• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

3.3. Metode Penelitian

3.3.2. Pengolahan Data

3.3.2.1. Kebutuhan Luas Hutan Kota

Analisa kebutuhan luas hutan kota berdasarkan Inmendagri No. 14 Tahun 1998 tentang penataan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan yaitu dilihat luas hutan kota yang harus tersedia di lingkungan perkotaan dan biasanya ditetapkan dalam persentase dari total luas areal kota yang bersangkutan (40 %).

3.3.2.2 Kebutuhan Luas Hutan Kota berdasarkan Peraturan Pemerintah No 63 Tahun 2002

Menurut peraturan pemerintah No. 63 Tahun 2002 ditentukan bahwa hutan kota paling sedikit 10 % dari luas seluruh kawasan kota. Penetapan porsi bagi pengembangan hutan kota tersebut diperlukan sebagai upaya penyeimbang kemajuan pembangunan.

3.3.2.3.Kebutuhan Luas Hutan Kota Berdasarkan Jumlah Karbondioksida.

Penentuan luas hutan kota berdasarkan jumlah karbondioksida (Gerakis, 1974 dalam Wisesa, 1988 ). Penentuan luas hutan kota berdasarkan jumlah karbodioksida yang dikeluarkan merupakan total karbodioksida yang dihasilkan dari aktifitas manusia, kendaraan bermotor, dan industri.

Rumus : L = atvt + btwt + ctzt K

Keterangan : L = Luas hutan kota (ha)

at = karbondioksida yang dihasilkan setiap manusia (kg/jam) bt = karbondioksida yang dihasilkan perkendaraan bermotor

(kg/jam)

ct = karbondioksida yang dihasilkan perindustrian (kg/jam) vt = jumlah penduduk (jiwa)

wt = jumlah kendaraan bermotor (unit) zt = jumlah industri (unit)

K = konstanta yang menunjukkan bahwa kemampuan hutan kota dalam menyerap CO2 adalah 75 kg /ha/jam.

29

Penentuan luas hutan kota berdasarkan jumlah karbondioksida dilandasi beberapa pertimbangan sebagai berikut :

1) Karbondioksida yang dihasilkan dari aktifitas setiap manusia adalah relatif sama yaitu 0,96 kg/hari (Grey and Deneke, 1978).

2) Waktu aktif kendaraan bermotor adalah : kendaraan penumpang 3 jam/hari,kendaraan beban dan bus 2 jam/hari, sepeda motor 1 jam/hari (Wisesa,1998) sedangkan waktu aktif untuk industri adalah 8 jam/hari (Diana, 2005). karbondioksida yang dihasilkan oleh kendaraan penumpang 40,54 kg/hari,kendaraan beban 50,16 kg/hari, kendaraan bus 100,32 kg/hari, sepeda motor 0,68 kg/hari (Arismunandar, 1980 dalam Wisesa, 1988).

3) Karbondioksida yang dihasilkan dari kegiatan industri dihitung berdasarkan jumlah bahan bakar yang dibutuhkan dalam proses produksi.

4) Menurut Smith et al (1981) dalam Wisesa (1988) seorang manusia mengoksidasi 300 kalori perhari dari makanannya dan menggunakan sekitar 600 liter CO2. Jadi setiap harinya seorang manusia menghasilkan 480 liter CO2 atau 0,968 kg CO2 (0,40333 kg CO2/jam).

Menurut Bernatzky (1978), tumbuhan mampu mengubah karbondioksida dari udara dan mengubah air dari tanah menjadi karbohidrat dan oksigen dengan perantaraan klorofil dan bantuan sinar matahari yang disebut dengan fotosintesis. Proses fotosintesis tersebut akan menyerap karbondioksida yang dihasilkan manusia, kendaraan bermotor, industri dan aktifitas manusia lainnya. Proses tersebut dinyatakan sebagai berikut:

6 mol CO2 + 12 mol H2O + 675 kal 1 mol C6H12O6 + 6 mol O2 + 6 mol H2O 4 gr 216 gr 180 gr 192 gr 108 gr Melalui persamaan proses fotosintesis tersebut, maka akan didapatkan rasio antara jumlah karbondioksida yang digunakan dengan jumlah oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut. Menurut Bernatzky (1978), pohon dengan tinggi 25 m dan diameter tajuk 15 m, akan mempunyai luas tutupan tajuk 160 m2 dan luas permukaan luas daun sebesar 1600 m2, akan melakukan fotosintesis (per jam) sebagai berikut:

CO2 (intake) 2352 gr (total CO2 dari udara 4800 m2) H2O (intake) 960 gr

C6H12O6 (produksi) 1600 gr O2 (out put) 1712 gr.

