• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Belajar – Mengajar Foto

Foto 11 Logo KOPASUDE

3.2.5. Program KOPASUDE

3.2.5.1. Kegiatan Belajar – Mengajar Foto

Sumber : Pribadi

Komunitas peduli anak dan sungai deli (KOPASUDE) salah satu komunitas yang ada di Kota Medan yang peduli terhadap kelestarian Sungai deli dan masyarakat yang berada di sekitar pinggiran Sungai Deli. Komunitas ini berdiri sudah selama 2 tahun yang digagas oleh berbagai mahasiswa-mahasiswa yang ada di Kota Medan. Komunitas peduli anak dan Sungai Deli memiliki banyak program atau kegiatan untuk mengembalikan fungsi sungai deli. Salah satu yang komunitas ini lakukan yaitu melakukan kegiatan belajar-mengajar.

Kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh komunitas ini dilakukan di Kampung Badur Lingkungan X Kelurahan Hamdan. Kegiatan ini dilakukan bersama anak-anak yang berada di Kampung Badur. Kegiatan ini diasuh oleh

rekan-rekan mahasiswa dari berbagai kampus di Medan. Mereka mengabdikan diri mereka dan meluangkan waktu mereka untuk mengajar anak-anak yang berada di Kampung Badur.

Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh relawan KOPASUDE setiap hari senin, selasa, kamis, dan sabtu yang dilakukan jam 20.00 malam. Pada saat bulan puasa kegiatan ini dilakukan pada sore hari jam 16.00 sore. Pelajaran yang mereka ajarkan seperti berhitung, membaca, menulis, pengetahuan agama, dan pegetahuan umum. Sistem yang mereka lakukan dalam mengajar anak-anak disana dengan berbagi team. Anak-anak yang belajar disana mulai dari yang belum sekolah sampai anak yang kelas 6 SD. Anak-anak yang sudak dijenjang pendidikan SMP tim relawan Kopasude mulai membiasakan mereka untuk mengajari adik-adik mereka supaya saat komunitas ini tidak lagi bergabung dengan mereka kegiatan ini bisa diteruskan oleh orang yang ada di lingkungan tersebut.

Kegiatan belajar mengajar ini di lakukan di Sanggar Pendidikan Silaturahmi. Sanggar Pendidikan Silaturahmi dijadikan mereka sebagai tempat untuk melakukan proses belajar mengajar setiap malamnya. Para Mahasiswa yang tergabung dalam Kopasude dalam mengajar anak-anak di Kampung Badur tidak diberi upah, mereka hanya bersikap sukarela dengan meluangkan sedikit waktu mereka untuk anak-anak di Kampung Badur. Keahlian dalam mengajar tidak semua dimiliki oleh relawan Kopasude tetapi mereka berusaha mengajar dan berlatih yang penting adik-adik disana dapat menerima pelajaran yang mereka berikan.

Komunitas ini tidak hanya memberikan pengajaran di Kampung Badur saja tetapi melakukan pengajar di Suka Mulia, jalan Palang Merah tepatnya dibelakang Hotel Danau Toba tetapi yang lebih fokus dari penelitian ini di Kampung Badur tetapi peneliti pernah juga berkunjung kesana. Pengajaran yang dilakukan komunitas ini dilakukan di Masjid. Jumlah anak yang mengikuti belajar mengajar lebih sedikit dibandingkan di Kampung Badur dikarenakan jumlah penduduknya yang memang lebih sedikit.

Kegiatan belajar mengajar ini sendiri digagas oleh Kopasude untuk mengisi waktu luang anak-anak yang ada di Kampung Badur. Relawan Kopasude yang terdiri dari para mahasiswa-mahasiwa ini tidak hanya memberikan pengajaran kepada anak-anak di Kampung Badur tentang pengetahuan saja tetapi mereka juga membangun karakter dari anak-anak yang ada di Kampung Badur. Ketika kita mendengar daerah bantaran sungai pasti hal yang pertama sekali terekam dibenak kita yaitu pasti sudah mengenai masalah sosial kehidupan mereka yang negatif yang tercermin dari perilaku yang kurang baik dan kebiasan mereka tidak ramah terhadap lingkungan. Adanya anggapan seperti inilah yang membuat Komunitas ini berdiri yang ingin mereka tunjukan bahwa persepsi dari masyarakat mengenai kehidupan dari masyarakat pinggiran sungai tidaklah benar. Komunitas ini mengajak sekaligus mengarahkan anak-anak tersebut peduli pada pendidikan dan lingkungan sekitar. Komunitas ini berpendapat bahwa anak-anak yang masih kecil ini yang perlu didikan dan motivasi untuk lebih mengahargai lingkungan dan menanamkan pendidikan itu penting bagi semua orang. Hal ini

