HASIL PENELITAN
B. Kedududkan Wali Fasik dalam Hukum Islam dan Hukum Positif
1. Kedudukan Wali Fasik dalam Perpektif Fikih
Suatu perkawinan dianggap sah atau mempunyai kekuatan hukum jika pelaksanaan perkawinan itu dilakukan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan oleh sang pembuat hukum yaitu Allah swt dan Rasulnya. Ketentuan-ketentuan
perkawinan dalam hukum Islam sudah diatur dalam al Qur’an dan Hadis. Namun demikian ayat-ayat al Qur’an ada yang Qath’i al-dilallah penunjukan lafz makna yang sudah pasti dan ada yang dzanni al-dilalah penunjukan lafaz atas maknanya yang tidak pasti, begitu pula dengan hadis ada yang qath’i al-wurud pasti datangnya dari Rasulullah saw dan ada yang dzanni al wurud masih dugaan kera berasal dari Rasulullah.
Dalam suatu perkawinan dianggap sah apabila telah memenuhi syarat dan rukun perkawinan yang telah ditentukan dalam hukum Islam. Adapun yang menjadi rukun yang harus dipenuhi dalam perkawinan yaitu : Adanya calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan, ada wali dari pihak perempuan, ada dua orang saksi dan aada akad ijab dan qabul.
Fuqaha ahli ilmu fiqih berbeda pendapat dalam masalah kedudukan wali dalam pernikahan, sebagian ulama menyatakan wali sebagai rukun perkawinan ini menurut syafi’iyah dan jumhur ulama dan sebagian lagi menyatakan wali sebagai syarat tetapi tidak mutlak, karena dalam hala tetertentu wali tidak dibutuhkan.
Menurut mazhab Hanafi sah akad nikah oleh perempuan itu sendiri, tanpa ada wali. Sedangkan jumhur berpendapat batal akad perkawinan yang dilakukan tanpa wali.136
Perbedaan ini disebabkan karena dalil-dalil yang mereka gunakan sebagai alasan, baik yang mewajibkan maupun yang meniadakan wali dalam perkawinan bersifat dzanni al dhalaalah masih mengandung beberapa kemungkinan selain itu hadis-hadis yang
136 Wahbah Az Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillahuhu Jilid 9, (Darul Fikr, Damaskus 2007 M), hlm 183
mereka pergunakan masih diperselisihkan tentang keabsahanya (dzanni al-wurud) .
Begitupun dalam hal persyaratan wali dalam pernikahan ada yang disepakati dan ada yang tidak disepakati oleh para fuqaha’.
Persyaratan wali yang disepakati oleh para Fuqaha yaitu:137
1. Kemampuan yang sempurna : baligh, berakal dan merdeka, tidak ada hak wali bagi anak kecil, orang gila, orang idiot (yang memiliki kelemahan akal), mabuk, juga orang yang memiliki pendapat yang terganggu akibat kerentaan, atau gangguan pada akal.
2. Adanya kesamaan agama antara orang yang mewalikan dan diwalikan, oleh karena itu tidak ada kewalian dari orang Islam terhadap non Islam begitupun sebaliknya, maksudnya menurut mazhab Hambali dan Hanafi, seorang kafir tidak mengawinkan perempuan muslimah dan begitu juga sebaliknya. Mazhab Syafi’i dan yang lainya berpendapat, orang kafir laki-laki dapat mengawinkan orang kafir perempuan, baik suami perempuan yang kafir tersebut orang kafir maupun orang Islam.
Mazhab Maliki berpendapat orang kafir perempuan dapat mengawinkan perempuan Ahli Kitab dengan orang muslim.
Ada juga persyaratan wali yang diperselisihkan oleh ulama yaitu :
137 Ibid hlm 185
1. Laki-laki, menurut jumhur fuqaha selain mazhab hanafi wali disyaratkan memiliki jenis kelamin laki-laki. Oleh sebab itu tidak ada perwalian perkawinan bagi perempuan karena perempuan tidak memiliki perwalian terhadap dirinya sendiri apalagi terhadap orang lain. Mazhab hanafi berpendapat laki-laki bukanlah syarat dalam penetapan perwalian. Seorang perempuan yang baligh dan berakal memiliki kekuasaan untuk mengawinkan orang yang diwakilkan oleh orang lain kepadanya. Dengan cara perwalian atau perwakilan.
