• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI HARUN NASUTION

A. Riwayat Hidup dan Pendidikan

Tepat pada tanggal 23 September 1919, Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara.128 Harun dibesarkan di lingkungan keluarga ulama. Ini menjadikan Harun sedari kecil memiliki pertanyaan-pertanyaan kritis. Bahkan dengan pertanyaan itu sering membuat gurunya kerepotan. Tapi, bagi Harun, menerima begitu saja apa yang ditulis dalam buku atau apa yang dikatakan gurunya bertentangan dengan prinsipnya, yang serba ingin mengerti sebab segala sesuatu mengapa dapat terjadi. Curiosity (rasa keingintahuan) akan pengetahuan yang tinggi seolah sudah akrab saat Harun masih kecil. Di sini orang tua Harun berperan cukup signifikan dalam membentuk cikal-bakal intelektualitasnya. Ayahnya, Abdul Jabbar Ahmad, terbiasa mempelajari kitab-kitab Jawa, suka membaca kitab kuning berbahasa Melayu, dan berdiskusi dengan orang yang mengetahui banyak persoalan agama. Meski belajar hanya sekadar cukup mempunyai pengetahuan pada bidang hokum agama atau fiqih, ia juga sibuk dalam berdagang, yang dimulai selepas pulang dari pergi menunaikan ibadah haji saat Harun masih kecil. Ia boleh dikatakan sebagai pedagang yang sukses, terlihat pada kemampuan impor barang dari Singapura.129

Ibunda Harun, sempat tinggal di Mekah dan dapat berbahasa Arab dengan baik. Ibunda Harun ternyata dengan sang Ayah satu marga, yang keduanya terlarang dalam adat untuk menikah. Lantaran berasas pada argumen agama yang membolehkan, maka keduanya tetap

128 Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan Dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution, (Bandung: Mizan, 1995), h. 5.

129 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, (Ciputat: Lembaga Studi Agama Dan Filsafat, 1989), h. 3.

melangsungkan pernikahan. Meski ada sedikit “denda” sosial yang mesti dipenuhi, yaitu menyembelih kerbau dan sebagainya dalam rangka menghargai adat secara umum.

Setelah itu, Ayah Harun mencukupkan ekonomi keluarga dengan berprofesi sebagai kepala agama dan penghulu. Di samping itu Ayah Harun juga bertani. Ia punya kebun karet, salak, kayu manis, kelapa, bahkan kolam ikan. Harun memiliki kakak-adik; kakak tertua, H.

Mohammad Ayyub yang beda 10 tahun dari Harun dan berprofesi sebagai pedagang, kakak kedua, H. Khalil yang menjadi pegawai Departemen Agama di Pematang Siantar, kakak ketiga, Sa’idah yang pandai dalam memasak dan menjahit. Lalu Adik perempuan, Hafshah yang tinggal di Penyabungan.130

Karena dianggap ilmu agama yang dimiliki Harun sudah cukup, maka ia dimasukkan di Sekolah Belanda oleh orang tuanya. Harun masuk sekolah Belanda, HIS131, selama tujuh tahun dan belajar bahasa Belanda beserta ilmu pengetahuan umum. Di sekolahnya ini, Harun menyenangi pelajaran pengetahuan alam dan sejarah. Ini juga menarik minat Harun bercita-cita menjadi seorang guru, yang menurut ibunya, membuat orang pintar pahalanya besar. Selain itu, di sekolah Harun juga belajar menulis bahasa Arab dikarenakan masyarakat pada saat itu masih menggunakan Arab Melayu. Sedangkan di rumah Harun menggunakan waktunya untuk belajar mengaji. Keseimbangan antara ilmu agama dan pengetahuan umum ini yang kelak menjadikan Harun terbiasa dalam memandang keilmuan secara proporsional.

Setamat dari HIS, Harun diarahkan oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di Bukittinggi, Moderne Islamietische Kweekschool (MIK) pada tahun 1934. Di mana Sekolah ini adalah Sekolah Menengah Pertama Swasta modern milik Abdul Ghafar

130 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 5.