seperti yang disampaikan oleh Agung Rizky yang merupakan relawan dari Kopasude, yaitu :

Kegiatan belajar mengajar ini kami lakukan setiap malamnya di kampung badur setelah shalat isya dan ketepatan saat bulan puasa saat ini kami lakukan setiap sore selesai shalat ashar dengan melakukan pengajian. Kegiatan belajar mengajar ini kami lakukan atau kami gagas untuk meluangkan waktu luang anak-anak yang ada di kampung badur ini. Kegiatan belajar mengajar ini jadi arena bermain mereka, kami tidak memaksakan mereka tetapi kami lebih mengarahkan mereka. Pelajaran yang biasa kami ajarkan seperti membaca, menulis, berhitung dan pengetahuan lainnya dan kami juga membangun karakter-karakter anak yang ada disini dengan mengajari mereka untuk lebih sopan dengan sesama dan lebih tua dari mereka dan peduli terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah supaya tidak terjadi banjir. Sebenarnya tidak muluk-muluk. Keinginan kami hanya ingin mengangkat derajat warga pinggiran Sungai Deli melalui pendidikan. Jalan itu harus ditempuh sejak usia dini”.

Pendapat diatas didukung oleh pendapat dari Fati yang merupakan relawan Kopasude, beliau mengatakan bahwa :

“Kami yang tergabung di Kopasude ini terdiri dari rekan-rekan mahasiswa dari berbagai kampus di Medan. Saya sendiri mahasiswa UIN Medan jurusan Manajamen sebenarnya keahlian saya dalam mengajar tidak ada tetapi saya mencoba sendiri dan lama kelamaan terbiasa. Kegiatan belajar mengajar disini kami lakukan setiap malam, setiap malam kami mengumpulkan anak-anak disini untuk belajar dengan kami, kami mengajari mereka dari yang belajar membaca, berhitung, menulis, pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Kami melakukan kegiatan ini untuk mendidik anak-anak disini dari karakter mereka, kepedulian mereka terhadap lingkungan dan mengajarkan mereka pentingnya pendidikan”.

Hal yang serupa disampaikan oleh relawan Kopasude yaitu Adel, beliau mengatakan bahwa :

“Kegiatan belajar mengajar yang kami lakukan di Kampung Badur ini kami lakukan secara sukarela dengan meluangkan waktu kami untuk adik- adik yang ada di Kampung Badur ini. Kami melakukan kegiatan ini supaya mereka mempunyai kegiatan saat malam hari. Tujuan lain dari

kegiatan ini membuka wawasan dan cakrawala berpikir anak-anak yang ada di pinggiran Sungai Deli supaya kelak menjadi orang yang berguna. Kami melakukan proses pengajaran di Sanggar Silaturahmi. Cara kami melakukan pengajar kami saling berbagai team dikarenakan anak-anak yang belajar dari sini berbagai tingkatan kelas. Anak-anak yang belajar disini rata-rata anak-anak yang belum sekolah sampai kelas 6 SD yang kurang lebih jumlahnya 40 orang.”

Kegiatan yang dilakukan Komunitas ini sudah berjalan selama 2 tahun di Kampung Badur. Saat mereka awalnya masuk dan bergabung dengan masyarakat di Kampung Badur tidak mudah untuk membangun kepercayaan warga di pinggiran Sungai Deli. Awalnya anggapan yang negatif diterima oleh komunitas ini yang menyatakan bahwa komunitas ini hanya untuk memanfaatkan warga sekitar supaya mendapatkan uang padahal sifat mereka sukarela. Kendala yang mereka hadapi yaitu mengubah pola pikir mereka yang bisa dikatakan kurang mau berubah dan beranggapan bahwa mereka itu orang pinggiran dan kumuh. Tetapi mereka perlahan-lahan memberikan pengertian dan mendekati masyarakat sekitar dan bersifat baik dan saat ini membuahkan hasil bagi mereka. Komunitas ini dapat diterima dan bekerjasama dengan masyarakat sekitar. Hal ini disampaikan oleh relawan Kopasude yaitu Denny bahwa :