2. Adil, yaitu kelurusan agama dengan melaksanakan berbagai kewajiban agama. Serta mencegah berbagai dosa yang besar serta tidak bersikeras terhadap perbuatan dosa kecil ini adalah syarat menurut mazhab Syafi’i dalam suatu pendapat mereka dan mazhab Hambali. Sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa keadilan bukan syarat dalam penetapan wali.
3. Lurus, maksudnya menurut mazhab Hambali adalah mengetahui kesetaraan dan maslahat pernikahan bukan menjaga harta sedangkan menurut mazhab Syafi’i maknanya adalah tidak menghambur-hamburkan harta.
Mazhab Maliki menambahkan dua syarat yang lain yaitu : Wali tidak sedang melakukan ihram haji dan umrah, karena orang yang sedang melaksanakan haji dan umrah tidak boleh melaksanakan
akad pernikahan dan tidak melakukan pemaksaan. Oleh karena itu tidak sah perkawinan dari orang yang dipaksa.138
Suatu perkawinan dianggap sah apabila telah memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan dalam hukum Islam, salah satunya adalah persoalan wali dalam perkawinan juga harus memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah diuraikan, apabila walinya tidak memenuhi persyaratan maka wali tersebut tidak berhak menikahkan orang yang berada dalam perwalianya.
Mengenai syarat adilnya wali dalam pernikahan menjadi pembahasan tersendiri dikalangan fuqaha’. Adapun perbedaan pendapat mengenai keadilan dalam perwalian, tidak bisa diabaikan tanpa memandang adanya kriteria adil untuk tidak memilih calon pasangan yang sebanding dengan wanita yang berada di bawah perwaliannya. Sebab, kondisi para wali ketika memilih calon pasangan yang sebanding untuk para wanita yang diwakilkannya berkaitan erat dengan sifat keadilan wali tersebut.
Hal tersebut dikhawatirkan akan mengakibatkan aib (cela) yang menimpa wanita yang berada dalam perwaliannya.
Menurut ulama Syafi’iyah maksud adil disini adalah seseorang yang selalu memelihara agama dengan jalan melaksanakan segala yang diwajibkan dan memelihara dari perbuatan dosa besar serta memelihara dari selalu berbuat dosa kecil139 dengan kata lain sesuai dengan maksud adil yang dikemukakan oleh ulama syafi’iyah adalah tidak fasik karena orang fasik diartikan sebagai orang yang melakukan dosa besar
138 Ibid hlm 187
139 Ibid hlm 186
atau banyak/sering berbuat dosa kecil. Orang dikatakan fasik karena ia telah keluar dari batas-batas kebaikan menurut ukuran syarak.140
Dalam Islam guna memperoleh pernikahan yang sah, didalam pelaksanaannya harus terpenuhi rukun dan syarat pernikahan.
Apabila salah satu dari keduanya tidak terpenuhi sewaktu melangsungkan perkawinan, maka pernikahan tersebut tidak syah menurut syara’. Hal ini ditegaskan dalam Kitab fiqh ala madzhahil al-arba’ah, bahwa pernikahan yang tidak terpenuhi syarat syaratnya adalah nikah fasid, sedangkan pernikahan yang tidak terpenuhi rukun-rukun adalah nikah bathil. Hukum nikah batil dan nikah fasid adalah tidak sah. Salah satu yang menjadi syarat sahnya pernikahan adalah adanya wali. Apabila pernikahan tanpa kehadiran wali, maka pernikahan itu tidak sah. Secara konkrit dan tegas dan mengenai dasar hukum keberadaan dalam akad nikah diatur dalam al-Qur’an dan juga hadits nabi.
