• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Harta Benda Jaminan Dalam Usaha Pergadaian 1. Subjek, Objek dan Sifat Jaminan Gadai

ASPEK HUKUM PERJANJIAN HUTANG PIUTANG DENGAN JAMINAN SUATU BARANG DALAM USAHA PERGADAIAN

E. Kedudukan Harta Benda Jaminan Dalam Usaha Pergadaian 1. Subjek, Objek dan Sifat Jaminan Gadai

Subjek gadai terdiri atas dua pihak yaitu pemebri gadai (Pandgever) dan pemberi gadai (Pandnemer).136 Pemberi gadai yaitu orang atau badan hukum yang memberikan jaminan dalam bentuk benda bergerak selaku gadai kepada pihak penerima gadai atau peminjam uang yang diberikan kepadanya atau pihak ketiga.137

a. Orang atau badan hukum;

Unsur-unsur pemberi gadai, yaitu:

b. Memberikan jaminan berupa benda bergerak;

c. Kepada penerima gadai;

d. Adanya peminjaman uang.138

Penerima gadai (Pandmener) yaitu orang atau badan hukum yang menerima gadai sebagai jaminan untuk pinjaman yang diberikan kepada pemberi

136 Salim HS, Op. Cit, hal. 36.

137Ibid

138Ibid

gadai. Di Indonesia badan hukum yang ditunjuk untuk mengelola lembaga gadai adalah Perusaan Pergadaian.139

Objek gadai adalah segala benda baik berwujud maupun tidak berujud.140 Objek gadai bisa juga berupa berupa hak untuk mendapatkan pembayaran uang yang berwujud surat-surat berharga.141

a. Atas bawa (aan toonder), yang memungkinkan pembayaran uang kepada siapa saja yang membawa surat-surat itu seperti saham dan obligasi dengan cara menyerahkan begitu saja surat-surat berharga tersebut kepada pelaku usaha sebagai penerima gadai.

Surat-surat berharga ini dapat berupa;

b. Atas perintah (aan order), yang memungkinkan pembayaran uang kepada orang yang disebut dalam surat seperti wesel, cek, aksep, promes, cara mengadakan gadai masih diperlukan penyebutan dalam surat berharga tersebut bahwa haknya dialihkan kepada pemegang gadai (endossement menurut Pasal 1152 bis Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di samping endossement, surat-surat berharga tersebut harus diserahkan kepada penerima gadai.

c. Atas nama (op naam), yang memungkinkan pembayaran uang kepada orang yang namanya disebut dalam surat itu, maka cara mengadakan gadai menurut Pasal 1153 Kitab Undang-Undang Hukum Perdataadalah bahwa hal menggadaikan ini harus diberitahukan kepada orang yang berwajib membayar uang. Dan orang yang wajib

139Ibid

140Pasal 1150 sampai Pasal 1153 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

141Scribd, Gadai, Dalam http://digilib.uinsby.ac.id/BAB%203.pdf, Diakses tanggal 03 Agustus 2018, Pukul 09:27

membayar ini dapat menuntut supaya ada bukti tertulis dari pemberitahuan serta izin dari nasabah sebagai pemberi gadai.142

Sifat- jaminan gadai secara garis besar adalah sebagai berikut:

a. Gadai adalah hak kebendaan yang berarti hak gadai bukanlah hak untuk menikmati suatu benda seperti eigendom, hak bezit, hak pakai, dan sebagainya. Benda gadai memang harus diserahkan kepada pelaku usaha sebagai penerima gadai tetapi tidak untuk dinikmati, melainkan untuk menjamin piutangnya dengan mengambil penggantian dari benda tersebut guna membayar piutangnya.

b. Hak gadai bersifat accessoir yaitu tambahan hak dari perjanjian pokoknya, dapat berupa perjanjian pinjam uang, sehingga boleh dikatakan bahwa seseorang akan mempunyai hak gadai apabila ia mempunyai piutang dan tidak mungkin seseorang dapat mempunyai hak gadai tanpa mempunyai piutang. Hak gadai merupakan hak tambahan atau accessoir, yang ada dan tidaknya bergantung dari ada atau tidaknya piutang yang merupakan perjanjian pokoknya, dengan demikian hak gadai akan dihapus jika perjanjian pokoknya hapus.

c. Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi yaitu dengan dibayarkannya sebagian hutang tidak akan membebaskan sebagian dari benda gadai.

