• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penafsiran Surat Wasiat

Dalam dokumen Hukum Waris Perdata badan hukum perdata (Halaman 44-49)

Suatu surat wasiat dapat ditafsirkan secara umum dan secara khusus.35 Penafsiran secara umum termuat dalam pasal 885, pasal 866 dan pasal 887 KUHPerdata, sedangkan penafsiran secara khusus diatur dalam pasal 877 dan 878 KUHPerdata.

Pasal 885 KUHPerdata, berbunyi: Bila kata-kata sebuah surat wasiat telah jelas, maka tidak boleh ditafsirkan dengan menyimpang dari kata-kata itu. Selanjutnya pasal 886 KUHPerdata, menentukan: bila kata-kata dalam surat itu dapat ditafsirkan secara berbeda-beda menurut berbagai pendapat, maka yang harus diselidiki adalah maksud dari si pewaris.

Dalam hal penafsiran secara khusus, pasal 878 KUHPerdata menentukan:

35Gregor van der Burght, op.cit., hlm.124.

Ketetapan, dengan surat wasiat untuk kepentingan orang-orang miskin tanpa penjelasan lebih lanjut, dianggap telah dibuat untuk kepentingan semuaorang yang menyandang sengsara tanpa membedakan agama yang dianut, dalam lembaga fakir miskin di tempat warisan itu terbuka.

Pengaruh Paksaan, Penipuan, Kehilafan, Terhadap Surat Wasiat.

Menurut pasal 893 KUHPerdata, paksaan dan penipuan mengakibatkan surat wasiat menjadi batal. Kehilafan pada umumnya tidak menyebabkan surat

wasiat menjadi batal, kecualia pabila alasan palsu tercantum dalam surat wasiat itu (pasal 890 KUHPerdata).

I. Isi Surat Wasiat (Making)

Isi surat wasiat adalah kehendak terakhir dari si pewaris, disebut pula dengan istilah : making.

Menurut pasal 876 KUHPerdata, isi surat wasiat dapat diberikan dengan: 1. alas hak umum, disebut erfstelling. Dalam hal ini si pewaris memberikan

“bagian tertentu”, misalnya: ½ bagian, 1/3 bagian atau ¼ bagian dan lain-lain. Lebih lanjut pengertian erfstelling ditentukan dalam pasal 954 KUHPerdata, sebagai berikut: wasiat pengangkatan ahliwaris ialah suatu wasiat dimana pewaris memberikan kepada satu orang atau lebih harta benda yang ditinggalkannya pada waktu dia meninggal dunia, baik seluruhnya maupun sebagian seperti seperdua atau sepertiga. Yang menerima erfstelling, disebut: ahliwaris testamenter, kedudukannya sama dengan ahliwaris ab intestato (pasal 955 KUHPerdata). Perbedaannya ialah bahwa ahliwaris ini tidak menggantikan tempat (pasal 899 KUHPerdata), di samping itu ahliwaris testamenter tidak menikmati atau mengenal inbreng.36

2. dengan alas hak khusus, disebut legaat (hibah wasiat). Dalam hal ini si pewaris memberikan “barang tertentu”, misalnya: sebuah mobil, sebidang tanah, termasuk barang “generik”,misalnya semua “barang bergerak”, dan lain-lain. Lebih lanjut pengertian tentang “hibah wasiat” ini ditentukan dalam pasal 957 KUHPerdata, sebagai berikut: hibah wasiat yaitu suatu penetapan

khusus dimana pewaris memberikan kepada satu atau beberapa orang barang- barang tertentu, atau semua barang-barang dari macam tertentu; misalnya semua barang-barang bergerak atau barang-barang tetap, atau hak pakai hasil atas sebagian atau semua barangnya. Yang menerima legaat disebut: legataris. Kedudukan legataris adalah sebagai kreditur terhadap ahliwaris (pasal 959 KUHPerdata).

Suatu surat wasiat berisi kehendak terakhir seseorang sebagaimana telah diuraikan di atas, namun demikian terhadap isi surat wasiat itu ada larangan- larangan baik yang bersifat umum (fidei komis), maupun yang bersifat khusus. Di samping itu ada pembatasan. Dibatasi oleh bagian mutlak menurut undang- undang disebut dengan istilah legitieme portie (LP).

Larangan yang bersifat khusus, diatur dalam:

1. Pasal 901 KUHPerdata → larangan wasiat antara suami-istri yang kawin tanpa izin yang sah, dan si pewaris telah meninggal pada saat keabsahan perkawinan itu masih menjadi sengketa di Pengadilan karena persoalan tersebut.

