• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Nias Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Nias Chapter III V"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Tujuan pelaksanaan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui fenomena – fenomena yang sebenarnya terjadi di lapangan dengan menggunakan

metode – metode penelitian untuk mendapatkan data secara ilmiah, rasional, empirik, dan sistematis. Metode penelitian merupakan prosedur yang memberikan urutan -urutan pekerjaan kepada peneliti mengenai apa yang harus dilakukan dalam suatu penelitian .

Menurut Sugiyono ( 2012 : 2 ) “metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan kegunaan tertentu”. Menurut Irawan Soehartono ( 2011 : 8 ) “ Metode penelitian adalah cara atau strategi menyeluruh untuk menemukan atau memperoleh data yang diperlukan”. Dalam pelaksanaan Penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan metode deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta – fakta, sifat – sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Natsir 1999:63)

(2)

membuat kategori pelaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasi. Dengan suasana alamiah berarti bahwa peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha memanipulasi variabel. Karena kehadirannya, mungkin mempengaruhi gejala, peneliti harus berusaha memperkecil pengaruh tersebut.

Dengan demikian, metode deskriptif ini digunakan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertenti dibidang tertentu, dalam hal ini bidang secara aktual dan cermat. Metode deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis) tetapi memadukan. Bukan saja melakukan klasifikasi, tetapi juga organisasi (Hasan 2002:22).

3.2 Informan

Penentuan informan dilakukan secara purpossive yaitu dengan memilih orang – orang kunci (key person) dengan asumsi bahwa mereka adalah orang yang paling tahu tentang dirinya dan tema penelitian yang seddang diteliti (Idrus 2009:25).

Menurut Sugiyono (2010), porpusive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Sedangkan menurut Ginting (2006:61) porpusive adalah interviewee yang kompeten dalam hal/informasi tertentu, misalnya pedagang, politisan, dosen, guru, dan sebagainya kompeten dalam hal/informasi bidang – bidangnya.

(3)

haruslah mengetahui dan memiliki informasi pokok tentang apa yang diteliti yang terdiri dari infoman kunci (key person), informan utama dan informan tambahan.

Informan kunci merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Sedangkan informan tambahan merupakan subjek penelitian yang dapat

memberikan informasi walaupun tidak terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti (Suyanto 2005:172).

1. Informan Kunci

a. Sekretaris Daerah Kab. Nias ( Drs. F. Yanus Larosa, M.AP ) 2. Informan Utama

b. Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekretaris Daerah Kab. Nias ( Maimun Zebua, BA )

c. Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Sekretariat Daerah Kab. Nias ( Drs. Dahlanroso Lase )

3. Informan Tambahan

d. Salah seorang perwakilan Camat, yaitu Camat Idanogawo (Jellysman B. Geya, S.STP, M.Si).

3.3. Sumber Data

a. Data Primer

(4)

hasil wawancara dan pengumpulan dokumen terkait yang relevan dengan penelitian.

b. Data Sekunder

Adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan cara membaca buku, literatur, literatur, jurnal dan koran serta berbagai informasi lainnya yang berkenaan dengan masalah yang diteliti. Data sekunder ini dimaksudkan untuk menunjang dan melengkapi data primer.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Salah satu komponen penting yang harus ada dalam melaksanakan suatu penelitian adalah data. Data yang dikumpulkan harus cukup valid sehingga dapat diolah untuk dapat dianalisa dan diolah sebagai hasil dari pengamatan. Untuk mendapatkan data – data yang valid dan akurat, peneliti harus memahami teknik – teknik pengumpulan data. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono ( 2012 : 224 ) Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan ( Nazir, 2011:174 ).

Untuk mendapatkan data – data yang dibutukan dalam menunjang penelitian,maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Wawancara

(5)

bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide ( panduan wawancara ) .

Dalam penelitian ini, yang menjadi narasumber dipilih berdasarkan tingkat pemahaman dan pengetahuan narasumber tentang masalah dan topik yang akan diajukan.

b. Dokumentasi

Menurut Arikunto ( 2010 : 274 ) Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.

c. Observasi

Sugiyono ( 2012 : 145 ) mengatakan bahwa observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lain yaitu wawancara dan kuesioner. Menurut Irawan( 2000 : 63 ), metode observasi adalah penelitian yang pengambilan datanya bertumpu pada pengamatan langsung terhadap proyek penelitian.

3.5. Teknik Analisa Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Moleong ( 2004:280 ).

(6)

mengembangkan teori dengan megolah dan menganalisa data yang diperoleh di lapangan.

Menurut Sugiyono ( 2012 : 245 )

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang – ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak. Berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang – ulang dengan teknik triangulasi, ternyata hipotesis diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.

Secara garis besar, analisis data meliputi 3 langkah, yaitu :

a. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal – hal pokok, memfokuskan pada hal – hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari bila diperlukan.

b. Data Display ( Penyajian data )

Adalah menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan memudahkan peneliti dalam memehami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

(7)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono ( 2012 : 252 ) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang – remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubunga kausal atau

interaktif, hipotesis atau teori.

III.6. Fokus Penelitian

Fokus penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Belum terlaksananya kebijakan PATEN di Kabupaten Nias tentunya memiliki alasan. Oleh karena itu, secara normatif peneliti berfokus pada 3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi kecamatan sebagai penyelenggara PATEN yaitu Syarat Substantif, Syarat Administratif, dan Syarat teknis. Selain itu, Kebijakan ini dapat dilihat dari faktor – faktor yang mempengaruhi Implementasi kebijakan menurut Edward III, yaitu :

a. Komunikasi, merupakan informasi yang diperoleh para implementor akan apa yang harus mereka kerjakan dalam implementasi suatu keputusan. Secara alami, komunikasi ini membutuhkan keakuratan dan komunikasi mesti secara akurat pula diterima oleh para implementor.

(8)

g. Konsistensi;

b. Sumberdaya, merupakan suatu faktor didalam

mengimplementasikan kebijakan publik. Sumberdaya meliputi Staf dengan jumlah yang cukup dan dengan keterampilan yang tepat untuk melakukan tugasnya serta informasinya, otoritas, dan fasilitas yang diperlukan dalam melaksanakan kebijakan.

c. Disposisi,

d. Struktur birokrasi .

(9)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Nias 4.1.1 Kondisi Geografis Daerah

Kabupaten Nias merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara dan berada di sebelah barat pulau Sumatera yang berjarak ± 86 mil laut dari kota Sibolga. Letak geografis Kabupaten Nias terletak pada 0°53’1,5’’-1°17’16,6’’ Lintang Utara dan 97°29’0,7’’-97°58’29’’ Bujur Timur dan memiliki luas wilayah

853,34 Km2 terdiri dari 10 Kecamatan: Idanogawo, Bawolato, Ulugawo, Gido, Ma’u, Somolo-molo, Hiliduho, Hiliserangkai, Hiliduho dan Sogaeadu dan 170 Desa dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Utara 2. Sebelah Selatan : Kabupaten Nias Selatan

3. Sebelah Timur : Kota Gunungsitoli dan Samudera Indonesia 4. Sebelah Barat : Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Utara (Sumber : Nias Dalam Angka 2016)

(10)

Sumber : Nias Dalam Angka 2016

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Nias

Tabel 4.1. Luas Wilayah Kabupaten Nias Menurut Kecamatan

No Kecamatan Luas Wilayah

Rasio Terhadap Luas Wilayah Kabupaten Nias

[1] [2] [3] [4]

1 Idanogawo 138,65 16,25

2 Bawolato 204,45 23,96

3 Ulugawo 65,96 7,73

4 G i d o 110,05 12,90

5 Ma’u 61,18 7,17

6 Somolo-molo 44,85 5,26

7 Hiliduho 65,07 7,63

8 Hili Serangkai 61,91 7,26

(11)

10 Sogaeadu 41,26 4,84

No Kecamatan Luas Wilayah

Rasio Terhadap Luas Wilayah

Kondisi alam/topografi Kabupaten Nias berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan di mana tinggi dari permukaan laut bervariasi antara 0 – 800 m, terdiri dari dataran rendah sampai tanah bergelombang mencapai 24 persen, tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 28,8 persen dan berbukit sampai pegunungan 51,2 persen dari keseluruhan luas daratan. Mempunyai kemiringan lereng rata-rata 8 persen sampai 25 persen. Sedangkan daerah dataran dapat dijumpai sepanjang pantai timur dengan kemiringan 0-8 persen. Dengan kondisi alam Kabupaten Nias tersebut, maka terbentuklah 32 Daerah Aliran Sungai yang berada di 5 (lima) wilayah kecamatan yaitu

Gido, Hiliduho, Idanogawo, Bawolato dan Botomuzoi.

