• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Kegiatan Pemanenan

5.2.1 Deskripsi Umum Kegiatan Pemanenan

Sistem pemanenan hasil hutan kayu yang diterapkan pada PT. Salaki Summa Sejahtera adalah sistem pemanenan secara mekanis. Secara garis besar kegiatan pemanenan terdiri dari kegiatan perencanaan PWH, penebangan, pembagian batang, penyaradan, muat dan bongkar, pengumpulan log dan pengukuran di TPn, pengangkutan, dan penimbunan kayu di TPK atau log pond.

Proses penebangan di PT. Salaki Summa Sejahtera dilakukan oleh regu chainsaw dengan sistem borongan. Setiap regu chainsaw menebang pada batas luas kepemilikan suku, bukan atas luas petak tebang (Indriyati 2010). Operator chainsaw dibantu oleh seorang helper. Sebelum kegiatan penebangan biasanya operator melihat keadaan pohon untuk menentukan boleh atau tidaknya pohon tersebut ditebang. Ketentuan itu dilihat dari ukuran diameter dan bentuk batang.

Batas limit diameter pohon layak tebang menurut sistem Silvikultur TPTI ≥40 cm, tapi penebangan yang dilakukan di IUPHHK HA PT. Salaki Summa Sejahtera yaitu diameter ≥50 cm. Pada umumnya Operator chainsaw tidak mau menebang pohon layak tebang yang berdiameter 50 cm, tapi yang ditebang adalah pohon layak tebang yang berdiameter lebih dari 60 cm. Hal ini karena pertimbangan diameter ujung log yang diameter 60 cm tidak akan kurang dari 50 cm dan penebangan pohon yang berdiameter kecil maka akan menghasilkan kubikasi yang rendah pula sehingga kurang ekonomis bagi mereka (Indriyati 2010).

Pada blok tebang RKT 2011 ini banyak dilakukan penebangan di areal punggung. Ini dikarenakan topografinya yang bergelombang pada kelas kelerengan tertentu. Oleh sebab itu, penentuan arah rebah pohon sangat penting karena apabila salah dalam merebahkan pohon maka pohon tersebut bisa jatuh ke lembah/jurang yang membuat log susah disarad dan bahkan tidak bisa disarad.

Tentu saja ini akan merugikan pihak perusahaan dan juga operator chainsaw.

Sehingga, pembuatan jalan sarad pada umumnya mengikuti punggung.

Penentuan arah rebah mempertimbangkan kemiringan pohon, bentuk tajuk, posisi pohon inti dan akar yang melilit pohon. Di petak tebang, dilakukan pembagian batang. Sesuai dengan pertimbangan dengan kemampuan alat sarad yang digunakan, karena log yang berdiameter besar dan panjang lebih dari 15

meter akan sulit ditarik oleh traktor. Sering juga dijumpai putusnya kabel seling akibat digunakan dalam menyarad log yang berdiameter besar dan panjang (Indriyati 2010).

Kegiatan penyaradan dilakukan dengan menggunakan bulldozer Cat D7G dimana jenis D7G ini memiliki 6 silinder yang dapat menghasilkan tenaga sebesar 200 tenaga kuda. Berat dari bulldozer ini kira-kira 18 ton. Ukuran lebar blade dari bulldozer ini 4 meter dan memiliki winch pada bagian belakangnya yang dugunakan untuk meyarad kayu. Panjang winch berkisar 20 meter. Daya jelajah efektif bulldozer ini pada umumnya mencapai 500 meter. Apabila digunakan pada jarak lebih dari 500 meter maka tidak efektif, efisien dan ekomomis. Oleh sebab itu, apabila jarak sarad lebih dari 500 meter dilakukan pembuatan TPn baru.

Kegiatan penyaradan dimulai dengan bulldozer membuka jalan sarad. Pemilihan sistem yang digunakan pada penyaradan tergantung pada topografi lapangan dan operator bulldozer. Proses penyaradan selain dilakukan oleh satu bulldozer setiap petaknya, juga dilakukan double skidding. Double skidding adalah cara penyaradan menggunakan dua bulldozer dalam satu petak tebang secara bersama-sama dengan tujuan membagi volume log yang siap disarad. Setiap satu operator bulldozer dibantu oleh satu orang helper yang bertugas melihat kemungkinan bulldozer untuk dapat membuka jalan sarad, mengaitkan choker log yang siap sarad dan membatu proses penyaradan samapai ke TPn.

