BAB III BIOGRAFI HARUN NASUTION
D. Kedudukan Harun dalam Pemikiran Islam
Harun Nasution memiliki peran signifikan dalam memajukan pemikiran Islam di Indonesia. Harun juga dikenal sebagai pelopor pembaharuan pemikiran keagamaan Islam dan pembaharu lembaga Perguruan Tinggi Islam di Indonesia dengan pendekatan sejarahnya.165 Dengan konstruksi pemikiran yang concern meningkatkan kesadaran dalam melindungi psikologis keberagamaan Islam yang menjadi titik sentral. Lantaran pada beberapa kasus dan dalam banyak hal—baik di lingkungan IAIN, perguruan tinggi umum lain, maupun di Pesantren dan lebih-lebih pada masyarakat luas—Islam telah tereduksi menjadi semata-mata hanya persoalan “Fiqih” sehingga diskursus dan puncak keprihatinan umat Islam menjadi terbatas kepada persoalan halal-haram, wajib-sunnah saja.166
Dari fenomena itu, Harun menjawab dan membuktikan sumbangsihnya dengan ukiran sebuah pengabdian nyata di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian disusul dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dibuat Harun dalam rangka merespon terhadap kondisi IAIN, dari awal hingga terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih kondusif, sebagai lembaga keilmuan yang mengakomodasi kebebasan berpikir.
Perkembangan yang dikerjakan Harun tidak tanggung-tanggung. Ia berani melangkah membuka ruang luas dalam pertumbuhan dan perkembangan pemikiran-pemikiran Islam yang dikemas rasional dan modern. Gerakkan Harun yang pertama kali dilakukan, dapat dilihat pada perubahan kurikulum IAIN se-Indonesia.
Kurikulum yang disusun bersama para Rektor IAIN di Ciumbeleuit, Bandung, mengusulkan bahwa Pengantar Ilmu Agama dimasukkan
165 Kusmana, “Mengenal Ayang Utriza Yakin; Intelektual Muslim Indonesia Jebolan Perancis,” (Bag1) artikel ini diakses pada 21 November 2020 dari https://bincangsyariah.com/khazanah/mengenal-ayang-utriza-yakin-intelektual-muslim-indonesia-jebolan-prancis-bag-1/.
166Amin Abdullah, “Pendekatan ‘Teologis’ Dalam Memahami Muhammadiyah”
Kelompok Studi Lingkaran, ed., Intelektualisme Muhammadiyah, (Bandung: Mizan, 1995), h. 24.
dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa. filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, metodologi riset juga dimasukkan.167 Meskipun pola dari kurikulum baru itu, ternyata tidak diterima oleh semua pihak. Akan tetapi, Harun berusaha untuk terus meyakinkan pihak yang awalnya tidak mendukung menjadi menerimanya. Di tahun 1973, adalah sebuah moment paling bersejarah bagi Harun dan IAIN, karena kurikulum baru sudah diterima dan dapat diberlakukan. Seiring berjalannya waktu, Harun mengemas kurikulum baru tersebut dalam sebuah buku dengan judul “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek” yang terdiri dari dua jilid di tahun 1974.
Kebijakan-kebijakan di IAIN yang telah diperbaharui oleh Harun memang worth it (layak) mendapat predikat dan perhitungan apresiasi serta antusiasme atas segi keunggulannya, terutama bagi kalangan anak bangsa hingga jajaran pemerintahan di Indonesia. Karena IAIN tidak lagi menjadi perguruan tinggi tradisional, melainkan ia sudah berganti sekaligus melangkah maju menjadi sebuah kampus dengan predikat Islam pembaharu dan modern.168
Perjalanan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta—sebagai bagian dari IAIN tertua yang ada di Indonesia—menempati posisi unik dan strategis. Institut ini tidak hanya menjadi “Jendela Islam di Inonesia”, tetapi juga menjadi simbol bagi kemajuan pembangunan nasional, khususnya pembangunan di bidang sosial-keagamaan. Sebagai upaya untuk mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama, lembaga ini mulai mengembangkan diri dengan konsep IAIN dengan mandat yang lebih luas (IAIN with Wider Mandate) menuju terbentuknya Universitas Islam Negeri.
167 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 41.
