BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
F. Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada
tidak diharapkan dan tidak direncanakan dinyatakan sebagai suatu insiden. Dalam hal ini, sumber utama penyebab kerugian perusahaan akibat orang cedera, kerusakan harta, gangguan produksi dan menurunnya daya kerja harus ditanggapi secara seimbang dengan keputusan dan ketentuan manajerial. Prinsip yang sama didalam pemberian tanggung jawab, pelimpahan wewenang, penilaian keterampilan dan pertanggungjawaban untuk mencapai tujuan perusahaan akan diberlakukan bagi seluruh jenjang /tingkatan di dalam organisasi untuk menciptakan keadaan yang bebas kecelakaan di perusahaan.
1. Standar OHSA
PT. Adhi Karya dalam menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja menggunakan standar OHSA ( Occupational Health and Safety Act ) yaitu Undang- Undang K3 di Amerika, akan tetapi pelaksanaannya di bawah pengawasan Departemen Tenaga Kerja. Standar umum yang merupakan dasar pelaksanaan tugas OHSA menyatakan bahwa setiap perusahaan harus menyediakan kondisi kerja bagi setiap pegawainya yang bebas dari kemungkinan timbulnya bahaya yang menyebabkan kematian atau kecelakaan fisik yang serius terhadap pegawainya. PT. Adhi Karya dipandang telah memenuhi standar umum tersebut, sehingga diberikan sertifikat yang disebut dengan OHSAS ( Occupational Health and Safety Act Sertificate ).
Dalam melaksanakan misi utamanya, OHSA bertanggung jawab untuk menyebarluaskan standar-standar yang berkekuatan hukum. Standar-standar tersebut sangat lengkap dan meliputi seluruh kemungkinan bahaya secara rinci yang terpisah dalam 17 bidang sebagai berikut :
a. Lantai tempat berjalan – bekerja. b. Pintu keluar.
c. Pengguna kerja bermesin, lift, dan podium tempat mengerjakan kendaraan. d. Pengendalian kesehatan dan lingkungan kerja (ventilasi, dsb).
e. Benda – benda berbahaya. f. Peralatan perlindungan manusia.
g. Pengendalian lingkungan secara umum (sanitasi, dsb). h. Perawatan medis dan pertolongan pertama.
i. Pemadam kebakaran.
j. Peralatan gas dan udara (compressed) . k. Pengurusan dan penyimpanan barang. l. Penjagaan perlengkapan dan mesin.
m. Peralatan tangan dan portabel bermesin serta peralatan manual lainnya. n. Pengelasan, pemotongan, dan pemasangan.
o. Industri-industri khusus (tekstil, dsb). p. Listrik.
q. Zat-zat beracun dan berbahaya lainnya.
Standar lainnya diatur dalam ketentuan sebagai berikut : a. Prosedur Penyimpanan Dokumen OHSA
Setiap majikan yang memiliki 11 orang pegawai harus menyimpan catatan tentang kecelakaan dan sakit yang terjadi pada saat melaksanakan pekerjaan. Baik kecelakaan kerja maupun sakit dalam melaksanakan pekerjaan harus dilaporkan. Termasuk disini adalah sakit gawat dan kronis yang dapat
disebabkan oleh penghisapan, absorpsi, penelanan atau kontak langsung dengan zat-zat beracun atau berbahaya.
b. Pemeriksaan dan Peringatan 1) Prioritas Pemeriksaan
OHSA telah menetapkan suatu daftar prioritas pemeriksaan yang beranjak dari pemerikaan “ keadaan bahaya yang segera ” dan “ pemeriksaan random ”. Keadaan bahaya yang segera memperoleh prioritas utama, dimana bahaya yang terjadi dapat menyebabkan kematian atau kecelakaan fisik. Prioritas yang kedua diberikan pada penyelidikan bencana besar, fasilitas, dan kecelakaan- kecelakaan yang telah terjadi. Prioritas ketiga diberikan kepada pengaduan pegawai yang sahih tentang terjadinya pelanggaran standar. Prioritas selanjutnya ditujukan kepada pemeriksaan “ keadaan yang sangat berbahaya ”. Akhirnya, prioritas terakhir diberikan kepada pemeriksaan random (dan pemeriksaan ulang).