Hak gadai tetap membebani hak gadai secara keseluruhan.

d. Hak gadai adalah hak yang didahulukan yaitu hak sesuai ketentuan Pasal 1133 dan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

142Ibid

karena piutang dengan hak gadai mempunyai hak untuk didahulukan daripada piutang-piutang lainnya, maka kreditur pemegang gadai mempunyai hak mendahulukan (droit de preference).

e. Benda yang menjadi objek hak gadai adalah benda bergerak, baik yang bertubuh maupun yang tidak bertubuh.

f. Hak gadai adalah hak jaminan yang kuat dan mudah penyitaannya.143 2. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Transaksi Gadai

Para pihak (pemberi dan penerima gadai) masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dan dijalankan agar semua prosesnya dapat berjalan dengan baik dan tertib.144

1. Hak milik yang dimiliki seseorang atas kebendaan tertentu memberikan kepadanya hak untuk memberikan hak-hak kebendaan lain diatasnya, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat terbatas.

Hak dan kewajibannya adalah sebagai berikut:

2. Hak untuk tetap memiliki barang yang digadaikan bila nasabah sebagai pemberi gadai tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya (Pasal 1154 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata145

Kewajiban pemberi gadai adalah :

1. Nasabah sebagai pemberi gadai harus melepaskan kekuasaan nyatanya atas benda-benda yang digadaikan itu. Caranya dilakukan menurut wujud masing-masing dari benda bergerak tersebut. Bagi benda

143Purwahid Patrik dan Kashadi, Hukum Jaminan, (Semarang: Fakultas Hukum Undip, 2003), hal. 13

144Muhammad, Lembaga Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hal: 63

145Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Harta Kekayaan : Hak Istimewa Gadai dan Hipotek, (Jakarta: Kencana, 2005), hal. 172

bergerak yang berwujud dan bagi piutang- piutang kepada pembawa, maka cara mengeluarkan benda gadai dari pemberi gadai adalah dengan menyerahkannya kepada penerima gadai, yang dapat merupakan pelaku usaha atau pihak ketiga yang ditunjuk atau disepakati bersama. Selanjutnya bagi benda bergerak yang tidak berwujud dalam bentuk piutang atas tunjuk, maka surat piutang atas tunjuk tersebut harus di “endorse” dan selanjutnya diserahkan kepada pemegang gadai. Dalam hal piutang atas nama, maka wujud pengeluarang piutang tersebut dari penguasaan pemberi gadai dilakukan dengan cara pemberitahuan akan gadai yang diberikan tersebut kepada orang terhadap siapa gadai dilaksanakan.

2. Nasabah sebagai pemberi gadai diwajibkan mengganti kepada penerima gadai segala biaya yang berguna dan perlu, yang telah dikeluarkan oleh pihak yang tersebut belakangan ini guna keselamatan barang gadainya (Pasal 1157 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)146

Hak penerima gadai adalah :

2. Hak retentie yaitu hak menerima barang jaminan gadai dari nasabah sebagai pemberi gadai kepada penerima gadai. Sedangkan penerima gadai tidak perlu mengembalikan benda tersebut sebelum hutang, rente, dan biaya-biaya dibayar. Di dalam hukum penerima gadai menguasai benda tersebut sampai tagihannya itu dilunasi, hak retentie

146Ibid

adalah suatu upaya penting untuk mendorong pemberi gadai untuk membayar hutangnya. Penerima gadai harus menjaga nilai daripada benda yang digadaikan tersebut, harus lebih tinggi dari hutang yang diikatkan dengan gadai. Oleh karena itu, pemberi gadai mempunyai kepentingan untuk dapat memperoleh kembali bendanya dengan jalan melunasi hutang.