131 HIS merupakan kepanjangan dari Hollandsch-Inlandsche School, Sekolah yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Jambek, putra Syekh Jamil Jambek132. Meski pada awalnya, Harun sempat mempunyai rencana untuk bersekolah di pilihannya, MULO133, namun ia lebih mematuhi arahan dari kedua orang tua. Dari sekolah barunya itu, Harun mulai belajar dan mengenal bahwa memelihara anjing tidak haram, tidak mesti punya wudhu untuk mengangkat al-Qur’ȃn, perbedaan antara al-Qur’ȃn dengan kertas biasa. Begitu pula perbedaan dalam sholat, memakai uṣalli atau tidak, yang bagi Harun itu sama saja.134

Akan tetapi, sekolah swasta saat itu miskin, maka banyak yang tidak mampu menggaji guru. Akibatnya seberapa pun rajin siswa dalam belajar, mereka tidak mampu bersekolah dengan baik. Mengetahui kondisi sekolah yang tidak lagi kondusif untuk belajar, maka Harun memutuskan untuk pindah sekolah. Rencana yang terlintas di pikiran Harun adalah ia hendak melanjutkan sekolah Muhammadiyah di Solo, yang dianggap kondusif bagi pemikirannya. Namun, semenjak Harun dianggap memiliki pandangan yang progresif—berbeda dari pandangan kaum Nahdhatul Ulama waktu itu—maka ia dianggap oleh orang tuanya telah melakukan penyimpangan. Kakak Harun, Mohammad Ayyub, yang mengerti banyak hal tentang persoalan agama, dapat memahami pemikiran Harun. Sekali pun pemikiran Harun sudah tidak lagi sama dengan pemikiran yang berkembang dalam tradisi keluarganya dulu. Tetapi kondisi sosial Harun pada saat itu memang cukup beralasan untuk dimengerti, yang tidak mengakui dan menerima adanya perbedaan tersebut. Dikarenakan saat itu, ada pandangan bahwa

132 Syeikh Jamil Jambek (w.1947) adalah seorang Ulama kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat. Beliau memiliki pandangan pembaharuan Islam sekaligus menjadi pelopornya di daerah Minangkabau. Ilmu falaq hingga pun ilmu tasawuf dikusainya.

Lihat Romdoni Muslim, 70 Tokoh Muslim Indonesia: Pola Pikir, Gagasan, Kiprah Dan Falsafah, (Jakarta: Restu Ilahi, 2005), h. 15.

133MULO merupakan kepanjangan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama pada masa penjajahan Belanda.

134 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 7.

suami yang telah masuk atau bergabung di Muhammadiyah135 maka dianggap kafir dan membawa konflik permusuhan berkepanjangan.136

Ini yang dikhawatirkan oleh orang tua Harun, apabila ia berbeda pandangan dari keluarganya, yang kelak akan berpotensi menyeretnya ke dalam konflik panas yang tidak berkesudahan itu. Atas pertimbangan yang matang, kedua orang tua Harun merekomendasikan untuk melanjutkan sekolah ke Mekah. Dengan mengikuti nasehat orang tuanya, Harun berkonsultasi segera kepada seorang guru yang terkemuka di Padang, Mukhtar Yahya, alumi Mesir. Dari Muktar Yahya, Harun diceritakan banyak hal mengenai Mesir hingga timbul rasa penasarannya. Sebelum berangkat ke Mekah, Harun telah memiliki bekal keilmuan yang cukup. Gagasan-gagasan baru Harun telah diperoleh dan dipicu dari perkenalannya dengan gagasan Hamka, Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad dan Jamil Jambek. Lalu, dalam hal tafsir, Harun mengenal banyak dari putra Jamil Jambek, Abdul Ghaffar Jambek.137

Setiba di Mekah, Harun terkejut melihat suasana yang ada di sekitar sana tidak sama seperti apa yang dibayangkannya. Harun membayangkan bahwa di abad ke-20 mestinya kendaraan beroda empat, mobil, sudah biasa menjadi kendaraan umum. Namun kenyataannya, Harun mendapati kesan Mekah seperti suasana hidup pada masa abad pertengahan di abad modern. Dengan kondisi sistem sekolah juga