2) Pemeriksaan
Sebelum mengadakan pemeriksaan, pemeriksa OHSA berusaha memperoleh fakta-fakta tentang tempat kerja sebanyak mungkin. Setelah dilakukan pemeriksaan diadakan pertemuan yang membahas hal-hal yang dijumpai sehubungan dengan pelanggaran yang dilakukan untuk dapat direkomendasikan peringatan dan hukuman.
Setelah laporan pemeriksaan disampaikan, diberikan surat peringatan pemberitahuan majikan dan pegawai tentang peraturan dan standar yang telah dilanggar.
Baik majikan maupun pegawai memiliki kewajiban dan hak tertentu berdasarkan Undang-Undang K3. Sebagai contoh, majikan bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban menyediakan “ tempat kerja yang bebas dari kemungkinan bahaya yang diketahui ”; memahami standar OHSA yang diharuskan ; memberi tahu para pegawi tentang OHSA ; dan memeriksa kondisi tempat kerja untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar yang berlaku.
Para pegawai memiliki hak-hak dan kewajiban tertentu, meskipun mereka tidak dapat diperingatkan karena pelanggaran kewajiban. Sebagai contoh, mereka berkewajiban mentaati seluruh standar OHSA yang berlaku; mematuhi peraturan perusahaan tentang keselamatan dan kesehatan kerja; dan berkewajiban melaporkan keadaan berbahaya kepada supervisor.
Para pegawai memiliki hak untuk menuntut adanya keselamatan dan kesehatan kerja tanpa takut akan menerima hukuman, dan majikan sangat dilarang untuk menindak atau mendiskriminasi pegawai yang dilaksanakan hak-haknya seperti mengadu kepada majikan, serikat buruh, atau OHSA tentang adanya bahaya dalam keselamatan dan kesehatan kerja. Karyawan pada PT. Adhi Karya harus mempelajari dan mentaati peraturan dan ketentuan keselamatan kerja yang berlaku pada tugas mereka dan juga memperhatikan serta mengikuti petunjuk supervisor.
2. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)
PT. Adhi Karya disamping menggunakan elemen OHSAS harus mematuhi Undang-Undang Tenaga Kerja RI nomor 1 tahun 1970 mengenai pelaksanaan
Peraturan Perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang diawasi oleh :
a. Pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja yaitu pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
b. Ahli keselamatan dan kesehatan kerja yaitu tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang dibentuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
Manajemen PT. Adhi Karya bertanggung jawab untuk menjamin bahwa untuk dikembangkan serta diterapkan secara efektif untuk memperkecil resiko kecelakaan terhadap karyawan, melindungi harta benda dari kerusakan/kebakaran, meredam dampak lingkungan dan memberikan keselamatan kepada masyarakat sekitarnya sehubungan dengan kegiatan operasi.
Manajemen PT. Adhi Karya menjamin penerapan kebijakan, sistem, dan usaha-usaha pencegahan kecelakaan secara efektif, dengan membentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Hal ini didasarkan atas :
a. Undang-Undang RI No. I tahun 1970.
b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-125/MEN/82.
c. Surat Kakanwil Depnaker Sumatera Utara No. B-2003-6/W2/1998.
Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) berperan membantu manajemen perusahaan dalam pemantauan dan evaluasi keberhasilan usaha-usaha organisasi untuk meningkatkan, memelihara, dan memperbaiki standar operasi yang baik serta mengurangi timbulnya kerusakan harta, cedera dan dampak terhadap lingkungan.
