BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Kebijakan Pelaksanaan Program
Berdasarkan hasil indepth interview dengan manajemen perusahaan, dapat disimpulkan bahwa kebijakan pelaksanaan CSR disusun atas dasar dua hal, yaitu:
1. Bisnis PT. ABB harus berjalan tumbuh dan berkembang tanpa ada gangguan (konflik), oleh sebab itu CSR yang diimplementasikan harus memberi manfaat bagi perusahaan.
2. Masyarakat sekitar perusahaan PT. ABB Libek Project tidak terganggu dengan berjalannya operasionalisasi perusahaan, aman, terjaga dan saling memberi manfaat timbal balik.
Sejak berdiri dan beroperasinya PT. ABB, CSR secara internal telah berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan fasilitas fisik dan sosial kepada karyawan telah diberikan secara memadai dengan kualitas dan kualifikasi standar.
Belum adanya dokumen perencanaan dan strategi dalam mencapai target yang ingin dicapai untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, terutama exit strategi menunjukkan program CSR belum memiliki program yang memandirikan dan memberdayakan masyarakat dengan perencanaan program CSR yang lebih tepat. Melalui perumusan masalah, mendeteksi potensi yang dimiliki oleh masyarakat merupakan kunci utama perencanaan program CSR. Melalui tahap ini maka perencanaan dengan perumusan bersama yaitu antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat akan mampu menggali dan kekuatan yang ada pada masyarakat.
Dalam kebijakan pelaksanaan CSR-nya, PT. ABB Libek Project juga belum memiliki strategi yang jelas dan sistematis untuk mensejahterakan masyarakat melalui program CSR-nya, program CSR yang sejak tahun 2006 dilaksanakan masih
sebatas melaksanakan program di beberapa bidang yang direncanakan saja, belum dimaknai dengan sungguh-sungguh dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan wawancara dengan beberapa stakeholder sebagai informan kunci (key informan) dan alat bantu kuisioner yang disebar kepada responden ditemukan fakta bahwa masyarakat sama sekali belum pernah dilibatkan dalam perencanaan aktivitas CSR-nya. Fakta tersebut didukung hasil indepth interview yang dilakukan dengan manajemen PT. ABB Libek Project dan diperoleh fakta bahwa tahap perencanaan program CSR belum melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat. Hal ini yang mendorong belum sinerginya pelaksanaan program CSR dengan dengan stakeholder yang ada.
Perencanaan masih dilakukan secara internal dan setiap tahun yang disebut tahun fiskal, semua divisi merencanakan program yang akan dilakukan dan didiskusikan dengan internal perusahaan program mana yang diprioritaskan untuk dilaksanakan, dan relatif belum ada keterlibatan (hearing) dengan stakeholder dan kalaupun ada hanya bersifat koordinasi. Sebagian besar bantuan dari pelaksanaan program CSR langsung diberikan kepada sasaran seperti ke sekolah-sekolah, atau pihak-pihak tertentu. Dalam bidang kerohanian misalnya langsung dilaksanakan dengan pihak masjid tertentu.
Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dilaksanakan sendiri oleh PT. ABB dan dalam melakukan evaluasi masih terbatas pada evaluasi keuangan saja. Evaluasi out put, out comes, benefit sampai impact di tingkat masyarakat belum pernah dilakukan, belum melibatkan stakeholder dan pihak terkait dalam perencanaan dan
pelaksanaan program. Publikasi pelaksanaan CSR juga minim sekali dilakukan baik melalui media massa maupun tampil dalam kegiatan publikasi atau expo pembangunan.
Dana-dana dan bantuan kepada masyarakat dari keuntungan PT. ABB belum melibatkan Pemerintah Kecamatan dan juga belum dimaknai secara koordinatif dan integratif oleh PT. ABB. Belum ada upaya untuk duduk bersama membicarakan permasalahan mendasar pada masyarakat dalam menyalurkan dana bantuan, serta belum ada prinsip saling dukung dalam sebuah tanggung jawab sosial bersama membina dan membangun masyarakat.
