commit to user
TUGAS AKHIR
DESAIN INTERIOR
MUSEUM SENI TARI TRADISI SURAKARTA
DENGAN PENDEKATAN HISTORICISM
Disusun Untuk Memenuh Syarat mendapatkan Gelar Sarjana Seni Rupa Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Unversitas Sebelas Maret Surakarta
Disusun oleh :
REIKE YESIE INDRA
C0807030
JURUSAN DESAIN INTERIOR
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
▸ Baca selengkapnya: gambar desain datar dalam tari
(2)(3)(4)commit to user PERNYATAAN
Nama : Reike Yesie Indra NIM : C 0807030
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Laporan Tugas Akhir berjudul “Desain Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta“ adalah benar-benar karya sendiri, bukan plagiat dan dibuatkan orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam Laporan Tugas Akhir ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam Daftar Pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan Tugas Akhir dan gelar Sarjana yang telah diperoleh.
Surakarta, Juli 2012 Yang membuat pernyataan,
commit to user
MOTTO
Langkah menentukan masa depan Berhati-hatilah tiap langkah yang akan diambil Masa depan ditentukan dari sekarang,
commit to user
PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan kepada :
1. Kedua orang tuaku, terutama Ibuku yang senantiasa menemani dan mendukungku.
2. Segenap keluarga besar Bpk. Rasita Satriana SSn. M.kar yang telah membantu saya dalam proses penelitian.
3. Rezar yang selalu sabar dan selalu memberiku semangat. 4. Respati yang selalu sedia membantu dan mendukungku.
commit to user
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan anugrah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan Laporan Tugas Akhir “Desain Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta” ini dengan baik.
Penyusunan penulisan ini diajukan guna melengkapi Laporan Tugas Akhir sebagai persyaratan menempuh gelar Sarjana di Jurusan Desain Interior, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua Orang tua beserta seluruh keluarga Bpk. Rasita yang telah banyak memberikan motivasi, dukungan serta doa’nya demi kelancaran proses TA maupun penyusan penulisan ini. Tidak lupa pula penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Anung B Studyanto, S.Sn, MT selaku Ketua Jurusan Desain Interior UNS 2. Iik Endang SW, S.Sn, M.Ds. selaku koordinator Tugas Akhir
3. Drs. Ken Sunarko, M. Si dan Lu’lu’ Purwaningrum, SSn, MT selaku dosen pembimbing tugas akhir yang selalu memberikan pengarahan.
4. Seluruh Dosen, staf dan rekan-rekan di Jurusan Desain Interior UNS, terimakasih atas ilmu, pengalaman, nasihatnya yang takkan pernah sia-sia.
5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu, yang telah banyak memberikan dukungan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan penulisan ini, namun dengan penuh harapan semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Surakarta, Juli 2012
commit to user ABSTRAK
Reike Yesie Indra. C0807030. 2012. Desain Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta Pengantar Tugas Akhir: Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Permasalahan yang akan dibahas dalam Desian Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta ini, yaitu (1) Bagaimana mewujudkan museum yang dapat mengapresiasikan berbagai macam perbedaan bentuk tari Surakarta.(2) Sarana edukasi yang mudah dimengerti oleh khayalayak umum, terutama anak-anak. (3) Bagaimana merancang sebuah museum yang bersifat movement bukan monument. (4) bagaimana mewujudkan sebuah museum tari yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaan dan Seni Tari Tradisi Surakarta.
Metode yang digunakan dalam pembahasan masalah adalah metode pembahasan analisa interaktif, dimana ada tiga tahap pokok yang digunakan oleh peneliti, yaitu: (1) Data Reduksi adalah proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi data. (2) Data Display, Merupakan suatu penyusunan informasi sebelum menyusun sebuah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. (3) Concludeing Drawing, Dari awal penelitian data penelitian sudah harus memulai melakukan pencatatan peraturan, pola-pola pertanyaan, arahan sebab-akibat dan proporsi- proporsi.
commit to user ABSTRACT
Reike Yesie Indra. C0807030. 2012. Desain Interior Traditional Dance Museum Surakarta Final Project Introduction: Interior Design Department Faculty of Letters and Fine Arts Sebelas Maret University Surakarta.
Problems which will be discussed in this work entitled Desain Interior Traditional Dance Museum Surakarta are (1) How to create a museum which can appreciate a wide range of different dance forms in Surakarta, (2) Means of education which can be easily understood by all people in general and children in particular, (3) How to design a museum which is dynamic and not monumental, (4) How to create a museum of dance which can foster a sense of love and pride toward the culture and traditional dance in Surakarta.
commit to user
3. Sistem Operasional ... 100
C. Program Kegiatan ... 101
D. Analisa Kebutuhan Ruang ... 104
E. Fasilitas Ruang ... 105
F. Besaran Ruang ... 106
G. Sistem Organisasi Ruang ... 111
1. Analisa Alternatif Organisasi Ruang ... 111
2. Hasil Analisa Bentuk Organisasi Ruang ... 112
2.a. Sistem Sirkulasi ... 113
2.b. Hubungan Antar Ruang ... 114
2.c. Zoning Grouping ... 114
BAB V KONSEP DESAIN ... 116
A. Ide Gagasan ... 116
B. Tema ... 116
C. Suasana Ruang ... 117
D. Pola Penataan Ruang ... 117
E. Pembentuk Ruang ... 117
F. Pengisi Ruang ... 122
G. Sistem Interior ... 122
H. Sistem Keamanan ... 123
BAB VI PENUTUP ... 124
Kesimpulan ... 124
DAFTAR PUSTAKA ... 125
commit to user
Gambar 2.11 Sistem Display Computer ... 31
Gambar 2.12 Sistem Display Remote Control ... 31
Gambar 2.13 Sistem Display Mater Berputar ... 32
Gambar 2.14 Tari Bedhaya Ketawang ... 41
Gambar 2.15 Tari Bedhaya Pangkur ... 41
Gambar 2.16 Tari Bedhaya Duradasih ... 42
Gambar 2.17 Tari Bedhaya Mangunsih ... 42
Gambar 2.18 Tari Srimpi ... 43
Gambar 2.19 Tari Gambyong ... 44
Gambar 2.20 Tari Gatutkaca Gandrung ... 44
Gambar 2.21 Tari Pethilan ... 45
Gambar 2.22 Golek Montro... 46
Gambar 2.23 Tari Bondan Mardisiwi ... 47
Gambar 2.24 Tari Topeng Panji Ksatriyan ... 48
Gambar 2.25 Sirkulasi Linear... 53
Gambar 2.26 Sirkulasi Radial... 53
Gambar 2.27 Sirkulasi Spriral ... 54
Gambar 2.28 Sirkulasi Grid ... 54
Gambar 2.29 Sirkulasi Network ... 54
Gambar 2.30 Warna Merah ... 56
commit to user
Gambar 2.41 Brackets Lighting ... 70
Gambar 2.42 Track Lighting ... 70
Gambar 2.43 AC Split ... 71
Gambar 2.44 CCTV ... 75
Gambar 2.45 Smoke Detector ... 75
Gambar 2.46 Fire Alarm System ... 75
Gambar 2.47 Fire Estinguisher ... 76
Gambar 2.48 Springkler ... 76
Gambar 2.49 Hydrant & Pipa Hydrant ... 77
Gambar 2.50 Fire Damper ... 77
Gambar 2.51 Smoke & Heat Ventilating ... 78
Gambar 2.52 Vent & Exhaust ... 78