P2K3 yang beranggotakan Manajemen PT. Adhi Karya memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Meninjau, memantau dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja perusahaan, sistem dan penerapan dari ketentuan-ketentuan pencegahan kecelakaan perusahaan yang telah ada di berbagai departemen.
b. Merekomendasikan dan atau memprakarsai kebijakan atau mendukung Kebijakan dan Ketetapan Manajemen di Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Panitia ini juga akan mengadakan inspeksi lapangan secara berkala terhadap fasilitas-fasilitas perusahaan.
c. Untuk menilai dan mengevaluasi keefektifan organisasi dalam menerapkan kebijakan dan ketetapan manajemen di bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Panitia ini juga akan mengadakan inspeksi lapangan secara berkala terhadap fasilitas-fasilitas perusahaan.
Struktur organisasi P2K3 secara ringkas dapat dilihat pada lampiran.
Uraian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian/fungsi dalam struktur P2K3 diatas adalah :
a. Ketua P2K3
Tujuan umum jabatan atas ketua P2K3 adalah untuk menjamin berlangsungnya penyelenggaraan pelaksanaan/proses pengelolaan kegiatan P2K3 dengan baik sesuai dengan program-program kerja yang telah ditetapkan.
Berikut ini adalah tugas-tugas dari ketua P2K3, yaitu:
1. Memimpin semua rapat pleno P2K3 atau menunjuk anggota untuk memimpin rapat pleno.
2. Menentukan langkah, policy demi tercapainya pelaksanaan program- program P2K3.
3. Mempertanggung-jawabkan pelaksanaan P2K3 di perusahaan kepada Depnaker.
4. Mempertanggung-jawabkan program-program P2K3 dan pelaksanaannya kepada Kepala Divisi/ Direksi.
5. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program-program K3 di perusahaan.
6. Menetapkan struktur organisasi P2K3 dan program kerjanya. 7. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program-program P2K3.
b. Sekretaris P2K3
Sekretaris P2K3 ini bertujuan untuk mengelola proses P2K3 yang ada untuk melaksanakan program-program yang telah ditetapkan.
Adapun tugas-tugas sekretaris P2K3 adalah :
1. Membuat undangan rapat dan membuat notulennya. 2. Mengelola administrasi surat-surat P2K3.
3. Mencatat data-data yang berhubungan dengan K3.
4. Memberikan bantuan dan saran-saran yang diperlukan oleh seksi-seksi demi suksesnya program-program yang telah ditetapkan.
5. Membuat laporan ke fungsi-fungsi yang bersangkutan mengenai adanya
Unsafe Act & Unsafe Condition (tindakan dan kondisi yang tidak aman) di tempat kerja.
c. Anggota Eksekutif P2K3
Anggota eksekutif ini bertujuan untuk mengelola dan mengidentifikasi serta menginventarisasikan kegiatan P2K3 yang ada secara baik dan melaksanakan program-program yang telah ditetapkan.
Anggota eksekutif P2K3 mempunyai tugas-tugas sebagai berikut:
1. Mengelola hasil identifikasi dan menginventarisasikan sumber bahaya dan penyakit akibat kerja.
2. Mengelola masalah yang berkaitan dengan upaya untuk mengendalikan dan mencegah timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. 3. Mengelola data-data yang berhubungan dengan K3.
4. Memberikan bantuan dan saran-saran yang diperlukan oleh seksi-seksi, demi suksesnya program-program K3.
5. Terlaksananya kegiatan P2K3 dilingkungan perusahaan dan proyek yang sesuai dengan sasaran.
d. Anggota P2K3/ Anggota P2K3 Proyek
Tidak jauh berbeda dengan anggota eksekutif, bahwa anggota P2K3 juga bertujuan untuk mengelola dan mengidentifikasi serta menginventarisasikan kegiatan P2K3 dengan baik dan melaksanakan program-program yang telah ditetapkan.
Adapun tugas-tugas dari anggota P2K3 adalah sebagai berikut:
1. Mengelola hasil identifikasi dan menginventarisasikan sumber bahaya dan penyakit akibat kerja.
2. Mengelola masalah yang berkaitan dengan upaya untuk mengendalikan dan mencegah timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. 3. Mengelola data-data yang berhubungan dengan K3 pada unit kerja.