2. Pasal 902 KUHPerdata → larangan wasiat antar suami istri yang kawin untuk kedua kalinya, jika ada anak atau anak-anak dari perkawinan yang pertama. 3. Pasal 904 KUHPerdata → larangan hibah wasiat oleh anak di bawah umur

kepada walinya.

4. Pasal 905 KUHPerdata → larangan hibah wasiat oleh anak di bawah umur kepada gurunya atau pengasuhnya.

5. Pasal 906 KUHPerdata → larangan wasiat oleh seseorang kepada dokter, ahli penyembuhan, ahli obat-obatan dan orang-orang lain yang menjalankan ilmu penyembuhan yang merawat orang itu dan akhirnya dia meninggal, demikian pula terhadap guru agama yang telah membantunya selama sakit.

6. Pasal 907 KUHPerdata → larangan wasiat terhadap notaris yang membuat akta wasiat (openbaar testament)dan terhadap para saksi yang hadir.

7. Pasal 909 KUHPerdata → larangan wasiat antara mereka yang telah terbukti berzina dengan putusan Hakim.

8. Pasal 911 ayat (1) KUHPerdata → larangan hibah wasiat kepada mereka yang “tidak cakap mewaris” (tidak patut mewaris).

9. Pasal 930 KUHPerdata → larangan membuat surat wasiat bersamabaik untuk kepentingan pihak III atau kepentingan timbal balik atau bersama dalam suatu akta yang sama.

Larangan Yang Bersifat Umum (Fidei Komis)

Fidei komis ialah suatu pemberian warisan kepada seorang waris dengan ketentuan ia wajib menyimpan warisan itu dan setelah lewat waktu tertentu atau apabila si waris itu sendiri telah meninggal, warisan itu harus diserahkan kepada orang lain yang sudah ditetapkan dalam testamen. Dalam KUHPerdata pemberian warisan seperti itujuga di namakan pemberian warisan secara melangkah atau mewaris dengan lompat tangan.36

Dalam fidei komis, ada 3 (tiga) pihak, yaitu: insteller (pewaris), bezwaarde

KUHPerdata melarang fidei komis (pasal 879 KUHPerdata). Ada beberapa alasan, mengapa fideikomis dilarang, antara lain:

1. Dianggap dapat mengganggu atau merugikan lalu lintas perekonomian masyarakat.

2. Ada kekhawatiran ahliwaris yang dibebani (bezwaarde) tidak merawat harta itu dengan baik, sehingga dapat terjadi tanah menjadi terlantar atau rumah (bangunan) tidak dalam keadaan terawat dengan baik.

3. Melanggar asas le mort saisit le vif , karena hak atas harta warisan tetap melekat pada pewaris walaupun ia sudah meninggal.

Namun demikian, ada 2 (dua) mcam kekecualian: 1. Fidei komis de residuo (pasal 881 KUHPerdata)

Dalam hal ini ditetapkan bahwa seorang ahliwaris (bezwaarde) harus mewariskan lagi di kemudian hari sisa dari harta warisan yang di perolehnya itu kepada orang lain (pada anaknya atau kepada orang lain). Oleh karena itu bezwaarde dapat memakai, mempergunakan, atau menjual harta warisan.

36Subekti, Hukum Keluarga dan Hukum Waris (Ringkasan), (Jakarta: PT.Intermasa,

1990), hlm. 36. Lihat juga Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: PT. Intermasa, 1994), hlm.112.

37J. Satrio, op.cit., hlm.188.

Bahkan ia dapat menghibahkannya lagi kepada orang lain, kecuali pewaris dengan tegasmelarangnya (pasal989 KUHPerdata).

2. Fidei komis dari anak ke anak (pasal 973 KUHPerdata)

Dalam testamen ini seseorang diperkenankan membuat ketetapan agar anaknya tidak boleh menjual harta warisan dan supaya harta itu di kemudian

hari diwariskan lagi kepada anak/anak-anak dari bezwaarde itu sendiri. Harta warisan dapat dipakai dan dipergunakan oleh bezwaarde, tetapi tidak boleh dijual.38 Fidei komis seperti ini diberikan jika ada kekhawatiran harta warisan dihabiskan oleh anak-anaknya (anak si pewaris). Karena itu fidei komis ini di sebut pula sebagai fidei komis untuk mencegah pemborosan.39 Ada kewajiban dari bezwaarde untuk menyerahkan harta warisan kepada anaknya yaitu cucu dari si pewaris.

Dalam dokumen Hukum Waris Perdata badan hukum perdata (Halaman 44-49)

Dokumen terkait