Gambar 2.53 Laser Security System ... 79
Gambar 3.1 Denah Lokasi ... 81
Gambar 3.2 Peta Kota Surakarta ... 81
Gambar 3.3 Pintu Depan Kraton Surakarta ... 85
Gambar 3.4 Raja-raja Keraton ... 86
Gambar 3.5 Ruang benda-benda Perunggu ... 86
Gambar 3.6 Ruang Pengantin ... 86
Gambar 3.7 Ruang Kesenian Rayat ... 86
Gambar 3.8 Alat Upacara ... 86
Gambar 3.9 Kereta & Joli Kerajaan ... 86
Gambar 3.10 Diorama Perang Diponegoro ... 87
Gambar 3.11 Kyai Rajamala ... 87
commit to user
Gambar 3.13 Koridor ... 88
Gambar 3.14 Puppet Room ... 89
Gambar 3.15 Ceramic Room ... 89
Gambar 3.16 Bronze Room ... 89
Gambar 3.17 Library ... 89
Gambar 3.18 Rajamala Room ... 89
Gambar 3.19 Ethnografi Area ... 90
Gambar 3.20 Memorial Room ... 90
Gambar 3.21 Miniature Room ... 90
commit to user
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Analisa Kebutuhan Ruang Pengunjung ... 104
Tabel 4.2 Analisa Pengelola Staff ... 105
Tabel 4.3 Analisa Kebutuhan Ruang I ... 106
Tabel 4.4 Analisa Kebutuhan Ruang II... 109
Tabel 4.5 Analisa alternatif organisasi Ruang ... 111
Tabel 4.6 Analisa organisasi Ruang ... 112
Tabel 4.7 Analisa Sistem Sirkulasi ... 113
Tabel 4.8 Analisa Tipe Sirkulasi Pengunjung ... 113
commit to user
DAFTAR SKEMA
Skema 4.1 Sistem Organisasi ... 97
Skema 4.2 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Administrasi ... 101
Skema 4.3 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Perawatan dan Dokumentasi ... 101
Skema 4.4 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Bimbingan dan Edukasi ... 102
Skema 4.5 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Persiapan Pameran ... 102
Skema 4.6 Pola Kegiatan Pengelola Bagian Servis ... 103
Skema 4.7 Pola Kegiatan Pengunjung atau Wisatawan Umum ... 103
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kesenian Tari Tradisi Surakarta telah melalui proses yang panjang dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan perilaku tari tradisi itu sendiri dan sesuai dengan nilai yang berlaku pada jamannya. Tari tradisi Surakarta sendiri
terdapat dua kelompok jenis tari, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran. “Sampai saat ini, telah banyak pengkaji atau pembahasan tari yang memebicarakan
kekayaan vokabuler gerak Tari Gaya Surakarta, baik Kraton Kasunanan maupun Pura Mangkunegaran sebagai sumber garap karya-karya baru,namun masi sangat sedikit yang mengungkap pemikiran dan konsep estetik tari gaya Surakarta.”
(sumber :hal 6 ; Sejarah Tari, wordpress ISI)
Kurangnya penegetahuan serta minat generasi muda akan seni tari
tradisional Surakarta, dipengaruhi oleh berkembangnya tari modern dance yang sedang booming akhir-akhir ini. Dalam perkembangnnya, Museum yang ada saat ini mengandalkan warisan budaya kebendaan (tangible heritage), yakni berupa artefak-artefak peninggalan sejarah yang telah lampau. Oleh karena itu, pada tema perancangan Tugas Akhir ini, perancang mencoba untuk menciptakan museum
commit to user
Intangible heritage yang mencakup semua ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, ketrampilan yang dikenali sebagai bagian warisan budaya lebih rentan untuk pudar dan punah, apalagi dengan perkembangan arus
globalisasi yang semakin tak terelakkan. Salah satu upaya Museum seni tari dalam memvisualisasikan berbagai warisan intangible dari Mangkunegaran adalah dengan memanfaatkan media interpretasi dalam bentuk Conceptual and Imaginary Narrative Photograph.
Pada tema perancangan museum kali ini, tidak semua koleksi terdiri dari artefak dan benda memorabilia tetapi sebagian terdiri dari ambiance kebudayaan
materi masa kini; tidak menggunakan label pada koleksi yang dipamerkan tetapi mengandalkan tour guide; berifat movement dan bukan monument; sebagai a-muse-ment dan bukan muse-um yang akan dikembangkan untuk menjadi living museumdan bukan“dead” museum.
B. BATASAN MASALAH
Perencanaan sebuah museum tari tradisi Surakarta ini memiliki berbagai
macam pertimbangan-pertimbangan, seperti alur sirkulasi pengunjung, aspek suasana yang ditimbulkan, kelengkapan fasilitas penunjang, fasilitas keamanan, serta pembagian sub-divisi museum yang teratur. Batasan perancangan Museum
commit to user C. RUMUSAN MASALAH
Banyak pertimbangan permasalahan yang timbul dalam menciptkan perancangan Museum Seni Tari Tradisi Surakarta, dipengaruhi oleh adanya
kebutuhan dalam memberikan pelayanan terbaik, diantaranya ialah :
1. Bagaimana mewujudkan museum yang dapat mengapresiasikan tari tradisi Surakarta.
2. Bagaimana merencanakan sebuah proyek museum tari yang mampu memberikan sarana edukasi yang mudah dimengerti bagi para pengunjung.
3. Bagaimana merancang sebuah museum yang berbeda dari museum yang
ada pada saat ini. Dalam perancangan ini besifat movement dan bukan monument.
4. Bagaimana muwujudkan Museum Seni Tradisi Surakarta yang dapat memberikan atau menumbuhkan kecintaan dan minat masyarakat akan budaya seni tari Surakarta ?
D. TUJUAN
Perencanaan dan perancangan Interior Seni Tari Tradisi Surakarta
diharapkan mampu mewujudkan sebuah rancangan baru yang berbudaya. Sebuah budaya yang sangat khas di Surakarta diharapkan mampu menarik banyak
perhatian masyarakat untuk mengetahui dan mempelajarinya lebih dalam.
commit to user
menumbuhkan kebanggan masyarakat pada seni Tari Surakarta sebagai jati diri
warga Surakarta.
E. MANFAAT
1. Bagi Penulis/Desainer
a. Mengenal dan menambah wawasan tentang perkembangan Seni Tradisi
Surakarta.
b. Dapat mengembangkan ide dan gagasan untuk merencanakan dan
merancang suatu interior dengan sistem aspek suasana yang kuat, responsif dengan lingkungan, serta memiliki unsure keamanan yang
bagus dalam hal menjaga peninggalan sejarah masa lampau.
c. Dapat berusaha untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di dalam proyek perencanaan dan perancangan interior, mengoptimalkan lingkungan untuk perancangan interior suatu bangunan, dengan
menerapkan ide-ide dan gagasan-gagasan yang ada.
2. Bagi Masyarakat
a. Dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang Kesenian Tari Tradisi Surakarta.
b. Menjadi sebuah sarana sebagai tempat hiburan, menambah informasi
dan juga sebagai sarana pelestarian Seni Tari Tradisi Surakarta.
c. wadah bagi para seniman tari untuk berkumpul dan mengapresiasikan
commit to user F. SASARAN
1. Sasaran pengunjung:
a. Wisatawan umum , terutama anak-anak masa sekolah baik Domestic
maupun Mancanegara.
b. Seniman Tari, sebagai wadah perkumpulan para seniman-seniamn Tari Surakarta.
2. Sasaran perancangan desain:
a. Merancang interior dengan mempertimbangkan kebutuhan dan
aktivitas secara fungsional pada Museum Seni Tari Tradisi Surakarta. b. Merancang interior dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan
kenyamanan serta nilai etestik sebagi ciri khas utama pada Museum
Seni Tari Tradisi Surakarta.
