• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedaulatan Allah dalam Karya Penyelamatan-Nya

Sumber : Sovereignity of God (Kedaulatan Allah) Penulis Arthur W. Pink

(Lanjutan tgl 18 April 2021)

Telah disebutkan di atas bahwa yang dipilih oleh Allah adalah “apa yang lemah bagi dunia, apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia.” Tetapi mengapa? Untuk menyatakan sekaligus memulai anugerah-Nya. Jalan Allah dan rancangan-Nya sama sekali bertentangan dengan jalan dan rancangan manusia. Akal budi manusia yang kedagingan beranggapan

bahwa penyeleksian itu seharusnya dimulai dari tingkat orang-orang kaya dan berpengaruh, orang-orang berani menyenangkan dan berbudaya; sehingga Kekristenan akan dapat pujian serta penghormatan karena memiliki berbagai kehebatan dan kemudian kedagingan ini. Namun, kenyataannya tidak demikian, “apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk. 16:15). Allah memilih “yang tidak terpandang.” Dia juga bertindak demikian pada zaman Perjanjian Lama. Bangsa yang dipilih-Nya untuk memelihara firman-Nya yang kudus dan menjadi sarana bagi kedatangan Sang Benih yang dijanjikan itu, bukanlah banget Mesir kuno, bangsa Babel yang hebat, ataupun bangsa Yunani yang memiliki kebudayaan dan perasaan yang tinggi. Bukan; banget yang memperoleh limpahan kasih Allah dan dijagai-Nya bagai “biji mata-Nya” itu justru adalah banget Yahudi yang hina. Demikian jugalah yang terjadi ketika Tuhan berdiam di antara manusia. Orang-orang yang dipanggil-Nya untuk menikmati suatu hubungan yang istimewa dengan-Nya dan menjadi utusan- utusan-Nya itu sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, yang tentu saja “ tidak terpelajar.” Demekianlah yang terjadi sejak saat itu. Dan tujuan pemilihan Allah ini, alasan mendasar dari penyeleksian yang dilakukan-Nya ini, adalah “supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” Tak ada satu hal pun di dalam diri umat

pilihan-Nya itu yang dapat menjadikan mereka layak untuk memperoleh perkenan-Nya, sebagai pujian hendak dipersembahkan bagi kekayaan kasih karunia-Nya semata.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Krisis yang dalam Kristus telah mengaruniakan lepas kita segala berkah rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercanda dihadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semua oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuatu dengan kereta kehendak-Nya…. Di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semua ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Ef. 1:3-5,11). Di sini, kita kembali diingat bahwa pada suatu waktu – bila istilah waktu dianggap layak dipakai – Allah telah memilih sejumlah orang untuk diangkat-Nya sebagai anak melalui Yesus Kristus. Bukan setelah Adam jatuh ke dalam dosa yang karena menjadikan seluruh umat manusia turut jatuh (bersamanya) ke dalam dosa dan kebinasaan, melainkan hati sebelum Adam dapat melihat terang, bahkan jauh sebelum dunia ini dijadikan, Allah telah memilih kita di dalam Kristus. Di sini, kita juga belajar tentang tujuan yang telah direncanakan Allah dari semua bagi keberadaan

umat pilihan-Nya, yakni agar mereka ini “kudus dan bercanda dihadapan-Nya”; “diangkat sebagai anak”; “menerima warisan.” Di sini pula, kita menemukan yang mendasari tindakan-Nya. “Dalam kasih Ia telah menentukan (mempredestinasikan) kita dari semua oleh Yesus Krisna untuk menjadi anak-anak-Nya” – sebuah pernyataan yang menyangkali berbagai tuduhan kek yang sering kali dilontarkan, yang menyatakan bahwa bila Allah menentukan maksud kekal-Nya bagi setiap makhluk ciptaan-Nya sebelum mereka dilahirkan, maka itu semata-mata merupakan suatu bentuk ketidakadilan dan sewenang-wenangan. Akhirnya, di sini kita diingat bahwa dalam melakukan semua ini pun Dia tidak membutuhkan nasehat dari siapa pun, melainkan bahwa kita “ditentukan dari semua sesuatu dengan kereta kehendak-Nya” semata. “Akan tetapi kami harus selalu mengucapkan syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memiliki kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai” (2Tes. 2: 13). Ada tiga hal di sini yang perlu diperhatikan secara istimewa. Pertama, fakta bahwa kita secara jelas diberi tahu bahwa umat pilihan Allah itu “di pilih untuk diselamatkan.” Keterbatasan bahwa tidak memungkinkan adanya suatu penjelasan yang lebih gambarnya daripada itu. Betapa mudahnya

ungkapan tersebut mengabaikan segala bentuk penyimpangan dan dalih dari pihak-pihak yang menjadikan pemilihan hanya sebagai suatu status atau keistimewaan eksternal dalam pelayanan! Demi tujuan “keselamatan” itu sendiri Allah telah memilih kita. Kedua, di sini kita diingat bahwa pemilihan demi tujuan keselamatan itu sama sekali tidak mengabaikan penggunaan sarana yang tepat: keselamatan diwujudkan melalui suatu “karya penyucian Roh Kudus dan iman di dalam kebenaran.” Tidak benar bila dikatakan bahwa karena Allah telah memilih seseorang untuk diselamatkan, maka orang ini akan diselamatkan tanpa menghiraukan apakah ia orang percaya atau tidak; tak satu pun bahagia Kitab Suci yang menyatakan demikian. Allah yang menentukan kesusahan manusia adalah Allah yang juga telah menetapkan sarananya. Allah yang tidak melakukan “pemilihan demi keselamatan itu,” adalah Allah yang juga menetapkan bahwa rencana-Nya tersebut akan diwujudkan melalui karya penyucian Roh Kudus dan iman kepada kebenaran. Ketiga, Allah memilih kita untuk tujuan keselamatan, agar kita kemudian memiliki alasan yang kuat untuk menaikkan pujian dan ucapan syukur yang melimpah. Perhatikan betapa kuatnya penekanan Rasul Paulus saat menyatakan hal ini, “ Akan tetapi kami harus selalu mengucapkan syukur kepada Allah kepada kamu, saudara-saudara, yang dikasihi oleh Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu

untuk diselamatkan.” Dsb. Bukannya merasa takut terhadap doktrin predestinasi, ketika melihat kebenaran agung ini, sebagaimana minyak dalam firman Allah, orang percaya justru memiliki alasan untuk bersyukur dan berterima kasih, oleh karena memperoleh karunia yang tak ternilai itu dari Sang Penebus sendiri.

Mengapa pohon jarak

Dokumen terkait