BAB VI PEMBAHASAN
B. Kegiatan Guru memfasilitasi Proses Belajar
Dalam metode Montessori, guru bertindak sebagai fasilitator dimana guru
menyediakan fasilitas – fasilitas belajar dan mempermudah pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar siswa, tidak mengajari siswa tetapi membantu dan memotivasi
siswa belajar. Membantu disini bukan diartikan menunjukkan hasil penyelesaian
suatu masalah, tetapi menunjukan arah saja dan siswa sendiri yang harus
melakukannya agar mencapai tujuannya. Bantuan dari guru dapat berupa
penjelasan tentang materi yang akan dibahas, mengingatkan siswa tentang materi
yang lalu, menjelaskan tentang penggunaan alat, dan lain-lain.
Dalam penelitian ini sesuai dengan kegiatan guru dalam memfasilitasi
proses belajar siswa dengan metode Montessori. Hal ini ditunjukkan dalam
kegiatan guru untuk membantu siswa dalam proses belajar, kegiatan guru tersebut
antara lain memusatkan perhatian siswa, memberi pengasuhan, memperlihatkan
cara penggunaan alat, danmengoreksi hasil belajar siswa.
Di awal pembelajaran, guru mulai mengenalkan pada siswa lambang
bilangan dua puluh sampai dengan tiga puluh. Guru memperkenalkan
lambang-lambang bilangan tersebut dengan menggunakan papan seguin, serta
memperagakan bagaimana mempergunakan papan seguin tersebut. Berikut
46
guru dalam memperlihatkan cara penggunaan alat peraga pada pertemuan
pertama.
1. G : ”Hari ini kita akan belajar mengenal lambang bilangan dua puluh satu sampai dengan tiga puluh. Adik masih ingat tidak ini lambang bilangan berapa? [G menunjukkan kepada siswa lambang bilangan dua puluh dengan menggunakan papan seguin]”
2. SA : ”Dua puluh ...”
3. G : “Kalau satu gelas ini diisi paling banyak sepuluh kelereng [G mengangkat satu gelas kosong], kalau kita akan menunjukkan banyaknya dua puluh, kita membutuhkan berapa gelas? [G menunjuk pada alat peraga gelas plastik dan kelereng]”
4. A3 : “Dua … [sambil menunjukkan dengan jari]”
Dari petikan di atas terlihat bahwa guru memperlihatkan cara penggunaan alat
dengan melibatkan siswa dalam menjelaskan penggunaan alat peraga tersebut
dengan memberi pertanyaan pada siswa. Selain untuk melibatkan siswa dalam
menjelaskan alat peraga, guru memberi pertanyaan pada siswa yang terlihat tidak
konsentrasi pada saat pembelajaran, hal ini dilakukan guru agar siswa tetap
memusatkan perhatiannya pada materi yang dipelajari. Berikut petikan guru
memfasilitasi proses belajar yang menunjukkan kegiatan guru dalam memusatkan
perhatian siswa pada pertemuan pertama.
5. G : “Kalau satu paling banyak diisi sepuluh, kalau dua puluh kita membutuhkan berapa gelas?
[menjelaskan kembali aturan alat penggunaan alat peraga] A2 berapa? Dua atau tiga? Coba A2 ambil dua puluh dan satu gelas paling banyak sepuluh, berani tidak? [G bertanya pada A2]”
6. A2 : “Ehm … [A2 menggelengkan kepalanya]”
7. G : “G beri contoh ya [G mengangkat gelas dan memasukkan kelereng satu persatu ke dalamnya] ayo kita hitung bersama …”
8. SA : “satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh …”
Dalam pembelajaran ini, guru memberi kesempatan pada siswa untuk
belajar dengan menggunakan papan seguin. Guru memberi soal secara lisan pada
siswa dengan tujuan siswa dapat secara langsung belajar menggunakan papan
9. G : “Nomer satu, Tunjukkan dua puluh tiga” 10. [Sa aktif mencari kartu dan memasangnya pada papan]
11. G : “Boleh di paling atas, boleh dimana saja [G memberi pengarahan]. Angkat … yang sudah jadi angkat”
12. [A1 dan A3 selesai pertama kali dan langsung menunjukkan papan hasil pekerjaan masing-masing, kemudian A2 mengangkat papannya]
13. G : “Iya …[G mengangguk membenarkan hasil pekerjaan siswa]. A4? [G menunjuk pada siswa yang belum menunjukkan hasil pekerjaannya]”
14. A4 : “Iya …[A4 mengangkat papan jawabannya]” 15. G : “Iya … [G mengangguk melihat jawaban A4]”
Dari petikan di atas terlihat bahwa guru memberi kesempatan pada siswa untuk
belajar menggunakan papan seguin, guru memberi kesempatan pada siswa untuk
menjawab soal-soal menggunakan papan seguin. Guru memberikan soal lisan
pada siswa dengan tujuan agar siswa tetap memusatkan perhatiannya dalam
belajar menggunakan alat peraga.
