• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO 69/PUU-XIII/2015

D. Kedudukan putusan MK terhadap Undang-undang

Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Mahkamah Konstitusi merupakan suatu lembaga peradilan, sebagai cabang kekuasaan yudikatif, yang mengadili perkara-perkara tertentu yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan UUD 1945. Tujuan dibentuknya adalah sebagai

13 Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015, h., 155.

check and balance dengan Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta dengan kekuasaan legislatif DPR dan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Menurut Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang No 24 Tahun 2003 Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan sebagai berikut:

a. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

c. Memutus pembubaran partai politik.

d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Mahkamah Konstitusi sebagai pelaku kekuasaan kehakiman berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Putusan Mahkamah Konstitusi memiliki sifat putusannya yang unik, karena putusan bersifat final dan mengikat; dan putusan bersifat erga omnes.14

Menurut Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, putusan bersifat final dan mengikat adalah suatu putusan yang langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. Sifat final dalam putusan Mahkamah Konstitusi dalam undang-undang tersebut mencakup pula kekuatan hukum mengikat.

14 Steven Suprantio, Daya Ikat Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang “Testimonium De Auditu” Dalam Peradilan Pidana Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010, Jurnal Yudisial Vol. 7 No. 1 April 2014, h., 40.

Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat erga omnes artinya mengikat dan berlaku bagi siapa saja, tidak hanya bagi para pihak yang bersengketa.15 Menurut Bagir Manan, erga omnes adalah putusan yang akibat-akibatnya berlaku bagi semua perkara yang mengandung persamaan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Jadi, ketika peraturan perundang-undangan dinyatakan tidak sah karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar atau peraturan perundang-undangan lain yang lebih tinggi, maka menjadi batal dan tidak sah untuk setiap orang.16

Bagir Manan menjelaskan putusan erga omnes, dapat dianggap memasuki fungsi perundang-undangan (legislative function), hakim tidak lagi semata-mata menetapkan hukum untuk suatu peristiwa konkret tetapi hukum bagi peristiwa yang akan datang (abstract) dan ini mengandung unsur pembentukan hukum. Pembentukan hukum untuk peristiwa yang bersifat abstrak adalah fungsi perundangundangan bukan fungsi peradilan.17 Putusan bersifat erga omnes adalah sebagai konsekuensi pengujian Undang-Undang di Mahkamah Konstitusi merupakan peradilan pada ranah publik.

Pada tahun 2015 Ny Ike Farida mengajukan permohonan pengujian Pasal 21 ayat (1) ayat (3), dan pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (UUPA), serta Pasal 29 ayat (1) ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan ke Mahkamah Konstitusi karena dianggap merugikan bagi pasangan kawin campur yang menikah tanpa membuat perjanjian perkawinan. Kemudian, pada tanggal 27 Oktober 2016 Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengelurakan Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015 di mana dalam putusannya mengabulkan sebagian permohonan uji materi

15 Bachtiar, Problematika Implementasi Putusan Mahkamah Konstitusi Pada Pengujian UU Terhadap UUD, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2015), h., 160.

16 Steven Suprantio, Daya Ikat Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang “Testimonium De Auditu” Dalam Peradilan Pidana Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010, Jurnal Yudisial Vol. 7 No. 1 April 2014, h., 41.

17 Machmud Aziz, Pengujian Peraturan Perundang-Undangan dalam Sistem Peraturan Perundang-Undangan Indonesia, Jurnal Konstitusi Vol. 7 No. 5, Oktober 2010, h., 133.

terhadap ketentuan mengenai perjanjian perkawinan yang diatur dalam Pasal 29 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sehingga, ketentuan perjanjian perkawinan di dalam pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) UU No 1 Tahun 1974 berubah.