168 Romdoni Muslim, 70 Tokoh Muslim Indonesia: Pola Pikir, Gagasan, Kiprah Dan Falsafah, h. 105.
Tahap konversi ini mulai diintensifkan pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.169 Bersamaan dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 031 tanggal 20 Mei 2002 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi berganti menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.170 UIN Jakarta diharapkan mampu menerapkan konsistensi mengartikan ilmu pengetahuan itu bersikap terbuka. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan mempunyai cara pandang yang bersifat objektif. Artinya meskipun secara universal pengetahuan ilmiah memiliki ciri-ciri dasar yang sama.
Namun secara umum dan spesifik (berkenaan dengan disiplin ilmu tertentu) ilmu akan mengembangkan secara terus menerus ciri-ciri yang khas tersebut. Jadi perkembangan yang terus menerus ini merupakan ciri dari cara berpikir keilmuan yang terbuka.
Dalam konteks ini, ilmu diposisikan sebagai ilmu pengetahuan yang terbuka untuk apapun termasuk dialog dari mulai sumber, langkah-langkah sampai penafsiran-penafsiran. Sumber ilmu baik dari Tuhan maupun dari yang telah disediakan Tuhan, yaitu alam semesta dan budaya serta peradaban manusia yang pada dasarnya dikenali dan dipahami lewat manusia yang terbatas. Keterbatasan ini menimbulkan perbedaan-perbedaan dari mana ilmu itu diproduksi sampai perbedaan produksi ilmu itu sendiri.171
UIN Jakarta dengan integrasi ilmu menawarkan cara pandang baru terhadap ilmu yang terbuka dan menghormati keberadaan macam-macam ilmu yang ada secara proporsional dengan tidak meninggalkan sifat kritis.172 Sampai di sini, terlihat bahwa semangat pemikiran Harun yang mengedepankan sikap berpikir terbuka masih dilanjutkan dan menjadi manifestasi berharga bagi UIN Jakarta dalam menuju
169 Tim Penyusun, Pedoman Akademik Program Strata 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2017-2018, (Jakarta: UIN Press, 2017), h. 9.
170 Tim Penyusun, Pedoman Akademik Program Strata 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2013-2014, h. 9.
171 Kusmana, ed., Integrasi Keilmuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menuju Universitas Riset, (UIN Jakarta Press, 2006), h. 65.
172 Kusmana, ed., Integrasi Keilmuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menuju Universitas Riset, h. 67.
perjalanan perkembangan progresifnya di masa depan. Kemudina hal ini dikembangkan juga di berbagai IAIN yang ada daerah lain.
Sehingga Perguruan Tinggi Islam dapat mengecap pengalaman studi yang berintegritas, antara ilmu umum dan ilmu agama.
A. Pengertian Pembaharuan Pemikiran Islam
Pembaharuan atau modernisasi, menurut pendapat Harun Nasution, mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya agar semua itu dapat disesuaikan dengan pendapat-pendapat dan keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan (sains) modern. Pikiran dan aliran itu timbul di periode yang disebut Age of Reason atau Englightement (Masa Akal atau Masa Pencerahan) di abad ke 18 M dan seterusnya. Paham ini memiliki pengaruh besar dalam masyarakat Barat dan segera memasuki lapangan agama di Barat, yang mana agama masih dipandang sebagai penghalang kemajuan.
Modernisasi dalam keagamaan di Barat, kata Harun, memiliki tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik dan Protestan dengan sains dan filsafat modern, yang pada akhirnya membawa kepada sekularisme di Barat.173 Namun, kontak Islam dengan Barat membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti rasionalisme, nasionlaisme, demokrasi dan sebagainya. Semua ini menimbulkan persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru tersebut.174 Semisal seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali Pasya (w.1849 M) di Mesir. Ia memanfaatkan kedatangan Napoleon dan pasukannya, dengan mempelajari serta meningkatkan kekuatan militer dan pengetahuan tentang administrasi negara bagi kepentingan masyarakat
173 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 2, (Jakarta: UI-Press, 2012), h. 91.
174 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 2011), h. 3.
Mesir. Ia juga membuka perdana sekolah militer tahun 1815 M;
sekolah teknik tahun 1816 M; dan sekolah kedokteran tahun 1827 M.
