BAB IV PERWATAKAN TOKOH UTAMA JONATHAN NOEL
C. Permasalahan Psikologis yang Dihadapi Tokoh Utama Jonathan Noel
1. Tertutup (introvert)
Introvert adalah orientasi ke dalam, terhadap diri sendiri. Seorang introvers selalu asyik dengan fikiran-fikirannya sendiri, menghindari kontak sosial dan cenderung melarikan diri dari kenyataan (Chaplin, 2000: 259). Jonathan merupakan orang yang tertutup , dia lebih menikmati hidup dalam kesendiriannya dan menghindar dari kontak sosial. Sikap tertutup Jonathan timbul karena pada sisi kesadaran dan segala pengalaman yang menjadi ingatan-ingatan yang tersimpan baik pada alam bawah sadar personanya kembali terangkat ke permukaan.
Sikap tertutup Jonathan terlihat ketika dia mulai beranggapan bahwa dunia ini tidak aman baginya, dan dia mulai tertutup dengan orang lain dan lebih fokus pada dirinya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
Aus all diesen Vorkommnissen zog Jonathan Noel den Schluβ, daβauf die Menschen kein Verlaβsei und daβman nur in Frieden leben könne, wenn man sie sich vom Leibe hielt (Süskind, 1990: 8).
Jonathan Noel membuat keputusan dari semua peristiwa ini bahwa dia tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain dan seseorang hanya dapat hidup damai, ketika seseorang menjaga jarak dengan orang lain.
Kutipan di atas menggambarkan permasalahan psikologis tertutup yang dihadapi Jonathan. Hal tersebut didukung dengan kutipan berikut.
Es war und blieb Jonathans sichere Insel in der unsicheren Welt, …… (Süskind, 1990: 12).
Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa Jonathan menutup diri terhadap orang lain. Pengalaman buruk Jonathan dengan orang lain membuatnya tidak tenang. Dia merasa tidak nyaman dan tidak damai ketika berada di dekat orang lain. Dia berpendapat bahwa orang lain telah merampas kehidupan damainya. Oleh sebab itu Jonathan lebih tertutup dengan orang lain, lebih fokus pada dunia dan pikiran-pikirannya sendiri. Jonathan berusaha mengatasi semua permasalahannya sendiri dan dengan caranya sendiri.
Ketertutupan Jonathan muncul karena adanya ketidaksadaran pribadi yang negatif. Ketidaksadaran pribadi berupa pengalaman pribadi Jonathan pada masa kecil dan masa dewasanya. Dia mengalami peristiwa yang tidak dia inginkan. Kebahagiaan dengan kedua orang tuanya hilang direnggut orang lain dan pada masa dewasa dia merasa sedih, kecewa dan terpukul karena perbuatan istrinya. Keberadaan orang lain hanya akan merenggut kebahagiaan dan kedamaian Jonathan. Ada sesuatu yang menghalangi ego untuk mencapai suatu tujuan. Ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribadian yaitu sesuatu yang normal dan sempurna. Dalam proses pencapaian kepribadian yang sempurna terdapat penghalang yaitu berupa kompleks yang bergerak dalam ketidaksadaran pribadi. Kebutuhan yang terhambat ini menimbulkan ketertutupan dalam diri Jonathan.
Ego yang terdapat pada alam sadar Jonathan yaitu persepsi tentang kehidupan damai. Ketidaksadaran yang muncul pada diri Jonathan adalah ketidaksadaran pribadi yang berupa ingatan-ingatan pengalaman masa kecilnya. Ketidaksadaran pribadi berisi kompleks yang berupa ingatan akan kehidupannya yang tidak damai. Dia memiliki pengalaman buruk pada masa kecil dan dewasa.
Dia merasa bahagia dan damai ketika berada di pelukan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Jonathan meninggalkannya karena dibawa pergi tentara Nazi. Kebahagiaan Jonathan mulai kembali ketika dia menikah dengan Marie dan akan memiliki seorang anak, tetapi dia dikecewakan lagi dengan kepergian istrinya. Struktur ketidaksadaran yang muncul yaitu pendapat instrintif berupa pendapat Jonathan bahwa kedamaian hanya bisa dicapai dengan menjaga jarak dengan orang lain, sehingga memunculkan reaksi instrintif Jonathan terhadap situasi yang dihadapinya berupa reaksi saat ia berusaha mencari tempat yang aman baginya. Pendapat dan reaksi instrintif merupakan arketipe. Arketipe berbentuk persona yang muncul ke kesadaran yang mengontrol dirinya dengan menampakan topeng diri keluar sebagai tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat yaitu sikap Jonathan yang tetap menyapa dan melakukan aktifitas seperti orang lain pada umumnya. Dia tetap bekerja dan melakukan komunikasi dengan orang lain meskipun hanya seperlunya. Ia bertingkah laku berdasarkan harapan orang lain, yaitu melakukan aktivitas orang pada umumnya. Hal tersebut menimbulkan penekanan atau represi dalam jiwanya terhadap ketidaksadaran tentang persepsi terhadap keberadaan orang lain dalam hidupnya. Reaksi yang dilakukan Jonathan sebagai tanggapan dari persepsi mengalami hambatan. Hambatan itu muncul karena adanya hukum sosial dalam masyarakat. Dia harus berbaur dan berkomunikasi dengan orang lain. Melalui sikap dan jalan pikiran Jonathan menunjukkan bahwa dia memiliki sikap tertutup terhadap orang lain dengan menghindar dari kontak sosial dan asyik dengan dunia dan fikiran-fikirannya sendiri. Dia berusaha menutupi kelemahannya terhadap orang lain. Hal ini merupakan perasaan inferior dalam diri
Jonathan. Bayang-bayang dan bagian gelap dari kepribadian, kekurangan yang tidak disadari muncul. Dia berusaha menyelesaikan masalahnya dengan mengatasi sikap tertutupnya yaitu perasaan yang tidak suka bersosialisasi dan cenderung berkonsentrasi pada pikirannya sendiri.
