II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Sistem Produksi Padi Sawah
Padi merupakan salah satu komoditas prioritas yang menjadi fokus perhatian saat ini dan di masa yang akan datang. Prioritas komoditas ditetapkan berdasarkan kriteria kuantitaif, mencakup: produksi, luas panen, nilai tambah, serapan tenaga kerja dan daya saing (Suryana, 2005). Indikator dapat pula bersifat kualitatif, seperti kebijakan, sosial-budaya, dan manajemen industri. Pemberian indeks untuk masing-masing indikator dilakukan dengan memanfaatkan expertise judgement oleh pakar yang berpengalaman luas pada bidangnya.
Pada umumnya usaha tani padi di Indonesia diusahakan dalam skala kecil oleh sekitar 18 juta petani, akan tetapi usaha tani padi menyumbang 66% terhadap produk domestik bruto (PDB) tanaman pangan, memberikan kesempatan kerja dan pendapatan bagi lebih dari 21 juta rumah tangga dengan sumbangan pendapatan 25-35% (Badan Litbang Pertanian, 2005b). Oleh sebab itu, komoditas padi tetap menjadi komoditas strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional, sehingga menjadi basis utama dalam revitalisiasi pertanian ke depan.
Pengertian skala usaha tani mengacu pada konsep "retun to scale". Selama ini konsep tersebut telah banyak diterapkan sebagai pendekatan teoritis mengenai skala optimal usaha tani (Chavas, 2001 dalam Sumaryanto, 2009). Penerapannya dalam studi empiris menghasilkan beragam kesimpulan. Sen (1962) menemukan adanya hubungan terbalik antara luas garapan dengan produktivitas pada usaha tani di India. Kemudian, pada dekade 70-an, studi Yotopoulos and Lau (1973) dan Berry and Cline (1979) yang dikutip dari Sumaryanto (2009) memperoleh kesimpulan bahwa pada usaha tani di India ternyata skala kecil relatif lebih efisien daripada skala besar; dan tidak disarankan untuk mengkondisikan konsolidasi usaha tani karena secara umum ternyata usaha kecil berada pada kondisi "constant return to scale". Dalam konteks penelitian ini pengertian mengenai skala usaha tani akan dikaitkan dengan kebutuhan hidup layak minimal petani dan garis kemiskinan (poverty line) yang diacu di wilayah perdesaan.
2.2.1. Faktor-Faktor Produksi Padi Sawah
Dalam sistem produksi padi sawah terdapat tiga faktor dasar paradigmatik, yaitu benih, tanah dan tenaga (Sitorus, 2006). Ketiga unsur dasar tersebut membentuk pertanian melalui proses interaksi triangular yang berpusat pada budaya tertentu. Implikasi dari asumsi ini adalah bahwa pengembangan benih, tanah dan tenaga yang unggul berikut pola interaksi berinti budaya antara ketiganya harus menjadi fokus utama dalam pengembangan sistem produksi padi. Sedangkan faktor-faktor produksi, seperti pupuk, obat-obatan, alat dan mesin pertanian (alsintan) bersifat pendukung (supportif) terhadap ketiga unsur dasar tersebut. Pupuk dan air irigasi adalah faktor pendukung untuk tanah; obat- obatan adalah faktor pendukung untuk benih, sedangkan alsintan adalah faktor pendukung untuk tenaga kerja (petani), dalam arti meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja petani. Implikasi asumsi ini bahwa fokus aktivitas pengembangan sistem produksi padi bergeser dari tiga serangkai “pupuk-obat-obatan-alsintan” ke “benih-tanah-tenaga”.
Benih adalah faktor produksi yang menjadi penentu utama atau ”patokan dasar” tingkat perkembangan dan kemajuan pertanian, sehingga efektivitas faktor-faktor produksi akan ditentukan oleh tingkatan teknologi benih (Sitorus, 2006). Di antara komponen teknologi produksi, varietas unggul mempunyai peranan yang lebih besar dalam peningkatan produktivitas padi. Hasil riset World
Bank menyimpulkan, benih varietas unggul bersertifikat (VUB) merupakan penyumbang tunggal terbesar (16%) terhadap peningkatan produksi padi, diikuti irigasi (5%) dan pupuk (4%). Interaksi VUB, irigasi, dan pupuk dapat meningkatkan produktivitas mencapai 75%, sedangkan sumbangan dari perluasan areal tanam hanya 25%. (Fagiet al.,2001).
