BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
F. Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air yang digunakan untuk menentukan pola tanaman untuk menentukan tingkat efisiensi saluran irigasi sehingga didapat kebutuhan air untuk masing-masing jaringan. Perhitungan kebutuhan air irigasi ini dimaksudkan untuk menentukan besarnya debit yang akan dipakai untuk mengairi daerah irigasi. Setelah sebelumnya diketahui besarnya efisiensi irigasi. Besarnya efisiensi irigasi tergantung dari besarnya kehilangan air yang terjadi pada saluran pembawa, mulut
dari bendung sampai petak sawah. Kehilangan air tersebut disebabkan karena penguapan, perkolasi, kebocoran dan sadap liar.
Untuk dapat menghitung kebutuhan air irigasi di Kabupaten Rembang ini, terlebih dahulu harus diketahui luas lahan irigasi dan areal tanam di Kabupaten Rembang. Tabel 55. berikut ini adalah data luas wilayah dan areal tanam irigasi yang ada di Kabupaten Rembang.
Tabel 55. Luas Lahan Irigasi Perkecamatan di Kabupaten Rembang (ha)
No Kecamatan Areal Irigasi Teknis (ha)
1 Sumber 80,07 2 Bulu 43,63 3 Gunem 29,05 4 Sale 42,05 5 Sarang 46,20 6 Sedan 42,90 7 Pamotan 25,46 8 Sulang 10,24 9 Kaliori 74,90 10 Rembang 34,85 11 Pancur 41,06 12 Kragan 78,01 13 Sluke 22,99 14 Lasem 22,48
Sumber: Inventarisasi Daerah Irigasi Kabupaten Rembang Tahun 2010
Analisis kebutuhan air irigasi dilakukan dengan memperhitungkan luas lahan dan luas areal tanam. Untuk analisis kebutuhan air irigasi ini dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya Air, dan Data Inventarisasi Daerah Irigasi Kabupaten Rembang Tahun 2010-2011. Tabel-tabel mengenai perhitungan kebutuhan air irigasi di tiap-tiap wilayah kecamatan di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada lampiran.
1) Kecamatan Sumber
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sumber. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sumber dapat dilihat pada Lampiran 11.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 11. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,38 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 80,07 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 80,07 ha x 2,38 lt/dt/ha = 190,56 lt/dt = 6.009.5000 m3/th.
2) Kecamatan Bulu
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Bulu. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Bulu dapat dilihat pada Lampiran 12.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 12. dengan pola tata tanam padi – padi - palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,34 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 43,63 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 43,63 ha x 2,34 lt/dt/ha = 102,10 lt/dt = 3.219.840 m3/th.
3) Kecamatan Gunem
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Gunem. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Gunem dapat dilihat pada Lampiran 13.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 13. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 29,05 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 29,05 ha x 2,41 lt/dt/ha = 70,00 lt/dt = 2.207.560 m3 /th.
4) Kecamatan Sale
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sale. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sale dapat dilihat pada Lampiran 14.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 14. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 42,05 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 42,05 ha x 2,41 lt/dt/ha = 101,33 lt/dt = 3.195.660 m3/ th.
5) Kecamatan Sarang
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sarang. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sarang dapat dilihat pada Lampiran 15.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 15. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 46,20 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 46,20 ha x 2,41 lt/dt/ha = 111,34 lt/dt = 3.511.370 m3/th.
6) Kecamatan Sedan
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sedan. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sedan dapat dilihat pada Lampiran 16.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi di Kecamatan Sedan pada Lampiran 16. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 42,90 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 42,90 ha x 2,41 lt/dt/ha = 103,40 lt/dt = 3.260.730 m3/th.
7) Kecamatan Pamotan
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Pamotan. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Pamotan dapat dilihat pada Lampiran 17.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 17. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 25,46 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 25,46 ha x 2,41 lt/dt/ha = 61,36 lt/dt = 1.935.230 m3/th.
8) Kecamatan Sulang
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sulang. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sulang dapat dilihat pada Lampiran 18.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 18. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,27 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 10,24 ha, maka dibutuhkan
ketersediaan air sebesar 10,24 ha x 2,27 lt/dt/ha = 23,25 lt/dt = 733.210 m3/th.
9) Kecamatan Kaliori
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Kaliori. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Kaliori dapat dilihat pada Lampiran 19.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 19. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 74,90 ha, maka dibutuhkan ketersediaan air sebesar 74,90 ha x 2,27 lt/dt/ha = 180,51 lt/dt = 5.692.420 m3/th.
10) Kecamatan Rembang
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Rembang. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Rembang dapat dilihat pada Lampiran 20.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 20. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,39 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 34,85 ha, maka dibutuhkan
ketersediaan air sebesar 34,85 ha x 2,39 lt/dt/ha = 83,29 lt/dt = 2.626.610 m3/th.
11) Kecamatan Pancur
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Pancur. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Pancur dapat dilihat pada Lampiran 21.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 21. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,34 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 41,06 ha, maka dibutuhkan
ketersediaan air sebesar 41,06 ha x 2,31 lt/dt/ha = 96,09 lt/dt = 3.030.300 m3/th.