Sedangkan untuk 1 Ha lahan hijau dengan total luas permukaan daun 5 Ha akan membutuhkan 900 kg CO2 untuk melakukan fotosintesis selama 12 jam, dan pada waktu yang sama akan menghasilkan 600 kg O2. Menurut Grey dan Deneke (1976) setiap jam 1 ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuivalen dengan CO2 yang dihembuskan oleh napas sekitar 200 orang dalam waktu yang sama sebagai hasil pernapasannya.

3.3.2.4 Analisis Spasial Hutan Kota 3.3.2.4.1. Pembangunan Basis Data

Untuk pembangunan basis data digunakan peta digital dengan 8 jenis layer, yaitu layer penduduk, layer kendaraan bermotor, layer industri, layer batas administrasi kelurahan, layer penutupan vegetasi, layer jalan dan layer sungai.

3.3.2.4.2. Pengolahan Digital Data Landsat 1. Pra Pengolahan Citra

a). Koreksi Geometrik

Koreksi geometric dilakukan dengan mengunakan sejumlah titik kontrol lapangan (GroundControl Point). GCP adalah suatu titik pada permukaan bumi yang diketahui koordinatnya (Jaya, 1997). Titik-titik control atau CGP yang digunakan adalah objek-objek yang mudah dikenali dan tidak mudah berubah dalam jangka pendek. Koreksi geometric juga dapat dilakukan dengan rektifikasi citra ke peta atau citra ke citra.

b). Perbaikan/penajaman Citra (Image Enhancement)

Penajaman citra bertujuan untuk memperbaiki mutu kualitas dari citra sehingga dapat meningkatkan pula informasi yang diperoleh dan memudahkan dalam kegiatan interpretasi citra. Menurut Jaya (1997) penajaman citra dapat dilakukan secara bertahap. Tahap (1) perbaikan spasial (Spatial Enhancement), pada tahap ini bertujuan memperbaiki citra (memberikan efek kontras, penajaman tepi dan penghalusan citra), (2) perbaikan radiometric (Radiometric

Enhancement) adalah teknik memperbaiki citra mengunakan nilai individu pixel

yang bersangkutan saja dan diharapkan dapat memperbaiki tampilan visual. Operasi ini juga disebut spesifik pixel atau operasi titik yang meliputi LUT (Look

Up Table), histogram citra, reduksi hase, nois dan infersi citra, (3) perbaikan

31

sejumlah band (basis multiband), meliputi analisis komponen utama (principle

Component analysis), PCA kebalikan, Tasseled cap, decorrelation strech, RGB

to HIS to RGB, dan indeks vegetasi.

2. Klasifikasi

Klasifikasi diartikan sebagai proses pengelompokan pixel-pixel ke dalam kelas-kelas atau kategori-kategori yang telah ditentukan berdasarkan nilai kecerahan (brightness value/BV atau digital number/DN) pixel yang bersangkutan. Berdasarkan tekniknya, klasifikasi manual dilakukan dengan mengelompokan pixel ke dalam satu kelas yang telah ditetapkan interpretel berdasarkan nilai kecerahan maupun warna dari pixel. Klasifikasi kuantitatif pengelompokan pixelnya dilakukan oleh komputer secara otomatis berdasarkan nilai kecerahan contoh yang diambil sebagai training area (Jaya,1997)

Kelas-kelas penutupan lahan dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi beberapa kelas yaitu hutan lebat, semak belukar, sawah, dan kebun campuran. Pemilihan kelas-kelas ini didasarkan pada kelas yang mempunyai vegetasi sebagai suplai oksigen.

3. Analisis Spasial Evaluasi Ketersedian RTH dan Kebutuhan Luas Hutan

Kota Berdasarkan Produksi CO2.