Tenaga pengajarnya pun didatangkan dari Barat, meski mereka tidak pandai bahasa Arab, maka ceramah mereka diterjemahkan oleh para ahli penerjemah ke bahasa Arab dan Turki.175 Meski pada awalnya Muhammad Ali Pasya sewaktu berkuasa memerintah sebagai diktator, tapi pada akhirnya berubah sejak adanya penerjemahan karya-karya dari Barat seperti membaca karangan-karangan Voltaire, Rouseau, Montesquieu dan lain-lain, maka timbullah ide-ide baru mengenai demokrasi, parlemen, pemilihan wakil rakyat, paham pemerintahan republik, konstitusi, kemerdekaan berpikir, dinamisme Barat diperbandingkan dengan sikap Timur, cinta tanah air (patriotisme), keadilan sosial dan sebagainya, di samping ilmu-ilmu teknik, filsafat, pendidikan, alam (paham evolusi Darwin), kemasyarakatan dan sebagainya.176
Pembaharuan seperti itu juga dapat ditemui di Indonesia.
Pembaharu selain Harun, yaitu Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. Tidak jauh berbeda dengan Harun, pembaharuan yang dirumuskan Nurcholish Madjid, adalah sesuatu yang identik dengan pengertian rasionalisasi, yaitu berarti perombakan pola berpikir dan tata kerja lama yang tidak rasional, dan menggantinya dengan pola berpikir serta tata kerja baru yang rasional. Jadi, sesuatu dapat dikatakan modern, kalau ia bersifat rasional, ilmiah, dan bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dengan alam. 177 Sedangkan pembaharaun yang dirumuskan Abdurrahman Wahid adalah “Pribumisasi” yang bermakna segenap ajaran agama yang telah diserap oleh kultur lokal akan tetap dipertahankan dalam bingkai lokalitas tersebut. Intinya, ia
175 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, h. 29.
176 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, h. 31.
177 Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan, Dan Keindonesiaan, (Bandung:
Mizan, 2013), h. 208.
ingin mengokohkan kembali akar budaya masyarakat, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.178
Setiap pembaharuan tentu memiliki corak pembaharuannya masing-masing, begitu juga dengan Harun yang memiliki corak yang berbeda dengan para pembaharu lain di Indonesia. Namun, mereka bertemu dalam kesamaan agenda, yakni mereka sama-sama tengah berupaya merumuskan penafsiran ulang pembaharuan pemikiran Islam sebagai solusi alternatif yang berguna bagi perkembangan masyarakatnya, khususnya umat Islam di Indonesia, yang tengah menghadapi bersama tantangan yang muncul dari perkembangan sains dan teknologi. Juga pendangan keagamaan masyarakat di Indonesia yang masih literalis. Di mana setiap tantangan tersebut sangat membutuhkan konstruksi pemikiran-pemikiran yang saling menguatkan, melengkapi dan mengisi ruang kosong satu dengan yang lainnya.
Adapun mengenai polemik seputar “Neo Modernisme179”, yang Harun Nasution dan Nurcholish Madjid diseret ke dalam kategori tersebut, adalah tidak tepat. Dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut. Pertama, Budhy Munawar Rachman menulis “Pemikiran Neo Modernisme Islam Di Indonesia” dalam buku Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat, mengatakan dalam catatan kakinya bahwa terdapat perbedaan mendasar antara kaum “Modernis” dan “Neo Modernis”
terletak perhatiannya pada tradisi. Kaum “Neo Modernis”, berusaha membangun visi Islam di masa modern, dengan sama sekali tak meninggalkan warisan intelektual Islam. Bahkan jika mungkin, mencari akar-akar Islam, untuk mendapatkan kemodernan Islam itu sendiri.
178 Indo Santalia, “K.H. Abdurrahman Wahid: Agama Dan Negara, Pluralisme, Demokratisasi, Dan Pribumisasi”, dalam Al-Adyaan V 1, no. 2, Desember 2015, h.
145.
179 Neo Modernisme menurut Fazlur Rahman dalam artikelnya “Islam: Past Influence and Present Challenge” adalah istilah yang digunakan sebagai sebuah gerakan reformasi Islam yang digagasnya. Yakni sebuah gerakan kembali kepada dasar-dasar Modernisme dan menyintesiskan pemikiran kaum revivalis, Modernis, dengan tuntutan Barat. Ini juga merupakan istilah yang pertama kali digagas oleh Fazlur Rahman. Lihat Ahmad Labib Majdi, “Metodologi Pembaruan Neomodernisme Dan Rekonstruksi Pemikiran Islam Fazlur Rahman”, dalam Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam V 3, no. 1, Juni 2019, h. 38.
