• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Perempuan dalam Keluarga

Dalam dokumen PERAN IBU SEBAGAI (Halaman 46-63)

BAB II LANDASAN TEORI

3. Kedudukan Perempuan dalam Keluarga

pendidikan dan pengasuhan anak sedini mungkin. Sekalipun ia memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karir, tetapi hendaknya tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

Dalam hal pengasuhan terhadap anak, ibu memegang peranan yang sangat penting. Sebab ibu menjadi sosok yang paling dekat dengan anak nya bahkan menjadi orang pertama yang dikenal oleh anak karena sudah menjalin hubungan kasih sayang sejak ada dalam kandungan. Hal ini yang mengharuskan ibu untuk mempersiapkan pendidikan anaknya dengan sebaik mungkin sehingga nantinya dapat mencetak generasi dan pemimpin-pemimpin yang mampu mampu memimpin umat dan menjadi generasi penerus yang baik.

3. Kedudukan Perempuan dalam Keluarga

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma´ruf”.(QS. al Baqarah [2] : 228).

Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir makna yang terkandung dalam ayat ini ialah para istri itu mempunyai hak atas suami mereka seperti hak yang dimiliki suami atas diri mereka. Masing-masing dari keduanya harus menunaikan hak tersebut dengan cara yang baik.20Ayat ini juga menjelaskan bahwa dalam kehidupan rumah tangga, perempuan memiliki berbagai hak yang harus dipenuhi oleh laki-laki, sebagaimana laki-laki yang juga memiliki hak dan harus dipenuhi oleh perempuan. Dasar hak-hak dan kewajiban ini ialah tradisi yang bersandarkan kepada fitrah masing-masing seorang laki-laki dan perempuan.21

Sebagai seorang istri, perempuan berperan dalam pengabdian nya kepada suami. Selain itu istri juga selalu menjadi suport suaminya baik dalam pekerjaan maupun kegiatan positif lainnya. Begitu besar peran perempuan sebagai istri sehingga banyak laki-laki yang sukses karena di belakangnya terdapat istri yang sangat luar biasa. Salah satu tokoh istri yang sangat luar biasa dalam sejarah Islam ialah Siti Khadijah istri Rasulullah SAW.22 Allah SWT., berfirman dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

َّنُه َّ ...

ل ٌساَبِل ْمُتْن َ ا َو ْم ُ

ك َّ

ل ٌسا َبِل َّن ُه ...

20 Abdullaḥ bin Muḥammad bin Abdurrāḥmān bin Isḥāq Alu Syaikh, Lubābut Tafsir Min Ibni Katsīr, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Iḥsan al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsīr, (Jakarta:

Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2017), h. 572.

21 Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqih al-Islam Wa Adillatuhu Jilid 9, (Jakarta: Gema Insani, 2011), Cet. 1, h. 230.

22 Dian Lestari, “Ekstistensi Perempuan dalam Keluarga (Kajian Peran Perempuan Sebagai Jantung Pendidikan Anak”, Jurnal Muwazah 8, no. 2, (Desember 2016): h. 261.

http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/Muwazah/article/view/760 (Diakses pada tanggal 16 Maret 2022).

“...mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka...” (QS. al-Baqarah [17] : 187).

Menurut Ibnu ‘Abbas “Mereka ialah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” mengandung arti bahwa

“mereka itu sebagai pemberi ketenangan bagi kalian, dan kalian pun sebagai pemberi ketenangan bagi mereka”. Adapun pendapat Rabi’ bin Anas “Mereka itu sebagai selimut bagi kalian, dan kalian pun ialah selimut bagi mereka”.23

Salah satu fungsi pakaian ialah untuk menutup aurat atau hal yang rawan, serta kekurangan-kekurangan. Hal ini berarti masing-masing suami-istri memiliki kekurangan yang tidak dapat ditutupi kecuali dengan bantuan lawan jenisnya.24 Sebagai suami harus bisa menutupi aib dan kekurangan istri, begitupun istri juga harus bisa memahami dan menutupi aib suami. Pakaian diperlukan untuk menutupi badan dan menghindar dari hal yang menyakitkan, begitupun dengan suami istri, diantaranya akan menjaga kemuliaan, kehormatan, serta memberikan kebahagiaan satu sama lain.

