HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Kerusakan Tegakan Pasca Pemanenan
5.3.1 Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Penebangan dan Penyaradan Kerusakan tegakan tinggal merupakan perbandingan antara pohon yang rusak akibat pemanenan kayu dengan pohon yang tidak ikut dalam rencana penebangan. Persentase kerusakan tegakan tinggal adalah perbandingan antara jumlah pohon yang rusak dengan jumlah pohon awal sebelum pemanenan yang dikurangi dengan jumlah pohon yang ditebang. Pada intensitas pemanenan dan kerapatan yang berbeda maka akan menimbulkan kerusakan yang berbeda pula.
Persentase kerusakan tegakan tinggal pada berbagai intensitas penebangan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Hubungan persentase kerusakan tegakan tinggal pada berbagai intensitas penebangan.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa intensitas pemanenan yang tinggi cenderung mengakibatkan kerusakan tinggal yang besar. Untuk intensitas pemanenan yang sama juga mengalami persentase kerusakan yang berbeda (intensitas penebangan 10 dan 11 pohon/ha). Persentase kerusakan apabila ditebang 10 pohon per ha sebesar 29,82-32,14% dan penebangan 11 pohon/ha sebesar 30,43-32,98%. Perbedaaan persentase kerusakan pada setiap plot karena kerapatan tegakan awal setiap plot berbeda. Persentase kerusakan tegakan tinggal rata-rata sebesar 28,55±6,69%. Kerusakan tegakan tinggal terjadi karena tertimpanya pohon inti pada tegakan oleh pohon tebangan. Rebahnya pohon tebangan menyebabkan kerusakan pada pohon-pohon di sekitarnya. Kegiatan
0
penyaradan juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan tegakan tinggal. Kerusakan akibat penyaradan berasal dari pohon yang mengalami kerusakan ketika pembuatan jalan sarad dan pohon yang mengalami kerusakan ketika bulldozer bermanuver dalam menyarad log yang telah ditebang. Kerusakan tegakan tinggal itu sendiri terbagi menjadi beberapa tingkat kerusakan yaitu kerusakan tingkat ringan, sedang dan berat. Persentase tingkat kerusakan tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan dan penyaradan
Tingkat kerusakan
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa bentuk kerusakan yang paling besar terjadi pada kelas diameter 20-29 cm sebesar 16,81%, kelas diameter 30-39 cm sebesar 8,21%, kelas diameter 40-49 cm sebesar 3,16%, dan kelas diameter 50 cm up sebesar 0,36%. Dari tabel di atas, dapat dinyatakan bahwa dalam pemanenan hutan alam, semakin kecil kelas diameter tegakan tinggal maka kerusakan akan semakin besar. Hal ini dikeranakan besarnya kerapatan pohon yang berdiameter
kecil dan memiliki daya tahan yang rendah terhadap pohon-pohon yang menimpanya saat penebangan. Berikut diagram kerusakan tegakan tinggal pada masing-masing kelas diameter.
Gambar 3 Kerusakan tegakan tinggal per kelas diameter. Ket: Jumlah kerusakan (batang±standar deviasi) akibat pemanenan pada intensitas pemanenan 8,60 pohon/ha.
Pada Gambar 3 terlihat bahwa tingkat kerusakan berat, sedang, dan ringan secara berturut pada tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan dan penyaradan sebesar 16,50 pohon/ha, 10,4 pohon/ha dan 4,5 pohon/ha. Kerusakan berat banyak terjadi pada kelas diameter pohon 20-29 cm sebanyak 10,1 pohon/ha dan paling sedikit pada kelas 50 cm up sebanyak 0,36 pohon/ha. Rata-rata intensitas pemanenan pada plot penelitian adalah 8,60 pohon/ha yang mengakibatkan kerusakan pada tegakan tinggal sebanyak 31,40 pohon/ha yang terdiri dari kerusakan berat 16,5 pohon/ha, sedang 10,4 pohon/ha, dan ringan 4,5 pohon/ha.
