• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

B. MetodePembelajaran

3. KedudukanMetodeDalamSuatuPembelajaran

Sebagai salah satu komponen pengajaran metode menempati peranan yang tidak kalah penting dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru harus memahami benar kedudukan metode dalam satu pengajaran. Adapun kedudukan metode dalam suatu pengajaran adalah :

65 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar,…., h. 81-82

a. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik

Menurut Sardiman A.M mengemukakan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar.

Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.

b. Metode sebagai strategi pengajaran

Dalam kegiatan mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relative lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Terhadap perbedaan daya serap anak didik sebagaimana tersebut diatas, memerlukan strategi pengajaran yang tepat.

Metodelah salah satu jawabannya.

c. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan adalah pedoman yang member arah kemana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran. Metode adalah pelican jalan pengajaran menuju tujuan.

Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan.

Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. Oleh karena itu dapat

dipahami bahwa metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Bila tidak, maka akan sia-sialah perumusan tujuan tersebut.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Guru dalam Memilih dan Menggunakan Metode

Winaryo Surakhmad mengatakan, bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut :

a. Anak didik

Di kelas guru akan berhadapan dengan sejumlah anak didik dengan latar belakang kehidupan yang berlain. Pada aspek biologis persamaan dan perbedaan anak didik terlihat dari status social mereka yang bermacam-macam. Demikian juga halnya mengenai jenis kelamin mereka, ada yang berjenis kelamin laki-laki dan ada yang beejenis kelamin perempuan. Postur tubuh mereka ada yang tinggi, sedang, dan ada pula yang rendah.

Dalam aspek intelektual terlihat perbedaan anak didik pada cepatnya tanggapan anak didik terhadap rangsangan yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar, dan lambatnya tanggapan anak didik terhadap rangsangan yang diberikan guru. Tinggi atau rendahnya kretifitas anak didik dalam mengolah kesan dari bahan pelajaran yang baru diterima bisa dijadikan tolak ukur dari kecerdasan seorang anak.

Dari aspek psikologis juga terdapat perbedaan diantaranya yaitu ada yang pendiam, ada yang kreatif, ada yang suka bicara, ada yang tertutup (introvert), ada yang terbuka (ekstrover), dan lain sebagainya.

Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis sebagaimana disebutkan diatas, mempengaruhi pemilihan penentuan metode yang akan dipakai guru dalam proses belajar mengajar.

b. Tujuan

Metode yang dipilih oleh guru haruslah sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh guru. Artinya, metodelah yang harus tunduk kepada kehendak tujuan dan bukan sebaliknya. Karena itu, kemampuan yang bagaimana yang dikehendaki oleh tujuan, maka metode harus mendukung sepenuhnya.

c. Situasi

Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari. Pada suatu waktu boleh jadi guru ingin menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka, yaitu di luar ruang sekolah. Maka guru dalam hal ini tentu memilih metode mengajar yang sesuai dengan situasi yang diciptakan.

d. Fasilitas

Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar.

e. Guru

Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari perbedaan kepribadian, latar belakang pendidikan, dan pengalaman mengajar. Yang mana kesemuanya tersebut adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.

Jadi sebagai seorang guru, maka sebelum menggunakan sebuah metode terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang telah disebutkan pada pembahasan di atas.

C. TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN 1. Pengertian Taman Pendidikan Al Qur’an

Taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) terdiri dari tiga kata yaitu taman, pendidikan dan Al-Qur’an. Taman mempunyai arti tempat yang menyenangkan.66 Sedangkan pendidikan Al-Qur’an adalah usaha-usaha yang sistematis dalam membantu anak didik tingkat kanak-kanak untuk mempeajari, menghayati, dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.67

TPA adalah lembaga pendidikan agama Islam tradisional yang secara khusus memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anak muslim dari usia dini.68 Ada juga pendapat lain yang menyatakan TPA adalah sebuah lembaga non

66 S. Woiowosito. Kamus Bahasa Indonesia, (Bandung: Shinta Darma, 1982), h. 76

67Depag RI, Pembinaan TPA/TPSA, (Padang: Kanwil Depag Sumbar, 1986), h. 31

68Kurikulum Taman Pendidikan, (Padang: [tp.], 2004)

formal yang fokus dalam memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak dalam bidang membaca Al-Qur’an.69