Allah SWT., menciptakan perempuan dan laki-laki untuk saling melengkapi dan saling membutuhkan. Keduanya harus saling menjaga satu sama lain guna terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Sebab, istri yang cantik perangainya, akan menjadikan suami yang baik budi pekertinya.

23 Abdullaḥ bin Muḥammad bin Abdurrāḥmān bin Isḥāq Alu Syaikh, Lubābut Tafsir Min Ibni Katsīr, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Iḥsan al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsīr, (Jakarta:

Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2017), h. 448.

24 M. Quraish Shihab, Perempuan, (Jakarta: Lentera Hati, 2005), h. 33.

Berikut ialah beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan seorang istri:25

1) Mentaati suami

2) Mengikuti tempat tinggal suami 3) Meringankan beban belanja suami 4) Berdandan hanya untuk suami 5) Memelihara dan mengasuh anak 6) Tidak keluar rumah tanpa izin suami 7) Menjaga harta suami

8) Tidak berpuasa sunnah kecuali dengan izin dari suami 9) Mensyukuri tentang apa yang diberikan oleh suami

Adapun maksud kewajiban seorang istri untuk mentaati suaminya, yakni selama suaminya tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Sungguh bentuk ketaatan paling utama dari seorang istri shalihah kepada suaminya dan menjadi bentuk baktinya kepada suaminya ialah ketika ia bersedia memenuhi keinginan suami, seperti yang disyariatkan dalam ajaran Islam. Yakni hak untuk menikmati kehidupan bersuami istri dengan utuh dan sempurna serta dengan cara yang baik. Karena memang ini yang menjadi tujuan pokok pernikahan. Selain itu seorang istri hendaknya memperhatikan kegemaran suami dalam hal makanan, pakaian, obrolan, dan semua yang terlihat di kesehariannya.26

Salah satu bentuk ketaatan istri kepada suami ialah mengikuti tempat tinggal yang telah disediakan oleh suaminya.

Namun apabila lingkungan tempat tinggal yang disediakan oleh suami ternyata akan merusak akhlak atau tidak aman, baik dari

25 Mutmainah Afra Rabbani, Istri yang Dirindukan Surga Berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, (Jakarta: Lembar Langit Indonesia, 2015), cet. 1, h. 113.

26 Ali bin Sa’id Al-Gamidi, Fikih Wanita, (Sukoharjo: Aqwam, 2012), h. 159.

segi bangunan maupun keselamatan, maka istri mempunyai hak untuk menolak. Dan apabila suami sudah memilihkan lingkungan yang dapat memelihara akhlak istri dan keluarganya, walaupun rumahnya kurang bagus sebab suami tidak mampu untuk menyediakan yang lebih baik, maka istri tetap wajib untuk tinggal bersama suaminya di rumah tersebut.27

Sebagaimana firman Allah SWT., dalam Al-Qur’an di bawah ini:

ْم ُ

كِد ْج ُّو ْن ِ م ْمُت ن ْ َ ك َس ُ

ثْي َح ْن ِم َّن ُهْوُن ِك ْس َ ا

...

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu...” (Q.S at-Thalaq [65] : 6).

Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsīr dijelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya, jika salah seorang dari mereka menceraikan istrinya maka hendaklah dia menempatkannya di dalam rumah sampai dia selesai menjalani masa ‘iddahnya.