Untuk permodelan spasial pegembangan hutan kota diperlukan data tabular berupa jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor, jumlah hewan ternak, dan jumlah industri dengan unit per kecamatan (data diambil dari hasil perhitungan luas hutan kota berdasarkan jumlah CO2). Selain itu diperlukan data spasial berupa peta administrasi kelurahan, peta tata guna lahan, peta sungai, peta jalan dan citra landsat TM.

Dari data tabular dan data spasial dibuat layer penduduk, layer kendaraan bermotor, dan layer industri, yang kemudian dianalisis spasial untuk menghitung menghitung jumlah karbondioksida masing-masingnya, sehingga didapat jumlah karbondiosida total. Sedangkan ketersediaan oksigen dilihat dari data citra landsat TM yang diklasifikasikan menjadi hutan (pohon), semak belukar, sawah, dan kebun campuran yang menyatakan ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kabupaten Belu. Dari jumlah CO2 total dan ketersediaan oksigen total dapat diketahui kebutuhan luas hutan kota dan ketersedian RTH

yang ada. Analisis spasial ini dilakukan untuk tahun 2003 dan juga untuk perkiraan kebutuhan luas hutan kota tahun 2006, 2010, 2015 dan 2020.

Gambar 4. Diagram Alir Analisis Spasial Prediksi Neraca

Ketersediaan RTH dan Kebutuhan Hutan Kota

Selesai

Mulai

Data Spasial

- Peta batas administrasi kelurahan

- Peta tata guna lahan

- Peta sungai

- Peta jalan

- Citra landsat TM

Klasifikasi Citra Landsat TM

- Hutan Lebat - Semak Belukar - Sawah - Kebun Campuran Pengumpulan data Data Tabular - Jumlah penduduk - Jumlah kendaraan bermotor - Layer Penduduk - Kendaraan Bermotor - Industri Analisis Spasial Kebutuhan Hutan Kota

Analisis Spasial Ketersediaan RTH

Kebutuhan Hutan Kota

- Layer Penduduk - Kendaraan Bermotor - Industr - (Overlay Analisis) Ketersediaan RTH - Hutan Lebat - Semak Belukar - Sawah - Kebun Campuran

33

3.3.2.5. Analysis HierarchyProcess (AHP).

Analisis pendapat Stakeholders menggunakan AHP. Dalam AHP pengukuran dapat dilakukan dengan membangun suatu skala pengukuran dalam bentuk indeks , skoring atau nilai numerik tertentu .

Prinsip- prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP yaitu : dekomposisi, komparatif judgement, sintesis prioritas, dan konsistensi logika. Tahapan yang mesti dilalui pada pendekatan AHP meliputi: 1) Identifikasi Sistem, yaitu: untuk mengidentifikasi permasalahan dan

menentukan solusi yang diinginkan.

2) Penyusunan struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub-sub tujuan kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan krireria paling bawah.

3) Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan pengaruh relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan yang setingkat diatasnya. Perbandingan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan, dengan menilai tingkat kepentingan satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya.

4) Menghitung matriks pendapat individu. 5) Menghitung pendapat gabungan. 6) Pengolahan horizontal.

7) pengolahan vertikal. 8) Revisi pendapat.

Struktur hirarki diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. Adapun bagan alir dari hirarki analisis dengan menggunakan AHP dalam studi seperti disajikan pada gambar 5.

36

Gambar 5. Hierarki Proses Pengembangan Hutan Kota di Kabupaten Belu Propinsi NTT

ASPEK

Pengembangan Hutan Kota

PMRTH PT MASY LSM HKI HKP EKL EKN SOSBUD KBJKN HKK HKR HKPKSK LEG

A. Membuat matriks perbandingan berpasangan

Perbandingan berpasangan untuk menggambarkan pengaruh relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan yang setingkat di atasnya, perbandingan berdasarkan judgement dari para pengambil keputusan, dengan menilai tingkat kepentingan satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya. Untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen yang lain, maka digunakan pembobotan berdasarkan skala proses AHP yang disarankan oleh Saaty (Saaty, 1993), sebagaimana disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Skala Banding Secara Berpasangan dalam AHP

Tingkat kepentingan Keterangan Penjelasan 1 3 5 7 9 2,4,6,8 Kebalikan

Kedua elemen sama pentingnya

Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lain.

