• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Perdagangan “International Rubber

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.4 Determinan Perdagangan Bilateral

2.2.4.5. Kebijakan Perdagangan “International Rubber

Pemerintah Thailand, Indonesia dan Malaysia telah sepakat mendirikan perusahaan patungan karet alam bernama “International Rubber Consortium Limited (IRCo)” untuk mengatasi merosotnya harga karet alam, Kesepakatan pendirian perusahaan patungan IRCo ini telah tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang ditanda-tangani oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI, Menteri Agriculture and Cooperatives Thailand dan Menteri Primary Industries Malaysia pada tanggal 8 Agustus 2002 di Bali.

IRCo berfungsi sebagai pelengkap dari skema penyeimbang harga yang lain, yaitu Supply Management Scheme (SMS) dan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) sebagaimana disepakati dalam “Joint Ministerial Declaration (Bali Declaration) 2001”, yaitu melaksanakan kegiatan strategic marketing yang meliputi pembelian dan penjualan karet alam.

Dalam rangka pendirian IRCo sebagaimana tertuang dalam nota kesepahamanan kerjasama karet alam antara Pemerintah RI, Pemerintah Thailand

dan Pemerintah Malaysia (Memorandum of Understanding-MoU among The Government of the Kingdom of Thailand, The Government of Malaysia and the Government of the Republic of Indonesia on Rubber Cooperation), telah diadakan beberapa kali Pertemuan Tingkat Pejabat Senior (Senior Officials Meeting-SOM), terakhir Pertemuan SOM ke-13 yang diadakan pada tanggal 30-31 Juli 2003 di Jakarta dan Mini SOM tanggal 1 Oktober 2003 di Bangkok, guna menyelesaikan dokumen-dokumen penting yang diperlukan dalam pendirian IRCo. Dokumen-dokumen dimaksud antara lain Shareholders Agreement (SA), Memorandum of Association (MoA), dan Articles of Association (AoA).

1) Mekanisme Operasi IRCo

Mekanisme beroperasinya IRCo, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Apabila harga karet alam pada suatu saat turun hingga menyentuh pada tingkat reference price yang telah disepakati, maka perlu dilaksanakannya langkah-langkah Supply Management Scheme (SMS) dan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS)*.

(Dalam “Joint Ministerial Declaration (Bali Declaration) 2001”, ketiga negara telah sepakat melaksanakan pengurangan produksi sebesar 4% setiap tahunnya dalam jangka waktu tertentu melalui mekanisme SMS, dan melakukan pengurangan ekspor sebesar 10% melalui mekanisme AETS. Kebijakan AETS dan SMS mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2002)

2. Apabila harga karet alam terus menurun secara drastis dan mekanisme SMS maupun AETS tidak berhasil mengangkat harga karet alam pada

tingkat harga yang wajar sesuai reference price, maka perlu ada tindakan yang harus dilakukan oleh Board of Directors IRCo, yang salah satu diantaranya adalah melakukan pembelian karet alam.

2) Target IRCo

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya mengenai mekanisme beroperasinya IRCo, bahwa apabila harga karet alam turun hingga menyentuh pada tingkat reference price yang telah disepakati, maka perlu dilaksanakan langkah-langkah pengurangan produksi melalui Supply Management Scheme (SMS) dan pengurangan ekspor melalui Agreed Export Tonnage Scheme (AETS). Selanjutnya, bilamana harga karet alam terus menurun secara drastis dan mekanisme SMS maupun AETS tidak berhasil mengangkat harga pada tingkat yang wajar sesuai reference price, maka perlu ada tindakan yang harus dilakukan oleh IRCo, yaitu melakukan pembelian karet alam. Sebaliknya bila harga karet cenderung terus meningkat karena IRCo telah melakukan operasi beli, maka pada tingkat reference price yang telah ditentukan, IRCo harus segera melakukan operasi jual sejumlah stock karet yang ada.

Harga karet alam yang terlalu tinggi akan membawa dampak yang tidak baik bagi pengembangan industri yang menggunakan bahan baku dari karet alam di dalam negeri (negara-negara produsen), seperti ban mobil/sepeda motor. Terlalu tingginya harga bahan baku karet alam, akan meningkatkan biaya produksi.