4. Melaksanakan program-program K3 unit kerja yang telah ditetapkan. 5. Terlaksananya kegiatan P2K3 di lingkungan perusahaan dan proyek yang
sesuai dengan sasaran.
3. Seksi Keselamatan ( Safety Section ) pada PT. Adhi Karya Kawasan Medan (Plant Patumbak).
Seksi keselamatan pada PT. Adhi karya kawasan Medan ( Plant Patumbak )
merupakan suatu seksi khusus yang mana pada seksi ini dibuat prosedur, peraturan, dan pelatihan terhadap seluruh departemen atau seksi. Keberadaan Staf Safety adalah untuk membantu, memberikn saran dan mengembangkan standar-standar, akan tetapi dalam pelaksanaan pencegahan kecelakaan adalah tanggung jawab dan tugas utama dari setiap lini manajemen pada semua tingkatan.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh seksi keselamatan ini adalah : 1. Safety Talk (Penyuluhan)
• Membuat ceramah-ceramah keselamatan kerja. Hal ini dilakukan setiap hari sebelum memulai pekerjaan selama 5-10 menit.
• Pemasangan poster-poster atau spanduk tentang keselamatan kerja. • Pemutaran film/slide-slide tentang keselamatan kerja.
2. Safety Committee
• Mengusahakan terciptanya suasana kerja yang aman.
• Menanamkan kesadaran / disiplin yang tinggi tentang pentingnya keselamatan kerja.
3. Pendidikan dan latihan
• Kursus-kursus keselamatan kerja.
4. Alat-alat keselamatan kerja
• Menyediakan alat-alat proteksi diri yang diperlukan sesuai dengan kondisi kerja.
• Mengontrol dan memastikan bahwa setiap pekerja telah menggunakan alat proteksi diri agar keselamatan para pekerja dapat terjaga.
Safety Section juga bertanggung jawab untuk menangani kondisi ataupun kadaan darurat apabila sewaktu-waktu terjadi bahaya atau kecelakaan. Oleh karena itu seksi keselamatan membentuk suatu tim keadaan darurat seperti yang terlihat pada gambar/struktur dalam lampiran.
Dari gambar struktur, maka berikut ini akan diuraikan tugas-tugas dari masing-masing bagian :
a. Ketua tim keadaan darurat
Ketua tim akan memimpin dan mengkoordinasi pelaksanaan K3 diseluruh tingkatan unit kerja dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan ataupun standar yang berlaku.
Ketua tim bertanggung jawab atas :
1. Penanganan dan investigasi kecelakaan, insiden dan ketidaksesuaian, termasuk ketidaksesuaian terhadap hasil inspeksi K3.
2. Melaksanakan tindakan untuk mengurangi akibat yang ditimbulkan. 3. Melaksanakan pengujian risiko tidakan koreksi dan pencegahan.
4. Melaksanakan dan memastikan keefektifan tindakan koreksi dan pencegahan.
5. Penanganan dan penyelamatan manusia, material/aset akibat kondisi darurat/kecelakaan.
b. Wakil ketua tim keadaan darurat
Wakil bertugas mengarahkan keadaan darurat agar tidak berkembang dan juga tetap menjaga keamanan karyawan pada saat bekerja. Wakil ketua juga dapat mengambil alih tanggung jawab yang dilimpahkan ketua apabila ketua sedang tidak berada di tempat.
Adapun tanggung jawab wakil ketua tim keadaan darurat adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi keadaan darurat dan melaporkan adanya faktor yang menimbulkan bahaya.
2. Mengkoordinasikan pelaksanaan K3 dengan instansi terkait.
3. Menginformasikan keadaan darurat dan mengarahkan evakuasi ketempat yang telah ditetapkan.
4. Melakukan penyelamatan terhadap aset perusahaan.
5. Membantu P2K3 dalam melakukan investigasi kecelakaan akibat keadaan darurat.
c. Regu/tim keadaan darurat
Adapun tugas-tugas dari regu/tim keadaan darurat ini adalah:
1. Memadamkan kebakaran secepatnya (jika kondisi darurat berupa ledakan). 2. Mengarahkan evakuasi baik orang maupun barang.
