WALI DALAM PERNIKAHAN A. Eksistensi Wali dalam Pernikahan
4. Macam-macam Wali Nikah dan Urutanya
Pada prinsipnya wali adalah orang yang memiliki hubungan tali darah dengan wanita yang menjadi maulanya, dalam bahasa fiqih disebut al ashabah al Qarabah, yaitu adanya hubungan kekerabatan disebabkan adanya pertalian darah (wali nasab) akan tetapi disamping adanya hubungan qarabah, wali juga dapat terjadi akibat ketentuan hukum Syar’i (wali hakim).
58 Sayyid Sabiq, Fiqh al Sunnah, (Beirut : Daar al Fikr, 1983), Jilid 2 hlm 111
59 Ibid
Jika diukur berdasarkan kedekatanya antara wali dengan maula dan berdasarkan ketentuan hukum Syar’i maka wali dapat dikelompokan kepada tiga yaitu :
a. Wali Nasab, adalah wali yang memperoleh hak sebagai wali karena adanya pertalian darah, Jumhur sebagaimana Malik dan Syafi’i mengatakan bahwa wali adalah ahli waris dan diambil dari garis ayah dan bukan dari garis ibu.
b. Wali Hakim, adalah penguasa dari suatu negara atau wilayah yang berdaulat atau yang mendapatkan madat dan kuasa untuk mewakilinya.
c. Wali Muhakam, adalah wali hakim namun dalam keadaan darurat misalnya ketika ada kudeta sehingga tidak ada pemerintahan yang berdaulat sehingga tidak berada di tangan penguasa/sultan. Demikian juga jika maula tidak berada di negaranya sendiri tanpa seorang wali pun yang menyertai sedang negaranya tidak mempunyai perwakilan di negara tersebut.60
Jumhur ulama sebagaimana Imam Malik dan Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa wali adalah ahli waris dan diambil dari garis ayah,61 walau dalam hal wali mujbir Malik menambahkan anak laki-laki kandung sebelum ayah dan
60 Abu Abdillah al-Qurthubi dalam menafsirkan تﺎﻨﻣﺆﻤﻟاو نﻮﻨﻣﺆﻤﻟاو ﺾﻌﺑ ءﺎﯿﻟوأ ﻢﮭﻀﻌﺑ berkata “ jika perempuan tinggal di tempat yang tidak ada sultan serta tidak mempunyai wali, maka penyelesaianya dapat diserahkan kepada tetangga yang ia percayai untuk mengakad/ menikahkanya. “ Lihat Abu Abdillah al-Qurtubi Juz III hlm 76
61 Rahmad Hakim, Hukum Perkawinan Islam ( Bandung : Pustaka Setia, 2000), hlm.20
kakek.62 Sedang mengenai tata urutan wali nasab adalah dari yang hubungan darahnya terdekat ke yang lebih jauh. Wali jauh tidak bisa jadi wali jika akrabnya ada kecuali kalau karna suatu hal akrab tidak dapa t bertindak sebagai wali. Namun untuk kasus daniah (wanita kurang terhormat). Malikiyah menambahkan wilayah Ammah dimana salah satu harus bertindak sebagai wali sebagaimana fardhu kifayah, dan hal ini tidak berlaku bagi perempuan syarifah (terhormat). 63
Ulama berbeda pendapat dalam menempatkan susunan wali berdasarkan kedekatanya dengan maulanya. Imam al Syafi’i menjelaskan bahwa tertib wali adalah :
1. Ayah Kandung
2. Kakek (ayah daria ayah)
3. Saudara laki-laki kandung atau se-ayah 4. Saudara laki-laki kandung ayah atau se-ayah 5. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung atau
se-ayah
6. Anak laki-laki saudara laki-laki kandung atau se ayah
7. Saudara laki-laki sekandung atau se-ayah dari kakek.
8. Anak saudara laki-laki kandung atau seayah dari kakek
9. Paman dari kakek
10. Anak saudara laki-laki dari paman kakek
62Abdurrahman al-Jazairi, Kitab al-Fiqh Ala Madzahib al-Arba’ah, (Kairo : Maktabah Dar al-Salam, 2000) , Juz VI, hlm 27
63Ibid., hlm.77.
