• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. ABB Libek Project Terhadap Pendapatan Masyarakat Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. ABB Libek Project Terhadap Pendapatan Masyarakat Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis."

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. ADONARA BAKTI BANGSA LIBEK PROJECT TERHADAP PENDAPATAN

MASYARAKAT KECAMATAN MANDAU KABUPATEN BENGKALIS

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

LOUISE BERNADETH BUDIARTI 050501068

EKONOMI PEMBANGUNAN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

(2)

ABSTRAK

LOUISE BERNADETH BUDIARTI, PERAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. ABB LIBEK PROJECT TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT KECAMATAN MANDAU KABUPATEN BENGKALIS di bawah bimbingan Bapak Prof. DR. Siro Juzilam, SE.

PT. ABB merupakan perusahaan swasta nasional yang aktivitasnya bergerak di bidang pengamanan terhadap aset-aset perusahaan-perusahaan besar yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya PT. Chevron Pacific Indonesia. PT. ABB Libek Project mulai beroperasi di Kecamatan Mandau sejak tahun 2006 dan telah melaksanakan program CSR kepada masyarakat. Meskipun program CSR meningkat namun masih banyak masyarakat yang hidup dengan pendapatan rendah. Hal ini yang menjadi dasar pemikiran penelitian. Tujuan Penelitian adalah: 1) Mendeskripsikan konsep CSR PT. ABB Libek Project yang telah diimplementasikan pada masyarakat 2) Menganalisis peran CSR terhadap pendapatan masyarakat di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.

Metoda/Teknik Analisis Data yang digunakan adalah Analisis Deskriptif dan Analisis Uji Beda Rata-Rata (Compare Mean).

Hasil penelitian menunjukkan CSR PT. ABB Libek Project belum memiliki dokumen perencanaan dan strategi, masih dianggap biaya (cost) dan belum dianggap sebagai Investasi Sosial (Social Investment), tingkat pengetahuan (awareness) dan keterlibatan masyarakat masih rendah dan belum memiliki konsep pembangunan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan nominal dan pendapatan riil masyarakat sebelum dan sesudah adanya program CSR berbeda nyata. Untuk mendukung berhasilnya pengembangan masyarakat (community development) dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT. ABB, diperlukan sebuah solusi kemitraan antara pemerintah, PT. ABB dan masyarakat (kemitraan tripartit) dan program CSR dengan mengembangkan ekonomi masyarakat lokal yang sifatnya produktif.

Kata Kunci:

Corporate Social Responsibility, Pendapatan Masyarakat, Kemitraan Tripartit.

ABSTRACT

LOUISE BERNADETH BUDIARTI, THE ROLE OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) OF PT. ABB LIBEK PROJECT ON THE INCOME COMMUNITY OF MANDAU SUBREGENCY OF BENGKALIS REGENCY under consulate of Mr. Prof. Dr. Siro Juzilam, SE.

(3)

program has increased, however, many people was still have low income. It is the rationale of the present study. The objectives of the study are 1) To describe CSR form and concept of PT. ABB Libek Project that have been implemented to the community of Mandau Subregency. 2) To analyze the role of CSR in income of the community.

The metode/technique of data analysis used in this study included descriptive analysis and Compare Mean Analysis.

The results of study showed that CSR of PT. ABB Libek Project still not has a planning document and stratey yet, CSR is still considered to be a cost and still not considered it to be a social investment, including lower knowledge (awareness) and participation of the community is still lower and it still not has a concept of welfare development of the community. Nominal and real incomes of the community prior and after implementaion of CSR program was significantly different. To support the success of community development in Corporate Social Responsibility (CSR) of PT. ABB Libek Project, a solution of partnership among government, PT. ABB Libek Project and community is significantly required (tripartied partnership) by developing the productive local community.

Keywords :

(4)

KATA PENGANTAR

Syukur dan Puji kepada Tuhan Yesus Kristus penulis panjatkan telah memberikan berkat-berkatNya kepada hamba untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. ABB Libek Project Terhadap Pendapatan Masyarakat Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi Departemen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Proses penulisan tesis ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang sangat berperan dalam proses penyusunan tesis ini, yaitu kepada Bapak Prof. DR, Siro Juzilam, SE, sebagai Pembimbing Penulisan Skripsi, yang banyak memberikan bimbingan dan saran dalam penulisan ini dan kepada semua pihak yang turut membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi bahasa maupun isinya, oleh karena itu penulis dengan senang hati akan menerima kritikan sehat, saran dan masukan dari semua pihak. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukannya.

Medan, Juni 2009

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAK …...……… i

KATA PENGANTAR ...………….………... iii

DAFTAR ISI ………..……….. iv

DAFTAR TABEL …………..……….. vi

DAFTAR GAMBAR ………..………. vii

DAFTAR LAMPIRAN ………..……….. viii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

2.1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) ……… 7

2.2. Pengembangan Masyarakat (Community Development) dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) ...…. 18

2.3. Kemitraan dalam Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan Governance ……... 21

2.4. Penelitian Terdahulu…………... ……… 27

2.5. Kerangka Pemikiran Penelitian ………... 29

2.6. Hipotesis Penelitian………... 30

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 31

3.2. Populasi dan Sampel ... 31

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.3.1. Pengumpulan Data Primer ... 33

3.3.2. Pengumpulan Data Sekunder ... 33

3.4. Teknik Analisis Data ... 34

3.5. Definisi Variabel Operasional Penelitian ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Mandau ... 36

4.1.1. Gambaran Umum Kecamatan Mandau... 39

4.2. Profil Perusahaan PT. ABB Libek Project... 42

(6)

4.4. Kebijakan Pelaksanaan Program... 47

. 4.5. Tingkat Pengetahuan (Awareness) dan Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR... 52

4.5.1. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Keberadaan Program CSR... 52

4.5.2. Tingkat Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR... 55

4.6. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja Masyarakat Lokal... 57

4.6.1. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Tingkat Pendapatan Nominal... 57

4.6.2. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Tingkat Pendapatan Riil... 58

4.6.3. Peran CSR terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal... 60

4.7. Kemitraan antara Pemerintah, Perusahaan PT. ABB dan Masyarakat... 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66

5.1. Kesimpulan... 66

5.2. Saran... 67

(7)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman 1 Karakteristik Tahap-tahap Kedermawanan Sosial ... 21 2. Jumlah Populasi dan Sampel Menurut Desa ... 32 3. Hasil Analisis Uji Beda Rata-rata Pendapatan Nominal

Masyarakat...

57

4. Hasil Analisis Uji Beda Rata-rata Pendapatan Riil

Masyarakat... 58 5 Komposisi Tenaga Kerja PT. ABB Libek Project Berdasarkan

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman 1 Hubungan Garis Segitiga (Triple Bottom Line)... 8 2 Empat Kriteria Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Model

Carrol ... 15 3 Garis Hubungan antar sektor dalam Program Corporate

Social Responsibility ... 26 4 Kerangka Pemikiran Corporate Social Responsibilty (CSR)

PT. ABB Libek Project... 29 5 Peta Wilayah Kabupaten Bengkalis Berdasarkan Batas

Wilayah Kecamatan ... 36 6 Tingkat Pengetahuan (Awarness) Responden tentang

Program Kerohanian...

52

7 Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap

Program Pembangunan Infrastruktur ... 53 8 Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden tentang

Program Kepemudaan dan Olahraga... 54 9 Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap

Keberadaan Program Bidang Ekonomi... 54 10 Tingkat Keterlibatan Masyarakat dalam Program

CSR... 55 11 Komposisi Tenaga Kerja PT. ABB Libek Project Berdasarkan

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1 Jumlah Pendapatan Nominal Masyarakat Tahun 2005 dan Tahun 2008.. 72 2 Pendapatan Nominal Masyarakat Tahun 2005 dan Tahun 2008, T-Test 73 3 Jumlah Pendapatan Riil Masyarakat Tahun 2005 dan Tahun 2008..

74 4 Pendapatan Riil Masyarakat Tahun 2005 dan Tahun 2008, T-Test

(10)

ABSTRAK

LOUISE BERNADETH BUDIARTI, PERAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. ABB LIBEK PROJECT TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT KECAMATAN MANDAU KABUPATEN BENGKALIS di bawah bimbingan Bapak Prof. DR. Siro Juzilam, SE.