Secara umum dalam akad nikah keberadaan wali diterima oleh jumhur ulama. Akan tetapi dalam masalah syarat-syarat yang harus dimiliki oleh wali sewaktu menjadi wali nikah terdapat perbedaan pandangan. Adapun secara umum syarat yang harus dimiliki oleh wali adalah : Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki. Tetapi ulama selain Hanafiah, Malikiyah menambahkan syarat lain yaitu laki-laki yang bersifat adil.
Adapun permasalahan kali ini adalah mengenai wali fasik dan adil para fuqaha berselisih pendapat. Ulama syafi’iyah
140 Tim penyusun Ensiklopedi Hukum Islam, (PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta 1996) hlm 321
berpendapat bahwa wali harus seorang yang adil dan cerdas alasanya ialah hadis dari Ibnu Abbas :
ل ﺎﻗ ﺎﻤﮭﻨﻋ ﷲ ﻲﺿر س ﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ :
ﺪﺷﺮﻣ ﻲﻟوو لﺪﻋ يﺪھﺎﺸﺑ ﻻإ حﺎﻜﻧﻻ
Arinya : Tidak ada pernikahan tanpa adanya dua saksi yang adil dan wali yang benar.141
Menurut ulama syafi’iyah yang dimaksud dengan cerdas dalam hadis tersebut di atas adalah adil. Maksud adil disini adalah seseorang yang selalu memelihara agama dengan jalan melaksanakan segala yang diwajibkan dan memelihara diri dari perbuatan dosa besar serta memelihara dari selalu berbuat dosa kecil.142 Seorang wali harus adil karena dengan sifat adil seseorang dapat berhati-hati dan dapat sungguh-sungguh untuk memelihara perkawinan dan memelihara keturunan.143
Karena ini adalah perwalian yang membutuhkan penelitian dan penilaian maslahat, maka dalam hal ini tidak bisa diserahkan kepada orang fasik, serta perwalian dalam hal harta. Cukup keadilan yang bersifat zahir, cukup baginya memiliki kondisi yang kecukupan, karena persyaratan keadilan secara zahir dan batin adalah sesuatu yang sulit dan berat, yang biasanya menyebabkan batalnya pernikahan.
141 HR ad Daruqutni dalam kitab sunannya, juga ar Ruyani dalam kitab musnadnya, juga diriwayatkan oleh ath thabrani dalam al Austh dan bukhari me-mu’alaq-kanya dalam kitab shahihnya, al Maqaashidul al Hasanah hlm 58 (dikutip dari Wahbah az Zuhaili dalam kitabnya Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Gema insani Jakarta 2011 : hlm186)
142 Imam Syafii, al-Umm, Juz II, mesir : Maktabah al-Halabi, tt hlm 448
143 Taqiyuddin Husaini, Kifayatu al Ahyar, (Hilli Ghayatu al-Ikhtishar, Indonesia : dar al-Ihya tt), hlm 51
Penguasa yang mengawinkan perempuan yang tidak memiliki wali, sama sekali tidak disyaratkan keadilanya akibat kebutuhan, seorang tuan yang mengawinkan budak perempuanya tidak disyaratkan memiliki sifat adil, karena itu adalah tindakan pada budak perempuan miliknya, seperti menyewakan dan yang sejenisnya.144
Dengan demikian syarat adil tidak berlaku untuk semua wali dalam pernikahan terkhusus hanya wali nasab sedangkan wali hakim dan wali seorang budak tidak disyaratkan adil.