Dengan adanya sifat final dan mengikat serta sifat erga omnes yang dimiliki Mahkamah Konstitusi, maka putusan MK Nomor 69/PUU-XIII/2015 sejak diputus oleh hakim Mahkamah Konstitusi otomatis langsung memperoleh kekuatan hukum tetap dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, tidak hanya bagi para pihak yang bersengketa tapi berlaku bagi semua orang. Artinya, kedudukan putusan MK Nomor 69/PUU-XIII/2015 terhadap berubahnya ketentuan perjanjian perkawinan yang tertuang di dalam pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memiliki kekuatan hukum tetap dan tidak hanya berlaku untuk pemohon, tetapi berlaku juga untuk seluruh masyarakat.

Sehingga, ketentuan perjanjian perkawinan di dalam pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) UU No 1 Tahun 1974 sebelum lahirnya putusan MK No 69/PUU-XIII/2015 sudah tidak berlaku lagi .

46 BAB IV

ANALISIS PANDANGAN HAKIM PENGADILAN AGAMA TERHADAP PENYELESAIAN KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK

NO.69/PUU-XIII/2015

A. Pandangan hakim terhadap putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 Setelah peneliti melakukan penelitian di Pengadilan Agama Jakarta Barat dan Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Dalam hal ini, peneliti telah mewawancarai 4 hakim masing-masing 2 hakim dari Pengadilan Agama Jakarta Barat dan 2 hakim dari Pengadilan Jakarta Selatan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana pandangan Hakim terhadap putusan MK No.

69/PUU-XIII/2015 di mana dalam putusannya pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) dimaknai sebagai berikut:

1. Pasal 29 ayat (1) “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaris, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”.

2. Pasal 29 ayat (3) “Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan”.

3. Pasal 29 ayat (4) “Selama perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainnya, tidak dapat diubah atau dicabut, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah atau mencabut, dan perubahan atau pencabutan itu tidak merugikan pihak ketiga”. Menurut Bapak Mustar, M.H. “Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 merupakan sebuah terobosan hukum baru atau sebuah ijtihad yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Artinya Mahkamah Konstitusi dalam

Putusannya telah menyimpulkan sesuatu demi terciptanya sebuah kemaslahatan dan tentu tidak bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945.”1

Hal senada juga dengan yang diungkapkan oleh Bapak M. Yamin, M.H. “Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membuat terobosan hukum baru supaya hak-hak suami dan istri bisa dibagi secara adil, memiliki tempat, dan proporsional. Apalagi perjanjian itu dibuat berdasarkan kesepakatan para pihak dan diperkuat dengan akta notaris atau disahkan oleh pegawai pencatat nikah. Sehingga, perjanjian tersebut memiliki asas perlindungan hukum didalamnya.”2

Kemudian menurut Bapak Eko Budiono, S.H, M.H. “Tidak masalah dengan putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 justru bagus karena akan memberikan kepastian hukum terhadap harta-harta yang diperoleh selama masa pernikahan, apakah harta bawaan atau harta yang diperoleh selama pernikahan. Jadi, disana ada kepastian hukum karena perjanjian itu mengikat bagi kedua belah pihak yang membuat dan merupakan undang-undang bagi para pihak yang membuat perjanjian tersebut.”3

Selanjutnya menurut Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H.

“Pandangan saya terhadap putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 tidak masalah jika ada kesepakatan, yang terpenting adalah perjanjian tersebut dibuat di notaris dan tidak merugikan pihak ketiga. Kemudian, dengan adanya perjanjian tersebut jika terjadi sengketa, maka pengadilan hanya membagi harta yang telah diperjanjikan tersebut.”4

1 Bapak Mustar, M.H Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 4 Mei 2020

2 Bapak M. Yamin, M.H Ketua Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 8 Mei 2020

3 Bapak Eko Budiono, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 12 Mei 2020

4 Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 20 Mei 2020

Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa pandangan hakim terhadap putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 adalah sebuah terobosan hukum baru demi terciptanya rasa keadilan dan kemaslahatan.