PT. ABB merupakan perusahaan swasta nasional yang aktivitasnya bergerak di bidang pengamanan terhadap aset-aset perusahaan-perusahaan besar yang tersebar di seluruh Indonesia, salah satunya PT. Chevron Pacific Indonesia. PT. ABB Libek Project mulai beroperasi di Kecamatan Mandau sejak tahun 2006 dan telah melaksanakan program CSR kepada masyarakat. Meskipun program CSR meningkat namun masih banyak masyarakat yang hidup dengan pendapatan rendah. Hal ini yang menjadi dasar pemikiran penelitian. Tujuan Penelitian adalah: 1) Mendeskripsikan konsep CSR PT. ABB Libek Project yang telah diimplementasikan pada masyarakat 2) Menganalisis peran CSR terhadap pendapatan masyarakat di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.

Metoda/Teknik Analisis Data yang digunakan adalah Analisis Deskriptif dan Analisis Uji Beda Rata-Rata (Compare Mean).

Hasil penelitian menunjukkan CSR PT. ABB Libek Project belum memiliki dokumen perencanaan dan strategi, masih dianggap biaya (cost) dan belum dianggap sebagai Investasi Sosial (Social Investment), tingkat pengetahuan (awareness) dan keterlibatan masyarakat masih rendah dan belum memiliki konsep pembangunan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan nominal dan pendapatan riil masyarakat sebelum dan sesudah adanya program CSR berbeda nyata. Untuk mendukung berhasilnya pengembangan masyarakat (community development) dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT. ABB, diperlukan sebuah solusi kemitraan antara pemerintah, PT. ABB dan masyarakat (kemitraan tripartit) dan program CSR dengan mengembangkan ekonomi masyarakat lokal yang sifatnya produktif.

Kata Kunci:

Corporate Social Responsibility, Pendapatan Masyarakat, Kemitraan Tripartit.

ABSTRACT

LOUISE BERNADETH BUDIARTI, THE ROLE OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) OF PT. ABB LIBEK PROJECT ON THE INCOME COMMUNITY OF MANDAU SUBREGENCY OF BENGKALIS REGENCY under consulate of Mr. Prof. Dr. Siro Juzilam, SE.

(11)

program has increased, however, many people was still have low income. It is the rationale of the present study. The objectives of the study are 1) To describe CSR form and concept of PT. ABB Libek Project that have been implemented to the community of Mandau Subregency. 2) To analyze the role of CSR in income of the community.

The metode/technique of data analysis used in this study included descriptive analysis and Compare Mean Analysis.

The results of study showed that CSR of PT. ABB Libek Project still not has a planning document and stratey yet, CSR is still considered to be a cost and still not considered it to be a social investment, including lower knowledge (awareness) and participation of the community is still lower and it still not has a concept of welfare development of the community. Nominal and real incomes of the community prior and after implementaion of CSR program was significantly different. To support the success of community development in Corporate Social Responsibility (CSR) of PT. ABB Libek Project, a solution of partnership among government, PT. ABB Libek Project and community is significantly required (tripartied partnership) by developing the productive local community.

Keywords :

(12)

1.1 . Latar Belakang

Perkembangan dunia industri dewasa ini telah mendorong setiap perusahaan untuk dapat mengoptimalkan keuntungannya di tengah-tengah persaingan dunia usaha yang semakin tinggi. Berbagai konsep manajemen diterapkan oleh perusahaan agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Namun untuk mewujudkan keuntungan yang optimal dan berkesinambungan, perusahaan tidak dapat hanya memperhatikan kepentingan perusahaan semata, melainkan harus juga memperhatikan kepentingan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya yakni pemerintah dan masyarakat setempat. Oleh karena itu maka perusahaan yang kini kian menyadari pentingnya keberadaan pemerintah dan masyarakat setempat dalam membantu terciptanya sustainable (keberlanjutan) dan pertumbuhan perusahaan, melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan.

(13)

alat reaktif jika ada ketidakpuasan masyarakat terhadap perusahaan. Tidak heran jika selama ini yang rajin melakukan program (CSR) ini hanyalah perusahaan yang rawan konflik dengan masyarakat. Padahal jika program ini dilaksanakan dengan efektif dan efisien, bukan hanya masyarakat yang diuntungkan, perusahaan pun bisa mendapatkan manfaat yang signifikan.

Setelah sepuluh tahun terakhir ini CSR telah menjadi salah satu isyu sosial maupun isyu pembangunan, yang menggelilitik begitu banyak pihak di Indonesia, kemudian negara memutuskan untuk mengaturnya melalui UU No. 40 mengenai Perseroan Terbatas pada tahun 2007. Melalui undang-undang tersebut CSR lebih difokuskan kepada kewajiban perusahaan untuk melaksankan Tanggung Jawab sosial dan Lingkungan (TSL) yaitu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam ataupun kegiatannya terkait dengan sumber daya alam sehingga undang-undang tersebut dirasakan diskriminatif sementara di lain pihak, hal ini membahagian bagi perusahaan-perusahaan yang merasa bahwa bidang usahanya tidak terkena kewajiban untuk melakukan CSR.

(14)

menyatakan CSR bersifat wajib (mandatory), dengan alasan kewajiban tersebut dapat mengajak perusahaan yang belum menjalankan CSR, untuk segera mejalankannya.

Kasus pemblokiran jalan oleh warga di Papua terhadap kendaraan-kendaraan milik Freeport, kasus gugatan warga terhadap Newmont di Buyat dan kasus PT. Inti Indo Rayon di Kecamatan Porsea yang mengalami konflik dengan masyarakat sekitar sehingga operasi pabrik sempat dihentikan, menggambarkan bagaimana kekecewaan warga terhadap ketidakpekaan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah-wilayah tersebut. Dalam bahasa praksis, kepekaan sosial ini diwujudkan melalui program Corporate Social Responsibilities (CSR). Program sejatinya merupakan manifestasi dari kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dimana ia melaksanakan usaha. Hanya sayangnya, kepedulian ini kerap baru muncul setelah timbul masalah dengan masyarakat. Jadi, ada preseden buruk yang secara umum terjadi bahwa CSR dijadikan senjata untuk memadamkan keresahan sosial akibat keberadaan suatu perusahaan. Hal ini mengakibatkan antara masyarakat dan perusahaan seolah terdikotomi. Pada akhirnya program CSR akan menjadi tidak efektif. Terbukti akibat lemahnya program CSR yang dimiliki oleh PT Freeport Indonesia, operasi perusahaan sempat terhenti. Kalau sudah begitu, perusahaan juga yang rugi. Padahal, dari sisi korporat sebenarnya Freeport sudah menjalankan program CSR ke masyarakat, hanya saja berjalan tidak efektif.

(15)

untuk PT. Chevron Pacific Indonesia ini telah menerapkan berbagai program-program sebagai wujud tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat yang berada di kawasan operasional perusahaan tersebut yakni di Kecamatan. Mandau Kabupaten Bengkalis.

PT. ABB Libek Project yang mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan pengamanan terhadap segala asset PT. Chevron Pacific Indonesia yang meliputi asset-aset personil, materil, dokumen, serta kegiatan operasional sehingga terlaksana suasana aman dan tenteram, merupakan salah satu dari ratusan perusahaan kontraktor yang menjadi bisnis partner perusahaan raksasa penghasil minyak bumi, PT. Chevron Pacific Indonesia. Selain kepada PT. Chevron Pacific Indonesia, PT. ABB juga telah banyak digunakan jasanya oleh perusahaan-perusahaan besar di seluruh Indonesia.

(16)

Sejak tahun 2007, PT. ABB Libek Project mempunyai program pengembangan masyarakat (community development) yaitu merekrut masyarakat lokal (putra daerah) baik yang memiliki ijasah/berpendidikan maupun yang tidak memiliki ijasah (khususnya suku Sakai) untuk dilatih sebagai security dan kemudian diangkat menjadi karyawan PT. ABB. Libek Project. Melalui program ini PT. ABB Libek Project disamping bertujuan agar semakin mempermudah dalam menjalankan tugasnya karena beroperasi di daerahnya sendiri, juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal yang sebelumnya menggantungkan hidup dari hasil memancing di sungai, kini memperoleh pendapatan yang tetap setiap bulannya.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Adonara Bakti Bangsa Libek Project terhadap pendapatan masyarakat Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis”.

1.2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka diperoleh permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. ABB Libek Project yang telah diimplementasikan di Kecamatan Mandau?

(17)

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan wujud CSR PT. ABB Libek Project yang telah diimplementasikan pada masyarakat Kecamatan Mandau.

2. Menganalisis pengaruh CSR PT. ABB Libek Project terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Kecamatan Mandau.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:

1. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya, penelitian ini dapat menjadi bahan studi dan tambahan ilmu pengetahuan.

2. Bagi kalangan akademisi, penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan bagi penelitian lebih lanjut untuk meneliti topik yang sama.