Hal ini berarti bahwa setiap penebangan 1 pohon/ha mengakibatkan kerusakan sebanyak 3,65 pohon/ha, yang terdiri dari kerusakan berat sebesar 1,92 pohon/ha, kerusakan sedang 1,2 pohon/ha dan kerusakan ringan 0,52 pohon/ha pada tegakan tinggal.
Penelitian Wayana (2011) menyatakan kegiatan pemanenan kayu dengan intensitas pemanenan sebesar 11,70 pohon/ha mengakibatkan kerusakan tegakan tinggal sebesar 29,90 pohon/ha yang terdiri dari tingkat kerusakan berat 14,20 pohon/ha, tingkat kerusakan sedang 7,40 pohon/ha dan tingkat kerusakan ringan
0
8,30 pohon/ha pada kerusakan tegakan tinggal dengan diameter ≥20 cm.
Penebangan 1 pohon/ha mengakibatkan kerusakan sebanyak 2,55 pohon/ha yang terdiri dari kerusakan berat sebesar 1,21 pohon/ha, kerusakan sedang 0,63 pohon/ha dan kerusakan ringan 0,71 pohon/ha pada tegakan tinggal. Hasil penelitian ini memiliki kerusakan yang jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Penelitian Aryono (2010) yang menyatakan dari kegiatan pemanenan 1 pohon/ha pada tegakan rapat maka akan mengakibatkan 19 pohon/ha mengalami kerusakan berat dan dari pemanenan 1 pohon/ha pada tegakan rawang akan mengakibatkan 17 pohon/ha mengalami kerusakan berat pada kerusakan tegakan tinggal dengan diameter ≥ 10 cm.
Kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu banyak terjadi pada pohon-pohon kelas diameter kecil (20-29 cm). Kerusakan tegakan tinggal ini dikarenakan pohon yang berdiameter kecil memiliki kerapatan yang lebih besar dan berada di bawah pohon besar sehingga saat pohon yang ditebang rebah banyak yang tertimpa. Pohon berdiameter kecil tidak cukup kuat untuk menahan pohon yang menimpanya. Begitu juga pada saat penyaradan log, pohon berdiameter kecil akan mudah rusak bila tertabrak bulldozer dan log yang memiliki ukuran jauh lebih besar. Berikut data persentase kerusakan tegakan tinggal tingkat berat disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Kerusakan tegakan tinggal tingkat kerusakan berat
Plot Kerapatan
Berdasarkan Tabel 9 persentase tingkat kerusakan berat 15,00%, dimana kerusakan berat banyak terjadi pada kelas diameter 20-29 cm sebesar 9,44% dan yang terkecil pada kelas 50 cm up sebesar 0,34%. Penelitian Wayana (2011) mengatakan bahwa kerusakan berat pada pemanenan hutan pada intensitas penebangan 11,70 pohon/ha mengakibatkan kerusakan berat pada penebangan 8,72% dan penyaradan 4,40%. Kerusakan berat pada tegakan tinggal akan berakibat pohon tersebut tidak dapat kembali pulih atau mati. Jadi pada saat menebang pohon, pohon yang berdiameter kecil harus diperhatikan dengan menentukan arah rebah terbaik yang memiliki kerapatan pohon kecil rendah sehingga dapat mengurangi besarnya kerusakan pada pohon berdiameter kecil (20-29 cm).
Bentuk kerusakan yang paling sering ditimbulkan akibat kegiatan penebangan adalah bentuk kerusakan rusak tajuk sebesar 43,31% dan roboh sebesar 22,29%. Kerusakan ini disebabkan oleh banyaknya liana yang saling melilit dan besarnya hempasan ketika pohon yang ditebang menimpa individu pohon lainnya. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Elias (1995) dimana kerusakan terbesar akibat penebangan terdapat pada bentuk rusak tajuk sebesar 49,45% dan patah batang sebesar 23,08%. Pada penelitian Wayana (2011) kerusakan terbesar akibat penebangan terdapat pada bentuk kerusakan tajuk sebesar 57,53% dan patah batang sebesar 16,72%. Kerusakan tegakan tinggal dapat juga dikelompokan berdasarkan bentuk kerusakannya (Tabel 10).