Sedangkan kaum “Modernis lama” lebih banyak bersifat apologetik terhadap modernitas. Lalu, Budhy mengutip pendapat Nurcholish tentang hal tersebut dari tulisan Nurcholish, Tentang Tradisi Dan Inovasi Keislaman dalam Pelita, 16 Februari 1992, “…Diperlukan kesadaran akan kekayaan tradisi, sekaligus kemampuan untuk senantiasa membuat inovasi…(dalam) ‘ruang’ Indonesia ‘waktu’
zaman Modern,”. Bahkan Budhy juga mengatakan bahwa Harun Nasution, Djohan Effendi, Kuntowijoyo, Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, dan Jalaluddin Rakhmat, termasuk sebagai tokoh Neo Modernisme.180 Di sana jelas, bahwa tidak ada bukti eksplisit dari kutipan langsung Nurcholish itu mengenai “Neo Modernisme”, sebagaimana yang dikatakan dan dikutip oleh Budhy, tapi justru ia menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sekadar asumsi belaka. Begitu juga mengenai Harun, tidak ada penjelasan eksplisit mengenai “Neo Modernisme” sebagaimana yang diasumsikan oleh Budhy.
Kedua, Abd A’la dalam bukunnya Dari Neo Modernisme Ke Islam Liberal, mengatakan bahwa Nurcholish begitu canggih dalam mengapresiasi tradisi Islam Klasik. Namun ia melangkah lebih jauh dengan berupaya membangun suatu peradaban Islam yang khas, yang mempunyai akar kuat pada tradisi Islam Klasik; bukan hanya viable dalam era modern, teatpi juga dalam masa “Postmodern”. 181 Kenyataannya Abd A’la tidak mampu menunjukkan adanya indikasi yang jelas dan eksplisit mengenai “Neo Modernisme” yang diakui oleh Nurcholish, bahkan Abd A’la sendiri tidak mampu konsisten dalam paparannya dan malah menggantinya dengan sebutan “Postmodern”, yang tentu ini di luar konteks pembahasan “Neo Modernisme” di awal.
Ketiga, Tita Rostitawati menulis “Neo-Modernisme Fazlur Rahman Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam”, mengatakan dalam kesimpulannya bahwa bagi Fazlur Rahman, pembaharuan Islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada realisasi Weltanschuung
180 Budhy Munawar Rachman, “Pemikiran Neo-Modernisme Islam Di Indonesia”
dalam Edy A. Effendy, ed., Dekonstruksi Islam: Mazhab Ciputat, h. 134.
181 Abd A’la, Dari Neo Modernisme Ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina, 2003), h. xi-xii.
Islam yang asli dan Modern harus bermula dari pendidikan.182 Yang inti kesimpulannya, Tita juga tidak mampu menunjukkan “Neo Modernisme” dari Fazlur Rahman yang jelas dalam ranah pendidikan.
Apalagi membuktikan bahwa Harun Nasution dan Nurcholish Madjid, tokoh sebagai “Neo Modernisme”. Dari beberapa tulisan tersebut, maka ketika hendak menggunakan label “Neo Modernisme” istilah yang memang dideklarasikan pertama kali oleh Fazlur Rahman, mestinya para tokoh yang terkait disertai juga dengan mengikuti hal yang serupa—sebagaimana yang dilakukan oleh Fazlur Rahman—, yaitu ia harus mengakui bahwa di dalam pemikirannya, baik yang tertulis maupun yang tak tertulis, mengungkapkan ekspisit mengenai “Neo Modernisme”. Bukan malah terkesan “dipaksakan” dengan apa yang digagas oleh Rahman itu. Yang jelas, dari hal tersebut Harun dan Nurcholish, di dalam berbagai tulisannya lebih banyak menggunakan term “Islam Modernis”, “Islam Rasional”, “Islam Zaman Klasik” dan lainnya.
Sehingga kurang tepat, mengatakan Harun dan Nurcholish sebagai tokoh “Neo Modernisme” sedangkan mereka sendiri tidak pernah mengungkapkan “Neo Modernisme” baik dalam hal apapun. Padahal keduanya mengenal baik sosok Fazlur Rahman, namun keduanya mengerti ada situasi yang tidak sama dalam konteksnya di Indonesia, bahwa Harun dan Nurcholish masih terlibat dengan tantangan pemikiran kaum Islam yang normatif-tradisionalis, belum sampai pada concern mengkritik “Modernisme Lama”, sebagaimana yang dihadapi oleh Fazlur Rahman183. Oleh karenanya tepat untuk dikatakan adalah Harun dan Nurcolish bukan termasuk ke dalam tokoh “Neo
182Tita Rostitawati menulis “Neo-Modernisme Fazlur Rahman Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Irfani V 13, no. 1, Juni 2017, h. 106.