(12)

8 Sungai Baruzo Gido 7.000 10 Non Lintas

Sumber : Nias Dalam Angka Tahun 2016

4.1.1.2 Keadaaan Iklim dan Cuaca

(13)

Kabupaten Nias juga mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau umumnya terjadi antara bulan April sampai dengan September dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Suhu udara di Kabupaten Nias dalam satu tahun rata–rata 26,3OC per bulan dengan rata–rata minimum 23,2OC dan rata–rata maksimum 30,8OC.

Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan iklim dan curah hujan di Kabupaten Nias dapat di lihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3 Curah hujan di Kabupaten Nias

Bulan Curah Hujan(mm) Hari Hujan

Januari 350,1 11

Februari 402,2 25

Maret 54,7 16

April 239,6 26

Mei 247,7 19

Juni 120,8 18

Juli 148,6 21

Agustus 200,7 25

September 158,6 21

Oktober 333,8 26

Nopember 368,0 29

Desember 326,5 25

Jumlah 2.951,3 262

Rata per Bulan 246 21,8

(14)

4.1.2 Kondisi Umum Demografi 4.1.2.1 Kependudukan

Kabupaten Nias terdiri dari 10 Kecamatan dan 170 desa dengan jumlahpenduduk tahun 2015sebanyak 174.883 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak

85.870 jiwa dan perempuan sebanyak 89.013 jiwa.Perkembangan penduduk Kabupaten

Nias kurun waktu 2011 s.d. 2015 adalah sebagai berikut :

Tabel: 4.4 Perkembangan Penduduk Kabupaten Nias Tahun 2011 s.d 2015

Tahun Penduduk Jumlah Kepadatan

(Jiwa) Penduduk

Laki-laki Perempuan (Jiwa/Km2)

2011 76.440 78.216 154.656 181,22 2012 79.533 81.438 160.971 188,62 2013 81.682 83.632 165.314 193,71 2014 84.455 86.647 171.102 200,49 2015 85.870 89.013 174.883 204,92 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias.

Kepadatan penduduk Nias tergolong jarang bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk di Sumatera Utara. Pada Tahun 2011 kepadatan penduduk Kabupaten Nias sebesar 181,22 jiwa/Km2 dan Tahun 2015 kepadatan penduduk Nias mengalami peningkatan menjadi sebesar 204,92 jiwa/Km2. Dengan wilayah Kabupaten Nias yang masih relatif luas serta terdapat daerah yang tidak bisa dihuni karena merupakan hutan, rawa, dan lainnya, mengakibatkan di beberapa daerah tertentu ada kepadatan penduduk dan di sebagian daerah lain merupakan daerah yang kepadatan penduduknya masih rendah.

(15)

Bawolato merupakan daerah paling jarang penduduknya dengan tingkat kepadatan penduduk hanya sekitar 153,48 jiwa/Km2.

Tabel: 4.5 Distribusi Penduduk, Luas dan Kepadatan Penduduk Kabupaten NiasMenurut Kecamatan Tahun 2015

No Kecamatan Distribusi

Penduduk

(jiwa)

Distribusi Luas

(Km²)

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)

[1] [2] [3] [4] [5]

1 Idanogawo 31.314 138,65 225,85

2 Bawolato 31.378 204,45 153,48

3 Ulugawo 12.834 65,96 194,57

4 Gido 26.275 110,05 238,76

5 Mau 13.203 61,18 215,81

6 Somolo-molo 7.344 44,85 163,75

7 Hiliduho 11.624 65,07 178,64

8 Hiliserangkai 15.557 61,91 251,28

9 Botomuzoi 11.289 59,98 188,21

10 Sogae’adu 14.065 41,26 340,89

Kabupaten Nias 174.883 853,34 204,92

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias (data diolah)

(16)

Tabel: 4.6 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio Kabupaten Nias Tahun 2011 s.d 2015

Laki-laki Perempuan

2011 76.440 78.216 154.656 97,73

2012 79.533 81.438 160.971 97,66

2013 81.682 83.632 165.314 97,67

2014 84.455 86.647 171.102 97,47

2015 85.870 89.013 174.883 96,47

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias (data diolah) 4.1.2.2 Ketenagakerjaan

Pembangunan ketenagakerjaan dititikberatkan pada tiga masalah pokok, yakni perluasan dan pengembangan lapangan kerja, peningkatan kualitas dan kemampuan tenaga kerja serta perlindungan tenaga kerja. Masalah ketenagakerjaan sampai saat ini masih merupakan permasalahan dan isu yang komplek serta terus berkembang, sehingga tidak hanya menjadi masalah daerah namun telah menjadi masalah nasional bahkan regional dan internasional. Masalah ketenagakerjaan harus membutuhkan perhatian yang sangat serius dari semua pihak terkait, baik pemerintah, pengusaha, pekerja itu sendiri dan pihak lainnya.

Tenaga kerja didefenisikan sebagai penduduk yang mampu bekerja memproduksi barang dan jasa. Pada analisis ketenagakerjaan ini digunakan batasan bahwa penduduk usia kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun keatas. Penduduk 15 tahun keatas (tenaga kerja) terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Dalam analisis tenaga kerja, bagian yang sangat penting mendapat

Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah Sex Ratio

(17)

perhatian adalah angkatan kerja. Angkatan kerja (economically act4e) didefenisikan sebagai bagian dari tenaga kerja yang benar-benar siap bekerja untuk memproduksi barang dan jasa. Mereka yang siap bekerja ini terdiri dari yang benar-benar bekerja dan mereka yang tergolong sebagai pengangguran. Pengangguran disini didefenisikan sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja dan saat sedang mencari kerja atau mempersiapkan usaha atau juga orang yang sudah merasa putus asa untuk mendapatkan pekerjaan. Selanjutnya tenaga kerja yang termasuk ke dalam bukan angkatan kerja (uneconomically act4e) adalah mencakup mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga, penerima pendapatan (pensiunan) dan lain-lain. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia termasuk di Kabupaten Nias diperkirakan akan semakin kompleks. Indikasi ini terlihat di samping pertambahan penduduk usia kerja setiap tahunnya yang terus meningkat sebagai implikasi dari jumlah penduduk yang cukup besar disertai struktur umur yang cenderung mengelompok pada usia muda juga masih tingginya angka pengangguran terutama pengangguran terbuka.

(18)

Tabel 4.7 Jumlah dan Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas Tahun 2013-2014

Kegiatan Utama 2013 2014

Jumlah % Jumlah %

[1] [2] [3] [4] [5]

Angkatan Kerja 66.468 86,54 72.805 90,84

- Bekerja 65.890 99,13 72.485 99,56

- Pengangguran 578 0,87 320 0,43

Bukan Angkatan Kerja 10.338 13,46 7.344 9,16

Jumlah 76.806 100 80.144 100

T P A K (%) 86,54 90,84

TPT (%) 0,87 0,44

Sumber : BPS Kabupaten Nias 4.1.3. Kondisi Pemerintahan

4.1.3.1 Visi dan Misi Kabupaten Nias

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Nias Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Nias 2006 – 2011, telah ditetapkan Visi Pembangunan Daerah Tahun 2011 – 2016 yang merupakan cita-cita yang ingin dicapai, yaitu “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Nias Yang Berkeadilan, Sejahtera dan Mandiri Yang Dilayani Oleh Pemerintah Yang Bersih dan Responsif ”.

Berkeadilan : Mengandung arti perwujudan pelayanan dan pembangunan yang

adil dan merata, tanpa diskriminasi baik antar ind4idu, gender,

maupun antar wilayah, sehingga hasil dari pembangunan dapat

dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat

(19)

Sejahtera :

Mengandung makna bahwa kondisi semua lapisan masyarakat secara menyeluruh dapat terpenuhi hak-hak dasarnya, terbebas dari kemiskinan, kemelaratan hidup dan buta aksara, serta sehat jasmani dan rohani.

Mandiri : Kondisi dimana masyarakat dan daerah memiliki kehidupan

yang sejajar dengan masyarakat dan daerah lainnya yang telah maju dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, serta memiliki daya saing dan kesiapan menghadapi era

globalisasi. Dilayani oleh

Pemerintah yang bersih dan responsif

: Mengandung makna bahwa pemerintah adalah pelayan masyarakat, dimana penyelenggaraan pemerintahan dilakukan secara bertanggungjawab, tertib administrasi dan tertib anggaran, bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme, dengan

kebijakan yang selalu berpihak kepada kepentingan rakyat serta tanggap terhadap permasalahan masyarakat.