Tabel 10 Bentuk kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan dan penyaradan
Bentuk Kerusakan Jumlah Pohon Menurut Tingkat Kerusakan Persentase
Ringan Sedang Berat Jumlah (%)
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa tingkat kerusakan yang paling tinggi terjadi pada kerusakan tingkat berat sebesar 52,55%, tingkat sedang 33,12%, dan tingkat ringan 14,33%. Berdasarkan bentuk kerusakan banyak terjadi pada rusak tajuk sebesar 43,41% dan roboh/miring <45° sebesar 22,29%. Wayana (2011) menyatakan kerusakan akibat penebangan yang paling tinggi juga terdapat pada tingkat kerusakan berat sebesar 47,49%. Pada tingkat kerusakan berat akibat kegiatan penebangan dan penyaradan, bentuk kerusakan yang paling sering terjadi adalah bentuk kerusakan roboh/miring <45° yakni sebesar 22,29% (70 pohon).
Kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu di hutan alam dapat juga dikelompokkan berdasarkan Feldpausch et al. (2005) sebagai berikut:
Tabel 11 Klasifikasi kerusakan tegakan tinggal menurut Feldpausch et al. (2005)
Kelas
Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui kerusakan tegakan tinggal banyak terjadi pada pohon kecil yang berdiameter 19,43-32,45 cm. Kerusakan yang terbesar adalah roboh yang mencapai 7 pohon/ha dan yang yang terkecil yakni condong sebanyak 0,3 pohon/ha. Pohon-pohon yang mengalami patah batang dan roboh mencapai 40,45% atau sama dengan 5,2 pohon mengalami patah batang dan 7 pohon mengalami roboh disetiap pemanenan denagan intensitas penebangan 8,60 pohon/ha. Menurut Feldpausch et al. (2005) pohon yang mengalami kerusakan berat adalah pohon yang mengalami kerusakan tajuk yang mencapai ¾ bagian, patah batang, dan roboh (kelas VII, VII, dan IX). Kerusakan berat yang
tejadi pada intensitas pemanenan 4-14 pohon/ha sebesar 45,23%. Persentase kerusakan berat ini lebih kecil bila dibandingkan dengan hasil penelitian Feldpausch et al. (2005) di bagian selatan Amazon yang mencapai 60% pada intensitas penebangan rata-rata 1,1-2,6 pohon/ha. Perbedaan ini dikarenakan pada penelitian ini menghitung kerusakan tegakan tinggal dengan DBH ≥20 cm, sedangkan Feldpausch et al. (2005) dengan DBH ≥ 10 cm.
Bila dibandingkan antara klasifikasi kerusakan menurut Elias (1993) terdapat beberapa perbedaan diantaranya pada kerusakan tajuk dan luka batang.
Dimana klasifikasi Elias (1993) menentukan kerusakan tajuk berdasarkan tingkat berat >50%, sedang 30-50%, dan ringan <30%. Feldpausch (2005) mengelompokan kerusakan tajuk < 25%, 25-50%, 50-75%, dan >75% (kelas IV-VII). Selanjutnya, pada luka batang/kulit terkelupas Elias (1993) menentukan kerusakan berdasarkan besarnya kehilangan kulit terhadap diameter pohon, sedangkan Feldpaush (2005) menentukan kerusakan berdasarkan panjang kulit terkelupas saja.
Faktor yang mempengaruhi kerusakan tegakan tinggal yaitu : intensitas pemanenan, kerapatan tegakan, dan kelerengan. Kerusakan tegakan tinggal bergantung pada semakin tinggi intensitas pemanenan maka akan semakin besar nilai kerusakannya. Sementara kelerengan dan kerapatan tidak terlalu besar pengaruhnya pada nilai kerusakan tegakan tinggal. Persamaan regresi linier hubungan antara intensitas pemanenan, kerapatan tegakan dan kelerengan terhadap besarnya kerusakan tegakan tinggal dinyatakan dalam persamaan regresi sebagai berikut :
Koefisien determinasi yang diperoleh adalah 83,10%, artinya sebesar 83,10% dari keragaman kerusakan tegakan tinggal dapat dijelaskan oleh intensitas pemanenan, kerapatan tegakan dan kelerengan. Sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Berdasarkan nilai koefisien determinasi
ini, maka dapat disimpulkan bahwa model dugaan yang didapatkan cukup baik karena mampu menerangkan peubah respon dengan baik.