Begitupun menurut Mazhab Ahmad: Syarat wali nikah harus Adil, maka orang fasik tidak menjadi wali pernikahan kerabatnya walaupun seorang ayah menurut salah satu dari riwayat, menurut salah satu dari dua riwayat, karena adil adalah kewalian yang bersifat tidak tampak dan fasik menghapuskan hak perwalian sebagaimana kewalian terhadap harta
Kedua, ia dapat menjadi wali karena bapak adalah pemelihara yang dekat dengan anak sehingga ia berhak menjadi wali sebagaimana orang adil. Selain itu karena hakekat keadilan itu dapat diungkapkan sehingga cukup seorang wali itu tidak diketahui keadilan atau kefasikannya. Jikalau disyaratkan adanya keadilan seorang wali, maka hakekatnya keadilan diungkapkan sebagaimana dalam kesaksian.145
Sedangkan menurut al-Mahalli, bahwa orang fasik boleh menjadi wali, karena orang-orang fasik pada masa Islam pertama tidak
144 Wahbah zuhaili hlm 187
145 Abdullah Ibn Gudaamah Al-Muqdisy, Al-Kafiy fi fiqh Imam Ahmad bin Hanbal, Juz III,( Beirut: Dar Fikr, t.th), hlm. 12
dilarang untuk mengawinkan.146 Menurut Sayyid Sabiq, orang yang durhaka tidak kehilangan haknya untuk menjadi wali nikah, kecuali apabila kedurhakaan tersebut melampaui batas-batas kesopanan yang berat. Hal ini disebabkan karena wali tersebut jelas tidak menentramkan jiwa orang yang dibawah kekuasaannya atau orang yang diurusnya. Oleh sebab itu, haknya untuk menjadi wali hilang.147
Adapun perbedaan pendapat mengenai keadilan dalam perwalian, tidak bisa diabaikan tanpa memandang adanya kriteria adil untuk tidak memilih calon pasangan yang sebanding dengan wanita yang berada di bawah perwaliannya. Sebab kondisi para wali ketika memilih calon pasangan yang sebanding untuk para wanita yang diwakilkannya berkaitan erat dengan sifat keadilan wali tersebut. Hal tersebut dikhawatirkan akan mengakibatkan aib (cela) yang menimpa wanita yang berada dalam perwaliannya.
Menurut Mazhab Hanafi: adil bukan merupakan syarat untuk menjadi wali menurut mazhab kami, orang fasik boleh menikahkan putra putrinya yang masih kecil.148 Dalam mazhab Maliki, Ibnu Baji berkata : Kefasikan tidak dapat menghilangkan kewalian menurut Mazhab Maliki. Ibnu Hajib berkata: khaul yang masyhur ialah kefasikan hanya mengurangi kesempurnaan.149
146 Sahal Mahfudh, Akhkamul Fuqaha, (Surabaya: Khalista, 2011) 9-10.
147 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 7, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1981) 7
148 Imam Alauddin Abi Bakr Ibn Mas’ud al-Kasani al-Hanafi, Badaiu al-Shanai, Juz. III, (Dar al-Kutub al-Alamiyah, Beirut, Libanon, t.th), hlm. 349
149 Abdurrahman al-Magribi, Mawahibul Jalil lisyarh Muhtashor Jalil,( Dar al-Kutub Al-Alamiyah, Beirut Libanon, tth), hlm. 71
Mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat keadilan bukanlah syarat dalam penetapan perwalian, oleh sebab itu misalnya bagi wali yang adil maupun yang fasik dapat mengawinkan anak perempuanya atau keponakan perempuanya dari saudara laki-lakinya karena kefasikanya tidak menghalangi adanya rasa kasihan yang dia miliki yang membuatnya menjaga maslahat kerabatnya juga karena hak perwalian bersifat umum.
Dan tidak pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang wali pada masa Rasulullah saw, dan masa yang setelahnya dilarang untuk mengawinkan orang yang dia walikan akibat kefasikanya.
Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa pendapat ini adalah pendapat yang rajih karena hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas adalah dhaif,150 karena orang yang benar bukan memiliki makna adil akan tetapi maksudnya adalah orang yang menunjuki orang lain kearah maslahat. Orang yang fasik mampu untuk melakukan itu.
Imam Rafi’i berkata: “Sebenarnya mayoritas ulama mutaakhirin terutama ulama Khurasa, memfatwakan bahwa orang yang fasik boleh menjadi wali, dan pendapat ini dipilih oleh Ar-Ruyani.”