َّْمُكِّدْجُوَّ نِّ م

“menurut

kemampuanmu”. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “yakni, kesanggupan kalian.” Sampai Qatadah mengemukakan: “Kalaupun engkau tidak mendapatkan tempat kecuali di samping rumahmu, maka tempatkanlah di sana.28

27 Mutmainah Afra Rabbani, Istri yang Dirindukan Surga Berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, h. 115.

28 Abdullaḥ bin Muḥammad bin Abdurrāḥmān bin Isḥāq Alu Syaikh, Lubābut Tafsir Min Ibni Katsīr, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Iḥsan al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsīr, (Jakarta:

Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2017), h. 31.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa hendaknya para suami menyediakan tempat tinggal untuk istri yang telah diceraikan selama menjalani masa iddah. Istri yang telah diceraikan masih mempunyai hak untuk memperoleh jaminan tempat tinggal, tentu seorang istri sah yang memiliki kewajiban untuk mengurus, melayani, serta menjaga harta kekayaan suami lebih pantas mendapatkan hak tersebut.

Seorang istri wajib untuk mengikuti tempat tinggal suaminya dengan alasan sebagai berikut:29

1) Istri akan bertanggung jawab menjadi wakil dalam mengurus rumah tangga.

2) Istri wajib untuk memelihara keamanan dan keselamatan harta kekayaan milik suami.

3) Istri wajib mengasuh, dan mendidik serta membina anak-anaknya.

4) Istri wajib untuk memelihara cinta suami kepada dirinya.

5) Apabila sewaktu-waktu suami ingin menyalurkan syahwatnya, maka istri dengan segera bisa mengabulkannya.

Dari beberapa pendapat mengenai peran dan kewajiban seorang istri penulis menyimpulkan bahwa sejatinya dalam kehidupan rumah tangga, suami istri harus memahami kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Dengan demikian kehidupan keluarga akan berjalan seimbang dan hakikat indahnya kebersamaan dalam keluarga dapat terwujud. Sebab, tanpa kesadaran akan hak dan kewajiban yang dimiliki masing-masing,

29 Mutmainah Afra Rabbani, Istri yang Dirindukan Surga Berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, h. 117.

mustahil tujuan pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga.

b. Perempuan Sebagai Ibu

Di samping perannya sebagai istri, perempuan yang sudah memiliki anak memiliki peran dan tanggung jawab sebagai ibu.

Kewajiban seorang perempuan sebagai ibu ialah mengerti akan tanggung jawab mendidik anak-anaknya dengan akhlak mulia.

Seorang anak selalu bersama ibunya pada masa-masa prasekolah.

Ibu lah yang menanamkan makna-makna mulia tentang Rabb-nya, Nabi-nya, agama-nya, orang tuanya, masyarakat, serta umat-nya.

Apabila seorang ibu berhasil menanamkan hal itu kepada anaknya maka ia laksana sebuah madrasah, dan madrasah ini memiliki pengaruh besar bagi anak di sepanjang hidupnya.30

Islam memandang dan memberikan posisi bagi wanita pada tempat yang mulia dan terhormat. Keberadaan seorang ibu sangat penting di dalam kehidupan rumah tangga. Di tangan seorang ibu, setiap individu dibesarkan dengan kasih sayang yang tak terhingga. Ibu dengan taruhan jiwa raga telah memperjuangkan kehidupan anaknya, sejak anak masih dalam rahim, lahir hingga tumbuh menjadi dewasa. Itulah alasan mengapa Islam memberikan kedudukan seorang ibu tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan ayah. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghayati dan mengapresiasi ibu atas jasa-jasanya dengan berbuat baik kepadanya.31

30 Ali bin Sa’id Al-Gamidi, Fikih Wanita, h. 156.

31 Siti Ermawati, “Peran Ganda Wanita (Konflik Peran Ganda Wanita Karier ditinjau dalam Perspektif Islam”, Jurnal Edutama 2, no. 2, (Januari 2016): h. 3.

http://repository.ikippgribojonegoro.ac.id/id/eprint/430 (Diakses pada tanggal 2 Februari 2022).

