4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.9 Fermentabilitas Hasil Samping Produksi Karagenan
4.9.3 Kecernaan Bahan Kering (KCBK) Fermentasi Hasil
Kecernaan bahan kering dan bahan organik merupakan salah satu indikator kualitas pakan dan nilainya menunjukkan porsi nutrien dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen dan ternak (Sutardi 1980). Kadar KCBK fermentasi hasil samping produksi karagenan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Kecernaan Bahan Kering Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe
Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai kecernaan bahan kering hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK pada level 0%, 5%, 10% dan 15% berturut-turut adalah 77,38%; 77,92%; 74,04%; 75,19%. Nilai kecernaan bahan kering dari hasil samping produksi karagenan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan rumput lapang yang hanya berkisar antara 42-49% (Wahyuni 2008) sehingga hasil samping produksi karagenan ini memiliki tingkat kecernaan yang tinggi dan dapat mendukung pertumbuhan optimum mikroba rumen.
Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak
berbeda nyata terhadap konsentrasi KCBK pada tingkat kepercayaan 95%
(Lampiran 7).
4.9.4 Kecernaan Bahan Organik (KCBO) Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi
Kecernaan bahan organik juga merupakan salah satu indikasi porsi nutrien dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Sutardi 1980). Kadar KCBO fermentasi hasil samping produksi karagenan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Kecernaan Bahan Organik Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe
Gambar 6 menunjukkan nilai kecernaan bahan kering bahan dari hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK 0%, 5%, 10% dan 15%
berturut-turut adalah 70,70%; 71,86%; 67,00%; dan 66,44% %. Nilai kecernaan bahan kering dari hasil samping produksi karagenan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan bahan organik rumput lapang yang hanya berkisar antara 39-46% (Wahyuni 2008) sehingga hasil samping produksi karagenan ini memIliki tingkat kecernaan yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan mikroba rumen dan kecukupan nutrien pada ternak ruminan yang mengkonsumsinya. Nilai kecernaan bahan organik sisa pengolahan karagenan
28
semakin menurun dengan semakin meningkatnya pupuk NPK yang ditambahkan pada bahan. Hal ini diduga terkait dengan semakin menurunnya komponen bahan organik yang mudah dicerna akibat telah digunakannya komponen tersebut untuk pertumbuhan ragi tempe selama fermentasi apabila kandungan serat kasar yang sulit dicerna semakin tinggi maka bahan organik yang tercerna akan semakin rendah karena pencernaan serat kasar sangat tergantung pada mikroba rumen (Rahmawati 2001).
Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak
berbeda nyata terhadap konsentrasi KCBO pada tingkat kepercayaan 95%
(Lampiran 8).
5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil samping dari produksi karagenan memiliki kandungan BET-N dan serat kasar yang cukup tinggi yaitu 42,73% dan 19,54% namun memiliki kandungan protein yang rendah. Fermentasi yang dilakukan dengan ragi tempe meningkatkan kandungan protein kasar hingga 16,18% dengan penambahan pupuk NPK 15%.
Konsentrasi NH3 dari hasil samping produksi karagenan yang ditambahkan NPK dan difermentasi dengan ragi tempe berkisar antara 14-21 mM. Konsentrasi VFA dari hasil samping dari produksi karagenan yang telah ditambahkan NPK dan difermentasi dengan ragi tempe berkisar antara 119-177 mM. Nilai kecernaan bahan kering sisa hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK dan difermentasi ragi tempe berkisar antara 74-77%. Nilai kecernaan bahan organik hasil samping dari produksi karagenan yang ditambah NPK dan difermentasi ragi tempe berkisar antara 66-70%. Nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik sisa pengolahan karagenan lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik rumput lapang yang hanya berkisar berturut-turut antara 42-49% dan 39-46% sehingga sisa pengolahan karagenan memiliki tingkat kecernaan yang lebih tinggi.
5.2 Saran
Hasil samping produksi karagenan dapat digunakan sebagai pakan sumber serat pada sapi tanpa pengolahan terlebih dahulu serta disarankan perlu adanya penelitian lebih lanjut secara in vivo guna mengetahui tingkat palatabilitas pada ternak sapi.
30
DAFTAR PUSTAKA
[AOAC] Association of Official Analytical Chemyst. 1995. Official Method of Analysis of The Association of Official Analytical of Chemist.
Arlington, Virginia, USA: Association of Official Analytical Chemist, Inc.
Almatsier. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Anggadireja JA, Zatnika W, Syatmiko SI, Moor. 1993. Tekonologi Produk
Perikanan dalam Industri Farmasi Di dalam: Potensi dan Pemanfaatan Makro Alga laut; Makalah Stadium General Teknologi dan Alternatif Produk Perikanan dalam Industri Farmasi. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Angka SL, Suhartono MT. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari N, Sedarnawati, Budianto S. 1989.
Petunjuk Laboratorium Analisa Pangan. Penelaah: Deddy Muchtadi.
Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor.
Arora. 1995. Pencernaan Mikroba pada Hewan Ruminansia. R. Muwarni ,penerjemah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Atmadja WS, Kadi A, Sulistijo, Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi. Jakarta: LIPI.
Driwanti. 1999. Pengaruh tingkat pemberian pakan, protein pakan dan waktu pemberian suplemen energi terhadap karakteristik cairan rumen domba lokal [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Freer M, Dove. 2002. Sheep Nutrition. Canberra: CABI and CSIRO Publishing.
Glicksman M. 1983. Food Hydrocolloids. Vol. III. Boca Raton, Florida: CRC Press.
Hakim RS. 2002. Evaluasi in vitro respon mikroba rumen ternak ruminansia terhadap penambahan DABA (2,4-diaminobutyric acid) dan lamtoro merah (Acacia villosa) dalam ransum [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Hardjo S, Indrasti NS, Bantacut T. 1989. Biokonversi: Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat pendidikan Tinggi, Bogor: PAU-Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.