135 Muhammadiyah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan (18 November 1912) di Yogyakarta merupakan gerakan pembaharuan Islam yang terbesar di Indonesia. Lihat Weinata Sairin, Gerakan Pembaruan Muhammadiyah, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2008), h. 21. Selain itu, Muhammadiyah memiliki pengaruh kuat dalam menciptakan semangat keislaman yang inklusif, yang tidak berputar ke dalam (inward-looking) dan memandang dirinya sebagai pusatnya tapi mampu bergerak keluar dan berintegrasi dengan nilai-nilai yang universal. Lihat Jamhari dan Jajang Jahroni, ed., Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), h. 233.

136 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 9.

137 Harun di usia muda sudah banyak mengenal dan dipengaruhi pemikiran Islam yang progresif dari kalangan tokoh Muhammadiyah.

masih tradisionalis, Harun berupaya menerima dan meneruskan studinya. Harun mulai melancarkan bahasa Arab, karena di sekolah menggunakan bahasa Arab. Abdussalam yang dari Medan, membantu Harun mempelajari bahasa Arab.

Hanya saja, Harun kembali merasa tidak kondusif dalam belajar. Ia banyak menghabiskan waktu dengan meminum kopi dan akrab bercengkrama bersama teman-teman yang kurang semangat dalam belajar. Tetapi, prioritas membaca buku bagi Harun tidak dapat tergantikan dalam kesehariannya. Apalagi membaca buku-buku berbahasa Belanda, yang juga cukup minat dibaca oleh Harun. Ia tinggal serumah bersama sepupunya, Maddin Malik, yang juga dari Medan. Meski Maddin banyak membaca literatur berbahasa Arab, tapi ia tidak begitu memahami lebih dalam tentang apa yang dibacanya.

Dan Harun membantu Maddin dalam pemahaman tersebut. Harun dan Maddin banyak bertukar wawasan dan pengetahuan, selama satu tahun.

Setelah itu, Maddin pergi ke Yaman dan meninggalkan Harun sendirian.138 Harun menulis pesan kepada kedua orang tuanya bahwa ia sudah tidak sanggup untuk bersekolah di Mekah dan memberi

“ultimatum” supaya dibolehkan sekolah ke Mesir. Dengan alasan tidak akan pulang ke Indonesia sebelum bisa sekolah di Mesir. Pada akhirnya, Harun disetujui dan dikirimi uang saku guna keberangkatannya ke Mesir. Harun di Mesir tinggal bersama pelajar dari Tapanuli.

Universitas Al-Azhar menjadi pilihan Harun, akan tetapi mesti lolos persyaratan masuk yang tidak mudah. Banyak yang memberi saran Harun untuk menggaji guru asli Mesir, supaya ia dapat banyak belajar materi tentang bahasa Arab. Sehingga Harun pun berhasil lolos dan diterima Universitas Al-Azhar, Fakultas Ushuluddin.

Bagi Harun, Fakultas Ushuluddin memiliki pelajaran umum yang menarik minatnya, seperti filsafat139, etika, ilmu jiwa. Ada juga

138 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 12.

139Filsafat merupakan kegiatan mencintai sebuah pengetahuan/kebijaksanaan dengan mempertanyakan sesuatu secara mendasar dan menyeluruh. Dengan

pelajaran bahasa Inggris dan Perancis, selain berbahasa Arab. Karena sudah terbiasa melatih kemampuan bahasa Inggris, Belanda, Perancis, akhirnya Harun mudah menguasai, bahkan mengungguli pelajaran di kelas. Kemampuan ini diperoleh saat Harun mengajar teman-temannya di Mekah.140