Misi Daerah Kabupaten Nias Tahun 2011 – 2016 yaitu:

a. Menyelenggarakan tata kelola pemerintahan yang baik , bersih dan efektif (Good Governance and Clean Gorvernment).

b. Peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan berkeadilan.

c. Peningkatan kualitas dan ketersediaan Infrastruktur wilayah dan prasarana daerah.

(20)

e. Mengembangkan kehidupan masyarakat Nias yang religius, berbudaya dan taat hukum.

4.1.3.2 Prioritas Daerah

Dalam mendukung Visi dan Misi Kepala Daerah serta strategi dan arah kebijakan daerah sebagaimana yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Daerah Kabupaten Nias Tahun 2011-2016, maka pada Tahun 2012 Pemerintah Daerah telah menetapkan prioritas pembangunan daerah yang terfokus pada upaya penyelesaian masalah yang mendesak dan berdampak luas bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Prioritas-prioritas pembangunan tersebut adalah sebagai berikut:

(21)

Pembangunan infrastruktur daerah yang memiliki daya dukung

dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang

berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum

dengan mendorong partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, fokus

kegiatan pembangunan di Kabupaten Nias pada bidang

infrastruktur adalah sebagai berikut:

a. Percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan

b. Peningkatkan kualitas lingkungan pemukiman dan perumahan

melalui penyediaan prasarana, sarana dasar, dan utilitas umum

terutama air bersih dan jaringan listrik.

c. Pembangunan prasarana produksi (irigasi) dan perdagangan

d. Pembangunan prasarana kantor Pemerintah Daerah

Prioritas 2 : Pendidikan, dengan fokus kegiatan :

Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, terjangkau dan berkeadilan menuju terangkatnya kesejahteraan hidup masyarakat Kabupaten Nias, kemandirian dan keluhuran budi pekerti dan karakter bangsa yang kuat. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara kualitas mutu pendidikan, ketersediaan sarana serta ketersediaan tenaga terdidik melalui fokus kegiatan sebagai berikut:

a. Peningkatan pendidikan anak usia dini (PAUD)

(22)

c. Peningkatan relevansi dan daya saing pendidikan menengah kejuruan (SMK)

d. Peningkatan mutu, kualifikasi, kompetensi dan kesejahteraan guru

e. Pemberdayaan kepala sekolah dan pengawas sekolah f. Pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi

g. Fasilitasi pendirian Perguruan Tinggi Negeri.

h. Percepatan pencapaian sasaran MDGs Bidang Pendidikan

Prioritas 3 : Kesehatan, dengan fokus kegiatan :

Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif, tidak hanya kuratif, melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan dengan fokus kegiatan sebagai berikut:

a. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di

Puskesmas dan jaringannya

b. Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita

c. Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular

d. Pengembangan kemampuan, kealihan, dan

profesionalisme sumber daya manusia kesehatan

e. Pengembangan sistem jaminan pembiayaan kesehatan bagi masyarakat

(23)

h. Revitalisasi layanan program keluarga berencana

i. Percepatan pencapaian sasaran MDG’s Bidang Kesehatan

Prioritas 4 : Ekonomi, dengan fokus kegiatan :

a. Peningkatan ketahanan pangan

b. Penyediaan prasarana dan sarana produksi pertanian, perkebunan peternakan, dan perikanan

c. Peremajaan dan perluasan tanaman perkebunan rakyat d. Penyediaan infrastruktur pendukung pertanian dan

perikanan

e. Peningkatan nilai tambah dan pemasaran hasil pertanian f. Penumbuhan industri pengolahan (agroindustri) hasil

pertanian dan perikanan

g. Peningkatan kapasitas dan kemampuan kelembagaan petani dan nelayan

h. Peningkatan kuantitas penyuluhan pertanian dan perikanan

i. Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur perikanan yang telah dibangun (BBI dan TPI)

j. Penyehatan Badan Usaha Milik Daerah k. Pendirian BUMD industri pengolahan karet

l. Pemberdayaan koperasi dan usaha kecil dan menengah m. Pengembangan destinasi pariwisata dan peningkatan

(24)

Prioritas 5 : Penanggulangan kemiskinan, dengan fokus kegiatan :

a. Peningkatan pelayanan dan perlindungan bagi penyandang

masalah kesejahteraan sosial (PMKS)

b. Pemberdayaan ekonomi bagi penyandang masalah

kesejahteraan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau

kelompok sosial ekonomi lainnya.

c. Peningkatan kesempatan kerja.

d. Optimalisasi program PNPM, PKH, BOS, JAMKESMAS

Prioritas 6

: Lingkungan hidup dan pengurangan resiko bencana, dengan

fokus kegiatan:

a. Pencegahan dan pengurangan resiko bencana

b. Pemberdayaan masyarakat dalam kesiapan menghadapi

bencana

c. Peningkatan rehabilitasi hutan dan lahan.

d. Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan

Hidup

Prioritas 7 : Pemerintahan dan aparatur, dengan fokus kegiatan : a. Perbaikan manajemen kepegawaian

b. Perbaikan tata kelola keuangan dan aset daerah c. Optimalisasi pendapatan asli daerah

d. Penataan Sistem administrasi dan tatalaksana pemerintahan

(25)

g. Penetapan dan penataan ibu kota kabupaten Nias (pasca pemekaran)

h. Penataan kecamatan dan desa

4.1.3.3 Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Nias

Untuk mendukung dan menjamin berjalannya fungsi Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Kemasyarakatan, Pemerintah Kabupaten Nias telah mengundangkan dan melaksanakan Peraturan Daerah Kabupaten Nias Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9 dan Nomor 10 Tahun 2008 tentang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten Nias,

Pembentukan dan Susunan Organisasi Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD, Pembentukan Susunan Organisasi Dinas dan Lembaga Teknis Daerah, Pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan, Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Nias yang merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Nias. Susunan organisasi perangkat daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Nias adalah terdiri dari:

A. SEKRETARIAT DAERAH B. SEKRETARIAT DPRD

C. 10 (sepuluh) KECAMATAN

D. 13 (Tiga belas) DINAS

E. 10 (Sepuluh) Lembaga Teknis Daerah Berbentuk Badan

(26)

G. Inspektorat Kabupaten.

H. Satuan Polisi Pamong Praja.

I. Rumah Sakit Umum Daerah Gunungsitoli.

4.1.4. Kondisi Perekonomian

Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Nias pada tahun 2015 mengalami perningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Nias tahun 2015 mencapai 5,96 persen, sedangkan tahun 2014 sebesar 5,90 persen. Peningkatan ini bersumber dari peningkatan laju pertumbuhan 3 sektor yakni sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, sektor Konstruksi, dan sektor Jasa Keuangan dan Asuransi. Sedangkan sektor lainnya dapat dikatakan mengalami perlambatan, namun tetap mencatat pertumbuhan yang positif.

Sumber : Nias Dalam Angka 2016

(27)

Sumber : Nias Dalam Angka 2016

Gambar 4.3 Laju Pertumbuhan PDRB Kab. Nias 2013 - 2015

Selama tahun 2015 di Kabupaten Nias terdapat Perusahaan atau Usaha Industri Kecil Binaan sebanyak 86 unit yang paling banyak terdapat di Kecamatan Hili Serangkai dan Idanogawo. Perusahaan yang berbadan hukum ada sebanyak 276 unit dengan konsentrasi usaha yang paling banyak terdapat di kecamatan Gido dan Idanogawo.

Tabel 4. 8 Perkembangan Jumlah Perusahaan/Usaha Perdagangan di Kab. Nias 2013 – 2015

No Perincian Detail 2013 2014 2015

(1) (2) (3) (4)

Menurut Golongan Usaha

1. Perusahaan Besar - - -

2. Perusahaan Menengah 17 9 14

3. Perusahaan Kecil 259 219 48

4. Perusahaan Mikro - - 126

(28)

Menurut Bentuk Badan Hukum

1. PT (Perseroan Terbatas) 1 1 -

2. Koperasi 6 2 1

3. Persekutuan Komanditer (CV) 17 20 18

4. Perorangan 249 169 199

5. Badan Usaha Lain 3 6 -

Jumlah Total 276 228 188

Sumber : Nias dalam Angka 2016

4.2. Analisis Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Nias

4.2.1. Penyebab kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) Belum Terlaksana

(29)

Didalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyelenggraan Pelayanan Terpadu Kecamatan, dijelaskan bahwa kecamatan ditetapkan sebagai penyelenggara PATEN apabila telah memenuhi

sejumlah syarat, yaitu syarat subtantif, administratif, dan teknis. Pada bagian ini akan diuraikan mengapa penyelenggaraan PATEN di Kabupaten Nias belum terlaksana yang dapat dilihat dari pemenuhan 3 (tiga) syarat penyelenggaraan PATEN dan Faktor – faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan menurut George Edward III yakni Komunikasi, Sumberdaya, Disposisi, dan Struktur Birokrasi.