183 Fazlur Rahman sendiri bahkan dikritik oleh muridnya, Amien Rais, terutama pada perkataan Rahman yang menilai bahwa potensi Indonesia sebagai negara penyulut kebangkitan Islam, dinilai salah. Bagi Amien, Rahman tidak banyak mengenal hal yang terjadi di Indonesia, sebab kualitas keislaman masyarakat Indonesia ini sangat sporadis dan berbeda-beda satu sama lain. Amien juga menilai
“negatif” terhadap peran Indonesia lantaran kondisi rill masyarakatnya yang masih jauh dari gambaran optimism Rahman. Lihat Mujamil Qamar, Fajar Baru Islam Indonesia, h.183.
Modernisme”, melainkan mereka lebih tepat disebut sebagai tokoh
“Modernisme” atau kaum pemikir modernis, bukan pemikir “Neo Modernis”.
Kendati demikian, pengalaman kehidupan di Barat yang pada mula didominasi oleh otoritas kebenaran Gereja ternyata berlanjut pada pendekatan kekerasan atas ilmuan yang menganut paham berbeda.
Bahkan aktivitas sains sendiri dianggap sebaagai kegiatan yang menyimpang, karena hanya merupakan kegiatan pemborosan. 184 Seperti kasus yang terekam sejarah, ilmuan wanita bernama Hypatia, dibunuh secara brutal oleh kaum fanantik Kristen, perpustakaan Iskandaria yang terkenal kehebatannya dibakar habis beserta seluruh isinya.185 Pada akhir abad ke-14 M terjadi gerakan-gerakan renaisans yang dimulai di Italia dan berusaha mendobrak kejumudan abad pertengahan yang kemudian melahirkan “Abad Modern”, sains semakin menguat dan sebaliknya doktrin agama semakin melemah.186 Sehingga sejak itulah abad modern di Barat mengalami sebuah krisis keagamaan.187 Namun, Harun berpendapat optimis dalam menyikapi pengaruh Barat tersebut dengan pemikiran pembaharuannya dalam Islam.
Pemikiran pembaharuan keagamaan senantiasa menjadi bagian penting dari tradisi Islam sepanjang sejarah perkembangannya. Para pelopor pembaharuan hadir untuk meroknstruksi kepercayaan, pengetahuan, maupun praktek keberagamaan masyarakat Muslim.188 Abad ke-18 M dunia Islam merupakan kenangan dalam abad kejatuhan dan keterpurukan. Ketika itu banyak perbatasan dunia Islam yang terjatuh ke tangan koloanialisme Eropa (Barat). Terutama setelah
184 Ach. Maimun Syamsuddin, Integrasi Multidimensi Agama & Sains, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2012), h. 51.
185 Mirza Mahbub Wijaya, Filsafat Kesatuan Ilmu Pengetahuan, (Semarang:
Fatawa Publishing, 2019), h. 36.
186 Mirza Mahbub Wijaya, Filsafat Kesatuan Ilmu Pengetahuan, h. 37.
187 Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, h. 51.
188 M. Lutfi Mustofa, “Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia: Negoisasi Intelektual Muslim Dengan Modernitas”, dalam Ulul Albab V 12, no. 2, 2011, h. 182.
muncul pengaruh dari renaissance (renaisans) yang melahirkan berbagai penemuan penting pada berbagai bidang ilmu pengetahuan (sains). Seperti mesin tenaga uap yang memberikan dampak revolusi besar-besaran di Barat, hingga memberikan “jalan” Barat untuk memproduksi lebih banyak model teknologi yang mutakhir seperti perkapalan dan teknologi militer.189 Kolonialisme dan imperialisme yang dibawa Barat mengancam sejarah dan identitas politk dan keagamaan kultur Islam.190 Maka, wajar kekhawatiran akan kedatangan Barat “sulit” untuk diterima dengan baik oleh mayoritas umat Islam.
Apalagi melihat kedatangan Barat beserta para pendeta dan lembaga-lembaga misionaris (Gereja, Sekolah, Rumah Sakit dan Penerbitan) yang dianggap oleh banyak umat Islam sebagai senjata dari imperialisme, salah satu aspek kebijaksanaan yang menyingkirkan lembaga-lembaga pribumi, menggantikan bahasa dan sejarah setempat dengan kurikulum yang sesuai Barat, dan menarik perhatian melalui Sekolah dan kesejahteraan sosial.191 Dengan situasi runyam ini, Harun Nasution menyadari bahwa umat Islam memiliki “trauma” atau mengalami kendala psikologis dalam merespon tantangan yang muncul dari Barat.