Kendati demikian, Harun tidak merasa puas dan melanjutkan studinya di Universitas Amerika yang masih berlokasi di Mesir. Di Universitas barunya, Harun diminta oleh dosennya untuk membuat karya ilmiah tentang perburuhan di Indonesia. Karena dosennya ingin mengetahui perbandingan buruh di Mesir dan di Indonesia. Kegiatan Harun selain kuliah, juga terlibat ke dalam perkumpulan “politik” yang dibentuk bersama teman-temannya, yang mayoritas kalangan pesantren tapi tidak tahu sejarah Indonesia. Ia berharap dari perkumpulan itu menjadi sebuah wadah untuk mengenalkan Indonesia ke bangsa Mesir sekaligus meningkatkan semangat nasionalisme. Bahkan, Harun membuat temannya terkejut dan kagum melihat jiwa nasionalismenya yang kuat, yang muncul dari lulusan sekolah Belanda.141

Di samping itu, tidak sedikit bangsa Mesir yang merendahkan bangsa Indonesia, akibat kesusahan dijajah oleh Belanda. Namun, perkumpulan tersebut mulai bergerak aktif di berbagai forum-forum diskusi, ceramah atau pertemuan, yang peluang ini dimanfaatkan oleh Harun dan temannya dalam membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia. Perkumpulan ini pun sampai membentuk jaringan luas ke perkumpulan Indonesia di Belanda dan Tokyo.

demikian, Filsafat mendorong upaya terus-menerus mencari pengetahuan dan kebenaran. Lihat Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu Dari Klasik Hingga Kontemporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 2. Harun justru kenal dan mempelajari Filsafat pertama kali saat ia studi di Mesir, Universitas Al-Azhar.

140 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 14.

141 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 16.

Hanya saja itu semua tidak berlangsung lama, dan perang dunia terjadi. Tentara Jepang menjajah Indonesia. Disusul hubungan Indonesia-Mesir yang terputus. Lalu uang kiriman Harun yang terhenti.

Bahkan kuliah Harun di Universitas Amerika terbengkalai. Keadaan Harun benar-benar mengenaskan, terlihat dari baju dan sepatunya yang rusak dan tidak mampu diganti dengan yang baru. Tetapi, karena bahasa Belanda Harun begitu lancar, maka ia ditunjuk menghadap ke Kedutaan Belanda untuk meminta bantuan uang. Dan dengan uang itu, Harun dan temannya menyisihkan sebagian guna membeli kertas, mesin ketik untuk membuat siaran bahasa Inggris dan Arab.142

Selain itu, Harun juga mencari pekerjaan tambahan guna meneruskan kuliahnya di Universitas Amerika143. Ia bersedia menjadi tentara Inggris dan juru tulis “klerk” berbahasa Inggris. Meski akhirnya, Harun memilih mengundurkan diri dari pekerjaan tentaranya, yang disebabkan tidak tahan dengan sikap sombong, disiplin militer yang ketat dan kasar tentara Inggris.144 Begitu pula dengan juru tulis.

Kemudian Harun memilih menikah dengan istrinya yang orang Mesir dan mendapatkan pekerjaan yang baru, karena mampu berbahasa Belanda di Phillips SA, perusahaan radio dan lampu.

Di perusahaan baru Harun, ada orang Yahudi yang berbahasa Perancis, selain yang dari Mesir dan Itali. Lingkungan kerja demikian membawa Harun mudah akrab dengan bahasa Perancis, hingga mampu membaca surat kabar berbahasa Perancis. Namun, setelah tiga tahun di perusahaan tersebut, Harun diminta bekerja di Kantor Delegasi RI.145

142 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 18.

143 Harun pun berhasil meraih gelar Bachelor of Art (BA) studinya di Universitas Amerika tahun 1952.

144 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 19.

145 Momen ini merupakan kesempatan berharga Harun Nasution dalam mengabdikan diri untuk Tanah Airnya, Indonesia, yang baru merdeka. Meski awalnya Harun sempat tidak percaya bahwa Indonesia mampu meraih kemerdekaan.

Setelah memastikan informasi kemerdekaan Indonesia lewat radio Bandung, Harun pun membentuk Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia (PKI). Di mana PKI aktif memberitakan kemerdekaan Indonesia di Mesir, dunia Arab. Harun bersama temannya seketika memutuskan hubungan dengan Kedutaan Belanda. Dan mereka membakar paspor Belanda. Meski dampak yang ditimbulkan dari itu adalah Belanda tidak lagi memberi bantuan berupa uang. Namun, Pemerintah Mesir yang mengetahui kondisi Harun dan temannya, hendak menolong dengan bantuan uang. Disusul juga dengan bantuan dari Liga Arab yang mengakui kemerdekaan Indonesia.146 Tentu saja ini berkat kerja keras Harun dan temannya dalam menerapkan strategi politis.

Tahun 1947, Indonesia mengirimkan banyak delegasi ke Timur Tengah. Yang pertama kali diketuai oleh Agus Salim, Menteri Luar Negeri. Lalu generasi berikutnya, di masa Presiden Suharto, HM.

Rasjidi ditunjuk sebagai ketua dan ditugaskan menempati kantor delegasi Indonesia di Mesir. Dari sini Harun sebagai anggota delegasi Indonesia, pertama kali mengenal sosok HM. Rasjidi.147 Harun dan HM.

Rasjidi bekerja sama dalam delegasi Indonesia di Mesir.

Tahun 1954, Harun ditugaskan ke Saudi untuk membantu Kedutaan RI di Jeddah mengurus jamaah haji. Setahun kemudian, Harun ditugaskan ke Belgia untuk bekerja di Kedutaan RI di Brussels, sebab mampu menguasai bahasa Belanda, Perancis dan Inggris.148 Harun sungguh senang mampu bekerja di Kedutaan RI, selain mengabdi untuk Tanah Air, juga segala kebutuhannya tecukupi dengan baik. Namun, suasana nyaman itu sirna ketika pilihan Harun untuk anti

146 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 23.

147 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 24.

148 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 27.

terhadap komunis. Yang jelas bagi Harun ialah ia memilih tidak sejalan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ditambah hal tak terduga ketika Soekarno menjalin kerja sama dengan PKI, Harun mendadak tidak lagi menyukainya. Harun pun mendapat surat pernyatataan mundur dari Kedutaan RI di Brussels, lantaran anti terhadap PKI. Tapi Harun bersama istrinya tidak ingin pulang ke Indonesia. Karena besar kemungkinan saat ia pulang akan menerima berbagai perlakuan yang tidak menyenangkan akibat pilihan anti komunisnya. Tidak mendapat visa dari teman-temannya dan mendapat larangan untuk memasuki Negara sahabat. Lalu saat itu, rumah Harun mulai ditempeli

“disewakan”, dan Harun pun mendapat telpon dari temannya orang Syiria bahwa ternyata ada orang Kedutaan Mesir yang ingin menyewa rumahnya. Setelah Harun mengajaknya berbincang dan sama-sama sepakat. Hingga akhirnya, lewat negoisasi yang baik, Harun berhasil mendapat visa ke Mesir dari orang Kedutaan tersebut.149

Tahun 1960, dengan sisa tabungan uang yang cukup di bank, Harun bersama istrinya mencoba bertahan hidup di Mesir. Harun kembali memutuskan untuk belajar Islam. Tapi tidak di Universitas al-Azhar, melainkan di al-Dirasat al-Islamiyyah. Di sina Harun kembali bertemu dengan filsafat, sejarah, dan perkembangan dunia Islam.

Bahkan di tempat belajar barunya itu, ia merasa menemukan suasana belajar yang selama ini dicari. Harun berjumpa dengan pemikiran rasional. Yang menarik, ternyata yang mengajarkan Harun ialah dosen dari al-Azhar, tapi pemikirannya modern. Dengan begitu Harun menjadi kagum.150 Hal lain yang menjadi kekurangannya adalah dosen-dosennya honorer yang berasal dari kalangan pejabat. Apabila mereka sedang sibuk maka, mereka tidak dapat mengajar. Ini membuat Harun tidak betah dan memutuskan untuk belajar dengan membaca buku sendiri. Harun mengetahui buku-buku Islam banyak di Belanda, dan

149 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 29.

