• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015

DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA

Proposal Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

DISUSUN OLEH:

Muhammad Fajar Nur Alam 11140440000032

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1441H/2020M

(2)

i

PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA

JAKARTA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (S.H.) Oleh:

Muhammad Fajar Nur Alam Nim: 11140440000032

Pembimbing

Hotnidah Nasution, M.A NIP. 197101311997032010

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDYATULLAH

JAKARTA 1441H/2020M

(3)

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Muhammad Fajar Nur Alam

NIM : 11140440000032

Fakultas : Syariah dan Hukum

Program Studi : Hukum Keluarga

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S-1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 3 Juli 2020 Penulis

Muhammad Fajar Nur Alam

(4)

 

 

(5)

iv Abstrak

Muhammad Fajar Nur Alam. NIM 11140440000032. PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA. Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyyah), Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M. VII + 73 halaman + 12 lampiran.

Studi ini bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu: Pertama, bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama terhadap lahirnya putusan MK No 69/PUU-XIII/2015. Kedua, bagaimana pola penyelesaian kasus harta yang tidak didaftarkan dalam perjanjian perkawinan pasca Putusan MK No 69/PUU- XIII/2015.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif., dengan pendekatan penelitian hukum empiris. Sumber data terdiri dari dua, yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan hakim Pengadilan Agama, dua hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat dan dua hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Kemudian data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan, yaitu UU, buku, jurnal, laporan penelitian, dan lain sebagainya.

Hasil penelitian ini menunjukkan dua kesimpulan. Yang pertama, hakim Pengadilan Agama Jakarta Barat dan Jakarta Selatan berpandangan putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 adalah sebuah terobosan hukum baru yang dibuat demi terciptanya rasa keadilan dan kemaslahatan serta untuk melindungi hak-hak suami dan istri. Yang kedua, pola penyelesaian kasus harta bersama, hakim akan memutus berdasarkan dalil gugatan dan bukti yang dihadirkan dalam persidangan. Hakim tidak serta merta membagi sebagian untuk suami dan sebagian untuk istri. Hakim akan melihat berdasarkan kontribusi suami dan istri selama masa pernikahan.

Kata Kunci: Harta Bersama, Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015, Pengadilan Agama

Pembimbing : Hotnidah Nasution. M.A Daftar Pustaka : 1981 s.d 2017

(6)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur tak hentinya terucap kepada Allah SWT, berkat nikmat dan karunia-Nyalah peneliti dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA dapat diselasikan dengan baik. Shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang telah memimpin umat Islam menuju jalan yang diridhoi Allah SWT.

Dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, peneliti banyak mendapatkan bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang amat besar kepada:

1. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., M.A. SH, MH., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan jajarananya.

2. Dr. Hj. Mesraini, M.Ag. SH., Ketua Program Studi Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta Ahmad Chairul Hadi, M.A., Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skirpsi ini.

3. Hotnidah Nasution, M.A., Dosen pembimbing telah sabar dan terus memberikan nasehat serta arahan dalam penyusunan skripsi ini.

4. Afwan Faizin, M.A., Dosen penasehat akademik yang telah sabar memberikan nasehat dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

5. Dosen dan tenaga kependidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Para narasumber / informan hakim-hakim di lingkup Pengadilan Agama Jakarta Barat dan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang telah meluangkan waktunya untuk memberika data-data terkait penelitian ini.

(7)

vi

7. Kepala Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kepala Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menyediakan fasilitas yang memadai untuk mengadakan studi kepustakaan guna menyelesaikan skripsi ini.

8. Teristimewa untuk kedua orang tuaku tercinta, Miran dan Munamah, yang selalu tulus memberikan semangat, doa serta dorongan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Juga kepada adikku Musallimah Nur Delima yang selalu memberikan semangat dan motivasi sehingga penulis dapat menyelsaikan skripsi ini.

9. Terkhusus Coheva Dhiana Lasariqala yang telah memberikan arahan, semangat, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

10. Teruntuk teman-teman seperjuangan penulis anggota kontrakan pocong:

Alfie Ridho, M. Arief, Adli, Fabian, Riski Apu, Zaenai, Pai, Abay, Bang Dewa.

11. Keluarga besar Komunitas ASELI Joglo: Angga, Dani, Robi, Alan, Doni, Gugun, Aldi, riyan, ilham, wawan.

12. Teman-teman seperjuangan Hukum Keluarga UIN Jakarta angkatan 2014 yang telah berbagi ilmu, bertukar fikiran, dan pengalaman kepada penulis.

Semoga ilmu yang kita dapat bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun di masyarakat.

13. Juga seluruh pihak yang telah membantu dalam penyususnan skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti dan umumnya bagi pembaca serta menjadi amal baik disisi Allah SWT.

Sekian terima kasih.

Jakarta, 3 Juli 2020

Muhammad Fajar Nur Alam

(8)

vii DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Berlakang Masalah ... 1

B. Permasalahan ... ... 7

1. Identifikasi Masalah ... 7

2. Pembatasan Masalah ... 7

3. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metode Penelitian ... 8

E. Review Studi Terdahulu ... 10

F. Pedoman penulisan ... 11

G. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II HARTA BERSAMA SERTA PERJANJIAN PERKAWINAN SEBELUM DAN SESUDAH PUTUSAN MK NO 69/PUU-XIII/2015 A. Harta Bersama Menurut Hukum Positif ... 13

B. Perjanjian Perkawinan Sebelum Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 ... 22

C. Perjanjian Perkawinan Sesudah Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 ... 26

BAB III PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO 69/PUU-XIII/2015 A. Alasan Diajukannya Judicial Review ... 32

B. Pasal Yang diajukan Untuk Judicial Review ... 34

C. Pasal Yang Diubah Oleh Mahkamah Konstitusi ... 40

D. Kedudukan putusan MK terhadap Undang-undang No 1 Tahun 1974 ... 42 BAB IV ANALISIS PANDANGAN HAKIM PENGADILAN AGAMA TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NO.69/PUU-XIII/2015

(9)

viii

A. Pandangan hakim terhadap putusan MK

No. 69/PUU-XIII/2015 ... 46 B. Pola Penyelesaian Kasus ... 50

1. Peran Hakim Dalam Menyelesaikan Kasus

Harta Bersama ... 50 2. Pemeriksaan dan Pola Penyelesaian Kasus

Harta Bersama ... 52 3. Hambatan Dalam Menyelesaikan Kasus

Harta Bersama ... 57 C. Analisis Pandangan Hakim Terhadap Kedudukan Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 ... 59 1. Kedudukan Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015 ... 59 2. Dampak Positif dan Negatif Putusan MK

No.69/PUU-XIII/2015 ... 62 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 65 B. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa manusia lain. Allah menciptakan manusia berpasangan- pasangan dan memiliki daya tarik satu dengan yang lainnya agar dapat hidup bersama dan membentuk ikatan sakral yang disebut perkawinan

Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa:

“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sedangkan menurut hukum islam penikahan adalah akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalizhaan untuk menaati perintah Allah melaksankannya merupakan ibadah. Subtansi yang terkandung dalam syariat perkawinan adalah menaati perintah Allah serta Rasul- Nya yaitu menciptakan kehidupan rumah tangga yang mendatangkan kemaslahatan baik bagi pelaku perkawinan itu sendiri, anak turunan, kerabat maupun masyarakat.1

