• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODOLOGI

3.3 Metode Penelitian

3.3.3 Pengukuran Kecernaan Fermentatif

Kecernaan in vitro dilakukan dengan metode Tilley dan Terry (1963).

Sebanyak 1 g sampel perlakuan, 40 ml larutan McDougall dan 10 ml cairan rumen dimasukkan kedalam tabung fermentor sambil dialiri gas CO2 selama 30 detik dan ditutup dengan menggunakan karet berventilasi. Tabung fermentor tersebut dimasukkan ke dalam water bath shaker dengan suhu 39oC dan diinkubasi selama 48 jam. Setelah 48 jam waktu inkubasi, tabung fermentor diambil dan ditambahkan 0,2 ml HgCl2 untuk mematikan mikroba rumen sehingga proses fermentasi terhenti. Campuran dalam tabung fermentor disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit dan supernatan yang dihasilkan digunakan untuk analisa VFA dan NH3.

3.3.4 Analisis Konsentrasi Amonia

Analisis amonia dilakukan dengan metode mikrodifusi cawan conway (University of Wisconsin 1966). Bibir cawan conway dan tutupnya diolesi dengan vaselin. Sebanyak 1 ml supernatan ditempatkan pada salah satu sisi sekat cawan dan sisi yang lain ditempatkan 1ml larutan Na2CO3.jenuh (kedua bahan tidak boleh bercampur sebelum tutup cawan ditutup rapat). Sebanyak 1 ml asam borat berindikator merah metil dan hijau bromo kresol pada pH 5,5 dipipet dan dimasukkan ke cawan kecil yang terletak di tengah cawan conway. Cawan conway ditutup rapat dengan permukaan (tutup) cawan, kemudian digerakkan hingga supernatan dan Na2CO3 jenuh tercampur rata dan dibiarkan selama 24 jam

16

pada suhu kamar. Setelah 24 jam, tutup cawan dibuka, asam borat berindikator dititrasi dengan H2SO4 0,005 N sampai warnanya berubah dari biru menjadi kemerah-merahan.

Konsentrasi amonia dapat dihitung dengan rumus :

Konsentrasi amonia (mM) = ml H2SO4 x N H2SO4 x 1000 Berat ransum x % BK Ransum

3.3.5 Konsentrasi Volatile Fatty Acids (VFA)

Analisis VFA dilakukan dengan teknik destilasi uap (steam destilation) (University of Wisconsin 1966). Rangkaian alat pengujian konsentrasi VFA dapat dilihat pada Lampiran 2. Sebanyak 5 ml supernatan dimasukkan ke dalam tabung destilasi, lalu ditambahkan 1 ml H2SO4 15% dan tabung segera ditutup. Proses destilasi dilakukan dengan cara menghubungkan tabung dengan labu yang berisi air mendidih. Uap air panas akan mendesak VFA dan akan terkondensasi di dalam pendingin. Destilat ditampung di dalam labu erlenmeyer yang berisi 5 ml NaOH Keterangan : a= volume titran blanko (ml)

b= volume titran sampel (ml) 3.3.6 Analisis Kandungan KCBK dan KCBO

Endapan yang diperoleh dari tahapan pencernaan fermentatif, selanjutnya ditambah dengan 50 ml larutan pepsin HCl 0,2%. Inkubasi dilanjutkan hingga 48 jam pada suhu air water bath 39OC. Setelah selesai masa inkubasi, sisa pencernaan disaring menggunakan kertas saring Whatman No. 41 dengan dibantu menggunakan pompa vakum. Kertas saring sebelumnya telah diketahui kadar airnya. Hasil saringan dimasukkan ke dalam cawan porselin dan dikeringkan di dalam oven 105oC selama 24 jam untuk mengetahui bahan kering residu dan

diabukan dalam tanur 600oC selama 6 jam untuk menghitung bahan organiknya.

Gambar alat pengujian KCBK dan KCBO dapat dilihat pada Lampiran 3.