Berdasar kepada pada hasil wawancara dengan stakeholder (pemangku kepentingan) dan masyarakat serta alat bantu kuisioner, ditemukan bahwa kebijakan program CSR PT. ABB Libek Project belum sepenuhnya mendukung peningkatan perekonomian rakyat karena bantuan yang diberikan PT. ABB Libek Project masih sangat terbatas jumlahnya, belum sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
Hal ini menunjukkan Pembangunan Masyarakat (Comunity Development) dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang tidak melibatkan masyarakat dan menggalang partisipasi dari masyarakat menyebabkan masyarakat tidak memiliki rasa memiliki (sense of belonging) terhadap pembangunan tersebut, akibatnya masyarakat tidak akan mampu untuk diberdayakan dan memberdayakan diri sendiri dalam sebuah program pengembangan masyarakat itu sendiri. Karena konsepsi sebuah pembangunan yang merekomendasikan agar pembangunan dilaksanakan
dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal dengan mengacu kepada karakteristik yang spesifik yang dimiliki akan menciptakan sebuah kemandirian lokal. Pembangunan seyogyanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas tatanan yang indikator utamanya adalah terjaganya keadilan berpartisipasi bagi semua komponen (Mappadjantji, 2005).
Berdasarkan indepth interview dengan manajemen PT. ABB Libek Project yang dilakukan juga ditemukan bahwa bahwa CSR masih dianggap biaya (cost) oleh perusahaan, dalam arti setiap rupiah yang dikeluarkan harus mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, kondisi ini menunjukkan bahwa CSR PT. ABB Libek Project belum memiliki dan memenuhi aspek kerelaan (volutarism) dalam mengimplementasikan CSR-nya, karena pelaksanaan CSR bukan sekedar kewajiban tetapi Investasi Sosial (Social Investment) yang keuntungannya tidak dapat dilihat secara langsung dalam bentuk material, tetapi kepentingan bersama antara perusahaan dan stakeholders dan Sosial License dari masyarakat adalah hal yang penting dalam mempertahankan eksistensi perusahaan (Suharto, 2006).
Dalam implementasi pelaksanaan aktivitas CSR idealnya dunia usaha memiliki sinergitas dengan program peningkatan kesejahteraan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat maupun stakeholders lainnya. Hal ini dilatarbelakangi bahwa upaya tanggung jawab sosial sebuah perusahaan harus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat dan tugas ini adalah tugas dan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha sehingga diperlukan sebuah kemitraan antara ketiganya (Wibisono, 2007).
65% 35%
MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI
4.5. Tingkat Pengetahuan (Awareness) dan Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR
4.5.1. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Keberadaan Program CSR
Program CSR di bidang rohani (sosial) merupakan program yang paling banyak diketahui oleh masyarakat dibanding bidang sosial lainnya, dapat dilihat dalam Gambar 6.
Gambar 6. Tingkat Pengetahuan (Awarness) Responden tentang Program Kerohanian
Dari gambar 6 terlihat bahwa perbandingan sebesar 65% masyarakat yang mengetahui adanya program di bidang rohani berbanding 35% masyarakat yang tidak mengetahui adanya program ini.
Pembangunan bidang infrastruktur (lapangan olahraga dan infrastruktur lainnya) masih banyak yang belum diketahui oleh masyarakat yang berada di sekitar PT. ABB Libek Project, sebagian besar masyarakat yaitu 80,5% tidak mengetahui keberadaan program-program dalam bidang pembangunan infrastruktur dan hanya
19,5% saja yang mengetahui adanya program pembangunan infrastruktur seperti dalam Gambar 7.