Allah SWT., menempatkan kedudukan Ibu pada posisi yang sangat mulia dan ia menjadi sosok pertama dan utama yang berhak menerima bakti seorang anak. Ibu ialah perempuan yang diberi amanah oleh Allah SWT., untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui serta mendapat tanggung jawab untuk merawat, membesarkan dan mendidik anak.32 Selain itu ibu menjadi orang tua pertama yang diharapkan kehadiran nya oleh anak, karena perhatian dan kasih sayangnya. Ibu juga merupakan sosok pertama yang dikenal oleh anak karena senantiasa merawat, menyusui, dan menggantikan pakaiannya.33

Ibu menjadi seseorang yang memiliki peran begitu besar, sehingga dalam hadits Nabi Muhammad SAW, disebutkan sampai tiga kali.

َُّسَرَّ َلَِّإَّ لُجَرََّءاَجََّلاَقَُّهْنَعَُّ للَّاََّيِّضَرََّةَرْ يَرُهَّ ِّبَِأَّْنَع َّ

َّْيَلَعَُّ للَّاَّى لَََِّّ للَّاَّ ِّلو

َِّّه

َِّّتَباَحَََِّّنْسُِّبَِِّّسا نلاَُّّقَحَأَّْنَمَِّّ للَّاََّلوُسَرََّيَََّلاَقَ ف

َّ ُثََّلاَقََّكُّمُأََّلاَق َّ ََّم لَسَو

ََّلاَقَّْنَمَّ ُثََّلاَقََّكُّمُأَّ ُثََّلاَقَّْنَمَّ ُثََّلاَقََّكُّمُأَّ ُثََّلاَقَّْنَم

ََّكوُبَأَّ ُث َّ

َّوُّيَأَُّنْبَّ َيََْيََوََّةَمُْبُْشَُّنْباََّلاَقَو

َِّّمََّةَعْرُزَّوُبَأَّاَنَ ث دَحََّب

َُّهَلْ ث هاور(

َّ

يراخبلا )

“Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, ia berkata, "Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata,

"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak

32 Sri Mulyani, “Peran Ibu dalam Pendidikan Karakter Anak Menurut Pandangan Islam”, Jurnal An-Nisa’ 11, no. 2, (Desember 2018): h. 516. http://mail.jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/annisa/article/view/336 (Diakses pada tanggal 7 Februari 2022).

33 Buyung Surahman, “Peran Ibu terhadap Masa Depan Anak”, Jurnal Hawa 1, no.

2, (Desember 2019): h. 202.

https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/hawa/article/view/2600 (Diakses pada tanggal 9 Februari 2022).

kuberikan bakti kepadanya?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" beliau menjawab,

"Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab,

"Kemudian ayahmu." Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Zur'ah hadis seperti di atas." (HR. Bukhari No. 5971).34

Hadits ini mengandung arti bahwa seorang ibu memiliki keistimewaan tersendiri, yakni derajatnya lebih tinggi dibanding seorang bapak. Nabi Muhammad SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sedangkan kata bapak hanya satu kali.

Sebagaimana Firman Allah SWT di bawah ini:

ِهْي َدِلا َوِب نا َس َ ْ ن ِا ْ

لا اَنْي َّ ص َو َو ه ُّم ُ

ا ُهْت َ ل َمَح ل َع اًن ْه َو

ه ُ

لا َص ِف َّو ٍن ْهَو ى

َ ا ِنْي َما َع ْيِف َكْي َدِلا َوِل َو ْي ِل ْر ُ

ك ْشا ِن ُرْي ِص َم ْ

لا َّي َ ل ِا ٤١

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman [13] : 14).

Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut menjelaskan untuk beribadah kepada Allah Yang Esa dengan berbakti kepada kedua orang tua. Dalam ayat ini disebutkan “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah”.

Mujahid berkata: “Beratnya kesulitan mengandung anak”,

34 Imām Abī Abdillah Muhammad bin Ismāīl bin Ibrāhīm bin Al-Mughirāh bin Badruzbah al-Jufi al-Bukhari, Sahih Bukhari, (Mesir: Darul Fikr, 1994), Kitab Sahih Bukhari, Bab Kitab al-Adab, hal. 1500.