4.2.1.1 Faktor Pemenuhan Persyaratan PATEN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tentang analisis kebijakan PATEN di Kabupaten Nias, diketahui bahwa kebijakan PATEN belum dapat terlaksana di Kabupaten Nias. Hal ini disadari oleh pemerintah Kabupaten Nias karena

belum mampu memenuhi persyaratan penyelenggaraan PATEN sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang PATEN. Berikut petikan wawancara dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias (Bapak F. Yanus Larosa, M.AP pada tanggal 5 September 2016).

(30)

dilaksanakan, tetapi seperti yang saya katakan tadi, kita belum bisa memenuhi syarat – syarat tersebut”

Persyaratan utama untuk menyelenggarakan PATEN adalah Persyaratan Substantif, yaitu adanya pendelegasian atau pelimpahan sebagian wewenang bupati kepada camat yang meliputi bidang perizinan dan non perizinan,Kemudian diikuti dengan persyaratan administrastif yaitu berupa standar pelayanan dan uraian tugas personil kecamatan serta persyaratan teknis berupa sarana dan prasarana dan pelaksana teknis PATEN.

Selanjutnya Larosa menyatakan bahwa :

“ PATEN ini kan artinya pelayanan perizinan di BPPT dialihkan ke kecamatan, kita pahami itu, tetapi pemenuhan syarat administratf dan teknis, kita perlu persiapan yang lebih matang lagi. Yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah pembenahan dan peningkatan sarana dan prasarana serta kualitas sumber daya aparatur khusunya di kecamatan..”(wawancara pada tanggal 5 September 2016). Hal senada juga disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra (Bapak Marulam Sianturi, SE) dalam wawancara pada 11 Juli 2016. Beliau berpendapat bahwa

:

“Dulu pada saat menjadi Camat Gido tahun 2008, kewenangan yang diberikan kepada camat itu hanya sebatas surat pengantar dan rekomendasi saja, gak ada hebat – hebatnya,”canda beliau. Jadi, untuk pelimpahan kewenangan tentang pelayanan perizinan dan non perizinan ini sudah kita limpahkan kepada BPPT selaku SKPD pelaksana pelayanan tersebut.”

Belum adanya pelimpahan sebagian kewenangan bupati kepada camat

(31)

“..Hingga saat ini kita pihak kecamatan bisa dikatakan hanya sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah kabupaten. Tugas – tugas kita pun sangat sedikit. Misalnya, ketika ada warga yang hendak mengurus IMB, kita hanya mengeluarkan pengantar atau rekomendasi saja untuk nanti diteruskan ke BPPT. Padahal, jika PATEN ini dilaksanakan masyarakat tidak perlu lagi harus mondar – mandir dari kecamatan ke BPPT. Karena semuanya akan diproses di kantor kecamatan dengan sistem PATEN ini. Tapi, semua kebijakan itu kita percayakan kepada Bapak Bupati sebagai pengambil kebijakan”.

Berdasarkan hasil dokumentasi, peneliti menemukan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan oleh Bupati Nias kepada Camat sebenarnya telah dilakukan yaitu sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Nias Nomor 60 Tahun 2005 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Bupati Nias kepada Camat di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Nias. Didalam keputusan tersebut, camat hanya diberikan tugas dalam aspek fasilitasi, rekomendasi, koordinasi, dan pembinaan. Hal ini didukung oleh pernyataan Camat Idanogawo ( Bapak Jellysman B. Geya, S.STP, M.Si) dalam wawancara pada 9 September 2016, sebagai

berikut :

“...setahu saya, pelimpahan kewenangan kepada camat telah ada sesuai dengan surat keputusan pada tahun 2005 yang lalu, itu yang terakhir sepertinya. Sampai ssaat ini tidak ada lagi pelimpahan kewenangan yang diberikan kepada camat. Ya, tugas kita itu – itu saja. Hanya bisa memfasilitasi kegiatan – kegiatan dari SKPD yang dilaksanakan di wilayah kita..”

(32)

kepada masyarakat, sehingga pelayanan menjadi lebih berkualitas, dan mempersempit rentang kendali dari bupati kepada masyarakat. Hasil wawancara dengan Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Setda Kab. Nias (Bapak Drs. Dahlanroso Lase, 9 September 2016) pada , beliau berpendapat bahwa :

“.. yang namanya pelimpahan kewenangan itu kan kemauan politik dari bapak bupati selaku pemilik kewenangan. Untuk PATEN ini sendiri, dulu pada tahun 2014 kita pernah merencanakan akan membentuk tim teknis PATEN tersebut, tetapi pasca peralihan pejabat Sekretaris Daerah yang baru tidak ada lagi kelanjutan rencana tersebut. Kalau pun kita perhatikan, kondisi kecamatan kita saat ini belum siap untuk dilimpahkan kewenangan dibidang PATEN ini. Seperti anggaran, infrastruktur, dan SDM di kecamatan masih kurang..”

Wawancara dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias (Bapak Drs. F.

Yanus Larosa, M.AP) pada tanggal 6 September 2016, beliau menyatakan bahwa :

“..tidak mungkinlah bapak bupati tidak mau kecamatan kita maju, masyarakat kita maju. Tentu keinginan untuk melimpahkan wewenagan di bidang perizinan itu ada, tetapi kita harus mengkaji lebih dalam mengenai siap tidaknya personil kecamatan kita melaksanakan PATEN ini. Kita tidak mau hanya sekedar merencanakan, membuka jalan program ini, tapi kedepannya nanti menemukan kendala – kendala yang bersifat teknis sehingga kegiatan ini tidak efektif. Kedepan ini akan menjadi wacana kita, bahkan bukan hanya PATEN ini saja. Yang perlu kita lakukan sekarang yaitu, membenahi kecamatan kita. Karena dari 10 (sepuluh) kecamatan yang ada, hanya sekitar 2 – 3 kecamatan saja yang kita anggap layak. Kita tidak mau nantinya muncul kecemburuan sosial bagi masyarakat kecamatan lain..”

(33)

sebagai janji penyelenggara/pemberi layanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur. Didalam standar pelayanan tersebut, sekurang – kurangnya berisi, yaitu :

a. Jenis – jenis pelayanan yang dilaksankan di kecamatan; b. Persyaratan untuk memdapatkan pelayanan;

c. Proses / prosedur pelayanan;

d. Pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelayanan; e. Waktu pelayanan; dan

f. Biaya pelayanan.

Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi yang dilakukan dalam

penelitian, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias telah menerbitkan Peraturan Bupati

Nias Nomor 04 Tahun 2007 tentang Pedoman Standar Pelayanan Umum Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Nias dan Peraturan Bupati Nias Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi, dan Tata Kerja Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Nias. Peraturan Bupati ini pada dasarnya merujuk pada standar pelayanan konvensional yang selama ini dilaksanakan dan tidak dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan PATEN.

Persyaratan lainnya untuk menyelenggarakan PATEN adalah Persyaratan teknis, yang meliputi sarana dan prasarana dan pelaksana teknis PATEN.

Sarana dan prasarana PATEN ini berupa :

a. Tempat piket;

(34)

c. Tempat pemrosesan berkas;

d. Tempat pengolahan data dan informasi; e. Tempat finalisasi proses;

f. Ruang tunggu;

g. Tempat penyerahan dokumen; h. Tempat penanganan pengaduan; dan i. Perangkat pendukung lainnya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan bahwa dari 10 (sepuluh) kecamatan di Kabupaten Nias, sebagian besar sarana dan prasarana tersebut belum ada bahkan masih ada kantor kecamatan yang kondisi bangunannya sangat memprihatinkan seperti Kantor Kecamatan Ma’u, Somolo – molo, Ulugawo, Botomuzoi, Hiliserangkai, dan Hiliduho. Hal ini dibenarkan oleh Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Nias dalam wawancara pada tanggal 6 September 2016 sebagai

berikut :

“..keadaan sarana dan prasarana di kantor kecamatan kita masih jauh dari kata layak, jangankan fasilitas umum, gedung dan bangunannya saja seperti di Kecamatan Ma’u sudah tidak dapat digunakan karena longsor. Oleh karena itu, kita sulit melaksanakan ini..”

(35)

kecamatan demi terwujudnya pelayanan yang berkualitas. Namun, dengan melihat kondisi sebagian besar kecamatan di Kabupaten Nias yangmasih terisolir, minimnya sarana dan prasarana umum, serta kondisi sumber daya aparatur yang kurang, pemerintah Kabupaten Nias enggan untuk memulai pelaksanaan pelayanan Administrasi terpadu Kecamatan ini.

Kondisi tersebut diatas senada dengan yang ditemukan oleh Desman Armando Gurning dalam penelitiannya tentang Implementasi Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) di Kabupaten Siak. Gurning (2013) menemukan bahwa penyelenggaraan PATEN di Kabupaten Siak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

a. Pihak yang kepentingannya dipengaruhi yaitu Bupati Siak, dinas dan instansi terkait termasuk masyarakat sebagai penerima pelayanan.

b. Political will dan komitmen Bupati Siak dalam mengawal implementasi PATEN.

c. Sumber daya yang tersedia, terutama aspek kualitas dan kuantitas personil yang ada di kecamatan yang masih belum memadai.

d. Pengawasan yang masih belum maksimal, sehingga masih ditemukan adanya berbagai kekurangan.

4.2.1.2 Faktor – Faktor yang Berpengaruh Dalam Kebijakan PATEN di Kabupaten Nias

(36)

inovasi manajemen dibidang pelayanan perizinan dan non perizinan dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) terfokus pada kualitas penyelenggaraan pelayanan publik.

Kebijakan ini dapat dilihat dari faktor – faktor yang mempengaruhi Implementasi kebijakan menurut Edward III, yaitu Komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.

1. Komunikasi

Secara umum, Edward III membahas tiga hal penting dalam proses komunikasi kebijakan, yaitu :

a. Transmisi

(37)

“..Kita tentunya sudah mengetahui adanya kebijakan PATEN berdasarkan Permendagri nomor 4 Tahun 2010 ini, itu jelas. Nah, sekarang bagaimana teknisnya kecamatan itu melaksanakan PATEN itu kita belum pahami. Oleh karena itu, kita telah mengutus PNS (Bag. ADPEM) dan perwakilan camat untuk mengikuti sosialisasi penyelenggaraan PATEN yang dilaksanakan oleh Pemprov Sumatera Utara pada tahun 2014. Itu merupakan bagian dari niat kita untuk melaksanakan PATEN ini..”

Berdasarkan hasil dokumentasi, ditemukan benar adanya bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Nias telah melakukan koordinasi baik ditingkat Provinsi maupun di Kementerian Dalam Negeri dengan tujuan untuk menambah pemahaman tentang Permendagri Nomor 4 Tahun 2010 tersebut sekaligus mengetahui bagaimana dan apa – apa saja yang perlu dipersiapkan dalam melaksanakan kebijakan PATEN tersebut.

Setiap kebijakan akan dapat dilaksanakan jika terjadi komunikasi yang efektif antara para pelaksana kebijakan dengan para kelompok sasaran. Dalam penyelenggaraan PATEN ini, selain melakukan koordinasi ke tingkat atas, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias juga pernah melakukan konsolidasi dengan unit – unit terkait seperti camat, BPPT, dan BAPPEDA Kabupaten Nias, dengan tujuan untuk melakukan analisis – analisis tentang kesiapan kecamatan sebagai penyelenggara PATEN. Petikan wawancara dengan Kepala Bagian Administrasi Kecamatan Setda Kabupaten Nias ( Bapak Drs. Dahlanroso Lase, 9 September 2016), sebagai berikut :

(38)

sepertinya, banyak hal yang menjadi pertimbangan beliau pada saat itu, dukungan anggaran, kondisi kecamatan, SDM, dan lain – lain..”

Dari hasil wawancara tersebut diatas, dapat dipahami bahwa meskipun penyelenggaraan PATEN di Kabupaten Nias belum terlaksana, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias pada dasarnya telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mempersiapkan penyelenggaraan PATEN meliputi koordinasi dengan unit – unit kerja terkait, serta mengikuti sosialisasi penyelenggaraan PATEN yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

b. Kejelasan

Ketika sebuah kebijakan diimplementasikan, maka sebaiknya kebijakan tersebut tersusun secara detail dan terperinci, kapan dan bagaimana pelaksanaan kebijakan tersebut. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang PATEN, telah dijelaskan bahwa dalam rangka mewujudkan PATEN, ada 3 (tiga) persyaratan utama yang harus terpenuhi yaitu syarat substantif, administratif, dan teknis. Pemenuhan ketiga syarat tersebut melibatkan para stakeholders dalam menyusun kerangka penyelenggaraan PATEN.

(39)

serta apa – apa saja yang diharapkan dari peraturan menteri tersebut. Berikut petikan wawancara :

“.. Ya kan ada 3 (tiga) syarat yaitu substantif, administratif, dan teknis. Kemudian ada Kepmendagri Nomor 138-270 Tahun 2010 tentang petunjuk teknis, itu semua bagi kita sudah sangat jelas...”

Selain ketiga syarat utama penyelenggaraan PATEN tersebut, di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 138-270 Tahun 2010 telah ditentukan bagaimana penyelenggaraan PATEN mulai dari Pembentukan Tim Teknis PATEN, Pejabat Penyelenggara, Pembiayaan dan Penerimaan, serta Pembinaan dan Pengawasan. Selanjutnya di dalam Permendagri tersebut, ditentukan bahwa seluruh kecamatan ditetapkan sebagai penyelenggara PATEN selambat – lambatnya 5 (lima) Tahun sejak ditetapkannya peraturan menteri tersebut sebagai upaya dalam mempercepat penyelenggaraan PATEN.

c.Konsistensi

(40)

Kabupaten Nias sudah mengetahui maksud dan tujuan Peraturan Menteri tersebut, meskipun pada prakteknya, penyelenggaraan kebijakan PATEN di Kabupaten Nias belum dapat terlaksana.

1. Sumber Daya

Sebuah kebijakan atau keputusan yang telah dikomunikasikan dengan jelas dan konsisten, tidak menjamin kebijakan tersebut akan berjalan secara efektif jika tidak didukung oleh sumber daya yang tersedia. Sumberdaya menjadi faktor penting untuk implementasi kebijakan agar berjalan efektif, yang dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor, informasi, fasilitas, dan sumberdaya finansial.

Sebagai salah satu daerah otonom di wilayah Provinsi Sumatera Utara,

Kabupaten Nias tentunya memiliki sumber daya untuk mengimplementasikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan. Sumberdaya tersebut dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan dalam penyelenggaraan kebijakan PATEN baik dalam proses pemenuhan syarat – syarat serta dalam

penyelenggaraan pelayanan PATEN itu sendiri.

a.Staf

(41)

mencukupi, memamdai dan tidak memliki kompetensi dibidangnya. Namun, sering kali jumlah staf yang cukup pun tidak menjadi jaminan sebuah kebijakan akan berjalan dengan efektif jika para staf atau aparat tidak kompeten.