Kata Imam Nawawi: “Imam Ghazali pernah ditanya tentang kewalian orang yang fasik.” Imam Ghazali berkata: “Sebenarnya kalau kita mencabut kewalian orang yang fasik, kewalian itu pasti beralih kepada hakim yang mengerjakan pekerjaan wali yang kita
150 Wahbah Zuhaili hlm 187
menuduhnya fasik juga.” Jadi, jika wali fasik tidak menjadi wali, maka tidak ada wali lagi yang selainnya151.
Fuqaha atau ahli ilmu fiqih berbeda pendapat dalam masalah kedudukan wali fasik seperti ulama syafi’iyah dalam satu pendapat mereka dan mazhab Hambali mensyaratkan wali itu adil atau tidak fasik sedangkan Mazhab Hanafi dan Maliki juga ulama-ulama mutakhirin seperti Sayid Sabiq dan Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa adil atau tidak fasik bukanlah syarat dari pernikahan. Perbedaan ini disebabkan karena dalil-dalil yang mereka pergunakan sebagai alasan baik yang mensyaratkan adil maupun yang tidak, bersifat zanni al dhalallah masih mengandung beberapa kemungkinan selain itu hadis-hadis yang mereka gunakan masih diperselisihkan seperti hadis dari Ibnu Abbaas yang menjadi landasan bagi mazhab Syafi’i yang dianggap dha’if dikalangan mazhab hanafi.
Kemudian yang menjadi pertimbangan untuk kemaslahatan bahwa seorang wali yang fasik dikhawatirkan memilihkan pasangan yang tidak sekufu’ dengan wanita yang berada dibawah perwalianya. Namun syarat tersebut bukan sebagai syarat kualitatif bagi seorang wali, sebab memilihkan pasangan yang sekufu oleh wali bagi wanita yang berada dibawah perwalianya bukanlah masalah adil atau tidak akan tetapi hanya masalah kekhawatiran akan mendapat malu dan hal ini sudah menjadi tabiat semua orang.
151 Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi’, “Tuhfatul ‘urusi wa buhujatu an-nufusi”, diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq, Kado Pernikahan, (Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2005), hlm 51-52.
Syarat adil ini juga dipertimbangkan, sebab kefasikan tidak menciderai kemampuan seseorang dalam mengumpulkan pandangan (mengenai identitas orang yang ingin dinikahkan dengan perempuan yang dibawah perwalianya) maupun dengan berempati denganya. Sebagaimana halnya kefassikan juga tidak dapat menciderai status pewarisan seseorang, maka kefasikan juga tidak dapat menciderai perwalian atas orang lain.
Ukuran atau kriteria fasik, untuk memberikan batasan atau kriteria yang pasti tentang kefasikan seseorang tidak mudah bahkan sulit sekali, dalam al-qur’an muncul dam beberapa konteks. Terkadang kata fasik dihubungkan lansung dengan kekafiran dan kedurhakaan seperti firman Allah dalam QS Al Hujurat ayat 7
Artinya : Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
Dan terkadang digandengkan dengan kebohongan dan percecokan sebagaimana dalam al Qur’an surat Al Baqarah ayat 197
Artinya : (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
Alasan yang dikemukakan oleh mazhab Hanafi yang membolehkan orang fasik menjadi wali dalam pernikahan adalah bahwa kefasikan seseorang tidak menghalanginya untuk memiliki mencurahkan kasih sanyang terhadap orang yang diwalikanya dan tidak mengahalangi tanggung jawabnya atas keluarganya disamping itu tidak ada penjelasan atau hadis bahwa pada zaman Rasulullah SAW orang fasik tidak boleh menjadi wali nikah.
Berdasarkan dalil-dalil dan alasan yang dikemukakan oleh para ulama diatas maka penulis lebih cendrung kepada pendapat yang membolehkan orang fasik menjadi wali dalam pernikahan dengan alasan yang dikemukakan diatas, Adilnya wali lebih cendrung kepada memperoleh kesempurnaan, dari sekian deretan wali yang ada maka lebih diutamakan wali yang adil yang terpelihara agamanya dengan baik, dengan demikian tidak serta merta wali fasik gugur hak kewalianya melainkan terdapat ketiak sempurnaan dikarnakan kefasikan.