Tujuan dari pernikahan adalah terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Tidak hanya itu, tujuan lain dari perkawinan adalah menentramkan jiwa, mewujudkan keturunan, memenuhi kebutuhan biologis dan latihan memikul tanggung jawab. Paling tidak keempat hal tersebut merupakan tujuan perkawinan yang harus benar-benar dipahami oleh calon suami atau istri supaya terhindar dari keretakan dalam rumah tangga yang biasanya berakhir pada perceraian yang sangat dibenci oleh Allah.2

Pada umumnya setiap orang yang akan melangsungkan kehidupan berumah tangga mereka sama-sama mengimpikan dan mendambakan kebahagiaan yang digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Namun, sering terjadi kebalikannya

1 Mustofa Hasan, Pengantar Hukum Keluarga, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), h., 13.

2 Abror Sodik, Fikih Keluarga Muslim, (Yogyakarta: Aswaja Pressido, 2015), h., 3.

(11)

timbul penyesalan dan penderitaan dalam diri.3 Walaupun perkawinan ditujukan untuk selama-lamanya, tetapi terkadang ada sesuatu hal yang bisa menyebabkan perkawinan tersebut tidak dapat dipertahankan. Bahkan saat ini lunturnya nilai-nilai agama, norma, dan etika menyebabkan banyak perkawinan yang dilatar belakangi oleh kepentingan tertentu seperti masalah harta, kehendak ini datang baik dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan.4

Apabila para pasangan suami istri tidak dapat mempertahankan pernikahan, maka perceraian adalah jalan keluar. Putusnya suatu perkawinan menimbulkan akibat hukum yang merupakan konsekuensi dari hubungan antara suami dan istri.

Akibat hukum yang ditimbulkan adalah hak asuh anak (hadhanah), nafkah ‘iddah dan mutah, masa ‘iddah istri, nafkah istri dan anak, dan harta bersama.5

Di Indonesia harta bersama diatur dalam Undang-Undang Perkawinan No.

1 tahun 1974 bab VII tentang harta kekayaan dalam perkawinan. Pasal 35 ayat (1) berisi bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

Harta dalam perkawinan dibagi atas dua macam. Yang pertama adalah harta harta bersama dan yang kedua adalah harta bawaan. Pertama, harta bersama adalah harta pencaharian yang diperoleh selama suami dan istri diikat dalam perkawinan dan harta bersama tersebut tidak diperoleh melalui warisan, hadiah, dan hibah.

Kedua, harta bawaan adalah harta yang sudah dimiliki sebelum menikah, mahar, warisan, hadiah, dan hibah.

Harta bersama merupakan hasil dari hubungan hukum kekeluargaan dan hubungan hukum kekayaan terjalin sedemikian eratnya, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.6 Dengan putusnya suatu ikatan perkawinan berakibat pada pembagian harta bersama yang diperoleh suami dan istri. Untuk meminimalisir

3 Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutuhan Rumah Tangga, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1993) h., 1.

4 Mustofa Hasan, Pengantar Hukum Keluarga, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), h., 16.

5 Moh. Idris Mulyo, Tinjauan Beberapa Pasal UU No 1 Tahun 1974 dari Segi Perkawinan Islam, (Jakarta: JND HIILCO, 1985), h., 213.

6 J Satrio, Hukum Harta Perkawinan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1991), h., 5.

(12)

terjadinya sengketa mengenai harta bersama, diperlukan kesiapan berupa kesepakatan atau perjanjian dalam perkawinan.

Perjanjian perkawinan dapat difungsikan sebagai persiapan sebelum masuk ke dalam bahtera rumah tangga. Perjanjian perkawinan (prenuptial agreement) adalah perjanjian yang dilakukan sebelum perkawinan dilangsungkan. Sejarah perjanjian perkawinan itu sendiri lahir dari budaya barat. Di Indonesia yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, masyarakat menganggap perjanjian ini menjadi persoalan yang sensitif, tidak lazim dan tidak biasa, kasar, matrealistik, juga egois, tidak etis, tidak sesuai dengan adat islam dan ketimuran dan lain sebagainya.7

Perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang dibuat oleh calon suami dengan calon istri pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, perjanjian dilakukan secara tertulis dan disahkan oleh pegawai pencatat nikah dan isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang diperjanjikan.8

Di dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 perjanjian perkawinan di atur dalam pasal 29 ayat (1) sampai dengan ayat (4). Ayat (1) memuat tentang kapan dibuatnya perjanjian perkawinan, yaitu pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, berbentuk tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat nikah, dan berlaku terhadap pihak ketiga. Kemudian, ayat (2) berisi bahwa perjanjian tidak boleh melanggar batas hukum agama dan kesusilaan dan apabila melanggar, maka perjanjian perkawinan tersebut tidak dapat disahkan. Selanjutnya, ayat (3) menerangkan bahwa perjanjian perkawinan berlaku sejak perkawinan dilangsungkan. Dan pasal (4) menyatakan perjanjian perkawinan tidak dapat diubah kecuali ada kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak merugikan pihak ketiga.

Namun, pada tahun 2015 Ny Ike Farida mengajukan permohonan pengujian pasal 21 ayat (1) ayat (3), dan pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria, serta pasal 29 ayat (1) ayat (3) ayat (4) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang

7 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Saat Terjadi Perceraian (Jakarta: Visimedia, 2008), h., 83.

8 Amiur Nurudin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta:

Prenada Media, 2004), h., 138.

(13)

perkwinan karena dianggap merugikan bagi pasangan kawin campur yang menikah tidak membuat perjanjian perkawinan. Namun, di dalam putusan No 69/PUU- XIII/2015 Mahkamah Konstitusi hanya mengabulkan sebagian dari apa yang diajukan oleh Ny Ike Farida, di mana hanya Pasal 29 ayat (1) (3) (4). Sehingga pasal tersebut berubah menjadi sebagai berikut:

1. Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaries, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”;

2. Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaries, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut’;

3. Pasal 29 ayat (3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan”;

4. Pasal 29 ayat (3) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “Perjanjian tersebut

(14)

mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan’;

5. Pasal 29 ayat (4) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Selama perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainya, tidak dapat diubah atau dicabut, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah atau mencabut, dan perubahan atau pencabutan itu tidak merugikan pihak ketiga’

6. Pasal 29 ayat (4) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “ Selama perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainya, tidak dapat diubah atau dicabut, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah atau mencabut, dan perubahan atau pencabutan itu tidak merugikan pihak ketiga”;9

Setelah adanya putusan MK tersebut telah terjadi perubahan ketentuan pada pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) Undang-Undang No 1 Tahun 1974. Ayat (1) sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi perjanjian perkawinan hanya boleh dibuat sebelum atau pada saat perkawinan dan disahkan oleh pegawai pencatat nikah.

Namun, setelah adanya putusan Mahkamah Kosntitusi boleh dibuat sebelum, pada saat, atau selama masa perkawinan dan dibuat secara tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat nikah atau notaris.

Selanjutnya, ayat (3) menurut putusan Mahkamah Konstitusi perjanjian perkawinan berlaku sejak perkawinan dilangsungkan apabila perjajian perkawinan dibuat sebelum perkawinan atau sejak waktu yang ditentukan dalam perjanjian

9 Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015, h., 156- 157.

