BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Temuan dan Analisis Data
2. Kegiatan Bimbingan Agama
Kegiatan Bimbingan Agama Islam merupakan kegiatan dari dakwah Islamiyah. Dakwah yang baik adalah dakwah yang mengarahkan umatnya dalam mencapai kesesimbangan hidup di dunia dan akhirat. Bimbingan Agama pada muallaf merupakan sebuah upaya dalam memberikan bantuan, pertolongan dan pemberdayaan supaya dapat berdaya guna sebagai seorang yang baru memeluk agama Islam sehingga keyakinannya kepada Islam semakin kokoh dan tidak mudah goyah oleh godaan apapun yang mengganggu keimanannya. Seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Syamsul Arifin Nababan :
“Tujuan Bimbingan Agama adalah supaya terbentuknya pribadi muslim yang kaffah, utuh dan serius. Ketika diberikan ilmu agama, dan mereka paham maka mereka bersyukur menjadi orang Islam. Tentu akan berdampak pada keimanannya nanti. Aqidahnya akan semakin kokoh ketika
dibimbing dan dibina secara serius”.11
Hal serupa juga sebagaimana diungkapkan oleh Ustadz Abdul Aziz Laia :
“Tujuan bimbingan agama disini tentunya adalah sebagai benteng aqidah buat mereka agar tidak mudah murtad kembali. Kedua, sebagai hujjah jika berdebat dengan keluarga mereka yang notabene nya adalah non Islam. Ketiga, sebagai alasan dalam menegakan ibadah dan menjalankan Islam”.12
Dari hasil observasi dan wawancara, penulis dapat menggambarkan kegiatan bimbingan agama di lapangan sebagai berikut :
a. Kegiatan Bimbingan Agama
Kegiatan bimbingan agama dilaksanakan setiap hari mulai dari pukul 05.00-06.00 WIB di mushala Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba` Center. Untuk kegiatan pagi atau setelah shalat berjamaah subuh, para santri muallaf diajarkan membaca Al-qur`an. Sedangkan bagi santri yang sudah bisa membaca Al-qur`an diwajibkan untuk menghafalnya. Hal ini dipandang penting karena sebagai seorang muslim, harus bisa membaca Al-qur`an terlebih dahulu sebelum mengkaji isi kandungannya secara lebih mendalam. Ketika seseorang memahami ajaran Islam lebih mendalam, maka ia akan lebih condong kepadanya dan lebih menguatkan imannya. Untuk kegiatan bimbingan
11
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Syamsul Arifin Nababan, Ciputat, 06 Agustus 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
12
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Abdul Aziz Laia, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
60
malam hari dilaksanakan pada pukul 18.00-21.00 WIB dengan diselang waktu shalat Isya berjamaah. Kegiatan diisi dengan menghafal al-Qur’an
dan muhadlarah atau kultum.
Sementara itu, untuk materi aqidah dan kristologi dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu pada pukul 05.00-06.30 WIB. Kegiatan bimbingan agama ini dipimpin langsung oleh ustadz Syamsul Arifin Nababan untuk materi kristologi (ilmu perbandingan agama). Materi ini biasanya disampaikan kepada santri muallaf yang masih baru memeluk Islam atau baru masuk pesantren An-Naba. Selain itu untuk materi aqidah dan akhlak Islam di pimpin oleh ustadz Abdul Aziz Laia. Untuk materi-materi ibadah seperti tata cara berwudhu, shalat, dzikir dan yang lainnya diajarkan dan dibimbing sampai para santri muallaf ini bisa melaksanakan ibadah sesuai dengan syariat.
Selain itu, dalam upaya meningkatkan dan menguatkan keimanan para muallaf diberikan bimbingan akidah dan materi kristologi (ilmu perbandingan agama). Hal ini untuk mengajarkan tauhid yang sesungguhnya dalam Islam. Karena persoalan tauhid ini merupakan struktur utama dalam mempengaruhi pandangan hidup (way of life) dan perilaku seorang muslim.13 Seperti yang diungkapkan oleh Annas :
“Ada banyak perubahan yang saya rasakan setelah mengikuti bimbingan agama disini. Dulu saya orang yang emosional dan selalu bicara kotor. Tapi sekarang saya sudah merasa tenang, bisa mengontrol emosi, bertutur kata yang halus dan sopan. Semuanya berubah perlahan setelah mengikuti bimbingan agama disini”.14
13
Yayasan An-Naba Center. Muallaf News. H. 16.
