HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Kecepatan Perkecambahan (Indeks Vigor)
Data rataan pengamatan parameter kecepatan perkecambahan terdapat pada Lampiran 10 dan rataan kecepatan perkecambahan setelah ditransformasi terdapat pada Lampiran 11. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 12) menunjukkan bahwa berbagai perlakuan pematahan dormansi memberi pengaruh yang nyata terhadap kecepatan perkecambahan. Rataan kecepatan perkecambahan (indeks vigor) benih pasak bumi (E.longifolia) dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Kecepatan Perkecambahan (Indeks Vigor) Benih Pasak Bumi (E.longifolia) dengan Berbagai Perlakuan Pematahan Dormasi
Perlakuan Rataan P0 0,27 b P1 0,57 a P2 0,06 c P3 0,00 c P4 0,45 ab
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa rataan kecepatan perkecambahan benih tertinggi terdapat pada perlakuan pengampelasan (P1) sebesar 0,57, dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan perendaman dengan KNO3 (P4) tetapi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P0), perlakuan perendaman dengan air (P2) dan perlakuan pengovenan (P3). Sedangkan kecepatan perkecambahan benih terendah terdapat pada perlakuan pengovenan (P3) karena tidak terjadi perkecambahan sehingga nilai yang diperoleh 0,00 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan perendaman dengan air (P2).
5. Laju Perkecambahan (Germination Rate)
Data rataan pengamatan parameter laju perkecambahan terdapat pada Lampiran 13 dan rataan laju perkecambahan setelah ditransformasi terdapat pada Lampiran 14. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 15) menunjukkan bahwa berbagai perlakuan pematahan dormansi memberi pengaruh yang nyata terhadap laju perkecambahan. Rataan laju perkecambahan (rata-rata hari) benih pasak bumi (E. Longifolia) dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Laju Perkecambahan (rata-rata hari) Benih Pasak Bumi (E. Longifolia) dengan Berbagai Perlakuan Pematahan Dormasi
Perlakuan Rataan P0 39,05 a P1 27,53 b P2 23,00 c P3 0,00 d P4 33,01 ab
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan laju perkecambahan benih tercepat terdapat pada perlakuan perendaman dengan air (P2) sebesar 23,00 hari, dimana perlakuan berbeda nyata dengan seluruh perlakuan lainnya Sedangkan laju perkecambahan benih yang terendah terdapat pada perlakuan pengovenan (P3) karena tidak terjadi perkecambahan sehingga nilai yang diperoleh 0,00 hari dan juga berbeda nyata dengan seluruh perlakuan lainnya.
Pembahasan
Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa berbagai perlakuan pematahan dormansi terhadap benih pasak bumi (E. longifolia) memberi pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter yang diamati, yaitu umur berkecambah, persentase perkecambahan, persentase perkecambahan normal, kecepatan perkecambahan dan laju perkecambahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengampelasan dapat lebih meningkatkan perkecambahan benih pasak bumi (E. longifolia) jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Pada perlakuan pengampelasan proses perkecambahan menjadi lebih cepat dan persentase perkecambahan yang diperoleh lebih tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil nilai rataan yang diperoleh pada beberapa parameter pengamatan yang menghasilkan nilai terbaik. Perlakuan pengampelasan menghasilkan umur berkecambah tercepat yaitu 14,00 hari setelah tanam, dan menghasilkan nilai rataan tertinggi pada parameter persentase perkecambahan (66,67 %) dan kecepatan perkecambahan (0,57). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pengampelasan lebih baik jika dibandingkan perlakuan yang lainnya untuk menghasilkan perkecambahan. Dengan perlakuan pengampelasan, kulit biji menjadi semakin tipis yang akan mempermudah masuknya air dan gas sehingga terjadi proses imbibisi dan semakin cepat pula benih dapat menembus kulit biji dalam melakukan proses perkecambahan. Menurut Sutopo (2002), dengan pengikisan menggunakan kertas ampelas luas permukaan kulit yang menjadi tipis lebih luas sehingga air dan udara yang berperan dalam proses perkecambahan menjadi lebih mudah masuk, sehingga terjadi proses imbibisi yang merupakan proses awal dari suatu perkecambahan.
Perlakuan perendaman dengan KNO3 0,9 % selama 15 menit juga menghasilkan nilai rataan yang cukup baik bagi perkecambahan benih, dimana perlakuan perendaman dengan KNO3 ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengampelasan pada seluruh parameter yang diamati, yang dapat terlihat pada Lampiran 18. Dengan demikian perlakuan perendaman dengan KNO3 juga dapat meningkatkan perkecambahan. Hal ini dikarenakan pada perlakuan perendaman dengan KNO3 selain dapat mempercepat melunakkan kulit benih yang keras, KNO3 juga berfungsi sebagai pengganti fungsi suhu dan mempercepat penerimaan oksigen pada benih, sehingga terjadi proses imbibisi dan benih dapat lebih mudah berkembang dan berkecambah. Sutopo (2002), mengatakan bahwa dengan menggunakan bahan kimia untuk memecahkan dormansi pada benih membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah. Ditambahkan oleh Kartasapoetra (2003), bahwa penggunaan zat kimia KNO3
sebagai pengganti fungsi cahaya dan suhu serta untuk mempercepat penerimaan benih akan oksigen.
