• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

Skema 4.8 Pola Kegiatan Pelajar

(Sumber: Analisa Penulis)

D. Analisa Kebutuhan Ruang a. Kelompok Pengunjung

Aktifitas Kebutuhan Ruang

- Datang

- Mencari informasi

- Membeli/memesan souvenir - Melihat barang koleksi - Aktifitas pribadi - Lobby - Resepsionis - Area souvenir - Area pamer - Toilet Tabel 4.1

Analisa Kebutuhan Ruang Pengunjung (Sumber: Analisa Penulis)

Datang/Pulang ME

Membeli Tiket

Menitipkan barang

- Melakukan penelitian/ R. konservasi & Storage - Melihat pemutaran film/audiovisual

- Membaca buku/ perpustakaan - Mushola - Lavatory - Istirahat R.Tamu/ R.Tunggu R.Informasi

commit to user

b. Kelompok Pengelola Staff

Aktifitas Kebutuhan Ruang - Pengawasan - Administrasi - Rapat, Koordinasi - Penyimpanan Barang - Penyiapan Makan - Kebutuhan Konsumsi - Memberikan Informasi - Memberikan Penawaran - Aktifitas pribadi - Lobby - Office - R. Direksi - Gudang simpan - Storage kitchen - Pantry - Lobby - Area Souvenir - Toilet, musholla Tabel 4.2

Analisa Kebutuhan Ruang Pengelola staff (Sumber: Analisa Penulis)

E. Fasilitas Ruang

a. Fasilitas Penerimaan 1. Lobby

2. Area tiket

3. Area penitipan barang 4. Area resepsionis

b. Fasilitas Pelayanan dan Penjualan 1. Area pamer

2. Area souvenir 3. Toilet

commit to user 1. Office 2. R. Direksi 3. Work shop 4. Pantry 5. Toilet 6. Musholla

d. Mechanical dan Electrical 1. Gudang penyimpanan 2. Gudang Penerimaan

F. Besaran Ruang

Besaran ruang direncnakan disesuaikan menurut kebutuhan dan standard yang telah diterapkan dengan menggunakan standard dari :

NAD : Neufert Architect Data

commit to user

Ruang Fasilitas Jumlah Kebutuhan Ruang Total

Lobby Receptionist Penitipan Barang 50 Sirkulasi 50=(1,25X 50)+(1.25 X 50 X 25%) = 62,5 +15,62 = 78,125 Receptionist desk = 2,5 X 0,8 = 2 Kursi = 0,5 X 0,5 = 0,25 Total = 2 + 0,25 = 2,25 Toleransi = 25% X 2,25=0,56 Total Semua = 2,25 + 0,56 = 2,81 Jadi = 78,125 + 2,81 = 80,93 Toleransi Barang = 25% X 80,93 = 20,23 Kebutuhan Ruang = 80,93 + 20,23 = 101,16

Zona Sirkulasi Lobby

Standar Lintasan Publik Utama

commit to user

Ruang Fasilitas Jumlah Kebutuhan Ruang Total

Exhibition Space Ruang Pamer 200 Sirkulasi 200 = (1,25 X 200 ) + (1,25 X 200 X 25% ) = 250+ 62,5 = 312,5 Display I = 2 X 3 = 6 X 7 = 42 Display II = 0,5 X 12 = 6 Total = 42 + 6 = 48 Toleransi = 25% X 48 = 12 Total Semua = 48 + 12 = 60 Jadi = 312,5 + 60 = 372,5 Toleranasi Barang = 25% X 372,5 = 93,12 Kebutuhan Ruang = 372,5 + 93,12 = 465,62 465,62