(15)

apabila dibuat selama ikatan perkawinan. Yang terakhir di dalam pasal (4) setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi adalah adanya ketentuan bahwa perjanjian kawin dapat diubah atau dicabut berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, selama hal tersebut tidak merugikan pihak ketiga. Sedangkan, sebelum adanya Putusan Mahkamah Konstitusi perjanjian kawin hanya dapat diubah saja tetapi tidak dapat dicabut.

Akibat adanya Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 69/PUU-XIII/2015, maka telah terjadi pergeseran makna perjanjian perkawinan dengan diizinkannya membuat perjanjian perkawinan selama masa perkawinan. Sehingga berdampak pada perubahan status hukum harta benda yang terdapat atau di peroleh dalam masa perkawinan. Lalu, bagaimanakah proses penyelesaian kasus harta bersama bagi pasangan yang menikah tidak membuat perjanjian perkawinan, kemudian setelah lahirnya putusan Mahkamah Konstitusi pasangan tersebut membuat perjanjian perkawinan pisah harta.

Seperti contoh pada tahun 2001 pasangan suami istri melangsungkan pernikahan tanpa membuat perjanjian perkawinan. Kemudian, pada tahun 2016 lahirlah putusan Mahkamah Konstitusi yang membolehkan membuat perjanjian selama masa pernikahan. Pada tahun 2017 pasangan tersebut membuat perjanjian perkawinan dengan catatan perjanjian perkawinan tersebut berlaku sejak akta perjanjian perkawinan itu disahkan. Lalu, pada tahun 2018 pasangan tersebut bercerai. Bagaimana proses penyelesaian kasus harta bersama yang tidak didaftarkan dalam perjajian perkawinan, yaitu dari tahun 2001 sampai tahun 2017.

Berdasarkan contoh tersebut, maka bagaimana penyelesaian status harta bersama yang tidak tercantum dalam perjanjian perkawinan. Disini penulis berfokus terhadap bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama dalam menyelesaikan permasalahan kasus harta bersama tersebut. Kemudian, dalam mengumpulkan data penulis mengambil sampel hakim yang bertugas di Pengadilan Agama Jakarta. Karena Jakarta merupakan Ibukota Negara dan juga sebagai pusat bisnis dengan berbagai macam latar belakang dan problematika penduduknya,

(16)

sehingga berpeluang terjadinya kasus permasalahan dalam perkawinan seperti contoh yang telah dipaparkan.

Dari latarbelakang yang telah dipaparkan, maka penulis ingin mengangkat permasalahan ini ke dalam sebuah skripsi yang berjudul “PANDANGAN HAKIM TERHADAP KASUS HARTA BERSAMA PASCA PUTUSAN MK NOMOR 69/PUU-XIII/2015 DI PENGADILAN AGAMA JAKARTA”

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

a. Bagaimana peran hakim dalam penyelesaian kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

b. Bagaimana proses pemeriksaan kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

c. Bagaimana pola penyelesaian kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

d. Apakah pasca lahirnya putusan MK No 69/PUU-XIII/2015 berlaku surut terhadap harta bersama?

e. Apa yang menjadi hambatan dalam penyelesaian kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

2. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan ini tidak melebar, maka dalam penelitian ini penulis membatasi pada pandangan hakim dalam menyelesaikan kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015 di Pengadilan Agama Jakarta Barat dan Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Bagaimana pandangan hakim Perngadilan Agama terhadap putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

b. Bagaimana upaya hakim dalam menyelesaikan kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015?

(17)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama terhadap lahirnya Putusan MK No 69/PUU-XIII/2015.

b. Untuk mengetahui bagaimana pola penyelesaian kasus harta bersama yang tidak didaftarkan dalam perjanjian perkawinan pasca Putusan MK No 69/PUU-XIII/2015.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitiian ini adalah:

a. Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar S1 dalam bidang Hukum Keluarga.

b. Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang kasus harta bersama.

c. Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perjanjian perkawinan.

d. Meningkatkan kualitas penulis dalam membuat karya ilmiah.

D. Metode Penelitian

Di dalam suatu penelitian sudah tentu memerlukan metode penelitian, yang bertujuan agar penelitian dapat terlaksana secara terarah, rasional dan objektif serta hasil dari penelitian tersebut dapat dicapai semaksimal mungkin. Berikut adalah metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode di mana peneliti mencari makna, pemahaman, pengertian, verstehen tentang suatu fenomena, kejadian, maupun kehidupan manusia dengan terlibat langsung dan/atau tidak terlibat langsung dalam setting yang diteliti, kontekstual, dan menyeluruh.

(18)

2. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dilakukan penelitian ini, yaitu dengan menggunakan pendekatan hukum empiris atau disebut dengan pendekatan hukum non doktrinal merupakan penelitian yang bertitik tolak pada data primer, yakni data yang diperoleh langsung dari objek penelitian.10

3. Subyek dan Obyek

Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah harta bersama. Objek dalam penelitian ini adalah pandangan hakim dalam penyelesaian kasus harta bersama pasca putusan MK No 69/PUU-XIII/2015.

4. Sumber Data & Pengumpulan Data

Data dalam penelitian terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data primer dalam penelitian ini adalah wawancara dengan hakim Pengadilan Agama di Jakarta.

b. Data Skunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Data skunder dalam penelitian ini dibedakan dalam beberapa macam, yaitu:

1) Bahan Hukum Primer, yaitu: putusan MK No 69/PUU- XIII/2015 dan Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 2) Bahan Hukum Sekunder, yaitu: berasal dari pendapat para ahli

hukum, literatur-literatur ilmiah dan buku-buku.

3) Bahan Hukum Tersier, yaitu: kamus hukum, ensiklopedi, dan sebagainya.

Teknik pengumpulan data dalam melakukan penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara dengan hakim Pengadilan Agama di Jakarta dan mengumpulkan data-data dari sumber primer, sekunder, dan tersier yang

10 Yayan Sopyan, Pengantar Metode Penelitian (Jakarta: UIN Press, 2010), h., 32.

(19)

mencakup Perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, Buku- buku, pendapat para ahli hukum dan lain-lain.

5. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif-analisis. yaitu menganalisis dengan cara menghimpun data yang terkumpul lalu mendeskripsikannya secara sistematis sesuai dengan tujuan penulis.

E. Review Studi Terdahulu

Sebelum penulis menentukan judul skripsi, penulis melakukan review terhadap skripsi yang sudah ada. dari sekian banyak literatur skirpsi, penulis menemukan beberapa judul yang memiliki berkaitan, antara lain:

1. Abdul Kodir Batubara ( 1112044100043 / Hukum Keluarga / Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2017) dengan judul “Perjanjian Perkawinan Pasca Sahnya Perkawinan (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi No.69/PUU- XIII/2015)”. Skripsi ini membahas tentang apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim Mahkamah Konstitusi dalam mengabulkan permohonan judicial review Ny. IF. Serta akibat hukum dari perjanjian perkawinan pasca putusan Mahkamah Konstitusi No 69/PUU-XIII/2015.