Elemen yang satu lebih penting daripada elemen yang lain.

Elemen yang satu jelas lebih

penting daripada elemen yang lain.

Elemen yang satu mutlak lebih penting daripada elemen yang lain.

Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan .

Jika untuk aktifitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingka dengan i.

Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama terhadap tujuan

Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen dibandingkan elemen lainnya.

Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen lainnya.

Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen lainnya.

Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek.

Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tinkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan.

Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan.

36

Untuk mengkuantifikasi data kualitatif pada materi wawancara digunakan nilai skala komparasi 1 sampai 9. skala 1 sampai dengan 9 merupakan skala yang terbaik dalam mengkuantifikasikan pendapat, yaitu berdasarkan akurasinya yang ditunjukkan dengan nilai RMSD (Root Mean Square Deviation) dan MAD

(Median Absolute Deviation).

B. Melakukan perbandingan berpasangan

Perbandingan berpasangan dilakukan untuk memperoleh judment

seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. Bila vektor pembobotan elemen-elemen operasi A1, A2, A3, dinyatakan sebagai vektor W, dengan W= (W1, W2, W3) maka nilai intensitas kepentingan elemen operasi A1 dibandingkan dengan A2 dapat dinyatakan sebagai perbandingan bobot elemen.

A1 terhadap A2, yakni W1/W2 =A12.

Nilai wi/wj dengan i, j = 1,2,3 .... n didapat dari partisipan, yaitu para

stakeholders yang berkompeten dalam permasalahan hutan kota. Bila matriks ini

dikalikan dengan vektor kolom W (W1,W2,W3...Wn) maka diperoleh hubungan; AW = nW ... (1)

Bila matriks A diketahui dan ingin diperoleh nilai W, maka dapat diselesaikan melalui persamaan berikut;

[A – n I] W = 0 ... (2) Dimana I = matriks identitas

C. Menghitung akar ciri, vektor ciri dan menguji konsistensinya

Penghitungan terhadap akar ciri, vektor dan menguji konsistensinya jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi atau dikoreksi.

Menghitung akar ciri. Untuk mendapatkan akar ciri (n) maka harus ada

kondisi;

[A – n I ] = 0

Contohnya; dengan menggunakan matriks A, maka:

0

1

0

0

0

1

0

0

0

1

1

a32

a31

a23

1

a21

a13

a12

1

=

n

0

n

0

0

0

n

0

0

0

n

1

a32

a31

a23

1

a21

a13

a12

1

=

Hasil perhitungan akan didapatkan akar ciri; n1, n2, n3.

Menghitung vektor ciri, nilai vektor ciri merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis judgement dalam penentuan prioritas. Untuk menghitung vektor ciri (W), maka akar ciri (n) maksimum hasil penghitungan diatas disubstitusikan dengan persamaan; [A – n I] = 0; dengan menggunakan normalisasi W1 + W2 + W3 = 1, sehingga bila didapatkan maksimum = 2,maka perkaliannya menjadi seperti berikut :

[ A -n I] W = 0

0

3

2

1

1

0

0

0

1

0

0

0

1

2

1

a32

a31

a23

1

a21

a13

a12

1

=

w

w

w

Sehingga;

0

0

0

w3

w2

w1

2

-

1

a32

a31

a23

2

-

1

a21

a13

a12

2

-

1

=

Di mana pada akhir perhitungan akan diperoleh vektor ciri W1, W2, W3. Vektor tersebut memberikan informasi, pilihan skenario yang paling normal.

D. Pehitungan Indeks Konsistensi (CI)

Indeks konsistensi untuk menyatakan penyimpangan konsistensi dan menyatakan ukuran tentang kosisten tidaknya suatu penilaian atau pembobotan perbandingan berpasangan, dihitung dengan menggunakan rumus;

1

max

=

n

n

CI

λ

Keterangan :

max = akar ciri maksimum; n = ukuran matriks

Nilai pengukuran konsistensi diperlukan untuk mengetahui kekonsistensian jawaban dari key person yang akan berpengaruh terhadap keabsahan hasil.