Audiovisual Layar 200 Sirkulasi 200 = (1,25 X 200 ) + (1,25 X 200 X 25% ) = 250+ 62,5 = 312,5 Kursi = 0,6 X 0,6 = 0,36 ( 200 ) = 72 Podium panggung = 8X6 = 48 Total = 72 + 48 = 120 Toleransi = 25% X 120 = 30 Total Semua = 120 + 30 = 150 Jadi = 312,5 + 150 = 462, 5 578,12

commit to user

Toleransi Barang = 25% X 462,5 = 115,62 Kebutuhan Ruang = 462, 5+ 115,62= 578,12

Tabel 4.3

Analisa Kebutuhan Ruang Lobby, Exhibition, Audio Visual Sumber : Analisa Penulis

Ruang Fasilitas Jumlah Kebutuhan Ruang Total

Library 200 Sirkulasi 200 = (1,25 X 200 ) + (1,25 X 200 X 25% ) = 250+ 62,5 = 312,5 Kursi = 0,5 X 0,5 = 0,25 (200 ) = 50 Rak = 0,5 X 3 = 0,15 ( 80 ) = 12 Receptionist Desk = 2,5 X 0,8 = 2 Total = 50 + 12 + 2 = 64 Toleransi = 25 % X 64 = 16 Total Semua = 64 + 16 = 80 Jadi = 312,5 + 80 = 392,5 Toleransi Barang = 25% X 392,5 = 98,12 Kebutuhan Ruang = 392,5 + 98,12 = 490,62 490,62

Gift Store 30 Sirkulasi 200 = (1,25 X 30 ) + (1,25 X 30 X 25% ) = 37,5 + 9,37 = 46,87 Etalase = 0,8 X 3 0,24 = (5) = 1,2

commit to user Kasir = 0,8 X 2,5 = 2 Total = 1,2 + 2 = 3,2 Toleransi = 25 % X 3,2 = 0,8 Total Semua = 3,2 + 0,8 = 4 Jadi = 46,87 + 4 = 50,87 Toleransi Barang = 25% X 50,87 = 12,71 Kebutuhan Ruang = 50,87 + 12,71 = 63,58 Security Control 2 Sirkulasi = (1,25 X 2 ) + ( 1,25 X 2 X 25 %) = 2,5 X 2 X 25% = 3,12 Meja Control = 2,5 X 0,8 = 2 Kursi = 0,5 X 0,5 = 0,25 (2) = 0,5 Total = 2 + 0,5 = 2,5 Toleransi =25% X 2,5 = 0,62 Total Semua = 2,5 + 0,62 = 3,12 Jadi = 3,12 + 3,12 6,24 Toleransi Barang = 25% X 6,24 = 1,56 Kebutuhan Ruang = 6,24 + 1,56 = 7,8 7,8 Tabel 4.4

Analisa Kebutuhan Ruang Library, Gift Store, & Security Control Sumber : Analisa Penulis

commit to user G. Sistem Organisasi Ruang

Sebagai pertimbangan dalam pemilihan organisasi ruang yang selaras dengan fungsi dan sasaran desain Museum Seni Tari Tradisi Surakarta dengan pertimbangan tema dan ide pemikiran desain meliputi :

a. Pengelompokan jenis koleksi dan penyajian b. Pengelompokan fungsi ruang

c. Tingkat efisiensi sirkulasi d. Kebutuhan pencapaian e. Interior sistem

f. Ruang gerak yang cukup g. Tingkat efisiensi ruang 1. Analisa Alternatif Organisasi Ruang

Bentuk Organisasi Ruang Keterangan

Organisasi Ruang Tertutup Analisa pertama, penataan ruang pada Museum Seni Tari Tradisi Surakarta dengan memilih sebuah ruang besar dan dominan sebagai pusat ruang-ruang di sekitarnya,. Ruang sekitar mempunyai bentuk, ukuran dan fungsi berbeda dengan ruang lainnya.

Kelebihan pada tingkat efisiensi ruang dan aksibilitas ruang sedangkan kekurangan pada pengelompokan fungsi ruang dan arah pandang.

commit to user Organisasi Ruang Secara

Radial

Analisa kedua, penataaan ruang pada Museum Seni Tari Tradisi Surakarta menggunakan kombinasi dari organisasi yang terpusat dan organisasi radial. Beberapa fungsi ruang terpusat mengarah ke dalam sedangkan yang radial berputar mengelilingi sesuai pada kebutuhan dan fungsi ruang.

