IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pola Konsumsi Pangan Lokal
4.2.4. Kebijakan, Program, Permasalahan dan
Berbicara masalah konsumsi pangan tidak dapat dilepaskan dengan aspek diversifikasi konsumsi pangan, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, program peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan adalah sama dengan program diversifikasi konsumsi pangan. Asil analisis yang dilakukan oleh riani (2012), bahwa program diversifikasi pangan sebetulnya sudah dirintis sejak awal dasawarsa 60-an, dimana pemerintah telah menyadari pentingnya dilakukan diversifikasi tersebut. Pemerintah mulai menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras seperti anjuran untuk mengkombinasikan beras dengan jagung, sehingga pernah populer istilah”beras-jagung”. Ada dua arti dari istilah itu, yaitu 1) campuran beras dengan jagung, dan 2) penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung. Kebijakan ini ditempuh sebagai reaksi terhadap krisis pangan yang terjadi saat itu (Rahardjo, 1993). Pada tahun 1974, secara eksplisit pemerintah mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Instruksi Presiden (INPRES) No. 14 tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR). Maksud dari instruksi tersebut adalah untuk lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyat baik secara kualitas maupun kuantitas sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
Kemudian INPRES No. 14 disempurnakan melalui INPRES No.20 tahun 1979. Dalam INPRES ini, Presiden mengintruksikan kepada 15 lembaga (kementerian, Bulog, BKKBN) dengan enam instruksi antara lain melanjutkan dan meningkatkan usaha perbaikan menu makanan rakyat secara terus menerus, menyeluruh dan terkoordinasi dalam bidang masing-masing maupun dalam rangka kerjasama antar Departemen/instansi peemrintah, antara instansi pemerintah dan instansi non pemerintah. Pada tahun 1989 melalui keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 06/KEP/MENKO/ KESRA/VIII/1989 mengeluarkan pedoman Pola Umum Gerakan Perbaikan Menu Makanan Rakyat untuk menyatukan wawasan/pandangan langkah dan tindak bagi pengambil kebijakan, penyelenggara, pelaksana baik pemerintah maupun masyarakat untuk dapat memperbaiki pola
64
konsumsi pangan secara kualitas dan kuantitas sebagai usaha penting bagi pembangunan nasional (Kantor Menko Kesra, 1989)
Pada tahun 1991/1992 pemerintah melalui Departemen Pertanian mulai menggarap diversifikasi konsumsi melalui Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). Program DPG bertujuan untuk (1) mendorong meningkatnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, dan (2) mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terutama di pedesaan untuk mengkonsumsi pangan yang beranekaragam dan bermutu gizi seimbang. Fokus program DPG lebih diarahkan pada upaya pemberdayaan kelompok rawan pangan di wilayah miskin dengan memanfaatkan pekarangan pada jangkauan sasaran wilayah program yang terbatas, sehingga upaya yang dilakukan adalah meningkatkan ketersediaan keanekaragaman pangan di tingkat rumah tangga (Irawan, et al. 1999). Kemudian pada tahun anggaran 1998/1999 dilakukan revitalisasi program DPG untuk memberikan respon yang lebih baik dalam rangka meningkatkan diversifikasi pangan pokok. Upaya ini dilaksanakan dengan perubahan orientasi dari pendekatan sempit (pemanfaatan pekarangan untuk menyediakan aneka ragam kebutuhan pangan) ke arah yang lebih luas yaitu pemanfaatan pekarangan/kebun sekitar rumah guna pengembangan pangan lokal alternatif. Pembinaannya pun tidak terbatas pada aspek budi daya tetapi juga meliputi aspek pengolahan dan penanganan pasca panen agar pangan lokal alternatif ini dapat memenuhi selera masyarakat (Program DPG Pusat, 1998).
Pada tahun-tahun ini, Kementerian Kesehatan juga mempunyai program baik langsung maupun tidak langsung mengkaitkan dengan diversifikasi konsumsi pangan. Pada tahun 1995/1996 telah disosialisasikan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) untuk menggantikan konsep makan yang dikenal dengan ”4 sehat 5 sempurna”. Dalam konsep PUGS tersebut terdapat 13 pesan dasar gizi seimbang dengan pesan no. 1 : makanlah aneka ragam makanan.