14
Wawancara Pribadi dengan Annas Mansur Zaibua, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
Hal senada juga diungkapkan Mustafa :
“Kegiatan bimbingan agama disini sangat membantu khususnya kepada saya yang tadinya belum memahami betul ajaran agama Islam. Ada banyak orang muallaf disana kurang dibimbing dan dibina sehingga mudah sekali kembali murtad ke agama sebelumnya.”15
Demikian pula disampaikan oleh Khairunnisa :
“Kegiatan bimbingan agama disini sangat baik dan sangat membantu para muallaf dalam memahami ajaran Islam dan membantu menguatkan akidah/keimanan para muallaf. Saya merasakan adanya ketenangan yang lebih dan banyak lagi pencerahan tentang ilmu-ilmu agama Islam. Banyak ilmu baru dan rasa ingin tahu saya semakin besar.”16
Dari kutipan wawancara diatas, memberikan pengertian kepada penulis bahwa kegiatan bimbingan agama pada muallaf di pesantren An-Naba` cukup baik dan efektif, hal ini terlihat dari semangat dan antusias para santri muallaf dalam mengikuti kegiatan bimbingan agama. Komunikasi yang dibangun oleh para pembimbing atau ustadz kepada para santri sangat baik, sehingga mereka merasa para muallaf merasa mempunyai keluarga baru ketika tinggal di pesantren tersebut. Mereka juga tidak dipungut biaya apa pun oleh pihak pesantren sehingga mereka diharapkan fokus dan serius dalam belajar ilmu agama.
b. Metode Bimbingan Agama
Metode yang digunakan dalam kegiatan bimbingan agama di Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba` adalah metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Ada beberapa metode ceramah yang
15
Wawancara Pribadi dengan Mustafa Jayyidin, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
16
Wawancara Pribadi dengan Khairunnisa, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Perpustakaan Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
62
dilakukan oleh pembimbing yaitu dengan cara direktif dan rasional emotif therapy (RET). Berikut diungkapkan oleh Ustadz Syamsul Arifin Nababan :
“Metode saya, mereka yang baru masuk Islam saya tanya sudah berapa persen keimanan mereka terhadap Islam ? mereka rata-rata menjawab ada yang 80-90 persen. Jadi jarang yang langsung 100 persen. Untuk menggugurkan sisa-sisa kepercayaan itu ilmu yang saya gunakan adalah kristologi atau perbandingan agama. Supaya mereka tahu bahwa masuk Islam itu adalah pilihan tepat. Saya jelaskan kesalahannya dimana dan kebenaran Islam dimana. Saya ajak mereka berpikir rasional supaya mudah dipahami”.
Demikian pula disampaikan oleh Ustadz Abdul Aziz Laia :
“Ada tiga metode yang kita gunakan yaitu pertama metode ceramah atau demo. Kedua, metode diskusi. Ketiga, metode presentasi santri. Keempat, metode menghafal dalil yang berkaitan tentang hukum.”.
1) Metode Direktif
Metode direktif merupakan bentuk psikoterapi yang paling sederhana, karena pembimbing atas dasar metode ini secara langsung memberika jawaban-jawaban terhadap problem yang oleh klien disadari sumber kecemasannya.17 Metode direktif adalah salah satu teknik yang diberikan dan digunakan bagi klien yang tidak mengerti masalahnya dan mengalami kesulitan dalam memahami dan memecahkannya.18
17
Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam (Jakarta: Hamzah, 2010), h. 71.