2. M. Beni Kurniawan (1110044100021 / Akhwal Syakhsiyyah / Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2014) dengan judul “Pembagian Harta Bersama Berdasarkan Kontribusi dalam Perkawinan (Analisis Putusan No. 168 /Pdt.G/2012/PA.Bkt)”. Skripsi ini membahas tentang hakim Pengadilan Agama Bukit Tinggi yang memeriksa sengketa harta bersama dengan nomor perkara 168 /Pdt.G/2012/PA.Bkt tidak menerapkan aturan yang terdapat pada pasal 97 Kompilaasi Hukum Islam.

Yang membedakan dengan penelitian-penelitian diatas adalah penulis lebih fokus terhadap bagaimana pandangan hakim terhadap penyelesaian kasus harta bersama pasca putusan Mahkamah Konstitusi No 69/PUU-XIII/2015.

(20)

Sedangkan Abdul Khodir Batubara lebih berfokus ke arah apa yang menjadi dasar pertimbangan Hakim Mahkamah Konstitusi dalam mengabulkan permohonan judicial review Ny. IF, serta akibat hukum perjanjian perkawinan pasca putusan Mahkamah Konstitusi No 69/PUU-XIII/2015. Kemudian, M.

Beni Kurniawan membahas bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama Bukit Tinggi yang tidak menjalankan pasal 97 Kompilasi Hukum Islam dalam perkara No 168 /Pdt.G/2012/PA.Bkt.

F. Pedoman Penulisan

Adapun penyusunan teknik penulisan penelitian ini mengacu pada Buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan terperinci tentang skripsi ini, maka penulis membagi penulisan skripsi ini dalam 5 bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan, bab ini berisi tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodelogi penelitian, review studi terdahulu, pedoman penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II : Aturan Hukum Tentang Harta Bersama Serta Perjanjian Perkawinan Sebelum dan Sesudah Putusan MK No 69/PUU- XIII/2015, bab ini merupakan landasan teori yang memuat tentang pengertian serta gambaran harta bersama menurut hukum positif di Indonesia. Kemudian, perjanjian perkawinan sebelum dan sesudah lahirnya putusan MK Nomor 69/PUU-XIII/2015.

BAB III : Gambaran Umum Tentang Putusan Mahkamah Konstitusi No 69/PUU-XIII/2015, bab ini berisi tentang alasan diajukannya judicial review, pasal yang diajukan, pasal yang diubah, dan kedudukan putusan MK terhadap UU No.1 Tahun 1974.

(21)

BAB IV : Analisis Pandangan Hakim Pengadilan Agama Terhadap Kasus Harta Bersama Pasca Putusan MK NO.69/PUU-XIII/2015, pada bab ini memuat analisis bagaimana pandangan hakim Pengadilan Agama terhadap putusan MK No 69?PUU-XIII/2015, bagaimana pola menyelesaikan kasus harta bersama sesudah putusan Mahkamah Konstitusi No.69/PUU-XIII/2015, dan analisis pandangan hakim terhadap kedudukan putusan MK No 69/PUU- XIII/2015.

BAB V : Penutup, bab ini merupakan penutup dalam penelitian, penulis akan menyimpulkan yang berkaitan tentang pembahasan di bab sebelumnya. Kemudian, bab ini juga memuat saran yang sesuai dengan judul skripsi ini dan di lengkapi dengan daftar pustaka serta lampiran.

(22)

13 BAB II

HARTA BERSAMA SERTA PERJANJIAN PERKAWINAN SEBELUM DAN SESUDAH PUTUSAN MK NO 69/PUU-XIII/2015

A. Harta Bersama Menurut Hukum Positif

Salah satu akibat hukum dari suatu perkawinan yang sah adalah terciptanya harta benda perkawinan. Harta atau kekayaan perkawinan diperlukan guna memenuhi segala keperluan yang dibutuhkan dalam kehidupan berkeluarga. 1 Harta tersebut ada yang diperoleh sebelum perkawinan dan ada yang diperoleh setelah dilangsungkannya perkawinan.

Mengenai harta kekayaan dalam perkawinan telah diatur dalam hukum positif Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam, dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Didalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 persoalan harta kekayaan diatur pada bab VII dengan judul “harta benda dalam perkawinan”

yang terdiri dari tiga pasal, yaitu Pasal 35, 36 dan 37.

Pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa harta di dalam perkawinan terdiri dari harta bersama, harta bawaan, dan harta perolehan. Harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama ikatan perkawinan berlangsung dan oleh karena itu ia menjadi milik bersama suami dan istri. Karena demikian sifatnya maka terhadap harta bersama, suami istri hanya dapat bertindak atas persetujuan bersama. Harta bawaan adalah harta yang dimiliki oleh masing-masing suami atau istri sebelum perkawinan. Sedangkan harta perolehan adalah harta yang diperoleh masing-masing suami istri berupa hibah atau warisan selama

1 Sonny Dewi Judiasih, Kajian Terhadap Kesetaraan Hak dan Kedudukan Suami dan Istri atas Kepemilikan Harta Dalam Perkawinan, (Bandung: PT.Refika Aditama, 2015), h., 23.

(23)

dalam ikatan perkawinan. Terhadap harta bawaan dan harta perolehan menjadi hak dan dikuasai sepenuhnya oleh masing-masing suami atau istri.2

Berdasarkan bunyi Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 harta bersama adalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan berlangsung antara suami istri. Namun, didalam Pasal 35 ayat (1) tersebut tidak menyebutkan secara jelas siapa dan bagaimana harta bersama tersebut diperoleh, apakah hasil kerja suami atau istri. Dalam pasal tersebut secara jelas menyebutkan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama yang dimiliki bersama oleh suami istri tanpa memperhitungkan siapa yang bekerja menghasilkan harta benda tersebut.

Selanjutnya di dalam pasal tersebut harta benda yang diperoleh selama masa perkawinan adalah harta bersama, dengan demikian harta bersama terbentuk sejak terjadinya perkawinan atau sejak akad nikah dilangsungkan sampai perkawinan itu putus, baik putus karena kematian atau perceraian. Ketentuan tentang harta benda termasuk ke dalam harta bersama atau tidak, ditentukan oleh faktor-faktor selama masa perkawinan.

Seluruh harta benda yang diperoleh selama masa perkawinan menjadi harta bersama, kecuali harta yang didapat dalam bentuk warisan, wasiat, dan hibah menjadi harta pribadi pihak yang menerimanya. Hal tersebut diatur dalam pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 berbunyi

“Mengenai harta bersama, suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak”. Dengan demikian, jika salah satu pihak, baik suami atau istri tidak setuju dengan suatu tindakan terhadap harta bersama, maka tindakan atau perbuatan hukum tersebut tidak dapat dilakukan. Hal ini berarti bahwa persetujuan suami dan istri menjadi syarat dapat dilakukannya suatu tindakan terhadap harta benda milik bersama. Oleh karena itu, harta kekayaan milik bersama ini dapat pula dijadikan sebagai barang jaminan

2 Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat I, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h., 182.

(24)

(agunan) oleh suami atau istri atas persetujuan pihak istri atau suaminya.

Persetujuan disini tidak mesti dinyatakan dengan tegas, bisa saja diberikan secara diam-diam.3

Menurut pasal 36 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

“Suami istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum terhadap harta pribadi masing-masing”. Mereka bebas menentukan terhadap harta tersebut tanpa ikut campur suami atau istri untuk menjualnya, dihibahkan, atau mengagunkan. Istri tidak memerlukan bantuan hukum dari suami untuk melakukan tindakan hukum atas harta pribadinya. Tidak ada perbedaan kemampuan hukum antara suami istri dalam mengawasi dan melakukan tindakan terhadap harta benda pribadi mereka.4 Undang-undang tidak membedakan kemampuan melakukan tindakan hukum terhadap harta pribadi masing-masing suami istri.