3. Meminta bantuan kepada pihak-pihak terkait (pemadam kebakaran, rumah sakit, Polsek, Koramil, SAR).
4. Melaporkan kepada ketua tim keadaan darurat & P3K kondisi keadaan darurat dan perkembangannya untuk diambil tindakan perbaikan.
d. Regu/tim P3K
1. Memberikan pertolongan terhadap korban dengan : • Mempertahankan penderita tetap hidup.
• Membuat keadaan penderita tetap stabil.
• Mengurangi rasa nyeri, ketidaknyamanan dan rasa cemas melalui : - Periksa adanya pendarahan, bila ada maka hentikan pendarahan. - Bila menduga adanya cedera tulang, jangan merubah posisi
penderita.
- Bila penderita pingsan tetapi pernafasan normal tanpa ada cedera tulang belakang, maka baringkan dalam posisi istirahat.
- Jangan meninggalkan penderita sebelum petugas medis datang. 2. Meminta bantuan ke pertolongan medis / rumah sakit jika untuk butir 1
(diatas) tidak dapat dilakukan.
3. Menginformasikan ke keluarga korban.
4. Membantu P2K3 dalam melakukan investigasi kecelakaan yang mengakibatkan luka parah dan meninggal dunia (fatal).
5. Melaporkan ke ketua tim keadaan darurat untuk diambil tindakan penyelidikan dan tindak lanjut perbaikan.
e. Regu/tim keamanan
Regu ini bertujuan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan keamanan diseluruh tingkatan unit kerja untu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan/berjalan sesuai dengan ketentuan atau standar yang berlaku.
Tugas-tugas dari regu/tim keamanan yaitu : 1. Mengamankan lingkungan/lokasi.
3. Melarang tamu-tamu yang akan masuk ke lokasi kerja yang tidak berkepentingan.
4. Membantu penanganan dan investigasi kecelakaan/insiden. 5. Membantu mengarahkan evakuasi baik barang maupun orang. 6. Membantu mengkoordinasi dengan instansi terkait.
4. Alat Pelindung Diri
Keadaan-keadaan berbahaya seharusnya dapat dihapuskan atau dikendalikan dengan rancangan standar pengoperasian yang baik oleh perusahaan, akan tetapi masih ada keadaan dimana karyawan harus menerima tanggung jawab untuk keselamatan dirinya dengan memakai alat-alat pelindung diri.
Perusahaan menyediakan alat pelindung diri untuk semua bagian tubuh guna mencegah bahaya yang mungkin terjadi. Karyawan maupun pengunjung (visitor) serta orang-orang yang berada di lingkungan kerja (lapangan) wajib menggunakan alat pelindung diri. Hal ini sesuai dengan Peraturan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) Pasal 30 tentang perlengkapan alat-alat keselamatan kerja.
Alat pelindung diri yang diberlakukan oleh PT. Adhi Karya Kawasan Medan (Plant Patumbak) untuk memasuki zona lapangan (tempat kerja) terdiri dari :
a. Pelindung Kaki ( Sepatu Safety )
1) Karyawan yang berada ditempat yang memungkinkan terjadinya cedera oleh zat-zat panas atau benda-benda yang mungkin jatuh sehingga dapat mengakibatkan kecelakaan atau terpijak, dan juga berada di lokasi yang senantiasa basah.
2) Karyawan yang bekerja di lapangan, bengkel-bengkel, atau gudang- gudang juga harus menggunakan sepatu keselamatan tersebut.
b. Pelindung Kepala (Helm/Topi Pelindung)
Diberlakukan bagi seluruh karyawan, kontraktor, tamu dan supplier untuk memakai helm di daerah berbahaya (restricted area).
c. Pakaian Kerja & Sarung Tangan
1) Seluruh karyawan selama bertugas harus mengenakan pakaian kerja yang telah disediakan oleh perusahaan yang sesuai dengan pekerjaan mereka. 2) Karyawan tidak dibenarkan memakai pakaian yang longgar di sekitar
mesin-mesin yang bergerak.