Pengangkutan dilakukan setelah proses penyaradan dan dilakukan pemuatan di TPn. Alat angkut yang digunakan yaitu logging truk Scania dan Nissan. Faktor cuaca sangat mempengaruhi dalam pengangkutan log karena sering kali terjadi hujan. Apabila turun hujan maka proses pengangkutan dihentikan karena jalan dari TPn ke Log pond tidak dirancang untuk segala cuaca (kering atau hujan). Muat bongkar dilakukan di TPn dan Log pond dengan menggunakan Loader. Pemuatan dilakukan di TPn dan TPn antara sedangkan pembongkaran dilakukan di TPn antara dan Log pond, kemudian dilakukan perakitan kayu dari Log pond ke poton/tongkang.

5.2.2 Intensitas Pemanenan

Kegiatan ITSP yang dilakukan pada plot penelitian juga dapat digunakan untuk mengetahui besarnya potensi pohon layak tebang yang terdapat pada plot

penelitian tersebut. Hal ini dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan intensitas pemanenan pada kegiatan pemanenan kayu. Potensi pohon yang layak tebang pada plot penelitian adalah sebesar 15,59% dari kerapatan tegakan (18,5±14,67 pohon/ha) dengan potensi volumenya sebesar 157,28±63,03 m3/ha.

Pohon-pohon yang termasuk ke dalam kategori layak tebang ini merupakan pohon-pohon komersial ( jenis Diterocarpaceae) yang berdiameter lebih dari 50 cm. Penebangan dilakukan pada petak contoh memiliki kelerengan yang berbeda-beda yaitu dari 16% sampai 40%. Besarnya intensitas pemanenan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Intensitas pemanenan pada plot penelitian

Plot

Kelerengan Kerapatan Pohon layak tebang Pohon yang ditebang

(%) (phn/ha) Jumlah Vol Jumlah Vol

Dari Tabel 6 dapat dilihat perbedaan intensitas penebangan pada setiap plot. Hal ini dikarenakan perbedaan jumlah pohon layak tebang pada setiap plot, topografi plot penelitian dan kondisi pohon layak tebang. Volume log pada plot penelitian 30,60-170,44 m3/ha. Ada kecenderungan volume ITSP lebih besar dibandingkan volume log. Hal ini dikarenakan adanya pemotongan pada log yang disebabkan terjadinya kerusakan, seperti pecah dan patah batang. Dari total volume pohon yang dipanen menurut hasil ITSP sebesar 81,03±46,09 m3/ha dengan volume aktual/log 78,81±44,20 m3/ha, maka dapat diketahui bahwa kegiatan pemanenan ini tergolong baik karena volume yang dipanen 50,10 % dari

volume layak tebang jauh lebih kecil dari jatah tebang yang telah diperbolehkan sebesar 56%. Volume tebangan ini 31,77% dari volume total tegakan awal.

Intensitas penebangan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah 4-14 pohon/ha (32,09-157,24 m3/ha) dan rata-rata 8,60±3,13 pohon/ha (81,08 m3/ha dan 24,12% dari luas bidang dasar), dimana intensitas penebangan tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian Wayana (2011) di Kalimantan Tengah yang intensitas pemanenannya 11,70 pohon/ha dan penelitian Sist (1997) di Kalimantan Timur dengan intensitas pemanenan 10,70 pohon/ha. Penelitian lain hutan alam tropis lainnya di bagian selatan Amazon yang dilakukan Feldpausch et al. (2005) dengan intensitas pemanenannya berkisar 1,1-2,6 pohon/ha.

Tabel 7 Pengurangan luas bidang dasar pada RIL DBH ≥ 50 cm

Plot Pohon tebangan Luas bidang dasar yang hilang Volume (phn/ha) (% dari dari tegakan awal) (m3/ha) mengalami pengurangan LBDS sebesar 17,5%. Perbedaan ini dikarenakan perbedaan kerapatan tegakan per ha yang lebih besar (530,70 pohon/ha) pada lokasi penelitiannya (Kalimantan Timur).