Hartadi HS, Reksohadiprodjo, Tillman AD. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan ke-4. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hungate, RE. 1996. The Rumen and Its Microbes. New York: Academic Press.
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2007. Analisa Data Kelautan dan Perikanan.
Jakarta: Kementrian Kelautan dan Perikanan
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Rumput laut dapat diolah menjadi 500 produk. http://www.dkp.go.id/index.php/nd/news/2102/rumput-laut-dapat-diolah-jadi-500-produk [2 Februari 2010]
Lehninger A. 1982. Biochemistry 2nd ed. New York: Work Publ.Inc.
Matjik AA, Sumertajaya M. 2002. Perencanaan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid 1. Bogor: IPB Press
Mc Donald PR, Edward JFD, Greenhalg, Morgan CA. 2002. Animal Nutrition.
Sixth Edition. Gosport: Ashford Colour Press.
National Research Council. 2001. Nutrient Requirements for Dairy Cattle.
Washington DC: Natl. Acad. Sci.
Orskov ER. 2001. The Feeding of Ruminants Principles and Practise. Second edition. United kingdom: Chalcombe Publication.
Pradhan K. 1994. Rumen ecosystem in relation to cattle and buffalo nutrition. In:
Wanapat, M. and K. Somniart (Editor). Proc. First Asian Buffalo Association Congress
Preston TR, Leng RA. 1987. Matching Ruminant Production System with Available Resource in The Tropic. Armidale: Penambul Books.
Rahmawati IGAWD. 2001. Evaluasi in vitro kombinasi lamtoro merah (Acacia villosa) dan gamal (Gliricidia maculata) untuk meningkatkan kualitas pakan pada ternak domba [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Rahman A. 1992. Pengantar Teknologi Fermentasi. Bogor: PAU Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor.
Rokhmani SIW. 2005. Peningkatan Gizi Bahan Pakan dari Limbah Pertanian Melalui Fermentasi. Di dalam: Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci; Bogor: Balai Penelitian Ternak. Hlm 66-74.
Selly. 1994. Peningkatan kualitas pakan serat bermutu rendah dengan amoniasi dan inokulan digesta rumen [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Suhartono MT. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Bogor: PAU Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor.
32
Silalahi RE. 2003. Uji fermentabilitas dan kecernaan in vitro suplemen Zn anorganik dan Zn organik dalam ransum ruminansia [skripsi]. Bogor:
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Sutardi T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh mikroba rumen dan manfaaatnya bagi peningkatan produktivitas ternak.
Di dalam: Proceeding Seminar dan Penunjang Peternakan. Bogor:
Lembaga Penelitian Peternakan.
Sutardi T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Tilley JMA dan RA Terry. 1963. A two stage technique for the in-vitro digestion of forage crops. J. British Grassland Soc. 18: 104-111.
Uju. 2005. Kajian proses pemurnian dan pengkonsentrasian karagenan dengan membran mikrofiltrasi [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Ulya A. 2007. Kajian in vitro mikroba rumen berbagai ternak ruminansia dalam proses fermentasi bungkil biji jarak pagar (Jatropa curcas L. ) [skripsi].
Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Umiyasih dan Anggraeny. 2007. Petunjuk Teknis Ransum Seimbang, Strategi Pakan Pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor:
Departemen Pertanian.
[University of Wisconsin]. 1966. General Laboratory Procedure. Madison:
Departmen of Animal Sci. University of Wisconsin.
Wahyuni SD. 2008. Fermentabilitas dan degradabilitas in vitro serta produksi biomassa mikroba ransum komplit kombinasi rumput lapang, konsentrat dan suplemen kaya nutrient [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
34
Lampiran 1. Foto Hasil Fermentasi Hasil Samping Produksi Karagenan yang Ditambah NPK dan Ragi Tempe pada Hari ke 1
NPK 0 % NPK 10%
NPK 5% NPK 15%
Lampiran 2. Foto Alat Pengukuran Kadar VFA Cairan Fermentasi
Lampiran 3. Foto Tabung Fermentor dalam water bath untuk Pengukuran KCBK/KCBO Hasil Fermentasi
36
Lampiran 4. Foto Hasil Fermentasi Hasil Samping Produksi Karagenan yang Ditambah NPK dan Ragi Tempe setelah 21 hari
NPK 0% NPK 5 % NPK 10%
NPK 15 %
Lampiran 5 Hasil Uji Statistik NH3
ANOVA NH3
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Nilai Tengah
Kuadrat F hitung
F tabel (0,05)
Perlakuan 363,915 3 121,305 2,697 4,07
Galat/error 359,810 8 44,976
Total 723,725 11
38
Lampiran 6. Hasil Uji Statistik Analisis VFA
ANOVA
VFA
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Nilai Tengah
Kuadrat F hitung
F tabel (0,05)
Perlakuan 4803,321 3 1601,107 0,306 4,07
Galat/error 41833,061 8 5229,133
Total 46636,38 11
Lampiran 7 Hasil Uji Statistik KCBK
ANOVA KCBK
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Nilai Tengah
Kuadrat F hitung
F tabel (0,05)
Perlakuan 30,080 3 10,027 0,362 4,07
Galat/error 221,799 8 27,725
Total 251,879 11
40
Lampiran 8 Hasil Uji Statistik KCBO
ANOVA KCBO
Jumlah Kuadrat
Derajat Bebas
Nilai Tengah
Kuadrat F hitung
F tabel (0,05)
Perlakuan 64,758 3 21,586 0,479 4,07
Galat/error 360,240 8 45,030
Total 424,998 11