Kecernaan bahan kering (KCBK) dan bahan organik (KCBO) dapat

Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dengan berbagai taraf konsentrasi ( 0%, 5%, 10%, 15%). Variabel yang diamati adalah konsentrasi amonia (NH3), konsentrasi VFA, kecernaan bahan kering serta kecernaan bahan organik. Data dari pengujian fermentabilitas hasil samping produksi karagenan dalam cairan rumen sapi dianalisis secara statistik dengan analisis sidik ragam (ANOVA). Model linear untuk rancangan acak lengkap yang digunakan adalah sebagai berikut (Matjik dan Sumertajaya 2002):

Yij = µ + τi + εij

τi = pengaruh faktor penambahan pupuk NPK pada taraf i

εij = galat percobaan karena faktor penambahan NPK pada taraf ke i dan ulangan ke j

.

18

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Komposisi Nutrien Hasil Samping Produksi Karagenan

Komposisi nutrien hasil samping produksi karagenan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Komposisi nutrien menunjukkan bahwa bahan tersebut mengandung nutrien yang berkualitas baik untuk ternak ruminansia dan setara dengan rumput-rumputan bahkan ditinjau dari segi kadar seratnya lebih baik dari rumput lapang bahkan rumput gajah yang umum digunakan untuk ternak sapi dan domba.

Hasil samping produksi karagenan mengandung lemak dan protein yang rendah. Namun lemak yang masih tersisa dalam bahan tersebut dapat menyumbangkan komponen lemak esensial yang biasanya tinggi pada produk perikanan dan laut lainnya. Hasil samping produksi karagenan mengandung bahan ektrak tanpa nitrogen (BET-N) yang tinggi yang merupakan karbohidrat non struktural dan mudah difermentasi dalam rumen dan mudah dicerna dalam usus halus. Kadar abu yang tinggi pada bahan tersebut diperkirakan dapat menyumbangkan mineral esensial untuk ternak. Komposisi nutrien bahan menunjukkan bahwa bahan tersebut layak digunakan sebagai pakan ruminansia.

Tabel 2 Komposisi Nutrien Hasil Samping Produksi Karagenan

No Komposisi Kimia Kadar % Bahan Segar Kadar % Bahan Kering

1. Air 11,59 0

Keterangan: BET-N = bahan ektraks tanpa nitrogen.

4.2 Komposisi Nutrien Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi

Komposisi nutrien hasil fermentasi hasil samping produksi karagenan dengan menggunakan campuran ragi tempe ditunjukkan dalam Tabel 3.

Fermentasi bahan hingga 21 hari mengubah kadar komponen nutrien dan penampakan fisik bahan tersebut (Lampiran 4). Hasil menunjukkan bahwa pengayaan nitrogen dan fosfor melalui penambahan pupuk NPK dan fermentasi meningkatkan kadar abu dan protein tapi menurunkan kadar serat bahan hasil fermentasi.

Tabel 3 Komposisi Nutrien Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi

Peningkatan protein diduga karena penambahan unsur nitrogen kedalam bahan. Namun dalam hal ini tidak dapat dipastikan berapa bagian dari nitrogen tersebut yang dikonversi menjadi protein murni sebagai produk atau bagian sel ragi. Informasi penurunan kadar serat kasar bahan yang diuji menggambarkan bahwa ragi tempe tumbuh dan mampu mencerna komponen serat bahan. Hal ini sejalan dengan penurunan kadar serat .

20

4.3 Bahan Kering Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Pengaruh penambahan NPK terhadap kadar bahan kering hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3.

Penurunan kadar bahan kering hasil fermentasi sejalan dengan penambahan pupuk NPK. Semakin tinggi jumlah pupuk NPK yang ditambahkan kadar bahan kering hasil samping produksi karagenan semakin turun.

Peningkatan kadar air atau penurunan kadar bahan kering dapat disebabkan karena kapang memanfaatkan bahan organik untuk keperluan pertumbuhan dan pembentukan massa sel kapang yang pada akhirnya menghasilkan karbondioksida, air, dan energi. Air yang dihasilkan akan menguap, dan sisanya akan tertinggal di dalam biomassa, didukung oleh kadar air yang terkandung di dalam sel kapang itu sendiri sebesar 80% (Suhartono 1989).

Sehingga semakin besar penambahan NPK, biomassa yang dihasilkan akan semakin menyusut dan kadar air yang dihasilkan akan semakin besar.

4.4 Perubahan Kadar Abu Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Hasil penelitian pengaruh penambahan NPK terhadap kadar abu hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3.

Peningkatan kadar abu terjadi sejalan dengan penambahan NPK. Kenaikan abu atau bahan inorganik diperkirakan terkait dengan penggunaan bahan organik oleh ragi tempe selama fermentasi sehingga kadar abu relatif menjadi meningkat terhadap total bahan kering.