19.5%
80.5%
MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI
Gambar 7. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Program Pembangunan Infrastruktur
Tingkat pengetahuan respoden terhadap bantuan kepemudaan dan olahraga dari PT. ABB secara umum diketahui keberadaannya oleh masyarakat sebanyak 58% dan sisanya 42% masyarakat yang belum mengetahui. Masyarakat cukup banyak yang mengetahui keberadaan program CSR menunjukkan cukup banyak pengetahuan masyarakat terhadap CSR bidang kepemudaan dan olahraga karena program pada bidang ini sering dituangkan pada kegiatan yang beragam dan menyentuh kepada kepemudaan seperti kegiatan perlombaan sepak bola persahabatan antara perusahaan dan masyarakat dan lain sebagainya yang dapat dilihat pada Gambar 8.
35.5% 64.5% MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI 42% 58% MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI
Gambar 8. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Program Bidang Kepemudaan dan Olahraga
Tingkat pengetahuan responden terhadap keberadaan program CSR bidang pengembangan ekonomi diketahui oleh 35,5% masyarakat dan selebihnya 64,5% masyarakat tidak mengetahui keberadaan program ini.
Gambar 9. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Keberadaan Program Bidang Ekonomi
4.5.2. Tingkat Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR Keterlibatan masyarakat pada program CSR pengembangan bidang ekonomi yang menyatakan terlibat adalah adalah 17,3% dan 82,7% menyatakan terlibat meski keterlibatan mereka tidak dari awal perencanaan tetapi dalam proses pelaksanaan saja. Untuk bidang sosial yang menyatakan terlibat dalam program adalah 12,4% dan sisanya 87,6% menyatakan tidak terlibat dan hanya menerima bantuan saja. Sedangkan untuk bidang pembangunan infrastruktur yang menyatakan terlibat hanya 5,9% dan sisanya 94,1% menyatakan tidak terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dapat dilihat pada Gambar 10.
0 20 40 60 80 100 (dalam %)
BIDANG EKONOMI BIDANG SOSIAL BIDANG
INFRASTRUKTUR
TERLIBAT TIDAK TERLIBAT
Gambar 10. Tingkat Keterlibatan Masyarakat dalam Program CSR
Semakin besar tingkat pengetahuan masyarakat tentang keberadaan dari program yang diberikan oleh PT. ABB maka akan semakin baik images PT. ABB di mata masyarakat dan sedikit banyak akan menggambarkan banyaknya masyarakat
yang dapat dijangkau oleh program tersebut dan keterlibatan masyarakat dalam setiap program CSR menunjukkan besarnya peran serta partisipasi pada masyarakat sehingga program bisa berjalan maksimal dan tidak terhenti setelah program selesai.
Tingkat pengetahuan dan keterlibatan masyarakat menunjukkan belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan sehingga interaksi sosial antara perusahaan dengan masyarakat masih rendah. Pihak PT. ABB Libek Project dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya belum melakukan pendekatan dalam proses pembentukan tanggung jawab sosial (moral, kepentingan bersama dan manfaat) karena tanggung jawab sosial adalah tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan perusahaan dalam interaksi dengan lingkungannya yang didasarkan pada etika. Secara umum etika dipahami sebagai aturan tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengarahkan perilaku seseorang atau kelompok masyarakat mengenai baik atau buruk dalam pengambilan kebijakan atau keputusan (Purwanto, 2006)
Tingkat pengetahuan dan keterlibatan masyarakat juga merupakan wujud sebuah persepsi dan keinginan masyarakat sehingga dapat menjadi titik tolak (acuan) dalam membuat peta jalan (road map) sebuah perencanaan CSR. Persepsi bukanlah sekedar refleksi dari sesuatu yang nyata, demikian pula pengetahuan bukan lagi merupakan pendekatan sederhana tentang kebenaran dan realitas yang bersifat objektif, tetapi lebih merupakan interaksi kompleks antara yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known) serta proses untuk mengetahui (knowing) dan sangat tergantung kepada berbagai faktor yaitu faktor biologi, psikologi, budaya, bahasa dan lainnya (Montouri, 1993).
4.6. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Pendapatan dan