Kebijakan/program terkait diversifikasi pangan muncul kembali pada Kabinet Indonesia Bersatu II dengan adanya kontrak kinerja antara Presiden Republik Indonesia dengan Menteri Pertanian tentang empat target sukses pertanian yang
65
salah satunya adalah upaya peningkatan diversifikasi pangan. Namun diversifikasi pangan yang dimaksud adalah diversifikasi atau keragaman konsumsi pangan sebagai strategi mencapai ketahanan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan belum mencapai kondisi yang optimal yang dicirikan dengan skor PPH yang belum sesuai harapan dan belum optimalnya peran pangan lokal dalam mendukung diversifikasi konsumsi pangan.
Oleh karena itu, munculah Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Tujuan kebijakan ini adalah menfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang diindikasikan oleh skor PPH 95 pada tahun 2015. Strategi yang ditempuh dalam Perpres tersebut ada dua yaitu 1) Internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan melalui : a) Advokasi, kampanye, promosi dan sosialisasi tentang konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman pada berbagai tingkatan aparat, masyarakat, pendidikan formal dan non formal dan 2) Pengembangan bisnis dan industri pangan lokal melalui fasilitasi kepada UMKM untuk pengembangan bisnis pangan segar, industri bahan baku, industri pangan olahan dan pangan siap saji yang aman berbasis sumber daya lokal serta advokasi, sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan baki pelaku usaha pangan terutama usaha rumah tangga dan UMKM. Untuk operasionalisasi PERPRES tersebut, Menteri Pertanian mengeluarkan peraturan No.43/permentan/OT.140/2009) tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.
Untuk menindaklanjuti Perpres dan Peraturan Menteri, Badan Ketahanan pangan (BKP), Kementerian Pertanian melaksanakan kegiatan terkait diversifikasi konsumsi pangan yang dikenal gerakan Percepatan Diversifikasi Konsumsi Pangan (P2KP) yang dimulai sejak tahun 2010. Tujuan umum program P2KP adalah menfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman yang diindikasikan dengan skor PPH dengan indikator outcome adalah meningkatnya skor PPH dari tahun ke tahun dan menurunnya konsumsi beras 1,5% per tahun (BKP, 2012).
66
Pada tahun 2011, Kementerian Kesehatan mempunyai program Gerakan Sadar Gizi Menuju Indonesia Prima 2011-2014 dengan tujuan menciptakan norma sosial masyarakat Indonesia untuk menerapkan pola konsumsi makanan yang baik dan aktivitas fisik yang teratur dan terukur. Fokus tema pesan utama gerakan adalah perilaku pola konsumsi makanan, pola asuh dan aktifitas fisik (Kemenkes, 2011). Perkembangan kebijakan/program/kegiatan diversifikasi konsumsi pangan secara utuh disajikan pada Tabel 4.2.16 dan untuk mengetahui sejauhmana dampak program terhadap perubahan pola konsumsi pangan dapat dilihat dari bahasan pencapaian kinerja diversifikasi pangan.
Hasil analisis yang dilakukan oleh Ariani (2013), Suryana (tanpa tahun) menunjukkan masih banyak kendala dalam mewujudkan peningkatan konsumsi dan diversifikasi konsumsi pangan, namun utamanya adalah komitmen pemerintah termasuk pemerintah daerah untuk melaksanakan Perpres tersebut. Di pemerintah pusat, misalnya kebijakan pangan tidak sinkron dengan upaya pencapaian yang diamanatkan dalam Perpres.
Beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan lambatnya pencapaian diversifikasi konsumsi pangan adalah: 1) Kesenjangan mutu gizi pangan antara masyarakat desa dan kota, 2) Penurunan proporsi konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal, (4) Lambatnya perkembangan, penyebaran, penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra dan daya terima, (4) masih kurangnya sinergi untuk mendorong dan memberikan insentif bagi dunia usaha dan masyarakat dalam mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal. Selain itu juga masih kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi dan pengetahuan untuk meningkatkan aksesibilitas pada pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman (Suryana, tanpa tahun).