Harta bersama antara suami istri dapat dibagi ketika hubungan perkawinan telah berakhir atau telah terputus. Hubungan perkawinan tersebut dapat terputus karena kematian, perceraian, dan juga putusan pengadilan.5 Didalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 37 mengatakan “Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing”. Yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing ini adalah hukum agama, hukum adat, dan hukum lain-lainnya. Namun, pasal 37 tidak menjelaskan berapa bagian yang didapat suami atau istri terhadap harta bersama bila terjadi perceraian, baik cerai mati maupun cerai hidup.

Selanjutnya harta bersama juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam. Harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam diatur dalam pasal 85

3 Rachmadi Usman, Aspek-aspek Hukum Perorangan dan Kekeluargaan di Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h., 370.

4 Rosnidar Sembiring, Hukum keluarga Harta-Harta Benda Dalam Perkawinan, (Depok:

PT.RajaGrafindo Persada, 2017), h., 94.

5 Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum acara Peradilan Agama dan Zakat, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), h., 35.

(25)

sampai pasal 97. Berbeda dengan Undang-Undang Perkawinan, dalam Kompilasi Hukum Islam permasalahan harta bersama diatur lebih lengkap.

Menurut pasal 85 Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa

“Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau istri”. Dengan demikian, menurut Kompilasi Hukum Islam harta bersama yang diperoleh selama masa perkawinan tidak menutup kemungkinan terjadinya percampuran harta antara harta milik suami maupun istri. Artinya, disamping adanya harta bersama masing-masing suami istri diperkenankan memiliki harta pribadi berupa harta bawaan.6

Pasal 86 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa

“Pada dasarnya tidak ada pencampuran antara harta suami dan harta istri karena perkawinan”. Selanjutnya pada ayat (2) “Yang menentukan bahwa harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya”. Dengan demikian, Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahwa tidak ada percampuran antara harta pribadi suami istri karena perkawinan. Harta istri tetap mutlak jadi hak istri dan dikuasai olehnya, begitu juga harta pribadi suami menjadi hak mutlak dan dikuasai penuh olehnya.7

Mengenai harta bawaan Kompilasi Hukum Islam menerangkannya di dalam Pasal 87 ayat (1) “Harta bawaan masing-masing suami dan istri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan”. kemudian pada ayat (2) berisi “Suami dan istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sodaqoh

6 M. Anshary, Harta Bersama Perkawinan dan Permasalahannya, (Bandung: Mandar maju), h., 52.

7 Rosnidar Sembiring, Hukum keluarga Harta-Harta Benda Dalam Perkawinan (Depok:

PT.RajaGrafindo Persada, 2017), h., 94.

(26)

atau lainnya”. Dengan demikian, menurut ayat (2) suami istri bebas menentukan dan berbuat apa saja terhadap harta tersebut tanpa adanya ikut campur dari pihak suami atau istri.

Apabila terjadi perselisihan antara suami istri tentang harta bersama, maka penyelesaiaan dari perselisihan tersebut di pengadilan agama sesuai dengan Pasal 88 ayat (1) Kompilasi hukum Islam. Ditunjuknya pengadilan agama sebagai tempat untuk menyelesaikan sengketa harta bersama apabila dalam permasalahan sengketa tersebut tidak dapat diselesaikan dengan perdamaian atau kesepakatan. Tidak hanya itu, ditunjuknya pengadilan agama berdasarkan pasal 49 UU No 3 Tahun 2008 tentang perubahan atas UU No 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama di mana penyelesaian harta bersama merupakan kewenangan absolute dari pengadilan agama.

Menjaga harta bersama merupakan tanggung jawab bersama antara suami maupun istri. Hal ini tertuang didalam Pasal 89 KHI, “Suami bertanggung jawab menjaga harta bersama, harta istri maupun hartanya sendiri” dan Pasal 90 KHI “Istri turut bertanggung jawab menjaga harta bersama maupun harta suami yang ada padanya”.

Pasal 91 Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa pada ayat (1) harta bersama dalam perkawinan dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud. Kemudian, ayat (2) berisi harta bersama yang berwujud dapat meliputi benda bergerak, benda tidak bergerak, dan surat-surat berharga.

Sedangkan, pada ayat (3) harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak dan kewajiban. Ayat (4) berbunyi harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan pihak lainnya.

Dengan kata lain, harta bersama merupakan hak bersama yang boleh dipergunakan para suami atau istri, asalkan mendapat izin dari pasangannya.

Apabila diperhatikan ketentuan tersebut menunjukkan, bahwa sudah ada nuansa modern dalam menentukan harta kekayaan bersama dalam Kompilasi Hukum Islam, misalnya telah dimasukkannya surat-surat

(27)

berharga, seperti polis asuransi, bilyet giro saham, dan sejenisnya dalam kategori harta bersama. Dengan hal tersebut tampaknya Kompilasi Hukum Islam dari sejak dini telah mengantisipasi problematika perekonomian modern dalam menyongsong abad ke-21 yang akan datang.8 Kemudian Pasal 92 menjelaskan tentang suami istri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama.

Penggunaan harta bersama, lebih lanjut diatur dalam Pasal 93, 94, 95, 96, dan 97. Pasal 93 menyatakan bahwa pertanggung jawaban terhadap hutang suami atau istri merupakan tanggung jawab dan dibebankan kepada mereka masing-masing. Namun, berbeda dengan hutang yang dilakukan untuk kepentingan keluarga, maka pertanggung jawabannya dibebankan kepada harta bersama. Bila harta bersama tidak mencukupi, maka dibebankan kepada harta suami. Begitu juga sebaliknya, bila harta suami tidak mencukupi, maka dibebankan kepada harta istri.

Dalam Pasal 94 ayat (1) dan (2) KHI dirumuskan mengenai bentuk harta bersama dalam perkawinan, yaitu (1) Harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai istri lebih dari seorang, maka harta bersama masing-masing tersebut terpisah dan berdiri sendiri. (2) Pemilikan harta bersama dari perkawinan seorang suami yang mempunyai istri lebih dari seorang sebagaimana ayat (1), dihitung sejak berlangsungnya akad perkawinan yang kedua, ketiga, atau keempat.9

Selanjutnya apabila salah satu suami atau istri melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti berjudi, mabuk- mabukan, boros, dan sebagainya, maka suami atau istri dapat meminta Pengadilan Agama untuk meletakkan sita atau jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai seperti yang tertuang dialam Pasal

8 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), h., 36.

9 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, Undang- undang No. 7 Tahun 1989, (Jakarta: Pusat Kartini, 1997), h., 312.

(28)

95 ayat (1). Pada ayat (2) suami atau istri selama masa sita dapat melakukan penjualan atas harta bersama untuk kepentingan keluarga dan atas izin dari Pengadilan Agama.