2. Kedudukan Wali Fasik dalam Perpektif Hukum Positif di Indonesia
Jika diperhatikan Undang – undang yang menyangkut wali dalam perkawinan tidak dijelaskan secara rinci, namun dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang berbunyi perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dengan adanya pasal ini bagi umat Islam dianggap sah suatu perkawinan jika dilaksanakan sesuai dengan hukum Islam.
Hukum Islam merupakan kumpulan hukum syari’ah yang bersifat amaliyah yang diambil dari al_qur’an dan Hadist yang diistimbathkan oleh para ulama mujtahid, dengan demikian hasil ijtihad para ulama terkadang berbeda antara satu dengan yang lainya. Dan inilah yang terjadi pada masalah kedudukan wali dalam hukum perkawinan Islam. Setidaknya ada dua pendapat mengenai kedudukan wali dalam hukum perkawinan Islam yaitu wali sebagai rukun perkawinan sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama syafi’iyah dan yang tidak menjadikan sebegai rukun
tetapi syarat juga tidak mutlak sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah.
Umat Islam di Indonesia sebagaian besar pengikut mazhab Syafi’i karena itu dalam praktek pernikahan wali memiliki kedudukan sangat penting dalam hukum perkawinan Islam, yakni sebagai rukun perkawinan. Hal ini dapat dilihat dalam peraturan pemerintah RI no 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Peraturan Pemerintah RI Nomor 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam pasal 11 ayat 2 menegaskan bahwa akta nikah bagi orang islam itu harus ditanda tangani oleh wali nikah atau yang mewakilinya. Jadi jelas dalam prakteknya bagi umat Islam, wali nikah dibutuhkan bagi seorang wanita yang hendak melangsungkan pernikahan.152
Hukum Islam yang berada di Indonesia adalah hukum yang tidak tertulis dan tersebar dalam kitab-kitab fikih dan dalam rangka membuat satu rujukan hukum Islam yang tertulis sebagai pemberlakuan pasal 2 ayat 1 UU nomor 1 tahun 1974, maka melalui instrumen hukum instruksi presiden ( inpres) nomor 1 tahun 1991 tentang penyebar luaskan Kompilasi Hukum Islam, umat Islam mempunyai rujukan hukum walaupun hanya dalam masalah perkawinan, warisan dan wakaf.153
152 Al-Hamdani, Risalah Nikah, Terj Agus Salim, (Jakarta : Pustaka Amani, 1989), hlm 4
153Abdul Gani Abdullah, Pengatar KHI dalam tata hukum Indonesia, (Jakarta : Gema Insani Press 1994), hlm 62
Dalam KHI pada pasal 14 jelas bahwa wali nikah adalah salah satu unsur yang harus dipenuhi dari lima unsur dalam melakukan perkawinan. Bahkan dalam pasal 19 KHI menyatakan “ wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkanya.” Pada pasal 20 ayat 1 menegaskan bahwa yang bertindak sebagai wali nikah adalah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim dan akil baligh.
Kedudukan wali dalam pelaksanaan perkawinan di Indonesia bagi umat Islam itu sama dengan pendapat ulama syafi’iyah, yaitu menjadikan wali dari pihak perempuan sebagai rukun perkawinan dan wali harus laki-laki muslim yang akil baligh, sedangkan pihak laki-laki tidak ada wali. Apabila wali tidak hadir pada waktu pelaksanaan perkawinan, maka dapat diwakilkan kepada orang lain.
Lain halnya tentang persyaratan adil atau tidak fasik bagi wali dalam perkawinan tidak mendapat penekanan dalam hukum positif yang ada di Indonesia dan ini sama dengan pendapat ulama Hanafiyah yang tidak menjadikan adil sebagai syarat seorang wali, asal seorang menyatakan beragama Islam disamping adanya syarat-syarat baligh, berakal sehat dan laki-laki sudah dipandang cakap bertindak sebagai wali.
C. Implementasi konsep wali fasik dalam pernikahan oleh