Jonathan menutupi kelemahannya dengan memunculkan persona berupa topeng. Dia berusaha bersikap wajar dengan tetap menyapa dan berbaur dengan orang lain. Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
»Guten Tag, Madame Rocard«, murmelte er. Mehr sprachen sie nie miteinander. Seit zehn Jahren so lange war sie im Haus – hatte er nie mehr als »Guten Tag, Madame« und »Guten Abend, Madame« zu ihr gesagt und »Danke, Madame«, wenn sie ihm die Post aushändigte (Süskind, 1990: 31-32).
»Selamat pagi, nyonya Rocard«, gerutu Jonathan. Mereka tidak pernah saling berbicara lebih dari itu selama sepuluh tahun di dalam rumah. Jonathan tidak pernah berkata melebihi salam, »Selamat siang, nyonya«, dan »Selamat malam, nyonya«, dan »Terimakasih, nyonya«, ketika wanita itu menyampaikan surat kepada Jonathan.
Kutipan di atas menunjukkan cara Jonathan untuk menutupi kelemahannya. Hal tersebut didukung dengan kutipan berikut.
….., hevorgerufen durch die Ankunft respektive Abfahrt von Monsieur Roedels, des Direktors, schwarzer Limousine. Es galt, den Standplatz auf der Marmorstufe zu verlassen, etwa zwölf Meter am Bankgebäude entlang zur Toreinfahrt des Hinterhofes zu eilen, das Schwere Stahlgatter auf zuschieben, die Hand zu respektvollen Gruβan den Mützenrand zu legen und die Limousine passieren zu lassen (Süskind, 1990: 41).
….., kedatangan dan kepergian limusin hitam milik Monsieur Roedel, sang presiden direktur. Itu bararti dia (Jonathan) harus meninggalkan pos, sekitar dua puluh meter sepanjang sisi gedung untuk membuka pagar besi, memberi hormat pendek dengan menyentuh topi, mempersilahkan limusin itu masuk.
Sikap tertutup Jonathan terhadap orang lain terlihat dari tingkah lakunya yang cenderung menghindari orang lain dan berkutat dengan pikirannya sendiri.
Usaha Jonathan untuk menutupi kecemasannya dengan menunjukkan persona yang berupa topeng. Dia berusaha bersikap wajar dengan berusaha bersikap ramah dengan menyapa seperlunya. Dia menutupi kekurangannya yaitu rasa tidak suka dengan keberadaan orang lain dengan cara bersikap ramah dengan caranya sendiri. Dia berusaha menyapa seperlunya ketika bertemu dengan orang lain dan ketika menjalankan tugasnya sebagai satpam. Kompleks muncul dalam dirinya dengan cara mempengaruhi tindakan atau kata-katanya tanpa disadari.
Sikap tertutup pada diri Jonathan muncul karena terdapat symptom pada ketidaksadaran kolektif yang berupa tanda bahaya. Tanda bahaya itu muncul dalam pikirannya yang berupa pikiran tentang tindakan yang akan dilakukan orang lain terhadap dirinya. Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
Er hatte nur etwas gegen Conciergen im allgemeinen, denn Conciergen waren Menschen, die von Berufs wegen andere Menschen permanent beobachteten (Süskind, 1990: 32).
Dia hanya memiliki keengganan terhadap pengurus gedung secara umum, karena pengurus gedung merupakan orang yang atas dasar pekerjaan selalu mengamat-amati orang lain.
Sikap tertutup Jonathan dan reaksi menghadapi situasi ketakutan dan bahaya (ketidaksadaran kolektif) berbentuk symptom yang berupa tanda bahaya akan tindakan orang lain dalam pikirannya bahwa orang lain akan melukainya. Tindakan yang dilakukan pengurus gedung cukup membuat Jonathan terganggu. Pengurus gedung mengamati Jonathan, itu adalah tindakan yang terlalu berlebihan dan mengganggu privasinya. Dia merasa kehidupan pribadinya dirampas oleh orang lain, sehingga dia merasa terganggu. Dia memiliki pandangan bahwa orang lain selalu mengacaukan kehidupannya. Pikiran negatif Jonathan terhadap
tindakan dan sikap orang lain terhadapnya membuat dia bersikap tertutup. Dia merasa keberadaan orang lain di sekitarnya selalu membuat dia tersiksa, dan dia memutuskan pada dirinya sendiri untuk tertutup dengan orang lain. Dia merasakan kedamaian ketika dia sendiri, berkutat pada pikirannya sendiri, dan melakukan aktifitas kehidupannya tanpa campur tangan orang lain.