• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kefatisan sebagai Fenomena Sosiopragmatik

BAB II: LANDASAN TEORI

2.2 Kefatisan sebagai Fenomena Sosiopragmatik

Sosiopragmatik merupakan disiplin ilmu yang mengkaji bahasa atau makna ujaran sebagai objek penelitian dan sosial masyarakat sebagai konteks objek penelitiannya. Aspek sosial masyarakat di sini sesungguhnya tidak terlepas dari aspek budaya masyarakatnya sehingga kerapkali dirangkaikan menjadi aspek sosial budaya masyarakatnya. Bahasa mempunyai bentuk pragmatik yang berbeda-beda bila dilihat dari fungsinya. Di masyarakat, fungsi bahasa sering dikaitkan salah satunya dengan hubungan sosial oleh penggunanya yang peristiwa itu sering disebut sebagai komunikasi fatis atau kefatisan berbahasa.

Halliday (Sudaryanto,1990:17) menjelaskan bahwa fungsi khas bahasa yang tercermin pada struktur bahasa ada tiga, yaitu (1) fungsi “ideasional” dimana bahasa berperan sebagai pengungkapan ‘isi’ pengungkapan pengalaman penutur tentang dunia nyata, termasuk dunia dalam dari kesadarannya sendiri, (2) fungsi “interpersonal” berkaitan dengan peranan bahasa untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peranan-peranan sosial termasuk peranan-peranan komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri, (3) fungsi “tekstual” berkaitan dengan tugas bahasa untuk membentuk berbagai mata rantai kebahasaan dan mata rantai unsure situasi (features of the situation) yang memungkinkan digunakannya bahasa oleh para pemakainya.

Dalam hal ini, kefatisan berbahasa berkaitan erat dengan fungsi interpersonal karena bahasa digunakan untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, untuk pengungkapan peranan sosial termasuk peranan-peranan komunikasi yang diciptakan oleh bahasa itu sendiri. Fungsi interpersonal

dapat dilihat pada struktur yang melibatkan modalitas dan system yang dibangunnya. Membangun hubungan sosial berarti termasuk juga memelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak.

Chaer (2009:16) menjelaskan bahwa ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam fatik biasanya sudah berpola tetap, seperti pada waktu berjumpa, pamit, membicarakan cuaca, atau menanyakan keadaan keluarga. Ungkapan-ungkapan yang digunakan tidak dapat diartikan atau diterjemahkan secara harfiah karena ungkapan tersebut digunakan untuk tujuan untuk memelihara komunikasi dan tidak untuk menyampaikan informasi yang berdampak pada hubungan sosial penutur dan mitra tutur. Seperti contoh Apa kabar? Bagaimana kabar keluarga di rumah? Mau kemana nih? dan sebagainya.

Komunikasi fatis diperkenalkan oleh Malinowski setelah ia menyumbang gagasan mengenai ‘konteks situasi’ yang penting bagi teori bahasanya dalam buku milik Ogden’s dan Richards, dengan konsep ‘persekutuan pahtic’ dalam linguistik. Malinowski (Senft, 2009) mengatakan bahwa bahasa "free, aimless social intercourse" yang maksudnya adalah bahwa bahasa bebas digunakan dalam hubungan sosial antarmasyarakat yang tidak memiliki tujuan khusus. Misalnya, seseorang menanyakan kesehatan, mengomentari cuaca, atau memberikan sapaan. Hal ini ditegaskan Malinowski bahwa [...] to a natural man another man's silence is not a reassuring factor, but on the contrary, something alarming and dangerous [...]. Terjadinya keheningan atau diam di dalam pembicaraan bukan merupakan hal baik bila dikaitkan dengan hubungan sosial antarpenuturnya, tetapi sebaliknya mengkhawatirkan.

Artinya, penutur harus mengubah suasana hening atau diam yang terjadi saat berkomunikasi untuk menyelamatkan hubungan keduanya. Contoh menanyakan kesehatan, memberikan sapaan atau mengomentari cuaca merupakan sesuatu yang bisa dikatakan bila terjadi keheningan yang dapat disebut ‘persekutuan phatic’. Persekutuan phatic bukan kumpulan kata yang digunakan untuk menyampaikan makna tetapi mereka yang menggunakan persekutan phatic sedang memenuhi fungsi sosial mereka, memenuhi ikatan antarpribadi dan itulah tujuan utama mereka. Lebih lanjut, Malinowski menjelaskan bahwa komunikasi fatis bisa bukan hanya untuk basa-basi atau small talk dalam proses komunikasi tetapi menjadi pembentuk hubungan antar individu (Seft, 2009).