Kemudian, penyelesaian harta bersama untuk pasangan yang cerai mati, seorang suami atau istri yang menghilang, dan pasangan cerai hidup diatur dalam Pasal 96 dan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam. Menurut Pasal 96 ayat (1) apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama. Pada ayat (2) pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau suaminya hilang, harus ditangguhkan sampai adanya kepastian tentang kematian yang jelas atau kepastian secara hukum berdasarkan putusan Pengadilan Agama. Pasal 97 menyatakan janda atau duda cerai masing-masing berhak seperdua dari harta bersama, sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Dari ketentuan kedua pasal tersebut dapat ditarik garis hukum, bahwa apabila terjadi perceraian, baik cerai hidup maupun cerai mati, maka masing-masing suami istri mendapatkan seperdua bagian dari harta bersama.10

Tidak hanya didalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam harta bersama juga diatur dalam KUH Perdata (BW). Harta Bersama menurut Undang-Undang dan pengurusnya, diatur dalam Bab VI Pasal 119-138, yang terdiri dari tiga bagian. Bagian Pertama tentang Harta Bersama menurut Undang-Undang (Pasal 119-123), Bagian Kedua tentang Pengurusan Harta Bersama (Pasal 124-125), dan Bagian Ketiga tentang Pembubaran Gabungan Harta Bersama dan Hak Untuk Melepaskan Diri Padanya (Pasal 126-138).11

10 M. Anshary, Harta Bersama Perkawinan dan Permasalahannya, (Bandung: Mandar Maju, 2016), h., 53.

11 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, Cetakan 1 (Bandung: Mandar Maju, 1990), h., 123.

(29)

Pasal 119 KUH Perdata menentukan bahwa, mulai saat perkawinan dilangsungkan, secara hukum berlakulah kesatuan bulat antara kekayaan suami istri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin tidak diadakan dengan ketentuan lain. Persatuan harta kekayaan itu sepanjang perkawinan dilaksanakan dan tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami atau istri apa pun.12

Berdasarkan pasal ini secara jelas dapat diketahui bahwa KUH Perdata menganut asas harta persatuan bulat, di mana harta bersama dalam perkawinan secara otomatis terbentuk dari harta bawaan masing-masing suami istri. Artinya, setelah perkawinan terjadi, maka harta bawaan masing- masing suami istri secara yuridis menjadi satu sebagai harta bersama. Hal ini berlaku secara otomatis, kecuali suami istri tersebut mengadakan perjanjian kawin yang memuat bahwa mereka tidak menganut asas harta persatuan bulat, sehingga harta bawaan mereka berada dibawah kekuasaan masing-masing. Apabila tidak diperjanjikan lain oleh suami istri itu dengan suatu perjanjian kawin, maka asas harta persatuan bulat tersebut berlaku sepanjang perkawinan dan tidak boleh diadakan perjanjian kawin setelah perkawinan berlangsung dengan persetujuan suami istri itu. Dengan demikian, dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata perjanjian perkawinan meniadakan bersatunya harta, semua harta yang diperoleh sebelum dan sesudah perkawinan dipertegas siapa pihak yang berhak menguasainya.

Termasuk pula harta bersama adalah hasil yang diperoleh dari harta persatuan bulat. Misalnya, harta persatuan bulat berupa sebidang tanah atau satu unit rumah yang disewakan, maka hasil sewanya merupakan harta bersama (Pasal 120 KUHPerdata)

12 Rosnidar Sembiring, Hukum keluarga Harta-Harta Benda Dalam Perkawinan (Depok:

PT.RajaGrafindo Persada, 2017), h., 93.

(30)

Harta warisan, hibah atau wasiat yang diterima suami atau istri selama dalam perkawinan, juga merupakan harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain oleh yang mewariskan atau orang yang mewasiatkannya.13

Mengenai pembagian harta bersama bila terjadi perceraian, diatur dalam Pasal 128 kuh perdata yang berbunyi “Setelah bubarnya persatuan, maka harta benda kesatuan dibagi dua antara suami dan istri, atau antara para ahli waris mereka masing-masing, dengan tak memperdulikan soal dari pihak yang manalah barang-barang itu diperolehnya”. Artinya, apabila putusnya tali perkawinan antara suami dan istri, maka harta bersama itu dibagi dua antara suami dan istri tanpa memperhatikan dari pihak mana barang-barang kekayaan itu sebelumnya diperoleh.14

Apabila seseorang berstatus janda yang mempunyai anak sah yang sudah dewasa melakukan transaksi jual beli dihadapan pejabat pembuat akta tanah, harus dilakukan dengan persetujuan anak sah tersebut, dengan landasan yuridis bahwa anak sah mempunyai hak mutlak (legietieme portie) terhadap harta bersama milik orang tuanya sehingga setiap pengalihan hak milik yang dikuasai atau atas nama orang tuanya harus dengan sepengetahuan anak sah. Perkawinan orang tua secara otomatis menimbulkan adanya harta bersama, sehingga bila ada sertifikat tanah atas nama janda yang masih hidup (suami telah meninggal) tetap menjadi bagian yang terbuka waris untuk anak sah dalam perkawinan. Hak ini berasal secara mendasar dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW) Pasal 2.

Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggal telah lahir, setiap kali kepentingan si anak menghendakinya. Bila telah mati sewaktu dilahirkan, dia dianggap tidak pernah ada. Asas ini tetap berlaku sesuai hukum waris, warisan orang tua terbuka setelah kematian, sehingga dengan status janda telah diperhitungkan jumlah bagian warisan yang harusnya

13 M. Anshary, Harta Bersama Perkawinan dan Permasalahannya, (Bandung: Mandar Maju, 2016), h., 49.

14 Damanhuri, Segi-segi Hukum Perjanjian Perkawinan Harta Bersama, (Bandung: Mandar Maju, 2007), h., 5.

(31)

diterima oleh janda dan anak sah. Setiap benda tidak bergerak dengan atas nama janda tidak dapat secara bebas dijual tanpa sepengetahuan atau persetujuan anak sah atau pihak lain yang berkepentingan (misal: penyewa tanah dan/atau bangunan, kreditur, dan orang yang mendapat janji darinya).15

B. Perjanjian Perkawinan Sebelum Putusan MK No 69/PUU-XIII/2015 Ada beberapa istilah yang digunakan dalam perjanjian perkawinan, yaitu perjanjian perkawinan, perjanjian pranikah, huwelijksvoorwaarden, dan prenuptial agreement.

Perjanjian perkwinan adalah perjanjian yang dibuat oleh calon suami dengan calon istri pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, perjanjian dilakukan secara tertulis dan disahkan oleh pegawai pencacat nikah dan isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang diperjanjikan.16

Selanjutnya menurut Wirjono Prodjodikoro kata perjanjian diartikan sebagai suatu perhubungan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji melakukan suatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.17

Perjanjian perkawinan menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan diatur dalam Pasal 29 ayat (1) sampai dengan ayat (4) yaitu:

(1) Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat

15 M. Anshary, Harta Bersama Perkawinan dan Permasalahannya, (Bandung: Mandar Maju, 2016), h., 50.

16 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-gini Saat Terjadi Perceraian (Jakarta: Visimedia, 2008), h., 83.

17 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata Tentang Persetujuan-persetujuan Tertentu, (Bandung: Sumur, 1981), h., 11.

(32)

perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut.

(2) Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan.

(3) Perjanjian tersebut dimulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

(4) Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.