Selain memberikan soal-soal lisan, guru juga memberikan soal LKS pada
siswa, hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan siswa untuk menggunakan
alat peraga dengan bebas dan sesuai keinginannya, pada saat siswa mulai
mengerjakan soal, guru membimbing siswa dalam mengambil alat peraga. Berikut
petikan guru memfasilitasi proses belajar yang menunjukkan tugas guru dalam
memberi pengasuhan dengan memberi pengarahan pada siswa pada pertemuan
pertama.
108. G : “Sekarang boleh mengambil alatnya [G mengingatkan siswa untuk mengambil alat peraga]” 109. [Siswa mulai mengambil alat peraga yang ada di lemari alat, siswa bebas mengambil alat peraga
yang akan digunakan]
110 G : “Ambil alatnya yang banyak, satu tempat semua [G mendekati lemari alat dan memberi arahan pada siswa karena siswa hendak mengambil alat sedikit saja, dimana sebenarnya alat harus dibawa beserta dengan kotak tempatnya agar tidak berserakan]”
Pada saat siswa mengerjakan soal, guru memberi pengawasan pada siswa
dengan tujuan agar guru mengetahui kesulitan yang dialami siswa. Berikut
48
memberi pengasuhan dengan memberi pengawasan pada siswa pada pertemuan
kedua.
69. [Siswa mulai sibuk menggunakan alat peraga masing-masing, G memperhatikan murid-murid yang sedang memasang kartu-kartu pada papan mereka masing-masing]
70. [G mendekati A3 dan memberi pengarahan dalam memakai alat karena A3 mengalami kesulitan, hanya beberapa saat kemudian G kembali ke depan kelas]
Dari petikan di atas terlihat bahwa guru mengawasi cara kerja siswa dan
memberi bantuan pada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.
Guru membimbing siswa yang kesulitan mengerjakan soal, Berikut petikan guru
memfasilitasi proses belajar yang menunjukkan tugas guru dalam memberi
pengasuhan dengan memberi bimbingan pada siswa pada pertemuan kedua.
161. A1 : “Gelasnya habis …[A1 kehabisan gelas peraga]”
162. G : “Iya sebentar … [G mendekati A1 kemudian mengoreksi hasil pekerjaannya, setelah selesai dikoreksi dan semua benar G menyuruh A1 memakai gelas-gelas dari soal sebelumnya yang sudah dikoreksi]”
Pada saat siswa selesai mengerjakan soal, guru memberi koreksi pada
jawaban siswa, guru melibatkan siswa dalam mengoreksi hasil kerja siswa.
Berikut petikan guru memfasilitasi proses belajar yang menunjukkan kegiatan
guru dalam mengoreksi hasil belajar siswa pada pertemuan ketiga.
Hal ini dilakukan agar siswa tetap mendapatkan kenyamanan dalam
belajar. Berikut petikan guru memfasilitasi proses belajar yang menunjukkan
kegiatan guru dalam mengoreksi hasil belajar siswa pada pertemuan kedua.
166. G : “Yuk … yang sudah alatnya dikembalikan, ditata kembali seperti semula”
167. [Siswa mengembalikan alat-alat ke lemari dengan tertib dan tidak banyak bicara, G mengawasi kerja siswa]
49 BAB VII