TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Pembayaran
3. Kecenderungan Mengkonsumsi Rata-Rata (Average Propensity to Consume)
Kecenderungan mengkonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume) disingkat MPC adalah konsep yang memberikan gambaran tentang berapa konsumsi akan bertambah bila pendapatan disposabel bertambah satu unit
Keynes menduga bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal (Marginal Prospensity to Consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi marginal adalah krusial bagi rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kebijakan fiskal, untuk mempengaruhi perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari umpan balik antara pendapatan dan konsumsi (Gregory, 2003).
3. Kecenderungan Mengkonsumsi Rata-Rata (Average Propensity to Consume).
Kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (Average Propensity to Consume) disingkat APC adalah rasio antara konsumsi total dengan pendapatan disposabel total.
19
APC =
Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (Average Prospensity to Consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan, sehingga ia berharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin.
2.6.2. Model Konsumsi Siklus Hidup (Life Cycle Hypothesis of Consumption) Model konsumsi siklus hidup (Life Cycle Hypothesis of ConsumptionI, disingkat LCH) dikembangkan oleh Franco Modigliani, Albert Ando, dan Richard Brumberg. Model ini berpendapat bahwa kegiatan konsumsi adalah kegiatan seumur hidup. Sama halnya dengan model Keynes, model ini mengakui bahwa faktor yang dominan pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi adalah pendapatan disposabel. Hanya saja, model siklus hidup ini mencoba menggali lebih dalam untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi besarnya pendapatan disposabel. Ternyata, tingkat pendapatan disposabel berkaitan erat dengan usia seseorang selama siklus hidupnya (Rahardja & Manurung, 2002).
Selanjutnya Modigliani menganggap penting peranan kekayaan (assets) sebagai penentu tingkah laku konsumsi. Konsumsi akan meningkat apabila terjadi kenaikan nilai kekayaan seperti karena adanya inflasi maka nilai rumah dan tanah meningkat, karena adanya kenaikan harga surat-surat berharga, atau karena peningkatan dalam jumlah uang beredar. Sesungguhnya dalam kenyataan orang menumpuk kekayaan sepanjang hidup mereka, dan tidak hanya orang yang sudah pensiun saja. Apabila terjadi kenaikan dalam nilai kekayaan, maka konsumsi akan meningkat atau dapat dipertahankan lebih lama. Akhirnya
hipotesis siklus kehidupan ini akan berarti menekan hasrat konsumsi, menekan koefisien pengganda, dan melindungi perekonomian dari perubahan-perubahan yang tidak diharapkan, seperti perubahan dalam investasi, ekspor, maupun pengeluaran-pengeluaran lain (Rahardja & Manurung, 2002).
2.6.3. Teori Pendapatan Permanen ( Permanent Income Hypothesis )
Alternatif lain untuk menjelaskan pola/perilaku konsumsi adalah teori pendapatan permanen (Permanent Income Hypothesis, disingkat PIH) yang diajukan oleh Milton Friedman. Sama seperti teori-teori lain, PIH juga meyakini bahwa pendapatanlah faktor dominan yang memengaruhi tingkat konsumsi.
Perbedaannya terletak pada pendapatan PIH yang menyatakan bahwa tingkat konsumsi mempunyai hubungan proporsional dengan pendapatan permanen (permanent income).
Dimana:
C = Konsumsi
Yp = pendapatan permanen = faktor proporsi, ( 0)
Yang dimaksud dengan pendapatan permanen adalah tingkat pendapatan rata-rata yang diharapkan dalam jangka panjang. Sumber pendapatan itu berasal dari pendapatan upah/gaji (expected labour income) dan non upah/non gaji (human wealth) makin baik, mampu bersaing di pasar. Dengan keyakinan tersebut ekspektasinya tentang pendapatan upah/gaji makin optimistik. Ekspektasi tentang pendapatan permanen juga akan meningkat jika individu menilai kekayaannya meningkat. Sebab dengan kondisi seperti itu pendapatan non upah diperkirakan
C =
Yp21
juga meningkat. Pendapatan saat ini tidak selalu sama dengan pendapatan permanen. Kadang-kadang pendapatan saat ini lebih besar daripada pendapatan permanen. Kadang-kadang sebaliknya. Hal yang menyebabkannya adalah adanya pendapatan tidak permanen yang besarnya berubah-ubah. Pendapatan ini disebut pendapatan transitori (transitory income).