Hal ini sejalan dengan fungsi MK, yaitu untuk menjamin tidak ada lagi produk hukum yang keluar dari koridor konstitusi, sehingga hak-hak konstitusional warga negara terjaga dan konstitusi itu sendiri terkawal konstitusionalnya. Dengan adanya putusan MK ini, maka hak-hak suami istri dapat dibagi secara adil dan proporsional karena memberikan kepastian hukum terhadap harta yang diperoleh selama pernikahan. Jadi, dengan perjanjian maka adanya hukum yang mengikat bagi para pihak, karena perjanjian tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dan diperkuat dengan akta notaris atau disahkan oleh pegawai pencatat nikah. Dan yang terpenting adalah isi dari perjanjian tersebut tidak boleh merugikan pihak ketiga.

Hakim merupakan salah satu pihak yang tidak dapat di pisahkan dari proses penegakan hukum yang megemban amanah demi terciptanya rasa keadilan. Proses penegakan hukum tentu tidak terlepas dari tiga aspek, yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Satjipto Rahardjo berpendapat, penegakan hukum progresif adalah menjalankan hukum tidak hanya sekedar kata-kata hitam-putih dari peraturan (according to the letter), melainkan menurut semangat dan makna lebih dalam (to very meaning) dari undang-undang atau hukum. Penegakan hukum tidak hanya kecerdasan intelektual, melainkan dengan kecerdasan spiritual. Dengan kata lain, penegakan hukum yang dilakukan dengan penuh determinasi, empati, dedikasi, komitmen terhadap penderitaan bangsa dan disertai keberanian untuk mencari jalan lain daripada yang biasa dilakukan.5

Di dalam pasal 5 ayar (1) Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman "Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan

5 Mukhidin, “hukum Progresif Sebagai Solusi Hukum Yang Mensejahterakan Rakyat”, Jurnal Pembaharuan Hukum, 1, 3 (September-Desember, 2014), h. 269

yang hidup dalam masyarakat." Pasal tersebut memberikan kewenangan kepada hakim untuk menggali, mengikuti, memahami nilai-nilai hukum, dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat terhadap permasalahan atau persoalan yang belum diatur. Dalam arti belum ada pengaturannya pada hukum tertulis atau dalam hal ditemui perumusan peraturan yang kurang jelas dalam hukum tertulis. Dengan demikian dalam memberikan putusan, hakim diberikan wewenang untuk menggali, mengikuti, serta memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat demi terciptanya rasa keadilan pada masyarakat. Wewenang tersebut bukan berarti hakim diberi kebebasan tanpa batas, dalam putusannya hakim tidak boleh bertentangan dengan ideologi bangsa, HAM, dan keadilan.

Rumusan undang-undang yang bersifat umum tidak pernah menampung secara pasti setiap peristiwa hukum. Hakimlah yang berperan menghubungkan atau menyambungkan peristiwa hukum yang konkret dengan ketentuan hakim yang abstrak. Sudah menjadi pekerjaan sehari-hari hakim memberikan penafsiran atau konstruksi hukum suatu ketentuann hukum dengan peristiwa konkret. 6 Oleh karena itu, hakim dalam melaksanakan tugasnya tersebut bukan hanya sebagai terompet undang-undang semata. Melainkan selalu dan selalu berusaha untuk melakukan penemuan hukum, dengan selalu menafsirkan suatu ketentuan undang-undang dengan cara menghubungkan peristiwa atau fakta-fakta hukum yang terjadi di persidangan diterapkan dengan ketentuan undang-undang, sehingga mendapat keyakinan suatu perbuatan terdakwa atau dalil salah satu pihak dalam perkara, terbukti benar berdasarkan alat bukti yang diatur dalam hukum acara.

Teori realisme hukum atau legal realism (Oliver Wendel Holmes) terkenal dengan kredonya bahwa “The life of the law has not been logic it has been experience”. Dengan konsep bahwa hukum bukan lagi sebatas

6 Bagir Manan, Suatu Tinjauan Terhadap Kekuasaan Kehakiman Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, (Jakarta: Mahkamah Agung RI, 2005), h., 209.

logika tetapi experience, maka hukum tidak dilihat dari kacamata hukum itu sendiri, melainkan dilihat dan dinilai dari tujuan sosial yang ingin dicapai, serta akibat-akibat yang timbul dari bekerjanya hukum. Dalam realisme hukum, pemahaman terhadap hukum tidak hanya terbatas pada teks atau dokumen-dokumen hukum, tetapi melampaui teks dan dokumen hukum trsebut.

