg dan diberi HB0<24 jam
Bayi Lahir dari Ibu Reaktif HBsAg dan diberi HBIg<24 jam
Bayi dari Bumil Hep B dilakukan Tes HBsAg
9-12 bulan
Bayi dengan Hasil Non Reaktif
Jumlah bayi
Gambar 9. Kaskade Diagnosis dan Rujukan Tatalaksana Hepatitis B pada Ibu Hamil, 20198 3. Pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak dengan pemberian HBIG dan vaksin
HB0 pada bayi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis B dalam 24 jam pertama (Gambar 9 dan Gambar 10).
Gambar 9. Kaskade Diagnosis dan Rujukan Tatalaksana Hepatitis B pada Ibu Hamil, 20198
Gambar 10. Kaskade Tatalaksana Bayi yang Lahir dari Ibu dengan Hepatitis B, 20198
4. Pencegahan penularan melalui darah (transmisi horisontal). Subdit HPISP telah memulai kerjasama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Pusat dengan, antara lain, berkolaborasi dalam penyusunan Pedoman Tatalaksana Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) untuk penapisan Hepatitis B dan Hepatitis C pada darah donor dan tindak lanjut rujukan bagi hasil penapisan yang reaktif.23 Hal ini merupakan langkah yang lebih jauh diambil untuk tidak hanya pencegahan infeksi hepatitis pada penerima darah donor dengan menjaga keamanan darah melalui uji saring, namun juga untuk mengobati pedonor yang reaktif.24 Pencegahan penularan pada dan dari kelompok pengguna napza suntik (Penasun) dilakukan melalui program pengurangan dampak buruk pada Penasun
5.264.725
2.576.980
46.944 16.271
- 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000
Estimasi Ibu Hamil Ibu Hamil Tes DDHB Ibu Hamil Reaktif HBsAg Ibu Hamil Dirujuk untuk Tatalaksana
Jumlah ibu hamil
28.115
26.241 26.712
3.958 3.920
- 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000
Bayi Lahir dari Ibu
Reaktif HBsAg Bayi Lahir dari Ibu Reaktif HBsAg dan diberi HB0<24 jam
Bayi Lahir dari Ibu Reaktif HBsAg dan diberi HBIg<24 jam
Bayi dari Bumil Hep B dilakukan Tes HBsAg
9-12 bulan
Bayi dengan Hasil Non Reaktif
Jumlah bayi
Gambar 10. Kaskade Tatalaksana Bayi yang Lahir dari Ibu dengan Hepatitis B, 20198
4. Pencegahan penularan melalui darah (transmisi horisontal). Subdit HPISP telah memulai kerjasama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Pusat dengan, antara lain, berkolaborasi dalam penyusunan Pedoman Tatalaksana Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) untuk penapisan Hepatitis B dan Hepatitis C pada darah donor dan tindak lanjut rujukan bagi hasil penapisan yang reaktif.23 Hal ini merupakan langkah yang lebih jauh diambil untuk tidak hanya pencegahan infeksi hepatitis pada penerima darah donor dengan menjaga keamanan darah melalui uji saring, namun juga untuk mengobati pedonor yang reaktif.24 Pencegahan penularan pada dan dari kelompok pengguna napza suntik (Penasun) dilakukan melalui program pengurangan dampak buruk pada Penasun (harm reduction), yang salah tujuannya adalah untuk menghentikan beredarnya jarum suntik bekas pakai yang berpotensi menularkan HIV, Hepatitis B dan Hepatitis C.25 Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah:
1) pemberian edukasi cara penularan dan cara pencegahan; 2) imunisasi Hepatitis B; dan 3) layanan diagnosis dan terapi Hepatitis B dan Hepatitis C.
5. Pembiayaan diagnosis dan pengobatan Hepatitis B dan Hepatitis C melalui Jaminan Kesehatan Nasional. Perawatan pasien Hepatitis B dan Hepatis C kronis sudah masuk dalam daftar penyakit yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.13,14 Cakupan BPJS Kesehatan meliputi pembiayaan terkait diagnosis dan pengobatan melalui klaim INA-CBGs and klaim tambahan, kecuali untuk pengobatan Hepatitis C dengan DAA. DAA masih merupakan obat program yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan melalui Ditjen Bina Farmasi dan Alat Kesehatan. Selain obat DAA, Kementerian Kesehatan juga membantu penyediaan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) dan reagen (cartridge) viral load HCV RNA untuk penegakan diagnosis Hepatitis C. Tantangan yang ada saat ini adalah pagu INA-CBGs BPJS Kesehatan masih di bawah tarif pemeriksaan HBV DNA dan HCV RNA.