(18)

2.1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi trend global dikarenakan perusahaan/korporasi sesungguhnya tidak hanya memiliki tanggung jawab ekonomis kepada para Stakeholder seperti memperoleh profit dan menaikkan harga saham, tanggung jawab kepada pemerintah seperti membayar pajak, memenuhi persyaratan Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) dan ketentuan lain harus disertai tanggung jawab yang bersifat sosial dan tidak hanya dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line saja.

(19)

Sumber: Elkington, 1997

Gambar 1. Hubungan Garis Segitiga (Triple Bottom Line)

Dalam gagasan tersebut, perusahaan tidak lagi diharapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi financial-nya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya.

Achwan (2006), mengemukakan dua tesis yang melatarbelakangi perkembangan wacana CSR, yang pertama adalah bahwa konsep CSR merupakan suatu bentuk kemampuan adaptasi perubahan perusahaan modern dalam menyesuaikan dirinya dengan perubahan sosial politik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Tesis kedua mengatakan, konsep CSR sebagai bentuk respon perusahaan modern dalam ekonomi pasar untuk mempertahankan dominasinya terhadap setiap tantangan publik yang mengganggu kekuasaannya (Corporate Power) dengan membangun aliansi dengan lembaga atau aktor strategis.

Lingkungan

(Planet) Ekonomi (Profit)

(20)

Pergulatan wacana tersebut bermuara pada tiga definisi dan praktik CSR, definisi yang pertama berangkat dari asumsi the business of business is business, bahwa setiap perusahaan pada hakekatnya memiliki tujuan tunggal yaitu memaksimalkan keuntungan kepada pemiliknya dan keberadaannya dipercaya dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Inti dari definisi yang pertama ini lebih merupakan penolakan terhadap prinsip-prinsip kedermawanan perusahaan, Community Development atau donasi yang dianggap bertentangan dengan hakekat perusahaan.

Definisi kedua adalah Corporate Voluntarism yang menekankan aspek kebajikan (virtue) dalam mengejar keuntungan. Asumsi dasar definisi ini yang pertama adalah bahwa setiap perusahaan dengan sukarela sesuai dengan kekuatan dan kelemahannya dapat mengembangkan CSR dan menolak campur tangan negara dalam mengatur perusahaan. Asumsi yang kedua beranggapan bahwa kepedulian terhadap masyarakat atau konsumen dapat mendorong keuntungan ekonomi suatu perusahaan, dan yang ketiga adalah bahwa keberadaan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat tempat perusahaan beroperasi.

(21)

Ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya.

Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan mesti menyadari bahwa mereka beroperasi dalam suatu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif dan ekploratif, di samping sebagai kompensasi sosial karena timbulnya ketidaknyamanan (discomfort) pada masyarakat, semua ini diimplementasikan karena memang ada regulasi, hukum, dan aturan yang memaksa karena adanya market driven. Kesadaran tentang pentingnya mengimplementasikan CSR ini menjadi tren seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial.

(22)

untuk menciptakan keuntungan (profit) demi kelangsungan bisnisnya, melainkan juga tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam bahkan menghindari konflik sosial. Potensi konflik itu bisa berasal akibat dampak operasional perusahaan ataupun akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen perusahaan, dan dipraktekkan lebih karena faktor eksternal (external driven). Hampir bisa dipastikan implementasi adalah sebagai upaya dalam konteks kehumasan (public relation) merupakan kebijaksanaan bisnis yang hanya bersifat kosmetik.

The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), lembaga internasional yang berdiri tahun 1995 dan beranggotakan lebih dari 120 multinasional company yang berasal dari 30 negara, dalam publikasinya Making Good Business Sense mendefinisikan CSR atau Tanggung Jawab Sosial perusahaan, sebagai “Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large.” Maksudnya adalah komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.

(23)

menyangkut ukuran dan pematangan perusahaan, Ketiga, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur oleh pemerintah.

Kotler (2005), mengungkapkan bahwa CSR hendaknya bukan merupakan aktivitas yang hanya merupakan kewajiban perusahaan secara formalitas kepada lingkungan sosialnya, namun CSR seharusnya merupakan sentuhan moralitas perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Selanjutnya Philip Kotler dan Nancy Lee (2005), berpendapat bahwa aktivitas CSR haruslah berada dalam koridor strategi perusahaan yang diarahkan untuk mencapai bottom line business goal seperti mendongkrak penjualan dan pangsa pasar, membangun positioning merk, menarik, membangun, memotivasi loyalitas karyawan, mengurangi biaya operasional hingga membangun citra korporat dipasar modal. Dengan argumentasi tersebut dapat dilihat bahwa CSR bukan merupakan aktivitas tempelan atau yang terpinggirkan, tapi merupakan denyut nadi perusahaan.

LEAD Indonesia dan LABSOSIO FISIP UI (2005), menyebutkan bahwa dalam banyak kasus yang melibatkan industri ekstraktif dengan masyarakat sering kali program Community Development mendominasi praktek CSR sebagai upaya pendekatan khusus untuk mencegah konflik. Hal tersebut menyebabkan konsepnya menjadi tersederhanakan atau disamakan dengan kegiatan Community Development, padahal CSR merupakan konsep yang mencakup berbagai kegiatan dimana salah satunya adalah kegiatan Community Development.

(24)

lingkungannya yang didasarkan pada etika. Secara umum etika dipahami sebagai aturan tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengarahkan perilaku seseorang atau kelompok masyarakat mengenai baik atau buruk dalam pengambilan kebijakan atau keputusan.

Terdapat tiga pendekatan dalam proses pembentukan tanggung jawab sosial tersebut:

1. Pendekatan moral, yaitu kebijakan atau tindakan yang didasarkan pada prinsip kesantunan dengan pengertian bahwa apa yang dilakukan tidak melanggar atau merugikan pihak-pihak lain secara sengaja.

2. Pendekatan kepentingan bersama, yaitu bahwa kebijakan-kebijakan moral harus didasarkan pada standar kebersamaan, kewajaran dan kebebasan yang bertanggung jawab.

3. Pendekatan manfaat, adalah konsep tanggungjawab sosial yang didasarkan pada nilai-nilai bahwa apa yang dilakukan oleh perusahaan menghasilkan manfaat besar bagi pihak-pihak berkepentingan secara adil.

Suharto (2005), menyebutkan konsep CSR merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di seputar perusahaan yang keberadaannya telah memunculkan masalah sosial ekonomi yang tajam antara ‘masyarakat’ perusahaan dengan penduduk lokal, dan pemiskinan struktural masyarakat setempat lewat ekploitasi dan perusakan lingkungan yang dilakukan perusahaan.

(25)

fenomena DEAF (dalam Bahasa Inggris disebut tuli) sebuah akronim dari Dehumanisasi, Equalisasi, Aquariumsasi dan Feminisasi (Suharto, 2005), dimana munculnya fenomena-fenomena tersebut adalah karena terciptanya persoalan hubungan, tuntutan dan lain-lain antara masyarakat perusahaan dan masyarakat sekitar perusahaan.

Carrol dalam Poerwanto (2006) membagi Tanggung Jawab Sosial perusahaan ke dalam empat kriteria:

1. Tanggung jawab sosial ekonomi, dimana perusahaan harus dioperasikan dengan berbasis laba serta dengan misi tunggal untuk meningkatkan keuntungan selama berada dalam batas-batas peraturan pemerintah.

2. Tanggung jawab sosial sebagai tanggungjawab legal, dimana kegiatan bisnis diharapkan untuk memenuhi tujuan ekonomi para pelaku dengan berlandaskan kerangka kerja legal maupun nilai-nilai yang berkembang di masyarakat secara bertanggung jawab.

3. Tanggung jawab sosial sebagai tanggungjawab etika, yang didefinisikan sebagai kebijakan dan keputusan perusahaan yang didasarkan pada keadilan, bebas dan tidak memihak, menghormati hak-hak individu, serta memberikan perlakuan berbeda untuk kasus yang berbeda yang menyangkut tujuan perusahaan.

(26)

Tanggungjawab Sukarela

Tanggungjawab Etik

Tanggungjawab Legal

Tanggungjawab Ekonomi

Sumber: Poerwanto, 2006

Gambar 2. Empat Kriteria Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Model Carrol Dari keempat kriteria tanggung jawab sosial perusahaan tersebut, tanggung jawab sosial sebagai tanggung jawab sukarela menjadi kriteria ideal untuk membangun suatu pola kemitraan dalam suatu model program pemberdayaan masyarakat. Melalui kriteria tersebut kemitraan akan menjadi garis tegas yang memisahkan motif tanggung jawab sosial perusahaan, antara tindakan ekonomi untuk memaksimalkan keuntungan dengan tindakan sosial sukarela.