Dalam upaya penerapan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang pelayanan PATEN, Pemerintah Daerah Kabupaten Nias telah memperhatikan kondisi sumber daya manusia atau staf baik itu di instansi yang berperan dalam perumusan kerangka kerja PATEN dan utamanya di lingkungan pemerintah kecamatan sebagai penyelenggara PATEN. Berdasarkan data

kepegawaian, jumlah Pegawai Negeri Sipil di tiap – tiap kecamatan di Kabupaten Nias dinilai masih sangat kekurangan, seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.9 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Per-Kecamatan di Kabupaten Nias

KEADAAN PEGAWAI

No. KECAMATAN ESELON ESELON ESELON ESELON

STAF JUMLAH III.A III.B 4.A 4.B

1. Gido 1 1 3 2 6 13

2. Idanogawo 1 1 3 2 5 12

3. Bawolato 1 1 3 2 3 10

4. Hiliduho 1 1 3 2 2 9

5. Botomuzoi 1 1 3 2 4 11

6. Hiliserangkai 1 1 3 2 2 9

7. Ulugawo 1 1 2 1 5 10

8. Ma’u 1 1 2 2 7 13

9. Somolo-molo 1 1 3 2 2 9

10. Sogae’adu 1 1 3 2 3 10

(42)

Dari tabel diatas, diketahui bahwa jumlah Pegawai Negeri Sipil di seluruh kecamatan di Kabupaten Nias berjumlah 106 orang. Jumlah tersebut tentu saja tidak mencukupi dalam pelaksanaan setiap tugas pokok dan fungsi kecamatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta dalam melaksanakan tugas – tugas lainnya yang dilimpahkan ke kecamatan. Wawancara berikut ini dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias, beliau berpendapat bahwa :

“.Ya seperti itu lah kondisi pegawai kita di kecamatan, sangat kurang sekali. Rata – rata setiap kecamatan hanya memiliki 10 orang pegawai saja, itupun sudah termasuk camat dan sekcam. Inilah salah satu hambatan kita mengapa penerapan kebijakan PATEN ini susah kita laksanakan. Dari jumlah saja sudah kalah, belum lagi kualitas PNS itu. Upaya kita sekarang, bagaimana caranya untuk memperbaiki kondisi ini, tapi semuanya butuh proses..” (6 September 2016 )

Hal senada juga diungkapkan oleh Camat Idanogawo, beliau menilai bahwa jika kondisi PNS di tiap kecamatan tetap seperti ini, bukan hanya kebijakan PATEN saja yang tidak akan berjalan dengan efektif, melainkan kegiatan atau program lain pun akan terhambat. Berikut petikan wawancara dengan beliau :

(43)

Bahkan PATEN ini dapat dijadikan sebagai mot4asi untuk memperbaiki kondisi ini..’ (9 Spetember 2016)

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, peneliti menemukanbahwa bukan hanya jumlah pegawai negeri sipil saja yang menjadi hambatan, namun faktor keahlian dan kompetensi setiap PNS juga menjadi hambatan dalam setiap pelaksanaan tugas – tugas di kecamatan. Peneliti mengamati bahwa masih banyak PNS yang tidak produktif. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat pendidikan dan pelatihan yang didapat oleh setiap PNS di kecamatan.

b.Sumber Daya finansial ( Anggaran )

Dalam pelaksanaan sebuah kebijakan, faktor yang berpengaruh dalam kelancaran pelaksanaan kebijakan yaitu anggaran. Sebab, tanpa adanya dukungan anggaran yang memadai, sebuah kebijakan niscaya tidak akan terlaksana dengan efektif.

Dalam penerapan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang PATEN, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Nias belum menetapkan peraturan tentang pelaksanaan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan. Hal ini tentu saja mengakibatkan tidak adanya anggaran yang dialokasikan dalam penerapan Peraturan Menteri tersebut. Sehubungan dengan itu, berikut hasil wawancara dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias (Bapak Drs. F. Yanus Larosa, M.AP) :

“... tentu saja karena dari awal kita belum mentapkan

(44)

c.Fasilitas

Terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai dalam sebuah instansi tentu saja mendukung pelaksanaan sebuah kebijakan. Karena, apabila sebuah kebijakan tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang baik maka dapat dipastikan bahwa suatu kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang PATEN, salah satu syarat penyelenggaraan PATEN adalah tersedianya sarana dan prasarana serta pelaksana teknis PATEN.

Seperti yang dijelaskan pada sub bagian sebelumnya bahwa kondisi sarana dan prasarana di kantor kecamatan di Kabupaten Nias, masih sangat terbatas. Bahkan ada beberapa kantor kecamatan yang masih terisolir, infrastruktur jalan yang masih kurang layak, pasokan listrik, dan jaringan komunikasi yang masih sangat terbatas. Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa kondisi fasilitas di kantor kecamatan di Kabupaten Nias masih sangat kurang sehingga belum memenuhi syarat teknis dalam penyelenggaraan PATEN.

2. Disposisi

Sebuah kebijakan akan terlaksana dengan baik jika para implementornya memiliki sikap yang baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Disposisi merupakan suatu perilaku yang ditunjukkan oleh implementor dari suatu kegiatan implementasi kebijakan seperti komitmen, kejujuran, dan sikap demokratis.

(45)

dilakukan oleh peneliti, dapat dipahami bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Nias cenderung kurang memiliki komitmen yang baik dalam menerapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 Tentang PATEN, meskipun menyadari bahwa kebijakan PATEN ini sangat baik ketika dilaksanakan. Komitemen merupakan aspek penting yang seringkali menjadi tantangan dalam menerapkan kebijakan PATEN ini, seperti yang diungkapkan oleh peneliti – peneliti sebelumnya tentang PATEN yaitu oleh Sofyan A.

Hasibuan (2015) dalam penelitian tentang “Analisis Persiapan Kebijakan PATEN di Kota Padangsidimpuan. Beliau menyimpulkan bahwa salah satu permasalahan dalam pelaksanaan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kota Padangsidimpuan yaitu Komitmen untuk membenahi penyelenggaan pelayanan publik belum terinternalisasi secara komprehensif hingga kepada para staf (Frontliner) yang ada di Kecamatan.

Berdasarkan hasil pengamatan, kurangnya komitemen dalam menerapkan kebijakan PATEN ini cenderung disebabkan karena pelayanan perizinan dan non perizinan ini seringkali dikonotasikan sebagai “lahan basah” oleh beberapa pihak, dan apabila PATEN ini terlaksana, otomatis tidak ada lagi celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum – oknum tersebut karena segala persyaratan dan pembiayaan dapat diketahui oleh masyarakat dengan jelas.

(46)

oleh Eldi Agustriadi (2015) di Kecamatan Tangaran Kabupaten Sambas, menemukan bahwa proses pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan khusunya administrasi kependudukan di Kecamatan Tangaran Kabupaten Sambas. Hasilnya menunjukkan bahwa Pelaksanaan pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan khusunya administrasi kependudukan di Kecamatan Tangaran Kabupaten Sambas masih belum efektif. Ini dapat dilihat dari indikator yang mengukur efekt4itas dari pelayanan administrasi kependudukan yaitu efisiensi dalam pelayanan, komunikasi, dan kerjasama. Dengan demikian untuk meningkatkan efekt4itas pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan hendaknya pihak kecamatan memperbaiki kedisplinan pegawai, komunikasi dalam menyampaikan informasi yang dilakukan pegawai dan peningkatan kerjasama antar pegawai dan dinas – dinas terkait.

3. Struktur Birokrasi

Salah satu faktor yang cukup signifikan dalam mempengaruhi pelaksanaan sebuah kebijakan adalah struktur birokrasi. Meskipun para implementor mengetahui apa yang harus dikerjakan, memiliki kompetensi dan sumberdaya yang memadai, namun jika mereka masih dicegah oleh struktur birokrasi dimana mereka melayani, maka dapat dipastikan bahwa pelaksanaan kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan efektif.

(47)

serta mudah dipahami oleh siapapun karena menjadi acuan dalam bekerjanya implementasi. Berkaitan dengan kebijakan PATEN ini, Kementerian Dalam Negeri telah menerbitkan Buku Panduan Pelayanan Administrasi Terpadu

Kecamatan. Dalam buku tersebut telah diatur mekanisme dalam mewujudkan Pelayanan Adminsitrasi Terpadu Kecamatan, yang terdiri dari :

a. Kajian awal kesiapan kecamatan;

b. Lokakarya Visi dan Misi Pelayanan Kecamatan; c. Lokakarya Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi); d. Lokakarya Penyusunan Prosedur (SOP); e. Mengefektifkan Komitmen; dan

f. Sosialisasi Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan.

Aspek selanjutnya yaitu striktur organisasi. Struktur organisasi sebaiknya menghindari hal yang berbelit, panjang dan kompleks. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks, yang pada gilirannya akan menyebabkan akt4itas organisasi menjadi tidak fleksibel.

(48)

4.2.2 Implikasi Belum Terlaksananya Kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (Paten) di Kabupaten Nias.

Penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat merupakan fungsi yang harus diemban pemerintah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sebagai tolak ukur terselenggaranya tata kelola pemerintahan yang baik. Ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pedoman

Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan yang ditindak lanjuti dengan

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 138-270 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan, merupakan upaya dalam memperbaiki kualitas pelayanan publik tertama dalam aspek kedekatan dan kemudahan pelayanan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Nias, menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Nias belum melaksanakan kebijakan PATEN tersebut. Hal ini disebabkan oleh belum terpenuhinya ke-3 (tiga) syarat PATEN yaitu, syarat Substantif, administratif, dan teknis. Selain itu, faktor komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi juga turut mempengaruhi penerapan PATEN di Kabupaten Nias. Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas pelayanan. Kondisi pelayanan di Kabupaten Nias hingga saat ini dinilai masih buruk, yang mengakibatkan Kabupaten Nias menjadi salah satu dari 122 Kabupaten tertinggal berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 – 2019.