“Saat kami datang ke Kampung Badur respon awal yang kami dapatkan kurang baik karena banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kami hanya ingin memanfaatkan mereka saja untuk mendapatkan ketenaran dan uang saja. Masyarakat disana beranggapan bahwa mereka itu masyarakat pinggiran dan kumuh yang kurang mau menerima perubahan. Dulunya banyak lembaga-lembaga masyarakat yang datang ke tempat mereka dan sifatnya bukan membangun mereka tetapi malah memanfaatkan mereka jadi mereka sudah merasa dibohongi. Tetapi kami berusaha untuk meyakini mereka dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan mereka dan ikut serta membantu mereka dan lama- kelamaan kami diterima di tempat mereka dan mereka berharap supaya kami dapat mendampingi mereka sampai seterusnya.”

Pendapat di atas kemudian diperjelas oleh Agung salah satu relawan Kopasude, beliau mengatakan bahwa :

“Bukan hal yang mudah untuk menarik masyarakat untuk bergabung dengan komunitas ini dan membangun kepercayaan mereka. Awalnya kami masuk di Kampung Badur ini bisa dikatakan sulit, anggapan mereka negatif terhadap kami. Masyarakat di Kampung Badur menyatakan bahwa kami adalah Komunitas yang ingin mencari keuntungan padahal tujuan kami ingin memandirikan mereka dan ingin mengangkat derajat mereka sebagai warga pinggiran. Banyak orang yang beranggapan bahwa orang- orang yang tinggal di sekitar pinggiran Sungai Deli adalah orang pinggiran, kumuh yang tidak mau berubah tetapi dengan terbentuknya Komunitas ini kami ingin merubah persepsi yang sering masyarakat umum katakan. Kami ingin masyarakat pinggiran sungai dapat memiliki pendidikan tinggi dan dapat merubah kehidupan mereka sendiri dan peduli terhadap lingkungan mereka meskipun mereka tinggal di daerah pinggiran sungai. Tetapi, kami tidak menyerah, kami berusaha dan akhirnya kami diterima di tempat mereka dan kami pun memanfaatkan kepercayaan yang mereka berikan dengan mengajari anak-anak disana dan memperhatikan lingkungan mereka dengan bersama-sama melakukan gotong royong dan kegiatan lainnya yang dapat membangun mereka kearah yang lebih baik.”

Saat mereka awalnya mengajak anak-anak disana untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar bisa dikatakan sulit tetapi mereka tidak menyerah mereka awalnya melakukan pendekatan kepada orang tua mereka dan mulai mengajak anak-anak mereka untuk bergabung. Pada saat ini respon masyarakat terhadap komunitas ini sangat postif karena mereka dapat membangun masyarakat sekitar lebih baik dan terdapat perubahan yang warga sekitar rasakan selama mereka berada di Kampung Badur. Hal ini disampaikan oleh masyarakat sekitar yaitu Bang Hendra yaitu pengurus dari Sanggar Pendidikan Silaturahmi yang dijadikan anak-anak di Kampung Badur belajar, beliau mengatakan bahwa :

“Adanya kegiatan yang dilakukan oleh Kopasude seperti belajar

mengajar membuat anak-anak disini mempunyai waktu luang dan anak- anak disini lebih sopan, ramah terhadap sesama dan yang lebih tua dari

mereka. Anak-anak disini juga sangat antusias dan sangat senang dengan keberadaan dari Kopasude ini karena setelah maghrib biasanya mereka sudah bawa-bawa buku mereka dan terkadang sudah menunggu dan bertanya kalau malam ini mereka akan belajar. Respon dari orang tua mereka juga sangat baik dan malah menyuruh anaknya belajar jangan sampai tidak datang untung belajar. Keberadaan dari Kopasude sejauh ini sangat banyak membantu masyarakat sekitar dan menjaga lingkungan sekitar mereka. Komunitas ini juga banyak memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjauhi hal negatif-negatif, mendidik anak-anak dan mensosialisasikan untuk tetap menjaga lingkungan dengan tidak lagi membuang sampah ke sungai.”

