Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, 2012
KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
A. Pengelolaan Pendapatan Daerah
1 . Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah
Untuk mewujudkan suatu keadaan yang membawa kearah adanya biaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah), tidak lain ditujukan untuk membawa masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut, mau tidak mau perlu didukung dengan ketersediaan dana yang cukup. Pajak dan retribusi merupakan salah satu sumber penerimaan yang penting disamping sumber-sumber penerimaan lainnya yang lebih mencerminkan kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus tingkat kepatuhan/kepedulian masyarakat dalam pembangunan negara. Sumber penerimaan dapat berasal dari pemanfaatan sumber daya alam, optimalisasi aset atau melalui pinjaman, namun semua hal tersebut memiliki keterbatasan karena sumber daya alam dapat habis. Optimalisasi asset tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing daerah (mengingat manajemen aset belum sepenuhnya berjalan dengan baik), apalagi jika mengandalkan dari pinjaman.
Oleh karena itu jika pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka perlu adanya upaya untuk mendorong optimalisasi pajak melalui kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi pajak yang dimaksud antara lain melalui perluasan basis pajak yang ada. Dengan istilah lain ekstensifikasi dilakukan untuk
“mencari yang hilang”
sedangkan intensifikasi diilakukan untuk“menggali yang tersembunyi”
. Namun ada suatu kondisi atau syarat tertentu dalam pemungutan pajak yang baik, yaitu tidak menyebabkan biaya tinggi, efektif dan efisien dan tidak mengganggu perekonomian (mobilitas penduduk, lalu lintas barang/jasa antar daerah danSementara itu dengan berlakunya Undang - Undang Nomor 28 Tahun 2009 sebagai perubahan atas Undang - Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah setidaknya akan lebih mendorong agar penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah yang selama ini belum memadai dan memiliki peran yang relatif kecil dapat lebih dioptimalkan dan dapat memberikan kontribusi kepada pendapatan daerah yang lebih tinggi. Hal ini nampak dari munculnya beberapa jenis pajak baru yang sebelumnya merupakan pajak pusat dan saat ini beralih menjadi pajak yang dipungut dan dikelola oleh Kabupaten/Kota, yaitu Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan (sektor SKB) dan Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan.
Disamping itu perkembangan realisasi pendapatan daerah
berhubungan dengan perkembangan realisasi Pendapatan Negara dan hibah sampai dengan April 2011 mencapai Rp.331,1 triliun atau 30 persen dari target APBN 2011, hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan sebesar Rp.54,8 triliun atau 19,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010. Penerimaan perpajakan sampai dengan April 2011 mencapai Rp262,6 triliun atau 30,9 persen dari target APBN 2011, menunjukan peningkatan sebesar Rp.38,5 triliun atau 17,02 persen dari tahun lalu yang utamanya didukung oleh realisasi PPh sebesar Rp145,2 triliun atau 34,53 persen dari target. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp.68,4 triliun atau 27,3 persen dari targetnya, hal ini menunjukkan peningkatan sebesar Rp.16,3 triliun atau 31,2 persen dari tahun lalu, yang utamanya didukung oleh penerimaan SDA Non-migas sebesar Rp.6,5 triliun atau 46,9 persen dari target dan PNBP lainnya sebesar Rp.20,06 triliun atau 44,4 persen dari target. Dalam periode 2005-2008 pendapatan negara menunjukan adanya trend kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan sebasar 25,6 persen. Pertumbuhan tersebut terjadi baik pada penerimaan dalam negeri maupun hibah yang masing - masing rata- rata
periode 2005 – 2008, pertumbuhan penerimaan dalam negeri didukung oleh pertumbuhan penerimaan perpajakan yang rata - rata tumbuh sebesar 23,8 persen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 29,7 persen. Peningkatan realisasi pendapatan negara dan hibah tersebut sangat di pengaruhi oleh perkembangan kondisi makro ekonomi, faktor eksternal, dan pelaksanaan kebijakan pemerintah selama periode 2005-2010.
Pendapatan negara mempunyai peran yang sangat penting sebagai sumber pendanaan belanja daerah dan pembangunan Daerah untuk pembangunan nasional. Total penerimaan pajak di tahun 2010 tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Dari target Rp.66,41 triliun, realisasi penerimaan pajak mencapai 98,1 persen atau 649,042 triliun. Hal ini disebabkan karena besarnya restitusi atau pengembalian penerimaan perpajakan. Selain itu tidak tercapainya penerimaan pajak ini karena adanya dampak perundang-undangan perpajakan yang memperbolehkan wajib pajak untuk dapat menunda kewajiban pembayaran pajaknya pada saat mengajukan keberatan dan banding. Sedangkan dari pendapatan Negara dari sector pajak hampir seluruh jenis penerimaan pajak di 2010 realisasinya mencapai target kecuali untuk pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penjualan barang mewah (PPnBM), dan pajak penghasilan (PPh) non migas. Realisasi penerimaan PPN dan PPnBM mencapai Rp.251,9 triliun atau 95,8 persen dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp.263 triliun. Jika dibandingkan dengan realisasi di 2009 yang sebesar Rp.193,1 triliun, kinerja penerimaan PPN dan PPnBM di 2010 lebih tinggi sebesar Rp. 58,8 triliun atau 30,5 persen. Sementara realisasi penerimaan PPh non migas mencapai Rp. 297,7 triliun atau 97 persen dari target APBN-P 2010 sebesar Rp. 306,8 triliun. Jika dibandingkan dengan realisasinya di tahun 2009 yang sebesar Rp. 267,6 triliun, kinerja penerimaa PPh non migas di 2010 lebih tinggi Rp.30,2 triliun atau 11,3 persen.