G. METODE DESAIN
Dalam perancangan proses Desian Interior Museum Seni Tari tradisi
Surakarta, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang memusatkan pada pendekatan tematik. Dalam metode ini dijelaskan secara urut bagaimana penulis merumuskan sebuah masalah berdasarkan latar belakang
hingga menghasilkan suatu konsep desain. Tentunya dengan pertimbangan-pertimbangan dan analisa berdasarkan studi literatur dan penelitian baik secara
commit to user
1. Bagaimana mewujudkan museum yang dapat mengapresiasikan tari tradisi Surakarta?
2. Bagaimana merencanakan sebuah proyek museum tari yang mampu memberikan sarana edukasi yang mudah dimengerti bagi para pengunjung?
3. Bagaimana merancang sebuah museum yang berbeda dari museum yang ada pada saat ini?
4. Bagaimana muwujudkanMuseum Seni Tradisi Surakarta yang dapat memberikan atau menumbuhkan kecintaan dan minat masyarakat akan budaya seni tari Surakarta ?
Bentuk penelitian 2. Dwi Rahmani, S.kar, M.Sn
3. Ari Satriya Wibawa analisa
commit to user H. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dalam Museum Seni Tari Tradisi Surakarta secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan mencakup latar belakang masalah mengenai peranan dan pandangan terhadap seni tari di Surakarta, kemudian
dilanjutkan mengenai batasan masalah perancangan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, sasaran, metode desain, dan sistematika
penulisan.
BAB II KAJIAN LITERATUR
Mengemukakan Kajian Teoritis tentang Proyek Museum Seni Tari
Tradisi Surakarta, yang meliputi pembahasan teori tentang macam seni tari tradisi gaya Surakarta, serta penjelasan mengenai ruang dan manusia, yang di dalamnya mencakup tentang pengertian,
fungsi, klasifikasi, sirkulasi, komponen pembentuk ruang, sistem interior, sistem keamanan, sistem penyajian dan display pameran
serta pertimbangan desain.
BAB III STUDI LAPANGAN
Merupakan hasil studi observasi di lapangan sebagai dasar acuan
commit to user BAB IV PROGRAMMING
Yaitu mengenai data tekhnis dan spesifik yang digunakan dalam proyek perencanaan dan perancangan Museum Seni tari Tradisi Surakarta. Merupakan uraian tentang program kegiatan dan
program ruang yang akan melatar belakangi terciptanya karya desain interior yang meliputi definisi proyek, asumsi lokasi, status
kelembagaan, struktur organisasi, program kegiatan, alur kegiatan, program ruang, besaran ruang, pembentuk ruang, pengisi ruang, sistem interior, sistem keamanan, sistem organisasi ruang, sistem
sirkulasi, pola hubungan antar ruang, zoning dan grouping.
BAB V KONSEP DESAIN
Merupakan uraian tentang ide atau gagasan beserta tema, suasana ruang, pola penataan ruang, pembentuk ruang, pengisi ruang, sistem interior, dan sistem keamanan yang akan melatar belakangi
terciptanya karya desain interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta.
BAB IV KESIMPULAN
Meliputi kesimpulan evaluasi konsep perancangan dan keputusan desain serta saran-saran penulis mengenai perancangan Museum
Seni Tari Tradisi Surakarta.
GLOSARIUM
commit to user
BAB II
KAJIAN LITERATUR
A. KAJIAN TEORI
1. Pengertian Judul
Pengertian judul “ Desain Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakarta
adalah sebagi berikut :
Desain : 1) Rancangan, rencana suatu bentuk dan sebaginya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 138)
2) Suatu sistem yang berlaku untuk segala macam jenis
perancangan dimanan titik beratnya adalah melihat
sesuatu persoalan tidak secara tepisah atau
tersendiri melainkan sebagi suatu kesatuan dimana
satu masalah dengan lainnya saling kait mengkait.
(Suptandar, 1999 : 12)
Interior : 1) Ruang dalam suatu bangunan, yang mengungkapkan tata kehidupan manusia melalui
media ruang. (Ensiklopedi Nasional Indonesia,
1991 : 197)
2) Bagian dalam gedung (ruang, dsb), tatanan perabot
(hiasan, dsb) di ruang dalam gedung. (Kamus Besar
commit to user
Desain Interior : Adalah karya arsitek atau desainer yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan.
(Desain Interior, 1999 : 11)
Museum : 1) Menurut International Council of Museums
disingkat ICOM ), adalah institusi permanen, nirlaba,
melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka,
dengan cara melakukan usaha pengoleksian,
mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan
memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk
kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. (sumber
:http://icom.museum/)
2) Museum adalah suatu lembaga yang bersifat badan
hukum yang tetap, tidak mencari keuntungan dalam
pelaksanaannya kepada masyarakat, tetapi untuk
memajukan masyarakat lingkungannya, serta terbuka
untuk umum.(Moh. Amir Sutarga, 1989 : 23)
Seni Tari :
Menurut para ahli : Haukin menyatakan bahwa tari adalah
ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan
diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi
bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si
pencipta (Haukins: 1990, 2). Di sisi lain ditambahkan
oleh La Mery bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis
commit to user
diinternalisasikan.Untuk menjadi bentuk yang nyata
maka Suryo mengedepankan tentang tari dalam
ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif
(Meri:1987, 12).
Seni tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang
diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus
melalui estetika.
Tradisi :
1.
adat kebiasaan turun-temurun (dr nenek moyang) yg masih dijalankan dl masyarakat; 2.penilaian atauanggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg
paling baik dan benar. (Kamus Besar Bahasa
Indonesia)
Surakarta : Kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Gambar II. 1
Surakarta (Gladag) Tempo Dulu Sumber : Internet
Jadi pengertianDesain Interior Museum Seni Tari Tradisi Surakartaadalah
suatu perancangan yang menyangkut bagian dalam suatu bangunan, dalam upaya
commit to user
hasil dari ekspresi jiwa manusia dalam bentuk gerak simbolis guna melestarikan
adat istiadat turun temurun yang telah tumbuh dan berkembang di Surakarta.
2. Tinjauan Museum
a. Pengertian Museum
Menurut International Council of Museums disingkat ICOM, adalah
institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka,
dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset,
mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk
kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.
Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1) adalah lembaga, tempat
penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti
materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang
upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.
Secara harafiah museum berasal dari kata “Mouseion” yang merupakan
kuil klasik tempat pemujaan Dewi Muse dalam mitologi Yunani, yang dipercaya
sebagai lambang cabang ilmu pengetahuan dan kesenian. Museum adalah suatu
lembaga yang bersifat badan hukum yang tetap, tidak mencari keuntungan dalam
pelaksanaannya kepada masyarakat, tetapi untuk memajukan masyarakat
lingkungannya, serta terbuka untuk umum. Museum mengadakan kegiatan
pengadaan, pengawetan, riset, komunikasi dan pameran segala macam benda bahan
commit to user
tertentu, pengkajian dan pendidikan maupun kesenangan. (Moh. Amir Sutarga,
1989 : 23)
Museum dalam menjalankan aktivitasnya, mengutamakan dan
mementingkan penampilan koleksi yang dimilikinya. Pengutamaan kepada koleksi
itulah yang membedakan museum dengan lembaga-lembaga lainnya. Setiap koleksi
merupakan bagian integral dari kebudayaan dan sumber ilmiah, hal itu juga
mencangkup informasi mengenai objek yang ditempatkan pada tempat yang tepat,
tetapi tetap memberikan arti dan tanpa kehingan arti dari objek.
Penyimpanan informasi dalam bentuk susunan yang teratur rapi dan
pembaharuan dalam prosedur, serta cara dan penanganan koleksi. Museum dapat
didirikan oleh Instansi Pemerintah, Yayasan, atau Badan Usaha yang dibentuk
berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, maka pendirian museum
harus memiliki dasar hukum seperti Surat Keputusan bagi museum pemerintah dan
akte notaris bagi museum yang diselenggarakan oleh swasta. Bila perseorangan
berkeinginan untuk mendirikan museum, maka harus membentuk yayasan terlebih
dahulu.
b. Acuan hukum museum
Pendirian sebuah museum memiliki acuan hukum, yaitu:
1 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya
2 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992
commit to user
4 Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 tentang Museum
Lebih lanjut, museum terdiri dari 2 komponen yaitu penyelenggara dan
pengelola mempunyai museum.