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa TPA merupakan suatu wadah yang kegiatannya adalah mengajarkan anak-anak untuk pandai membaca dan menulis Al-Qur’an sesuai dengan tajwid-tajwidnya, sehingga mereka dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan yang diberikan melalui TPA biasanya dilakukan di masjid, mushalla, dan di sekolah yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Dalam TPA, anak-anak diajarkan untuk membaca dan menulis huruf Al-Qur’an dan akhirnya sampai pada pemahaman Al-Qur’an. TPA mempunyai peranan penting bagi masyarakat dalam rangka membantu orang tua dalam mendidik dan mengajarkan anak-anak dalam membaca dan menulis A-Qur’an. Hal ini dikarenakan para orang tua yang tidak mampu sepenuhnya mengajarkan anak-anak mereka membaca dan menulis Al-Qur’an, walaupun tanggung jawab pendidikan anak didik anak berada sepenuhnya di pundak orang tua.

Dari penjelasan diatas dapat kesimpulan bahwa TPA adalah suatu wadah/tempat untuk melaksanakan pengajaran membaca dan menulis huruf Al-Qur’an terhadap anak-anak yang dikelola/ yang dibina oleh suatu kelompok masyarakat, lembaga, maupun pemerintah.

2. Tujuan Pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur’an

69 Yayasan Waqaf Khadijah Aisyah, Pendidikan, ([tt.] : [tp.], 2007

TPA sebagai suatu lembaga pendidikan Islam non formal di bidang Al-Qur’an tingkat dasar serta dasar-dasar pengetahuan agama Islam. Oleh karena itu TPA sebagai lembaga pendidikan non formal mempunyai tujuan kelembagaan sebagai berikut:

a. Membantu mengembangkan potensi anak kearah mampu dan lancar dalam membaca Al-Qur’an, pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan melalui pendekatan yang disesuaikan dengan lingkungan dan taraf perkembangan anak berdasarkan tuntunan Al-Qu’an dan Sunnah Rasul

b. Mempersiapkan anak agar mampu melafaskan ayat-ayat tuhan dan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan yang telah dimilikinya ke tingkat yang lebih tingi lagi.70

Itulah kiranya tujuan dari sebuah lembaga TPA didirikan di berbagai daerah yang tidak lain untuk membantu masyarakat supaya bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar sesuai dengan ilmu tajwid.

70 Depag RI, Pembinaan TPA/TPSA, (Padang: Kanwil Depag Sumbar, 1986), h.32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. PendekatandanJenisPenelitian

Pendekatandalampenelitianiniadalahkualitatif.Kualitatifadalahpenelitian yang bermaksuduntukmemahamifenomenatentangapa yang dialamiolehsubyekpenelitian, misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dllsecara holistic dandengancaradeskripsidalambentuk kata-kata danbahasa,

padasuatukontekskhusus yang

alamiahdandenganmemanfaatkanberbagaimetodeilmiah.71

Hal inisesuaidenganpendapatKoentjoroningrat yang engatakanbahwapenelitiankualitatifadalahpenelitiandibidangilmu-ilmu social kemanusiaandenganaktivitasberdasarkandisiplinilmiahuntukmengumpulkan, menjelaskan, menganalisisdanmentafsirkanfakta-faktaalam, masyarakat,

kelakuandanrohanimanusiagunamenemukanprinsip- prinsippengetahuandanmetode-metodebarudalamusahamenanggapihal-haltersebut.72

Deskriptifkualitatifadalahpenelitian yang data-datanyaberupa kata-kata (bukanangka-angka) yang berasaldariwawancara, catatanlaporan, dll,

ataupenelitian yang

71Lexy J, Moeloeng, MetodePenelitianKualitatifEdisiRevisi, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2005) h. 6

72 Ahmad Sohanji, dkk, PenelitianKualitatifdalamIlmu-ilmuSosialdanKeagamaan, (Malang:

Kalimasahada Press, 1996) h. 13

didalamnyamengutamakanuntukmendeskripsikansecaraanalisissesuatuperistiwaata u proses sebagaimanaasanyadalamlingkunganyang alamiuntukmemperolehmakna yang mendalamdarihakekat proses tersebut.73

