BAB II KAJIAN TEORITIS
2.6 Kebutuhan Pustakawan Profesional
Kebutuhan tenaga merupakan adanya ketidaksesuaian antara jumlah tenaga yang ada saat ini dengan tingkat pekerjaan yang harus dikerjakan. Adanya ketidak sesuaian ini dapat menggangu proses kinerja yang berlangsung di suatu lembaga. Untuk kegiatan perpustakaan, ketidak sesuaian ini dapat menggangu kinerja pustakawan dalam memberikan layanan kepada pengguna.
Adanya kebutuhan terhadap tenaga pustakawan tentu disebabkan oleh beberapa faktor. Namun pada umumnya masalah yang sering dihadapi oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pustakawan yaitu: kekurangan staf, rasio yang tidak sebanding antara tenaga teknis dan pustakawan, kesalahan dalam penempatan, ketidakmampuan tenaga perpustakaan dalam melaksanakan tugas yang diberikan, dan rasio perbandingan tenaga berdasarkan jenis, usia, pendidikan, jabatan, dan sebagainya.
Kebutuhan tenaga pustakawan perlu direncanakan dengan mempertimbangkan kuantitas dan kualifikasinya. Dengan mempertimbangkan kuantitas dan kualifikasi pustakawan yang akan direkrut, akan menghadirkan prinsip efisiensi dan efektivitas bagi pelayanan perpustakaan. Menurut Cahyono (2015) menyatakan bahwa“perpustakaan menyedikan personil dan kualitas yang cukup untuk memastikan keunggulan dan kesuksesan dalam suatu lingkungan yang terus berubah. Hal ini dapat diartikan sebagai bentuk keharusan bagi
perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pustakawan yang cukup dalam hal jumlah serta berkualitas dalam pekerjaan”.
Berdasarkan pernyataan di atas agar kegiatan yang ada di perpustakaan berjalan dengan lancar maka perpustakaan membutuhkan pustakawan yang cukup dalam kuantitas dan kualitas untuk mendukung segala kegiatan kepustakawanan yang ada di perpustakaan. Komposisi pustakawan yang ideal dalam segi jumlah dan bobot kualitas juga akan menentukan pelayanan yang diberikan dalam perpustakaan serta dapat sesuai dengan jumlah beban kerja yang ada di perpustakaan.
Menurut Saleh (2014) yang dikutip oleh Kangko dan Erika (2017) rencana kebutuhan tenaga pustakawan bermanfaat untuk:
a) Memperbaiki penggunaan sumber daya manusia.
b) Memadukan kegiatan-kegiatan personalia dan tujuan-tujuan organisasi di waktu yang akan datang secara efisien.
c) Mengadakan pengadaan karyawan baru secara ekonomis.
d) Mengembangkan informasi dasar manajemen personalia untuk membantu kegiatan-kegiatan personalia dan unit-unit organisasi.
e) Membantu program-program manajemen personalia yang berbeda-beda, seperti rencana penarikan dan seleksi.
Dalam merencanakan kebutuhan pustakawan, perpustakaan tentunya harus mempertimbangkan beberapa variabel yang dapat mempengaruhi jumlah pustakawan yang akan direkrut. Menurut Zainuddin (2006) adapun variabel yang menjadi pengaruh bagi perpustakaan untuk merekrut tenaga pustakawan yaitu:
jumlah dan macam pengguna, pelayanan yang dipilih, lama waktu pelayanan, dan titik layan, besarnya koleksi, tata ruang gedung, pemanfaatan komputer, dan pertambahan koleksi.
Idealnya komposisi pustakawan pada perpustakaan perguruan tinggi akan menghasilkan layanan yang efisien bagi pengguna. Kendala-kendala yang dihadapi dalam hal jumlah dan kualitas akan teratasi apabila melakukan analisa yang tepat terhadap perhitungan jumlah pustakawan yang akan direkrut.
Dalam Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dijelaskan bahwa:
1. Kualifikasi tenaga perpustakaan perguruan tinggi adalah pustakawan minimal strata satu di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, terlibat aktif dalam organisasi profesi dibuktikan dengan kartu anggota atau sertifikat. Tenaga teknis perpustakaan dengan pendidikan minimal diploma dua serta memperoleh pelatihan kepustakawan dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi.
2. Perpustakaan dikelola oleh tenaga perpustakaan sekurang-kurangnya 2 orang pustakawan.
3. Untuk 500 mahasiswa pertama: 1 orang pustakawan dan 1 orang staf.
4. Untuk setiap tambahan 2000 mahasiswa ditambahkan 1 orang pustakawan.
5. Perpustakaan memberikan kesempatan untuk pengembangan sumber daya manusianya melalui pendidikan formal dan nonformal kepustakawanan.
Berdasarkan uraian Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi di atas dapat diketahui bahwa terdapat suatu aturan untuk mengatur komposisi jumlah pustakawan serta kualifikasi nya. Perpustakaan perguruan tinggi ditekankan untuk memiliki pustakawan yang benar-benar berlatar belakang ilmu perpustakaan serta memperhatikan perbandingan antara jumlah pustakawan yang ada dengan jumlah mahasiswa yang dimiliki.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sudaryono (2017) penelitian kualitatif merupakan “penelitian yang berupaya menganalisis kehidupan sosial dengan menggambarkan dunia sosial dari sudut pandang atau interpretasi individu (informan) dalam latar ilmiah”.
3.2 Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan pada Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan, dan Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
3.3 Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah kepala perpustakaan dan salah satu pustakawan dari setiap Perpustakaan yang diteliti. Dalam menentukan informan peneliti menggunakan teknik purposive sampling.
Kode Jabatan
I1 Pustakawan Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan
I2 Pustakawan Perpustakaan Pembangunan Panca Budi Medan
I3 Kepala Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan
I4 Kepala Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan
Tabel 2: Karakteristik Informan
3.4 Teknik Mengumpulkan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu
a. Studi dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan cara mencari data atau informasi yang berasal dari buku, jurnal, dan artikel untuk disesuaikan dengan kebenaran informasi yang diperoleh pada saat wawancara.
b. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati langsung ke pada obyek penelitian.
c. Wawancara
Wawancara (interview) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung (tatap muka) antara pewawancara dengan orang
yang akan memberikan informasi. Sebelum wawancara dilakukan terlebih dahulu disiapkan daftar pertanyaan dengan menggunakan pedoman wawancara.
3.5 Instrumen Penelitian
Menurut Afrizal (2016) instrumen penelitian adalah alat-alat yang diperlukan atau yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Untuk memperoleh kepastian data yang valid peneliti membutuhkan instrumen penelitian. Adapun instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada informan untuk mendapatkan informasi yang mendalam dari informan.
2. Alat bantu wawancara
Pada umumnya ingatan manusia sangat terbatas, maka alat bantu wawancara dibutuhkan untuk merekam hasil wawancara dengan informan. Alat bantu wawancara yang digunakan peneliti yaitu telepon seluler.
3.6 Jenis dan Sumber data
Jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung peneliti terhadap obyek yang diteliti.
b. Data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diteliti untuk mendukung data primer.
3.7 Teknik Analisis Data
Menurut Yusuf (2014) analisis data merupakan “suatu proses sistematis pencarian, dan pengaturan transkrip wawancara, observasi, catatan lapangan, dokumen, foto, dan material lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang data yang telah dikumpulkan, sehingga memungkinkan temuan penelitian dapat disajikan dan diinformasikan kepada orang lain”. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Miles dan Huberman.
Adapun model tersebut yaitu:
1. Data display
Informasi yang terlebih dahulu disusun untuk ditarik suatu kesimpulan atau pengambilan tindakan.
2. Reduksi Data
Suatu bentuk analisis yang memilih, memfokuskan, membuang dan mengorganisasikan data dalam satu cara agar kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasi.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan yang dilakukan bersumber dari reduksi data dan dari data display.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan pustakawan profesional pada perguruan tinggi swasta di kota Medan yang dilakukan di Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan, dan Perpustakaan Pembangunan Panca Budi Medan. Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu melalui wawancara dengan 4 informan.
Wawancara dilakukan setelah adanya perkenalan dan menggunakan bahasa yang informal agar suasana pada saat wawancara bersifat alamiah.
Wawancara juga diawali dengan menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan penelitian agar penelitian berjalan dengan lancar. Wawancara dengan informan lain dilakukan dengan pertanyaan yang sama menggunakan pedoman wawancara dan pertanyaan pada pedoman wawancara berkembang sesuai dengan topik penelitian. Adapun jadwal serta lokasi wawancara yang dilakukan yaitu:
1. Rabu 30 Oktober 2019 wawancara dengan pustakawan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan
2. Senin 04 November 2019 wawancara dengan kepala perpustakaan dan pustakawan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan
3. Rabu 06 November 2019 wawancara dengan kepala perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
4.1 Kategori/ Analisis Data
Penelitian dilakukan untuk menghitung kebutuhan pustakawan pada perguruan tinggi swasta di Kota Medan berdasarkan indikator Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi pada poin ke 9. Adapun indikator tersebut yaitu:
1. Kualifikasi tenaga perpustakaan perguruan tinggi adalah pustakawan minimal strata satu di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, terlibat aktif dalam organisasi profesi dibuktikan dengan kartu anggota atau sertifikat. Tenaga teknis perpustakaan dengan pendidikan minimal diploma dua serta memperoleh pelatihan kepustakawan dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi.
2. Perpustakaan dikelola oleh tenaga perpustakaan sekurang-kurangnya 2 orang pustakawan.
3. Untuk 500 mahasiswa pertama: 1 orang pustakawan dan 1 orang staf.
4. Untuk setiap tambahan 2000 mahasiswa ditambahkan 1 orang pustakawan.
5. Perpustakaan memberikan kesempatan untuk pengembangan sumber daya manusianya melalui pendidikan formal dan nonformal kepustakawanan.
Berdasarkan penjelasan di atas berkembang menjadi pedoman wawanara untuk memperoleh hasil penelitian mengenai kebutuhan pustakawan profesional pada perguruan tinggi swasta di kota Medan.
Pertanyaan I : Apakah perpustakaan dalam merekrut pustakawan sudah sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi?
I1: “belum karena masih berdasarkan kebutuhan saja”
I2: “sudah”
I3: “sudah, meskipun saya bukan lulusan dari ilmu perpustakaan, tetapi untuk pustakawan yang ada disini saya rekrut yang betul-betul berasal dari lulusan ilmu perpustakaan”
I4 :”kalau berdasarkan jumlah sudah sesuai, tapi kalau dari pendidikan kepala perpustakaan nya belum, karena saya masih bergelar S1 perpustakaan”
Berdasarkan pernyataan informan di atas, perpustakaan dalam merekrut pustakawan masih berdasarkan kebutuhan saja dan belum memenuhi aturan yang berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Pertanyaan II : Berapa jumlah pustakawan yang ada saat ini?
I1: “ ada 3”
I2: “ jumlah pustakawan sekarang disini ada 6, karena ada 2 pustakawan yang baru masuk”
I3: “ada 6”
I4: “sekarang ada 5 pustakawan”
Berdasarkan pernyataan informan di atas, jumlah tenaga pustakawan yang ada saat ini di perpustakaan masih belum memenuhi Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Pertanyaan III: Bagaimana rincian kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan yang ada saat ini?
I1: “ kalau pegawai yang lainnya disini tamatan bermacam-macam, ada yang dari sarjana komputer, sarjana ekonomi, sisanya tamatan SMA”
I2: “ada yang dari S2 PAI (Pendidikan Agama Islam), untuk kepala perpustakaan nya dari S2 Komputer”
I3: “saya sendiri tamatan S2 komputer, ada dari pendidikan agama islam, selain itu baru tamatan ilmu perpustakaan”
I4: “5 orang dari ilmu perpustakaan, 2 manajemen perkantoran, 1 orang lagi lulusan SMA.”
Berdasarkan pernyataan informan di atas tenaga perpustakaan yang ada saat ini terdiri dari latar belakang pendidikan berbeda-beda. Seharusnya tenaga pustakawan untuk mengelola perpustakaan berasal dari latar belakang ilmu perpustakaan.
Pertanyaan IV: Berapa jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota perpustakaan?
I1: “kalau disini seluruh mahasiswa yang telah terdaftar sebagai mahasiswa Nommensen otomatis sudah menjadi anggota perpustakaan, jumlah nya sekitar 8.000”
I2: “jumlah anggota perpustakaan 36.989”
I3: “ada 36.989 anggota perpustakaan”
I4: “untuk anggota perpustakaan biasanya otomatis kalau dia sudah terdaftar menjadi mahasiswa di UNIKA. Jumlah anggota saat ini 30.164 orang”
Pertanyaan V: Apa yang dilakukan perpustakaan dalam upaya melakukan pengembangan SDM perpustakaan?
I1: “kalau pengembangan SDM, perpustakaan mendorong pustakawan untuk ikut seminar, pelatihan-pelatihan”
I2: “perpustakaan memberikan izin kepada pustakawan untuk mengikuti seminar dan workshop”
I3: “perpustakaan memfasilitasi pustakawan untuk ikut seminar, workshop dengan goal atau tujuan nya untuk memperoleh sertifikasi pustakawan. Untuk pustakawan yang masih D3, perpustakaan akan menyekolahkan agar pustakawan mendapat gelar sarjana dalam bidang ilmu perpustakaan”
I4: “kalau untuk pengembangan SDM Perpustakaan kita aktif dalam kegiatan JPAPTIK seperti raker, pelatihan, dan workshop. Ikut dalam kerjasama FPPTI, Organisasi IPI, dan menyekolahkan lagi pustakawan yang masih D3 kalau masih ada”
Berdasarkan pernyataan informan di atas, dalam upaya untuk melakukan pengembangan SDM nya perpustakaan memberikan berbagai fasilitas seperti diberikan seminar, pelatihan, workshop bahkan hingga diberikan pendidikan atau disekolahkan bagi pustakawan yang masih bergelar D3 agar mendapatkan gelar sarjana dalam bidang ilmu perpustakaan.
4.2 Rangkuman Hasil Penelitian
Rangkuman hasil penelitian merupakan suatu ringkasan mengenai hasil terhadap masalah yang diteliti. Setelah melakukan proses observasi, wawancara, dan mengolah data peneliti memaparkan rangkuman hasil penelitian sebagai berikut:
No. Nama Universitas Tenaga/SDM Jumlah
1 Universitas HKBP Nommensen Pustakawan 3
2 Universitas Katolik Santo Thomas Medan Pustakawan 5
3 Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Pustakawan 6
Tabel 3. Jumlah Pustakawan saat ini
Berdasarkan uraian dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah pustakawan yang ada saat ini pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan berjumlah 3 orang, pustakawan pada Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan berjumlah 5 orang, dan pustakawan pada Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan berjumlah 6 orang.
Setelah menggunakan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi terdapat perbedaan jumlah pustakawan yang dibutuhkan. Sehingga dalam tabel dapat diuraikan sebagai berikut:
No. Nama Universitas Tenaga/SDM Jumlah
1 Universitas HKBP Nommensen Pustakawan 16
2 Universitas Katolik Santo Thomas Medan Pustakawan 60
3 Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Pustakawan 74
Tabel 4. Jumlah Pustakawan Seharusnya Berdasarkan SNP
Tabel di atas menjelaskan bahwa:
1. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan dapat diketahui bahwa Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan memiliki 13 orang pegawai perpustakaan dengan rincian 3 (tiga) orang berlatar belakang ilmu perpustakaan, 2 (dua) orang berasal dari lulusan
ilmu hukum dan ilmu komputer, serta 7(tujuh) orang berasal dari lulusan SMA. Tetapi setelah menggunakan Standar Nasional Perpustakaan untuk Perguruan Tinggi pada poin ke 9 dinyatakan bahwa untuk 500 mahasiswa dibutuhkan paling sedikit 1 (satu) orangpustakawan, untuk rasio tenaga teknis yaitu setiap 5.000 mahasiswa paling sedikit dibutuhkan 1 (satu) orang tenaga teknis perpustakaan.Jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota perpustakaan sebanyak 8.000 orang, berarti pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan membutuhkan 16 (enam belas) orang pustakawan dan sedikitnya 2 (dua) orang tenaga teknis perpustakaan.
2. Untuk Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan dapat diketahui bahwa memiliki 8 (delapan) orang pegawai perpustakaan dengan rincian 5 orang pegawai berlatar belakang ilmu perpustakaan S1, 2 (dua) orang berlatar belakang manajemen perkantoran, dan 1 (satu) orang berasal dari lulusan SMA. Setelah menggunakan Standar Nasional Perpustakaan untuk Perguruan Tinggi pada poin ke 9 dinyatakan bahwa untuk 500 mahasiswa dibutuhkan paling sedikit 1 pustakawan, untuk rasio tenaga teknis yaitu setiap 5.000 mahasiswa paling sedikit dibutuhkan 1 tenaga teknis perpustakaan. Jumlah mahasiswa yang terdaftar menjadi anggota perpustakaan sebanyak 30.164 orang, berarti pada Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan
membutuhkan 60 (enam puluh) orang pustakawan dan 6 (enam) orang tenaga teknis perpustakaan. Sedangkan saat ini di Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan hanya mempunyai 5 (lima) orang pustakawan.