Tabel 12 Analisis ragam hubungan kerusakan tegakan tinggal dengan kerapatan terhadap kerusakan tegakan tinggal dimana nilainya lebih kecil dari alpha yang ditentukan (0,05) dan dari nilai F hitung yang lebih besar dibandingkan F tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa kerusakan tegakan tinggal memiliki hubungan yang nyata dengan mininimal satu peubah penduga. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan tiap peubah penduga terhadap besarnya kerusakan tegakan tinggal maka dilakukan uji t yang dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Hubungan antar peubah dengan besarnya kerusakan tegakan tinggal
Peubah Penduga t Hitung P
Intensitas Pemanenan 4,12** 0,006
Kerapatan Tegakan -1,06tn 0,332
Kelererengan -0,21tn 0,837
** sangat nyata pada P<0,01 tn tidak nyata
Berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui bahwa faktor yang sangat nyata mempengaruhi kerusakan tegakan tinggal adalah intensitas pemanenan yang dilakukan, dimana nilai P nya lebih kecil dari nilai alpha yang ditentukan dan nilai t-hitung nya yang lebih besar dari pada nilai t-tabel. Kerapatan tegakan tidak lagi berpengaruh nyata terhadap besarnya kerusakan tegakan tinggal setelah dijelaskan oleh intensitas pemanenan (P<0,01). Kesimpulan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Elias (2002) yang menyatakan kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan dan penyaradan per satuan luas sangat tergantung dari intensitas pemanenan. Semakin tinggi intensitas pemanenan maka kerusakan tegakan tinggal akan makin meningkat. Namun bukan berarti kerapatan tegakan
dan kelerengan tidak berpengaruh terhadap kerusakan tegakan tinggal yang terjadi.
5.3.2 Kondisi Tegakan Pasca Pemanenan
Setelah pemanenan dengan intensitas 8,60 pohon/ha dengan volume log 78,81 m3/ha, maka akan menyebabkan 31,4 pohon akan mengalami kerusakan dengan volume 33,69 m3/ha yang 16,50 pohon/ha disekitarnya mengalami rusak berat dengan volume 7,43-22,48 m3/ha dengan rata-rata 11,56 m3/ha. Pemanenan yang dilakukan mengurangi potensi tegakan sebesar 90,37 m3/ha atau 36,43% dari potensi awal tegakan. Sisa potensi tegakan sebesar 157,66±39,62 m3/ha atau 63,56% dari potensi tegakan sebelum pemanenan. Dengan adanya pohon yang ditebang memanen 1 m3/ha akan merusak 0,43 m3/ha. Pada kerusakan berat memanen 1 m3/ha akan merusak 0,15 m3/ha pohon di sekitarnya. Potensi tegakan setelah pemanenan dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Potensi tegakan pasca pemanenan
Plot
Volume setelah pemanenan (m3/ha) Ditebang Rusak berat Sisa
1 11 253,64 88,52 11,75 153,37
Kerapatan tegakan tinggal di dalam hutan pasca pemanenan adalah jumlah pohon awal dikurangi dengan pohon yang ditebang dan yang mengalami tingkat kerusakan berat. Perubahan kerapatan tegakan pasca pemanenan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Kerapatan pohon sebelum dan pasca pemanenan kayu.