Jenispenelitianinidimasukkankedalamjenispenelitiandeskriptifkualitatifdika

renakan data-data yang

dikumpulkanuntukmenunjangkegiatanstudiinipadaumumnyaberbentukuraianatauk

alimattentangkondisiobjek yang

menjadisasaranstudiinidisampaikansecaraapaadanya. Olehkarenaitu, untukmendukungefektifitaspenelitianmakadigunakanpendekatandeskriptifkualitatif .

Terkaitdenganjenispenelitian,

makapendekatanpenelitianbertumpupadapenelitianfenomenologis,

yakniusahauntukmemahamiartiperistiwadankaitan-kaitannyaterhadap orang-orang yang biasadalamsituasitertentu.Dalam hal ini, peneliti berusaha masuk kedalam dunia konseptual para subyek yang diteliti sedemikian rupa sehingga yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari.

DenganpendekataninilahdiharapkanbahwaMetode Guru dalamPembelajaran di

Taman Pendidikan Al Qur’an

desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahluntodapatdideskripsikansecaralebihte litidanmendalam.

B. LokasiPenelitian

73 Nana Sujana, Metode statistic, (bandung: Tarsito, 1989), h. 203

Lokasipenelitianadalahletakdimanapenelitianakandilakukanuntukmemperol eh data atauinformasi yang diperlukandanberkaitanpermasalahanpenelitian.

Penelitianinidilakukan di Taman Pendidikan Al Qur’an desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahlunto.

C. InformanPenelitian

Informanadalah orang yang

dimanfaatkanuntukmemberikaninformasitentangsituasidankondisilokasipenelitian.

Informanberkewajibansearasukarelamenjadianggotapenelitianwalaupunbersifat informal.Sebagaianggotatimdengankebaikandankesukarelaan.

Informandapatmemberikanpandangantentangnilai-nilai, proses dankebudayaan yang menjadilatarbelakangpenelitianini.

Adapun yang menjadiinformankuncidalampenelitianiniadalahseorang guru kaligrafimelaksanakanpembelajarankaligrafi,

sedangkaninformanpendukungnyaadalahpesertadidik TPA desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahlunto yang diajardandidikoleh guru TPA tersebut.

D. TeknikPengumpulan Data

Teknikpengumpulan datamerupakansalahsatuhal yang sangatpentingbagipenelitiansehingga data yang diperolehbenar-benarsesuaijudul yang ditentukanolehpeneliti.

Untukmendapat data yang akurat, penelitimenggunakanteknikpengumpulan data yang dipergunakandalampenelitian di lapanganadalahsebagaiberikut:

1. Observasi(Pengamatan)

Observasiadalahcarapengumpulan data

dengancaramelakukanpencatatansecaracermatdansistematisfenomena-fenomena yang diselidiki. SedangkanmenurutMardalis, observasiataupengamatanmerupakanhasilperbuatanjiwasecaraaktifdanpenuhpe rhatianuntukmenyadariadanyasesuaturangsangantertentu yang diinginkan, atausuatustudi yang disengajadansistematistentangfenomenasosialdangejala-gejalapsikisdenganjalanmengamatidanmencatat.74

Metode yang digunakanuntukmengumpulkan data-data

secaralangsungdansistematisterhadapobyek yang

diteliti.Dalamhalinipenelitimenggunakanmetodeobservasiuntukmemperoleh data lengkaptentang:

a. Gambaranumumlokasipenelitian yang mengenailetakgeografis TPA desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahlunto.

b. Metode yang digunakanoleh guru dalampembelajarankaligrafi di TPA desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahlunto.