IRCo juga perlu berhati-hati dalam menentukan reference price. Bila terlalu tinggi dalam menentukan reference price, maka negara konsumen akan beralih mengkonsumsi karet serat sintetik sebagai produk substitusi. Bilamana

hal ini terjadi, maka akan mengakibatkan permintaan karet alam berkurang, dan untuk mengambalikan permintaan pada posisi semula, akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Hal yang perlu dicermati pula adalah bahwa meski harga minyak bumi melonjak tajam, yang dampaknya akan meningkatkan harga karet sintetis, bukan berarti konsumen akan beralih ke karet alam. Oleh karena itu, dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, IRCo harus jeli dan dapat menentukan reference price pada tingkat yang menguntungkan. Tingkat harga minimal sama dengan harga sebelum terjadinya krisis moneter (US 102,75 cent/kg). Hal yang lebih penting lagi, bahwa bilamana target harga tersebut dapat dicapai, diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Pertemuan Tingkat Menteri di Bangkok pada tanggal 9 Maret 2004 telah disepakati bahwa referensi harga FOB karet alam adalah US $ 1,10/kg. Mengingat harga karet alam saat itu masih di atas US $ 1,10/kg, yaitu berkisar antara US $ 1,25 hingga US $ 1,30 per kg, maka tidak perlu ada tindakan apapun dari pemerintah maupun IRCo. Apabila harga karet alam nantinya turun hingga menyentuh US $ 1,10, maka perlu dilaksanakan langkah SMS dan AETS.

2.3. Kerangka Penelitian

Karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting peranannya bagi masyarakat dengan pengolahan perkebunan karet yang baik, maka tanaman karet akan dapat bermanfaat untuk membuka berbagai lapangan kerja sehingga dapat dijadiikan sebagai sumber mata pecaharian rakyat. Selain itu, karet juga merupakan sumber devisa negara. Nilai ekspor karet Indonesia keberbagai negara tujuan eksor dari tahun 2001 - 2010 terus mengalami peningkatan. Namun, pada

tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 nilai ekspor karet mengalami penurunan, setelah itu nilai ekspor karet kembali naik pada tahun 2010.

Karet Indonesia di ekspor ke berbagai belahan dunia. Permintaan akan ekspor Indonesia terbesar berturut-turut adalah Amerika, Cina dan Jepang. Adanya perbedaan nilai dan volume ekspor ke berbagai negara dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti nilai PDB Indonesia, nilai PDB negara importir, jumlah populasi, adanya perbedaan jarak dan nilai tukar riil.

Penentuan kemana prioritas utama dan faktor apa yang memengaruhi nilai ekspor karet perlu untuk diteliti. Adapun pengaruh jarak dalam penelitian adalah negatif karena semakin jauh jarak maka biaya yang semakin tinggi, sehingga akan mengurangi keuntungan bila dilakukan kegiatan ekspor maupun impor dari negara tersebut. Pada variabel PDB Indonesia dan PDB negara tujuan juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan karena PDB menunjukkan kemampuan suatu negara untuk memproduksi barang dan jasa sehingga, bila dilakukan kegiatan ekspor ke negara yang memiliki PDB yang tinggi maka dapat meningkatkan nilai ekspor karet Indonesia.

Variabel selanjutnya adalah kebijakan “International Rubber Consortium Limited” (IRCo), dimana kebijakan IRCo ini akan menahan penjualan atau ekspor karet ketika harga karet dibawah dari harga minimal dari kesepakatan sejak diberlakukannya IRCo ini, maka akan nilai ekspor karet Indonesia diasumsikan dapat meningkatkan, untuk lebih jelas maka dapat dilihat alur kerangka pemikiran pada penelitian ada pada Gambar 6.

2.4. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu maka disimpulkan hipotesis penelitian sebagai berikut :

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, Produk Domestik Bruto (PDB) negara tujuan, populasi negara tujuan, dan kebijakan perdagangan IRCo berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor karet Indonesia sedangkan nilai tukar riil negara importir dan jarak Indonesia dengan negara tujuan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai ekspor karet Indonesia.

Nilai PDB Indonesia (+)

Jarak (-)

Jumlah Populasi Negara Importir (+) Nilai PDB Negara Importir (+)

Nilai Tukar Riil Negara Importir (-) Kebijakan IRCo (+) Nilai Ekspor Karet Indonesia Keterangan: berpengaruh signifikan (+) berpengaruh positif (-) berpengaruh negatif

Dokumen terkait