12) Kecamatan Kragan
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Kragan. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Kragan dapat dilihat pada Lampiran 22.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 22. dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 78,01 ha, maka dibutuhkan
ketersediaan air sebesar 78,01 ha x 2,41 lt/dt/ha = 187,99 lt/dt = 5.928.600 m3/th.
13) Kecamatan Sluke
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Sluke. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Sluke dapat dilihat pada Lampiran 23.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 23. diatas dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,41 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 22,99 ha, maka
dibutuhkan ketersediaan air sebesar 22,99 ha x 2,41 lt/dt/ha = 55,40 lt/dt = 1.747.250 m3/th.
14) Kecamatan Lasem
Dengan menggunakan pola tanam padi – padi – palawija yang dikombinasikan dengan data yang diperoleh dari beberapa dinas terkait, didapatkan hasil untuk kebutuhan air irigasi yang terdapat di Kecamatan Lasem. Untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dinas terkait menggunakan alternatif dari berbagai sumber daya air baik dari sumber air tanah maupun dari air permukaan. Hasil untuk perhitungan debit ketersediaan air di Kecamatan Lasem dapat dilihat pada Lampiran 24.
Dari hasil perhitungan kebutuhan air untuk irigasi pada Lampiran 24. di atas dengan pola tata tanam padi – padi – palawija dapat diperoleh kebutuhan air untuk irigasi minimum sebesar 2,34 lt/dt untuk setiap 1 hektar. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dengan luas areal irigasi 22,48ha, maka
dibutuhkan ketersediaan air sebesar 22,48 ha x 2,34 lt/dt/ha = 52,61 lt/dt = 1.659.060 m3/th.
Dari uraian tersebut di atas maka pada Tabel 56. di bawah ini memperlihatkan rekapitulasi kebutuhan air irigasi di Kabupaten Rembang.
Tabel 56. Rekapitulasi Kebutuhan Air Irigasi
No Kecamatan Luas Lahan Irigasi Teknis (ha) Kebutuhan Minimal Air (lt/dt/ha) Kebutuhan Air (lt/dt) Kebutuhan Air (m³/th) 1 Sumber 80,07 2,38 190,57 6.009.708 2 Bulu 43,63 2,34 102,09 3.219.643 3 Gunem 29,05 2,41 70,01 2.207.851 4 Sale 42,05 2,41 101,34 3.195.874 5 Sarang 46,20 2,41 111,34 3.511.281 6 Sedan 42,90 2,41 103,39 3.260.476 7 Pamotan 25,46 2,41 61,36 1.935.005 8 Sulang 10,24 2,27 23,24 733.048 9 Kaliori 74,90 2,41 180,51 5.692.532 10 Rembang 34,85 2,39 83,29 2.626.681 11 Pancur 41,06 2,34 96,08 3.029.991 12 Kragan 78,01 2,41 188,00 5.928.897 13 Sluke 22,99 2,41 55,41 1.747.280 14 Lasem 22,48 2,34 52,60 1.658.895 Jumlah 1.419,24 44.757.162 Sumber: Analisis, 2012
Untuk menghitung jumlah kebutuhan air irigasi hingga akhir Tahun 2032, perlu adanya asumsi yang digunakan sebagai dasar dalam memperkirakan jumlah kebutuhan air irigasi pada dua puluh tahun mendatang. Adapun asumsi yang digunakan adalah tidak ada peningkatan kebutuhan air irigasi hingga tahun 2032 mengingat jumlah lahan sawah cenderung tetap dan bahwan alih fungsi lahan sawah ini cenderung terjadi. kebutuhan air irigasi di Kabupaten Rembang pada Tahun 2010 adalah sebanyak 44.757.162,10 m3/th atau setara dengan 1.419,24 lt/dt . Demikian halnya hingga tahun 2032 kebutuhan air irigasi diasumsikan tetap yaitu sebesar 44.757.162,10 m3/th. Tabel 57. berikut ini adalah perkiraan kebutuhan air irigasi di Kabupaten Rembang hingga Tahun 2032.
Tabel 57. Perkiraan Kebutuhan Air Irigasi
Tahun Kebutuhan Air (lt/dt) Kebutuhan Air (m3/th)
2010 1.419,24 44.757.162,10 2011 1.419,24 44.757.162,10 2012 1.419,24 44.757.162,10 2013 1.419,24 44.757.162,10 2014 1.419,24 44.757.162,10 2015 1.419,24 44.757.162,10 2016 1.419,24 44.757.162,10 2017 1.419,24 44.757.162,10 2018 1.419,24 44.757.162,10 2019 1.419,24 44.757.162,10 2020 1.419,24 44.757.162,10 2021 1.419,24 44.757.162,10 2022 1.419,24 44.757.162,10 2023 1.419,24 44.757.162,10 2024 1.419,24 44.757.162,10 2025 1.419,24 44.757.162,10 2026 1.419,24 44.757.162,10 2027 1.419,24 44.757.162,10 2028 1.419,24 44.757.162,10 2029 1.419,24 44.757.162,10 2030 1.419,24 44.757.162,10 2031 1.419,24 44.757.162,10 2032 1.419,24 44.757.162,10 Sumber: Analisis, 2012