Malinowski (1923) menganggap Phatic Communion sebagai languag e as ‘an instrument of r eflecti on’ and languag e as ‘a mode of action (Zegarac & Clark, 1999). Artinya, bahasa digunakan sebagai alat untuk merefleksikan sebuah keadaan dan juga digunakan sebagai cara untuk mengungkapakan suasana yang berhubungan dengan perasaan pembicara tentang apa yang diucapkan atau terjadi. Bahkan, dalam literatur terbarunya Malinowski mengatakan bahwa:

1. Dalam Phatic Communion bahasa digunakan sebagai mode tindakan atau sebagai cara untuk melakukan tindakan bukan untuk transmisi (pengiriman) pikiran. Jadi komunikasi fatis tidak bersifat informatif, kalimat atau pernyataan yang dituturakan oleh penutur bukan semata-mata untuk menanyakan atau memberi tahu sebuah kebenaran kepada mitra tuturnya.

2. Berbagai macam jenis komunikasi fatis seperti salam, gossip dan sejenisnya memiliki persamaan yang tipis; di mana situasi terjadinya kefatisan tersebut dan munculnya wujud kefatisan dihasilkan secara linguistik.

3. Dalam komunikasi fatis makna kata yang keluar dari penutur hampir tidak relevan dengan topik pembicaraan utama tetapi ungkapan yang digunakan tersebut memenuhi fungsi sosial. 4. Fungsi sosial tersebut digunakan untuk mengatasi ketegangan

atau hal tidak menyenangkan yang disebabkan oleh diam, kesenyapan yang terjadi dalam berinteraksi atau digunakan untuk menghargai lingkungan dan interpersonal antar penuturnya.

Sementara itu, Jakosbson seorang ahli bahasa dan antropologi merujuk istilah persekutan phatic dengan phatic communication. Istilah tersebut digunakan untuk merujuk pada ucapan-ucapan yang dikatakan memiliki eksklusif sosial, fungsi ikatan seperti membangun dan hal yang memuat suasana yang ramah dan harmonis dalam hubungan interpersonal, terutama selama pembukaan dan penutupan tahap sosial. Hal ini menyatakan bahwa persekutuan phatic ditandai dengan tidak menyampaikan arti, tidak mengimpor informasi. Salam, komentar pada cuaca, lewat pertanyaan tentang kesehatan seseorang, dan topik pembicaraan kecil lainnya. Jakobson (1960) mencirikan fungsi fatis sebagai penggunaan bahasa untuk berfokus pada saluran komunikasi. Namun hal itu bukan berfokus pada informasi yang disampaikan melalui kode bahasa tetapi menunjukkan bahwa

pertukaran fatis yang berkepanjangan tepat terjadi ketika proses komunikasi terancam (misalnya, oleh ketidakamanan dari lawan bicaranya). Mereka pun menyadari bahwa kegiatan tersebut meruakan bagian dari 'chit-chat' dan percakapan informatif.

Selanjutnya, Laver (1974) juga mengambil pandangan Malinowski dan menjelaskan secara terperinci hubungan antara status sosial yang relatif dari lawan bicaranya dan pilihan ekspresi wajah yang sesuai dalam pertukaran fatik. Dia menyarankan agar fungsi sosial komunikasi fatik yang mendasar adalah `rinciannya mengani pengaturan hubungan interpersonal pada keseimbangan psikologis dari interaksi.

Arimi (1998:171) mengatakan bahwa komunikasi fatis dapat dibagi menjadi dua yaitu murni dan polar. Komunikasi fatis murni yaitu ungkapan atau tuturan yang dipakai dalam percakapan sesuai dengan peristiwa tutur yang muncul. Jadi apa yang dikatakan oleh penuturnya selaras dengan kenyataan atau memang benar-benar terjadi. Sedangkan komunikasi fatis polar yaitu sebuah ungkapan atau tuturan yang dipakai dalam sebuah percakapan tetapi berlawanan dengan realitasnya, tidak sesuai dengan kenyataan. Penutur mengatakan atau memilih ungkapan itu untuk menunjukkan sesuatu yang digunakan untuk pemenuhan hubungan sosial antar penuturnya.