(49)

d. Jangkauan pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin dekat, sehingga memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan secara cepat dan mudah.

e. Memperkuat optimalisasi tugas pokok dan fungsi kecamatan sebagai simpul pelayanan.

f. Memperkuat eksistensi badan/kantor/dinas pelayanan terpadu satu pintu dalam mendukung ikim investasi.

Hal ini tentunya berbanding terbalik jika Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan tidak dilakukan. Beberapa hal akan menimbulkan implikasi atau dampak negatif dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Nias, baik bagi Pemerintah Daerah, Kecamatan dan juga masyarakat.

4.2.2.1 Bagi Pemerintah Daerah

Dengan belum diterapkannya Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Nias, maka beberapa hal akan muncul sebagai implikasi terhadap

kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan. Implikasi tersebut tentunya menjadi salah satu kendala dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

(50)

perizinan dan non perizinan kepada kecamatan, karena tanpa itu maka camat tidak dapat melaksanakan pelayanan administrasi yang menjadi kewenangan bupati yang selama ini dilaksanakan oleh SKPD.

Pelimpahan kewenangan yang telah diberikan kepada camat di Kabupaten Niasdilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Nias Nomor 60 Tahun 2005 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Bupati Nias kepada Camat di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Nias yang meliputi aspek fasilitasi, rekomendasi, koordinasi, dan pembinaan, artinya jenis – jenis pelayanan administrasi yang disediakan oleh kecamatan masih berbentuk surat rekomendasi dan sueart keterangan saja. Kondisi tersebut tentunya dianggap sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan.

(51)

Kedua, Tidak Ada Standar Pelayanan Umum di bidang perizinan dan non perizinan yang merata untuk seluruh kecamatan. Menurut Ridwan dan Sudrajat (2009:103) setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penenerima pelayanan. Dalam kebijakan PATEN standar pelayanan merupakan tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan dan acuan penilaian kualitas PATEN. Standar pelayanan dimaksud dapat berupa :

a. Jenis pelayanan; b. Persyaratan Pelayanan;

c. Proses dan Prosedur Pelayanan; d. Waktu pelayanan;

e. Pejabat yang bertanggung jawab; dan f. Biaya pelayanan.

Dengan adanya kejelasan mengenai standar pelayanan tersebut, maka penyelenggaraan pelayanan administrasi terpadu akan merata di seluruh kecamatan dalam rangka mencapai efektifitas dan efisiensi pelayanan.

(52)

Dalam menentukan indikator kinerja di tingkat kecamatan, yang menjadi pertimbangan adalah tugas pokok dan fungsi kecamatan, baik tugas – tugas umum pemerintahan maupun pelaksanaan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh kepala daerah, bukan hanya sebatas pencapaian target pelaksanaan kegiatan dalam DPA. Berdasarkan hasil dokumentasi, dibawah ini merupakan indikator pengukuran kinerja di Kecamatan Gido Kabupaten Nias pada Tahun 2015.

Tabel 4. 10 Penetapan Indikator Kinerja Salah Satu Kecamatan Di Kabupaten Nias (Kecamatan Gido Tahun 2015)

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARG ET PROGRAM/KEGIATAN

1 2 3 5

Materai dan benda pos Tersedianya lainnya materai dan

benda pos lainnya Lancarnya pelaksanaan tugas Tersedianya

biaya rekening

Program

100% Pelayanan Penyediaan Jasa surat

Administra

menyurat si

Perkantora Penyediaan jasa komunikasi, 100% n sumber daya air dan

alat tulis kantor 100% Penyediaan alat tulis kantor Proses administrasi

100% Penyediaan barang cetakan

dan penggandaan

Adanya bahan bacaan berupa 1 SKH dan 1 SKM

100% Penyediaan bahan bacaan dan

peraturan perundangundangan

100% Penyediaan Peralatan Rumah

Tangga

100% Penyediaan makanan dan

(53)

Terselenggaranya rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah

Tersedianya biaya

perjalanan dinas ke luar daerah

100% Rapat-rapat koordinasi dan

konsultai ke luar daerah

Terlaksananya berjalan dengan baik dan lancar

Tersedianya

100% Penyediaan jasa administrasi

keuangan

Adanya inventaris kantor Tersedianya Program Pengadaan Meubelair meja dan kursi 100% peningkata kerja pegawai n sarana

Adanya inventaris kantor Tersedianya 1 dan Pengadaan Peralatan dan unit laptop prasarana Perelengkapan Gedung beserta 100% aparatur

Kantor kelengkapanny a

(54)

Adanya RENJA SKPD TA. Tersusunnya Program Penyusunan RencanaKerja

2014 Rencana Kerja peningkata (RENJA) SKPD

(RENJA) 100% n

SKPD Tahun pengemban

2014 gan sistem

Adanya LAKIP SKPD TA. 2013

Peringatan hari-hari besar Terlaksananya Program Peringatan Hari-hari besar nasional berjalan dengan baik peringatan Pengemba Nasional 100%

hari-hari besar ngan nasional Wawasan

Perayaan hari-hari besar Terlaksananya Kebangsaa Fasilitasi pelaksanaan harikeagamaan tingkat kecamatan perayaan hari- n hari besar keagamaan gido terlaksana dengan baik hari besar

100% dan lancar keagamaan

tingkat kecamatan

Rapat koordinasi berjalan dengan baik dan lancar

Terlaksananya

(55)

Muspika dalam

Terbinanya TP. PKK Terlaksananya Fasilitasi/Pembinaan TP. PKK

Kecamatan dalam fasilitasi/pemb

mendukung ekonomi inaan TP. PKK

keluarga Kecamatan

Adanya Profil Kecamatan Tersusunnya Program Penyusunan profil Kecamatan Profil 100% Pengemba kecamatan ngan

Adanya Peta Kecamatan Terlaksananya pembuatan

Sumber : Laporan Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) Kecamatan Gido Tahun 2015.

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa dalam indikator pengukuran kinerja Kecamatan Gido tahun 2015, program pelayanan administrasi kependudukan serta pelayanan perizinan tidak termasuk dalam indikator pengukuran kinerja tersebut. Hal ini disebabkan karena pelayanan KTP/KK dan

Pelaksanaan kegiatan gotong royong berjalan dengan baik dan lancar

(56)

pelayanan SITU/SIUP, bukan merupakan kinerja kecamatan melainkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Nias dan Badan Pelayanan

Perizinan Terpadu Kabupaten Nias. Dalam hal ini, camat hanya sekedar menerbitkan surat keterangan dan rekomendasi atas pengurusan baik dokumen kependudukan maupun perizinan.

Hal tersebut tidak akan terjadi jika Pemerintah Daerah Kabupaten Nias menerapkan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN), karena di dalam PATEN ada kewenangan yang dilimpahkan kepada camat di bidang perizinan dan non perizinan sesuai dengan skala dan kriteria. Dengan adanya kewenangan tersebut, berarti pelayanan administrasi perizinan dan non perizinan telah menjadi tugas pokok dan fungsi kecamatan, kedudukan kecamatan bukan hanya sebagai pemberi rekomendasi atau surat keterangan saja, tetapi dalam perizinan tertentu kecamatan merupakan penghasil dokumen – dokumen pelayanan sehingga pelayanan administrasi perizinan terpadu di kecamatan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator pengukuran yang lebih adil dan jelas. Hal ini disebabkan karena seluruh penyelenggaraan pelayanan mulai dari proses permohonan, pengelolaan, hingga penerbitan dokumen dilakukan oleh petugas PATEN kecamatan serta dilaksanakan di kantor Kecamatan.

4.2.2.2 Bagi Kecamatan

(57)

sebagian besar pelayanan administrasi untuk keperluan warga diselenggarakan di kecamatan.

Kabupaten Nias terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan yang terbagi dibeberapa wilayah. Karakteristik wilayah Kabupaten Nias sebagian besar masyarakatnya berada di daerah pegunungan dan berbukit - bukityang jauh dari ibukota dan lokasi SKPD penyedia pelayanan perizinan.