3) Pakaian khusus wajib dipakai bila mengerjakan pekerjaan dimana panas, percikan logam panas, tenaga-tenaga benturan, ataupun radiasi dapat membahayakan tubuh.
4) Menggunakan sarung tangan bila memegang benda-benda atau zat-zat yang dapat melukai atau membakar tangan.
5) Pekerja listrik menggunakan sarung tangan isolasi khusus.
d. Pelindung Wajah (Masker) & Pelindung Mata (Kacamata Las atau Kacamata Grinda/Abu)
1) Karyawan harus memakai pelindung wajah dan mata bila sedang melakukan tugas-tugas pemeriksaan, pemeliharaan atau operasi.
2) Karyawan yang bekerja di lokasi yang dapat membahayakan mata karena benda-benda halus yang mungkin berterbangan, ataupun zat-zat berbahaya lainnya harus menggunakan alat pelindung mata dan tabir pelindung. 3) Karyawan yang pekerjaannya mungkin terkena uap ataupun percikan api
ataupun zat-zat lain yang berbahaya harus menggunakan pelindung wajah dan mata.
e. Sabuk Pengaman
Secara umum, para karyawan harus memakai sabuk pengaman untuk memberikan perlindungan bagi mereka yang bekerja di tempat-tempat tinggi. f. Pelindung Telinga
Karyawan yang bekerja di sekitar mesin atau alat yang tingkat kebisingannya melebihi 85 dBA harus menggunakan alat pelindung telinga.
g. Pelindung Pernafasan
Jenis alat pelindung pernafasan :
1) Masker pernafasan untuk debu harus dipakai didaerah yang berdebu. 2) Pelindung pernafasan untuk uap atau gas beracun harus digunakan apabila
sedang menyemprot cairan ataupun zat-zat berbahaya lainnya.
3) Alat pernafasan tabung (breathing apparatus) atau saluran udara harus digunakan apabila memasuki ruangan-ruangan tertutup.
4) Kerudung kepala yang dilengkapi dengan alat pernafasan saluran udara.
G. Kinerja
Pada PT. Adhi Karya Kawasan Medan (Plant Patumbak) kinerja karyawan diukur dengan kriteria :
1. Personal Skill
a. Technical Knowledge (Pengetahuan Teknis) b. Work Quality (Kualitas Kerja)
c. Productivity (Produktivitas)
d. Sense of responsibility (Rasa Tanggung-jawab) 2. Personal Managerial
a. Cooperative (Kerjasama)
b. Work Attitude (Perilaku dalam bekerja) c. Initiative (Inisiatif)
d. Loyality (Loyalitas)
4. Special Assignment (karyawan yang bekerja diluar job description)
Penampilan dan perilaku dalam hal Keselamatan kerja akan dipertimbangkan sebagai bagian dari penilaian kinerja bagi setiap karyawan. Perusahaan membuat program penghargaan keselamatan yang bertujuan untuk memotivasi para karyawan guna meningkatkan kesadaran dan juga keselamatan kerja. Apabila karyawan tidak mentaati ketentuan-ketentuan keselamatan kerja maka perusahaan akan mengambil tindakan disiplin tanpa melihat jabatan apa yang dipegangnya.
Program tersebut dibentuk untuk memberikan penilaian kepada seksi ataupun departemen yang melaksanakan penampilan keselamatan terbaik. Nilai-nilai positif yang dijadikan penilaian seperti terjaganya kebersihan lingkungan tempat kerja dari masing-masing bagian/seksi, kedisiplinan dalam menggunakan alat pelindung diri, dan juga pengetahuannya mengenai K3. Dan untuk menandai penampilan keselamatan terbaik, perusahaan memberikan suatu penghargaan berupa piagam ataupun piala dan juga bonus atas kinerjanya tersebut.