D. Isu Strategis
a. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan hepatitis virus sejak dini, mulai dari pemeriksaan saat hamil, pemberian imunisasi lengkap tepat waktu, menghindari perilaku berisiko dan mencari tempat tes dan pengobatan.
b. Ketersediaan data dan informasi strategis
c. Ketersediaan vaksin, obat dan alat diagnosis yang bermutu dan terjangkau d. Pelayanan kesehatan untuk deteksi dini dan tatalaksana hepatitis yang terstandar.
e. Pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien, termasuk kepatuhan penerapan kewaspadaan standar dan ketersediaan darah yang aman
f. Kerjasama lintas program dan lintas institusi
g. Pemerataan pelayanan Hepatitis B dan Hepatitis C di seluruh wilayah Indonesia
E. Dasar Hukum
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteraan.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
7. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1438 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran.
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial.
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Hepatitis Virus.
14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2015 Tentang Pengurangan Dampak Buruk pada Pengguna Napza Suntik.
15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah.
16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.
17. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak.
19. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal.
20. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024
21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
22. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/322/2019 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis B.
23. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/681/2019 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis C.
24. Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.03/
III/9204/2020 tentang Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis B dan Hepatitis C Dalam Era New Normal.
F. Ruang Lingkup
Peradangan hati atau hepatitis dapat disebabkan oleh infeksi virus (Hepatitis A, B, C, D dan E), bakteri (Salmonella typhosa), parasit (Plasmodium tropica, Entamoeba histolytica, Fasciola hepatica), gangguan autoimun, obat-obatan, perlemakan, alkohol atau zat berbahaya lainnya. Secara umum, penyebab hepatitis dapat digolongkan menjadi dua, yaitu 1) hepatitis akibat virus (hepatitis virus); dan 2) hepatitis akibat selain virus (hepatitis non-virus). Hepatitis akibat virus Hepatitis A, B, C, D, dan E merupakan penyebab tertinggi dibandingkan dengan penyebab virus lainnya, seperti virus Epstein- Barr (mononukleosis infeksiosa) dan sitomegalovirus. Untuk hepatitis non-virus, penyebab tersering adalah akibat alkohol dan obat-obatan.
Rencana Aksi Nasional Program Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis ini difokuskan pada eliminasi Hepatitis B dan Hepatitis C pada tahun 2020-2024, menuju eliminasi penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada tahun 2022, eliminasi Hepatitis B pada tahun 2030, dan Hepatitis C pada tahun 2040.
Untuk pengendalian Hepatitis A dan Hepatitis E masuk dalam ruang lingkup Rencana Aksi Nasional Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan.
BAB II
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
A. Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis Virus
Pencegahan dan pengendalian hepatitis dilaksanakan secara terintegrasi dan sinergis dengan kebijakan Kementerian Kesehatan RI, meliputi: 1) upaya promotif dan preventif tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif; 2) partisipasi dan pemberdayaan masyarakat; 3) kemitraan dan jejaring kerja;
4) penguatan peran pemerintah daerah; 5) pendekatan berjenjang; dan 6) dukungan ketersediaan infrastruktur kesehatan yang memadai dengan kendali mutu.
B. Tujuan
Tujuan Umum:
1. Mengeliminasi Hepatitis B dan Hepatitis C hingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada akhir tahun 2030 untuk Hepatitis B dan akhir tahun 2040 untuk Hepatitis C.
2. Menurunkan kejadian infeksi Hepatitis B dari ibu ke anak mulai tahun 2022.
Tujuan Khusus
1. Menurunkan prevalensi Hepatitis B dan Hepatitis C.
2. Menurunkan insiden Hepatitis B terutama pada anak berusia 1-4 tahun.
3. Menurunkan kematian akibat Hepatitis C.
4. Meningkatkan kualitas hidup penderita Hepatitis B dan Hepatitis C.
C. Sasaran
Sasaran Umum:
1. Melakukan advokasi, sosialisasi, dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan hepatitis virus, menghindari perilaku berisiko, dan meningkatkan perilaku pencarian pengobatan yang cepat dan tepat, termasuk bagi orang yang terinfeksi Hepatitis B dan atau Hepatitis C yang belum masuk indikasi pengobatan untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium berkala.
2. Meningkatkan kapasitas petugas mengenai program P2 Hepatitis meliputi kegiatan manajemen program dan penatalaksanaan kasus, mulai dari penegakan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, sampai pengobatan.
3. Membangun sistem surveilans Hepatitis, yang terdiri dari surveilans pasif dengan data rutin, dan surveilans aktif melalui surveilans sentinel dan surveilans khusus.
