Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai produsen komoditas pertanian, terutama dari subsektor perkebunan yang selama ini dijadikan sebagai komoditas andalan ekspor dalam perdagangan internasional. Dalam upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing di pasar internasional, kegiatan agroindustri memegang peranan yang sangat penting, termasuk dalam upaya pengembangan sektor agribisnis secara keseluruhan dan peningkatan pendapatan petani. Peran agroindustri memiliki nilai yang sangat strategis dalam menjembatani antar sektor pertanian mulai dari hulu hingga ke hilir, sehingga pengembangan agroindustri yang tepat diharapkan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, volume ekspor dan devisa, daya saing, nilai tukar produk hasil pertanian serta penyediaan bahan baku industri. Secara makro, Susilowati (2007) menyebutkan bahwa agroindustri mempunyai peran lebih besar terhadap peningkatan output, PDB dan penyerapan tenaga kerja. Untuk itu, kebijakan mengenai pengembangan agroindustri menjadi sangat penting.
Permasalahan umum yang dihadapi dalam upaya pengembangan agroindustri di Indonesia adalah (i) masih rendahnya produktivitas dan daya saing; (ii) keterbatasan kapasitas dan kemampuan pelaku agroindustri untuk menghimpun sumberdaya dalam rangka meningkatkan posisi tawarnya; (iii) lemahnya keterkaitan struktural agroindustri, baik secara internal maupun dalam hubungannya dengan sektor lain; (iv) kebijakan makro dan mikro ekonomi yang kurang berpihak kepada agroindustri (Djamhari, 2004). Lebih lanjut, Supriyati dan Suryani (2006) menyebutkan bahwa pengembangan agroindustri mengalami berbagai kendala seperti (i) tidak terjaminnya kontinuitas dan kualitas pasokan produk pertanian sebagai sumber bahan baku industri, (ii) keterbatasan
kemampuan sumberdaya manusia; (iii) teknologi yang digunakan sebagian besar masih sederhana sehingga kualitas produk yang dihasilkan rendah; dan (iv) kemitraan antara agroindustri skala kecil dengan skala besar/sedang belum berkembang. Implikasi dari berbagai permasalahan tersebut adalah perlunya kebijakan dari pemerintah yang mampu menjembatani permasalahan tersebut menjadi potensi dan peluang untuk pengembangan agroindustri.
Dalam upaya pengembangan agroindustri suatu komoditas, Hanson and Cranfield (2009) menyebutkan ada beberapa langkah strategis yang harus ditempuh oleh pemerintah. Langkah tersebut adalah: (i) kerja sama agroindustri pada setiap tingkatan sektor/subsektor dalam menyusun kegiatannya untuk meningkatkan daya saing di pasar domestik dan internasional; (ii) agroindustri berskala besar harus membantu usaha kecil dan produsen; (iii) menghilangkan hambatan kelembagaan; (iv) memastikan persaingan yang efektif antar pelaku agroindustri untuk memberikan pilihan bagi produsen bahan baku (petani) dan konsumen serta harga yang adil; (v) meningkatkan infrastruktur; (vi) menetapkan kerangka regulasi yang memfasilitasi investasi dan mendorong persaingan antar perusahaan agroindustri serta melindungi petani dan konsumen; (vii) melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan; dan (viii) bernegosiasi dengan mitra dagang internasional untuk akses pasar dan bantuan teknis.
Untuk mendorong daya saing agroindustri, kebijakan pemerintah memegang peranan kunci. Christy, et al., (2009) membagi 3 jenis kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan daya saing agroindustri di negara berkembang. Pertama, Essential Enablers, yaitu kebijakan yang terkait dengan perdagangan, infrastruktur serta kepemilikan lahan dan property rights. Kedua, Important enablers, yaitu kebijakan yang terkait dengan layanan finansial, penelitian dan pengembangan, standar dan regulasi. Ketiga, Useful enablers, yaitu kebijakan yang terkait dengan layanan dan kemudahan dalam melakukan bisnis. Banyaknya peranan pemerintah dalam menciptakan lingkungan bisnis agroindustri yang berdaya saing menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah menjadi faktor kunci pengembangan agroindustri nasional.