Pendapat di atas juga disampaikan oleh ibu saida yang merupakan orang tua dari bayu yang anaknya setiap hari belajar di Sanggar Pendidikan Silaturahmi bersama Kopasude, yaitu :

“Kegiatan dari Kopasude ini sangat baik di sini. Saya sangat senang mereka memberikan pengajaran dengan anak-anak di sini. Anak saya si bayu setelah belajar dengan mereka semakin pintar dan lebih sopan karena kata anak saya mereka disana tidak hanya belajar kayak di sekolah aja tapi disana mereka diajarin agama, seni dan pengetahuan umum juga. Kegiatan ini sangat membantu anak-anak disini daripada bermain-main lebih baik mereka belajar di Sanggar sama mereka kan lebih bermanfaat. Saya setiap malamnya pasti menyuruh anak saya untuk belajar dengan mereka malah saya sangat marah kalau dia tidak mau datang kesana. Saya berharap komunitas ini bisa lama disini mendidik anak-anak disini dan mereka juga mau membantu kami membersihkan lingkungan sekitar kami juga.”

Respon dari adanya Komunitas ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat terutama orang tua mereka tetapi anak-anak yang belajar dengan mereka. Mereka sangat senang dengan hadirnya Kopasude di tempat mereka. Mereka jadi punya kegiatan kalau malam hari dan bisa jumpa dengan teman-temannya. Kopasude juga sangat baik, ramah dan sangat sayang dengan mereka mau megajari mereka secara gratis tampah ada biaya. Hal ini disampaikan oleh tiara salah satu anak

yang rajin mengikuti belajar mengajar di Sanggar bersama Kopasude, beliau mengatakan bahwa :

“Orang kakak, abang disini baik-baik mau ngajari aku berhitung membaca. Aku tiap malam datang kesini untuk belajar sama abang- abang, kakak disini. Aku juga ceritain sama kawan sekolah ku kalau di dekat rumahku ada abang, kakak yang ngajari kami berhitung, membaca, menyanyi. Senanglah ada orang kakak ini jadi tambah kawan. Kami juga mau dikasih buku, pensil sama orang kakak, abang ini. Kami juga dilarang buang sampah ke sungai biar ngak banjir. Kalau uda banjir kami capeklah membersihkannya terkadang ngak tidur kalau tidurpun terkadang di lua, makanya aku ngak mau buang sampah ke sungai langsung ke tempat sampah biar ngak banjir rumah kami.”

Kesenangan juga dirasakan oleh rara selama belajar dengan Kopasude, beliau mengatakan bahwa :

“Aku tiap malam belajar disini. Aku disuruh mamak ku datang kesini biar pintar. Aku diajarin berhitung, ngaji, berdoa, membaca,bernynyi sama kakak, abang ini. Kadang-kadang aku ngantuk juga kalau lama-lama tapi nanti dikasih hiburan, cerita-cerita lucu biar ngak ngantuk. Sepulang dari sini aku cerita sama mamak ku yang ku pelajari sama kakak, abang ini. Pokoknya senanglah belajar disini tiap hari jadi makin pintar di sekolah.” Hal yang serupa juga dirasakan oleh selva yang rajin belajar bersama Kopasude, beliau mengatakan bahwa :

“Selesai shalat aku langsung duduk-duduk dekat sanggar nunguin kakak, abang yang datang buat belajar. Aku biasanya belajar berhitung, membaca juga karena belum lancar kali membaca. Kami disini diajarin juga kalau manggil yang lebih tua itu kakak atau abang. Kami juga disuruh untuk tidak buang sampah ke sungai supaya tidak banjir dan sungai. Jadi, kalau ada ku lihat orang buang sampah ku marahin karena kan uda diajarin jangan buang sampah ke sungai karena kalau buang sampah banjir. Kalau uda banjir kami ngak bisa tidur air naik jadi duduk- duduk lah diluar. Kami pun disuruh rajin belajar dan sekolah biar pintar kata kakak abang ini.”

BAB IV

Dokumen terkait