• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Kebutuhan Hidup Layak Petani

Keluarga tani dinyatakan hidup layak jika telah memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) meliputi pangan, papan, pakaian, pendidikan, kesehatan, rekreasi, kegiatan sosial dan tabungan. Menurut Sinukaban (2007), jumlah pendapatan bersih yang harus diperoleh keluarga tani untuk dapat hidup layak minimal setara beras 800 kg kapita-1 tahun-1 yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan fisik

minimal (KFM) 320 kg, kebutuhan kesehatan dan rekreasi 160 kg; kebutuhan pendidikan 160 kg, dan kebutuhan sosial, asuransi, dan lain-lain 160 kg. Hasil perhitungan KHL petani di NTB, disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4. Kebutuhan hidup layak (KHL) petani di NTB tahun 20101)

Uraian Lombok Tengah Sumbawa Barat Bima Rata- Rata • Pengeluaran setara beras (kg-1kapita-1th-1)2) 800 800 800 800 • Harga beras kg-1 4.475 4.625 4.400 4.500 • Jumlah ART KK-1 3) 3,51 3,73 3,77 3,67 KHL (Rp.jt KK-1tahun-1) 12,566 13,801 13,270 13,212 Sumber: Data primer

Keterangan:1)dimodifikasi dari Monde, 2008

2)

KFM 320 kg, pendidikan 160 kg, kesehatan 160 kg, dan sosial 160 kg

3)jumlah anggota rumah tangga KK-1(BPS, 2009).

Tabel 5.4 memperlihatkan bahwa KHL petani tertinggi di Sumbawa Barat, disusul Bima dan yang terendah di Lombok Tengah. Besarnya KHL ditentukan oleh harga beras rata-rata kg-1 dan jumlah anggota rumah tangga KK-1. KHL petani rata-rata sebesar Rp.13.212.000 KK-1 tahun-1. Harga beras antar waktu dan antar wilayah sangat bervariasi, yaitu berkisar Rp. 3.800 – Rp. 6.500 kg-1. Harga beras terendah terjadi pada saat panen raya yang berlangsung sangat singkat dan harga tertinggi terjadi ketika petani sudah tidak memiliki stok beras yang berlangsung dalam jangka panjang hingga musim panen berikutnya. Ketidakstabilan harga beras sangat sensitif terhadap pemenuhan KHL petani. Harga beras di Sumbawa Barat relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Lombok Tengah dan Bima. Sumbawa Barat merupakan pusat pertambangan PT. Newmont dimana tingkat pendapatan masyarakat relatif lebih tinggi dan hal ini mewarnai harga kebutuhan pokok sehari-hari di wilayah tersebut.

Jumlah anggota keluarga juga menjadi faktor penentu besarnya KHL yang harus dipenuhi. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa penduduk dengan tingkat pendidikan yang rendah rata-rata memiliki anggota keluarga yang lebih besar dibandingkan dengan penduduk dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Petani yang tinggal di wilayah perdesaan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah diduga kuat memiliki jumlah anggota rumah tangga yang lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan. Hasil survei di tiga kabupaten memperkuat dugaan tersebut, dimana ditemukan bahwa rata- rata jumlah anggota rumah tangga petani responden adalah 4,3 org KK-1.

Jumlah pendapatan petani dari usaha tani padi pada lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan di tiga lokasi penelitian (Tabel 5.1), dan luas penguasaan lahan (luas lahan garapan) saat ini dapat digunakan untuk menghitung kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani.

Rata-rata luas lahan garapan petani saat ini pada tipologi lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan di tiga wilayah penelitian yang dihitung berdasarkan rasio luas baku sawah dan jumlah petani ditunjukkan pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Luas lahan garapan petani saat ini pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian.

Luas lahan garapan (ha KK-1) Tipologi Lahan Sawah Lombok

Tengah

Sumbawa

Barat Bima Rerata

 Irigasi teknis 0,31 0,62 0,62 0,40

 Irigasi 1/2 teknis 0,37 1,06 0,61 0,46

 Tadah hujan 0,45 0,84 0,97 0,63

Rerata lokasi 0,36 0,77 0,74 0,48

Sumber: Data Primer

Tabel 5.5 memperlihatkan bahwa rata-rata luas lahan yang dikelola oleh petani saat ini pada tipologi lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan berturut-turut 0,40 ha, 0,46 ha dan 0,63 ha KK-1. Sedangkan berdasarkan lokasi adalah 0,36 ha, 0,77 ha dan 0,74 ha KK-1berturut-turut untuk wilayah Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Bima.