Mayoritas produksi padi nasional (69%) disumbang oleh penggunaan benih VUB dan sisanya oleh varietas sedang (16%), dan rendah (15%). Penggunaan benih VUB secara nasional baru mencakup 47% dari kebutuhan benih padi nasional (Sitorus, 2009a). Lebih lanjut Sitorus menyatakan bahwa benih padi VUB adalah determinan pokok peningkatan produksi, sehingga dapat dikatakan bahwa swasembada beras hanya mungkin dicapai di atas basis ketersediaan benih padi VUB.
Peranan benih padi VUB, tidak terlepas dari peranan produsen benih dan sistem perbenihan nasional. Data 1970-an sampai 2000-an menunjukkan bahwa peningkatan jumlah benih padi VUB berbanding lurus dengan peningkatan produksi padi nasional. Benih padi VUB produksi Sang Hiang Sri memasok 61% dari pangsa penggunaan benih bersertifikat secara nasional, atau 28% dari total kebutuhan benih nasional (292.500 ton). Fakta ini membuktikan, peran signifikan benih VUB dalam pencapaian swasembada beras tahun 1984 dan 2008 (Sitorus, 2009a). Kemampuan industri benih padi untuk memenuhi total kebutuhan benih nasional, baru mencapai 47%, artinya, lebih dari setengah kebutuhan benih padi nasional (53%) dipenuhi oleh benih nonsertifikat bermutu rendah yang dihasilkan petani dan penangkar lokal.
Faktor produksi tanah, mempunyai dua fungsi utama, yaitu (1) sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah tersimpan, dan (2) sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan. Kedua fungsi tersebut dapat menurun atau hilang. Hilangnya fungsi kedua dapat segera diperbaiki dengan pemupukan, sedangkan hilangnya fungsi pertama tidak mudah diperbaiki atau diperbaharui karena memerlukan waktu yang lama, puluhan bahkan ratusan tahun untuk pembentukan tanah (Arsyad, 2006).
Indonesia terletak di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, topografi yang curam dan sumber daya manusia yang tergolong rendah, sehingga masalah degradasi tanah cukup penting diperhatikan. Degradasi tanah adalah hilangnya atau berkurangnya kegunaan (utility) atau potensi kegunaan tanah, kehilangan atau perubahan kenampakan (features) tanah yang tidak
dapat diganti (Sitorus, 2009b). Degradasi tanah adalah proses yang menguraikan fenomena yang menyebabkan menurunnya kapasitas tanah untuk mendukung suatu kehidupan. Salah satu indikator menurunnya kualitas lahan, khususnya sawah adalah menurunnya kandungan C organik tanah.
Faktor-faktor yang sering menyebabkan kerusakan tanah antara lain erosi tanah, hilangnya unsur hara dan bahan organik tanah karena pencucian (leaching) dan atau terangkut melalui panen tanpa ada usaha untuk mengembalikannya, timbulnya senyawa-senyawa beracun dan penjenuhan air (Arsyad, 2006; Sitorus, 2001). Secara umum degradasi tanah disebabkan oleh faktor alami dan faktor campur tangan manusia. Faktor alami penyebab degradasi tanah, antara lain: lahan berlereng curam, tanah yang mudah rusak, curah hujan intensif, dan lain-lain (Sitorus, 2009b). Sedangkan degradasi tanah akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antar lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan (poverty), masalah kepemilikan lahan (proverty), ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan, kondisi sosial ekonomi, masalah kesehatan, pertanian tidak tepat (inappropriate agriculture) dan aktivitas pertambangan/industri (Sitorus, 2009b).