Pentingnya kebijakan pemerintah dalam upaya pengembangan agroindustri spesifik komoditas juga banyak ditunjukkan melalui berbagai hasil penelitian. Suprihatini, et al., (2004) menyebutkan bahwa upaya percepatan pengembangan agroindustri komoditas perkebunan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (i) penerapan kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN); (ii) insentif
investasi; (iii) penerapan kebijakan harmonisasi tarif bagi produk hilir dan bahan bakunya; (iv) konsistensi dukungan pemerintah; (v) efisiensi biaya produksi; (vi) jaminan keamanan investasi; (vii) penelitian dasar; (viii) kualitas bahan baku dan bahan penolong; (ix) respon sosial; dan (x) supply chain management dan infrastruktur. Namun, dari 10 faktor tersebut hanya terdapat 4 faktor kunci yaitu PPN, insentif investasi, konsistensi dukungan pemerintah dan harmonisasi tarif. Empat faktor kunci yang diidentifikasi peneliti tersebut dapat dilihat bahwa semuanya terkait langsung dengan kebijakan fiskal yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Pendapat ini konsisten dengan hasil penelitian Sinaga dan Susilowati (2007) dan Suprihatni (2004) yang menyebutkan bahwa kebijakan ekspor, investasi/permodalan dan insentif pajak perlu difokuskan kepada sektor agroindustri. Sementara itu, Susila (2005) menyebutkan bahwa kebijakan yang terkait dengan harga output lebih efektif dalam pengembangan industri gula.
Indrawanto (2008) menyebutkan bahwa kebijakan larangan ekspor gelondong jambu mete akan menjamin supply bahan baku untuk agroindustri jambu mete dalam negeri. Namun, jaminan bahan baku dan tingkat keuntungan yang tinggi hanya diperoleh industri besar. Di sisi lain, biaya keterjaminan pasokan bahan baku tersebut akan ditanggung oleh petani sebagai akibat semakin sempitnya pasar gelondong yang menyebabkan harga gelondong menjadi rendah. Penghapusan larangan ekspor dan insentif moneter seperti penurunan suku bunga bank juga menjadi instrumen penting yang dijadikan oleh Sukmananto (2007) untuk meningkatkan kinerja industri pengolahan kayu. Sementara itu, Munandar, et al., (2008) mengarahkan kebijakan difokuskan kepada penetapan standar mutu, pengendalian nilai tukar, penetapan tingkat suku bunga, liberalisasi perdagangan dan pengembangan teknologi.
Sementara itu, terkait dengan agribisnis kakao, kebijakan subsidi pupuk memberikan dampak positif terhadap produksi dan ekspor kakao. Sedangkan kebijakan bea ekspor akan menurunkan harga ekspor buat eksportir sehingga menekan harga kakao dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan harga yang terbentuk tidak menarik bagi petani sehingga produksi dan ekspor kakao menjadi turun (Arsyad, 2007). Hasil penelitian Arsyad and Yusuf (2008) juga menunjukkan bahwa kebijakan penurunan tingkat suku bunga mampu mendorong ekspor dan produksi kakao Indonesia.
Secara umum, Rossi (2004) menyebutkan bahwa langkah penting yang harus dilakukan pemerintah dalam upaya pengembangan sistem agroindustri
adalah mengintegrasikan berbagai sektor dan pelaku yang terlibat dalam sistem agroindustri sehingga dapat dihadirkan koordinasi dan tindakan kolektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dalam sistem agroindustri tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh Sa’id (2010) yang menyebutkan bahwa dalam penyusunan kebijakan pengembangan sistem agroindustri kakao, pemerintah harus mampu memuaskan semua pihak yang terlibat terutama masyarakat petani kecil.
2.3 Dampak Pengembangan Agroindustri terhadap Pendapatan Petani