Sebelum dilakukan kegiatan pemanenan kerapatan rata-rata tegakan hutan 118,6 pohon/ha. Setelah dilakukan kegitatan pemanenan dengan penebangan rata-rata 8,6 pohon/ha maka 31,4 pohon disekitarnya akan rusak, 16,5 diantaranya mengalami kerusakan berat yang berpotensi mati. Sisa kerapatan tegakan tinggal di dalam hutan sebesar 78,6 pohon/ha atau 66,27% dari kerapatan tegakan awal.
Volume yang dipanen sebesar 31,18% dan yang mengalami kerusakan sebesar 13,58% dari volume awal tegakan. Berikut perubahan volune tegakan pasca pemanenan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Volume tegakan sebelum dan pasca pemanenan kayu.
0
5.3.3 Keterbukaan Areal Akibat Jalan Sarad
Keterbukaan tanah atau lahan pada pemanenan kayu adalah terbukanya permukaan tanah karena lapisan serasah yang menutupi tanah terkelupas karena terdongkel oleh pohon-pohon yang ditebang dan roboh, terkikis dan tergusur oleh traktor sewaktu penyaradan, pembuatan jalan sarad, dan pembuatan tempat pengumpulan kayu sementara (Amir 1996). Keterbukaan areal adalah salah satu bentuk kerusakan lantai tanah hutan akibat pembuatan jalan sarad yang disebabkan oleh tanah yang terbuka karena dilewati oleh bulldozer atau lalu lintas bulldozer ketika melakukan penyaradan kayu ataupun untuk membuka jalan agar kayu mudah disarad. Keterbukaan areal akibat pembuatan jalan sarad dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Keterbukaan areal akibat penyaradan
Plot Luas Keterbukaan Areal Akibat Penyaradan
(m2) (%)
Standar deviasi 195,40 1,95
Keterbukaan areal akibat pembuatan jalan sarad pada plot penelitian rata-rata adalah sebesar 620,34 m2/ha atau 6,20%. Keterbukaan areal akibat penyaradan pada intensitas penebangan 8,6 pohon/ha sebesar 360,41 m2-949,05 m2. Keterbukaan areal yang terjadi akibat pembuatan jalan sarad dan aktivitas penyaradan log dalam petak tebang. Perbedaan besarnya keterbukaan areal dikarenakan bedanya intensitas penebangan dan manuver-manuver traktor selama melakukan proses penyaradan. Dari Tabel 15 di atas dapat dinyatakan bahwa untuk menyarad 1 pohon tebangan maka akan terbuka areal sebesar 72,13 m2. Besarnya keterbukaan areal yang terjadi pada plot penelitian menunjukkan hasil
yang lebih kecil bila dibandingkan penelitian Elias (2002) dengan rata-rata keterbukaan areal yang terjadi pada masing-masing plot sebesar 872,5 m2/ha atau 8,72% dan penelitian Wayana (2011) dengan rata-rata keterbukaan real yang terjadi sebesar 1018,89 m2/ha atau 10,18%.
Gambar 6 Hubungan luas keterbukaan areal akibat penyaradan pada berbagai intensitas pemanenan.
Dari Gambar 6 dapat diketahui keterbukaan areal akibat penebangan dengan intensitas yang tinggi maka keterbukaan areal akibat penyaradan cenderung besar. Hal ini dikarenakan pembuatan jalan sarad yang menyesuaikan posisi pohon yang ditebang dan tingginya intensitas lalu lintas bulldozer dalam hutan saat penyaradan.
Besarnya keterbukaan areal pada masing-masing plot memiliki luasan yang berbeda-beda, disebabkan berbagai faktor yaitu faktor kondisi topografi lapangan, kerapatan tegakan, intensitas penebangan dan faktor lain seperti operator bulldozer yang memiliki pengetahuan yang terbatas dikarenakan tidak dibekali dengan peta pohon sehingga ketika ingin melakukan penyaradan harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan operator chainsaw untuk mendapatkan informasi lokasi pohon yang telah ditebang atau terkadang operator bulldozer langsung masuk kedalam petak tebangan untuk mencari sendiri lokasi pohon yang telah ditebang.
Luas keterbukan areal akibat penyaradan (m2)
Intensitas penebangan (phn/ha)