Penyelenggara merupakan satu kegiatan pembinaan sedangkan pengelolaan
adalah kegiatan otonom dari unit yang dibina. Pada umumnya dalam dunia
permuseuman kita ketahui adanya dua unsur utama penyelenggara museum, yaitu
unsur pemerintah dan unsur swasta yaitu dalam bentuk perkumpulan dan yayasan
yang diatur kedudukan, tugas dan kewajibannya oleh undang-undang.
Penyelenggara dan pengelola museum, baik pemerintah maupun swasta di
Indonesia harus menyesuaikan kebijakannya dengan dasar-dasar kebijakan
pembina pendidikan pemerintah, karena semua kegiatan museum tidak hanya
untuk melayani kelompok tertentu tetapi juga memberikan pelayanan sosial budaya
dan pendidikan bagi masyarakat banyak.
c. Jenis museum
Menurut koleksi yang dimilikinya, jenis museum dapat dibagi menjadi dua
jenis museum :
1) Museum ilmu pengetahuan alam dan teknologi, yang termasuk museum ini adalah museum zoologi, museum botani, museum industri, museum kesehatan, museum geologi.
commit to user
Disamping perbedaan berdasarkan kategori ilmu pengetahuan, pembagian museum dapat diklasifikasikan berdasarkan tipenya, sebagai berikut :
1) Museum ilmu hayat
2) Museum sejarah dan antropologi
3) Museum ilmu pengetahuan dan teknologi
4) Museum seni
(Moh. Amir Sutaarga; 1989: 2)
Dalam Surat Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan nomor
075/1975, bagian XFVI, pasal 728, dikemukakan bahwa sistem klasifikasi museum
sebenarnya lebih bersifat fleksibel agar dapat menuju kearah tujuan yang hendak
dicapai yaitu pembinaan dan pengembangan – pengembangan museum di
Indonesia. Direktorat Permuseuman membagi museum menjadi tiga tipe
berdasarkan jenis koleksinya, sebagai berikut :
a) Museum Umum, yaitu museum yang tidak membatasi jenis koleksinya. Koleksinya berupa kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi maupun berbagai cabang – cabang seni.
b) Museum Khusus, yaitu museum yang membatasi jenis koleksinya, berupa kumpulan bukti material atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang ilmu pengetahuan atau satu cabang seni atau satu cabang teknologi.
commit to user
Museum juga dapat digolongkan menurut kedudukannya ruang lingkup
wilayah tugas, sebagai berikut :
a) Museum Nasional, adalah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan benda – benda yang yang berkaitan dengan bukti material manusia dan atau lingkungannya dari seluruh wilayah Indonesia yang bernilai nasional.
b) Museum Regional Propinsi, adalah museum yang benda koleksinya merupakan kumpulan benda yang berasal, mewakili, serta berkaitan dengan bukti material manusia atau lingkungannya dari wilayah propinsi tertentu.
c) Museum Lokal, adalah museum yang benda koleksinya terdiri kumpulan benda yang berasal, mewakili, dan berkaitan dengan bukti material manusia dan lingkungannya dari wilayah lokal setempat, kabupaten atau kotamadya tertentu.
Sedangkan menurut penyelenggaraannya berdasarkan status hukumnya,
museum dapat dibagi dalam kategori, sebagai berikut :
a) Museum Pemerintah, yaitu museum yang diselenggarakan serta dikelola oleh pemerintah. Museum ini dapat dibagi lagi menjadi museum yang dikelola oleh pemerintah pusat dan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah.
b) Museum swasta, yaitu museum yang diselenggarakan serta dikelola oleh pihak swasta.
Sedangkan berdasarkan bentuk bangunannya, museum dapat dibagi dalam
kategori, sebagai berikut :
a) Museum Tertutup, museum yang koleksinya berada didalam suatu bangunan permanent
commit to user
c) Museum Kombinasi, museum yang koleksinya berada di dalam dan di luar bangunan permanen.
Dalam penyajian koleksi museum harus memperhatikan nilai estektika,
artistik, edukatif dan informatif. Berkaitan dengan pengunjung museum dalam
penyajian koleksi harus memperhatikan kebebasan bergerak bagi pengunjung,
sirkulasi pengunjung museum, kenyamanan pengunjung museum, dan keamanan
koleksi museum. Informasi yang disampaikan kepada pengunjung juga harus
bersifat komunikatif dan edukatif, yaitu sekurang-kurangnya memuat nama benda,
asal ditemukan, periode dan umur, dan fungsi koleksi.
Penyajian koleksi dapat dilakukan dalam 3 jenis pameran, yaitu:
(1) pameran tetap,
Merupakan pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu 3 – 5 tahun. Tema pameran sesuai dengan jenis, visi dan misi museum. Idealnya koleksi yang disajikan 25 – 40 % merupakan koleksi museum;
(2) Pameran khusus atau temporer,
Merupakan pameran koleksi museum yang diselenggarakan (1 minggu – 3 bulan);
(3) Pameran Keliling
Merupakan pameran koleksi yang diselenggarakan di luar lingkungan museum. Sebaiknya pameran keliling menggunakan replika koleksi, untuk menghindari kerusakan dan kehilangan koleksi.
Koleksi yang dimiliki oleh sebuah museum agar tetap terjaga kelestariannya
commit to user
material koleksi, dalam hal ini kurator (peneliti koleksi) bekerjasama dengan
konservator(ahli konservasi).
Selain konservasi, perlu tindakan pencegahan terhadap kerusakan koleksi
atau pengawetan sehingga koleksi tetap terjaga kelestariannya, dalam kegiatan
tersebut dituntut peran aktif konservator yang sebaiknya memiliki keahlian yang
cukup tentang koleksi yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga tidak
menggantungkan masalah kelestarian koleksi sepenuhnya kepada kurator.
Selain itu, koleksi-koleksi yang mengalami kerusakan atau fragmentaris
perlu diperbaiki atau direkonstruksi supaya dapat diperoleh bentuk seperti semula.
Perlu untuk dilakukan studi perbandingan dengan koleksi lain yang masih utuh dan
diperkirakan sejenis dengan koleksi tersebut, serta direkonstruksi di atas kertas
terlebih dahulu, sebelum dilakukan restorasi terhadap koleksi.
Pengamanan museum sangat penting, menyangkut keamanan koleksi,
bangunan dan manusia (petugas dan pengunjung) museum. Pengamanan museum
tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, melainkan semua pegawai museum.
Pengamanan museum meliputi proteksi museum beserta koleksinya dari tindakan
pencurian dan penanggulangan terhadap bencana.
Museum sangat berperan dalam pengembangan kebudayaan nasional,
terutama dalam pendidikan nasional, karena museum menyediakan sumber
informasi yang meliputi segala aspek kebudayaan dan lingkungan.
Museum menyediakan berbagai macam sumber inspirasi bagi kreativitas
commit to user
harus tetap memberikan nuansa rekreatif bagi pengunjungnya. Kurator perlu
melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan koleksi serta menyusun tulisan
yang bersifat ilmiah dan populer.
Untuk menginformasikan koleksi yang dipamerkan di ruang pamer kepada
pengunjung secara lengkap dan sistematis, dalam kegiatan ini kurator bekerjasama
dengan bagian edukasi. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus
berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang
inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.