2.6.4.Teori Pendapatan Relatif (Relative Income Hypothesis)
Teori konsumsi LCH dan PIH memberi tekanan tentang pengaruh pendapatan jangka pendek dan jangka panjang. Sebenarnya ada sebuah teori yang lebih awal dari pada kedua teori tersebut dalam memberi penjelasan tentang pengaruh pendapatan disposabel jangka pendek dan jangka panjang. Teori ini adalah teori pendapatan relatif (Relative Income Hypothesis, disingkat RIH) yang dikembangkan oleh James Duessenberry. Kendatipun mengakui pengaruh dominan pendapatan terhadap konsumsi, teori ini lebih memerhatikan aspek psikologis rumah tangga dalam menghadapi perubahan pendapatan. Dampak perubahan pendapatan disposabel dalam jangka pendek akan berbeda dibanding dalam jangka panjang. Perbedaan ini pun dipengaruhi oleh jenis perubahan pendapatan yang dialami. Karena itu, rumah tangga memiliki dua preferensi/fungsi konsumsi yang disebut fungsi konsumsi jangka pendek dan fungsi konsumsi jangka panjang.
2.7. Pendekatan Perilaku Konsumen
Menurut Prathama Rahardja dan Mandala Manurung ( 2002 : 50 - 51 ) Pendekatan perilaku konsumen dibagi menjadi 2 pendekatan yaitu :
1. Pendekatan kardinal adalah pendekatan yang berisi analisis konsumen dengan berdasar pada asumsi yang menyatakan bahwa, tingkat kepuasan yang
diperoleh konsumen bisa diukur dengan satuan tertentu, seperti jumlah dan harga. Artinya, tingkat kepuasan konsumen semakin besar seiring dengan semakin besar jumlah barang yang dikonsumsi. Konsumen yang relasional akan berusaha memaksimumkan kepuasannya dengan pendapatan yang lebih.
Pendekatan kardinal sering disebut dengan daya guna marginal. Dalam pendekatan kardinal terdapat beberapa poin penting, antara lain :
a) Satuan ukur bisa digunakan untuk mengukur kepuasan dari konsumen.
b) Jumlah barang yang dikonsumsi berbanding lurus dengan kepuasan konsumen, artinya semakin banyak jumlah barang yang dikonsumsi maka semakin besar pula tingkat kepuasan konsumen tersebut.
c) Dalam perilaku konsumen terjadi hukum Gossen, artinya ada sebuah penurunan yang terjadi pada tingkat kepuasan konsumen.
d) Tingkat kepuasan sebanding lurus dengan harga suatu produk. Artinya ketika konsumen ingin mendapatkan tingkat kepuasan yang tinggi maka mereka harus rela mengeluarkan uang yang banyak, begitupun sebaliknya ketika konsumen hanya ingin mengeluarkan sedikit uang maka tingkat kepuasannya pun tidak akan meningkat.
2. Pendekatan ordinal adalah sebuah pendekatan yang bertugas untuk mengukur kepuasan konsumen dengan angka ordinal/relatif. Dalam Pendekatan Ordinal, tidak perlu diukur untuk daya guna suatu barang, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang.