4. Kerjasama lintas program dan lintas sektor.
5. Memastikan ketersediaan obat, vaksin, dan alat diagnostik yang bermutu dan terjangkau untuk Hepatitis B dan Hepatitis C.
6. Menurunkan insiden Hepatitis B penduduk dari 1,98% per 100.000 pada tahun 2018 menjadi 1,09% per 100.000 penduduk pada tahun 2024 (penurunan sebesar 54,9%).
Sasaran Khusus:
Untuk Hepatitis B:
1. Meningkatkan jumlah layanan deteksi dini hepatitis B di FKTP
2. Melaksanakan deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil di 100% kabupaten/kota 3. Melaksanakan deteksi dini hepatitis B pada minimal 95% ibu hamil
4. Pemberian HB0 dan HBIg dalam waktu 24 jam pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif 5. Pemeriksaan HBsAg pada bayi usia 9-12 bulan dari ibu Hepatitis B sebesar 100%
Untuk Hepatitis C:
1. Meningkatkan deteksi dini Hepatitis C pada populasi berisiko
2. Meningkatkan jumlah layanan yang mampu melaksanakan pemeriksaan laboratorium Hepatitis C sampai HCV RNA.
3. Meningkatkan akses layanan pengobatan Hepatitis C dengan obat Direct Acting Antivirals (DAAs) di 34 provinsi
4. Meningkatkan angka kesembuhan Hepatitis C > 95% melalui peningkatan:
a. Jumlah yang diterapi Hepatitis C dengan DAAs b. Jumlah yang selesai pengobatan Hepatitis C
c. Jumlah yang dites HCV RNA Sustained Virologic Response 12 minggu setelah terapi DAAs selesai (SVR12)
d. Jumlah yang dites HCV RNA tidak terdeteksi
D. Strategi
Strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan di atas mengacu pada arahan strategis global
• Perencanaan program berdasarkan informasi (data)
Program perlu direncanakan berdasarkan data yang diperoleh melalui sistem informasi strategis yang terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu surveilans dan monitoring dan evaluasi.
Data yang diperoleh melalui dua kegiatan ini ditelaah dalam perencanaan program, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota, untuk mengidentifikasi kebutuhan, merancang respons berdampak tinggi, mengalokasikan sumber daya secara efektif, memandu pelaksanaan, dan memperkuat akuntabilitas.
• Intervensi yang berdampak
Intervensi untuk hepatitis virus merupakan bagian dari paket intervensi esensial yang berdampak tinggi, selain intervensi pada HIV dan IMS. Pembiayaan program eliminasi hepatitis diperkirakan akan menambah sekitar 1,5% dari total paket cakupan kesehatan universal. Namun, penambahan investasi ini berpotensi menurunkan mortalitas sebesar 5%
dan menghasilkan penambahan healthy-life years (HLY)1† sebesar 9,6%.27,28
Intervensi yang berdampak untuk hepatitis virus mencakup layanan apa yang dibutuhkan sepanjang upaya pencegahan, diagnosis, serta pengobatan, perawatan, dan dukungan yang berkesinambungan. Secara konkret, intervensi yang akan dilakukan pada tahun 2020-2024 bersama lintas sektor adalah sebagai berikut:
a. Pencegahan:
1) Peningkatan pengetahuan melalui sosialisasi hepatitis virus untuk mencegah penularan, meningkatkan perilaku pencarian pengobatan yang cepat dan tepat, serta mengurangi stigma dan diskriminasi bagi kelompok berisiko tinggi maupun orang yang hidup dengan hepatitis.
2) Intervensi perubahan perilaku bagi kelompok berisiko tinggi
3) Keamanan darah donor dari penyakit yang menular melalui darah, termasuk Hepatitis B dan Hepatitis C
4) Akses paket layanan komprehensif harm reduction bagi pengguna napza suntik
5) Imunisasi gratis bagi petugas kesehatan untuk melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin
6) Peningkatan cakupan imunisasi HB0 dan HBIg kurang dari 24 jam pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif
b. Diagnosis:
1) Integrasi tes hepatitis virus ke dalam pedoman manajemen dan teknis pro- gram, maupun kebijakan lintas sektor yang berkaitan dengan deteksi penya- kit yang menular melalui darah
2) Dukungan advokasi dan dukungan teknis untuk memobilisir komitmen lintas
1† Healthy-life years (HLY) merupakan indikator yang didefinisikan sebagai jumlah tahun seseorang diharapkan tetap hidup dalam kondisi sehat. Indikator ini diukur secara terpisah untuk laki-laki dan perempuan berdasarkan prevalensi spesifik usia (proporsi) dari populasi dalam kondisi sehat dan tidak sehat, dan informasi mortalitas spesifik usia. Batasan kondisi sehat adalah tidak adanya keterbatasan dalam berfungsi/cacat. HLY juga disebut disability-free life expectancy (DFLE).