Kadar abu dari hasil samping produksi karagenan tanpa perlakuan fermentasi (22,17%), lebih rendah dari kadar abu hasil samping produksi karagenan yang meningkat dengan semakin bertambahnya konsentrasi NPK. Hal ini karena semakin bertambahnya konsentrasi NPK, maka semakin banyak sisa NPK yang tidak dimanfaatkan kapang. Kadar abu dari rumput gajah umur 45-56 hari adalah 15,4% ( Hartadi et al. 1997).

4.5 Kadar Protein Kasar Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Hasil penelitian pengaruh penambahan NPK terhadap kadar protein kasar hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3. Terdapat peningkatan kadar protein kasar akibat penambahan NPK.

Kadar protein kasar dengan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10%, 15%, berturut-turut adalah 4,4%; 8,4%; 12,22%; 16,18%. Bila dibandingkan dengan kandungan protein kasar rumput gajah umur 45-56 hari yang hanya sebesar 9,1%

(Hartadi et al. 1997), kadar protein dari sisa pengolahan setelah fermentasi lebih tinggi. Kadar protein kasar tertinggi dimiliki oleh hasil samping produksi karagenan dengan perlakuan penambahan NPK sebesar 15% yaitu sebesar 16,18%. Hal ini jauh berbeda dengan kandungan protein kasar tanpa perlakuan fermentasi yaitu sebesar 0,88%. Kebutuhan nutrisi protein kasar yang diperlukan oleh sapi perah dengan bobot badan 454 kg pada tahap awal laktasi 15 kg susu adalah 16,6% (NRC 2001).

Peningkatan kadar protein kasar hasil samping produksi karagenan sejalan dengan semakin besarnya konsentrasi NPK, karena sisa N dalam NPK yang tidak digunakan oleh kapang terukur dengan menggunakan metode kjeldahl. Disamping itu diduga karena biomassa sumber protein seperti sel mikroba yang dihasilkan semakin banyak. Kenaikan kadar protein kasar diakibatkan karena adanya penambahan protein yang disumbangkan oleh tubuh mikroba itu sendiri akibat pertumbuhannya. Wang et al. (1979) diacu dalam Hardjo et al. (1989) menyatakan bahwa selama proses fermentasi berlangsung, kadar protein media mengalami peningkatan. Peningkatan ini disebabkan karena adanya kenaikan jumlah massa sel kapang. Peningkatan kadar protein sejalan dengan menurunnya kadar pati dari sisa pengolahan. Hal ini menggambarkan kemampuan mikroba memanfaatkan sumber pati untuk sintesa protein cukup tinggi. Besarnya pemanfaatan sumber pati bagi sintesa protein dipengaruhi oleh proses yang berlangsung dalam fermentasi, kondisi pertumbuhan dan jenis mikroba serta jenis substrat.

22

4.6 Kadar Serat Kasar Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Hasil penelitian pengaruh penambahan NPK terhadap kadar serat kasar hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3 yang menunjukkan adanya penurunan kadar serat kasar akibat penambahan NPK serta memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan kandungan serat kasar sisa pengolahan rumput laut tanpa fermentasi yaitu sebesar 19,54%.

Kadar serat kasar dengan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10%, 15%, berturut-turut adalah 18,26%; 9,89%; 9,24%; 2,33%. Penurunan kadar serat kasar terjadi karena serat dari hasil samping produksi karagenan telah dicerna oleh kapang untuk pertumbuhannya. Ragi tempe merupakan inolulum campuran yang terdiri dari beberapa mikroba terutama kapang antara lain dari genus Rhizopus dan spesies yang sering ditemukan adalah R. oryzae, R. oligosporus, R. arrhizus (Rahman 1992). Menurut Rokhmani (2005) kapang spesies Rhizopus oryzae menghasilkan enzim selulase yang dapat mencerna selulosa. Semakin besar konsentrasi NPK yang ditambahkan pada kapang untuk proses fermentasi akan memberikan pengaruh positif terhadap unsur hara untuk pertumbuhan kapang.

Bila dibandingkan dengan rumput lapang yang memiliki kadar serat kasar sebesar

24,28 % ( NRC 2001),dan rumput gajah umur 45-56 hari sebesar 33,1%

( Hartadi et al. 1997) kandungan serat kasar dari produk fermentasi hasil samping produksi karagenan tergolong lebih rendah.

