BAB III HUBUNGAN PENGURUS DENGAN DEBITUR DALAM
B. Kedudukan Pengurus Dalam PKPU
Pasal 234 ayat 1 UU Kepailitan dan PKPU menentukan bahwa pengurus PKPU yang diangkat harus independen dan tidak memiliki benturan kepentingan dengan debitur atau kreditur. Pengurus PKPU yang diangkat harus independen dimana dia adalah seseorang atau badan yang tidak berada dibawah salah satu pihak yang sedang bersengketa, sehingga independensinya benar-benar terjaga.
Jika sewaktu melaksanakan tugas pengurusan, pengurus PKPU mengetahui bahwa ia ternyata memiliki benturan dengan satu atau lebih kreditur, maka hakim pengawas atau dengan anggota majelis hakim pengadilan niaga yang menangani PKPU tersebut, meminta kepada pengurus PKPU untuk :
1. Memberitahukan secara tertulis adanya benturan kepentingan tersebut kepada hakim pengawas, debitur, rapat kreditur dan panitia kreditur, jika ada dengan
71
Sunarmi, Op.Cit., hlm. 216-217. 72
tembusan pada dewan kehormatan AKPI, serta wajib segera memanggil rapat kreditur untuk diselengarakan secepatnya khusus untuk memutuskan masalah benturan tersebut; atau
2. segera mengundurkan diri. Jika pengurus PKPU mengundurkan diri maka pengurus PKPU wajib memanggil rapat kreditur untuk menunjuk pengurus PKPU lainnya yang dilakukan sesuai dengan ketentuan UU Kepailitan dan PKPU dan Standar Profesi Kurator dan Pengurus.73
Pasal 234 ayat 2 UU Kepailitan dan PKPU menentukan bahwa pengurus PKPU yang terbukti tidak independen dikenakan sanksi pidana dan atau perdata sesuai peraturan perundang-undangan.74
Pengurus PKPU yang independen dan tidak memiliki benturan kepentingan dengan para pihak yang terlibat dalam proses PKPU hanya dapat dibuktikan dengan itikad baik dari pengurus PKPU sendiri dalam mengurus harta kekayaan perusahaan debitur. Dengan itikad baik yang dimiliki oleh para pihak proses PKPU juga dapat berjalan dengan baik.
Akan tetapi dalam penjelasan UU Kepailitan dan PKPU tidak disebutkan dengan jelas bentuk-bentuk sanksi yang dapat dikenakan kepada pengurus PKPU yang terbukti tidak independen, demikian juga halnya dalam peraturan-peraturan pelaksana UU Kepailitan dan PKPU tidak ada satu ketentuan yang menyinggung persoalan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan multi interpretasi bagi hakim dalam memutuskan perkara terhadap pengurus PKPU yang terbukti tidak independen.
73
Standar profesi kurator dan pengurus Indonesia, Loc.Cit.
74
Kedudukan serta kewenangan pengurus dijamin oleh undang-undang untuk dapat segera bertindak, kalau perlu membatalkan seluruh transaksi yang dilakukan oleh pihak debitur tanpa melalui persetujuan pihak pengurus PKPU. Hal ini semata-mata dilakukan oleh pihak pengurus PKPU adalah untuk mengemban tanggungjawabnya agar pihak kreditur tidak sampai dirugikan karena undang-undang memberi sangsi bahwa jika pihak pengurus lalai melaksanakan tanggungjawabnya dan sampai menimbulkan kerugian baik terhadap harta debitur maupun kepentingan kreditur maka seorang pengurus PKPU dapat diminta pertanggungjawaban berupa ganti rugi.75
Apabila pengurus PKPU tidak memberikan pertimbangan atau tanpa penelitian sebagaimana mestinya, maka ia dianggap tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu pengurus PKPU harus secara terus menerus memantau usaha dari debitur. Segera setelah pengurus PKPU mengetahui adanya jumlah penghasilan tetap yang berkurang atau timbulnya biaya-biaya dari kelanjutan usaha diluar batas maksimal yang diperkirakan maka pengurus PKPU harus segera menghentikan dan mengakhiri usaha perusahaan debitur tersebut.
Pada dasarnya pengurus PKPU wajib bertindak secara transparan dihadapan para pihak yang terlibat dalam kewenangannya serta memberikan informasi material secara seimbang kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses PKPU.76
75
Rahayu Hartini,Op.Cit.,hlm. 134.
Terlepas dari kewajiban tersebut pengurus PKPU tetap wajib menjaga rahasia terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penugasannya kepada
76
pihak ketiga manapun yang secara ekplisit tidak disebutkan oleh UU Kepailitan dan PKPU.
Pelaksanaan PKPU sangat di dukung oleh keterlibatan pengurus PKPU dalam mengurus asset kekayaan debitur, sehingga segala sesuatunya harus dapat penanganan yang teliti dari seorang atau beberapa pengurus PKPU yang ditunjuk dalam proses PKPU oleh pengadilan.77
Kewenangan pengurus PKPU juga berdampak pada berhasil atau tidaknya tujuan dilakukannya PKPU, yaitu untuk mencegah kepailitan seorang debitur atau perusahaan yang tidak dapat membayar utangnya tetapi mungkin dapat membayar di masa yang akan datang dalam jangka waktu yang disepakati bersama antara debitur dan kreditur.
Berhasil atau tidaknya proses PKPU sangat ditentukan oleh pengurus PKPU yang handal, yang mampu melaksanakan eksistensinya sebagai pengurus yang tidak memihak kepada salah satu pihak manapun. Kreditur maupun debitur harus patuh dan tunduk kepada kewenangan pengurus PKPU yang tentunya mempunyai batas-batas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
78
Sebenarnya PKPU dapat dikatakan sebagai pemberian ruang bernafas kepada debitur dalam menghadapi para kreditur yang menekannya untuk mengorganisir dan melanjutkan usaha yang akhirnya untuk dapat memenuhi tagihan-tagihan para krediturnya. Apabila reorganisasi perusahaan dan
reshcedulling utang-utangnya tidak berhasil, maka PKPU dapat dengan mudah diubah menjadi kepailitan.79
77
Syamsudin Sinaga. Op.Cit., hlm. 270. 78
Rahayu Hartini,Op.Cit.,hlm. 190. 79
Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya pengurus PKPU wajib mempergunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama. Pengurus PKPU harus secara kritis mencermati bahwa setiap langkah yang diambil dalam rangka pelaksanaan tugasnya memiliki dasar yang kuat sesuai dengan UU Kepailitan dan PKPU dan peraturan pelaksananya serta telah menempuh prosedur Standart Profesi Kurator dan Pengurus.80
Mengenai kewenangan pengurus PKPU adalah hal yang tidak mudah, karena pengurus PKPU tidak dapat bertindak sendiri, walaupun dalam hal pengurus perusahaan secara tidak layak menolak bekerjasama dengan pengurus PKPU. Senjata pengurus PKPU dalam hal ini adalah hanya memohon kepada Pengadilan Niaga untuk menarik kembali PKPU. Untuk dapat mencapai hasil yang maksimal selama PKPU berlangsung maka diperlukan peran aktif serta professional pengurus PKPU serta hakim pengawas sebagai pihak-pihak yang terlibat dalam proses tersebut.81
Ada pengecualian dimana pengurus PKPU oleh undang-undang diberi hak untuk bertindak sendiri tanpa kerjasama dengan debitur, yakni jika pengurus perusahaan melanggar Pasal 240 UU Kepailitan dan PKPU tersebut maka pengurus PKPU tanpa debitur berhak melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk memastikan bahwa harta debitur tidak dirugikan karena tindakan debitur tersebut.82
80
Standar profesi kurator dan pengurus Indonesia, Loc.Cit.
Apabila pengurus PKPU mengetahui adanya kerugian ataupun pengurangan terhadap harta kekayaan perusahaan debitur maka pengurus PKPU
81
Rahayu Hartini, Op.Cit., hlm 261. 82
Kartini Muljadi, Hukum Kepailitan, Penyelesaian Utang Piutang Melalui Kepailitan Dan PKPU (Bandung : Alumni, 2001), hlm. 260.
dapat memintakan kepada hakim pengadilan niaga untuk mengakhiri PKPU dan dalam persidangan yang sama perusahaan debitur juga dinyatakan pailit.