Degradasi tanah berpengaruh terhadap penurunan produktivitas tanah. Tanah yang mengalami kerusakan baik kerusakan karena sifat fisik, kimia maupun biologi memiliki pengaruh terhadap penurunan produksi padi mencapai sekitar 22% pada lahan semi kritis, 32% pada lahan kritis, dan diperkirakan sekitar 38% pada lahan sangat kritis (Sudirman dan Vadari, 2000).
Faktor tenaga kerja memegang peranan yang sangat penting dalam sistem produksi padi sawah. Ketersediaan tenaga kerja yang cukup akan mendorong pengelolaan sistem produksi padi secara lebih intensif. Di wilayah dimana ketersediaan tenaga kerja kurang, pengelolaan usaha tani padi cenderung dilakukan seadanya (tidak intensif). Penggunaan alsintan sebagai pengganti fungsi tenaga manusia memerlukan banyak pertimbangan, karena tidak semua lokasi sesuai untuk penggunaan alsintan. Kelangkaan tenaga kerja juga membuat upah lebih tinggi, sehingga biaya usaha tani meningkat.
Faktor iklim bukan merupakan faktor produksi padi, tetapi merupakan unsur terpenting yang sangat berpengaruh terhadap sistem produksi padi. Terjadinya variabilitas dan perubahan iklim global menyebabkan kondisi iklim menjadi tidak menentu, pola iklim telah berubah dan tidak pasti, fluktuasi iklim lebih besar,
kondisi ekstrim sering terjadi. Perubahan iklim global mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian (Las, 2007), yaitu : (a) naiknya suhu udara yang juga berdampak terhadap unsur iklim lain, terutama kelembaban dan dinamika atmosfer, (b) berubahnya pola curah hujan dan makin meningkatnya intensitas kajadian iklim ekstrim (anomali iklim) seperti El-Nino dan La-Nina dan (c) naiknya permukaan air laut akibat mencairnya gunung es di kutub utara.
Anomali iklim El-Nino berlangsung mengikuti siklus yang dapat berulang antara 3-4 tahun sekali. Hal ini dapat mengakibatkan musim kemarau yang lebih panjang dari semestinya. Lahan pertanian tidak dapat digarap, mundurnya musim tanam, defisit air di jaringan irigasi, dan terjadinya kekeringan (Las, 2007). Pengaruh perubahan iklim terhadap sektor pertanian dapat berupa dampak langsung, seperti (a) menurunnya produktivitas tanaman pangan yang disebabkan oleh meningkatnya temperatur, peningkatan variabilitas curah hujan dan salinitas air; (b) meningkatnya kehilangan hasil panen yang disebabkan meningkatnya frekuensi maupun intensitas kejadian iklim ekstrim (bahaya iklim); dapat juga berupa dampak tidak langsung seperti munculnya bahaya serangan hama dan penyakit (Watanabe, 2008; Boer and Las, 2008).
2.2.2. Produksi dan Produktivitas Padi Sawah
Upaya peningkatan produksi padi telah lama menjadi kebijakan nasional. Kilas balik sejarah peningkatan produksi dan produktivitas padi di Indonesia, dimulai dari penerapan panca usaha tani yang mendasari program Bimas sejak 1969 dengan menggunakan varietas introduksi dari IRRI yaitu IR-8 dengan potensi hasil 4,5 t/ha (DeDatta, 1981). Kebijakan intensifikasi pertanian melalui Bimas pada era tersebut berhasil mewujudkan swasembada beras pada tahun 1984. Pendekatan yang lebih holistik melalui Supra Insus dicanangkan tahun 1987 dengan ”10 jurus teknologi paket-D”. Program Supra Insus didukung berbagai VUB yang lebih tahan hama dan penyakit, terutama IR-64, sehingga mampu kembali meningkatkan produksi padi sampai menembus 50 juta ton pada tahun 1996, namun dengan laju kenaikan produksi per tahun lebih rendah dari sebelumnya (Zaini, 2009).