4.7 Kadar Lemak Kasar Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Hasil penelitian pengaruh penambahan NPK terhadap kadar lemak kasar hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3 yang menunjukkan adanya penurunan kadar lemak kasar akibat penambahan NPK dan lebih kecil dari kandungan lemak kasar tanpa perlakuan fermentasi yaitu sebesar 3,09%. Kadar lemak kasar dengan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10%, 15%, berturut-turut adalah 0,19%; 0,15%; 0,13%, 0,09%. Penurunan ini terjadi karena lemak kasar dari hasil samping produksi karagenan telah dicerna oleh kapang untuk pertumbuhannya. Semakin besar konsentrasi NPK yang ditambahkan pada media pertumbuhan kapang, semakin banyak nutrien yang

digunakan untuk proses fermentasi. Kadar lemak kasar hasil fermentasi hasil samping produksi karagenan sangat rendah dan dalam pencampuran sisa pengolahan karagenan dengan bahan lain sebagai pakan ternak, memerlukan sumber lemak lain sebagai suplemen lemak untuk ternak yang bersangkutan.

Kadar lemak kasar yang dimiliki oleh rumput gajah menurut Hartadi et al. (1997) adalah sebesar 2,24%.

4.8 Kadar BET-N Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Hasil penelitian pengaruh penambahan NPK terhadap kadar BET-N hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi hari ke-21 disajikan pada Tabel 3 yang menunjukkan adanya penurunan kadar BET-N akibat penambahan NPK.

Kadar BET-N dengan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10%, 15%, berturut-turut adalah 49,15%; 48,2%; 37,46%; 37,25% . Kandungan BET-N rumput gajah adalah 40,0% (Hartadi et al. 1997). Hal ini menggambarkan bahwa ragi tempe cukup efektif memanfaatkan komponen BET-N untuk pertumbuhannya.

4.9 Fermentabilitas in vitro Hasil Samping Produksi Karagenan

Fermentabilitas in vitro hasil samping produksi karagenan setelah fermentasi dalam rumen sapi diukur dengan beberapa pengujian yaitu pengukuran konsentrasi amonia, konsentrasi VFA, KCBK dan KCBO.

4.9.1 Degradasi Nitrogen Hasil Samping Produksi Karagenan dalam Rumen Amonia dihasilkan dan digunakan oleh mikroba rumen terutama bakteri untuk mensintesis protein selnya. Amonia dihasilkan dari protein yang terdegradasi oleh enzim proteolitik. Enzim preteolitik dihasilkan oleh bakteri menjadi peptida dan asam-asam amino. Selanjutnya asam-asam amino mengalami deaminasi dan manghasilkan amonia. Amonia merupakan sumber nitrogen yang utama dan penting untuk sintesis protein mikroba. Sekitar 82% spesies mikroba mampu menggunakan amonia sebagai sumber nitrogen (Sutardi 1980). Kadar NH3 hasil samping produksi karagenan fermentasi dapat dilihat pada Gambar 3.

24

Gambar 3 Konsentrasi Amonia Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe

Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa kandungan NH3 hasil samping produksi karagenan dengan perlakuan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10%, 15%, berturut-turut adalah 16,38 mM; 14,91 mM; 21,27 mM; 29,02 mM.

Peningkatan konsentrasi amonia terjadi akibat adanya peningkatan konsentrasi NPK sehingga kandungan nitrogen yang semakin tinggi akan memacu degradasi unsur nitrogen tersebut. Mikroba rumen cenderung merombak protein untuk menjamin ketersediaan NH3 dan menghasilkan NH3, CO2 dan VFA. Konsentrasi amonia yang optimum untuk menunjang sintesis protein mikroba dalam cairan rumen sangat bervariasi, berkisar antara 6-21 mM (McDonald et al. 2002).

Penggunaan hasil samping produksi karagenan dapat menunjang kondisi ketersedian NH3 dalam rumen yang optimum untuk mendukung pertumbuhan mikroba. sehingga masih sangat sesuai dengan kebutuhan sapi. Konsentrasi amonia tertinggi dihasilkan oleh sisa pengolahan dengan penambahan pupuk NPK 15% yaitu sebesar 29,02 mM dan konsentrasi terendah adalah sisa pengolahan dengan penambahan NPK 5% yaitu sebesar 14,91 mM.

Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak

berbeda nyata terhadap konsentrasi NH3 pada tingkat kepercayaan 95%

(Lampiran 5).

4.9.2 Konsentrasi VFA (Volatile Fatty Acids) Fermentasi Hasil Samping Produksi Karagenan

Proses degradasi karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap yaitu pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana dan pemecahan gula sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4

(McDonald et.al 2002). VFA merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat dan merupakan sumber energi utama ruminansia asal rumen (Hungate 1996).

Konsentrasi VFA fermentasi hasil samping produksi karagenan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Konsentrasi VFA Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe

Gambar 4 menunjukkan bahwa konsentrasi VFA dari hasil samping produksi karagenan dengan perlakuan konsentrasi NPK 0%, 5%, 10% dan 15%

berturut-turut adalah 150,94 mM; 177,03 mM; 119,35 mM dan 128,04 mM.

Konsentrasi VFA tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi (McDonal et al. 2002), sedangkan konsentrasi VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal pertumbuhan mikroba rumen yaitu 80-160 mM (Sutardi 1979). Konsentrasi VFA yang tinggi pada penelitian ini disebabkan oleh tidak adanya pengeluaran VFA melalui penyerapan dalam sistem in vitro dan VFA hanya dimanfaatkan oleh mikroba cairan rumen (Silalahi 2003).

26

Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak

berbeda nyata terhadap konsentrasi VFA pada tingkat kepercayaan 95%

(Lampiran 6).

4.9.3 Kecernaan Bahan Kering (KCBK) Fermentasi Hasil Samping Produksi Karagenan

Kecernaan bahan kering dan bahan organik merupakan salah satu indikator kualitas pakan dan nilainya menunjukkan porsi nutrien dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen dan ternak (Sutardi 1980). Kadar KCBK fermentasi hasil samping produksi karagenan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Kecernaan Bahan Kering Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe

Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai kecernaan bahan kering hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK pada level 0%, 5%, 10% dan 15% berturut-turut adalah 77,38%; 77,92%; 74,04%; 75,19%. Nilai kecernaan bahan kering dari hasil samping produksi karagenan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan rumput lapang yang hanya berkisar antara 42-49% (Wahyuni 2008) sehingga hasil samping produksi karagenan ini memiliki tingkat kecernaan yang tinggi dan dapat mendukung pertumbuhan optimum mikroba rumen.

Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak

berbeda nyata terhadap konsentrasi KCBK pada tingkat kepercayaan 95%

(Lampiran 7).

4.9.4 Kecernaan Bahan Organik (KCBO) Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Penambahan NPK dan Fermentasi

Kecernaan bahan organik juga merupakan salah satu indikasi porsi nutrien dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Sutardi 1980). Kadar KCBO fermentasi hasil samping produksi karagenan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Kecernaan Bahan Organik Hasil Samping Produksi Karagenan Setelah Fermentasi dengan Ragi Tempe

Gambar 6 menunjukkan nilai kecernaan bahan kering bahan dari hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK 0%, 5%, 10% dan 15%

berturut-turut adalah 70,70%; 71,86%; 67,00%; dan 66,44% %. Nilai kecernaan bahan kering dari hasil samping produksi karagenan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan bahan organik rumput lapang yang hanya berkisar antara 39-46% (Wahyuni 2008) sehingga hasil samping produksi karagenan ini memIliki tingkat kecernaan yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan mikroba rumen dan kecukupan nutrien pada ternak ruminan yang mengkonsumsinya. Nilai kecernaan bahan organik sisa pengolahan karagenan

28

semakin menurun dengan semakin meningkatnya pupuk NPK yang ditambahkan pada bahan. Hal ini diduga terkait dengan semakin menurunnya komponen bahan organik yang mudah dicerna akibat telah digunakannya komponen tersebut untuk pertumbuhan ragi tempe selama fermentasi apabila kandungan serat kasar yang sulit dicerna semakin tinggi maka bahan organik yang tercerna akan semakin rendah karena pencernaan serat kasar sangat tergantung pada mikroba rumen (Rahmawati 2001).

Hasil uji ragam (ANOVA α= 0,05) dengan rancangan acak lengkap menunjukkan bahwa penambahan pupuk NPK memberikan pengaruh tidak

berbeda nyata terhadap konsentrasi KCBO pada tingkat kepercayaan 95%

(Lampiran 8).