Pada ayat (1) sebenarnya tidak secara tegas menjelaskan bahwa perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian perkawinan. Ayat tersebut hanya menyatakan “kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan”. Namun, karena Pasal 29 ayat (1) terdapat didalam bab V tentang perjanjian perkawinan, maka semakin memperkuat yang dimaksud dengan perjanjian tertulis adalah perjanjian perkawinan.

Perjanjian perkawinan bukan merupakan keharusan dalam melangsungkan perkawinan, tetapi hanya bagi yang menghendaki saja. Jadi, bila calon mempelai tidak mau membuat perjanjian perkawinan, maka perkawinan mereka tetap dapat dilangsungkan. Dalam pembuatannya perjanjian perkawinan dibuat secara tertulis atas persetujuan kedua belah pihak dan disahkan oleh petugas pencatat nikah. Apabila sudah disahkan oleh pegawai pencatat nikah, maka isi dari perjanjian perkawinan itu mengikat para pihak dan juga pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersebut tertuang di dalam isi dari perjanjian tersebut.

Undang-undang Perkawinan tidak mensyaratkan atau mengatur secara rinci bentuk hukum tertentu untuk sahnya suatu perjanjian perkawinan seperti dalam KUHPerdata. Satu-satunya syarat yang disebutkan adalah perjanjian tersebut harus tertulis dan tidak melanggar

(33)

batas-batas hukum, agama, dan kesusilaan. Atas dasar itu, para pihak dapat meletakkan perjanjian perkawinan mereka, baik dalam akta di bawah tangan maupun dalam bentuk autentik.18 Suatu perjanjian perkawinan dibuat dalam bentuk akta di bawah tangan, artinya para pihak dapat membuatnya sendiri dengan syarat perjanjian tersebut disahkan oleh Pegawai Pencatat Nikah.

Pasal 29 Ayat (2) UUP menyebutkan bahwa “perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bila melanggar batas-batas hukum, agama dan kesusilaan”19. Artinya, isi dari perjanjian perkawinan haruslah sesuai dan tidak bertentangan dengan ketentuan hukum, norma agama, dan kesusilaan.

Apabila isi dari perjanjian perkawinan tersebut melanggar batas-batas hukum, agama, dan kesusilaan, maka perjanjian tersebut tidak dapat disahkan. Misalnya dalam perjanjian ditentukan istri tidak diberi wewenang melakukan perbuatan hukum, karena hukum menentukan bahwa wanita bersuami berwewenang melakukan perbuatan hukum apapun. Isi perjanjian perkawinan yang melanggar batas-batas agama, misalnya dalam perjanjian perkawinan ditentukan istri atau suami tetap bebas bergaul dengan laki-laki atau perempuan lain diluar rumah mereka. Ini jelas melanggar batas agama sebab agama tidak membenarkan pergaulan bebas semacam itu. Melanggar batas kesusilaan, misalnya dalam perjanjian ditentukan suami istri tidak boleh melakukan pengontrolan terhadap perbuatan istri diluar rumah dan sebaliknya.20

Berlakunya perjanjian perkawinan, yaitu sejak perkawinan dilangsungkan berdasarkan Pasal 29 Ayat (3) Undang-undang Perkawinan.

Tidak adanya ketentuan lain mengenai hal ini dalam Undang-undang Perkawinan, bahwa Undang-undang Perkawinan tidak menghendaki waktu lain selain sejak perkawinan dilangsungkan. Bagi yang menikah secara

18 R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, Hukum Orang dan Keluarga:

Personen en Familie-Recht (Surabaya: Airlangga University Press, 2000), h., 40.

19 Satrio, Hukum Harta Perkawinan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), h., 243.

20 Damanhuri, Segi-segi Hukum Perjanjian Perkawinan Harta Bersama, (Bandung: Mandar Maju, 2007), h., 6.

(34)

agama islam, maka perjanjian perkawinan berlaku sejak diucapkannya ijab kabul. Perjanjian perkawinan berlaku sampai perkawinan suami istri putus, salah satu meninggal dunia, atau terjadi perceraian. Namun, apabila perjanjian perkawinan telah dibuat tetapi calon suami istri tersebut batal melangsungkan perkawinan, maka perjanjian tersebut juga tidak berlaku.

Dengan demikian, perjanjian perkawinan akan kehilangan kekuatan hukumnya jika tidak diikuti perkawinan pihak- pihak yang telah membuat perjanjian tersebut.21

Pasal 29 ayat (4) menyatakan “Selama perkawinan dilangsung perjanjian tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.” Selama perkawinan berlangsung, suami dan istri dapat mengubah isi dari perjanjian perkawinan yang mereka buat. Perubahan terhadap perjanjian perkawinan dimungkinkan untuk dilaksanakan, asalkan perubahan tersebut dilakukan atas kesepakatan dari suami dan isrti yang membuat perjanjian perkawinan tersebut. Yang lebih penting adalah terhadap perubahan yang dibuat oleh suami-istri tersebut tidak boleh merugikan pihak ketiga.

Dalam hal ini Undang-undang Perkawinan tidak menetapkan seberapa besar perubahan tersebut dapat diadakan karena Undang-undang Perkawinan sendiri tidak memberikan pembatasan. Dengan demikian, para pihak dapat mengadakan perubahan yang seluas-luasnya, dari memisahkan harta bersama dalam perkawinan mereka, sampai adanya percampuran harta secara bulat di antara mereka, yang berarti tidak adanya harta pribadi milik masing-masing di dalam perkawinan tersebut.

21 Wahyono Darmabrata, Hukum Perkawinan Perdata Syarat sah Perkawinan Hak dan kewajiban suami istri harta kekayaan, (Jakarta: Rizkita, 2009), h., 166.

(35)

C. Perjanjian Perkawinan Sesudah Putusan MK No 69/PUU-XIII/2015 Mahkamah Konstitusi (MK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Agung. Keberadaannya dimaksudkan sebgai penjaga kemurnian konstitusi (the guardian of the constitution). Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing- masing oleh Mahkamah Agung, DPR dan pemerintah serta ditetapkan oleh Presiden, sehingga mencerminkan perwakilan dari 3 cabang kekuasaan negara, yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Wewenang Mahkamah Konstitusi sesudah amandemen, antara lain:22

1. Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terkahir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubarann partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum.

2. Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/wakil Presiden menurut UUD 1945.

3. Menguji undang-undang terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara, memutus pembbaran partai politik, memutus sengketa hasil pemilu dan memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan atau Wakil Presiden menurut UUD.

Setiap warga negara Indonesia pada dasarnya memiliki hak untuk mengajukan Permohonan Pengujian Undang-Undang terhadap Undang- Undang Dasar 1945 apabila menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang. Hak dan/atau

22 Sri Harjati, Ellyn Dwi Poespiasari, dan Oemar Moechtar, Pengantar Hukum Indonesia, (Surabaya: Airlangga Universiy Press, 2017), h., 161.