Tantangan ke depan dalam pemantapan ketahanan pangan tidaklah mudah. Konversi lahan sawah yang masih terus terjadi akan berdampak negatif terhadap ketersediaan pangan. Pengalaman selama ini walaupun terjadi pencetakan sawah namun jumlah sawah yang dicetak mash jaur lebih rendah dibandngkan dengan
67
yang dikonversi. Penduduk Indonesia sebesar 237 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025 mencapai 250 juta jiwa. Jumlah penduduk yang banyak memerlukan pangan dalam jumlah yang mencukupi untuk semua orang. Apalagi kalau mengacu pada definisi ketahanan pangan yang baru, bahwa tersedianya pangan yang cukup baik kuantitas, kualitas harus sampai pada tingkat individu, tidak hanya tingkat rumahtangga.
Tabel 4.2.16. Perkembangan Kebijakan/Program/Kegiatan Diversifikasi Konsumsi Pangan
Tahun Kebijakan Tujuan/Kegiatan
1950- an
4 Sehat 5
Sempurna Pola makan yang sehat
1960-an Anjuran konsumsi selain beras
Populer ”beras-jagung” ( pengertian campuran beras dengan jagung, dan penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung).
1974 Inpres No. 14, 1974; 1979: UPMMR,
Tujuannnya : lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyat baik secara kualitas maupun kuantitas sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
1991/ 1992
Program diversifikasi pangan dan gizi (DPG)
Tujuan mendorong meningkatnya:1) ketahanan pangan rumah tangga, dan (2) kesadaran masyarakat terutama di pedesaan untuk mengkonsumsi pangan yang beranekaragam dan bermutu gizi seimbang. Fokus program DPG diarahkan pada upaya pemberdayaan kelompok rawan pangan di wilayah miskin dengan memanfaatkan pekarangan
1998/
1999 Revitalisasi program DPG Perubahan orientasi dari hanya pemanfaatan pekarangan ke pekarangan/kebun sekitar rumah guna pengembangan pangan lokal alternatif. Pembinaan: aspek budi daya, pengolahan dan penanganan pasca panen agar pangan lokal alternatif ini dapat memenuhi selera masyarakat
1995/
1996 Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
Terdapat 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang (menggantikan 4 sehat 5 sempurna). Pesan No.1 : makanlah aneka ragam makanan
2010 Percepatan Penganekaraga man konsumsi Pangan (P2KP)
Ada 4 kegiatan, antara lain : Sosialisasi dan promosi penganekaragaman konsumsi pangan
2010 One day no rice Himbauan untuk tidak mengkonsumsi beras satu hari per bulan/minggu
2010 M-KRPL (Model Kawasan Rumah Pangan Lestari)
Peningkatan kualitas konsumsi pangan rumahtangga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari
2011 Gerakan Nasional Sadar Gizi
68
Era keterbukaan antar Negara menuntut adanya keterbukaan dalam hal perdagangan, arus informasi dan lainnya. Apalagi dengan adanya oganisasi-organisasi antar Negara yang bermunculan seperti Asean Community Economic 2015. Globalisasi ini akan berdampak pada globalisasi makanan. Jumlah franchise di Indonesia tumbuh sangat pesat, kemudian impor pangan juga semakin meningkat. Beberapa hal tersebut telah menyebabkan terjadinya perubahan pola makan masyarakat baik jenis, kualitas, tempat, kemasan, dan lainnya.
Perubahan-perubahan tesebut harus disikapi dengan baik oleh pemerintah dan stakeholder lainnya, sehingga pola konsumi pangan masyarakat terus membaik kualitasnya sesuai dengan standar kecukupan energi, protein dan PPH. Selain itu juga tetap masih punya pijakan untuk mengedepankan pengembanga pangan berbasis potensi sumberdaya, budaya dan kearifan lokal.
4.3. Industri Pengolahan dan Produk Pangan Lokal