Tingkat kepuasan konsumen dapat dihitung dengan menggunakan kurva indeferens yang memiliki ciri-ciri yaitu sebagai berikut :
23
a) Memiliki tingkat kemiringan yang negatif, artinya konsumen cenderung mengurangi konsumsinya terhadap benda satu ketika benda lainnya yang dikonsumsi jumlahnya meningkat.
b) Kurva cenderung cembung ke arah titik asal, hal ini menunjukkan bahwa sebuah perbedaan antara jumlah proporsi yang harus konsumen korbankan untuk mengubah kombinasi dari jumlah masing-masing barang yang dikonsumsi atau bisa disebut marginal rate of substitution.
2.8. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini antara lain:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No. Tahun
Penelitian Judul Penelitian Pembahasan Penelitian 1 2006 Sridawati : “Analisis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemanfaatan kartu pembayaran elektronik terhadap minat menggunakan/mengkonsumsi produk/jasa.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada delapan variabel yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam menggunakan kartu pembayaran elektronik, delapan variabel tersebut diantaranya;
jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan rata-rata perbulan, pengeluaran rata-rata-rata-rata per bulan, lokasi, teknologi dan motivasi.
Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Peneliti mengambil langkah tersebut berprinsipkan pada hasil dari kajian yang digunakan berdasarkan kajian teori. Untuk menyelesaikan penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari data Bank Indonesia.
Penelitian ini salah satu jenis penelitian konklusif yang bertujuan untuk memperoleh bahan adapun hubungan sebab akibat (hubungan kausalitas).
Berdasarkan beberapa rangkaian hasil dari analisis data, pengujian kausalitas dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan transaksi non tunai dan konsumsi masyarakat di Surabaya memiliki hubungan kausalitas satu arah yaitu variabel sistem transaksi non tunai atau variabel X tidak berpengaruh terhadap variabel Y atau variabel konsumsi masyarakat namun variabel Y mempengaruhi variabel X atau variabel sistem transaksi non tunai.
3 2015 Arsita Ika Adiyanti Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Universitas
dalam skripsi yang
Brawijaya Malang dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini memperoleh responden sebanyak 60 orang mahasiswa dari semua Jurusan Universitas Brawijaya yang minimal pernah menggunakan e-money. Peneliti menggunakan software E-Views untuk menguji data penelitian.
Hasil analisis untuk model ini menunjukkan bahwa Kemampuan finansial, Manfaat, Kemudahan Penggunaan, Daya Tarik Promosi dan kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat menggunakan e-money. Perbedaan dalam penelitian ini adalah perbedaan variabel bebas, dan alat analisis yang digunakan. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang minat penggunaan uang elektronik.
4 2013 Habsari Candraditya yang berjudul, “Analisis
Hasil penelitian terhadap analisis faktor minat mahasiswa untuk menggunakan kartu Flazz BCA tidak hanya sebagai kartu identitas saja, namun juga digunakan sebagai alat pembayaran menunjukkan bahwa minat menggunakan tersebut dipengaruhi secara positif oleh variabel independen yang digunakan dalam penelitian namun tidak semuanya mempengaruhi variabel dependen penelitian secara signifikan.
2.9. Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan, penelitian ini akan meneliti bagaimana pengaruh uang elektronik terhadap tingkat konsumsi mahasiswa dengan faktor pengetahuan produk, kemudahan transaksi dan jumlah transaksi dari uang elektronik yang digunakan.
Gambar 2.1
25
Tingkat penggunaan uang elektronik dapat dipengaruhi oleh pengetahuan produk, kemudahan dalam transaksi dan jumlah transaksi yang dilakukan mahasiswa dalam bertransaksi. Pengetahuan mahasiwa akan uang elektronik dapat dilihat dari bagaimana cara mahasiswa dalam memaksimalkan penggunaan uang elektronik dengan lebih efisien dan praktis. Selanjutnya dengan memiliki pengetahuan yang baik tentang uang elektronik mahasiwa akan mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan barang maupun jasa dengan lebih praktis sehingga akan berdampak pada jumlah transaksi yang dikeluarkan mahasiwa untuk memenuhi konsumsinya sehari hari.
26 BAB III
METODE PENELITIAN