2. Interview (Wawancara)

MenurutMoeloeng, “

Interviewatauwawancaraadalahpercakapandenganmaksudtertentuyaitupercaka

74SutrisnoHadi, Metodologi Research, (Jakarta: BinaAksara, 1995), h. 64

pan yang dilakukanolehkeduapihak, yaitupewawancara (interviewer) yang mengajukanpertanyaandan yang diwawancarai (interviewe) yang memberikanjawabanataspertanyaanitu.75

Dalampenelitianiniwawancaradigunakanuntukmemperoleh data tentangperistiwa yang terjadi.Peristiwa yang dimaksudadalahmetode guru dalampembelajarankaligrafi di Taman Pendidikan Al Qur’an desaLumindaikecamatanBaranginkotaSawahlunto.

E. Analisis Data

Analisis data

merupakantahappertengahandariserangkaiantahapdalamsebuahpenelitian yang mempunyaifungsidalamsebuahpenelitian.Karenaanalisis data diartikansebagaiupayamengolah data menjadiinformasi,

sehinggakarakteristikatausifat-sifat data

tersebutdapatdenganmudahdipahamidanbermanfaatuntukmenjawabmasalah-masalah yang berkaitandengankegiatanpenelitian.Analisis data

merupakansuatulangkah yang sangatkritis,

dalampenelitianinipenelitimenggunakaninteraktif yang dikemukakanolehMiles danHuberman

1. Pengumpulan data

75Lexy J, Moeloeng, MetodePenelitianKualitatifEdisiRevisi, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2005) h. 135

Pengumpulan data adalahprosedur yang

sistematisdanstandaruntukmemperoleh data yang

diperlukan.76Selaluadahubunganantarametodepengumpulan data

denganmasalahpenelitian yang

ingindipecahkan.Makadariitupenelitimenggunakanmetodepengumpulan

data.Pengumpulan data digunakanpenelitiuntukmengumpulkan data-data mengenaimetode guru dalampembelajarankaligrafi.

2. Reduksi data (Interpretation)

Biasanya data yang

diperolehdarilapangandalampenelitiankualitatifcukupbanyak,

untukitumakaperludicatatsearatelitidanrinci.Makapenelitiperlumenggunakanteknik

reduksi data (interpretation)

untukmenggabungkandanmenyeragamkansegalabentuk data yang diperolehsatubentuktulisan(script) yang akandianalisis.77Agar mendapatkesempurnaanmaka data-data yang diperolehdarilapanganharusdipilah-pilahmana data yang seharusnyadijadikansumberdanmana yang seharusnyatidakdijadikansumberdalampenelitianini.

3. Display data (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, makalangkahselanjutnyaadalahmendisplay

data.Menurut Miles danHuberman yang

76Moh.Nazir, MetodePenelitian, (Bogor: Graha Indonesia, 2005), h. 190

77Lexy J, Moeloeng, MetodePenelitianKualitatifEdisiRevisi, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2005) h. 288

dikutipolehSugiyonodalambukunyaMetodePenelitianPendidikanPendekatanKuant atif, Kualitatifdan R&D menyatakan “the most frequent form of display data for qualitative research data in the past has been narrative text”.Artinya yang paling seringdigunakanuntukmenyajikan data dalampenelitiankualitatifadalahdenganteks

yang bersifatnaratif.Setelah data diperoleh di

lapangandansudahdireduksimakalangkahselanjutnyaadalahmenyajikan data untukdisiapkandandiolah.

4. Kesimpulan

Langkahselanjutnyayaitupenarikankesimpulandanverifikasi,

kesimpulanituakandiikutidenganbukti-buktiberupa data yang digunakansebagai data penguat yang diperolehketikapenelitiandilakukan di lapangan. Yang dimaksudkanuntukpenetuan data akhirsemua proses tahapananalisis, sehinggakeseluruhanpermasalahanbisadijawabsesuaidengan data aslinyadansesuaidenganpermasalahannya.

Ketigakomponentersebutterlibatdalam proses dansalingberkaitan, sehinggamenentukanhasilakhirpenelitian. Dalampengambilan data dilakukankategorisasi data berdasarkantema-tema yang dirumuskan, tampilan data

yang dihasilkandigunakanumtukinterpratasi

data.Kesimpulanditariksetelahdicocokkanterhadapsumber data observasidanwawancara.

F. PengecekanKeabsahan Data

Untukmengujivaliditas dataataukeabsahan data, penelitimenggunakanmetodetriangulasi.MenurutLexy J.