Menurut Holmes, aturan hukum bukanlah poros suatu keputusan yang berbobot, aturan tidak bisa diandalkan menjawab dunia kehidupan yang begitu kompleks. Lagipula kebenaran yang rill bukan terletak dalam undang-undang melainkan pada kenyataan hidup. Menurut Holmes, sering menjumpai dua bahkan lebih “kebenaran” yang seolah-olah meminta mana yang lebih benar diantara pilihan-pilihan kebenaran itu, yang salah satu dari kebenaran itu yakni kebenaran versi undang-undang, tetapi sangat sering kebenaran yang ditemukan oleh hakim daripada aturan formal itu.

Kebenaran yang ditemukan oleh hakim bahkan lebih relevan, lebih tepat, dan lebih bermanfaat dalam konteks rill ketimbang kebenaran yang ditawarkan oleh aturan legal.7 Dengan demikian dalam realisme hukum, hakim lebih mengunggulkan fakta kejadian dan dengan struktur fakta sehingga hakim tidak memerlukan lagi struktur aturan hukum untuk memandu cara berfikirnya.

B. Pola Penyelesaian Kasus

1. Peran Hakim Dalam Menyelesaikan Kasus Harta Bersama

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan, peran hakim dalam penyelesaian kasus harta bersama adalah selalu mengupayakan perdamaian dengan melakukan mediasi oleh seorang mediator.

Menurut Bapak Eko Budiono, S.H, M.H. "Pertama kami berupaya dan mencoba menyelesaikan secara damai karena bila diselesaikan secara

7 Dr. Syarif Mappiasse, Logika Hukum Pertimbangan Putusan Hakim, (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2015), h., 66.

damai, maka hasilnya akan baik bagi kedua belah pihak. Namun, jika diselesaikan secara pengadilan, maka ada yang merasa senang dan ada yang merasa tidak senang. Jadi, peran kami adalah selalu mengupayakan agar permasalahan tersebut diselesaikan secara damai dengan cara mediasi."8

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H. "Selama ini yang saya lakukan kepada para pihak kalau bisa jangan diselesaikan oleh kami tapi saya selalu mengupayakan diselesaikan secara damai, yaitu dengan mediasi karena perdamaian lebih bagus daripada dipaksakan. Jika sudah ada persetujuan atau kesepakatan mereka berdua nanti kita tinggal memutus perkara itu, memperintahkan para pihak untuk mentaati kesepakatan yang mereka buat."9

Kemudian Bapak Mustar, M.H. mengungkapkan "Peran kami sebagai hakim, yaitu mendamaikan para pihak terlebih dahulu, karena setiap perkara perdata haruslah didamaikan terlebih dahulu berdasarkan Perma No 1 Tahun 2016."10

Dan yang terakhir menurut Bapak M. Yamin, M.H. "Sama seperti pada umumnya, yaitu dengan mendamaikan para pihak sesuai dengan Perma No 1 Tahun 2016."11

Dengan demikian, dalam menyelesaikan kasus harta bersama peran hakim selalu berupaya mendamaikan para pihak terlebih dahulu dengan melakukan mediasi berdasarkan Perma No 1 Tahun 2016.

8 Bapak Eko Budiono, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 12 Mei 2020

9 Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 20 Mei 2020

10 Bapak Mustar, M.H Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 4 Mei 2020

11 Bapak M. Yamin, M.H Ketua Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 8 Mei 2020

Menurut pasal 4 ayat (1) "Semua sengketa perdata yang diajukan ke Pengadilan termasuk perkara perlawanan (verzet) atas putusan verstek dan perlawanan pihak berperkara (partij verzet) maupun pihak ketiga (derden verzet) terhadap pelaksanaan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib terlebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui Mediasi, kecuali ditentukan lain berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung ini." Kemudian pasal 17 ayat (1) “Pada hari sidang yang telah ditentukan dan dihadiri oleh Para Pihak, Hakim Pemeriksa Perkara mewajibkan Para Pihak untuk menempuh Mediasi."

