Menurut pasal 1023 KUHPerdata, kepada para ahliwaris diberi hak untuk berpikir lebih dulu untuk dapat menyelidiki keadaan warisan. Cara untuk mempergunakan hak berpikir, dengan memberi pernyataan kepada Pengadilan Negeri setempat. Setelah itu seorang ahliwaris dapat menentukan sikapnya. 24
Di dalam menentukan sikap, ada 3 (tiga) kemungkinan : 1. Menerima warisan secara murni.
2. Menerima secara benefisier, atau dengan hak istimewa untuk mengadakan pencatatan harta warisan.
3. Menolak warisan.
Selanjutnya pasal 1024 KUHPerdata, menentukan: hak berpikir diberikan selama 4 (empat) bulan, namun pengadilan dapat memperpanjang atas dasar alasan yang mendesak satu atau beberapa kali.
Dalam praktek tidak banyak ahliwaris menggunakan haknya untuk berpikir. Biasanya langsung menentukan pilihan “menerima dengan murni”.
1. Akibat menerima warisan secara murni.
Ahliwaris atau para ahliwaris yang menerima warisan secara murni, baik secara diam-diam maupun dengan tegas (pasal 1048 KUHPerdata), bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kewajiban yang melekat pada harta warisan,artinya ashliwaris harus menanggung segala macam utang-utang si pewaris.25
24Ali Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata (BW), (Jakarta: Bina Aksara, 1983), hlm. 56.
25Eman Suparman, Intisari Hukum Waris Indonesia, (Bandung: Armico, 1985), hlm.41.
Lihat juga Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia,(Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), hlm.3.
Aktiva (harta kekayaan) dan Passiva (Utang), dengan sendirinya berpindah kepada ahliwaris. Hak untuk menerima warisan secara murni, lewat waktu (daluwarsa) setelah 30 (tiga puluh) tahun (pasal 1055 KUHPerdata).
Kalau sudah menyatakan menerima dengan murni, maka tidak mungkin lagi menerima secara benefisier. Akan tetapi ahliwaris yang sudah menerima secara benefisier, ia masih dapat menerima secara murni.
Ahliwaris yang sudah menerima secara murni atausecara benefisier, tidak dapat lagi menolak warisan.26 Ahliwaris yang sudah menolak warisan, tidak dapat lagi menerima dengan cara bagaimana pun juga, kecuali jika harta warisan belum dibagi, ia masih dapat menerimanya (pasal 1056 KUHPerdata).
2. Akibat menerima warisan secara benefisier.
Menurut pasal 1032 ayat (1) dan ayat (2) KUHPerdata, ahliwaris hanya bertanggung jawab terhadap utang-utang yang ditinggalkan si pewaris sepanjang harta warisan yang ditinggalkan cukup untuk membayar utang itu.
Harta warisan terpisah dari harta kekayaan pribadi ahliwaris atau dengan kata lain tidak terjadi percampuran harta kekayaan (confusio) antara kekayaan ahliwaris dengan harta warisan. Tidak semua ahliwaris dapat memilih salah satu dari 3 (tiga) kemungkinan sebagimana ditentukan dalam pasal 1023 KUHPerdata. Ada yang oleh undang-undang diwajibkan secara benefisier, yaitu :
1. Ahliwaris dari pewaris dalam keadaan tidak hadir, 2. Wali, dan
3. Negara.
26Hartono Soerjopratiknjo, op.cit., hlm. 69.
Kewajiban ahliwaris benefisier, ditentukan dalampasal 1033 KUHPerdata, yang berbunyi, sebagai berikut:
Ahliwaris yang telah menerima warisan dengan hak istimewa untuk mengadakan pencatatan, wajib mengurus barang-barang yang termasuk harta warisan itu sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik, dan secepatnya
menyelesaikan urusan warisan itu; ia wajib memberi pertanggung jawaban kepada para kreditur dan penerima hibah wasiat.
3.Akibat menolak warisan.
Pasal 1057 KUHPerdata, berbunyi sebagai berikut : penolakan suatu warisan harus dilakukan dengan tegas, dan harus terjadi dengan cara memberikan pernyataan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya warisan itu terbuka.
Akibat penolakan suatu warisan, diatur dalam pasal 1058, 1059 dan 1060 KUHPerdata.