Tahun 1997 dicanangkan Gerakan Mandiri Peningkatan Produksi Padi, Kedelai dan Jagung (Gema Palagung). Upaya ini kurang efektif karena laju kenaikan produksi padi, jagung, dan kedelai masih lebih rendah dari laju
kenaikan permintaan. Produktivitas dari total faktor produksi juga turun, yang menandakan bahwa untuk memperoleh tingkat produksi yang sama diperlukan input lebih besar atau penambahan input tidak proporsional dengan kenaikan hasil (tidak efisien).
Pilot percontohan Sistem Usaha Tani Padi Berwawasan Agribisnis (SUTPA) tahun 1995-1997 di 14 provinsi dimotori oleh Badan Litbang Pertanian. Teknologi yang diintroduksi meliputi VUB Memberamo dan Cibodas serta teknologi hemat tenaga kerja melalui sistem tanam benih langsung, pemupukan spesifik lokasi, dan penggunaan alat tanam benih langsung (Adnyana, 1997).
Pada tahun 2002 digulirkan model Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) yang terdiri atas pilot percontohan penerapan ”Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)” di 26 kabupaten dan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) di 20 kabupaten. Model usaha tani dan paket teknologi serta pola pengembangannya ditetapkan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan wilayah serta disesuaikan dengan kebutuhan pasar sehingga kegiatan pengembangannya diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis di pedesaan.
Melalui model PTT, varietas unggul yang dikembangkan mampu berproduksi sesuai dengan potensi genetiknya. Peningkatan produksi padi dengan menerapkan model PTT di tingkat penelitian, tingkat pengkajian (onfarm), dan tingkat petani, masing-masing mencapai 37%, 27% dan 16%. Dalam model PTT, komponen budi daya, seperti pengelolaan hama terpadu (PHT) dapat menekan kehilangan hasil rata-rata 2,4% tahun-1. Penerapan panen beregu dapat menekan kehilangan hasil panen sekitar 13,1 - 18,6% menjadi 3,8% (Badan Litbang Pertanian, 2005a).
Produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. Hal ini terkait dengan peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Peningkatan produktivitas padi dalam kurun waktu tersebut mencapai 87,6%, dari 2,42 ton ha-1 pada tahun 1970 menjadi 4,54 ton ha-1 pada tahun 2004 (Badan Litbang Pertanian, 2005a). Dalam beberapa tahun terakhir laju peningkatan produksi padi nasional cenderung melandai. Dalam periode 2000- 2003, laju kenaikan produksi hanya 0,2% tahun-1. Di sisi lain, laju peningkatan
produktivitas padi cukup tinggi yang mencapai 1,0% tahun-1, tetapi luas panen turun 0,9% tahun-1. Indeks pertanaman (IP) juga menurun dari 1,56 pada tahun 2002 menjadi 1,43 pada tahun 2003. Penurunan IP mengindikasikan bahwa
usaha tani padi mendapat saingan dari usaha tani lain yang lebih menguntungkan.
Ada tiga faktor yang dipertimbangkan dalam memproyeksikan kapasitas produksi padi sawah, yaitu luas baku sawah, IP padi, dan produktivitas (Badan Litbang Pertanian, 2005a). Data statistik Departemen Pertanian (2004) menunjukkan bahwa luas baku sawah menciut 0,4% tahun-1. IP diestimasi pada
angka 154%. Peningkatan produktivitas sebesar 1,0% tahun-1 adalah nilai rata rata peningkatan produktivitas dalam periode 2000-2004.
Menurut Badan Litbang Pertanian (2005a), potensi lahan sawah non rawa pasang surut yang sesuai untuk tanaman padi seluas 13,26 juta ha, lebih dari 50% terdapat di Maluku dan Papua dan hanya 0,85 juta ha terdapat di Bali dan Nusa Tenggara. Dari 13,26 juta ha potensi lahan sawah yang ada, baru 6,86 juta ha yang telah dimanfaatkan. Dengan demikian terdapat 6,4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal: (1) investasi yang mungkin tinggi; (2) kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka; (3) ketersediaan tenaga kerja pertanian; (4) dampak lingkungan atau perubahan ekosistem dan degradasi lingkungan; dan (5) masih adanya alternatif peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas dan IP.