internasional Rp. 28,9 triliun atau 127,9 persen dari target, PBB Rp. 28,6 triliun atau 112,9 persen dari target, BPHTB Rp. 8 triliun atau 112 persen dari target, dan pajak lainnya Rp. 4 triliun atau 103,3 persen dari target. Pelampauan realisasi penerimaan cukai tersebut berkaitan dengan penyesuaian tarif cukai tembakau. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp. 267,5 triliun atau 108,2 persen dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp. 247,2 triliun atau naik Rp. 40,3 triliun 17,8 persen dari realisasi PNBP tahun 2009 sebesar Rp. 227,2 triliun. Sementara penerimaan hibah mencapai Rp. 2,4 triliun yang berarti 127,4 persen dari sasaran APBN-P 2010 sebesar Rp. 1,9 triliun atau naik 45 persen dari realisasi hibah tahun 2009 sebesar Rp. 1,7 triliun. Secara keseluruhan, realisasi pendapatan negara dan hibah negara di 2010 mencapai Rp. 1.014 triliun atau 16 persen dari PDB. Pencapaian ini lebih tinggi Rp. 21,6 triliun atau 2,2 persen dari sasaran APBN-P 2010 yang sebesar Rp. 992,4 triliun. Pendapatan dan hibah di 2010 mengalami kenaikan Rp. 165,2 triliun atau sebesar 19,5 persen dari realisasi di 2009 yang sebesar Rp. 869,6 triliun. Dari APBN-P 2010 sebesar Rp. 743,3 triliun atau naik sebesar Rp. 124,1 triliun atau 20 persen dari realisasi sebesar Rp. 619,9 triliun. Realisasi pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2009 mencapai Rp.869,6 triliun baik langsung maupun tidak langsung digunakan untuk pembangunan daerah. Dari pencapaian tersebut 73,8 persen diantaranya bersumber dari penerimaan perpajakan. Kontribusi tersebut lebih besar apabila di bandingkan dengan perannya di tahun 2008 sebesar 67,1 persen. Namun demikian secara nominal penerimaan perpajakan tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 2,6 persen dibandikan dengan realisasi tahun 2008. Penurunan penerimaan perpajakan tersebut terutama di sebabkan oleh terjadinya perlambatan kegiatan perekonomian sebagai dampak dari krisis ekonomi dunia. Penurunan penerimaan perpajakan dalam tahun 2009 terutama berasal dari penurunan penerimaan pajak perdagangan internasional sebesar 48,6 persen. Hal ini disebabkan
dan 15 persen akibat krisis keuangan global. Di samping itu, krisis keuangan global juga sejalan dengan penurunan harga minyak di pasar internasional, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan penerimaan PPh migas sebesar 35 persen, sebaliknya penerimaan perpajakan non migas tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 4,4 persen. Peningkatan tersebut didukung oleh kebijakan administrasi perpajakan, langkah- langkah intensifikasi dan eksentifikasi perpajakan yang berkelanjutan.
Sejalan dengan perkiraan mulai meningkatnya aktivitas perdagangan dunia di tahun 2011 ini, pemerintah memutuskan untuk terus melanjutkan kebijakan pemberian insentif perpajakan bagi industri di dalam negeri. Insentif perpajakan tersebut diberikan dalam bentuk penurunan tarif PPh Badan dari 28 persen menjadi 25 persen; pemberiaan fasilitas penurunan tarif PPh Badan sebesar 5 persen dari tarif normal untuk perusahan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dimiliki publik; pemberian pajak ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi pajak PPN dan bea masuk sector tertentu; serta terus melanjutkan reformasi administrasi perpajakan. Sedangkan insentif di bidang kepabeanan diberikan dalam bentuk perbaikan fasilitas kepabeanan, insentif untuk perdagangan dan industri, serta fasilitas keringanan bea masuk. Selain itu juga dilakukan kebijakan kenaikan tarif cukai yang di ikuti penyederhanaan tarif cukai, serta peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.
Untuk itu maka, sesuai dengan arah kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat langkah-langkah pembaharuan kebijakan fiskal dan pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara berkesinambungan. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi kebijakan fiskal diarahkan untuk memantapkan langkah-langkah konsolidasi fiskal, terutama meningkatkan PAD dan penyehatan APBD dalam rangka menciptakan ketahanan fiskal yang berkelanjutan. Untuk itu maka, kebijakan pendapatan asli daerah yang ditempuh yaitu :
1. Meningkatkan ketepatan, kecepatan dan kenyamanan pelayanan pada wajib pajak dengan meningkatkan penggunaan teknologi informasi. 2. Meningkatkan kesadaran wajib pajak dengan meningkatkan transparansi
dan akuntabilitas kepada wajib pajak atas pemanfaatan pajak daerah. 3. Meningkatkan kerja sama dengan pihak swasta dengan system