150 Harun merasa kagum dan terinspirasi belajar Islam yang modern, sejak di Mesir. Ini menunjukkan bahwa Harun tidak semata taken for granted terpengaruh Orientalis yang ada di Barat saat kelak melanjutkan studi di sana.

memutuskan pergi ke sana. Bersama temannya, orang Kedutaan Indonesia di Den Haag, Harun diajak mampir ke toko buku dan membeli buku-buku Islam. Harun membeli buku Islam yang ditulis Orientalis151, dan mendapatkan kesan Islam yang selama ini dicari olehnya. Harun semakin tertarik dan mencari majalah-majalah yang berbahasa Inggris, yang dikarang orang Islam. Tapi yang dijumpainya malah surat kabar Ahmadiyah terbitan London. Namun, dengan begitu Harun justru dengan merasa menemukan Islam yang rasional152 dan semakin penasaran dengan Islam.

Dari bacaan yang beraneka ragam sumber keislaman, Harun mulai mengungkapkan pemikirannya kepada orang lain, namun cenderung mendapat respon yang memicu keributan. Meski ada sebagian yang lain, menganggap Harun mengerti Islam dengan baik. “Masjid ini mesti diubah,” kata kolega Departemen Luar Negeri yang berasal dari Minangkabau, yang terus diingat oleh Harun ketika berdialog dengannya sekaligus menjadi motivasi dalam mengubah pendapat umat Islam yang mengalami kemunduran. Dengan usaha yang tidak mudah, sebab keuangan Harun mulai menipis, tapi ia tetap menjaga sholat malam dan istiqarah. Kemudian Harun mendapat panggilan sekolah dari McGill di Kanada.153

Tahun 1962, Harun pergi ke McGill untuk meneruskan studinya.

Di sana pemikiran Harun seolah “bersemi” karena merasa ada kecocokan dalam pola pembelajarannya. Harun merasa menemukan pemahaman keislamannya semakin utuh, terutama dalam pemikiran Islam yang bercorak rasional. Kendati demikian, Harun sangat menyadari bahwa buku-buku Islam yang dipelajarinya berasal dari karangan Orientalis. Tapi, Harun mengaku tidak dipengaruhi oleh

151 Di Belanda ini Harun mulai mengenal bacaan-bacaan Islam yang ditulis oleh Orientalis.

152 Ini menjadi langkah awal Harun dalam memasuki Islam yang rasional dan menyikapi tantangan umat Islam yang berkembang.

153 Zaim Uchrowi dan Ahmadie Thaha, ed., “Riwayat Hidup Prof. Dr. Harun Nasution,” Tim Panitia, Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution, h. 32.

pemikiran Orientalis.154 Harun hanya ingin mengambil pandangan-pandangan modern di dalam Islam yang dikaji oleh Barat.155 Sekali pun itu berasal dari Orientalis.

Dari McGill Harun mendapat pela jaran yang berharga.

Yakni, mengenal Islam “dari dalam” dan “dari luar”. Terlebih metode kuliah dengan dialog dan semua mata kuliah diseminarkan, ini memberi kesan mendalam bagi pengalaman Harun belajar Islam. Lalu, setelah menyelesaikan studi di McGill selama dua setengah tahun dan meraih gelar MA 156 . Harun pun melanjutkan studinya untuk memperoleh gelar Ph.D157 di tempat yang sama dan selesai pada tahun 1968. Disertasi yang diselesaikan Harun mengenai Muhammad Abduh dan Mu’tazilah mendapat ragam respon. Yang pada umumnya direspon dengan jawaban tidak setuju terhadap kajian seputar Mu’tazilah.

Namun, Harun menegaskan bahwa sudah sepatutnya kajian ilmiah mesti disikapi dengan hal yang juga ilmiah.158 Adalah konsekuensi dari sebuah lembaga ilmiah untuk memperlakukan penelitian ilmiah dengan sikap yang adil.

Selesai studi doktoral, tahun 1969, Harun mendapat tawaran untuk mengajar di Indonesia, dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia (UI). Namun hanya IAIN yang mampu memberikan fasilitas tempat tinggal untuk Harun.

Selesai studi doktoral, tahun 1969, Harun mendapat tawaran untuk mengajar di Indonesia, dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Indonesia (UI). Namun hanya IAIN yang mampu memberikan fasilitas tempat tinggal untuk Harun.

Dokumen terkait