Moeloengmetodeiniadalahteknikpemeriksaankeabsahan data yang

memanfaatkansuatu yang lain di luar data

itudankeperluanpengecekanatausebagaiperbandinganterhadap data itu.78

Dalampenelian, setiaphaltemuanharusdicekkeabsahannya agar hasilpenelitiannyadapatdipertanggungjawabkankebenarannyadandapatdibuktikank eabsahannya.Olehkarenaitu, penelitimenggunakantriangulasidengansumber, yaitumembandingkandanmengecekkembaliderajatkepercayaansuatuinformasi yang

diperolehmelaluiwaktudanalat yang

berbedadalampenelitianinidapatdilakukandengancaramembandingkan data hasilobservasidenganhasilwawancara.

78Lexy J, Moeloeng, MetodePenelitianKualitatifEdisiRevisi, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2005) h. 178

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Monografi Taman Pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto

1. Sejarah berdirinya taman pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto

Ketidaktersediaan lembaga khusus yang menangani masalah kaligrafi Islam, termasuk salah satu alasan kenapa seni Islam yang satu ini kurang diminati.Ditambah lagi dengan minusnya kegiatan-kegiatan eksebisi kaligrafi seperti pameran, lomba dan sayembara pada berbagai kesempatan.Kalaupun ada frekuensinya sangat jarang.

Khusus untuk daerah Sumatera Barat sebelum tahun 1989 lembaga pengembangan kaligrafi boleh dikatakan belum ada sama sekali. Ini disebabkan oleh berbagai faktor penghambat antara lain kurangnya perhatian masyarakat terhadap urgensi lembaga ini dalam kehidupan keagamaan dan langkanya sumber daya manusia yang berstatus sebagai kaligrafer.

Walaupun ada hanya beberapa orang saja seperti: H. Damarani Yunus (Padang), H. Bakhtiar Rajab (Padang Panjang), HMS. Dt. Tan Kabasaran (Bukittinggi), C. Israr dan M. Ruslan (Payakumbuh). Upaya mereka untuk memasyarakatan kaligrafi Islam di tengah-tengah masyarakat ternyata belum seperti yang diharapkan dan terkesan jalan sendiri-sendiri.

Walaupun jalur pengembangan seni kaligrafi Islam masa itu ada, hanya terbatas kepada jalur formal di bangku kuliah semata dimana jam pelajarannya hanya dua jam seminggu. Alokasi waktu yang dua jam seminggu itu memang tidak menukupi untuk mempelajari kaligrafi secara keseluruhan.

Akibatnya harapan untuk melahirkan generasi kaligrafi handal terbentur.Jadilah kaligrafi Islam di Sumatera Barat mengalami kemunduran.

Kekhawatiran akan memundurkan perkembangan kaligrafi Islam di Sumatera Barat, memang sangat beralasan bila dikaitkan dengan faktor tersebut di atas. Ini lebih terasa lagi bila dikaitkan dengan kenyataan historis bahwa daerah ini adalah daerah agamais, gudangnya para ulama dan pelopor pembaharuan Islam di Nusantara (Indonesia).Kepeloporan daerah ini di bidang keislaman ditopang oleh lahirnya karya-karya monumental dalam bentuk buku-buku, majalah-majalah dan koran-koran yang umumnya ditulis dengan bahasa Arab Melayu.Pemakaian tulisan Arab Melayu ini seara tidak langsung telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan seni kaligrafi Islam di ranah minang dan menjadi tonggak sejarah awal perkembangan kaligrafi Islam.

Taman Pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto berdiri pada tanggal 24 Agustus 2004. Taman Pendidikan AL Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qu’an yang ketuanya adalah Azwarli.

B. Variasi metode yang digunakan dalam pembelajaran kaligrafi Al Qur’an di Taman Pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto

Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.79Metode menurut Abd.Al Rahman Ghunaimah mengartikan bahwa cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.80

Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa variasi metode adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran dengan tujuan untuk mengatasi kebosanan peserta didik sebagai tercapainya tujuan pembelajaran.

Ada beragam metode pembelajaran yang digunakan oleh guru di dalam proses pembelajaran, khususnya pada pembelajaran kaligrafi yaitu metode ceramah, demonstrasi, drill (latihan), dan pemberian tugas.