(Tim Direktorat Museum).
d. Fungsi, tujuan dan tugas museum
Fungsi menurut ICOM, fungsi Museum dengan praktek pengelolaan museum
sehari-hari, sebagai berikut:
1) Pengumpulan dan pengamatan warisan dan budaya
2) Dokumentasi, informasi, dan penelitian alam
3) Konservasi dan preservasi
4) Penyebaran dan pemerataan ilmu pengetahuan untuk masyarakat
umum
5) Pengenalan dan penghayatan kesenian
6) Pengenalan kebudayaan lintas daerah dan lintas bangsa
7) Visualisasi warisan budaya alam dan budaya
commit to user
9) Pembangkit rasa bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa
Tujuan Museum
Tujuan museum menurut Sampurno Kadarsan, dapat dibagi menjadi dua tujuan,
yaitu tujuan institutional dan tujuan fungsional.
1) Tujuaninstitutional
Memberikan pengertian kepada Bangsa Indonesia, khususnya generasi muda tentang kebudayaan yang pernah ada, hal ini merupakan watak dan kesadaran bangsa, bahwa kebudayaan yang dimiliki Indonesia khususnya, sangat agung, juga sebagai pelindung dan pemelihara dari pengaruh budaya asing yang tidak sesuai.
2) Tujuan fungsional
Sebagai wadah tujuan fungsional agar dapat berlaku secara efektif terhadap dua kepentingan yang saling berpengaruh, yaitu:
o Kepentingan obyek
Memberikan wadah atau tempat untuk menyimpan serta melindungi benda-benda koleksi yang mempunyai nilai budaya, dari kerusakan atau kemusnahan yang disebabkan, antara lain pengaruh iklim, alam, biologis maupun manusia.
o kepentingan umum
commit to user Tugas museum
Tugas museum disamping sebagai koleksi, preparasi, edukasi maupun
rekreasi, tugas pokok museum dapat diterangkan sebagai berikut:
(a) Melaksanakan pengumpulan, perawatan dan penyajian benda yang bernilai budaya dan bernilai historis
(b) Melaksanakan dan menyebarluaskan hasil penelitian kebudayaan daerah dan bangsa berdasarkan koleksi
(c) Melaksanakan perpustakaan, dokumentasi, dan penelitian ilmiah (d) Membuat reproduksi karya kebudayaan nasional
(e) Melaksanakan tata usaha
Selain seperti diuraikan di atas, terdapat pula tugas museum dibidang
tourisme sebagai usaha untuk memperkenalkan harta budaya bangsa kepada para
wisatawan asing.
e. Persyaratan Museum
Adapaun persyaratan berdirinya sebuah museum adalah : 1) Lokasi Museum :
Lokasi museum harus strategis, mudah dijangkau untuk umum dan lokasi museum harus sehat, tidak berpolusi, bukan daerah yg berlumpur/ berawa.
2) Bangunan Museum
Bangunan museum dapat berupa bangunan baru atau memanfaatkan gedung lama. Harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi, agar koleksi museum tetap lestari.
3) Koleksi
Koleksi merupakan syarat mutlak dan merupakan rohnya sebuah museum, maka koleksi harus
commit to user
Harus diterangkan asal-usulnya secara historis, geografis dan fungsinya;
Harus dapat dijadikan monumen jika benda tersebut berbentuk bangunan yang berarti juga mengandung nilai sejarah;
Dapat diidentifikasikan. Mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis, genus (untuk biologis), atau periodenya (dalamgeologi, khususnya untuk benda alam);
Harus dapat dijadikan dokumen, apabila benda itu berbentuk dokumen dan dapat dijadikan bukti bagi penelitian ilmiah;
Harus merupakan benda yang asli, bukan tiruan;
Harus merupakan benda yang memiliki nilai keindahan (master piece);dan
Harus merupakan benda yang unik, yaitu tidak ada duanya.
4) Peralatan museum
Museum harus memiliki sarana dan prasarana museum berkaitan erat dengan kegiatan pelestarian, sarana perawatan koleksi, pengamanan, lampu, label, dan lain-lain.
5) Organisasi dan ketenagaan
Pendirian museum sebaiknya ditetapkan secara hukum. Museum harus memiliki organisasi dan ketenagaan di museum, yang sekurang-kurangnya terdiri dari kepala museum, bagian administrasi, pengelola koleksi (kurator), bagian
konservasi (perawatan), bagian penyajian (preparasi), bagian pelayanan masyarakat dan bimbingan edukasi, serta pengelola perpustakaan.
6) Sumber dana tetap
commit to user f. Koleksi Museum
Pengertian koleksi
Pengertian koleksi secara harafiah adalah “kumpulan (gambar, benda –
benda bersejarah, lukisan dan sebagainya) yang sering dikaitkan dengan minat atau
hobby obyek (yang lengkap), berarti pula sebagai kumpulan segala hal yang
berhubungan dengan studi penelitian. (KBBI,1995: 450)
Syarat-syarat koleksi Museum
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh koleksi Museum, yaitu
antara lain:
- Mempunyai nilai sejarah dan ilmiah (termasuk nilai estetika)
- Dapat diidentifikasikan mengenai wujudnya (morfologi), tipenya (tipologi), gayanya(style),fungsinya, maknanya, asalnya secara historis dan geografis, genusnya (dalamorda biologi), atau periodenya (dalam geologi khususnya benda-benda sejarah alam dan teknologi).
- Harus dapat dijadikan dokumen dalam arti sebagai bukti kenyataan dan kehadirannya realitas dan eksistensinya bagi penelitian ilmiah.
- Dapat dijadikan suatu monumen atau bakal jadi monumen dalam sejarah alam atau budaya.
- Benda asli, replika atau reproduksi yang sah menurut persyaratan permuseuman.
Jenis-jenis Koleksi Museum terbagi dalam dua kategori:
1) Koleksi Umum, yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi
commit to user
Adapun koleksi dari sebuah museum itu dapat bermacam – macam
bentuknya, yaitu dapat berupa :
1) Etnografika: yaitu kumpulan benda – benda hasil budaya suku – suku bangsa
2) Prehistorika: yaitu kumpulan benda – benda prasejarah 3) Arkeologika: yaitu kumpulan benda – benda arkeologi 4) Historika: yaitu kumpulan benda – benda bernilai sejarah
5) Numistika dan heraldika, yaitu kumpulan benda – benda alat tukar dan lambang peninggalan sejarah, misalnya mata uang, cap, lencana, tanda jasa, dan surat – surat berharga.
6) Naskah – naskah kuno dan bersejarah 7) Keramik asing
8) Buku dan majalah anti kuariat 9) Karya seni dan seni kriya
10) Benda – benda grafika, berupa foto, peta asli, atau setiap reproduksi yang dapat dijadikan dokumen.
11) Diorama, yaitu gambaran berbentuk tiga dimensi
12) Benda – benda sejarah alam, berupa flora, fauna, benda batuan maupun mineral
13) Replika yaitu tiruan dari benda sesungguhnya
14) Miniatur yaitu tiruan dari benda sesungguhnya namun berukuran kecil
15) Koleksi hasil abstraksi
Sebuah museum, untuk melengkapi koleksinya diperlukan adanya suatu
proses pengadaan koleksi museum, yaitu suatu kegiatan pengumpulan benda –
benda realita atau pembuatan replica, yang dapat dijadikan suatu koleksi museum
commit to user
Tujuan dari pengadaan koleksi museum ini sendiri adalah untuk
menghimpun, mencatat, melestarikan dan mengkomunikasikan benda – benda
sejarah dan budaya untuk kepentingan studi, pendidikan dan rekreasi yang sehat,
sehingga terhimpunnya dan termanfaatkannya benda – benda sejarah dan budaya
tersebut bagi masyarakat.
Adapun pengadaan koleksi dilakukan dengan :
1) Penemuan/penggalian. 2) Pembelian.
3) Hadiah/hibah.
4) Titipan dari perorangan atau badan hukum.