Dengan demikian, besarnya kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian, diperlihatkan pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6. Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pemenuhan KHL petani pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian

Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani (%)

Tipologi Lahan Sawah

Lombok Tengah Sumbawa Barat Bima Rerata Tipologi  Irigasi teknis 65,18 124,24 92,32 73,49  Irigasi 1/2 teknis 58,78 100,61 70,79 56,53  Tadah hujan 16,42 32,37 49,65 26,82 Rerata Lokasi 47,97 88,12 76,68 55,73

Sumber: Data Primer

Tabel 5.6. memperlihatkan bahwa kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pemenuhan KHL petani yang terendah di Kabupaten Lombok Tengah (47,97%), disusul Bima (76,68%) dan yang tertinggi di Sumbawa Barat (88,12%). Rendahnya kontribusi pendapatan terhadap KHL petani di Kabupaten Lombok Tengah disebabkan karena luas lahan garapan petani yang lebih sempit (0,36 ha KK-1) dibandingkan dengan luas garapan petani di Bima (0,74 ha KK-1) maupun Sumbawa Barat (0,77 ha KK-1), walaupun secara kumulatif tingkat produktivitas maupun pendapatan usaha tani ha-1di Kabupaten Lombok Tengah lebih tinggi dibandingkan dengan di Bima dan Sumbawa Barat. Berdasarkan pada tipologi lahan sawah, maka kontribusi yang paling rendah terjadi pada lahan sawah tadah hujan (26,82%), disusul lahan sawah setengah teknis (56,53%) dan yang tertinggi pada lahan sawah irigasi teknis (73,49%) atau rata- rata 55,73%. Rendahnya kontribusi pendapatan petani terhadap KHL pada lahan sawah tadah hujan disebabkan tingkat pendapatan sangat rendah karena hanya satu kali tanam dalam setahun (IP 100%), sebaliknya pada lahan sawah irigasi teknis tingkat pendapatan petani jauh lebih tinggi 4-5 kali lipat, karena selain produktivitas padi pada lahan irigasi teknis lebih tinggi, juga IP padi dapat mencapai 300%, walaupun luas lahan garapan lebih sembit. Hasil tersebut masih lebih tinggi dari yang dilaporkan Badan Litbang Pertanian (2005b), bahwa sumbangan pendapatan usaha tani padi terhadap pendapatan rumah tangga petani mencapai 25-35%.

Besarnya pendapatan usaha tani padi sawah berdasarkan hasil analisis tersebut apabila dihubungkan dengan rata-rata luas pemilikan lahan sawah saat ini menunjukkan bahwa lebih dari 85% petani tidak dapat memenuhi KHLnya, terdiri atas 65% petani pada lahan sawah irigasi teknis, 88% petani pada lahan sawah irigasi setengah teknis dan seluruh petani pada lahan sawah tadah hujan.

Jika pendapatan usaha tani selain padi dimasukkan dalam perhitungan pendapatan usaha tani, maka jumlah pendapatan usaha tani akan meningkat sehingga kontribusi pendapatan usaha tani terhadap KHL petani meningkat. Hal tersebut dimungkinkan karena peningkatan IP dengan komoditas lain pada lahan irigasi teknis di Kabupaten Lombok Tengah setelah MKI dapat meningkatkan kontribusi pendapatan usaha tani terhadap KHL petani menjadi 86,26% atau meningkat 17,37%. Demikian pula pemanfaatan lahan sawah dengan komoditas lain setelah MK I pada lahan sawah irigasi setengah teknis memberikan peningkatan kontribusi sebesar 0,68% dan setelah MH pada lahan tadah hujan memberikan peningkatan kontribusi sebesar 45,67% atau meningkat 70,28%.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai standar garis kemiskinan (poverty line) yang dapat digunakan untuk mengukur KHL penduduk. Apabila standar garis kemiskinan berdasarkan Sajogjo sebagaimana diuraikan di atas dibandingkan dengan beberapa standar garis kemiskinan yang dipakai di Indonesia, maka kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap masing-masing standar tersebut ditunjukkan pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7. Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap beberapa standar garis kemiskinan yang digunakan di Indonesia

