• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Tahap pertama Persiapan :

Guru dan kelas memilih topik dan menemukan informasi yang melatarbelakanginya.Memperlihatkan media pembelajaran

2. Tahap Kegiatan penjelajahan: Lebih melibatkan siswa pada topic

yang sedang dibahas. memberikan penjelasan tentang konsep, membagi siswa menjadi kelompok

3. Tahap Pertanyaan anak:

Saat kelas mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang topik yang dibahas menuliskan hipotesis yang dibuat oleh siswa berdasarkan perkiraan jawaban siswa

memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempersentasikan hasil diskusinya

4. Tahap Penyelidikan:

Guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi, selama

pembelajaran berlangsung memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempersentasikan hasil diskusinya

5. Tahap Refleksi:

Melakukan evaluasi untuk

memantapkan hal-hal yang terbukti dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diperbaiki. membimbing siswa dalam mengerjakan LKS

memberikan penguatan dan

penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja paling bagus III. Kemampuan Penutup Pelajaran

1.Meninjau kembali atau menyimpulkan materi kompetensi yang diajarkan 2. memberikan kesempatan bertanya 3. Mengerjakan lembar evaluasi

4.Menginformasikan,materi ajar berikutnya

Jumlah Rata-rata

Keterangan :

Sangat Baik --- à Nilainya 4, Baik --- à Nilainya 3 Cukup --- à Nilainya 2 Kurang --- à Nilainya 1

(2). Untuk Siswa

Pengamatan terhadap siswa meliputi perhatian siswa saat dijelaskan, bertanya tentang materi yang dipelajari, mengkondisikan diri dalam kelompok, antusias dalam menyelesaikan tugas, menyatukan pendapat dalam diskusi, kerja sama, memberi masukan saat presentasi, memberi respon positif atas jawaban temannya, serta mengerjakan evaluasi secara jujur.

Tabel 3.2

Panduan Observasi Pelaksanaan Tindakan Kelas Aktivitas Siswa Hari / Tanggal : No Nama Siswa Indikator keaktifan Ket: Mengemukakan

pendapat Bertanya Menjawab

pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Jumlah Persentase KETERANGAN: DESKRIPTOR: a. PENGAMATAN

1. Pengamatan menggunakan alat dengan tepat 2. Pengamatan pada waktu yang tepat

3. Melakukan pengamatan dengan cermat dan benar

b. KOMUNIKASI

1. Menggunakan kosakata sains dengan tepat 2. Kemampuan bertukar pendapat dengan teman

3. Menyampaikan hasil diskusi dengan lancar (suara dan intonasi jelas)

c. PENARIKAN KESIMPULAN

1. Data untuk kesimpulan lengkap dan benar 2. Kesimpulan berdasarkan data

3. Kesimpulan tepat sesuai dengan tujuan KRITERIA:

NILAI 3 : Jika Tiga Deskriptor Tampak NILAI 2 : Jika Dua Deskriptor Tampak

NILAI 1 : Jika Satu Deskriptor Tampak

NILAI 0 : Jika Deskriptor Tidak Tampak Sama Sekali Catatan Observer :

4). Tahap Refleksi (Reflection)

(1). Merefleksi proses pebelajaran interaktif dengan kerja kelompok (2). Merefleksi hasil belajar siswa dengan penerapan Model

Pembelajaran Interaktif dengan kerja kelompok (3). Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian

(4). Rekomendasi 4. Instrumen Penelitian

1). Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan sistem yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan sistem pembelajaran di sekolah. Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan

untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarannya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan dokumenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.

2). Analisis Data

Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan deskriptif

presentase selanjutnya dimaknai dengan analisis kualitatif.(Supardi,

2006:131). Ketika pengumpulan data berlangsung, penelitian akan dengan

sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989). Untuk menghitung nilai rata-rata dari setiap tes yang dilaksanakan pada setiap siklus sebagai perolehan dari hasil belajaran dengan menggunakan rumus:

X = ∑ = nilai rata-rata,

∑ = Jumlah nilai seluruh siswa

N = Banyaknya siswa yang ikut tes (Sudjana, 2002,67)

Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif. Indikator yang dimaksud adalah seperti contoh berikut ini :

Sangat Baik --- à Nilainya 5, Baik --- à Nilainya 4 Cukup --- à Nilainya 3 Kurang --- à Nilainya 2 Sangat Kurang ---à Nilainya 1

Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel deskriptif presentase, yang dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut :

Tabel 3.3

Presentase Nilai dan Kategori

Dir Dirjen Dikti Depdikbud (1980)

Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas.

No Nilai Presentase Kategori

1 > 9 > 90 % Baik Sekali

2 7.0 – 8.9 70 – 89 % Baik 3 5.0 – 6.9 50 – 69 % Cukup 4 3.0 – 4.9 30 – 49 % Kurang

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penggunaan Model Pembalajaran Interaktif dalam pembelajaran IPA pada materi Pencernaan manusia sub pokok bahasan makanan dan kesehatan serta gangguan pada pencernaan di kelas V SDN Rancamalang 3 Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Penulis mempunyai kesimpulan dan saran-saran bagi pihak yang terkait.