Cara penyajian materi koleksi terbagi 3 bagian, yakni :
1) Berdasarkan Bentuk penyajian ( wadah materi koleksi yang ditampilkan)
Bentuk Sistem Panel(Panel System)
Panel, terdiri dari panel dinding, panel transparan, panel elektroli. Biasa digunakan
Wituk, benda 2 D, misal : gambar, bagan grafik, lukisan, dan photo.
Gambar II. 2 Sistem Display Panel ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994: 19 )
SistemPedestal( Alas Koleksi )
Pedestal/alas koleksi; terdiri dari system boks standar dan system boks
khusus. Biasa digunakan untuk penyajian benda 2D dan 3D, misal : foto, benda
commit to user
Gambar II. 3 Sistem Display Pedestal ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994: 46)
SistenVitrine
Vitrinedigunakan untuk penyajian benda 3D
Gambar II. 4 Sistem Display Vitrine
( Sumber : Depdikbud, 1993/1994: 36)
Sistem Display Diorama
Penyajian untuk benda 3 D Diorama suatu peristiwa/kisah, diorama suatu tema
pameran. dl
commit to user
2) Berdasarkan aspek aksentualisasi materi yang ditampilkan
Aksentualisasi dari materi yang ditampilkan dapat dilakukan dengan beberapa cara,
hal ini dimaksudkan agar :
Benda / materi koleksi dapat sebagai point of interest.
Aspek estetika lebih ditonjolkan pada materi koleksi sehingga menambah
daya tarik pengamat.
Persepsi dan penghayatan komunikasi dapat lebih detail dan teliti.
Adapun cara yang dilakukan adalah dengan :
a) Perbedaan tinggi lantai(spilt level)
Aksentualisasi yang ditampilkan:
- Materi koleksi sebngai point of interest
- Kecenderungan komunikasi visual lebih detail
Gambar II. 6 Perbedaan tinggi lantai ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
b) SistemMezanin
Dipakai pada ruang pamer yang multi level sehingga memungkinkan
terjadinya interaksi pengamat dari ruang atas dengan materi koleksi di ruang
bawah. Penyajian untuk benda 3D Peralatan, miniatur, replica patung, dll
commit to user
- Mengurangi penggunaan sekat dinding sehingga kebebasan ruang gerak
terbentuk.
Gambar II. 7 Perbedaan Sistem Mezanin ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
c) Memasukkan dalam dinding dengan Dekorasi Mural
Penyajian untuk benda 2 D dan 3 D yang berkaitan dengan dekoratif
mural.Aksentualisasi yang ditampilkan:
Materi koleksi diperagakan pada lubang yang terfokusAksentualisasi
menunjukkan materi koleksi lebih menonjol
Gambar II. 8 Dekorasi Mural
commit to user
d) Split Level Plqfon /Langit – langit Penyajian untuk benda 3D
Aksentualisasi yang ditampilkan:
- Penurunan ceiling pada materi koleksi dengan focus penerangan dapat meningkatkan daya tarik obyek pamer.
- Materi koleksi sebagai pusat utama
Gambar II. 9 Penurunan Ceiling
( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
3) Berdasarkan Faktor Teknologi.
Penggunaan teknologi modern sangat mendukung fungsi dan suasana yang
ingin ditampilkan, yaitu bersifat informative, edukatif dan rekreatif. Hal ini akan
menimbulkan persepsi pengamatan yang lebih detail dan teliti.
Sistem Display Film /Cinematografi
Penyajian berupa teater film / multi media yang menggambarkan suatu
peristiwa/kisah yang sesuai dengan tema ruang pamernya.
commit to user
Sistem Display Komputer / Monitor TV
Penyajian menggunakan program komputer baik dengan system layar lebar atau
tidak.
Gambar II. 11 Sistem display computer ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
Sistem Display Remote Control dan Tata Lampu
Penyajian materi dapat berupa materi koleksi 2 D (grafik, bagan interaktif )
dengan dilengkapi tombol pengatur. Atau materi 3 D (miniatur suatu proses
produksi, maker ) yang dilengkapi display rata lampu yang menarik.
Gambar II. 12
Sistem display remote control dan tatalampu ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
Sistem Display Materi.Koleksi Berputar
Penyajian berupa materi 3 D dengan ukuran kecil dan sedang 0,5 m persegi - 3,0 m
commit to user
Gambar II. 13
Sistem display mater berputar ( Sumber : Depdikbud, 1993/1994 )
4) Berdasarkan Kronologis
Yaitu koleksi yang dipamerkan disusun menurut usia benda koleksi yang
paling tua sampai yang muda usianya.
g. Konservasi Koleksi
Pada suatu bangunan museum terdapat beberapa hal yang harus menjadi
perhatian khusus, agar keutuhan koleksi didalamnya dapat terjaga dengan baik dan
aman. Diantaranya hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
1) Debu dan Sinar
Debu dan sinar cahaya dalam banyak hal dapat masuk
dengan mudah ke ruang-ruang penyimpanan dan ruang pameran.
Hal ini dapat dihindari dengan mengadakan perbaikan-perbaikan
pada bangunan, seperti dengan mengunakan penolak debu, penolak
commit to user
2) Gas
Ada kerusakan yang disebabkan oleh gas-gas yang
merusakkan yang dapat disebabkan oleh bahan vitrin atau
pengyangga koleksi. Hal ini dapat dihindari dengan pemilihan bahan
vitrin yang tidak mengandung asam dan pengutamaan pada
ventilasi.
3) Perlindungan terhadap pencurian.
Di ruang pamer harus terdapat suatu instruksi agar para
pengunjung tidak dapat memegang obyek.
4) Ruang penyimpanan
Syarat-syarat pada ruang penyimpanan, antara lain:
(a) Tempatkan obyek koleksi pada lemari yang cukup vetilasi. (b) usahakan ruang gerak secukupnya untuk dapat menangani
obyek.
(c) Jangan meletakkan obyek di tempat orang-orang berjalan. (d) Kumpulkan bagian obyek di satu tempat.
(e) Jangan saling menumpuk obyek.
5) Sinar Cahaya dan Penolakan Sinar Matahari
Cahaya terlihat dan sinar UV dapat merusakkan
obyek-obyek, seperti rapuhnya dan lunturnya warna-warna tekstil,
kertas, kayu. Kerusakan ini dalam kebayakan hal permanent
dan kumulatif. Banyaknya cahaya yang terlihat dinyatakan
dalam Lux, banyaknya sinar UV dengan mikro-Watt per
commit to user
yang berlaku adalah 50 Lux dan 75 Mikro Watt per lumen
untuk bahan peka cahaya seperti kertas dab tekstil, maksimal
200 Lux dan 75 Mikro-Watt per Lumen untuk bahan kurang
peka cahaya seperti kayu yang tidak di cat dan lukisan.
Untuk batu tidak berlaku nilai Lux.
Penerangan didalam vitrin mempunyai kerugian tambahan,
yaitu temperature dalam vitrin naik dan kelembaban udara
relative turun. Tetapi kalau lampu dimatika yang terjadi
kebalikannya.
6) Kutu dan Serangga
Di gedung-gedung banyak digunakan pemakaian bahan
kimia, seperti penyempotan insektisida, dengan
memperhatikan cara pertahanan, pencegahan, dan pensialiran
adanya kutu dan serangga.
Di gedung-gedung tidak terdapat alat penahan masuknya
insek, pintu dan jendela terbuka uantuk waktu yang lama dan
bercelah-celah dibagian sambungan-sambungan dan
ambang-ambang pintu.
Inspeksi memang sulit karena ruangan-ruangan museum
commit to user
7) Musibah
Dilengkapi alat pemadam kebakaran pada tiap ruang dan
disertai penjaga malam pada gedung. Lima menit pertama
sangat menentukan apakah kebakaran tersebut menjalatr atau
tidak.
3. Tinjauan Umum Tari
1. Pengertian Tari
Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan
waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan
pikiran.Haukinsmenyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah
oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk
gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins, 1990: 2).