Berdasarkan wawancara penulis dengan responden I penelitian didapatkan keterangan bahwa dalam pembelajaran kaligrafi Al Qur’an guru menerapkan metode ceramah, demonstrasi, drill (latihan), dan pemberian tugas.

79 M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 4

80M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,…., h.3

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada, metode yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran kaligrafi Al Qur’an untuk semua jenis khat di Taman Pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto adalah metode ceramah, demonstrasi, drill (latihan), pemberian tugas, dan karya wisata. Namun yang lebih dominan dipakai adalah metode demonstrasi, drill (latihan) dan pemberian tugas.

1. Metode Ceramah

Responden I mengungkapkan metode ceramah merupakan metode yang digunakan untuk menjelaskan bentuk huruf kaligrafi, metode ceramah ini digunakan untuk menjelaskan bentuk kaligrafi Al Qur’an dan untuk memotivasi dengan bercerita tentang pengalaman guru dalam belajar kaligrafi.81

Senada dengan pendapat diatas responden II mengungkapkan bahwa metode ceramah adalah salah satu bentuk metode ceramah adalah salah satu bentuk metode yang berpedaran penting dalam proses pembelajaran. Dengan metode ceramah ini, peserta didik akan dapat menerima penjelasan dari guru dengan baik dan benar.82

Metode ceramah digunakan guru dalam materi-materi yang menuntut penjelasan dan penerangan, sehingga peserta didik dapat menerima dan

81 Sartika Putri, Guru Kaligrafi, Selasa, 15 Desember 2018

82 Astomi Adam, Kepala Taman Pendidikan Al Qur’an, Selasa, 15 Desember 2018

memahami materi pelajaran yang disampaikan guru.Dapat penulis pahami bahwa metode ceramah sebagai salah metode mengajar yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kaligrafi kepada peserta didik.Melalui penggunaan metode ceramah ini, dalam pembelajaran kaligrafi peserta didik dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Responden III, menjelaskan di Taman Pendidikan Al Qur’an desa Lumindai kecamatan Barangin kota Sawahlunto yang digunakan guru dalam penyampaian materi pembelajaran kaligrafi. Metode ceramah tidak terlalu hanya dilakukan, hanya digunakan sedikit.Karena dalam pembelajaran kaligrafi materinya secara umum huruf. Metode ceramah hanya bersifat penyampaian informasi tertentu dalam menyampaikan materi-materi yang menuntut pelajaran dan penerangan, sehingga peserta didik dapat menerima dan memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Misalnya penjelasan huruf, penerangan cara menulis bentuk huruf, dan lain-lain.83

Responden IV menjelaskan pada penerangan metode ceramah ini guru juga dapat memberikan motivasi terhadap peserta didik dengan mencerikan pengalaman guru dan para kaligrafer yang sukses. Sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar kaligrafi yang baik dan benar sesuai dengan kaedah buku yang telah ditetapkan.84

83 Nurmaya Sari, Guru Tahfidz, Selasa, 15 Desember 2018

84 Nurhalia, Guru tilawatil Qur’an dan Tartil Qur’an, Selasa, 15 Desember 2018

Responden V menjelaskan penggunaan metode ceramah seringkali digunakan oleh gurunya, dengan menggunakan metode cerama peserta didik dapat mudah mengerti dan cepat mengerti dengan apa yang disampaikan oleh gurunya.85

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa metode ceramah sebagai salah satu metodeyang dapat digunakan dalam pembelajaran kaligrafi. Melalui penggunaan metode ceramah ini peserta didik dapat mengetahui dan memahami materi yang telah disampaikan dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori bahwa “metode ceramah itu adalah suatu cara penyajian dan penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswa.