Ahliwaris yang menolak warisan dainggap tidak pernah menjadi ahliwaris (pasal 1058 KUHPerdata). Bagian yang menolak ditambahkan (aanwas) kepada bagian ahliwaris yang menerima (pasal 1059 KUHPerdata). Selanjutnya menurut pasal 1060 KUHPerdata, dalam hal penolakan tidak ada penggantian tempat, kecuali atas kedudukan sendiri. Ketentuan ini secara analogi berlaku terhadap mereka yang onwaardig.
Kemudian, cara perhitungan menurut pasal 1058 KUHPerdata bisa sama dengan pasal 1059 KUHPerdata, dan bisa juga tidak. Jika tidak, makapasal 1058 KUHPerdata yang digunakan. Tetapi dalamhal tertentu berdasarkan keadilan dan kepatutan ada kemungkinan pasal 1058 KUHPerdata mengalah kepada pasal 1059 KUHPerdata. 27
Alasan untuk menolak warisan ini umumnya bukan karena takut mengorbankan harta kekayaan pribadinya untuk membayar utang-utang yang ditinggalkan si pewaris, tetapi lebih pada bahwa yang bersangkutan sudah cukup
kaya atau sudah hidup berkecukupan, sehingga kawan waris lainnya pun juga dapat hidup berkecukupan.28
Hak untukmenolak warisan tidak mengenal daluwarsa (pasal 1062 KUHPerdata).
Selanjutnya, contoh pembagian menurut pasal 1058 KUHPerdata sama dengan pasal 1059 KUHPerdata.29
Lihat gambar :
P B
C D
P, meninggal dunia, meninggalkan istrinya bernama B dan dua orang anak, C dan D. C menolak warisan. Menurut pasal 1058, C dianggap tidak ada, maka B = D = ½ (setengah bagian).
Menurut pasal 1059, warisan dibagi 3 (tiga) dulu,B = C = D = 1/3 (sepertiga) bagian. Kemudian bagian C 1/3 (sepertiga) bagian dibagikan lagi kepada B dan D, sehingga B = D = ½ (setengah) bagian. Dalam hal ini digunakan pasal 1058 atau pasal 1059, sama saja hasilnya, yaitu B = D = ½ (setengah) bagian.
27Hartono Soerjopratiknjo, ibid., hlm. 109.
28Anisitus Amanat, Membagi Warisan Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata BW,(Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 36.
29Effendi Perangin, op.cit., hlm. 171.
Contoh : pembagian menurut pasal 1058 tidak sama dengan pasal 1059.30 Lihat Gambar:
P B
C D E
F G
P, meninggal dunia, meninggalkan istrinya bernama B, dua orang anak C dan D dan dua orang cucu F dan G anak dari E, E meninggal lebih dulu dari P. G menolak warisan.
Pembagian menurut pasal 1058 KUHPerdata, maka B = C = D = F = ¼ (seperempat) bagian. Tetapi jika perhitungan dilakukan menurut pasal 1059 KUHPerdata, bagian G = 1/8 (seperdelapan) bagian, kemudian dibagikan kepada ahliwaris yang lain, maka bagian F akan lebih kecil dari ¼ (seperempat) bagian. Dalam hal ini digunakan pasal 1058 KUHPerdata, yang menguntungkan semua ahliwaris.
Mengenai pasal 1058 berdasarkan keadilan dan kepatutan mengalah kepada pasal 1059 (sebagai kekecualian), tidak diberikan contoh disini.31
30Effendi Perangin, ibid., hlm. 173. 31Effendi Perangin,, ibid., hlm. 180.
F. INBRENG (Pemasukan)
Tentang inbreng ini dalam sistematika KUHPerdata diatur dalam bab XVII (Tentang Pembagian Harta Warisan), bagian kedua, Buku II, Pasal 1086 sampai dengan Pasal 1099 KUHPerdata.
Pembahasannya dilakukan dalam sistem pewarisan ab Intestato ini maksudnya agar dapat memudahkan perhitungan pembagian harta warisan manakala ada hibah dari pewaris (semasa hidupnya) kepada ahliwaris/para ahliwarisnya.
Inbreng, berarti : “memperhitungkan pemberian-pemberian yang dilakukan oleh si pewaris pada waktu ia masih hidup kepada ahliwaris”. (pasal 1086 KUHPerdata)
Selanjutnya ketentuan pasal 1086 KUHPerdata ini menentukan yang wajib inbreng, ialah :
1. Ahliwaris dalam garis lurus ke bawah, baik anak sah maupun luar kawin yang diakui (termasuk ahliwaris penggantian tempat).