2.2.3. Nilai Penerimaan Usaha tani Padi Sawah
Hasil studi PSE (2001) menyimpulkan bahwa keuntungan usaha tani padi menunjukkan disparitas antar wilayah, musim dan agroekosistem. Kisaran keuntungan masing-masing adalah 13-18,4% di Majalengka (Jawa Barat), 13,7 – 16,1% di Klaten (Jawa Tengah), 10,5 – 16,9% di Kediri (Jawa Timur), 14,8-15,5% di Siderap (Sulawesi) dan 12 – 24% di Agam (Sumatera) (Sudaryanto dan Agustian, 2003).
Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian (2005a) menunjukkan bahwa nilai penerimaan dari usaha tani padi dengan status garapan milik pada musim hujan (MH), musim kemarau (MK) I, dan MK II berturut-turut adalah Rp 5,5 juta, Rp 5,4 juta, dan Rp 5,3 juta ha-1. Total biaya tunai untuk masing-masing musim tanam adalah Rp 2,7 juta, Rp 2,9 juta, dan Rp 3 juta ha-1, sehingga keuntungan atas biaya tunai berturut-turut adalah Rp 2,7 juta, Rp 2,6 juta, dan Rp 2,3 juta ha-1 (43,39 – 49,09%). Pada usaha tani padi dengan status garapan sewa, keuntungan atas biaya tunai pada MH hanya sekitar Rp 1 juta ha-1 (18,18%) karena kompensasi untuk sewa lahan mencapai Rp 1,56 juta ha-1musim-1. Pada
MK I keuntungan lebih rendah dan bahkan pada MK II keuntungan kurang dari Rp 500 ribu ha-1(9,43%). Sedangkan pendapatan usaha tani padi dengan status garapan sakap (bagi hasil) lebih tinggi daripada garapan sewa. Pada MH, keuntungan atas biaya tunai rata-rata Rp 1,15 juta ha-1 (20,90%), pada MK I meningkat menjadi Rp 1,35 juta ha-1(25%).
Peningkatan pendapatan petani dapat ditempuh melalui optimasi usaha tani padi sawah dengan menggunakan model matematis program tujuan ganda (goal programming) (Siswanto, 2006). Langkah awal yang diperlukan dalam upaya penyelesaian masalah optimal adalah penyusunan model yang tepat dengan memperhitungkan variabel dan parameter yang berkaitan secara langsung. Hubungan antar variabel dan antar parameter pada realitasnya sangat rumit dan saling berkaitan, sehingga perlu dilakukan penyederhanaan dalam bentuk model yang berfungsi sebagai alat bantu memperoleh gambaran umum masalah yang sedang dihadapi. Haluan (1985)dalamHeroe (2005), mengartikan optimasi sebagai suatu kata kerja yang berarti menghitung atau mencari titik optimum. Kata benda optimasi merupakan peristiwa atau kejadian proses optimasi. Jadi, teori optimasi mencakup studi kuantitatif tentang titik optimum dan cara-cara untuk mencarinya. Penelitian tentang optimasi secara luas pada berbagai komoditas pertanian telah banyak dilakukan, tetapi umumnya masih menggunakan pendekatan optimasi konvensional, yaitu dengan tujuan tunggal, sehingga model yang dihasilkan sangat spesifik dan teoritis.
Metode optimasi di bidang pertanian dengan pendekatan program matematika konvensional, biasanya menggunakan asumsi dasar yaitu optimasi dengan tujuan tunggal. Kenyataannya, optimasi akan dihadapkan pada kondisi kompleks yang memerlukan adanya kompromi di antara beberapa tujuan yang dapat saling bertentangan. Untuk mencapai kompromi di antara beberapa tujuan dalam optimasi, menurut Romeo dan Rehman (1989) dalam Heroe (2005) perlu dikembangkan teknik pengambilan keputusan dengan kriteria ganda (multiple criteria decision making technique). Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dengan kriteria ganda adalah Goal Programming