Tabel 4.11 Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Kantor Bupati di Kabupaten Nias Tahun 2015

No Kecamatan Ibukota Kecamatan

Jarak Dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota Kecamatan

(Km)

1. Gido Hiliweto 25

2. Idanogawo Tetehosi 35

3. Bawolato Sisarahili Bawolato 55

4. Hiliduho Hiliduho 19

5. Botomuzoi Hiliwaele I 28

6. Hiliserangkai Dahadano Botombawo 20,5

7. Ulugawo Tanoniko’o 55

8. Ma’u Lasa Siwalu Banua 44

9. Somolo-molo Somolo – molo 35

10. Sogae’adu Sogaeadu 30

(58)

Dari tabel tersebut diatas, Kecamatan yang paling dekat dengan Kantor Bupati dan Ibukota adalah Kecamatan Hiliduho, dan yang terjauh adalah Kecamatan Ulugawo dan Bawolato. Wilayah Kecamatan Gido, Sogaeadu, Idanogawo dan Bawolato berada di pesisir pantai dan telah dilalui oleh jalan propinsi. Namun, ke – 7 (tujuh) kecamatan lainnya berada di dataran tinggi dan topografi berbukit dan berlembah. Akses jalan menuju kecamatan tekah tersedia meskipun kondisinya tidak begitu baik. Bahkan di Kecamatan Ma;u, Ulugawo, dan Somolo – molo, pembangunan sarana dan prasarana jalan baru dimulai sejak 2 (dua) tahun yang lalu. Belum lagi jika mencermati akses jalan dari kecamatan menuju ke desa – desa yang pada umumnya belum diaspal, hanya jalan setapak berbatu dan berlumpur.

(59)

Terpadu Kecamatan merupakan solusi yang dapat digunakan dalam memperbaiki kualitas pelayanan di kecamatan. Jika tidak, maka akan mengakibatkan beberapa implikasi, antara lain :

a. Ketidakjelasan dan tumpang tindih pelaksanaan tugas bagi para personil kecamatan;

b. Ketidakjelasan pedoman tentang proses pelayanan, waktu, dan biaya pelayanan;

c. Meningkatnya pungutan liar atau “seksi basah dan seksi

kering”; dan

d. Maraknya praktek – praktek percaloan dalam mempermudah pelayanan;

(60)

Tabel 4.12 Perbedaan pelayanan konvensional dengan PATEN

Aspek Pelayanan Konvensional PATEN

Fisik Terdiri dari beberapa meja yang saling terpisah

1.Loket/Meja Yang

Difungsikan Khusus Untuk Pelayanan Yang Terdiri Dari Dua Bagiam Yang Berhubungan Langsung

Dengan Warga, Yaitu (A) Bagian Penerima Berkas; Dan (B) Bagian penyerahan dokumen hasil

Proses 1. Warga membawa berkas

persyaratan dan menemui secara langsung pejabat yang

berhubungan dengan urusannya, yaitu Kepala Seksi,

Sekcam, dan Camat;

2. Bila pejabat tersebut tidak

hadir, warga harus kembali pada lain hari;

3. Bila tidak tahu prosesnya,

warga harus bertanya kesana kemari, sehingga menunggu diruang tunggu dan

menerima dokumen hasil; Ada pendelegasian

wewenang, sehingga ketidakhadiran seorang pejabat dapat dilimpahkan kepada petugas yang

ditunjuk;

Alur prosesnya ditampilkan secara jelas dan transparan.

Sumber Daya Manusia

Tidak ada pembagian tugas dalam memberikan pelayanan, sehingga berpotensi terjadinya tumpang tindih tugas antar pegawai dan cenderung tidak efisien.

1.

2.

3.

Ada petugas khusus yang melayani warga;

Setiap pegawai memiliki peran yang jelas dalam melayani warga;

(61)

Ketersediaan mengenai persyaratan, biaya, dan waktu; sehingga warga cenderung

mengeluarkan biaya lebih besar dengan harapan cepat selesai

Informasi biasanya

disampaikan langsung oleh

Dapat menjebak Camat dengan tuduhan “ kutipan liar “

1.

2.

3.

Terssedia Informasi mengenai jenis pelayanan, waktu, biaya dan prosedur untuk transparan dan akuntabel. Memberikan kepastian kepada camat dalam menjalankan pelayanan publik.

Database Tidak ada sistem

database mengenai pelayanan

Dilengkapi dengan database pelayanan yang dikelola dan diperbaharui terus menerus Partisipasi 1.Tidak ada partisipasi warga 1.Warga dapat mengakses warga 2.Warga hanya menerima informasi pelayanan

proses pelayanan publik apa sehingga lebih mudah adanya. memberikan masukan untuk perbaikan pelayanan

2.Warga dapat menyampaikan pengaduan bila pelayanan yang diterimanya tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Sumber : Buku Panduan PATEN, Dirjen Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2008.

(62)

peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena jika tidak, maka kondisi pelayanan di Kabupaten Nias akan berada dalam kondisi Stagnasi dan harapan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan prima, sangat sulit tercapai.

4.2.2.3 Bagi Masyarakat

Masyarakat merupakan sasaran dari proses pelayanan yang disediakan oleh pemerintah. Memperoleh pelayanan adalah hak setiap warga negara, oleh karena itu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat haruslah berkualitas, mudah, cepat, dan transparan. Hal yang sama juga diharapkan oleh masyarakat Kabupaten Nias, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil dan menengah. Kondisi ini menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten Nias untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sehingga dapat mencapai pembangunan daerah.

(63)

Iklim pelayanan yang berkualitas sebagaimana dijelaskan diatas, tidak akan tercapai jika Pemerintah Daerah Kabupaten Nias tidak memiliki komitmen dan konsistensi dalam penyelenggaraan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan. Karena jika hal ini tetap dibiarkan maka pihak yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat. Beberapa dampak yang akan dirasakan masyarakat, antara lain :

a. Dihadapkan pada pelayanan yang prosedural, berbelit – belit, lamban, tidak produktif, berbiaya tinggi, dan melalikan kepentingan publik.

b. Rendahnya indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan.

c. Keterbatasan dalam memperoleh informasi, menilai serta memberi masukan dalam upaya perningkatan kualitas pelayanan.

Dengan mencermati Visi dan Misi Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Nias Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Nias 2006 – 2011, telah ditetapkan Visi Pembangunan Daerah Tahun 2011 – 2016 yang merupakan cita-cita yang ingin dicapai, yaitu “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Nias Yang Berkeadilan, Sejahtera dan Mandiri Yang Dilayani Oleh Pemerintah Yang

(64)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka peneliti menarik kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang diteliti yaitu Analisis Kebijakan Pelayanan Terpadu Kecamatan, sebagai berikut :

I. Penerapan kebijakan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan di Kabupaten Nias belum dapat dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena belum terpenuhinya 3 (tiga) persyaratan utama dalam periapan PATEN, antara lain Syarat Substantif, syarat Administratif, dan syarat teknis. Selain itu, faktor komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi juga turut mempengaruhi penerapan PATEN di Kabupaten Nias

II. Mengacu pada pendapat George Edward III tentang faktor – faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan, maka Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) di Kabupaten Nias membuktikan bahwa :

Gambar

Gambar 4.1  Peta Administrasi Kabupaten Nias
Tabel 4.2
Tabel 4.3  Curah hujan di Kabupaten Nias
Tabel 4.7 Jumlah dan Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan hasil penelitian Bestari dan Rohman (2013) yang konsisten dengan penelitian Almilia dan Herdiningtyas (2005) bahwa NPL berpengaruh tidak signifikan dan berpengaruh

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemimpin cluster atau centroid pada simple k-means bisa digantikan oleh kandidat lain yang memiliki

Tentunya berbeda dengan pertimbangan agama (keimanan) yang bergerak pada ranah spirit manusia baik sebagai individu maupun bagian tak terpisahkan dalam

diinginkan, permintaan barang jadi dari fungsi penjualan ke fungsi gudang dilakukan tanpa adanya bukti yang mendukung kegiatan tersebut sehingga tidak adanya

MySQL merupakan software yang tergolong kedalam DBMS yang bersifat Open Source menyatakan bahwa software ini dilengkapi dengan source (kode yang dipakai untuk

Menu Siswa Menu Guru Menu Admin logout Kelola Kelas Kelola Mata Pelajaran Kelola Jadwal Mengajar Ganti Password Kelola Profile Kelola Siswa Kelola Guru Data Guru Ganti Password

Keberhasilan dari lesson study tidak hanya prestasi seorang guru atau kepala sekolah, namun merupakan pencapaian hasil dari suatu proses kolaborasi banyak pihak terutama antar

Setelah meremote server yang telah ditunjuk sebagai master, selanjutnya penyerang menggunakan server tersebut untuk mengirimpak perintah serangan kepada