(27)

ekonomi masing-masing partisipan lebih menyesuaikan tindakannya dengan nilai ekonomi yang diharapkan dari kemitraan.

Konsep tanggungjawab sosial pada perkembangannya telah memunculkan konsep baru, yakni konsep Investasi Sosial Perusahaan (Corporate Social Investment). Konsep ini lebih merupakan suatu kritik terhadap konsep CSR yang dianggap filantropis dengan hanya melibatkan program-program sosial jangka pendek dan pemberian uang atau barang dari perusahaan bagi sekelompok masyarakat. Konsep CSI (Corporate Social Investment) umumnya memiliki dampak yang berdimensi lebih luas dan jangka panjang (sustainable). Konsep CSI juga tidak dipandang semata-mata sebagai bentuk pelunasan tanggung jawab sosial perusahaan, namun lebih jauh sebagai bagian dari rekayasa sosial dan strategi perusahaan yang rasional, terencana dan berorientasi pada keuntungan sosial jangka panjang bagi pihak perusahaan maupun masyarakat. Masyarakat juga mempunyai peran penting sebagai pendukung sosio-ekonomi sustainability dimana masyarakat diharapkan dapat mengoreksi dampak negatif perusahaan serta aktif menjadi dinamisator keberdayaan publik. Partisipasi aktif dari komunitas lokal dalam setiap pelaksanaan CSR sangat diperlukan sehingga memberi manfaat hubungan timbal balik (mutual benefit) dengan perusahaan atau korporasi.

(28)

Responsibility (CSR) dengan adanya prioritas corporate, manajemen terpadu, proses perbaikan, pendidikan bagi karyawan, pengkajian, produk dan jasa, informasi publik, fasilitas operasi, penelitian, prinsip pencegahan, kontraktor dan pemasok, siaga menghadapi darurat, transfer best practise, memberi sumbangan, dan keterbukaan serta pencapaian dalam pelaporan.

Kasali (2005), menyatakan stakeholders bisa berarti pula setiap orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan. Ibarat sebuah jagad yang di kelilingi planet-planet, maka perusahaan juga di kelilingi dengan stakeholders dan membagi stakeholders menjadi sebagai stakeholder internal dan stakeholders eksternal.

Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada di dalam lingkungan organisasi perusahaan, misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder) serta keluarga karyawan. Stakeholders eksternal adalah pihak-pihak yang berada di luar kendali perusahaan (uncontrollable). Pemimpin perusahaan perlu membekali diri dengan teknik untuk mendesain organisasinya sesuai dengan keadaan lingkungan eksternalnya. Beberapa stakeholders eksternal diantaranya adalah konsumen, penyalur, pemasok, pemerintah, pers, pesaing dan komunitas atau masyarakat.

(29)

anak-anak karyawan dan menyediakan ruang perawatan bayi atau taman bermain anak dan setelah itu baru melihat dan mengimplementasikan CSR ke luar perusahaan secara eksternal (Koestoer, 2007 dalam www. swa.co.id)

2.2. Pengembangan Masyarakat (Community Development) dalam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)

Pengembangan Masyarakat (Community Development) dapat digambarkan sebagai berikut: dari aspek keterlibatan masyarakat, praktek Community Development dapat dikelompokkan ke dalam 3 bentuk, yaitu: development for community, development with community dan development of community.

Development for community adalah bentuk Community Development dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilaksanakan oleh aktor luar. Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian, melakukan konsultasi, dan melibatkan tokoh setempat namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek.

Development with community ditandai secara khusus dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak.

(30)

membangun dirinya sendiri. Peran aktor dari luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan.

Ketiga pendekatan tersebut pada dasarnya memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu memperbaiki kualitas kehidupan dan kelembagaan masyarakat lokal. Perbedaan yang ada lebih berada pada sarana (means) yang dipakai. Efektivitas sarana ini sangat ditentukan oleh konteks dan karakteristik masyarakat yang dihadapi. Pada masyarakat tertentu mungkin pendekatan development for community lebih sesuai sementara pada masyarakat yang lain development with community justru yang dibutuhkan.

Faktor utama yang menentukan pemilihan ketiga pendekatan tersebut adalah seberapa jauh kelembagaan masyarakat telah berkembang. Pada masyarakat yang kelembagaannya sudah lebih berkembang development of community akan lebih tepat. Pada saat ini community development telah mengalami proses pengkayaan sehingga menjadi sebuah pendekatan yang multi aspek, dan sekarang secara umum terdiri dari beberapa aspek kunci sebagai berikut:

a. Adalah sebuah proses ”akar rumput”. b. Menjadi lebih swadaya (self reliance).

c. Berkembang menjadi komunitas pembelajar (learning Community). d. Berkurangnya kerentanan dan kemiskinan.

e. Terciptanya peluang ekonomi dan mata pencaharian yang berkelanjutan. f. Menguatnya modal sosial.

(31)

Sering terjadi Pengembangan Masyarakat (Community Development) justru mengubah keseimbangan elemen-elemen dalam masyarakat yang ada dalam jangka panjang akan merugikan masyarakat. Community Development sebaiknya dilaksanakan dengan mempertahankan perspektif keseimbangan yang ada dalam masyarakat lokal.

Secara umum Pengembangan Masyarakat (Community Development) dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangunan, sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Dengan community development sebuah aktualisasi dari CSR yang lebih bermakna dari pada sekedar aktivitas charity ataupun dimensi-dimensi lainnya, antara lain yaitu community relation yang hanya mengembangkan hubungan yang dinamis. Dalam pelaksanaan community development bersama-sama antara perusahaan dengan komunitas, adanya partisipasi, produktifitas dan keberlanjutan.

(32)

Metamorfosis aktualisasi kontribusi Sumbangan Sosial Perusahaan dapat di lihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Tahap-tahap Kedermawanan Sosial

Paradigma Charity Philanthropy Good Corporate Citizenship (GCC)

Motivasi Agama, tradisi, adaptasi

Misi Mengatasi masalah

setempat

Pengorganisasian Kepanitiaan Yayasan/dana abadi/ profesionalitas

Keterlibatan baik dana maupun sumber daya lain

Penerima Manfaat

Orang miskin Masyarakat luas Masyarakat luas dan perusahaan

Kontribusi Hibah sosial Hibah pembangunan Hibah (sosial & pembangunan serta keterlibatan sosial)

Inspirasi Kewajiban Kepentingan bersama

Sumber: Zaidi, 2003

2.3. Kemitraan dalam Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan

Governance

(33)

koordinator dalam perekayaaan perkembangan masyarakat dalam pengentasan masyarakat miskin (proverty community).

Sulistiyani (2004), menyatakan model kemitraan idealnya mencerminkan pembagian yang setara kepada tiga aktor pembangunan, yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Model kemitraan yang setara akan memberi citra positif bagi pemerintah dengan berlaku transparan dan mengembangkan kemitraan yang partisipatif.

Budimanta, Prasetijo dan Rudito (2004), mengibaratkan corporate social responsibility dan good governance sebagai dua sisi dari satu mata uang yang menjadikan masyarakat sebagai komunitas dan sebagai warga negara sebagai fokusnya serta pendekatan stakeholders sebagai pelakunya. Konteks implementasi corporate sosial responsibility, partisipasi masing-masing stakeholdelrs sangat menentukan berjalannya usaha pengembangan masyarakat yang sekaligus juga memberikan keuntungan bagi perusahaan dan masyarakat.

(34)

program dalam struktur pengembangan yang sudah terpadu dan terencana dalam program community development yang dibangun secara bersama.

Tiga skenario kemitraan menurut Wibisono (2007), yaitu kemitraan antara perusahaan dengan pemerintah maupun dengan komunitas/masyarakat sebagai berikut:

1. Pola Kemitraan Kontra Produktif

Pola ini akan terjadi jika perusahaan masih berpijak pada pola konvensional yang hanya mengutamakan kepentingan pemilik modal (shareholders) yaitu mengejar keuntungan (profit) sebesar-besarnya. Fokus perhatian perusahaan memang lebih tertumpu pada bagaimana perusahaan bisa meraup kentungan secara maksimal, sementara hubungan dengan pemerintah dan komunitas atau masyarakat hanya sekedar pemanis belaka. Perusahaan berjalan dengan targetnya sendiri, pemerintah juga tidak ambil peduli, sedangkan masyarakat tidak mempunyai akses apapun kepada perusahaan.

2. Pola Kemitraan Semi Produktif

(35)

mengedepankan aspek kariatif atau public relation dimana pemerintah dan komunitas atau masyarakat masih lebih dianggap sebagai objek. Dengan kata lain, kemitraan masih belum strategis dan masih mengedepankan kepentingan sendiri (self interest) perusahaan, bukan kepentingan bersama (common interest) antara perusahaan dengan mitranya.