sektor untuk Deteksi Dini Hepatitis B (DDHB) dan Deteksi Dini Hepatitis C (DDHC)
3) Manajemen laboratorium untuk penapisan dan rujukan diagnosis Hepatitis B dan Hepatitis C
c. Pengobatan, perawatan, dan dukungan:
1) Pembangunan jejaring rujukan antara layanan tes di FKTP dan layanan pengobatan di FKRTL serta layanan-layanan pendukung lainnya
2) Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di rumah sakit, khususnya Dokter Spesialis Penyakit Dalam agar mampu memberikan tatalaksana Hepatitis B dan Hepatitis C.
• Penyediaan layanan yang adil
Adil (equity) adalah prinsip inti dari cakupan kesehatan universal yang berarti bahwa setiap orang mendapatkan layanan yang mereka butuhkan. Batasan penyediaan layanan yang adil adalah paket layanan esensial harus tersedia bagi semua orang, terlepas dari keadaan sosioekonomi dan posisi geografis mereka, dengan kualitas yang memadai. Secara konkret, arahan strategis ini akan diwujudkan pada tahun 2020-2024 sebagai berikut:
a. Layanan pengobatan yang berkualitas dan tanpa stigma dan diskriminasi b. Perluasan akses layanan, jejaring rujukan layanan
c. Penjaminan ketersediaan komoditas vaksin, HBIg, reagen, bahan habis pakai, dan obat
d. Perluasan layanan DDHB dan layanan Hepatitis C dengan direct-acting antiviral (DAA) e. Peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan sesuai Pedoman Nasional Praktik
Kedokteran (PNPK) dan Panduan Manajemen Program
f. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk penyediaan layanan berkualitas tanpa stigma dan diskriminasi
• Pembiayaan program yang berkelanjutan
Secara global, pembiayaan program P2 Hepatitis kurang mendapat anggaran yang cukup untuk mencapai target program. Laporan Kemajuan Global di Sektor Kesehatan WHO tahun 2019 memperkirakan dibutuhkan penambahan 6 milyar USD setiap tahunnya untuk mencapai target SDGs 3.3.4 pada tahun 2030, apabila hanya tersedia dana sebesar 0,5 milyar USD di tahun 2016.26 Untuk mengatasi tantangan pembiayaan yang terbatas dibutuhkan kerjasama lintas sektor untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menerima layanan yang dibutuhkan tanpa menimbulkan kesulitan keuangan. Secara konkret, upaya advokasi dan kemitraan perlu terus dilakukan untuk pembiayaan program hepatitis, selain juga efisiensi pengeluaran melalui kolaborasi dengan program kesehatan lainnya dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, misalnya, dengan mengoptimalkan Anggaran Dana Desa untuk kegiatan-kegiatan pencegahan dan dukungan tes serta pengobatan berbasis masyarakat, dan memasukkan obat Direct Acting Antiviral (DAA) untuk hepatitis C ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional.
• Inovasi untuk percepatan pencapaian target.
Beberapa kegiatan inovatif yang akan dilakukan dalam periode 2020-2024 adalah sebagai berikut:
a. Studi operasional, antara lain mengenai kemampulaksanaan intervensi profilaksis antivirus untuk penguatan pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak selain pemberian vaksin Hepatitis B dan HBIg dalam 1 x 24 jam setelah lahir;
b. Surveilans aktif berbasis elektronik untuk Hepatitis B dan Hepatitis C di populasi berisiko yang terintegrasi dengan program lainnya; dan
c. Pengembangan kebijakan berdasarkan rekomendasi terbaru, hasil studi operasional, dan hasil surveilans aktif.
Strategi untuk
implementasi Kepemimpinan, kemitraan, akuntabilitas, monitoring
dan evaluasi
-
Strategi Global Sektor Kesehatan 2016-2021:
kerangka kerja bersama untuk P2 HIV, hepatitis virus, dan IMS
Visi, tujuan, dan target
Kerangka kerja untuk
kegiatan
Jaminan kesehatan universal, layanan berkesinambungan, dan pemberdayaan masyarakat
Tiga dimensi jaminan kesehatan universal
ArahanStrategis
Perencanaan program
berdasarkan informasi Intervensi yang berdampak The “what”
Penyediaan layanan yang adil
The “how”
Pembiayaan program yang berkelanjutan The “financing”
Inovasi untuk percepatan pencapaian target
The “future”
The “who” and
“when”
5 4
3 2
1
Gambar 11. Kerangka Kerja Bersama Global untuk P2 HIV, Hepatitis Virus, dan IMS 2016-20211