11. Hakim 64
Sedangkan Imam Malik bahwa saudara laki-laki didahulukan urutanya dari pada ayah, bahkan ayah ditempatkan setelah anak laki-laki dari saudara laki-lakinya atau pada urutan tempat ketiga. Oleh karena itu istilah wali ijbari /wali mujbir oleh Imam Malik tidak hanya melekat pada ayah dan kakek saja tetapi juga kepada saudara laki-laki. Karena menurut Imam Malik saudar laki-laki lebih dekat kekerabatanya daripada ayah. Dan ayah tidak dibolehkan bertindak semenang-wenang terhadap perempuanya.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, urutan wali dalam suatu pernikahan terdiri dari :
1) Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan, kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita. Pertama : kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni : ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya. Kedua : kelompk kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.
Ketiga : kelompok kerabat paman yakni : saudara laki-laki kandung ayah, dan keturunan laki-laki mereka. Keempat : kelompok saudara laki-laki
64 Imam al-Syafii, al Umm, (Kairo : Dar al-Salam th. 2001) Juz V, hlm. 13
kandung kakek, saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.
2) Apabila dalam satu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang sama berhak menjadi wali, maka yang paling berhak menjadi wali ialah yang lebih dekat derajatnya dengan calon mempelai wanita.
3) Apabila dalam satu kelompok sama derajat kerabatnya, maka yang paling berhak menjadi wali nikah kerabat kandung dari kerabat yang hanya seayah.
4) Apabila dalam suatu kelompok derajat kerabatnya sama, yakni sama-sama derajat kandung atau sama derajat kerabat seayah, mereka sama-sama berhak menjadi wali nikah dengan mengutamakan yang lebih tua dan memenuhi syarat-syarat wali.65
Berdasarkan ketentuan Kompilasi Hukum Islam dapat dipahami bahwa urutan wali nikah diatas harus dilaksanakan secara berurutan dan sistematis, dimana tingkatan yang lebih dekat dengan mempelai wanita harus diutamakan apabila wali pada urutan pertama masih ada maka tidak boleh wali berpindah dan diambil alih oleh wali pada tingkat kedua atau seterusnya.
Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin kepada urutan yang setelahnya. Penting utuk diketahui bahwa seorang
65 Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam, (Yogyakarta : Karya Anda, 2000), hlm 27 . lihat pasal 21 s/d 22 KHI
wali berhak mewakilkan hak perwalianya itu kepada orang lain, meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu biasa sering dilakukan ditengah masyarakat dengan meminta kepada tokoh ulama setempat untuk menjadi wakil dari wali yang sah. Oleh karena itu harus ada akad antara wali dan orang yang mewakilkan. Akan tetapi sebalinya apabila pihak wanita mewakilkan kepada orang lain tanpa ijin dari wali maka pernikahanya tidak sah.
Selain status wali diatas, ada istilah wali mujbir, adalah wali yang mempunyai hak memaksa tanpa memperhatikan pendapat dari maula dan hal ini hanya berlaku bagi anak kecil yang belum tamyiz, orang gila dan orang yang kurang akal.66 Dalam hal wali mujbir ini agama mengakuinya karena memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan dari maula.
Sedangkan wali yang tidak berhak memaksa (ghairu Mujbir) adalah yang selainya. Dalam hal hak wali wali mujbir ini ada beberapa perbedaan pendapat dikalangan ulama, Imam Syafi’i dan pengikutnya posisi wali mujbir berada ditangan ayah dan kakek.67sedangkan Hanafi, Hakim adalah wali mujbir terhadap orang gila dan kurang akal. Sementara Malik dan Ahmad disamping Ayah pengampu adalah wali mujbir bagi anak kecil.
Karena pertimbangan kemaslahatan yang subyektif dari kacamata wali adakalanya masih terjadi pemaksaan terhadap anak gadis
66 Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Press, 1997), hlm 42
67 Asy Syafi’i Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin al Abbas bin Utsman bin Syafi’i Abdul Muthalib bin Abdulmanaf, al Umm, (Bairut : Dar al Ma’rifah, 1990), juz VIII, hlm 163
yang tamyiz dan baligh karena diperbolehkanya hal ini oleh madzhab Syafii dan Hambali.68 Tidak jarang juga masih terjadi penolakan dari anak gadis yang juga didasarkan pada penilaiannya yang subyektif sesaat. Dalam kasus semacam ini ada baiknya kedua belah pihak (perempuan dan wali) beserta keluarga yang lain (cukup sebatas keluarga inti) duduk bersama untuk memperoleh penilaian yang lebih obyektif karena bagaimanapun pernikahan adlaah pertalian kuat yang didasari dengan niat ibadah, dan bertujuan mewujudkan kehidupan rumah tangga yang tidak hanya mengikat kedua mempelai melainkan juga keluarga mereka, di samping untuk menghindari terjadinya perceraian dikemudian hari.
B. Perpindahan Wali (Intiqal Wali) dan Sebab-sebabnya