38

E. Penghitungan Consistensy Ratio (CR)

Ratio konsistensi dapat dihitung dengan persamaan :

RI

CI

CR

=

Di mana nilai RI diperoleh dari table 7 berikut;

Ukuran Matriks Indeks Random

1 dan 2 3 4 5 6 7 8 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 Sumber: Saaty (1993)

F. Sensitivitas Hasil Analisis AHP

Sebagaimana sebuah analisis multikriteria, AHP menurut Triantaphyllou and Sanchez (1997) harus dilengkapi dengan sensitivitas. Analisis sensitivitas ini digunakan untuk dapat melihat range (batasan) perubahan pendapat key person

dalam pengambilan keputusan AHP, di mana dengan analisis sensitivitas dapat dilihat komponen/elemen mana dari struktur hierarki yang paling sensitif terhadap perubahan bobotnya sehingga menghasilkan perubahan alternatif.

4.1. Letak dan Luas

Belu merupakan salah satu kabupaten yang ada di propinsi Nusa Tenggara Timur yang wilayahnya terletak disebelah timur Propinsi tersebut. Posisinya sangat straregis karena berada pada persimpangan negara baru Timor Leste dengan bagian lain propinsi NTT serta pada titik silang antara Kabupaten Flores timur dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Adapun batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Ombai Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Timor

Sebelah Timur berbatasan dengan Negara Timor Leste Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten TTU dan TTS.

Secara geografis Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124o35o12o

Bujur Timur dan 8o57o49oLintang Selatan. Luas wilayah administratif Kabupaten

Belu adalah 2.445.57 km (244.557 ha) atau 5,16 % luas wilayah propinsi NTT terdiri dari 12 kecamatan, 12 kelurahan dan 154 Desa.

Kabupaten Belu dengan posisi yang sangat strategis karena berada pada persimpangan Negara baru Timor Leste ini setelah pengumuman jajak pendapat pada tanggal 4 september 1999, dengan hasil akhir berpisahnya propinsi termudah Timor Timur, membawa dampak yang luar biasa bagi Kabupaten Belu sebagai daerah yang berbatasan langsung. Dengan dideklarasikannya negara

baru, Republic Democratic of Timor Leste pada tanggal 20 Mei 2002, membawa

suasana baru dimana Kabupaten bukan berbatasan langsung dengan suatu Propinsi tetapi suatu Negara. Keadaan ini membawa implikasi tertentu dengan perubahan yang progresif dan dinamis.

Jumlah pengungsi hingga akhir tahun 2001 berjumlah 209.980 jiwa dan berada pada titik-titik lokasi penampungan yang tersebar di 12 kecamatan. Kondisi wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut:

1) Kondisi Fisik Wilaya, khususnya topografi. Secara topografi Kabupaten Belu

merupakan daerah datar, berbukit hingga pegunungan. Berdasarkan topografinya berbagai klasifikasi ketinggian yang diperoleh dari luasan dalam prosentase terhadap luas wilayah Kabupaten Belu sebagai berikut: Ketinggian 0 – 230 mm seluas 98.349 Ha ( 40,12 % )

40

Ketinggian 500 – 750 mm seluas 30.710 Ha ( 12, 56 % ) Ketinggian 750 – 1000 mm seluas 17. 240 Ha ( 7, 03 % ) Ketinggian 1000 – 1.250 mm seluas 2300 Ha ( 0,94 % ) ( Pemerintah Kabupaten Belu 2003 )

2) Geologi. Kondisi geologi di wilayah Kabupaten Belu berdasarkan proses

erosional terdiri dari berbagai kelompok batuan yaitu : kelompok metamorfik, sedimen dan batuan beku. Wilayah Kabupaten Belu didominasi oleh material sedimen. Struktur geologi yang umumnya

dijumpai adalah sesar(foult), kekar( joints ) dan lipatan (fold) di Kecamatan

Malaka Tengah Tasifeto Timur, serta Lamaknen. Dari aspek vegetasi umumnya dihuni oleh padang rumput terbuka dengan kisaran curah hujan rata-rata 1300mm-1400mm/tahun;