3. Pola Kemitraan Produktif

Pola kemitraan ini menempatkan mitra sebagai subjek dan dalam paradigma kepentingan umum (common interest). Prinsip saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) sangat kental pada pola ini. Perusahaan mempunyai kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi, pemerintah memberikan iklim yang kondusif bagi dunia usaha dan masyarakat memberikan support positif kepada perusahaan. Bahkan bisa jadi mitra dilibatkan pada pola hubungan berbasis sumber daya (resource-based partnership) dimana mitra diberi kesempatan menjadi bagian dari shareholders.

Menurut Parson (2005), sistem delivery model campuran sektoral, merupakan model yang sangat dinamis dan paling sempurna. Sistem ini terdiri dari campuran tanggung jawab publik dan privat, dan antara sektor sukarela (lembaga swadaya) dengan agen komunitas. Kerjasama keempat sektor tersebut sangat dimungkinkan terjadi dalam bidang kebijakan yang bersifat sosial dengan sifat hubungan yang saling menguntungkan.

(36)

sedangkan sektor privat selain bisa mendapatkan keuntungan finansial juga bisa mendapatkan keuntungan dari promosi dan pengakuan akan tanggung jawab sosial dan etika bisnis mereka.

Kompleksitas model kemitraan dalam pembiayaan sektor privat dapat mendukung aktivitas sukarela yang berasosiasi dengan pemerintah dan pemerintah dapat memilih dan menyampaikan kebijakan melalui sektor sukarela dan mendapatkan dana dari hibah, jejaring pendanaan dan dukungan yang memfasilitasi pertukaran dana, keahlian dan komitmen.

Namun kompleksitas hubungan kepentingan di antara stakeholders dan motif perusahaan merealisasi program CSR tidak terlepas dari substansi serta pendekatan yang diadopsi dalam merealisasi program. Menurut Mulyadi (2003) rendahnya tingkat partisipasi stakeholders, khususnya masyarakat dan pemerintah daerah, mengakibatkan tidak terkoordinasinya program yang dijalankan perusahaan dengan program pembangunan regional yang dijalankan pemerintah daerah serta ketidak sesuaian program dengan kebutuhan masyarakat. Namun sebaliknya, banyaknya stakeholders yang terlibat sebagai partisipan dalam program CSR perusahaan dapat menjadi potensi konflik baru apabila setiap stakeholders memiliki kepentingan yang berbeda, saling berseberangan dan sangat mungkin saling merugikan satu sama lain.

(37)

garis hubungan antar sektor (secara timbal-balik) dengan memahami fungsi masing-masing sektor dan sektor di sebelahnya. Hubungan dari berbagai pihak tersebut dapat dilihat pada skema garis hubungan di bawah ini:

Sumber: Modifikasi dari Soepomo, 2002

(38)

Dwiyanto (2004) menyebutkan tiga dimensi yang menjadi ciri governance: 1. Dimensi kelembagaan dimana sistem administrasi dilaksanakan dengan

melibatkan banyak pelaku (multi stakeholders) baik dari pemerintah maupun dari luar pemerintah.

2. Dimensi nilai yang menjadi dasar tindakan administrasi lebih kompleks dari sekedar pencapaian efisiensi dan efektifitas namun lebih mengakodomir nilai-nilai universal seperti keadilan, partisipasi, kesetaraan, demokratisasi dan nilai-nilai lain yang terkandung dalam norma kehidupan masyarakat.

3. Dimensi proses, dimana proses administrasi merupakan suatu tindakan bersama yang dikembangkan dalam bentuk jaringan kerja untuk merespon tuntutan dan kebutuhan publik melalui upaya formulasi dan implementasi kebijakan publik.

Selanjutnya Dwiyanto (2004) menekankan konsep governance pada pelaksanaan fungsi memerintah (governing) yang dilaksanakan secara bersama-sama (kolaboratif) oleh lembaga pemerintah, semi pemerintah, dan non pemerintah yang berlangsung setara (balance) dan multi arah (partisipatif).

2.4. Penelitian Terdahulu

(39)

program, karena terdapat bias dari implementasi program community development tersebut dilihat dari indikator output, disebabkan Pertamina tidak memiliki mekanisme dan kriteria standar baku yang dibuat menjadi kebijakan formal.

Zaleha (2008), dalam penelitiannya yang berjudul ”Peranan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Inalum Divisi PLTA Siguragura Terhadap Pengembangan Sosio Ekonomi Masyarakat Pintupohan Meranti Kabupaten Toba Samosir ” menyimpulkan bahwa CSR PT. Inalum belum memiliki dokumen perencanaan dan strategi, masih dianggap biaya (cost) dan belum dianggap sebagai Investasi Sosial (Social Investment), tingkat pengetahuan (awareness) dan keterlibatan masyarakat masih rendah dan belum memiliki konsep pembangunan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan, pendapatan nominal dan pendapatan riil karyawan sebelum dan sesudah adanya program CSR berbeda nyata. Pendidikan dan pendapatan nominal masyarakat sebelum dan sesudah adanya program CSR berbeda nyata, tetapi pendapatan riil masyarakat tidak berbeda nyata. Peningkatan pendidikan masyarakat lebih tinggi dari karyawan karena didukung oleh faktor sosial budaya masyarakat (Batak Toba) yang sangat mengutamakan pendidikan anak.

(40)

korelasi negatif. Hal ini menunjukkan aktivitas pasar cenderung turun seiring kenaikan modal CSR, karena pembangunan pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat dan infrastruktur pendukung lainnya tidak bermanfaat dalam mengembangan masyarakat. Program CSR yang diluncurkan masih lebih banyak bersifat konsumtif.

2.5. Kerangka Pemikiran Penelitian

Berkenaan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka digambarkan kerangka pemikiran yang menjelaskan peranan Corporate Social Responsibilty (CSR) PT. ABB Libek Project terhadap Peningkatan Pendapatan masyarakat Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.

Gambar 4. Kerangka Pemikiran Corporate Social Responsibilty (CSR) PT. ABB Libek Project

CSR PT. ABB LIBEK PROJECT

1. Bidang Pengembangan Ekonomi

2. Bidang Sosial (Pendidikan, Sosial

dan SDM)

3. Bidang Pembangunan Infrastruktur

4. Bidang Keamanan Lingkungan

Pendapatan

PT. ABB LIBEK PROJECT

(41)

2.6. Hipotesis Penelitian

(42)

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian.

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan di tiga desa yakni Desa Petani, Desa Pematang Pudu, dan Desa Air Jamban di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Daerah tersebut dipilih karena merupakan daerah operasional PT. ABB Libek Project dimana terdapat masyarakat yang menerima bantuan CSR dari PT. ABB Libek Project.

3.2. Populasi dan Sampel

(43)

tangga. Banyaknya sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin (Husein

Dengan rumus tersebut maka jumlah sampel penelitian adalah:

Dari 99 Rumah Tangga (RT) sampel, didistribusikan ke tiga desa tersebut. Jumlah sampel Rumah Tangga menurut desa (penerima manfaat CSR) diambil berdasarkan Proporsional Random Sampling, jumlah populasi dan sampel penelitian dapat dilihat pada Tabel berikut

Tabel 2. Jumlah Populasi dan Sampel Menurut Desa

No Level/Jabatan Jumlah Populasi (KK)

(44)

3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan Data Primer yaitu data yang diperoleh dengan melakukan penelitian secara langsung ke lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang diteliti, yang dapat dilakukan dengan:

a. Wawancara

Melakukan wawancara tentang besarnya bentuk dan jumlah bantuan, pelaksanaan kegiatan, pengetahuan dan keterlibatan masyarakat, kebijakan-kebijakan dalam menjalankan program, dan lain-lainnya dengan nara sumber yang representatif sebagai informan kunci (key informan) untuk mempresentasikan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) yaitu masyarakat, karyawan di PT. ABB Libek Project, lembaga-lembaga dan instansi terkait di Desa dan Kecamatan yang terlibat dalam program CSR PT. ABB Libek Project.

b. Penyebaran Kuisioner.

Alat bantu kuisioner disebarkan kepada responden yang dimaksudkan untuk menyaring data dari masyarakat dan karyawan PT. ABB Libek Project yang berhubungan dengan variabel yang akan diteliti.

3.3.2. Pengumpulan Data Sekunder

(45)

3.4. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui bagaimana konsep pelaksanaan CSR yang telah diimplementasikan oleh PT. ABB Libek Project pada masyarakat Kecamatan Mandau digunakan analisis secara deskriptif.

