BAB IV PERWATAKAN TOKOH UTAMA JONATHAN NOEL
C. Permasalahan Psikologis yang Dihadapi Tokoh Utama Jonathan Noel
2. Kecemasan
Kecemaan adalah satu sikap emosional ditandai secara khas oleh kecemasan mengenai akibat dari peristiwa di masa mendatang (Chaplin, 2000: 541). Kecemasan timbul akibat adanya tekanan batin yang dialami seseorang. Ciri-ciri seseorang yang mengalami gangguan kecemasan yaitu memiliki rasa was-was, tegang, resah, mudah tersinggung, merasa tidak mampu, minder, depresi serba sedih, mengeluarkan banyak keringat, sering berdebar-debar, sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan.
Jonathan bekerja sebagai satpam yang menuntutnya untuk bersikap tegas, sigap, dan berani. Jonathan selalu melaksanakan kewajibannya sebagai satpam dengan lancar dan bahkan tidak pernah terlewatkan semua tugasnya. Dia merasa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Tetapi pada saat itu ia melewatkan beberapa tugasnya yang mengakibatkan kecemasan pada dirinya. Kesempurnaan yang dimiliki Jonathan selama ini telah dirusak oleh kesalahan kecilnya. Kecemasan yang dialami Jonathan terlihat dari kutipan berikut.
Und wenn du heute die Limousine verpaβt, dann verpaβt du vielleicht morgen den ganzen Dienst, oder du verlierst den Schlüssel zum Scherengittertor, und nächsten Monat wirst du schimpflich entlassen, und eine neue Arbeit findest du nicht, denn wer stellt einen Versager ein? (Süskind, 1990: 61).
Dan kalau hari ini kamu ketinggalan limusin, kemungkinan besuk kamu melalaikan semua tugas, atau kamu kehilangan kunci untuk membuka pagar besi dan bulan depan kamu akan dipecat dengan tidak hormat, dan kamu tidak menemukan pekerjaan yang baru, karena siapa yang mau menempatkan seorang pecundang?
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Jonathan mengalami kecemasan. Dia berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa menunggu perintah ataupun arahan dari orang lain. Dia selalu melaksanakan tugasnya tanpa terlewatkan sedikitpun, tetapi hari itu dia melewatkan kehadiran mobil limusin hitam milik monsieur Roedel. Dia tidak menyadari adanya bunyi klakson yang sangat keras yang berasal dari mobil limusin Dia membiarkan monsieur Roedel menunggu lama di luar pagar. Akhirnya Jonathan menyadari kehadiran mobil limusin setelah bunyi klakson yang kelima. Sebelumnya Jonathan belum pernah melalaikan tugasnya. Dengan perasaan kaget dia langsung menuju ke gerbang luar untuk membukakan pintu dan mempersilahkan monsieur Roedel masuk serta memberi hormat. Kelalaian Jonathan akan tugasnya sebagai satpam menimbulkan kecemasan pada dirinya. Kecemasan itu terlihat dari sikap Jonathan yang gugup dan tegang.
Kecemasan Jonathan muncul karena ada sesuatu yang menghalangi ego untuk mencapai suatu tujuan. Ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribadian yaitu sesuatu yang normal dan sempurna. Dalam proses pencapaian kepribadian yang sempurna terdapat penghalang yaitu berupa kompleks yang bergerak dalam ketidaksadaran pribadi. Kebutuhan yang terhambat ini menimbulkan kecemasan dalam diri Jonathan.
Ego yang dimiliki Jonathan adalah keinginan untuk hidup damai dalam pekerjaannya sebagai satpam. Ia tidak ingin kehidupannya kacau hanya karena sedikit kecerobohannya. Ia merupakan orang yang bertanggung jawab yang selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia tidak ingin sekalipun melalaikan tugasnya, tetapi keinginannya terhambat oleh kecerobohan yang dibuatnya. Dia berpandangan bahwa pekerjaannya adalah suatu modal untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna. Dengan pekerjaannya ini, dia dapat merasa terhormat dan dapat melakukan segala sesuatunya sendiri serta memiliki masa depan yang cerah untuk kehidupan di masa tuanya. Keinginan yang terhalang oleh kecerobohannya sendiri menimbulkan kecemasan pada diri Jonathan.
Ego yang terdapat pada alam sadar Jonathan yaitu persepsi tentang kehidupan damai melalui pekerjaannya sebagai satpam. Ketidaksadaran yang muncul pada diri Jonathan adalah ketidaksadaran pribadi yang berupa ingatan-ingatan pengalaman masa kecilnya. Ketidaksadaran pribadi berisi kompleks yang berupa ingatan akan kehidupannya yang tidak damai. Dia hidup di zaman peperangan, yang pada saat itu terdapat banyak kekerasan, kekacauan, dan penyiksaan yang membuat dia tidak bahagia. Dia merasa kebahagiaan dengan kedua orang tuanya hilang karena kelalaiannya. Dia tidak bersama ibunya ketika sang ibu dibawa pergi oleh tentara Nazi. Dia merasa gagal, karena dia tidak bisa menyelamatkan ibunya dari kekerasan yang dilakukan tentara Nazi.