Kelebihan ruang dapat diatur sesuai kebutuhan dan fungsi, pemisahan zoning grouping lebih mudah, penentuan arah sirkulasi lebih efektif

Kekurangan kemungkinan jalur sirkulasi berjarak lebih jauh

Tabel 4.5

Alternatif Kebutuhan Ruang (Sumber: Analisa Penulis)

2. Hasil Analisa Bentuk Organisasi Ruang

Pertimbangan Penilaian

Alt. 1 Alt. 2 Tingkat efisiensi ruang

Pengelompokan fungsi ruang Aksesbilitas Arah pandang -+ -+ -+ + + Tabel 4.6

Hasil analisa Organisasi Ruang (Sumber: Analisa Penulis)

commit to user

Dari analisis di atas, secara umum penerapan organisasi ruang dan keruntutan penyajian yang menjadi pertimbangan, maka organisasi ruang yang terpilih adalah organisasi ruang radial.

a. Sistem Sirkulasi

Analisa konfigurasi sirkulasi yang dipakai secara global , yaitu :

Sirkulasi horizontal Gambar

Random Circulation

Pengunjung pada umumnya merasa lebih nyaman dengan memilih sendiri jalur yang ingin dikunjungi dan menikmati karya seni dari ruang tersebut, ruang yang dibentuk tanpa adanya batasan – batasan dinding pemisah

Tabel 4.7 Analisa Sistem Sirkulasi

(Sumber: Analisa Penulis)

Keterkaitan sirkulasi dan ruang yang dipakai Gambar

Sirkulasi dari ruang ke ruang (room to room), pengunjung mengunjungi ruang pamer secara berurutan dari ruang yang satu ke ruang pamer berikutmya.

Tabel 4.8

Analisa Tipe Sirkulasi Pengunjung

commit to user b. Hubungan Antar Ruang

Proses penentuan pola hubungan antar ruang bertujuan untuk mendapatkan hubungan dan pola organisasi baik secara makro maupun mikro, yang didasarkan pada hasil analisis adalah sebagai berikut :

Tabel 4.9 Hubungan Antar Ruang (Sumber: Analisa Penulis)

Keterangan:

: berhubungan langsung : berhubungan langsung : berhubungan langsung

c. Zoning Grouping

Penentuan zonning dan grouping dalam sebuah bangunan disesuaikan dengan fungsi dan aktivitas manusia yang menggunakan bangunan tersebut. Perencanaan yang tepat akan memudahkan dan mendukung aktivitas manusia di dalamnya.

commit to user Zoning

Gambar 4.3 Zoning

(Sumber: Analisa Penulis)

Grouping

Gambar 4.4 Grouping

commit to user

BAB V

KONSEP DESAIN

A. IDE GAGASAN

Bangunan seluas 1000-1600 m2 dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan sarana edukasi mengenai perkembangan sejarah Seni Tari Surakarta. Bagaimana sebuah seni tari itu bermula dan berkembang hingga menjadi suatu tatanan yang kompleks dan mengandung makna kehidupan. Serta untuk lebih mengenal dan melestarikan kesenian Tari Tradisi Surakarta bagi generasi penerus bangsa.

B. TEMA

Perancangan interior museum Seni Tari Surakarta ini dirancang dengan pendekatan tematik agar museum seni tari ini mampu menampung seluruh macam jenis tari tradisi gaya surakarta. Dan diharapkan juga tari tradisi gaya Surakarta ini mampu sebagai bahan pengayaan bagi seni tari diberbagai daerah.