Qatadah berkata: “Keberatan demi keberatan.” Sedangkan ‘Atha’

al-Khurasani: “Kelemahan demi kelemahan.” “Dan menyapihnya dalam dua tahun,”yakni mengasuh dan menyusuinya setelah melahirkannya selama dua tahun. Serta kalimat “Bersyukurlah Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Yaitu, sesungguhnya Aku akan membalasmu atas semua itu secukup-cukupnya balasan.35

Menurut Tafsir Al-Misbah dalam perintah Allah SWT menyebutkan kata al-walidain atau kedua orang tua. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia harus berbakti kepada kedua orang tua bagaimanapun keadaan mereka. Bakti atau berbuat baik kepada orang tua ialah bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka senang terhadap anak.Termasuk dalam makna bakti ialah dengan mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan anak.36

Secara tegas di dalam Al-Qur’an Allah SWT Memerintahkan setiap manusia untuk mengapresiasi jasa-jasa ibu dengan berbuat baik kepadanya. Sebab, di tangan ibu individu dibesarkan dengan kasih sayang yang tidak terhingga. Ibu rela mempertaruhkan jiwa raga untuk memperjuangkan kehidupan anaknya sejak masih dalam kandungan, setelah lahir hingga dewasa.

Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa ibu merupakan sosok yang mempunyai ikatan batin yang

35 Abdullaḥ bin Muḥammad bin Abdurrāḥmān bin Isḥāq Alu Syaikh, Lubābut Tafsir Min Ibni Katsīr, terj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Iḥsan al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsīr, (Jakarta:

Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2017), h. 255.

36 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 87-88.

kuat dengan anaknya, senantiasa merawat, mendidik, membersamai anak semenjak masih di dalam kandungan hingga bertumbuh dewasa. Dan benar adanya kata pepatah bahwa kasih ibu tak terhingga dan sepanjang masa. Oleh sebab itu hak-hak paling fundamental bagi perempuan yang berperan sebagai ibu ialah hak mendapatkan kepatuhan, ketaatan, dan penghormatan dari semua anaknya.

c. Perempuan Sebagai Anak

Perintah berbakti kepada orang tua di dalam ajaran Islam menjadi sebuah kewajiban. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an di bawah ini:

ض ق َو َ ْو ُدُب ْع َت اَّلَا َكُّب َر ى ا َّ

ل ِا ا س ْح ِا ِنْي َدِلاَو ْ

لاِب َو ُهاَّيِا اًن

ا َّمِا

اَم ُه ُد َح َ ا َرَب ِك ْ

لا َك َدْن ِع َّنَغ ُ ل ْبَي ل ِك ْو َ

ا اَم ُه َّ

ل ْ ل قَت ا ُ َ

ل ف اَم ُه َ ٍ ف ُ

ا

اًمْي ِر َ ك ا ً

ل ْو ق اَم ُه َ َّ

ل ْ

ل ق َو اَم ُه ْر َهْنَت ا ُ َ ل َّو ٣٢

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. al-Isra’ [17] : 23).

Sayyid Quthub menafsirkan ayat ini dalam Tafsir Fī Zhilāl Al-Qur’an bahwa berbuat baik kepada orang tua ialah sebuah kewajiban dari Allah SWT. yang menjadi perintah-Nya setelah mewajibkan manusia untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Dalam memerintahkan berbakti kepada orang tua,

Allah SWT. menggunakan kata qadha yang berarti keputusan atau ketetapan yang tidak boleh ditawar. Kewajiban berbakti ini dapat membangun kesadaran bahwa seorang anak harus senantiasa mengingat perjuangan orang tua dalam membesarkan nya dengan curahan kasih sayang, sehingga termotivasi untuk berbuat baik kepada orang tuanya.37

Dalam ayat tersebut juga terdapat kata uffin dan apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yakni “hus, akh, atau ah”

yang mempunyai arti tidak sopan, mengandung penghinaan serta mempunyai maksud membungkam orang yang dibentak dengan kata “hus” tadi agar jangan berbicara lagi. Maksudnya mengeluarkan kata “hus, akh, ah” sebagian dari lambang kekesalan hati dan kekecewaan. Kata Uffin tidak hanya berarti

“ah” saja melainkan memiliki makna yang luas dan kata ini sangat tidak dianjurkan diungkapkan kepada orang tua karena bertolak belakang dengan kewajiban berbakti salah satunya dengan berbicara yang baik kepada orang tua.38

Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, mengasihi, menyayangi, mendo’akan, taat, dan patuh kepada apa yang mereka perintahkan, melakukan hal-hal yang mereka sukai, serta meninggalkan sesuatu yang tidak mereka sukai ialah kewajiban yang harus dilaksanakan seorang anak. Hal ini disebut Birrul Walidain”. Birrul Wālidain menjadi hak orang tua yang harus dipenuhi seorang anak, sesuai dengan perintah Islam dan selama

37 Sayyid Quthb, Tafsir fī Zhilāl Al-Qur’an: di Bawah Naungan Al-Qur’an, Terj.

As’ad Yasin dkk. Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 249.

38 Umar Hasyim, Anak Saleh, (Surabaya: Bina Ilmu, 2007), h. 38.

orang tua tidak memerintahkan atau menganjurkan anak-anaknya untuk melakukan hal yang dibenci Allah SWT.39

Kewajiban anak terhadap orang tua menurut Abu Laits As-Samarqandi dalam kitabnya Tanbīhul Ghāfilīn yang dikutip Agus Fitriandi dan Farida Nurhasanah dalam buku Rumah Dunia Akhirat, dapat diringkas sebagai berikut:40

1) Memenuhi keseluruhan kebutuhan orang tua, baik fisik maupun psikis, sesuai dengan kemampuan:

a) Apabila orang tua membutuhkan makanan, maka berilah mereka makan.

b) Apabila orang tua membutuhkan pakaian, hendaklah berilah mereka pakaian.

c) Apabila orang tua membutuhkan bantuan, hendaklah anak membantunya.

2) Mematuhi orang tua

a) Apabila orang tua memanggil, hendaklah anak memenuhinya.

b) Apabila orang tua menyuruh anak melakukan sesuatu maka hendaklah ia menaatinya selama tidak memerintahkan kemaksiatan dan gunjingan.

3) Berlaku sopan santun dan hormat terhadap orang tua

a) Berbicara kepada kedua orang tua dengan lemah lembut dan tidak bersikap kasar.

b) Tidak memanggil orang tua dengan nama mereka.

c) Berjalan di belakang orang tua dan tidak mendahului.

39 Ahmad Isa Asyur, Berbakti Kepada Ayah Bunda, (Jakarta: Gema Insani, 2014), h.2.

40 Agus Fitriandi dan Farida Nurhasanah, Rumah Dunia Akhirat: Sebuah Upaya Berjamaah Membangun Rumah di Dunia dan di Akhirat, (Karanganyar: Krigan Capital Press, 2020), h. 40.

4) Ridho (senang) dengan apa yang orang tua ridhoi dan benci dengan yang orang tua benci.

5) Mendoakan kedua orang tua.

Setiap anak mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap orang tua yang telah membesarkan dan mengasuhnya dari kecil sampai dewasa. Misalkan ketika orang tua sudah memasuki lanjut usia, banyak hal yang harus dilakukan anak.

Seperti memberikan perhatian, kasih sayang serta menjaga dari hal yang dapat menyakitinya. Dengan cara tersebut maka seorang anak akan menciptakan keluarga yang utuh, sejahtera dan penuh kasih sayang, sehingga terjadi keseimbangan antara anak dan orang tua. Adanya hak dan kewajiban membuat hidup menjadi lebih netral, berimbang, dan fair.41

Orang tua mempunyai hak dan kewajiban terhadap anaknya.

Anak pun mempunyai hak dan kewajiban kepada orang tuanya.

Apabila orang tua dengan kasih sayangnya melakukan kewajibannya terhadap anak-anaknya, maka sebaliknya anak-anak juga harus memahami kewajiban nya terhadap orang tua. Lain halnya ketika anak perempuan sudah berkeluarga maka terjadi perubahan dalam hal berbakti kepada orang tua, anak laki-laki (suami) harus mendahulukan orang tuanya terutama ibunya dalam hal berbakti, adapun anak perempuan (istri) lebih dituntut berbakti kepada suaminya.

41 Charisa Yasmine, Pelaksanaan Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua Studi Kasus Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Wedha (PTSW) Khusnul Khotimah Pekanbaru Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 1 ahun 1974 Tentang Perkawinan,(JOM Fakultas Hukum Universitas Riau 4, no. 2, (Oktober 2017): h. 9.

https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFHUKUM/article/download/17721/17117 (Diakses Pada Tanggal 21 Maret 2022)

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum dalam Fatawa Mu’asyirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama seorang perempuan belum menikah. Apabila seorang perempuan sudah menikah dan menyandang status sebagai istri maka diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ketaatan tersebut sesuai syariat dan tidak melanggar perintah agama.42

Dari penjelasan di atas jelas bahwa yang berhak atas seorang perempuan (istri) ialah suaminya dan seorang laki-laki (suami) bertanggung jawab atas ibunya. Dalam hal ini bukan berarti seorang suami boleh mengekang istrinya untuk selalu mengikuti semua perintahnya dan berdiam diri dirumah tanpa memperhatikan orang tuanya. Sebab seorang suami yang baik akan selalu memberikan kebebasan dan dukungan kepada istri untuk melayani orang tuanya begitupun sebaliknya.

d. Perempuan Sebagai Anggota Masyarakat

Seiring perkembangan zaman, keikutsertaan perempuan dalam kegiatan masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini meliputi segala aspek pendidikan, sosial ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain. Tuntutan bangsa atas nama masyarakat global bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan bagaimana bangsa tersebut peduli dan membeli akses yang luas bagi perempuan untuk beraktivitas di ranah publik. Keterlibatan perempuan menjadi

42 Agung Sasongko, Istri Harus Taat Suami atau Orang Tua?, Republika Online, 25 Januari 2017. https://www.republika.co.id/berita/okbuhx313/istri-harus-taat-suami-atau-orang-tua (Diakses pada tanggal 9 April 2022)

syarat mutlak dalam upaya mewujudkan pembangunan yang berkeadilan.

Islam memandang bahwa keberadaan perempuan sebagai bagian dari masyarakat menjadikan mereka juga memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkan kesadaran politik pada diri mereka dan masyarakat secara umum. Hanya saja harus diluruskan, bahwa pengertian politik dalam konsep Islam tidak dibatasi pada masalah kekuasaan dan legislasi saja melainkan meliputi pemeliharaan seluruh urusan umat di dalam negeri maupun di luar negeri, baik yang menyangkut aspek negara maupun umat. Dalam hal ini negara bertindak secara langsung mengatur dan memelihara urusan umat, sedangkan umat bertindak sebagai pengawas dan pengoreksi pelaksanaan pengaturan tadi oleh negara.43

Partisipasi perempuan saat ini, bukan hanya sekedar menuntut persamaan hak tetapi juga mempunyai arti bagaimana fungsi perempuan bagi pembangunan masyarakat Indonesia.

Melihat potensi perempuan sebagai sumber daya manusia, maka upaya menyertakan perempuan dalam proses pembangunan bukan hanya merupakan perikemanusiaan belaka, akan tetapi menjadi tindakan yang efisien. Sebab, tanpa keikutsertaan perempuan dalam proses pembangunan berarti pemborosan dan memberi pengaruh negatif terhadap lajunya pertumbuhan ekonomi.

Partisipasi perempuan menyangkut peran tradisi dan transisi.

Peran tradisi atau domestik yakni mencakup peran perempuan sebagai istri, ibu serta pengelola rumah tangga. Sementara peran

43 Abu Fuad, Penjelasan Kitab Sistem Pergaulan dalam Islam, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2017), h. 54.

Dalam dokumen PERAN IBU SEBAGAI (Halaman 46-63)