18
M. Luthfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2008), h. 130.
2) Metode RET (Rasional Emotif Therapy)
Metode Rasional Emotif Therapy (RET) yaitu bentuk terapi yang berupaya membimbing dan menyadarkan diri klien, sesungguhnya cara berpikir yang tidak rasional itulah yang menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan emosionalnya.19 3) Metode Diskusi atau Tanya Jawab
Metode lain yang digunakan pembimbing yaitu tanya jawab, biasanya dilakukan setelah selesai penyampaian materi. Apabila ada santri muallaf yang belum mengerti tentang materi yang disampaikan pembimbing maka santri diperbolehkan untuk bertanya.
Dari hasil pengamatan penulis, penggunaan metode yang digunakan oleh pembimbing cukup baik, karena dengan cara mengarahkan dan membimbing santri muallaf untuk berpikir rasional, setidaknya dapat menambah dan menguatkan keimanan para muallaf agar tidak kembali murtad. Selain itu, dengan metode tanya jawab yang digunakan oleh pembimbing sangat baik, karena dengan begitu komunikasi berjalan tidak satu arah tapi dua arah (two way terafic communication) sehingga para santri muallaf dapat memahami materi yang disampaikan oleh pembimbing. c. Materi Bimbingan Agama
Secara umum materi yang disampaikan oleh pembimbing mencakup seluruh ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari. Namun ada
19
64
materi khusus diawal bimbingan yaitu materi aqidah dan kristologi. Hal ini untuk menguatkan keyakinan dan keimanan para muallaf. Berikut pernyataan Ustadz Syamsul Arifin Nababan :
“Adapun materi yang disampaian kepada muallaf seperti aqidah, al-Quran, fikih, sirrah nabawiyah, bahasa arab. Untuk materi khususnya kristologi atau perbandingan agama. Karena mereka ini berlatar belakang muallaf semua, banyak diantara mereka belum memahami agama sebelumnya. Hal ini untuk menguatkan keimanan mereka”.20
Hal serupa juga disampaikan Ustadz Abdul Aziz Laia :
“Materi yang saya sampaikan adalah khusus materi aqidah dan akhlak. Kitab yang memberikan penjelasan tentang ma’rifatullah
(mengenal Allah), Islam, dan Rasul. Hal ini tentu untuk
membentengi aqidah para muallaf”.21
Dari hasil wawancara yang dilakukan, penulis melihat bahwa materi yang disampaikan oleh pembimbing disesuaikan dengan kebutuhan para muallaf. Materi tersebut yaitu meliputi aqidah, akhlak, kristologi (perbandingan agama), al-quran, fikih, sirrah nabawiyah, bahasa arab, dan ibadah. Semua materi yang disampaikan, bertujuan supaya santri muallaf menjadi pribadi muslim yang kaffah, mempunyai
iman yang kokoh serta mampu menjadi da’i yang handal sebagai penerus
dakwah Islam di dunia. Hal ini sesuai dengan ungkapan Lukman :
“Alhamdulillah mudah, karena kita belajar dari hati ke hati”.22
Demikian pula disampaikan oleh Mustafa Jayyidin :
20
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Syamsul Arifin Nababan, Ciputat, 06 Agustus 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru
21
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Abdul Aziz Laia, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru
22
Wawancara Pribadi dengan Lukman Hakim, Ciputat, 11 Juli 2015. Lokasi : Ruang Sekretariat Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Sawah Baru.
“Alhamdulillah mudah, karena banyak hal yang bisa saya pahami dari penjelasan para ustadz. Jika kami belum paham, kami selalu punya kesempatan untuk bertanya saat kegiatan belajar berlangsung. Para ustadz selalu sabar dalam menghadapi kami, karena kami adalah para pemula.”.23
Hal senada juga disampaikan Khairunnisa :
“Alhamdulillah mudah, para ustadz menyesuaikan keadaan santri muallaf”.24
Hal lain juga diungkapkan Annas :
“Relatif mudah dipahami karena ustadz disini selalu memberikan kesempatan untuk diskusi dan tanya jawab setelah menyampaikan materinya. Selalu mengulang materi kalau kami belum paham. Sesuai harapan saya untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam.”.25
Dengan demikian, penulis dapat simpulkan bahwa materi bimbingan agama seperti akidah dan ibadah dirasakan mudah untuk dipahami oleh para santri muallaf karena dimulai dari materi yang sangat dasar dalam ajaran Islam.