Seni tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan
berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Tari merupakan salah satu
cabang seni, di mana media ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat
perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat ekspresi
manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa
saja, pada waktu kapan saja.
Hal lain juga disampaikan oleh Haukins bahwa, tari adalah ekspresi
perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk media gerak
commit to user
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa, pengertian tari adalah
unsur dasar gerak yang diungkapan atau ekspresi dalam bentuk perasaan sesuai
keselarasan irama.
2. Sejarah Tari
Ada beberapa istilah dalam bahasa Jawa yang dipakai untuk menunjuk
kepada gerak – gerik tarian : jogged, lenggotbawa, dan mataya. Kata jogged
dipakai untuk tari – tarian jawa yang dilakukan manusia, sedangkan kata
lenggotbawa dan mataya untuk tari-tarian makhluk surgawi dijaman dahulu. Saat
ini ada beberapa macam kata yang paling banyak dikenal ialah :
Beksa : untuk menunjukkan koreografi klasik yang sangat distilisasi.
Dhangsah : paduan tarian Eropa.
Ngigel : tari-tarian yang meniruk gerak binatang, contoh :merak ngigel.
Jogged : tarian orang Jawa / Indonesia pada umumnya.
Nandhak : tarian yang tanpa persiapan / spontan.
Apabila kata jogged dalam bahasa jawa digunakan untuk segala macam
gerak-gerik tari, maka kta beksa hanya terdapat dalam koreografi yang distilisasi,
disusun dan dipergelarlkan sesuai dengan jumlah peraturan (pathokan) yang
kompleks. Katabeksanpada dasarnya berarti ‘sesuatu yang ditarikan’, yaitu sebuah
koreografi klasik.
3. Praktek dan fungsi Tari
Menurut Wedhataya, seni tari memainkan peranan sebagai olah yoga bagi
commit to user
tarian klasik yang distilisasi terdapat berbagai macam kategori atau gaya, dimana
alus (halus) dipertentangkan dengan branyak (gagah) dan sereng-regu (tegar
congkak), dan bukannya dengankasar.
Tari gaya Surakarta yang bersumber dari keraton Kasunanan dan Pura
Mangkunegaran ini dikenal istilah Hasta Sawanda (delapan unsur yang menjadi
satu kesatuan). Konsep ini diterapkan pada penari, sebagai kriteria untuk
menentukan penari yang handal. Tentang peranan penting seni tari, ditegaskan
dalam sebuah risalah yang disebut sebagai Pakem Beksa yang berjudul Serat
Kridhwayanggayang ditulis oleh Sastrakartika, diantaranya :
a. Hari raya Islam,Bakda
b. Untuk menjamu tamu-tamu penting bangsa Eropa
c. Pada saat hari raya orang Belanda
Konsep Hasta Sawanda merupakan satu konsep estetis dalam budaya tari
Surakarta, namun baru dirumuskan pada tahun 1950 oleh para empu tari dari kraton
Kasunanan maupun Mangkunegaran dalam sidang sarasehan Himpunan Budaya
Surakarta (HBS).
Konsep hasta sawanda meliputi :
a. Pacak : bentuk/pola dasar dan kualitas gerak tertentu yang ada
hubungannya dengan karakter yang dibawakan.
b. Pancad : peralihan dari gekar yang satu ke gerak berikutnya, yang
commit to user
c. Ulat : pandangan mata dan ekspresi wajah sesuai dengan karakter
peran yang dibawakan serta suasana yang diinginkan.
d. Lulut : gerak yang sudah menyatu dengan penarinya seolah-olah
tidak dipikirkan lagi.
e. Luwes : kualitas gerak yang sesuai dengan bentuk karakter peran
yang dibawakan (biasanya merupakan pengembangan dari penarinya).
f. Wiled : variasi gerak yang dikambangkan berdasarkan kemampuan
bawaan penarinya.
g. Irama : menunjuk alur garap tari secara keseluruhan dan menunjuk
hubungan gerak dengan iringannya.
h. Gendhing : menunjuk penguasaan iringan tari, rasa lagu, irama, laya
(tempo), rasa seleh, kalimat lagu, dan juga penguasaan tembang
maupun vokal yang lain.
Selain itu, yang cukup penting juga adalah konsep wiraga, wirasa, wirama
yang dikemukakan oleh Pangeran Suryadiningrat, yang menunjukkan adanya
totalitas (keutuhan) dalam wujud, rasa ungkap, dan irama gerak yang menyatu
dengan musiknya (Wahyu Santosa,et.al.2007:13-14).
4. Genre Artistik
Menurut Koentjaraningrat 1959 : 7-9, dan Soedarsono 1984 : 16, cara
menggolongkan tari klasik jawa yang paling diterima umum yaitu yang didasarkan
commit to user
a. Beksan putri– tarian puteri
Terdapat dua macam tari puteri keraton yang keramat : bedhaya , yang
ditarikan oleh sembilan puteri ( tujuh jika untuk keramat), yang juga disebut
bedhaya : srimpi ditarikan oleh empat puteri, yang juga disembut srimpi.
Sedangkan tari Bondhan merupakan sebuah tarian taledhek kuno yang ada
hubungannya denganGambyong.
b. Beksan putra– tarian putera
Menurut tradisi Yogyakarta semua tari perang laki-laki mendapat sebutan
beksan. Sedang menurut tradisi Surakarta, diadakan pembedaan antara wireng,
yaitu tarian perang keprajuritan, danpethilan, yaitu perang antara dua prajurit yang
melukiskan para pahlawan dari lakon-lakon wayang atau cerita-cerita babad. Kata
wireng barangkali berasal dari kata prawira, ‘jantan, perwira’ , sepasukan prajurit
hamba raja yang khusus dilatih dalam kiat peperangan dan tari perang ( Pigeaud
1938:300).
Dalam uraian tentang keraton Surakarta tahun 1824, Winter mencantumkan
tari lawung sebagai salah satu tari yang dimainkan dikeraton Susuhunan Paku
Buwana IV. Disebutnya juga ’beksa jebeg’ , dimana raja pribadi ikut serta menari
bersama dengan tiga bangsawan lainnya. Menurut kamus-kamus Jawa jebeg ialah
semacam tombak berjumbai, sebangsa lawung. Tari lawung Surakarta terdiri dari
dua bagian : beksan wireng lawung ageng, yang ditarikan oleh empat orang
laki-laki besar-besar dengan gaya yang gagah dan bersemangat: dan beksan wireng
commit to user
c. Beksan wayang
Beksan wayangdibagi menjadi dua kategori pokok:
Beksan wayang sebenarnya, yaitu merupakan koreografi-koreografi yang
berdasar kepada sesuatu tema dari wayang atau dari sastera, dan penari
memainkan tokoh-tokoh pahlawan atau pahlawati wayang.
Dama tari yang kompleks, atau teater tradisional yang menggunakan
gerak-gerik tari , yang melakonkan sebuah drama selengkapnya didukung oleh
banyak penari-penari, demikian juga pemain karawitan, penyanyi serta
sering kali juga ada seorang narrator (dhalang). Dua macam teater yang
paling terkenal ialahwayang topengdanwayang wong (ringgit tiyang).
5. Macam / jenis tari
Beberapa jenis tari yang ada antara lain :
Tari Klasik
a. Tari Bedhaya :
Sunan Pakubuwono I menamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis
Bedhaya Sucidan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :
a. Endhel Pojok
b. Batak
commit to user e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri
Berbagai jenis tariBedhayayang belum mengalami perubahan :
–Bedhaya Ketawanglama tarian 130 menit, ditarikan oleh 9 penari.
Gambar II. 14 Tari bedhaya ketawang ( Sumber : dokumentasi ISI )
–Bedhaya Pangkurlama tarian 60 menit, ditarikan oleh 9 penari.
commit to user
–Bedhaya Duradasihlama tarian 60 menit, ditarikan oleh 9 penari.