Dengan pengembangan melalui Model Pembelajaran Interaktif, guru mempunyai pengalaman baru dalam penggunaan metode, sehingga dapat dilaksanakan di sekolah secara bervariatif dan berkesinambungan.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran materi makanan dan kesehatan serta gangguan pada pencernaan dengan Model Pembelajaran Interaktif sudah berjalan dengan baik, terbukti dengan adanya kerjasama didalam kelompoknya masing-masing dan memotivasi siswa dalam belajar menjadi meningkat terutama pada pembelajaran IPA, antusias siswa dalam mengungkapkan jawaban juga memberikan gagasan dan ide yang baik.

Dengan keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah yang peneliti lakukan, masih dapat dilakukan pembelajaran dengan media yang terbatas pula, sehingga penggunaan media pada materi Makanan dan Kesehatan serta Gangguan pada Pencernaan dibawa oleh siswa sesuai pembagian kelompok dan masing-masing tugasnya. Sehingga terlaksana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak mengurangi aktivitas siswa dalam belajar.

1). Perencanaan

Penggunaan model yang bervariatif yang digunakan oleh guru akan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA

di kelas V , dengan seringnya menggunakan pertanyaan yang dicari sendiri sesuai dengan materi yang diberikan juga mencari jawaban sendiri pula, siswa menjadi aktif baik secara individu maupun dalam kelompoknya. Sehinggaa suasana dalam pembelajaran dan belajar menjadi tidak jenuh siswa menjadi antusias dalam setiap pertanyaan yang diajukan dan ingin menjawabnya. Hasil belajar siswa pun menjadi meningkat.

2). Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas V masih sangat banyak yang belum dipahami oleh siswa , dalam hal ini peneliti mengembangkan Model Pembelajaran Interaktif melalui kerja kelompok yang dibatasi oleh kelebihan dari metode ini pertanyaan dalam pembelajaran difokuskan kepada siswa dan siswa sendiri yang mencari jawabannya. Di SDN Rancamalang 3 di kelas V tentang materi makanan dan kesehatan siswa belum termotivasi dengan materi yang diberikan, sesuai dengan hasil belajar siswa pada Bab I rata-rata nilai siswa masih dibawah KKM, dengan pelaksanaan siklus I dan siklus II siswa dapat termotivasi dengan hasil nilai yang lebih baik dan mencapai nilai KKM yang diinginkan.

3). Hasil Belajar

Dampak penerapan penggunaan Model Pembelajaran Interaktif pada hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dalam materi Makanan dan Kesehatan serta Gangguan pada Pencernaan yang pada setiap siklusnya mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada siklus yang mengalami peningkatan, yaitu siklus I nilai rata-rata 70 yang mengalami peningkatan nilai rata-rata sebelumnya yang hanya 4,83 dengan tingkat ketuntasan belajar siswa pada materi makanan dan kesehatan sebanyak 29,2% dan sebanyak 79,2 % siswa masih berada dibawah KKM. Namun setelah dilakukan siklus II tingkat ketuntasan belajar siswa mencapai 7,5 % dengan nilai rata-rata sebesar 91,66 % yang juga mengalami peningkatan dari nilai rata-rata sebelumnya sebesar 6,75

menjadi 8,3 telah melebihi dari KKM. secara umum nilai prestasi belajar siswa setelah menggunakan Model Pembelajaran Interaktif mengalami peningkatan.

B. Rekomendasi

Dari hasil penelitian dengan menggunakan Model Pembelajaran Interaktif yang telah dilakukan mempunyai pengaruh terhadap motivasi dan hasil belajar siswa juga menjadi dorongan guru untuk lebih bervariatif dalam pembelajaran IPA di kelas V SDN Rancamalang 3 Kabupaten Bandung. Adapun beberapa saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

1. Bagi Guru

Guru akan kreatif akan selalu memberikan inovasi dalam setiap pembelajarannya, salah satunya dengan mempelajari metode yang dapat diterapkan dalam setiap pengajarannya. Model pembelajaran yang digunakan mampu membuat siswa lebih aktif dalam pembelajarannya yang tidak hanya terpusat pada satu arah. Guru tidak hanya menggunakan metode ceramah namun dapat menggabungkan dengan model lain yang menunjang sehingga prestasi belajar siswa lebih baik. Dan fasilitas yang mneunjang diperlukan untuk mendukung setiap pembelajaran.

2. Bagi Kepala Sekolah

Dengan keberhasilan siswa dan guru dalam pembelajaran akan menunjang pada standar kelulusan yang dicapai dengan nilai yang tertinggi khususnya pada mata pelajaran IPA. Standar yang diinginkan oleh sekolah harus melebihi KKM yang telah guru buat ketentuan berdasarkan kegiatan di sekolah tersebut. Dalam kerjasama dengan Orang Tua sebagai orang terdekat, mampu memberikan dorongan atau motivasi yang dapat membuat anak lebih terpacu untuk belajar kearah yang lebih baik yang tidak dibebani oleh pikiran yang tidak perlu sehingga anak dapat terfokus kepada materi yang disampaikan oleh guru dan dapat menyerapnya dengan cepat.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini membatasi diri pada PTK belum mengungkap keberhasilan yang berarti, namun Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Interaktif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Ani Rosmini, 2014

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Interaktif Mata Pelajaran Ipa

Dokumen terkait