Tahap awal dari suatu perkecambahan yaitu terjadinya imbibisi, dimana air dan gas masuk ke dalam benih sehingga mengaktifkan enzim-enzim yang akan melakukan perombakan cadangan makanan untuk menghasilkan energi yang akhirnya akan terjadi pembentukan sel-sel baru pada embrio dan diikuti proses difrensiasi sel-sel sehingga terbentuk plumula yang merupakan bakal batang dan daun serta radikula yang merupakan bakal akar. Pada Lampiran 17 dapat terlihat beberapa tahapan setelah benih berkecambah. Dari hasil yang diperoleh pada perkecambahan benih pasak bumi (E. longifolia) terdapat perkecambahan yang normal dan perkecambahan yang tidak normal (abnormal), dimana pada
perkecambahan abnormal tidak terjadi pembentukan tunas dan daun primer yang dapat dilihat pada Lampiran 19. Kartasapoetra (2003), menyatakan bahwa salah satu ciri perkecambahan abnormal adalah gundul tidak terdapat tunas ujung dan tidak ada daun primer. Pada beberapa perlakuan yang diberikan dapat terlihat pada Tabel 3 bahwa perlakuan perendaman dengan KNO3 memiliki nilai tertinggi pada parameter persentase perkecambahan normal jika dibandingkan dengan perlakuan pengampelasan yang memiliki nilai persentase perkecambahan tertinggi. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat pengampelasan kulit biji terjadi pelukaan pada bagian embrio benih terutama bagian titik tumbuh sehingga menghasilkan perkecambahan yang abnormal.
Menurun atau meningkatnya kecepatan perkecambahan berhubungan dengan persentase perkecambahan. Hal ini dikarenakan kecepatan perkecambahan berbanding lurus dengan umur berkecambah dan persentase perkecambahan. Semakin cepat umur berkecambah dan semakin tinggi persentase perkecambahan maka kecepatan perkecambahan juga semakin tinggi, hal ini dapat terlihat dari hasil pengamatan yang diperoleh pada setiap perlakuan. Menurut Sutopo (2002), bahwa ada hubungan antara kecepatan perkecambahan dengan tinggi rendahnya produksi tanam.
Laju perkecambahan tercepat terdapat pada perlakuan perendaman dengan air (23,00 hari), dimana hasil ini cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (39,05 hari). Dari hasil ini dapat terlihat bahwa perlakuan perendaman dengan air selama 24 jam telah mampu mempercepat laju perkecambahan dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Namun pada perlakuan perendaman dengan air ini hasil yang diperoleh pada parameter
pengamatan yang lainnya merupakan nilai yang cukup rendah terutama pada persentase perkecambahan (6,67 %) jika dibandingkan dengan perlakuan lain yang memiliki perkecambahan. Hal ini terjadi karena pada perlakuan perendaman dengan air hanya sedikit benih yang berkecambah, sehingga waktu atau hari yang dibutuhkan oleh benih yang berkecambah juga semakin sedikit atau lebih singkat dari perlakuan lainnya yang memiliki hasil perkecambahan yang lebih banyak. Dengan sedikitnya jumlah benih yang berkecambah dapat diduga bahwa perendaman dengan air selama 24 jam masih kurang optimal untuk melemahkan kulit benih yang impermeabel terhadap air dan gas, sehingga dapat dikatakan bahwa perlakuan perendaman dengan air masih kurang baik untuk meningkatkan perkecambahan benih pasak bumi (E. longifolia).
Perlakuan pengovenan selama 30 menit dengan suhu 120 0C memberikan pengaruh yang buruk terhadap perkecambahan, dimana pada perlakuan pengovenan ini benih tidak ada yang berkecambah. Hal ini diduga karena terlalu lamanya waktu dan tingginya suhu yang digunakan pada saat pengovenan yang menyebabkan rusaknya jaringan-jaringan di dalam benih sehingga menyebabkan kematian pada embrio benih yang menyebabkan benih tidak dapat berkecambah. Menurut Sutopo (2002), suhu adalah salah satu faktor yang berperan dalam proses perkecambahan, tetapi suhu yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terganggunya proses perkecambahan bahkan dapat mengakibatkan kematian dan kecambah tidak normal (abnormal).