Untuk menganalisis peran CSR terhadap peningkatan kondisi ekonomi masyarakat maka yang dianalisis adalah variabel pendapatan masyarakat. Untuk melihat apakah ada perbedaan pendapatan masyarakat melalui adanya program CSR PT. ABB Libek Project, maka dalam penelitian ini pendapatan yang dibandingkan adalah pendapatan Tahun 2005 dengan pendapatan tahun 2008. Adapun alasan peneliti menggunakan tahun 2005 dan tahun 2008 ialah karena CSR PT. ABB Libek Project mulai dilaksanakan di Kecamatan Mandau setelah tahun 2005 dan program tersebut masih berjalan sampai pada tahun 2008.

Untuk mengetahui apakah CSR berperan atau tidak akan dilihat apakah adanya CSR dapat meningkatkan pendapatan maka digunakan uji beda rata-rata (compare means) sebelum Program CSR dan setelah adanya Program CSR dengan rumus t-test (Gosset, 1998 dalam Sugiono, 2005):

x = rata-rata sampel data sebelum Program CSR

2

x = rata-rata sampel data setelah Program CSR

1

(46)

2

s = simpangan baku sampel setelah Program CSR

2 1

s = varians baku sampel data sebelum Program CSR

2 2

s = varians baku sampel data setelah Program CSR r = korelasi antara dua sampel

Dengan kriteria uji terima H1, tolak H0 jika t hit > t tabel (0,05) terima H0, tolak H1 jika t hit < t tabel (0,05)

Untuk mendukung dan memperkuat hipotesis pertama mengetahui CSR PT. ABB Libek Project berperan dalam meningkatkan pendapatan dan untuk mengetahui bahwa CSR berperan dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja maka dilakukan dengan Analisis Deskriptif.

3.5. Definisi Variabel Operasional Penelitian

Definisi Variabel Operasional Penelitian ini adalah :

1. Pendapatan adalah pendapatan atau hasil yang diperoleh dari sumber pendapatan yang diterima secara aktual oleh seorang penduduk tenaga yang diukur dengan rupiah (Rp).

(47)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Mandau

Secara geografis Kabupaten Bengkalis terletak di bagian pantai timur pulau Sumatera pada garis koordinat 20°30' Lintang Utara - 00°17' Lintang Utara dan 1000°52' Bujur Timur - 1020°10’ Bujur Timur.

Wilayah Kabupaten Bengkalis dialiri oleh beberapa sungai. Diantara sungai yang ada di daerah ini yang sangat penting sebagai sarana perhubungan utama dalam perekonomian penduduk adalah Sungai Siak dengan panjang 300 Km, Sungai Siak Kecil 90 Km dan Sungai Mandau 87 Km.

(Sumber: BAKOSURTANAL 1986 dan Bagian Tata Pemerintahan)

(48)

Dengan luas sebesar 11.481,77 Km2, Kabupaten Bengkalis yang tediri dari 13 Kecamatan yakni Kecamatan Bengkalis, Bantan, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Barat, Rangsang, Rangsang Barat, Mandau, Rupat, Rupat Utara, Siak Kecil dan Pinggir. Sebelah Utara, Kabupaten Bengkalis berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Siak, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau. Hampir 85% dari topografi Kabupaten Bengkalis adalah rendah dan hutan tropis dengan ketinggian rata-rata 2-6.1 meter diatas permukaan laut dan sebagian besar tipe tanah adalah organosol, sejenis tanah yang mengandung banyak substansi organik.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau 2007 bahwa penduduk Kabupaten Bengkalis pada tahun 2006 tercatat sebanyak 708.363 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 62 juta jiwa/km². Sekitar 58,81% dari penduduk bekerja di sektor pertanian dan sektor lainnya seperti pertambangan, industri, konstruksi, perdagangan, layanan transportasi dan aktivitas lainnya.

(49)

Malaka. Disamping minyak bumi, terdapat pula potensi tambang pasir yang sebagian besar terdapat di Pulau Rupat dan Rangsang serta potensi Gambut yang terdapat di Pulau Bengkalis, Tebing Tinggi dan Rangsang serta Deposit Batubara di Kecamatan Rupat.

Kabupaten Bengkalis terdiri dari 26 buah pulau besar dan kecil serta memiliki perairan yang cukup dan garis pantai yang panjang luas sehingga dapat dikatakan bahwa Kabupaten ini memiliki potensi sumber daya kelautan terutama di sektor perikanan. Pemanfaatan sumber daya perikanan disamping dilakukan melalui penangkapan ikan di laut juga dilakukan melalui budi daya, antara lain dengan sistem Tambak, Kolam, Jaring Apung dan Keramba.

Dari bidang Pertanian dan Holtikultura, komoditi unggulan dan andalan sub sektor perkebunan Kabupaten Bengkalis, yaitu: Karet, kelapa sawit, kelapa, cengkeh, kopi dan coklat. Hutan Kabupaten Bengkalis menyimpan berbagai flora dan fauna. Hutan Bakau banyak ditemui di sepanjang pesisir pantai, dan hasil hutan lainnya berupa kayu logpond, rotan, damar dan sebagainya, banyak digunakan untuk bahan baku industri. Kontribusi sektor industri Bengkalis dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto tanpa migas Bengkalis tahun 2004 sebesar 35,01 %.

(50)

kapasitas 20-25 kendaraan Roda Empat), dan Transportasi Udara (Bandara di Kec. Bukit Batu), Listrik, Air Bersih, Jaringan Telekomunikasi, Perbankan, dan Akomodasi (Hotel/ Penginapan) di Kota Bengkalis, Selat Panjang, Duri, Sungai Pakning, dan Tanjung Lapin.

4.1.1. Gambaran Umum Kecamatan Mandau

Kecamatan Mandau merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkalis dengan luas wilayah 937,47 km2. Menurut data BPS Kabupaten Bengkalis (2008), jumlah penduduk Kecamatan Mandau sebanyak 252.166 jiwa dan merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi se-Kabupaten Bengkalis. Pemerintahan Kecamatan Mandau berada di tengah-tengah Kota Duri (sebutan lain untuk Kecamatan Mandau) dan berbatasan langsung dengan Dumai di sebelah Utara, Kecamatan Pinggir di sebelah Selatan, dan Kecamatan Rantau Kopar di sebelah Barat.

(51)

dunia, yakni Duri Crude. Pada bulan November 2006, Ladang Minyak Duri atau Duri Steam Flood Field mencapai rekor produksi 2 Miliar barrel sejak pertama kali dieksplorasi pada tahun 1958.

Untuk menunjang produksi PT. CPI, di Duri terdapat ratusan perusahaan kontraktor, mulai dari yang besar seperti Schlumberger, Halliburton, dan Tripatra-Fluor, hingga perusahaan kontraktor kecil termasuk PT. Adonara Bakti Bangsa sebagai partner bisnis perusahaannya. Dengan demikian kota Duri dapat dikatakan sebagai kota industri karena terdapat ratusan perusahaan yang menjadi mitra bisnis PT. CPI dalam memproduksi minyak bumi. Tidak heran jika di kota ini mayoritas penduduknya menggantungkan hidup mereka pada perusahaan-perusahaan tersebut dengan bekerja baik sebagai pegawai PT. CPI yang menjadi pemberi kerja, maupun sebagai buruh di perusahaan-perusahaan kontraktor yang menjadi pelaksana tugas-tugas yang diberikan oleh PT. CPI. Mereka yang bekerja pada perusahaan-perusahaan umumnya para pendatang baik dari Pulau Sumatera maupun dari luar Pulau Sumatera (suku Minang, Melayu, Batak, Jawa, dll) dan pada tingkat ahli terdapat orang-orang asing yang berasal dari luar negeri.

(52)

pendidikan. Mereka umumnya hidup dari hasil memancing ikan di sungai. Namun akhir-akhir ini mereka sudah ada yang menduduki bangku pendidikan sampai tingkat menengah atas.

Selain bekerja di perusahaan, penduduk Kecamatan Mandau yang mayoritas beragama Islam dan didominasi oleh suku Minang ini banyak yang berprofesi sebagai pedagang. Penduduk lainnya adalah suku Melayu sebagai suku terbesar kedua dan kemudian Batak, Jawa, dan Bugis, memiliki profesi yang beragam. Sedangkan etnis Cina banyak terdapat di pusat kota, dengan berwirausaha dan berdagang.