3. Hak executie yang dipermudah yaitu hak yang pada umumnya secara normal nasabah sebagai pemberi gadai akan memenuhi kewajiban-kewajibannya dan benda tersebut akan dikembalikan padanya setelah ia melunasi hutangnya. Memang hak gadai itu diciptakan dengan maksud adanya kemungkinan nasabah tidak akan memnuhi kewajiban-kewajibannya. Dalam kasus demikian, setiap penerima gadai bebas memperoleh ganti rugi dari harta benda nasabah, tetapi penerima gadai yang meminta janji suatu hak gadai memperoleh kemungkinan ganti rugi yang lebih mudah. Didalam beberapa segi, maka pemegang gadai didalam memperoleh ganti rugi mempunyai suatu posisi yang lebih menguntungkan daripada yang tagihannya tidak dijamin dengan gadai.

4. Hak yang didahulukan untuk memperoleh ganti rugi yaitu hak bagi penerima gadai yang mempunyai tagihan dan diperkuat dengan hak gadai untuk mendapatkan pelunasan karena ia tidak harus menunggu-nunggu pembayarannya, akan tetapi dengan cara sederhana dapat melakukan eksekusi atas benda gadai tersebut. Di samping tagihan itu

akan memperoleh ganti rugi yang paling didahulukan dari hasil benda gadai. Penerima gadai didalam pembagian hasil eksekusi, haknya tidak hanya diatas para kreditur concurrent saja, melainkan juga diatas kreditur-kreditur yang diberikan prefentie (voorrang) menurut Undang-Undang (Pasal 1134 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)147

Kewajiban penerima gadai adalah:

“Penerima gadai bertanggung jawab untuk hilangnya atau kemerosotan barangnya sekedar itu telah terjadi karena kelalaiannya.148 Sebaliknya nasabah diwajibkan mengganti kepada penerima gadai segala biaya yang berguna dan perlu, yang telah dikeluarkan oleh pihak yang tersebut guna keselamatan barang gadainya.”149

Rumusan tersebut pada prinsipnya menunjukkan bahwa sebagai seorang yang memegang atau memangku suatu kedudukan berkuasa atas benda milik orang lain berkewajiban untuk memelihara benda tersebut dengan baik, sebagaimana halnya seorang pemilik sejati. Dalam hal demikian maka ia berkewajiban untuk mengeluarkan biaya yang diperlukan untuk menyelamatkan benda tersebut.150 Selanjutnya pemilik sejati dari benda tersebut berkewajiban untuk menggantikan segala biaya yang telah dikeluarkan oleh pemangku kedudukan ini untuk menyelamatkan benda tersebut.151

147R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, Bab-Bab Tentang Hukum Benda, (Surabaya:PT Bina Ilmu, 1984), hal 101.

148Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.Cit, hal. 176.

149Ibid

150Ibid

151Ibid

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa penyerahan benda jaminan atas perikatan hutang piutang termasuk dalam kategori gadai. Objek dari gadai adalah benda bergerak berwujud dan tidak berwujud dan yang menjadi subjek dari hak gadai adalah penerima hak gadai (pelaku usaha) dan pemberi hak gadai (nasabah).

Kedudukan jaminan dalam perjanjian hutang piutang adalah sebagai perjanjian accesoir yang bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri.

Keberadaan pengikatan jaminan adalah karena adanya perjanjian lain, yang disebut perjanjian induk. Perjanjian induk bagi pengikatan jaminan adalah perjanjian hutang piutang yang menimbulkan hutang yang dijamin.

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI NASABAH DALAM TRANSAKSI