(36)

kewenangan konstitusialnya tersebut adalah hak dan/atau kewajiban yang diatur dalam konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga hak dan/atau kewenangan yang dapat dijadikan judicial review hanya terbatas pada hak dan/atau kewenangan konstitusional saja.23

Pada tahun 2015 Ny Ike Farida mengajukan permohonan pengujian Pasal 21 ayat (1) ayat (3), dan pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (UUPA), serta Pasal 29 ayat (1) ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan ke Mahkamah Konstitusi, karena dianggap merugikan bagi pasangan kawin campur yang menikah tanpa membuat perjanjian perkawinan. Kemudian pada tanggal 27 Oktober 2016, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015 yang mana pada pokoknya telah mengabulkan sebagian permohonan uji materi terhadap ketentuan mengenai Perjanjian Perkawinan yang diatur dalam Pasal 29 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) UU. No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.24 Sehingga pasal tersebut berubah menjadi sebagai berikut:

1. Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaries, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut”;

2. Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974

23 Badriyah Khaleed, Mekanisme Judicial Review, (Yogyakarta: Medpress Digital, 2014), h., 1.

24 Wisda Rauyani Efa Rahmatika, Analisis Yuridis Atas Perjanjian Perkawinan Ditinjau Dari Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Implikasi Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015, Jurnal Akta Vol. 4 No. 3 September 2017, h., 365.

(37)

Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “Pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan atau notaries, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut’;

3. Pasal 29 ayat (3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan”;

4. Pasal 29 ayat (3) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan, kecuali ditentukan lain dalam Perjanjian Perkawinan’;

5. Pasal 29 ayat (4) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Rapublik Indonesia Nomor 3019) bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai “Selama perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainya, tidak dapat diubah atau dicabut, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah atau mencabut, dan perubahan atau pencabutan itu tidak merugikan pihak ketiga’

6. Pasal 29 ayat (4) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974

(38)

Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “ Selama perkawinan berlangsung, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainya, tidak dapat diubah atau dicabut, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk mengubah atau mencabut, dan perubahan atau pencabutan itu tidak merugikan pihak ketiga”;25

Putusan MK tersebut telah membawa perubahan terhadap ketentuan hukum dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang selama ini mengatur perjanjian perkawinan, yakni Pasal 29 ayat (1), (3), dan (4) antara lain:

1. Terhadap Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Sebelum adanya Putusan MK perjanjian perkawinan hanya boleh dibuat sebelum atau pada saat perkawinan dan disahkan oleh pegawai pencatat nikah. Namun setelah adanya putusan MK menjadi boleh dibuat sebelum, pada saat, atau selama masa perkawinan dan perjanjian perkawinan dibuat secara tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat nikah atau notaris.

Putusan MK terhadap Pasal 29 ayat (1) UU Perkawinan tersebut, dapat dijabarkan sebagai berikut :26

• Perjanjian perkawinan tidak lagi hanya bisa dibuat pada saat atau sebelum perkawinan dilangsungkan (prenuptial agreement), tapi juga bisa dibuat selama dalam perkawinan (postnuptial agreement). Intinya, perjanjian perkawinan dapat dibuat kapan saja, yakni sebelum, pada saat atau setelah perkawinan dilangsungkan (selama dalam perkawinan).

25 Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Putusan Nomor 69/PUU-XIII/2015, Hal. 156- 157

26 https://pokrolonline.blogspot.com/2017/05/putusan-mahkamah-konstitusi-terhadap.html, diakses pada 8 November 2019, pukul: 14.08

(39)

• Bentuk perjanjian tertulis (perjanjian perkawinan) tidak lagi samar, tapi lebih tegas, yakni dapat dibuat dalam bentuk dibawah tangan atau otentik.

• Menempatkan notaris dalam hal kewenangan pengesahan perjanjian perkawinan selain pegawai pencatat perkawinan, yang sebelumnya tidak ada. Pengesahan tersebut diperlukan agar perjanjian perkawinan mempunyai sifat publisitas dan berlaku sebagai undang-undang, bukan hanya bagi mereka yang membuatnya, tapi juga berlaku bagi pihak ketiga yang terkait atau memiliki kepentingan terhadapnya.

2. Terhadap Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Sebelum adanya Putusan MK perjanjian perkawinan berlaku sejak perkawinan dilangsungkan. Namun, setelah adanya Putusan MK perjanjian perkawinan berlaku sejak perkawinan dilangsungkan apabila perjajian perkawinan tersebut dibuat sebelum perkawinan, atau sejak waktu yang ditentukan dalam perjanjian perkawinan apabila dibuat selama ikatan perkawinan.

Selanjutnya yang dimaksud dengan “sejak waktu yang ditentukan”

adalah pasangan yang membuat perjanjian perkawinan di dalam perjanjian tersebut telah sepakat menentukan waktu kapan perjanjian itu berlaku. Bisa sejak perjanjian perkawinan disahkan atau satu bulan sejak perjanjian perkawinan tersebut disahkan dan lain-lain.

Apabila perjanjian perkawinan yang dibuat setelah perkawinan di dalam isinya tidak menentukan kapan berlakuannya perjanjian tersebut, maka konsekuensi hukumnya adalah perjanjian perkawinan tersebut mulai berlaku sejak perkawinan mereka dilangsungkan.

3. Terhadap Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Sebelumnya Pasal 29 ayat (4) menyatakan bahwa perjanjian perkawinan hanya dapat diubah saja tetapi tidak dapat dicabut.

Setelah adanya Putusan MK “perjanjian perkawinan dapat diubah

(40)

atau dicabut berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, selama hal tersebut tidak merugikan pihak ketiga”.

Putusan MK terhadap Pasal 29 ayat (4) UU Perkawinan tersebut, dapat dijabarkan sebagai berikut:27

• Memperluas muatan isi perjanjian perkawinan, dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainnya.

• Perjanjian perkawinan selama pekawinan berlangsung, bukan hanya dapat diubah tapi juga dapat dicabut, dengan syarat apabila ada persetujuan kedua belah pihak dan tidak merugikan pihak ketiga.

27 https://pokrolonline.blogspot.com/2017/05/putusan-mahkamah-konstitusi-terhadap.html, diakses pada 8 November 2019, pukul: 14.08

Referensi

Dokumen terkait

(Analisis et al., 2020) (1) penelitian yang dilakukan oleh (Padri, Utari, Nurhidayah, & Permatasari, 2012) yang mendapatkan hasil bahwa penggunaan peta konsep pada pembelajaran

Agama Sampang melalui oleh majelis hakim Pengadilan Agama Sampang.. terbatas pada hari sidang pertama sebelum memasuki pokok perkara, akan tetapi,. anjuran damai dapat ditawarkan

Pada aplikasi 1: Gambar 1, 2 dan 3 dapat dilihat Pada aplikasi 2: Gambar 4, 5 dan 6 dapat dilihat bahwa prosentase kematian larva Aedes aegypti pada bahwa prosentase

Merupakan jasa pelayanan tambahan untuk memuaskan konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Pada PT Sarigading juga melayani konsumen lewat telepon apabila ada

Peluang ini juga didukung oleh produk suku cadang kendaraan bermotor Indonesia yang mampu bersaing dengan produk dari negara berkembang lainnya serta daya beli pasar

Tabel 4.4 tersebut di atas, merupakan garis besar dari prosesi ritual tabut di Provinsi Bengkulu yang dalam perkembangannya telah mengalami pergeseran nilai

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan berenang 10 menit/hari dan puasa makan selama 5 hari dapat menyebabkan stres oksidatif

Hal paling urgen yang harus ditindaklanjuti adalah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 128/PUU- XIII/2015 perlu menyesuaikan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun