• Tidak ada hasil yang ditemukan

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARG ET PROGRAM/KEGIATAN

4.2.2.2 Bagi Kecamatan

Melalui Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN), pemerintah bermaksud mewujudkan kecamatan sebagai pusat pelayanan masyarakat dan simpul pelayanan bagi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Fungsi sebagai pusat pelayanan ini menjadi relevan bila dilihat dari segi kedekatan jarak, kecepatan waktu, dan kualitas pelayanan yang diberikan. Hampir

sebagian besar pelayanan administrasi untuk keperluan warga diselenggarakan di kecamatan.

Kabupaten Nias terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan yang terbagi dibeberapa wilayah. Karakteristik wilayah Kabupaten Nias sebagian besar masyarakatnya berada di daerah pegunungan dan berbukit - bukityang jauh dari ibukota dan lokasi SKPD penyedia pelayanan perizinan.

Tabel 4.11 Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Kantor Bupati di Kabupaten Nias Tahun 2015

No Kecamatan Ibukota Kecamatan

Jarak Dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota Kecamatan

(Km)

1. Gido Hiliweto 25

2. Idanogawo Tetehosi 35

3. Bawolato Sisarahili Bawolato 55

4. Hiliduho Hiliduho 19

5. Botomuzoi Hiliwaele I 28

6. Hiliserangkai Dahadano Botombawo 20,5

7. Ulugawo Tanoniko’o 55

8. Ma’u Lasa Siwalu Banua 44

9. Somolo-molo Somolo – molo 35

10. Sogae’adu Sogaeadu 30

Dari tabel tersebut diatas, Kecamatan yang paling dekat dengan Kantor Bupati dan Ibukota adalah Kecamatan Hiliduho, dan yang terjauh adalah Kecamatan Ulugawo dan Bawolato. Wilayah Kecamatan Gido, Sogaeadu, Idanogawo dan Bawolato berada di pesisir pantai dan telah dilalui oleh jalan propinsi. Namun, ke – 7 (tujuh) kecamatan lainnya berada di dataran tinggi dan topografi berbukit dan berlembah. Akses jalan menuju kecamatan tekah tersedia meskipun kondisinya tidak begitu baik. Bahkan di Kecamatan Ma;u, Ulugawo, dan Somolo – molo, pembangunan sarana dan prasarana jalan baru dimulai sejak 2 (dua) tahun yang lalu. Belum lagi jika mencermati akses jalan dari kecamatan menuju ke desa – desa yang pada umumnya belum diaspal, hanya jalan setapak berbatu dan berlumpur.

Kondisi – kondisi tersebut diatas merupakan gambaran bahwa betapa susahnya masyarakat Kabupaten Nias untuk memperoleh pelayanan perizinan dan non perzinan bila kegiatan tersebut dilakukan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu yang berlokasi di Kota Gunungsitoli. Dapat dibayangkan berapa biaya, waktu, tenaga, yang harus dikeluarkan oleh masyarakat dalam memperoleh pelayanan. Penyelenggaraan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan juga dilakukan dalam upaya memperbaiki dan menata pelayanan di tingkat kecamatan. Selama ini sudah sangat sering terdengar istilah di kantor pemerintah “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah?” karena itu tidak mengherankan bila banyak keluhan warga mengenai lambannya pelayanan, ketidakjelasan prosedur, dan adanya pungutan liar. Akibatnya warga masyarakat enggan berurusan dengan birokrasi pemerintah, termasuk kecamatan. Oleh karena itu, maka mengoptimalkan Penyelenggaraan Pelayanan Administrasi

Terpadu Kecamatan merupakan solusi yang dapat digunakan dalam memperbaiki kualitas pelayanan di kecamatan. Jika tidak, maka akan mengakibatkan beberapa implikasi, antara lain :

a. Ketidakjelasan dan tumpang tindih pelaksanaan tugas bagi para personil kecamatan;

b. Ketidakjelasan pedoman tentang proses pelayanan, waktu, dan biaya pelayanan;

c. Meningkatnya pungutan liar atau “seksi basah dan seksi kering”; dan

d. Maraknya praktek – praktek percaloan dalam mempermudah pelayanan;

Namun hal tersebut tidak akan terjadi jika Pemerintah Daerah Kabupaten Nias mengoptimalkan peran dan fungsi kecamatan melalui Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN). Penyelenggaraan PATEN di kecamatan sangat penting dilakukan karena dijalankan dengan Sistem Pelayanan Administrasi Terpadu. Sistem ini telah memindahkan Pelayanan Administrasi kependudukan dan perizinan usaha yang semula bertumpu kepada kepala seksi, menjadi loket atau meja khusus pelayanan yang akuntabel secara cepat dan mudah, karena prosedur dan biayanya jelas dan tepat waktu. Penyelenggaraan PATEN berbeda dengan pelayanan konvensional yang selama ini dilakukan. Perbedaan dapat dilihat dari aspek fisik, proses, Sumber daya manusia, ketersediaan informasi dan database, serta partisipasi masyarakat.

Tabel 4.12 Perbedaan pelayanan konvensional dengan PATEN

Aspek Pelayanan Konvensional PATEN

Fisik Terdiri dari beberapa meja yang saling terpisah

1.Loket/Meja Yang

Difungsikan Khusus Untuk Pelayanan Yang Terdiri Dari Dua Bagiam Yang Berhubungan Langsung

Dengan Warga, Yaitu (A) Bagian Penerima Berkas; Dan (B) Bagian penyerahan dokumen hasil

Proses 1. Warga membawa berkas

persyaratan dan menemui secara langsung pejabat yang

berhubungan dengan urusannya, yaitu Kepala Seksi,

Sekcam, dan Camat;

2. Bila pejabat tersebut tidak

hadir, warga harus kembali pada lain hari;

3. Bila tidak tahu prosesnya,

warga harus bertanya kesana kemari, sehingga memperlambat penyelesaian masalah; 1. 2. 3.

Warga cukup menyerahkan berkas persyaratan melalui loket/meja pelayanan, menunggu diruang tunggu dan

menerima dokumen hasil; Ada pendelegasian

wewenang, sehingga ketidakhadiran seorang pejabat dapat dilimpahkan kepada petugas yang

ditunjuk;

Alur prosesnya ditampilkan secara jelas dan transparan.

Sumber Daya Manusia

Tidak ada pembagian tugas dalam memberikan pelayanan, sehingga berpotensi terjadinya tumpang tindih tugas antar pegawai dan cenderung tidak efisien.

1. 2.

3.

Ada petugas khusus yang melayani warga;

Setiap pegawai memiliki peran yang jelas dalam melayani warga;

Meningjkatkan kinerja pegawai yang ada.

Ketersediaan

1.Informasi

2.

3.

4.

Tidak ada Informasi mengenai persyaratan, biaya, dan waktu; sehingga warga cenderung

mengeluarkan biaya lebih besar dengan harapan cepat selesai

Informasi biasanya

disampaikan langsung oleh pegawai kecamatan kepada

masyarakat yang sedang

mengurus pelayanan.

Camat sulit mengontrol biaya

pelayanan yang

diterima pegawainya.

Dapat menjebak Camat dengan tuduhan “ kutipan liar “

1.

2.

3.

Terssedia Informasi mengenai jenis pelayanan, waktu, biaya dan prosedur untuk memperoleh

pelayanan;

Ada sosialisasi mengenai penyelenggaraan pelayanan publik. Penerimaan biaya pelayanan dapat dipantau secara langsung, karena pembayaran dicatat secara transparan dan akuntabel. Memberikan kepastian kepada camat dalam menjalankan pelayanan publik.

Database Tidak ada sistem

database mengenai pelayanan

Dilengkapi dengan database pelayanan yang dikelola dan diperbaharui terus menerus Partisipasi 1.Tidak ada partisipasi warga 1.Warga dapat mengakses warga 2.Warga hanya menerima informasi pelayanan

proses pelayanan publik apa sehingga lebih mudah adanya. memberikan masukan untuk perbaikan pelayanan

2.Warga dapat menyampaikan pengaduan bila pelayanan yang diterimanya tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Sumber : Buku Panduan PATEN, Dirjen Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2008.

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan lebih baik dibandingkan dengan pelayanan konvensional dalam rangka mewujudkan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias

peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena jika tidak, maka kondisi pelayanan di Kabupaten Nias akan berada dalam kondisi Stagnasi dan harapan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan prima, sangat sulit tercapai.

Dokumen terkait