Kontribusi terhadap KHL (%) Standar garis kemiskinan

(poverty line) Jumlah pengeluaran (Rp KK-1tahun-1) Irigasi teknis Setengah teknis Tadah hujan  Sajogjo1) 13.212.000 73,49 56,53 26,82  Bank Dunia (US$ 1,0)2)

12.055.950 80,53 61,53 29,39

Bank Dunia (US$ 2,0)2)

24.111.900 40,27 30,77 14,70

BPS/Nasional (US$ 1,5)2)

18.083.925 53,69 41,02 19,60

BPS/NTB (Rp.176.283)3)

7.763.503 125,06 95,56 45,64 Keterangan:1) pengeluaran setara beras 800 kg kapita-1tahun-1,2)pengeluaran kapita-1

hari-1dengan kurs Rp.9.000 per US$,3)pengeluaran kapita-1bulan-1 Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa besarnya kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap garis kemiskinan sangat tergantung dari standar pengeluaran yang digunakan. Standar pengeluaran yang paling rendah atau di bawah standar Sajogjo adalah standar BPS di Provinsi NTB tahun 2010 untuk wilayah perdesaan sebesar Rp.176.283 kapita-1 bulan-1 (BPS, 2010). Apabila jumlah anggota rumah tangga 3,67 orang KK-1, maka jumlah pengeluaran sebesar Rp.7.763.503 KK-1 tahun-1. Dengan menggunakan standar tersebut maka kontribusi pendapatan sebesar 125,06%, 95,56% dan 45,64% berturut-

turut pada lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan. Petani dengan kontribusi pendapatan sebesar 125% telah melampaui garis kemiskinan.

Standar pengeluaran yang lebih rendah dari Sajogjo adalah pengeluaran US$ 1 kapita-1hari-1. Apabila mengacu pada standar US$ 1,5 dan US$ 2 kapita-1 hari-1 atau lebih tinggi dari standar Sajogjo, mengakibatkan kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah lebih rendah.

Perubahan pada standar yang digunakan, dapat mempengaruhi jumlah penduduk miskin di Indonesia. Semakin tinggi standar yang digunakan, maka jumlah penduduk miskin semakin tinggi dan sebaliknya. Standar pengeluaran 800 kg kapita-1tahun-1berada pada standar yang moderat, yaitu sekitar US$ 1,3 kapita-1 hari-1. Bila dikaitkan bahwa sebagian besar penduduk miskin berada di perdesaan, maka aktivitas usaha tani padi sawah untuk meningkatkan pendapatan petani sangat erat kaitannya dengan upaya pengentasan kemiskinan.

Peningkatan jumlah penduduk miskin yang diakibatkan oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil menunjukkan tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan. Usaha tani padi sawah merupakan usaha yang tidak hanya rentan terhadap perubahan kebijakan, tetapi juga rentan terhadap resiko dampak perubahan iklim. Kondisi yang demikian menyebabkan para petani umumnya termasuk kelompok yang rentan (vurnerable) apabila terjadi goncangan ekonomi dan mudah jatuh ke dalam kelompok miskin dengan pendapatan di bawah US$ 1 kapita-1hari-1.

Mengatasi masalah kemiskinan di perdesaan merupakan masalah yang kompleks terutama disebabkan keterbatasan sumber daya (lahan, air, modal dan keterampilan) dan keterbatasan lapangan usaha yang sesuai sebagai sumber pendapatan alternatif. Pemerintah perlu berupaya memperbaiki berbagai keterbatasan tersebut antara lain perbaikan kualitas lahan dan jaringan irigasi, pelatihan keterampilan dan penyediaan modal kerja yang sesuai dan mudah diakses serta menyediakan insentif yang dapat merangsang petani untuk mempertaankan eksistensi usaha tani padi sawah.