2. Metode Demonstrasi

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan responden II bahwa penggunaan metode demonstrasi bertujuan untuk menjelaskan materi pembelajaran yang sifatnya berbentuk peragaan misalnya: bentuk-bentuk huruf, jenis-jenis huruf dan lain sebagainya.86Kemudian responden I menjelaskan bahwa metode demonstrasi lebih dominan digunakan oleh guru dalam pembelajaran kaligrafi, karena peserta didik rata-rata belum mengerti dengan bentuk-bentuk dan jenis kaligrafi.Oleh karena itu, guru menggunakan metode demonstrasi. Karena materi pembelajaran kaligrafi itu materinya

85 Muhammad Alif, peserta didik, Senin, 17 Desember 2018

86 Astomi Adam, Kepala Taman Pendidikan Al Qur’an, Selasa, 15 Desember 2018

didominasi oleh cara menulis. Metode demonstrasi digunakan guru dengan cara mendemonstrasikan terlebih dahulu bentuk-bentuk huruf kaligrafi misalnya huruf alifpadakhat naskhi, kemudian guru memerintahkan peserta didik untuk mendemonstrasikan apa yang telah di contohkan oleh guru.

Metode demonstrasi tidak dapat di tinggalkan dalam pembelajaran kaligrafi, karena metode demonstrasi sangat efektif digunakan dalam kaligrafi, sehingga peserta didik dapat memahami bentuk-bentuk huruf kaligrafi dan dapat menuls huruf dengan bagus yang sesuai dengan kaedah khattiyah.87

Hal senada juga di ungkapkan oleh responden III menyatakan bahwa metode demonstrasi sangat memudahkan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran kaligrafi, dimana peserta didik dapat menulis huruf kaligrafi yang indah sesuai dengan kaedah imlaiyyah dan kaedah khattiyah.

Dalam pelaksanaannya guru menjelaskan materi pembelajaran, guru bantu mengontrol dan mengarahkan bagaimana peserta didik menulis. Apabila terjadi kesalahan seperti: cara menggunakan kalam, kesahalan penulisan huruf dan lain-lain, maka guru bantu langsung mencontohkan dan mengarahkan bagaimana cara pemegangan kalam yang baik dan benar.88

Responden IV menjelaskan bahwa penggunaan metode demonstrasi yang digunakan oleh guru sangat memudahkannya dalam memahami kaligrafi karena guru seringkali menyatukan metode ceramah dengan metode

87 Sartika Putri, Guru Kaligrafi, Selasa, 15 Desember 2018

88 Nurmaya Sari, Guru Tahfidz, Selasa, 15 Desember 2018

demonstrasi, setelah guru menjelaskan tentang materi lalu guru langsung memberikan contoh di papan tulis.89

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat penulis pahami bahwa dalam pembelajaran kaligrafi metode demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran. Metode ini digunakan agar peserta didik dapat memahami bentuk-bentuk huruf, jenis-jenis huruf dan cara menulis kaligrafi yang baik. Metode demonstrasi digunakan yang tujuannya agar peserta didik dapat memahami dan melaksanakan materi yang disampaikan oleh guru dalam menuliskan kaligrafi yang baik dan benar.

3. Metode Drill (latihan)

Dalam proses pembelajaran kaligrafi unsur yang utama adalah latihan.

Ketika seorang guru memaparkan teori dan praktek tentang cara menulis huruf, baik huruf tunggal maupun huruf sambung, maka tugas peserta didik adalah mengulang-ulang apa yang telah dipelajari, baik ketika proses pembelajaran berlangsung maupun di luar am pembelajaran.

Responden I menjelaskan bahwa penggunaan metode latihan dalam pembelajaran kaligrafi, merupakan unsur yang utama. Karena tanpa melakukan latihan yang intensif tidak akan mampu menghasilkan tulisan yang bagus sesuai dengan kaedah buku yang ditetapkan. Metode latihan sangat perlu digunakan dalam pembelajaran kaligrafi. Metode ini dilakukan dengan

89 Miftahul Jannah, peserta didik, Senin 17 Desember 2018

cara menyuruh peserta didik untuk menulis dan mempraktekkan materi-materi yang telah disampaikan.90

Seiring dengan itu responden III juga menyatakan bahwa dalam penggunaan metode latihan ini peserta didik diberi kebebasan untuk latihan.Akan tetapi kadang kala menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik.

Seiring dengan itu responden III juga menyatakan bahwa dalam penggunaan metode latihan ini peserta didik diberi kebebasan untuk latihan.Akan tetapi kadang kala menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik.

Dokumen terkait