Meskipun Kecamatan Mandau adalah daerah penghasil minyak tidak berarti bahwa kecamatan ini menjadi kota yang makmur dan maju. Sampai saat ini kota Duri hanya terdiri dari dua jalan utama, yaitu Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Hang Tuah. Di Pokok Jengkol, Jalan Raya Dumai-Pekanbaru yang merupakan bagian dari Jalan Raya Lintas Sumatera bercabang dua. Satu menjadi Jalan Sudirman yang merupakan pusat kota lama dan satu menjadi Jalan Hang Tuah yang menjadi pusat pertumbuhan baru. Di Jalan Sudirman terdapat pasar terbesar di Duri dan dua supermarket besar dan beberapa swalayan. Hotel, Kantor pos, kantor kecamatan yang dilengkapi dengan gedung pertemuan Bathin Batuah, Puskesmas, restoran, dan beberapa toko buku. Jalan ini merupakan pusat aktivitas ekonomi Kota Duri.

(53)

berbintang dua dan beberapa tempat makan kota Duri juga terdapat di jalan ini. Kedua jalan itu bertemu kembali di Simpang Garoga.

4.2. Profil Perusahaan PT. Adonara Bakti Bangsa Libek Project

Potensi alam Duri yang kaya akan minyak bumi telah dimanfaatkan oleh PT. PT. CPI sejak tahun 50-an. Untuk mengamankan seluruh aset PT. CPI yang tidak sedikit itulah maka PT. Adonara Bakti Bangsa (PT. ABB Libek Project) berada di Kecamatan Mandau sejak tahun 2006 hingga sekarang ini.

PT. ABB berdiri dan menempatkan pusatnya di Jakarta sejak tahun 2000. Perusahaan nasional yang bergerak di bidang jasa pengamanan ini telah banyak digunakan jasanya oleh perusahaan-perusahaan besar di seluruh Indonesia antara lain: PT. CPI di Dumai dan Duri, PT. Exxon Mobil Oil di Blok Cepu, PT. Antam di Bangka dan banyak perusahaan lain yang tersebar di Indonesia.

(54)

dan Kecamatan Pinggir yang termasuk dalam Kabupaten Bengkalis dan Kecamatan Kandis di Kabupaten Siak serta Kecamatan Rantau Kopar serta Kecamatan Kunto Darrusalam yang termasuk dalam Kabupaten Rokan Hilir.

Visi dan Misi PT. ABB. Visi PT. ABB adalah:

PT. ABB bertekad untuk berbakti pada bangsa dengan menjadi perusahaan penyedia jasa keamanan dan penyelamatan dengan layanan kelas dunia serta memberikan manfaat tertinggi bagi para pengguna jasa dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Sedangkan Misi PT. ABB adalah:

PT. ABB bertujuan memberikan yang terbaik dalam layanan keamanan bagi pengguna jasa dengan manfaat menyeluruh dan dengan efisiensi tinggi.

4.3. Konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT. ABB Libek Project

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT. ABB Libek Project adalah tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat lokal agar dapat menciptakan hubungan timbal-balik yang menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat.

(55)

sama terulang kembali maka PT. ABB Libek Project melaksanakan CSRnya secara eksternal kepada masyarakat sekitar operasional perusahaan.

Pelaksanaan CSR PT. ABB Libek Project mulai dilaksanakan sejak tahun 2006 meski pada awalnya masih bersifat memenuhi permintaan (request) yang masuk dari masyarakat yang membutuhkan hingga kini mulai menetapkan anggaran tetap tiap bulannya untuk CSR ini.

Tanggung Jawab Sosial (CSR) Perusahaan yang telah dilaksanakan oleh PT. ABB Libek Project terhadap masyarakat yang berada di sekitar daerah operasionalnya adalah sebagai berikut:

1. Bidang Pengembangan Ekonomi, yaitu: a. Membuka lapangan kerja

(56)

b. Dana koordinasi

Sejak tahun 2006 setelah terjadinya konflik dengan masyarakat sekitar sumur minyak yang mengakibatkan terganggunya proses operasional PT. CPI di lokasi tersebut maka PT. ABB Libek Project mengambil kebijaksanaan yaitu memberikan dana koordinasi kepada masyarakat sekitar agar terjalin kerjasama yang baik dan saling menguntungkan antara pihak perusahaan dan masyarakat di daerah operasionalnya. Dana koordianasi merupakan salah satu bentuk hubungan mutualisme yang dilaksanakan oleh PT. ABB Libek Project dimana masyarakat setempat (pemuda-pemuda) mendapatkan dana rutin bulanan sedangkan perusahaaan tidak perlu takut lagi akan gangguan dari masyarakat setempat bahkan perusahaan dibantu dengan informasi-informasi jikalau ada pihak-pihak luar yang ingin mencuri ataupun mengganggu jalannya operasional perusahaan. 2. Bidang Sosial

Pembangunan bidang sosial CSR PT. ABB Libek Project dilaksanakan dengan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang berada di sekitar daerah operasionalnya.

a. Pendidikan

(57)

lainnya sebanyak kepada 200 orang murid melalui kepala sekolah SDN. 016 di Desa Rantau Kopar.

b. Bantuan Dana/Sumbangan

Berdasarkan pemantauan karyawan di sekitar daerah operasionalnya, PT. ABB Libek Project pada tahun 2008 memberikan dana santunan kepada anak-anak yatim yang kurang mampu sebanyak 100 orang di keempat sektor area Libek Project. Selain itu perusahaan juga memberikan setiap tahunnya bantuan dana dalam Perayaan HUT RI kepada masyarakat yang ada di sekitar daerah operasional perusahaan.

c. Bantuan Keagamaan

(58)

3. Bantuan Pembangunan/Infrastruktur

Pada tahun 2007 PT. ABB Libek Project membangun kamar mandi Masjid Ta’uruf Rangau. Selain itu juga perusahaan pernah membangun lapangan badminton dan memberikan berbagai perlengkapannya dalam rangka Perayaan HUT RI tahun 2007 untuk masyarakat yang berada di dekat kantor PT. ABB Libek Project, Jl. Seismik Kec. Pinggir.

4. Bidang Keamanan Lingkungan

PT. ABB Libek Project yang sehari-harinya bertugas di bidang pengamanan terhadap mitra bisnisnya yaitu PT. CPI juga memberikan kontribusi yang nyata terhadap masyarakat di lingkungan sekitar operasional khususnya dalam bidang keamanan lingkungan. Selama lebih dari dua tahun bekerja di Libek Project, perusahaan selalu diterima beroperasi oleh masyarakat setempat karena perusahaan telah membina hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar dan masyarakat juga dapat turut merasakan keamanan di lingkungan mereka melalui kehadiran petugas dari perusahaan ini yang berada setiap saat untuk memberikan pengamanan di lingkungan mereka.

4.4. Kebijakan Pelaksanaan Program

(59)

1. Bisnis PT. ABB harus berjalan tumbuh dan berkembang tanpa ada gangguan (konflik), oleh sebab itu CSR yang diimplementasikan harus memberi manfaat bagi perusahaan.

2. Masyarakat sekitar perusahaan PT. ABB Libek Project tidak terganggu dengan berjalannya operasionalisasi perusahaan, aman, terjaga dan saling memberi manfaat timbal balik.

Sejak berdiri dan beroperasinya PT. ABB, CSR secara internal telah berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan fasilitas fisik dan sosial kepada karyawan telah diberikan secara memadai dengan kualitas dan kualifikasi standar.

Belum adanya dokumen perencanaan dan strategi dalam mencapai target yang ingin dicapai untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, terutama exit strategi menunjukkan program CSR belum memiliki program yang memandirikan dan memberdayakan masyarakat dengan perencanaan program CSR yang lebih tepat. Melalui perumusan masalah, mendeteksi potensi yang dimiliki oleh masyarakat merupakan kunci utama perencanaan program CSR. Melalui tahap ini maka perencanaan dengan perumusan bersama yaitu antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat akan mampu menggali dan kekuatan yang ada pada masyarakat.

(60)

sebatas melaksanakan program di beberapa bidang yang direncanakan saja, belum dimaknai dengan sungguh-sungguh dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa stakeholder sebagai informan kunci (key informan) dan alat bantu kuisioner yang disebar kepada responden ditemukan fakta bahwa masyarakat sama sekali belum pernah dilibatkan dalam perencanaan aktivitas CSR-nya. Fakta tersebut didukung hasil indepth interview yang dilakukan dengan manajemen PT. ABB Libek Project dan diperoleh fakta bahwa tahap perencanaan program CSR belum melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat. Hal ini yang mendorong belum sinerginya pelaksanaan program CSR dengan dengan stakeholder yang ada.

Perencanaan masih dilakukan secara internal dan setiap tahun yang disebut tahun fiskal, semua divisi merencanakan program yang akan dilakukan dan didiskusikan dengan internal perusahaan program mana yang diprioritaskan untuk dilaksanakan, dan relatif belum ada keterlibatan (hearing) dengan stakeholder dan kalaupun ada hanya bersifat koordinasi. Sebagian besar bantuan dari pelaksanaan program CSR langsung diberikan kepada sasaran seperti ke sekolah-sekolah, atau pihak-pihak tertentu. Dalam bidang kerohanian misalnya langsung dilaksanakan dengan pihak masjid tertentu.

(61)

pelaksanaan program. Publikasi pelaksanaan CSR juga minim sekali dilakukan baik melalui media massa maupun tampil dalam kegiatan publikasi atau expo pembangunan.

Dana-dana dan bantuan kepada masyarakat dari keuntungan PT. ABB belum melibatkan Pemerintah Kecamatan dan juga belum dimaknai secara koordinatif dan integratif oleh PT. ABB. Belum ada upaya untuk duduk bersama membicarakan permasalahan mendasar pada masyarakat dalam menyalurkan dana bantuan, serta belum ada prinsip saling dukung dalam sebuah tanggung jawab sosial bersama membina dan membangun masyarakat.

Berdasar kepada pada hasil wawancara dengan stakeholder (pemangku kepentingan) dan masyarakat serta alat bantu kuisioner, ditemukan bahwa kebijakan program CSR PT. ABB Libek Project belum sepenuhnya mendukung peningkatan perekonomian rakyat karena bantuan yang diberikan PT. ABB Libek Project masih sangat terbatas jumlahnya, belum sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.

(62)

dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal dengan mengacu kepada karakteristik yang spesifik yang dimiliki akan menciptakan sebuah kemandirian lokal. Pembangunan seyogyanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas tatanan yang indikator utamanya adalah terjaganya keadilan berpartisipasi bagi semua komponen (Mappadjantji, 2005).

Berdasarkan indepth interview dengan manajemen PT. ABB Libek Project yang dilakukan juga ditemukan bahwa bahwa CSR masih dianggap biaya (cost) oleh perusahaan, dalam arti setiap rupiah yang dikeluarkan harus mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, kondisi ini menunjukkan bahwa CSR PT. ABB Libek Project belum memiliki dan memenuhi aspek kerelaan (volutarism) dalam mengimplementasikan CSR-nya, karena pelaksanaan CSR bukan sekedar kewajiban tetapi Investasi Sosial (Social Investment) yang keuntungannya tidak dapat dilihat secara langsung dalam bentuk material, tetapi kepentingan bersama antara perusahaan dan stakeholders dan Sosial License dari masyarakat adalah hal yang penting dalam mempertahankan eksistensi perusahaan (Suharto, 2006).

(63)

65% 35%

MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI

4.5. Tingkat Pengetahuan (Awareness) dan Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR

4.5.1. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Keberadaan Program CSR

Program CSR di bidang rohani (sosial) merupakan program yang paling banyak diketahui oleh masyarakat dibanding bidang sosial lainnya, dapat dilihat dalam Gambar 6.

Gambar 6. Tingkat Pengetahuan (Awarness) Responden tentang Program Kerohanian

Dari gambar 6 terlihat bahwa perbandingan sebesar 65% masyarakat yang mengetahui adanya program di bidang rohani berbanding 35% masyarakat yang tidak mengetahui adanya program ini.

(64)

19,5% saja yang mengetahui adanya program pembangunan infrastruktur seperti dalam Gambar 7.

19.5%

80.5%

MENGETAHUI TIDAK MENGETAHUI

Gambar 7. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Program Pembangunan Infrastruktur

(65)

35.5%

64.5%

MENGETAHUI

TIDAK MENGETAHUI

42%

58% MENGETAHUI

TIDAK MENGETAHUI

Gambar 8. Tingkat Pengetahuan (Awareness) Responden terhadap Program Bidang Kepemudaan dan Olahraga

Tingkat pengetahuan responden terhadap keberadaan program CSR bidang pengembangan ekonomi diketahui oleh 35,5% masyarakat dan selebihnya 64,5% masyarakat tidak mengetahui keberadaan program ini.

(66)

4.5.2. Tingkat Keterlibatan Responden terhadap Keberadaan Program CSR Keterlibatan masyarakat pada program CSR pengembangan bidang ekonomi yang menyatakan terlibat adalah adalah 17,3% dan 82,7% menyatakan terlibat meski keterlibatan mereka tidak dari awal perencanaan tetapi dalam proses pelaksanaan saja. Untuk bidang sosial yang menyatakan terlibat dalam program adalah 12,4% dan sisanya 87,6% menyatakan tidak terlibat dan hanya menerima bantuan saja. Sedangkan untuk bidang pembangunan infrastruktur yang menyatakan terlibat hanya 5,9% dan sisanya 94,1% menyatakan tidak terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dapat dilihat pada Gambar 10.

0 20 40 60 80 100

(dalam %)

BIDANG EKONOMI BIDANG SOSIAL BIDANG

INFRASTRUKTUR

TERLIBAT TIDAK TERLIBAT

Gambar 10. Tingkat Keterlibatan Masyarakat dalam Program CSR

(67)

yang dapat dijangkau oleh program tersebut dan keterlibatan masyarakat dalam setiap program CSR menunjukkan besarnya peran serta partisipasi pada masyarakat sehingga program bisa berjalan maksimal dan tidak terhenti setelah program selesai.

Tingkat pengetahuan dan keterlibatan masyarakat menunjukkan belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan sehingga interaksi sosial antara perusahaan dengan masyarakat masih rendah. Pihak PT. ABB Libek Project dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya belum melakukan pendekatan dalam proses pembentukan tanggung jawab sosial (moral, kepentingan bersama dan manfaat) karena tanggung jawab sosial adalah tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan perusahaan dalam interaksi dengan lingkungannya yang didasarkan pada etika. Secara umum etika dipahami sebagai aturan tentang prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengarahkan perilaku seseorang atau kelompok masyarakat mengenai baik atau buruk dalam pengambilan kebijakan atau keputusan (Purwanto, 2006)

(68)

4.6. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja Masyarakat Lokal

4.6.1. Peran Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap Tingkat Pendapatan Nominal

Hasil analisis uji beda rata-rata (compare mean) dengan t-test with Paired Two Sample for Means (Data Berpasangan) antara pendapatan nominal masyarakat sebelum program CSR (tahun 2005) dan setelah program CSR (tahun 2008) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Uji Beda Rata-rata Pendapatan Nominal Masyarakat Pendapatan sebelum (tahun 2005) 975.758 (rupiah)

Pendapatan setelah (tahun 2008) 1.814.100 (rupiah)

t-test -15,91

Sig. 0,000*

Keterangan * : Nyata pada α = 0,05 Sumber: Analisis Data Primer

Dari hasil uji statistik diketahui bahwa t-hitung (-15,91) lebih kecil dari pada t-tabel (-1,66), berarti Ho tolak atau terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat pendapatan nominal masyarakat sebelum tahun 2005 dan tahun 2008 setelah adanya program CSR. Berarti dengan adanya program CSR pendapatan nominal masyarakat meningkat. Dengan melihat nilai probabilitas, P-Value adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05 berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukkan ada perbedaan tingkat pendapatan nominal masyarakat tahun 2005 dengan tahun 2008.

Gambar

Gambar 1. Hubungan Garis Segitiga (Triple Bottom Line)
Gambar 2. Empat Kriteria Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Model Carrol
Tabel 1. Karakteristik Tahap-tahap Kedermawanan Sosial
Gambar 3. Garis Hubungan antar sektor dalam Program Corporate Social Responsibility
+7

Referensi

Dokumen terkait

CSR (Corporate Social Responsibility) berhubungan erat dengan &#34;pembangunan berkelanjutan&#34;, dimana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya

Metodeanalisis data yang digunakanadalahadalah analisis uji T berpasangan (Paired T-Test) untuk mengidentifikasi dampak program Corporate Social Responsibility (CSR)

Lafarge Cement Indonesia (LCI) Lhoknga, Aceh Besar, melaksanakan Program Corporate Social Responsibility (CSR) sesuai dengan Memorium of Understanding (MoU) antara

Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Sikap Komunitas Pada Program Perusahaan (Studi Kuantitatif.. Implementasi CSR Terhadap Sikap Komunitas Pada

Terlepas dari keuntungan yang didapat Pelindo III dari implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) tersebut, terbukti bahwa Corporate Social Responsibility (CSR)

ABSTRAK CSR Corporate Social Responsibility merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang- Undang Perseroan Terbatas UUPT,

Erwin Saraswati, Ak., CPMA., CSRS., CA ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility CSR dalam laporan tahunan

Dokumen ini membahas peran Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Revolusi Industri