Mediasi merupakan salah satu alternatif penyelesaian sengketa yang cepat di pengadilan. Hal ini juga dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak untuk menemukan penyelesaian sengketa yang memuaskan dan terpenuhinya rasa keadilan. Tujuan proses penyelesaian dengan mediasi adalah agar para pihak dapat mendiskusikan perbedaan-perbedaan dengan bantuan mediator.

Diharapkan dengan mediasi para pihak akan mencapai kesepakan dan tidak ada lagi pihak yang dirugikan.

2. Pemeriksaan dan Pola Penyelesaian Kasus Harta Bersama

Apabila proses mediasi tidak berhasil, maka dilanjutkan ke tahap pemeriksaan di persidangan. Dalam tahapan ini tidak ada perbedaan, sama seperti perkara pedata pada umumnya. Diawali pemeriksaan para pihak, mediasi, jika gagal akan dilanjutkan dengan pembacaan gugatan, pembacaan bantahan terhadap gugatan, replik, duplik, pembuktian, kesimpulan, putusan.

Pola penyelesaian kasus harta bersama menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 97 "Janda atau duda cerai masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan

lain dalam perjanjian perkawinan." 12 . Kemudian, menurut KUHPerdata pasal 128 menyatakan "Setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri, atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu"13. Berdasarkan informasi yang penulis dapat pada pola penyelesaian kasus harta bersama yang tidak didaftarkan dalam perjanjian perkawinan, pembagiannya tidak harus sebagian untuk suami dan sebagian untuk istri. Namun, harus melihat juga berdasarkan peran atau kontribusi dalam rumah tangga.

Menurut Bapak Mustar, M.H "Dalam proses pemeriksaannya seperti biasa, yaitu jika mediasi tidak berhasil, maka pembacaan gugatan, pembacaan jawaban tergugat, replik, duplik, pembuktian, putusan. Dalam pembuktian jika terbukti, maka kita bagi dan jika tidak terbukti akan kita tolak. Kemudian harta yang telah terdaftar diperjanjian perkawinan, maka akan dibagi sesuai perjanjian perkawinan. Kemudian kita harus menlihat dahulu jika ada perjanjian, maka menyelesaikannya dengan perjanjian. Jika tidak ada, maka harta yang tidak terdapat diperjanjian perkawinan dibagi 2, 2:1, atau 3:1.

Seperti contoh saya pernah memutus istri mendapatkan 2/3 dan suami 1/3 dengan menerobos Kompilasi Hukum Islam pasal 97. Saya menerobos karena melihat kontribusi keadilan di mana istri yang bekerja sedangkan suami tidak. Dalam kontribusi keadilan tidak adil jika dibagi dua karena dalam hal ini yang mencari nafkah adalah istri."14

Menurut Bapak M. Yamin, M.H "Proses pemeriksaannya seperti biasa, yaitu pemeriksaan lalu mediasi. Jika mediasi berhasil, maka disesesaikan secara damai. Jika tidak, maka dilanjutkan dengan

12 Kompilasi hukum Islam Pasal 97.

13 KUHPerdata Pasal 128.

14 Bapak Mustar, M.H Hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 4 Mei 2020

pembacaan gugatan dan didalam gugatan itu terdapat infomasi sesuai dengan posita, kemudian pembacaan jawaban tergugat apabila merasa keberatan, dan dilanjutkan seperti tahapan-tahapan dalam pemeriksaan perkara. Didalam pemeriksaan majelis hakim akan bertanya apakah para pihak membuat perjanjian perkawinan atau tidak. Dalam pola penyelesaian, yaitu sebagian untuk istri sebagian untuk suami. Bila kita matematikakan bisa 50:50 tapi boleh juga tidak seperti itu, tergantung dari objek pemeriksaan sepanjang pertimbangannya itu memiliki bukti yang kuat, pertimbangan yang rasional dan memiliki keadilan. Seperti kasus istri bekerja suami tidak, namun jika istri berpendapat tidak apa-apa dibagi dua. Disini kita sebagai hakim tidak boleh mempersepsikan sendiri karen tugas kita melihat realitas berdasarkan fakta-fakta."15