3. Untuk Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan dapat diketahui bahwa jumlah pegawai perpustakaan yang ada saat ini yaitu berjumlah 9 orang dengan rincian 6 (enam) orang berlatar belakang ilmu perpustakaan, 2 orang berasal dari PAI (Pendidikan Agama Islam) dan 1 orang lainnya berasal dari Ilmu komputer.
Setelah menggunakan Standar Nasional Perpustakaan untuk Perguruan Tinggi pada poin ke 9 dinyatakan bahwa untuk 500 mahasiswa dibutuhkan paling sedikit 1 pustakawan, untuk rasio tenaga teknis yaitu setiap 5.000 mahasiswa paling sedikit dibutuhkan 1 tenaga teknis perpustakaan. Jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota perpustakaan sebanyak 36.989 orang, berarti pada Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan membutuhkan 74 (tujuh puluh empat) orang pustakawan dan 7 (tujuh) orang tenaga teknis perpustakaan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui proses observasi, wawancara hingga ke tahap analisis, maka dapat diperoleh kesimpulan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian yang dilakukan. Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Belum terpenuhinya kebutuhan pustakawan di Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan, dan Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.
2. Tidak adanya proses rekruitmen yang dilakukan oleh perpustakaan berdasarkan kebutuhan pustakawan.
3. Ketidaktahuan dari pustakawan dan perpustakaan mengenai jumlah ideal pustakawan yang dibutuhkan berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Sesuai dengan indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi pada poin ke 9 yang menyatakan bahwa :
1. Perpustakaan dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada pimpinan perguruan tinggi. Kualifikasi kepala perpustakaan adalah tenaga berpendidikan paling rendah magister ilmu perpustakaan dan informasi atau magister lain yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan perpustakaan.
Kepala Perpustakaan Perguruan Tinggi harus memiliki sertifikat kompetensi perpustakaan yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi.
2. Rasio pustakawan yaitu setiap 500 (lima ratus) mahasiswa paling sedikit 1 (satu) pustakawan.
3. Rasio tenaga teknis yaitu setiap 5.000 (lima ribu) mahasiswa paling sedikit 1 (satu) tenaga teknis perpustakaan.
Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa untuk Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan dengan jumlah anggota perpustakaan yang berjumlah 30.164 orang dan pustakawan sebanyak 5 orang, seharusnya membutuhkan sebanyak 60 orang pustakawan dan 6 orang tenaga teknis perpustakaan. Sementara itu untuk Perpustakaan HKBP Nommensen Medan dengan jumlah anggota perpustakaan sebanyak 8.000 orang dan pustakawan sebanyak 3 orang, maka seharusnya membutuhkan pustakawan sebanyak 16 orang dan tenaga teknis sebanyak 2 orang.Sedangkan untuk Perpustakaan Pembangunan Panca Budi Medan dengan jumlah anggota perpustakaan sebanyak 36.989 orang dan pustakawan berjumlah 6 orang, seharusnya membutuhkan pustakawan sebanyak 74 orang dan 7 orang tenaga teknis perpustakaan.
Jika dilihat berdasarkan uraian di atas, maka dapat dinilai bahwa ketiga perpustakaan perguruan tinggi swasta tersebut masih sama-sama membutuhkan
pustakawan profesional dalam jumlah yang banyak untuk membantu kegiatan perpustakaan. Dalam urutan yang dapat dibuat berdasarkan tingkat kebutuhan nya, Perpustakaan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan menjadi perpustakaan yang membutuhkan paling banyak pustakawan profesional, diikuti dengan Perpustakaan Universitas Katolik Santo Thomas Medan, dan yang terakhir Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka saran peneliti kepada ketiga perpustakaan perguruan tinggi swasta tersebut yaitu:
1. Perpustakaan, diharapkan agar ketiga perpustakaan menjadikan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai pedoman dalam menentukan jumlah pustakawan.