2. Ahliwaris lain, jika pewaris mewajibkannya (ahliwaris ab Intestato dan testamenter)
Contoh : P, meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak bernama A dan B. Harta warisan berjumlah Rp. 12.000.000,-. Semasa hidupnya, P pernah memberi hibah kepada A sebesar Rp. 4.000.000,-. Berapa besar bagian masing- masing?32
Dalam hal ini, maka : A harus inbreng sebesar Rp. 4.000.000 ke dalam harta
32Lihat juga contoh dari J. Satrio, op.cit. hlm. 305.
warisan, sehingga harta warisan berjumlah Rp. 12.000.0000+Rp. 4.000.000=Rp. 16.000.0000. A = B = ½ x Rp. 16.000.000 = Rp. 8.000.000. Jadi A masih mendapat Rp. 4.000.000 lagi dari harta warisan,s edangkan B mendapat Rp. 12.000.000 – Rp. 4.000.0000 = Rp. 8.000.000.
Bagaimana kalau yang dimasukannya (INBRENG) akan lebih besar dari apa yang akan diterimanya? Maka untuk menghindari jangan sampai ahliwaris yang bersangkutan menolak warisan, diadakan ketentuan Pasal 1088 KUHPerdata, yang menentukan: ahliwaris penerima hibah hanya memberikan inbreng sebesar yang ia terima dari warisan saja.
Contoh :
P, meninggal dunia, meninggalkan 3 (tiga) orang anak bernama A, B dan C. Kepada A, semasa hidupnya P pernah menghibahkan barang senilai Rp. 50.000.000. Harta warisan berjumlah Rp. 70.000.000. Berapa besar bagian masing-masing?
Jika A melakukan inbreng sebesar Rp. 50.000.000, maka harta warisan berjumlah Rp. 70.000.000+Rp. 50.000.000 = Rp. 120.000.000, sehingga A = B = C = 1/3 x Rp. 120.000.000 = Rp. 40.000.000.
A, ternyata memasukkan lebih banyak dibanding dengan apa yang ia terima kemudian. Ia memasukkan Rp. 50.000.000 tetapi ia kemudian menerima Rp. 40.000.000. Untuk menghindari agar A tidak menolak warisan, maka pasal 1088 KUHPerdata menentukan : A hanya wajib memasukkan sebesar yang ia terima dari harta warisan.
Cara penyelesaiannya :
Berapa besarnya yang akan diterima oleh A dari harta warisan? Kita harus menghitung dulu besarnya bagian B dan C dari harta warisan. Perhitungannya : B = C = ½ x Rp. 70.000.000 = Rp. 35.000.000. Oleh karena B dan C, msing-masing
menerima sebesar Rp. 35.000.000, maka A pun akan mendapat bagian yang sama, yaitu sebesar Rp. 35.000.000.
Oleh karena itu A, hanya wajib inbreng sebesar Rp. 35.000.000, untuk ia terima kembali sebesar 1/3 x (Rp. 70.000.000+Rp. 35.000.000) = Rp. 35.000.000. hasil akhir dari contoh ini, maka B dan C masing-masing akan mendapat, ½ x Rp. 70.000.000 = Rp. 35.000.000, sedangkan A tidak mendapat bagian lagi.
Pemberian-Pemberian Apa Saja Yang Harus Diperhitungkan (Diinbreng)?
Menurut pasal 1086 KUHPerdata, yang harus diinbreng adalah semua hibah yang diperoleh dari si pewaris. Selanjutnya pasal 1096 KUHPerdata, menentukan lebih lanjut : selain hibah menurut pasal 1086 KUHPerdata, juga termasuk segala sesuatu yang telah diberikan untuk menyediakan kedudukan, pekerjaan atau perusahaan kepada ahliwaris, atau untuk membayar utang-utangnya, dans egala sesuatu yang diberikan kepadanya sebagai pesangon untuk perkawinan.
Sedangkan pemberian-pemberian yang tidak perlu diperhitungkan adalah pemberian-pemberian sebagaimana ditentukan dalam pasal 1097 KUHPerdata, sebagai berikut: biaya pemeliharaan dan pendidikan; biaya untuk pemeliharaan hidup; pengeluaran untuk memperoleh keahlian dalam bidang perdagangan, kesenian, pekerjaan tangan atau perusahaan; biayas ekolah; biaya pernikahan; pakaian dan perhiasan untuk perlengkapan perkawinan.
Ketentuan terakhir dari inbreng ini yaitu pasal 1099 KUHPerdata, menentukan bahwa : segala sesuatu yang telah musnah karena suatu malapetaka dan di luar salahnya si penerima hibah, tidak usah diperhitungkan.