3) Jenis Tanah. Jenis tanah di wilayah Kabupaten Belu pada umumnya terdiri

dari tanah Alluvial, tanah Campuran Alluvial Litosol, tanah Litosol dan campuran tanah Mediteran, Renzinz, dan Litosol. Jenis tanah Aluvial dijumpai di dataran Besikamam sepanjang pantai selatan dan sedikit di utara dan pada umumnya jenis tanah ini sangat subur karena banyak mengandung unsur hara. Tanah campuran Aluvial dan Litosol dijumpai di dataran Oeroki dan Halilulik. Jenis tanah ini unsur haranya rendah mengakibatkan kurang subur. Tanah litosol tersebar merata di Kabupaten Belu, dengan sifatnya yang asam maka berdampak pada kandungan unsur haranya yang rendah-sedang. Campuran tanah Mediteran, Renzina dan Litosol tersebar diwilayah Kecamatan Malaka Tengah bersifat porous sehingga banyak dijumpai air tanah.

4.2. Hidrologi

1) Air Tanah. Air tanah yang ada di Kabupaten Belu terdiri dari air tanah

bebas dan dan air tanah tertekan. Air tanah tertekan berada jauh di dalam tanah dengan lapisan yang kedap air dan pada setiap Kecamatan di Kabupaten Belu banyak kemungkinan di jumpai air tanah tertekan. Sedangkan air tanah bebas umumnya dijumpai di dataran rendah dekat pantai pada endapan alluvial dan dekat dengan permukaan air tanah;

2) Air Permukaan. Air permukaan yaitu air yang melalui permukaan tanah

seperti sungai dan mata air. Aliran sungai yang besar umumnya mengalir sepanjang tahun, sedangkan mata air berupa sumur yang kering pada

musim kemarau. Kedua air permukaan ini dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan.

Sungai-sungai besar yang berada di kawasan Kabupaten Belu meliputi; sungai Benenain, Sungai Talau, Sungai Baukama, serta sungai-sungai kecil. Sungai-sungai tersebut mengalir ke arah selatan dan utara Kabupaten Belu. Sungai yang kering di musim kemarau terjadi akibat fluktuasi curah hujan dan dikontrol oleh geologi dan morfologi wilayah.

4.3. Iklim

Iklim di Kabupaten Belu pada umumnya kering (semi arid) dengan musim

hujan yang sangat pendek terjadi selama bulan Nopember-Maret dan musim kemarau antara bulan April – Oktober setiap tahun. Curah hujan di Kabupaten Belu rata-rata 644.58 mm/tahun yang berlangsung singkat yaitu selama bulan Nopember-Maret dengan jumlah hari hujan berkisar antara 100-150 hari setahun dengan rata-rata suhu udara harian antara 24 – 34 C.

4.4. Vegetasi

Tipe vegetasi di Kabupaten Belu sangat beragam, mencakup hampir semua tipe Vegetasi yang terdapat di Pulau Timor. Tipe-tipe vegetasi yang

penting adalah hutan pegunungan tropik (tropical montain forest), hutan musim

tropik (tropical monsoon forest), belukar, hutan terpencar, sarana dan vegetasi

budidaya. Berdasarkan vegetasi yang ada terdiri dari beberapa komunitas dangan jenis vegetasi yaitu :

1) Komunitas hutan pegunungan tropis di wilayah Kabupaten Belu terdapat di

satuan kawasan pegunungan Lakaan yang membentang dari Utara hingga Selatan wilayah daratan tipe-tipe vegetasi hutan yang merupakan

catchment area.

2) Komunitas Tumbuhan Hutan Pantai, Komunitas Hutan pantai yang ada di

sekitar pesisir pantai utara dan pantaiselatan terdiri atas tumbuhan Bakau.

3) Komunitas Tumbuhan Pemukiman, Tumbuhan yang ditemui di daerah

pusat kota, terdiri dari bermacam-macam jenis tanaman budidaya yaitu: a) Tanaman pelindung seperti:Tanaman Hias misalnya; Bougenville,

Evrygreen,dan sebagainya.

b) Tanaman buah-buahan seperti mangga, jeruk,jambu-jambuan, asam kelapa dan sebagainya.