Penelitian mengenai kefatisan mulai banyak dilakukan baik di dalam budaya, dunia pendidikan, dunia kerja, dan lain sebagainya. Budaya Jawa memiliki beberapa istilah kefatisan, seperti abang-abang lambe atau basa-basi. Maria Budi Asih (2015) melakukan penelitian mengenai basa-basi berbahasa

antarabdi dalem di Keraton Yogyakarta. Penelitian ini menjelaskan wujud tuturan basa-basi yang diklasifikasikan berdasarkan maksud tuturannya. Asih mengklasifikasikan tuturan menjadi menjadi sembilan berdasarkan maksud basa-basi, yaitu sapaan, menerima, menolak, minta izin, memohon atau mengundang, simpati, permisi, perendahan hati dan teguran. Wujud basa-basi yang diklasifikasikan berdasarkan maksud tuturannya tersebut juga dapat ditemukan penanda linguistik dan nonlinguistik dalam setiap tuturannya. Berdasarkan sembilan klasifikasi tersebut, data tuturan basa-basi dengan maksud sapaan memperoleh jumlah yang lebih banyak dibanding yang lain seperti menerima, menolak, memohon dan lain sebagainya. Basa-basi sapaan tersebut berjumlah sembilan belas tuturan yang memiliki variasi yang berbeda-beda.

Selanjutnya, penelitian Rukman Pala (2015) dalam artikel jurnal mengenai bentuk komunikasi fatis dalam bahasa Bugis Soppeng. Pala menemukan sebanyak 12 bentuk fatis yang terdapatdalam bahasa Bugis Soppeng. Bentuk fatis tersebut, yaitu bentuk fatis yang berbentuk kata, frasa dan kalimat. Fatis yang berbentuk kata terbagi lagi atas dua, yaitu kata tunggal dan kata tunggal utuh. Fatis yang berbentuk frasa adalah frasa Assalamu alaikum/waalaikumsalam dan frasa salam akkik. Fatis kalimat berupa kalimat ajakan dan kalimat pertanyaan. Secara umum, bentuk fatis bahasa Bugis Soppeng menempati posisi inisial, medial, dan final suatu tuturan, sedangkan maksud makna fatis adalah mempertegas maksud, pertanyaan, ajakan, dan menunjukkan penghormatan. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi fatis milik Malinowski, dan konsep beberapa ahli mengenai komunikasi fatis berlandaskan konsep fatis Malinowski, Leech, dan Kridalaksana.

Teori Malinowski mengenai adanya suatu situasi pembicaraan yang tidak memiliki tujuan tertentu, tetapi pertukaran kata yang terjadi sudah merupakan tujuan. Malinowski menambahkan bahwa dalam hal beramah-tamah secara tulus (pure sociabilities) dan percakapan ringan (gossip), seseorang menggunakan bahasa seperti halnya kaum primitif dan bahasa yang digunakan menjadi ‘komunikasi fatis’, yang berfungsi memantapkan ikatan personal antara orang-orang yang terlibat karena kebutuhan akan kebersamaan, dan tidak bertujuan mengomunikasikan ide.

Konsep kefatisan menurut Leech yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah phatic communication sebagai bagian dari prinsip kesopanan dalam bahasa. Leech memaparkan bahwa pengguna bahasa yang terampil pasti pernah menghadapi kesulitan saat mengakhiri percakapan. Hal ini menyadarkan seseorang tentang hubungan yang erat antara sopan santun dengan perilaku berbicara. Kategori fatis menurut Leech (1993: 224) merupakan maksim metalinguistik. Pertanyaan-pernyataan yang tidak informatif dalam komunikasi, tetapi sangat penting dilakukan.

Teori fatis menurut Kridalaksana (2008:114) dalam penelitian ini sebagai kategori fatis. Ia mengungkapkan bahwa kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, memertahankan, mengukuhkan atau mengakhiri komunikasi antara pembicara dan kawan bicara. Lebih lanjut, ia memasukkan kategori fatis ini menjadi salah satu dari kelas kata bahasa Indonesia. Selain itu Kridalaksana juga menuliskan bahwa komunikasi fatis adalah pertuturan ungkapan beku, seperti, Halo, apa kabar? yang tidak mempunyai makna, dalam arti untuk menyampaikan

informasi, melainkan digunakan untuk mengadakan kontak sosial antara pembicara atau kawan bicara untuk menghindari kesenyapan yang menimbulkan rasa kikuk. Maksudnya, komunikasi fatis adalah salah satu bentuk komunikasi yang dipakai untuk menjaga hubungan sosial. Adanya ungkapan yang tidak sesuai dengan makna kata yang membentuknya biasanya ditujukan untuk mengawali percakapan. Jika ditinjau dari aspek pragmatik, komunikasi ini sangat besar manfaatnya.