5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hasil samping dari produksi karagenan memiliki kandungan BET-N dan serat kasar yang cukup tinggi yaitu 42,73% dan 19,54% namun memiliki kandungan protein yang rendah. Fermentasi yang dilakukan dengan ragi tempe meningkatkan kandungan protein kasar hingga 16,18% dengan penambahan pupuk NPK 15%.

Konsentrasi NH3 dari hasil samping produksi karagenan yang ditambahkan NPK dan difermentasi dengan ragi tempe berkisar antara 14-21 mM. Konsentrasi VFA dari hasil samping dari produksi karagenan yang telah ditambahkan NPK dan difermentasi dengan ragi tempe berkisar antara 119-177 mM. Nilai kecernaan bahan kering sisa hasil samping produksi karagenan yang ditambah NPK dan difermentasi ragi tempe berkisar antara 74-77%. Nilai kecernaan bahan organik hasil samping dari produksi karagenan yang ditambah NPK dan difermentasi ragi tempe berkisar antara 66-70%. Nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik sisa pengolahan karagenan lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik rumput lapang yang hanya berkisar berturut-turut antara 42-49% dan 39-46% sehingga sisa pengolahan karagenan memiliki tingkat kecernaan yang lebih tinggi.

5.2 Saran

Hasil samping produksi karagenan dapat digunakan sebagai pakan sumber serat pada sapi tanpa pengolahan terlebih dahulu serta disarankan perlu adanya penelitian lebih lanjut secara in vivo guna mengetahui tingkat palatabilitas pada ternak sapi.

30

DAFTAR PUSTAKA

[AOAC] Association of Official Analytical Chemyst. 1995. Official Method of Analysis of The Association of Official Analytical of Chemist.

Arlington, Virginia, USA: Association of Official Analytical Chemist, Inc.

Almatsier. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Anggadireja JA, Zatnika W, Syatmiko SI, Moor. 1993. Tekonologi Produk

Perikanan dalam Industri Farmasi Di dalam: Potensi dan Pemanfaatan Makro Alga laut; Makalah Stadium General Teknologi dan Alternatif Produk Perikanan dalam Industri Farmasi. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Angka SL, Suhartono MT. 2000. Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari N, Sedarnawati, Budianto S. 1989.

Petunjuk Laboratorium Analisa Pangan. Penelaah: Deddy Muchtadi.

Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor.

Arora. 1995. Pencernaan Mikroba pada Hewan Ruminansia. R. Muwarni ,penerjemah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Atmadja WS, Kadi A, Sulistijo, Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi. Jakarta: LIPI.

Driwanti. 1999. Pengaruh tingkat pemberian pakan, protein pakan dan waktu pemberian suplemen energi terhadap karakteristik cairan rumen domba lokal [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Freer M, Dove. 2002. Sheep Nutrition. Canberra: CABI and CSIRO Publishing.

Glicksman M. 1983. Food Hydrocolloids. Vol. III. Boca Raton, Florida: CRC Press.

Hakim RS. 2002. Evaluasi in vitro respon mikroba rumen ternak ruminansia terhadap penambahan DABA (2,4-diaminobutyric acid) dan lamtoro merah (Acacia villosa) dalam ransum [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Hardjo S, Indrasti NS, Bantacut T. 1989. Biokonversi: Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat pendidikan Tinggi, Bogor: PAU-Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Hartadi HS, Reksohadiprodjo, Tillman AD. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Cetakan ke-4. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hungate, RE. 1996. The Rumen and Its Microbes. New York: Academic Press.

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2007. Analisa Data Kelautan dan Perikanan.

Jakarta: Kementrian Kelautan dan Perikanan

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Rumput laut dapat diolah menjadi 500 produk. http://www.dkp.go.id/index.php/nd/news/2102/rumput-laut-dapat-diolah-jadi-500-produk [2 Februari 2010]

Lehninger A. 1982. Biochemistry 2nd ed. New York: Work Publ.Inc.

Matjik AA, Sumertajaya M. 2002. Perencanaan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid 1. Bogor: IPB Press

Mc Donald PR, Edward JFD, Greenhalg, Morgan CA. 2002. Animal Nutrition.

Sixth Edition. Gosport: Ashford Colour Press.

National Research Council. 2001. Nutrient Requirements for Dairy Cattle.

National Research Council. 2001. Nutrient Requirements for Dairy Cattle.

Dokumen terkait