Gambar II. 16 Tari bedhaya Duradasih
( Sumber : Internet )
–Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit, ditarikan oleh 9 penari.
Gambar II. 17 Tari bedhaya Mangunsih ( Sumber : dokumentasi ISI )
–Bedhaya Sinomlama tarian 60 menit, ditarikan oleh 9 penari.
–Bedhaya Gandrung manislama tarian 60 menit, ditarikan oleh 7 penari.
–Bedhaya Kaborlama tarian 60 menit, ditarikan oleh 9 penari.
commit to user b. Tari Srimpi
Seperti Bedhaya, tari Srimpi pun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi
Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk
konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
- Srimpi Anglirmendhungmenjadi 11 menit
- Srimpi Gondokusumomenjadi 15 menit
Gambar II. 18 Tari srimpi ( Sumber : Internet )
c. Beksan Gambyong :
Tari ini tumbuh dari bedhaya dan srimpi. Selain sebagai hiburan, tari ini
sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar
dan perkawinan. Adapun ciri-ciri Tari ini :
– Jumlah penari seorang putri atau lebih
– Memakai jarit wiron
– Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
– Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
commit to user
Gambar II. 19 Tari gambyong ( Sumber : Internet )
d. Beksan Wireng :
Ciri-ciri tarian ini :
– Ditarikan oleh dua orang putra/i
– Bentuk tariannya sama
– Tidak mengambil suatu cerita
– Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
– Bentuk pakaiannya sama
– Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
– Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
– Tidak ada yang kalah/menang atau mati.
commit to user e. Tari Pethilan :
Hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil
adegan / bagian dari ceritera pewayangan.
Ciri-cirinya :
– Tari boleh sama, boleh tidak
– Menggunakanontowacono(dialog)
– Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
– Ada yang kalah/menang atau mati
– Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
– Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
–Bambangan Cakil
– Hanila
– Prahasta, dll.
Gambar II. 21 Tari pethilan
commit to user f. Tari Golek :
Macam-macamnya :
–Golek ClunthangiringanGendhing Clunthang
–Golek MontroiringanGendhing Montro
–Golek SurungdayungiringanGendhing Ladrang Surungdayung, dll.
Gambar II. 22 Tari Golek Montro ( Sumber : Internet )
g. Tari Bondan, tari ini dibagi menjadi :
– Bondan Cindogo
– Bondan Mardisiwi
– Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira,
mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan
Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia.
Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa
menggunakan kendhi seperti padaBondan Cindogo. Ciri pakaiannya :
– Memakai kainWiron
commit to user
– Menggendong boneka, memanggul payung
– Membawakendhi(dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing.
Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan
Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik
menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan
tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Ciri pakaiannya :
– mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
– Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak
memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang
maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian
bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan
membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo /
Mardisiwi.
commit to user
h. Tari Topeng :
Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh
Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau
menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung
sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul).
Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.
Gambar II. 24 Topeng Panji Ksatrian
( Sumber : Internet )
i. Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)
Meskipun namanya ‘baru’ tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak
meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional.
Sebagai contoh :
commit to user
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan
perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng
sebagai alat untuk melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang
bersuka ria memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas
Islam.
4. Tinjauan Surakarta
Surakarta, juga disebut Solo atau Sala, adalah kota yang terletak di Provinsi
Jawa Tengah, Indonesia. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam
salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.
Eksistensi kota ini dimulai di saat Kesultanan Mataram memindahkan
kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Akibat
perpecahan wilayah kerajaan, di Solo berdiri dua keraton, menjadikan kota ini
pernah menjadi kota dengan dua administrasi. Situasi ini berakhir setelah
kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik
Indonesia. Selanjutnya, Solo menjadi tempat kedudukan dari residen, yang
membawahi Karesidenan Surakarta hingga tahun 1950-an. Setelah karesidenan
dihapuskan, Surakarta menjadi kota dengan kedudukan setara kabupaten (Daerah
commit to user
banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus
Kota.
Surakarta memiliki semboyan "Berseri", akronim dari "Bersih, Sehat, Rapi,
dan Indah", sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan
pemasaran pariwisata, Solo mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java
(Jiwanya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Solo sebagai pusat kebudayaan
Jawa.
Sejarah Pendirian dan perkembangan
Surakarta berkembang dari wilayah suatu desa bernama Desa Sala, di tepi
Bengawan Solo. Sarjana Belanda yang meneliti Naskah Bujangga Manik, J.
Noorduyn, menduga bahwa Desa Sala ini berada di dekat (kalau bukan memang di
sana) salah satu tempat penyeberangan ("penambangan") di Bengawan Solo yang
disebut-sebut dalam pelat tembaga "Piagam Trowulan I" (1358, dalam bahasa
Inggris disebut "Ferry Charter") sebagai "Wulayu". Naskah Perjalanan Bujangga
Manik yang berasal dari sekitar akir abad ke-15 menyebutkan bahwa sang tokoh
menyeberangi "Ci Wuluyu". Pada abad ke-17 di tempat ini juga dilaporkan terdapat
penyeberangan di daerah "Semanggi" (sekarang masih menjadi nama
kampung/kelurahan di Kecamatan Pasarkliwon).
Kejadian yang memicu pendirian kota ini adalah berkobarnya
pemberontakan Sunan Kuning ("Gègèr Pacinan") pada masa pemerintahan Sunan
Pakubuwono (PB) II, raja Kartasura tahun 1742. Pemberontakan dapat ditumpas
commit to user
bantuan yang diberikan VOC. Bangunan keraton sudah hancur dan dianggap
"tercemar". Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung
Honggowongso (bernama kecil Joko Sangrib atau Kentol Surawijaya, kelak diberi
gelar Tumenggung Arungbinang I) dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan
pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton
yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru 20 km ke arah tenggara dari
Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo.
Nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda" bagi pusat
pemerintahan baru ini. (Catatan-catatan lama menyebut bentuk antara "Salakarta").
Pembangunan keraton ini menurut catatan menggunakan bahan kayu jati dari
kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota dan kayunya dihanyutkan
melalui Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari
1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu
commit to user 5. TINJAUAN DESAIN
a. Tematik
Dalam perencanaan dan perancangan Museum Seni Tari Tradisi Surakarta,
Exhibition space disusun secara tematik. Tematik dalam hal ini ialah, pemecahan
penataan ruang dengan cara mengambil salah satu tema dari tari tersebut.
Penggolongan tema disusun berdasarkan kategorigenre artistic.
b. Historicism :
Historicism, dalam arti luas, berarti kembali ke gaya sejarah. Historicism
dapat dilihat sebagai penutup dari arsitektur klasik. Seperti di Inggris masa akhir
Gothic, gaya dominan yang tegak lurus, di depan bangunan berkisi hiasan. Irama
terkendali, yang diperoleh dari aksen façade horisontal yang kuat. Ornamen yang
sama diberikan pada bangunan secara berulang sampai dihiasi sepenuhnya. Dapat
dilihat karakteristik historicism adalah kesatuan. Jadi, penganut aliran ini ingin
tetap menampilkan komponen bangunan yang berasal dari
komponen-komponen klasik tetapi ditampilkan dengan penyelesaian yang modern, misalnya
bentuk klasik yang dulunya menggunakan bahan dari kayu diganti dengan bahan
beton tetapi diberikan ornamen.
Historicismitu mempunyai definisi lain yang relevan dalam arsitektur post
modern, pendapatColquohounadalah sebagai berikut :
- Memperhatikan arsitektur masa lalu
- Membuat bentukan-bentukan yang mencerminkan sejarah, elemen-elemen yang
membentuk suatu seni, rekontruksi otentik, pendemonstrasian suatu bentuk sesuai