42

4.5. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya 4.5.1. Penduduk

Penduduk menjadi dasar untuk melakukan kegiatan perencanaan pembangunan, karena dengan memperhatikan kondisi penduduk akan dapat dilakukan perkiraan kebutuhan penduduk terhadap ketersediaan fasilitas penunjangnya. Kondisi penduduk Kabupaten Belu pada tahun 1990 sebanyak 216.060 jiwa dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 291.549 jiwa. Hal ini berarti bahwa selama 9 tahun terakhir ini penduduk Kabupaten Belu telah bertambah rata-rata 3.803 jiwa atau 1,76 % tiap tahunnya.

Sedangkan kepadatan penduduk per km2 terus meningkat yakni 88,3 km2

pada tahun 1990 menjadi 118,61 km2 pada tahun 2002. Dengan kepadatan

tertinggi di Kecamatan Kota Atambua yakni sebesar 662.64 jiwa km2, sedangkan

kepadatan terendah di Kecamatan Kakuluk Mesak yakni sebesar 43,60 jiwa/km2.

Pada periode tahun 2001- 2002, rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Belu. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Belu perkecamatan Tahun 2001 dan 2002 disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Belu Perkecamatan tahun 2001 dan tahun 2002

Penduduk (Orang) No Kecamatan 2001 2002 Laju Pertumbuhan ( % Tahun ) 1 Lamaknen 26853 18753 -0,042 2 TASTIM 27407 24018 -0,018 3 RAIHAT 10489 8673 0,188 4 TASBAR 30674 21528 -0,052 5 Kakaluk Mesak 10879 8733 0,128 6 Kota Atambua 49536 46233 0,097 7 Malaka Timur 43306 29784 -0,038 8 Kobalima 22295 15580 0,036 9 Malaka Tengah 37926 30732 -0,030 10 Sasitamean 30240 20127 -0,101 11 Malaka Barat 78104 54533 -0,072 12 Rinhat 18264 12855 0,068 TOTAL 385973 291549 0,163

Sumber BPS KABUPATEN Belu, SP 2000 DAN 2001

Jumlah penduduk menurut SP 2002 yaitu 291.549 jiwa dengan laju pertumbuhan 0,163 %. Dilihat dari persebaran penduduk di Kabupaten Belu menunjukkan adanya pertumbuhan penduduk pada 6 (enam) Kecamatan,

sedangkan untuk 7 (tujuh) Kecamatan terjadi penurunan jumlah penduduk (pertumbuhan penduduk di bawah 0 % ).

4.5.2. Budaya Masyarakat

Kabupaten Belu dalam susunan masyarakatnya terbagi atas 4 sub etnis besar yaitu: Tetun, Kemak ,Bunaq dan Dawan Manlea. Keempat sub etnis mendiami lokasi-lokasi dengan karakreristik tertentu dengan kekhasan penduduk mayoritas penganut agama kristen katolik. Masing-masing etnik tersebut mempunyai bahasa masing-masing sebagai berikut : Bahasa tetun, Bahasa Kemak, Bahasa Bunaq, dan Bahasa Dawan Manlea, dan mempunyai buidaya yang berbeda satu sama lain.

Masyarakat Belu dapat dengan mudah hidup rukun karena aspek-aspek kesamaan–kesamaan spesifik. Mata pencaharian utama adalah bertani dan beternak yang masih dikerjakan secara intensif tradisional (data pokok). Kondisi sosial masyarakat masih cukup bersahabat sebab dari arti kata Belu berarti Sahabat. Nama ini juga tercermin dari teguhnya kebersamaan dalan beraktivitas meskipun dengan heterogennya masyarakat di Kabupaten Belu.

Semangat kebersamaan terekspresi dari pola gotong royong dari masyarakat Belu yang masih dibudayakan pada semua sektor. Kekuatan hukum adat masih sangat dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga rencana apapun yang direncanakan lewat sesepuh adat tersebut lebih besar kemungkinan untuk berhasil (monografi Kabupaten Daerah TK II Belu sekretariat wilayah/ Daerah tingkat II Belu 1985).

4.6. Kondisi Hutan Kota

Makam Pahlawan ini merupakan makam para pahlawan yang berada di Kabupaten Belu yang memberikan nilai sejarah/Historis. Khususnya bagi para pahlawan yang telah berjuang bagi Propinsi yang ke 27 bagi negara Indonesia

Dokumen terkait