2. Perpustakaan diharapkan memperbaiki sistem rekrutmen bagi pustakawan agar menjadi sistem rekrutmen yang berdasarkan kebutuhan pustakawan.
3. Pustakawan mengikuti pelatihan agar perpustakaan mempunyai pustakawan yang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Firliyanti Nur Imamah. Penerapan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNP010:2011) di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Makassar.http://repositori.uinalauddin.ac.id/3559/1/FIRLIYANTI%20NU R%20IMAMAH.pdf. Diakses 17 Februari 2019.
Hapsari, Dian. Menjadi Pustakawan Profesional Bersama Ikatan Pustakawan
Indonesia (IPI).
http://journal.upi.edu/index.php/edulib/article/download/1147/795
Hasugian, Jonner. 2009. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Medan:
USU press.
Hermawan, Rachman. 2006. Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etika Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Kangko, Danang Dwijo; Erika. 2017. Analisis Kebutuhan Tenaga Perpustakaan
Universitas Trijaya Nusamedia.
https://www.researchgate.net/publication/318813474AnalisisKebutuhanTe nagaPerpus takaanUniversitasTrijayaNusamedia. Diakses 17 Februari 2019.
Perpustakaan Nasional RI. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Rismayeti. 2013. Perpustakaan Perguruan Tinggi : Pedoman, Pengelolaan Dan Standarisasi.Jurnal Ilmu Budaya. Vol.9 No.2.
https://journal.unilak.ac.id/index.php/jib/issue/view/129.
Diakses 14 Maret 2019.
Santoso Hari. PROFESI DAN PROFESIONALISME PUSTAKAWAN PADA PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
http://digilib.um.ac.id/images/stories/pustakawan/pdfhasan/profesi%20dan
%20profesionalisme%20pustakawan.pdf. Diakses 26 Juni 2019.
Sapril,H. (2012). Profesionalisme Pustakawan. Dalam Jurnal Iqra’. Volume.06 No.02.2012. Diakses 26 Juni 2019.
Sulistyo-Basuki 2004 Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia PustakaUtama.
Sutarno Ns. 2004. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.
Soewadji, Jusuf. 2012. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Teguh Yudi Cahyono. Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi http://lib.um.ac.id/wp-content/uploads/2017/07/Standar-Nasional-Perpustakaan-Perguruan-Tinggi. Diakses 15 Mei 2019.
Yuhelmi. Pustakawan Sebagai Tenaga Profesional.
https://journal.unilak.ac.id/index.php/jib/article/view/1064. Diakses 26 Juni 2019
Yusuf, Murni. 2014. Metode Penelitian; kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Jakarta: Prenadanedia Group.
Zainuddin, Zaslina. Kebutuhan Pustakawan Profesional di Provinsi Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/15729/pus-apr2005- %20%286%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y. Diakses 17 Februari 2019.
LAMPIRAN I
A. Pedoman wawancara
1. Apakah perpustakaan dalam merekrut pustakawan sudah sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan?
2. Berapa jumlah pustakawan yang ada saat ini di perpustakaan?
3. Bagaimana rincian kualifikasi pendidikan pustakawan yang ada saat ini?
4. Berapa jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota perpustakaan?
5. Apa yang dilakukan perpustakaan dalam upaya melakukan pengembangan SDM perpustakaan?
B. Transkrip Hasil Wawancara
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan adalah:
Pertanyaan I : Apakah perpustakaan dalam merekrut pustakawan sudah sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan?
I1 : “belum karena masih berdasarkan kebutuhan saja”
I2 : “sudah”
I3 : “sudah, meskipun saya bukan lulusan dari ilmu perpustakaan, tetapi untuk pustakawan yang ada disini saya rekrut yang betul-betul berasal dari lulusan ilmu perpustakaan”
I4 : “kalau berdasarkan jumlah sudah sesuai, tapi kalau dari pendidikan kepala perpustakaan nya belum, karena saya masih bergelar S1 perpustakaan”
Pertanyaan II: Berapa jumlah pustakawan yang ada saat ini?
I1 : “ada 3”
I2 : “jumlah pustakawan sekarang disini ada 6, karena ada 2 pustakawan yang baru masuk”
I3 : “ada 6”
I4 : “sekarang ada 5 pustakawan”
Pertanyaan III :Bagaimana rincian kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan
Pertanyaan III :Bagaimana rincian kualifikasi pendidikan tenaga perpustakaan