Kebanyakan Muslim, khususnya Muslim Arab, adalah penerima-penerima besar gagasan Barat. Mereka mengambil dan menyerap pikiran-pikiran dari luar di segala bidang kehidupan tanpa banyak pengaruh yang mengekang.192 Artinya, gagasan-gagasan Barat sudah semakin hari menyebar dan umat Islam mulai membuka wawasan terhadap realitas yang berkembang. Karena perkembangan dan kemajuan sains serta teknologi Modern tidak hanya menuntut adanya suatu cara-cara ekspresi yang populer apalagi sekadar hanya
189 Rusmala Dewi, “Isu-isu Pembaharuan Islam Di Beberapa Negara Perspektif Sejarah”, dalam Nurani V 16, no. 1, Juni, 2016, h. 22.
190 Idrus Ruslan,”Dominasi Barat Dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Islam”, dalam Al-Adyan V 14, no. 1, Januari-Juni, 2019, h. 55.
191 Idrus Ruslan,”Dominasi Barat Dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Islam”, dalam Al-Adyan V 14, no. 1, Januari-Juni, 2019, h. 56.
192 Ahmad Taufik, dkk., Sejarah Pemikiran Dan Tokoh Modernisme Islam, h. 26.
diterjemahkan dengan bahasa pikiran yang praktis, lebih-lebih statis.193 Kemajuan sains dan teknologi Modern yang telah memasuki dunia Islam, terutama setelah pembukaan abad ke-19 M, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan periode Modern. Kontak dengan dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti Rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan sebagainya. Ini menimbulkan persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam mulai memikirkan cara bagaimana mengatasi persoalan-persoalan baru tersebut.194
Sebagaimana yang dilakukan Barat, dunia Islam juga timbul pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan paham-paham keagamaan dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan sains dan teknologi modern. Hal ini kemudian menjadi concern pemikiran pembaharu Muslim seperti Harun Nasution.
Di mana Harun telah mengetahui seluk-beluk kedatangan dan tantangan dari Barat. Sehingga pembaharuan yang dilakukan oleh Harun sangat hati-hati dalam memberikan solusi kepada umat Islam.
Karena bagi Harun, pembaharuan dalam Islam memiliki tujuan yang sama. Dengan titik tekan, bahwa dalam Islam ada ajaran-ajaran yang bersifat mutlak yang tidak dapat diubah-ubah dan yang dapat diubah.
Namun yang jadi fokus pembaharuan Harun, terletak pada ajaran yang tidak mutlak, yaitu penafsiran atau interpretasi dari ajaran-ajaran yang bersifat mutlak itu. Pembaharuan dapat dilakukan mengenai interpretasi atau penafsiran seperti dalam aspek Teologi, Hukum, Politik dan seterusnya dan mengenai lembaga-lembaga.195 Interpretasi tersebut merupakan salah satu bentuk upaya menemukan titik kesesuaian dalam konteks memahami ajaran-ajaran Islam dengan mengikuti perkembangan zaman. Harun mulai dengan mengambil
193 Ahmad Taufik, dkk., Sejarah Pemikiran Dan Tokoh Modernisme Islam, h. 54.
194 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 2011), h. 3.
195 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 2, h. 92.
langkah menjelaskan secara spesifik terkait persoalan apa yang mutlak dan tidak dalam ajaran Islam:
Ajaran-ajaran yang dihasilkan oleh para sahabat, para tabi’in dan para ulama sesudah mereka, tidaklah bersifat absolut dan mutlak benar, tetapi bersifat relatif dan nisbi kebenarannya. Kalau ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-Qur’ān, yaitu yang ayatnya qath’iy al-dalālah, dan ajaran-ajaran Hadis mutawatir mengikat bagi seluruh umat Islam; ajaran-ajaran yang dihasilkan para sahabat, para tabi’in dan para ulama masa silam, tidak mempunyai sifat mengikat.196
Hal ini, yang dilakukan Harun, bertujuan supaya umat Islam tidak terjebak kepada pemahaman keliru sebagai tahap awal memahami kerangka pemikiran pembaharuannya. Karena membedakan hal antara yang mutlak dan tidak mutlak, membantu menganalisa lebih lanjut
Hal ini, yang dilakukan Harun, bertujuan supaya umat Islam tidak terjebak kepada pemahaman keliru sebagai tahap awal memahami kerangka pemikiran pembaharuannya. Karena membedakan hal antara yang mutlak dan tidak mutlak, membantu menganalisa lebih lanjut