Tematik merupakan suatu konsep dimana dalam perwujudannya menggunakan salah satu tema dalam penyajian. Tema ini aka diganti secara berurutan dalam kurun waktu tertentu, misalkan 3 bulan pertama Museum Seni Tari ini menampilkan segala jenis-jenis Tari Bedhaya, lalu 3 bulan kemudian menampilkan tari jenis wireng atau pethilan.

commit to user

C. SUASANA RUANG

Museum Seni Tari Tradisi Surakarta ini diharapkan mampu menghadirkan aspek karakter dan suasana ruang yang lebih kondusif sebagai sarana edukasi yang menyenangkan sehingga pengunjung museum tidak dibingungkan oleh kompleksitas berbagai macam tari gaya Surakarta yang telah ada. Selain itu, suasana yang intens dengan tekhnik pencahayaan spot area diharapkan mampu memberikan kesan mendalam terhadap sejarah-sejarah yang ditampilkan. Tentunya dengan tingkat keamanan tinggi agar kondisi benda-benda museum terjaga dengan baik.

D. POLA PENATAAN RUANG

Dalam perancangan dan perencanaan Desain Interior Seni Tari Tradisi Surakarta ini menggunakan sistem sirkulasi radial, sebab hampir seluruh seluruh pengunjung memang dikases untuk melihat sebuah perwujudan benda – benda bersejarah yang telah diatur sedemikian rupa. Baik itu bagi paras staf museum yang dapat secara mudah dan nyaman dalam beraktivitas. Selain itu pengunjung dituntut agar dapat menikmati museum dengan jelas dan mudah untuk dimengerti.

E. PEMBENTUK RUANG

Dalam perancangan dan perencanaan Desain Interior Muesum Seni Tari Tradisi Surakarta menggunakan pilihan material yang dinamis dan cocok bagi

commit to user

pengunjung segala usia serta menimbulkan kesan bersih dan terfokus pada obyek-obyek museum yang ditampilkan. Oleh karena itu pada perancangan dan perencanaan kali ini lebih cocok menggunakan bahan lantai berdasar marmer yang dominan warnanya putih dan keramik.

- Tegel kunci : merupakan bahan material lantai kuno. Tegel ini tersedia dalam berbagai warna dan ukurannya. Proses pembuatan secara manual menambah kesan artistik pada suatu ruang.

Gambar 5.1 Tegel kunci Sumber : Internet

- Batu alam : Penggunaan batu alam pada bangunan menciptakan kesan alami serta memberikan suasana yang lebih sejuk selain sebagai elemen dekoratif.

Gambar 5.2 Batu alam Sumber : Internet

- Marmer : Setiap marmer memiliki tekstur yang berbeda-beda karena marmer dihasilkan dari endapan tanah yang berumur ribuan tahun sehingga sulit untuk menyamakannya. Marmer yang bagus unsur

commit to user

materialnya seperti mineral, zat besi dan kapur harus seimbang. Jika salah satu di antara itu porsinya lebih besar, maka kondisi marmer disebut kurang bagus.

Gambar 5.3 penggunaan marmer

Sumber : Internet

- Parket : Parket kayu olahan berumur panjang dan antirayap, selain itu merawatnya pun mudah.

Gambar 5.4 penggunaan parket

Sumber : Internet

Ceiling

Dalam merencanakan museum seni tari tradisi, yang aman sekaligus dapat menimbulkan kesan estetika, maka akan digunakan rangka baja ringan dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas dan bahan bakunya. Rangka atap dan

commit to user

bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan agar tidak membebani konstruksi dan fondasi, sehingga lebih aman pada perncanagan dan perencanaan museum kebudayaan dalam jangka panjang.

 Kaca : desain modern, umumya tidak lepas dari penggunaan material kaca. Kaca dapat diterapkan sebagai dinding, ceiling, maupun floor. Fungsi kaca disini ialah sebagai keindahan dari modernitas sebuah desain.

Gambar 5.5 penggunaan ceiling kaca

Sumber : Internet

Gypsum : Gypsum merupakan bahan yang sering digunakan oleh masyarakat akhir-akhir ini selain harganya murah gypsum juga mudah dibentuk menjadi berbagai macam barang-barang rumah tangga.