Topik dalam penelitian milik Pala berkaitan dengan topik yang sedang peneliti teliti, yaitu mengenai komunikasi fatis yang berhubungan dengan budaya daerah. Namun, penelitian Pala mengkaji berdasarkan perspektif pragmatik sedangkan penelitian ini mengaji komunikasi fatis dalam perspektif sosiopragmatik. Tentu, hasil analisis yang diperoleh akan lebih mendalam. Jadi penelitian ini memperluas kajian mengenai komunikasi fatis.

Selanjutnya, penelitian mengenai penggunaan komunikasi fatis di tempat kerja dilakukan oleh Sari Ramadanty (2014). Hasil penelitiannya bahwa Penggunaan komunilasi fatis sering terjadi di tempat kerja, karena dianggap sebagai pembuka hubungan yang lebih akrab. Komunikasi fatis sangat berperan dalam pembentukan hubungan dan menciptakan hubungan yang erat antarsesama rekan kerja. Konteks budaya seseorang sangat berperan dalam penggunaan komunikasi fatis, seseorang dengan konteks budaya tinggi cenderung lebih sering menggunakan komunikasi fatis dalam hubungan komuniksi interpersonalnya. Namun, bagi mereka yang berada pada konteks budaya rendah menempatkan komunikasi fatis untuk berhubungan dengan para rekan kerja dalam kepentingan

pekerjaan. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi fatis sangat penting dalam membangun hubungan di tempat kerja. Selain itu, konteks komunikasi fatis juga berkaitan dengan pengelolaan bahasa verbal dan nonverbal.

Teori yang digunakan Ramadanty adalah komunikasi antarpribadi, termasuk ciri-ciri dan karakteristik, komunikasi fatis dan budaya high contex dan low contex. Teori antarpribadi ini dipaparkan Wiryanto (2006), Mulyana (2010), Devito (2012) dan disimpulkan oleh Ramadanty adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau lebih yang berlangsung secara langsung atau atap muka dan memungkinkan peserta menangkap reaksi orang lain dan mendapatkan umpan balik pada waktu itu juga, baik secara verbal atau nonverbal.

Ciri-ciri komunikasi antarpribadi, yakni pertama, arus pesan dua arah. Artinya, komunikasi antarpribadi menempatkan sumber pesan dan penerima dalam posisi yang sejajar, sehingga memicu terjadinya pola penyebaran pesan mengikuti arus dua arah. Kedua, Suasana non-formal, yaitu komunikasi antarpribadi biasanya berlangsung dalam suasana non-formal. Ketiga, Umpan balik. Artinya, komunikasi antarpribadi biasanya mempertemukan para pelau komunikasi secara bertatap muka. Karena itu, umpan balik dapat diketahui dengan segera, baik secara verbal maupun nonverbal. Keempat, peserta komunikasi berada dalam jarak dekat. Komunikasi antarpribadi menuntut pesertanya berada dalam jarak dekat, baik fisik maupun psikologis. Kelima, peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan secara verbal maupun non-verbal. Untuk meningkatkan keefektifan

komunikasi antarpribadi, kekuatan pesan verbal maupun nonverbal, untuk berupaya saling meyakinkan, dengan mengoptimalkan penggunaan pesan verbal maupun nonverbal secara bersamaan, saling mengisi, saling memperkuat sesuai dengan tujuan komunikasi.

Teori mengenai komunikasi fatis dalam penelitian Ramadanty memiliki persamaan dengan teori fatis Pala. Konsep teori fatis dalam kedua penelitian ini menggunakan teori Malinowski, hanya ada beberpa tambahan mengenai konsep komunikasi fatis, yaitu komunikasi fatis adalah komunikasi yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan komunikasi fatis kita dengan orang lain sangat terkait dengan bagaimana budaya kita berperan membentuknya. Lebih lanjut, Malinowski menjelaskan bahwa komunikasi fatis bisa jadi bukan hanya bentuk basa-basi atau small talk dalam proses komuniasi tersebut, tetapi bisa menjadi pembentuk hubungan antar individu.

Meskipun penelitian tersebut dilakukan tidak dalam budaya tertentu, tetapi paparan teori mengenai komunikasi anatarbudaya telah dijelaskan. Ramandanty menduga bahwa faktor penggunaan komunikasi fatis salah satunya adalah latar belakang budaya penuturnya. Teori komunikasi anatarbudaya yang dipaparkan dalam penelitian ini, yaitu interaksi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Hall (Andriani, 2012) menyatakan bahwa budaya dapat diklasifikasikan berdasarkan gaya komunikasi konteks tinggi dan gaya komunikasi konteks rendah. Budaya konteks tinggi diinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan nonverbal lebih ditekankan.

Dokumen terkait