Menurut Bapak Eko Budiono, S.H, M.H "Proses pemeriksaannya, yaitu sesuai dengan hukum acara perdata. Pertama kita lakukan mediasi terhadap kedua belah pihak. Apabila tidak bisa dimediasi, maka proses pemeriksaan kita lanjutkan sesuai dengan hukum acara perdata, yaitu kita baca gugatannya, mendengarkan jawaban, lalu replik duplik, kemudian kita lihat bukti-bukti yang diajukan, dan yang terakhir kita ambil keputusan. Di dalam pemeriksaan kita juga selalu bertaya apakah para pihak pernah membuat perjanjian atau tidak. Jika ada perjanjian perkawinan, maka kita akan mengacu kepada perjanjian perkawinan tersebut. Jika tidak ada, maka kita akan mengacu pada dalil gugatan dan bukti-bukti yang diajukan para pihak. Dengan demikian, tidak selamanya sebagian untuk suami dan sebagian untuk istri karena ada yurisprudensi Putusan MA No.266/AG/2010 bahwa kita harus melihat besarnya porsi si suami atau istri dalam perolehan harta itu. Bisa saja 3:1 kalau porsi dalam

15 Bapak M. Yamin, M.H Ketua Pengadilan Agama Jakarta Barat, Interview Pribadi, Jakarta 8 Mei 2020

mendapatkan harta itu andilnya lebih banyak pihak istri, namun hal itu kita lihat dalam pembuktiannya."16

Menurut Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H. "Jika dalam mediasi tidak berhasil, maka kita melakukan pemeriksaan pembacaan gugatan, lalu jawaban, ada replik duplik, pembuktian, putusan. Namun, kami selalu mengupayakan agar diselesaikan secara damai. Untuk pola penyelesaiannya, yaitu mengacu pada dalil gugatan dan bukti yang diminta para pihak. Namun, bila yang bekerja adalah istri, maka berdasarkan putusan Mahkamah Agung dalam pembagiannya istri mendapatkan lebih banyak daripada suami."17

Pada dasarmya pembagian harta bersama menurut KHI dan KUHPerdata dengan membagi dua dengan besaran yang sama banyak untuk menciptakan rasa keadilan dan memberikan keseimbangan hak suami maupun istri. Namun, rasa keadilan baru bisa tercipta apabila suami menjalankan haknya dalam mencari nafkah. Dalam kehidupan berumah tangga ada suami yang tidak menjalankan kewajibannya dalam mencari nafkah sehingga istri yang mencari nafkah dan ada juga suami istri sama-bekerja tapi dalam hal pendapatan istri lebih besar daripada suami. Dengan demikian, hal-hal tersebut dapat menimbulkan adanya kontribusi dalam rumah tangga.

Dalam menyelesaikan perkara kasus harta bersama, hakim tidak serta merta memutus berdasarkan ketentuan pasar 97 KHI. Hakim dapat mengesampingkan ketentuan pasal 97 KHI apabila didalam persidangan ditemukan fakta-fakta sebagai pertimbangan hakim dalam memutus perkara, yaitu kontribusi dalam perkawinan. Apabila istri yang mencari nafkah sedangkan suami tidak mencari nafkah atau dalam

16 Bapak Eko Budiono, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 12 Mei 2020

17 Bapak Dr. H. Farid Ismail, S.H, M.H. Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Interview Pribadi, Jakarta 20 Mei 2020

mencari nafkah tidak sebesar penghasilan istri, maka sudah seharusnya

mencari nafkah tidak sebesar penghasilan istri, maka sudah seharusnya

Dokumen terkait