Struktur ketidaksadaran yang muncul yaitu pendapat instrintif berupa pendapat Jonathan bahwa kedamaian hidup dapat dicapai melalui tanggung jawab, teliti dan kerja keras seseorang, sehingga memunculkan reaksi instrintif Jonathan
terhadap situasi yang dihadapinya berupa reaksi sikap berusaha bertanggung jawab dan teliti dalam melakukan segala sesuatu. Pendapat dan reaksi instrintif merupakan arketipe yang berbentuk persona yang muncul ke kesadaran yang mengontrol dirinya dengan menampakan topeng diri keluar sebagai tuntutan kebiasaan yaitu dengan seolah-olah bersikap wajar dengan berusaha mengabaikan kecemasan yang dirasakannya saat itu. Ia bertingkah laku berdasarkan harapan orang lain, yaitu tetap tenang. Hal tersebut menimbulkan penekanan atau represi dalam jiwanya terhadap ketidaksadaran tentang persepsi suatu kehidupan damai. Reaksi yang dilakukan Jonathan sebagai tanggapan dari persepsi mengalami hambatan. Hambatan itu muncul karena kecerobohan yang dilakukannya. Dia merasa tidak bertanggung jawab dan membuat atasannya marah. Dia memikirkan akibat dari kecerobohan yang dilakukannya. Dia khawatir suatu saat akan dipecat karena telah melakukan kesalahan dalam bekerja. Jika dia dipecat maka dia akan menjadi pengangguran dan kehidupannya menjadi kacau. Melalui sikap dan jalan pikiran Jonathan menunjukkan bahwa dia merasa was-was dan resah. Dia berusaha menutupi kelemahannya terhadap orang lain. Hal ini merupakan perasaan inferior dalam diri Jonathan. Bayang-bayang dan bagian gelap dari kepribadian, kekurangan yang tidak disadari muncul. Dia berusaha menyelesaikan masalahnya dengan mengatasi kecemasan neurotisnya yaitu rasa takut akan dipecat dari pekerjaannya.
Jonathan menutupi kelemahannya dengan memunculkan persona berupa topeng. Dia berusaha bersikap wajar dengan berusaha menghilangkan rasa cemas yang dialaminya. Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
Nichts wollte er tun, um sein Elend zu mildern. Völlig bewegungslos stand er da, stundenlang. Er merkte nur, wie sein Rückgrat immer krummer und krummer wurde, wie Schultern, Hals und Kopf immer tiefer herabsackten, wie sein Körper eine immer gedrungenere, …..(Süskind, 1990: 76).
Dia tidak ingin melakukan apa pun untuk meringankan penderitaannya. Dia terus berdiri tanpa bergerak selama berjam-jam. Ia hanya merasakan betapa tulang belakangnya membengkok dan semakin menjadi-jadi batapa bahu, leher, dan kepalanya tenggelam semakin dalam, betapa tubuhnya sesak sekali, …..
Kecemasan Jonathan terlihat dari pikirannya yang tertuju akan masa depannya yang sangat tergantung pada pekerjaannya sekarang. Usaha Jonathan untuk menutupi kecemasannya dengan menunjukkan persona yang berupa topeng. Dia berusaha bersikap wajar dengan menutupi rasa cemasnya dengan bersikap tenang. Kompleks muncul dalam dirinya dengan cara mempengaruhi tindakan atau kata-katanya tanpa disadari.
Kecemasan pada diri Jonathan muncul karena terdapat symptom pada ketidaksadaran kolektif yang berupa tanda bahaya. Tanda bahaya itu muncul dalam pikirannya yang berupa pikiran tentang tindakan yang akan dilakukan burung merpati. Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
….., du hast keinen Sou mehr, du stehst vor dem Nichts, du stehst auf der Straβe, du schläft, du wohnst auf der Straβe, du scheiβt auf die Straβe, du bist am Ende, Jonathan, vor Jahresfrist noch bist du am Ende und wirst als Clochard mit zerlumpten Kleidern auf einer Parkbank liegen wie er da, dein verlotterter Bruder!« (Süskind, 1990: 61-62).
….., tanpa uang sama sekali. Kamu berdiri tanpa uang, kamu berada di jalanan, kamu tidur, kamu tinggal di jalanan, kamu buang hajat di jalanan, kamu di ambang kehancuran, Jonathan, dalam setahun kamu akan berakhir seperti gelandangan yang berada di bangku itu dengan pakaian compang-camping sebagaimana dia disana, saudaramu yang terlupakan!«
Kecemasan Jonathan dan reaksi menghadapi situasi ketakutan dan bahaya (ketidaksadaran kolektif) berbentuk symptom yang berupa tanda bahaya akan
kesalahan yang telah dilakukannya. Kecerobohan yang ia lakukan saat bekerja akan membuatnya kehilangan pekerjaan, sehingga dia tidak mendapatkan uang. Tanpa uang Jonathan akan hidup menggelandang, hidup di jalanan dan tidak memiliki apa pun. Dia takut jika berakhir seperti gelandangan, sehigga tidak dapat menikmati kedamaian hidup yang selama ini ia impikan. Pemikiran Jonathan akan kecerobohan yang telah ia perbuat membuatnya resah dan tidak tenang, sehingga memunculkan bayangan-bayangan akan kehidupannya yang sengsara.