Gambar 5.5

penggunaan ceiling gypsum Sumber : Internet

commit to user

Dinding

 Wallpaper : kesan yang ditampilkan lebih baik dibanding cat tembok yang cenderung monoton. Beragamnya pilihan corak dan warna juga memudahkan dinding disesuaikan dengan konsep museum secara keseluruhan, sehingga bisa dirasakan tema museum yang terasa lebih hidup. Kesan lain yang ditawarkan oleh wallpaper adalah kesan modern, kreatif, dan elegan.

Gambar 5.6 wallpaper Sumber : Internet

 Kaca : desain modern, umumya tidak lepas dari penggunaan material kaca. Kaca dapat diterapkan sebagai dinding, ceiling, maupun floor. Fungsi kaca disini ialah sebagai keindahan dari modernitas sebuah desain.

Gambar 5.7 Penggunan dinding kaca

Sumber : Internet

 Kayu : Kayu maerupakan material alam yang banyak diterapkan pada desain tradisi. Aksen alami kayu dipadukan dengan motif ukir gaya

commit to user

khas Surakarta diharapkan dapat memperkuat suasana dan karakter desain yang ditimbulkan.

Gambar 5.8 Penggunan material kayu

Sumber : Internet

F. PENGISI RUANG

Orientasi bangunan selalu dikaitkan dengan kenyamanan termal dan penggunaan energi bangunan. Orientasi bangunan Timur–Barat pada bangunan museum Seni Tari Tradisi Surakarta ini harus dipertimbangkan dengan pemanfaatan energi secara alami namun tetap memiliki tingkat kemanan yang tinggi.

G. SISTEM INTERIOR

Penghawaan : pada perancangan museum seni tari tradisi Surakarta ini menggunakan AC sentral dan AC split, dimana penggunaan AC sentral terdapat pada hall dan penggunaan AC Spilt terdapat pada semua ruang yang akan dirancang

commit to user

Pencahayaan : dalam perancangan ini menggunakan pencahayaan buatan dan alami, diman pencahayaan buatannya berasal dari lampu yang menyinari secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan pencahayaan alaminya berasal dari sinar matahari yang melewati beberapa bukaan, seperti jendela.

H. SISTEM KEAMANAN

Sistem keamanan pada solo cultural museum ini menggunakan CCTV, yang mana pengelola dapat mengontrol kegiatan yang terjadi di dalam setiap ruangan atau di setiap fasilitas yang disediakan.

Selain menggunakan CCTV sebagai sistem keamanan, Solo cultural museum ini juga menggunakan sistem pemadan kebakaran berupa hydrant, yang mana sistem keamanan yang digunakan ini tidak dapat merusak kain batik yang dipamerkan maupun yang dijual.

commit to user

BAB VI

PENUTUP

KESIMPULAN

Museum Seni Tari Tradisi Surakarta merupakan museum yang berbadan hukum tetap, tidak mencari keuntungan dalam pelayanannya tetapi untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Seni Tari Tradisi Surakarta. Penyajiannya secara tematik yang diterapkan pada sistem display, diharapkan mampu memberi pemahaman yang mudah dimengerti oleh pengunjung museum.

Lokasi Museum sangat dekat dengan Sriwedari. Lokasi tersebut merupakan pusat kegiatan seni tari Surakarta. Selain itu, terdapat pula Gedung Wayang Orang Sriwedari. Gedung Wayang Orang Sriwedari adalah sebuah gedung pertunjukan wayang orang yang ada di Taman Sriwedari. Sehingga menjadikan sebauh area yang strategis bagi para penikmat seni tari tradisi.

Sasaran dari keberadaan Museum Seni Tari Tradisi Surakarta ini adalah untuk seluruh kalangan masyarakat, yaitu para wisatawan baik mancanegara maupun domestik, terutama kalangan pelajar dan generasi muda.

Dokumen terkait